• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Lain yang Mempengaruhi Perilaku Altruisme

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Hasil Analisis Data

4. Faktor Lain yang Mempengaruhi Perilaku Altruisme

baru kita lihat. Orang – orang jual – jual sayur ada pegang hp. Jalan – jalanlah lihat.‖

(wwc2/S1PM/line704-713/06.08.2018)

―Beban dulu disini. Kalau ada guru lain ya sa jalan.

Tapi ya kalau Cuma saya sendiri. Maksudnya kayak kita tanamkan harapan di orang baru kita sendiri yang apa e. hahaha kau memberi harapan tapi hahahaha‖

(wwc1/S2BA/line293-296/06.08.2018)

―Keuntungan dari menolong ya ini, apa e,. kembali lagi kita punya hidup bukan cuma untuk diri kita sendiri. Tapi kita bisa berguna untuk orang lain.

Jadi ya keuntungan untuk kita menolong ya bisa lihat orang yang tertolong, bisa lihat orang yang susah itu jadi baik. Begitu‖

(wwc1/S2BA/line395-398/06.08.2018)

Rasa ya senang saja. Karna apa e.. sa punya usaha itu tidak sia – sia. Kalau, ya itu sudah. Sa lihat mereka punya perkembangan to dari tidak tau sampai jadi tau. Itu saja.‖

(wwc1/S2BA/line269-271/06.08.2018)

Cuma bisa ini saja. Cuma apa e.. manfaatnya ya bisa saya punya hidup itu berguna buat orang saja. Kalau untuk manfaat finansial ya tidak ada, jelas – jelas tidak ada, keuntungan apa‖

(wwc1/S2Ba/line357-359/06.08.2018)

Kedua subjek menjelaskan bagaimana dirinya merasa bangga karena dapat berguna bagi orang lain. Subjek PM dan subjek BA merasa bahwa masyarakat setempat membutuhkan bantuan mereka. Hampir delapan tahun bekerja kedua subjek merasa sukses dengan apa yang telah dikerjakan di daerah – daerah tersebut.

114

ini. Resiliensi merupakan kapasitas individu bertahan dan berkembang meskipun berada di dalam situasi yang sulit percaya bahwa individu dapat belajar, berubah, dan mengatasi masalah apapun dalam kehidupan (Maddi & Khoshaba, 2005 ; Melina, Grashinta & Vinaya, 2012). Terdapat tiga dimensi dalam resiliensi, yaitu komitmen, Kontrol, dan Tatangan. Maddi

& Khoshaba, 2005 (Melina, Grashinta & Vinaya, 2012).

Komitmen merupakan tujuan hidup dan keterlibatan seseorang yang memberikan makna dalam hidupnya serta melihatnya sebagai hal penting yang layak mendapat perhatian penuh untuk diupayakan yang terbaik meskipun berada dalam situasi sulit. Subjek PM dan subjek BA terlihat memiliki komitmen yang kuat dalam bekerja sebagai relawan pengajar di pedalaman.

keinginan untuk membantu masyarakat mendapatkan hidup yang layak membuat kedua subjek tetap bertahan ditengah kondisi yang begitu sulit.

Dimensi kedua yaitu kontrol. Kontrol merupakan kecenderungan pada keyakinan dapat memegang kendali penuh untuk mengubah dan menyelesaikan masalah yang dialami dibandingkan hanya menjadi korban. Individu memiliki sikap terbuka akan perubahan yang terjadi diluar kendali dan dirinya. Meskipun memutuskan pindah dan keluar dari daerah Y karena memiliki masalah dengan oknum masyarakat, subjek PM dan BA menjadikan hal tersebut sebagai pengalaman

berharga dan tetap menjadi relawan pengajar didaerah pedalaman lain.

Selain itu, memiliki masalah memenuhi biaya kebutuhan sehari – hari subjek, keuarga, guru serta pengelolaan sekolah, tidak lantar membuat subjek memutuskan untuk berhenti dan meninggalkan daerah tersebut, atau menyerah pada keadaan.

Subjek berusaha mencari solusi mencukupi kebutuhan biaya tersebut dengan cara berjualan sayur kedaerah lain. Hal ini juga terjadi ketika jumlah murid berkurang pesat, meskipun hanya beberapa anak yang masih bersekolah subjek BA tetap tinggal dan terus mengajar anak – anak tersebut.

Dimensi ketiga adalah tantangan. Tantangan merupakan bagaimana seseorang melihat perubahan yang terjadi dalam kehidupan sebagai suatu tantangan atau kesempatan yang mendorong perkembangan kehidupan dibandingkan menghindarinya. Mengetahui akan tinggal dan mengabdi pada daerah yang penuh kesulitan dipandang sebagai tantangan bagi kedua subjek, sehingga kedua subjek tidak berusaha menghindarinya bahkan berusaha menghadapi setiap tantangan yang dialami dengan tetap tenang dan selalu berharap pada Tuhan.

Dari uraian diatas dapat dilihat bagaimana resiliensi yang dimiliki kedua subjek dalam penelitian ini. Selain uraian diatas, kekuatan resiliensi yang dimiliki kedua subjek dapat dijelaskan melalui faktor suasana hati serta faktor orang yang ditolong.

116

Beberapa ahli menjelaskan bagaimana pentingnya pengaruh faktor suasana hati pada perilaku altruisme.

Seseorang akan terdorong memberikan pertolongan lebih banyak pada orang lain ketika berada dalam suasana hati yang nyaman. Subjek dalam penelitian ini mendapatkan banyak sekali tekanan. Subjek PM mendapatkan tekanan dari banyak pihak. Istri subjek yang mengeluh akan biaya sekolah anak – anak yang tidak tercukupi, pihak pemerintah yang hingga sekarang tidak memberikan bantuan, bahkan terkesan mempersulit pengurusan berkas sekolah, serta tekanan keadaan sekolah yang kekurangan guru dan kurangnya minat sekolah anak – anak dan banyak tekanan lainnya. Subjek kedua BA mendapat tekanan dari minat para murid akan pendidikan yang begitu kurang, dari biaya untuk dikirimkan pada keluarga/orang tua serta masa muda subjek.

Keadaan penuh tekanan yang dialami kedua subjek sepertinya sulit untuk dapat dikatakan dalam keadaan suasana hati yang nyaman. Ketika mengambil keputusan untuk menjadi relawan didaerah pedalaman, subjek dapat merasa nyaman dengan keputusannya karena terhindar dari rasa bersalah dan terpenuhinya rasa tanggung jawab yang dimiliki subjek. Namun, bagaimana bisa suasana hati yang nyaman tersebut dapat terus bertahan dalam keadaan yang terus mendapat tekanan.

Kedua subjek dapat mengambil keputusan untuk keluar dan pindah kedaerah yang lebih baik. Namun hal ini tidak dilakukan.

Subjek BA juga memiliki kendala dalam memenuhi kewajibannya mengirim uang untuk orang tuanya. Selain itu, ketika awal mengabdi di daerah X, subjek mendapat penolakan dari warga yang berusaha mencelakai subjek, guru dan keluarganya. Terlihat bagaimana banyaknya tekanan yang dihadapi kedua subjek.

Faktor lainnya yang mempengaruhi seseorang melakukan perilaku altruisme adalah faktor orang yang ditolong. Sears, dkk (2009) menjelaskan bahwa faktor orang yang ditolong meliputi orang yang pantas ditolong. Hubungan kekerabatan antara penolong dan orang yang ditolong juga menentukan besarnya peluang seseorang akan menolong. Semakin dekat hubungan kekerabatannya, maka akan semakin besar pula kemungkinan seseorang melakukan tindakan menolong.

Namun, pada penelitian ini, kedua subjek memiliki hubungan kekerabatan dengan masyarakat setempat yang terbilang cukup jauh. Subjek BA lahir dan dibesarkan didaerah Talaut, Sulawesi utara, subjek BA juga baru mengenal kondisi daerah pedalaman Papua dari istri subjek PM (IP). Sedangkan subjek PM, berasal dari suku Manado. Namun, subjek PM dibesarkan didaerah Jayapura, Papua. Subjek PM mengaku baru pertama kali datang ke daerah Y dan X ketika diundang mengisi acara keagamaan dan mengabdikan diri sebagai relawan pengajar.

118

Pengalaman. Kecelakaan kapal yang dialami subjek PM menumbuhkan keyakinan n kepercayaan yang lebih mendalam pada Tuhan serta membentuk prinsip hidup subjek. Sehingga subjek PM berusaha melaksanakan apa yang diyakininya. Salah satunya bersikap alruistik pada orang lain.

Subjek PM memiliki harga diri yang tinggi terllihat dari perasaan mampu bekerja, dibutuhkan, dan berguna bagi masyarakat daerah Y dan X, serta perasaan sukses, senang dan bangga akan apa yang dikerjakan.

SIKAP

ALTRUISME

Relawan Pengajar

Pengetahuan subjek PM akan pentingnya menolong orang lain secara altruistik sebagai suatu kewajiban umat beragama serta keyakinan akan keadilan dunia yang harus ditegakkan.

Melihat Kondisi masyarakat di daerah Y dan X membuat subjek PM merasa bertanggung jawab dan perlu berempati dengan terlibat langsung menjadi relawan pengajar.

Tiga dimensi dalam resiliensi yaitu komitmen, kontrol, dan tantangan terlihat terpenuhi pada subjek PM. Diperkuat dengan sikap altruisme subjek PM tidak dipengaruhi oleh beberapa faktor penting seperti suasana hati, orang yang ditolong, serta bertentangan dengan teori kebutuhan dari Abraham maslow

Resiliensi

Empati Religiusitas Harga diri (Self-Esteem)

Sikap Altruisme Subjek PM

Gambar iv.1 : Bagan Sikap Altruisme Subjek PM

Keyakinan subjek tumbuh seiring dengan pengalamannya menghadapi kondisi dan keadaan selama menjadi relawan pengajar.

Subjek BA memiliki harga diri yang tinggi terllihat dari perasaan mampu bekerja, dibutuhkan, dan berguna bagi masyarakat daerah Y dan X, serta perasaan sukses, senang dan bangga akan apa yang dikerjakan.

SIKAP

ALTRUISME

Relawan Pengajar

Pengetahuan subjek BA mengenai arti dan pentingnya menolong orang lain dengan cara yang benar serta keyakinan subjek akan adanya keadilan dan keseimbangan sosial.

Mendengar Kondisi anak - anak di daerah Y dan X yg tidak bersekolah membuat subjek BA merasa terpanggil dan perlu berempati dengan terlibat langsung menjadi relawan.

Tiga dimensi dalam resiliensi yaitu komitmen, kontrol, dan tantangan terlihat terpenuhi pada subjek BA. Diperkuat dengan sikap altruisme subjek BA tidak dipengaruhi oleh beberapa faktor penting seperti suasana hati, orang yang ditolong, serta bertentangan dengan teori kebutuhan dari Abraham maslow

Resiliensi

Empati Religiusitas Harga diri (Self-Esteem)

Gambar iv.1 : Bagan Sikap Altruisme Subjek BA

120