BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
D. Hasil Analisis Data
3. Fungsi Sikap dan Perilaku Menolong
Namun karena merasa telah memiliki banyak pengalaman di daerah Y, dan tidak tega jika membiarkan subjek PM pergi seorang diri, serta melihat kondisi masyarakat setempat, subjek BA kembali terjun menjadi relawan didaerah tersebut.
3. Fungsi Sikap dan Perilaku Menolong
106
juga menjelaskan pentingnya menolong agar dunia tidak menjadi kacau. Berikut penggalan pernyataan subjek PM :
―Menurut saya kalau sudah tidak ada tolong menolong ya pasti sudah kacau. Sudah hidup diri sendiri‖
(Wwc2/S1PM/line96-97/08.08.2018)
―Kepentingan diri sendiri, tidak ada lagi rasa menghargai orang lain‖
(Wwc2/S1PM/line99/08.08.2018)
―Karena sudah banyak begitu itu yang kita lihat kacau dimana – mana. Intermesooo… (percakapan subjek dengan anaknya) Terusss…‖
(Wwc2/S1PM/line101-102/08.08.2018)
―Menolong seharusnya ya kita menolong tanpa pamrihlah..‖
(Wwc2/S1PM/line104/08.08.2018)
Subjek BA menjelaskan bagaimana perilaku menolong sebaiknya dilakukan bukan hanya dengan sekedar menolong namun dilakukan untuk mendidik dan bermanfaat bagi individu yang ditolong. Subjek juga menjelaskan pentingnya menolong bagi dirinya sehingga hidupnya dapat bermanfaat bagi orang lain. berikut pernyataan subjek BA :
“Kalau menolong kayak ini.. kalau maksudnya sa menolong tu kayak macam sa punya hidup setidaknya berguna buat orang lain. Tapi dalam hal ini bukan berguna untuk kayak Sinterklaus begitu to.
Kasih , kasih, kasih, dia senang, kami senang.
Tidak! Setidaknya sa punya berguna itu dia punya manfaat itu bagaimana to. Kayak saja disini pendidikan. Kayak orang lain tu mendidik jadi guru tu penuh kasih. Kasih saja. Kayak kasih ilmu saja, ada barang tu sa kasih. Tapi dalam hal ini sa mendidik tu supaya orang ada disini dia tu punya
perubahan, bukan Cuma sekedar ilmu, tapi dia punya karakter.‖
(Wwc1/S2BA/line173-180/08.08.2018)
―Aa’ Aa’. Tapi kalau misalnya menolong ya menolong yang bagaimana dulu to. Begitu. Kalau saya mendidik ya bukan sekedar mendidik di dalam ilmu atau kayak suka kasih – kasih barang, apakah dia jadi baik atau jadi jahat sa tidak mau tau. Tidak!
Dalam hal ini sa lebih suka lihat hasilnya itu pembentukan karakter saja.‖
(Wwc1/S2BA/line182-186/08.08.2018)
―Kalau menolong sebaiknya ini, memberikan pertolongan yang bisa merubah orang. Jangan sama dengan kita tolong pengemis, baru pengemis lihat begini badan bagus. kayak di Wamena, dari kampung turun tidak tau mau bikin apa to ―minta uang ka, 5 rb sa lapar‖ itukan kita tolong orang.
Tapikan pertolongan yang tidak ada manfaatnya.
Begitu‖
(Wwc1/S2BA/line386-390/08.08.2018)
―Aa’ aa’ betul. Jadi ya lebih baik kita tolong ada ini ada perubahanlah. Ada manfaat. Jangan tolong sekedar tolong saja. Begitu‖
(Wwc1/S2BA/line392-393/08.08.2018)
―Kalau dunia yang jadi lebih baik sih tidak terlalu berharap seperti begitu. sampai besar begitu..‖
(Wwc1/S2BA/line401-402/08.08.2018) b. Fungsi Ekspresi Diri – Nilai
Baron & Byrne (2004) menjelaskan, sikap memungkin seseorang untuk mengekspresikan nilai – nilai dan keyakinan diri . Rahman (2013) menjelaskan fungsi sikap untuk memperkenalkan nilai – nilai ataupun keyakinan kita terhadap orang lain (Rahman, 2013). Snyder & Omoto (Sears dkk, 2009) mengemukakan bahwa, menjadi relawan dapat membantu seseorang mengekspresikan nilai–nilai personal. Nilai personal
108
seperti kasih sayang pada orang lain, keinginan untuk menolong orang yang kurang beruntung, perhatian khusus pada kelompok atau komunitas dan rasa kewajiban kemanusiaan untuk membantu orang lain.
Ekspresi dari nilai – nilai yang dimiliki kedua subjek dapat dilihat dari hasil wawancara kedua subjek. Subjek PM banyak mendapat prinsip serta keyakinan hidup saat mengalami kecelakaan kapal. setelah kematian atau yang biasa dikenal dengan surga dan neraka. Berikut kutipan pernyataan subjek:
―Jadi hidup itu kita mau kemana lagi. Orang semua di dunia mau Kristen ka, muslim ka, kalau hidup itu mau kemana lagi, pasti semua pasti menghadap.‖
(wwc1/S1PM/line397-398/30.07.2018)
―Harus ke surga. Kalau mau ke neraka ya buat yang jahat.. 2 pilihan saja. Yang mau melakukan kehendak Tuhan, yang tidak mau melakukan kehendak Tuhan, Ya Silahkan‖..
(wwc1/S1PM/line400-402/30.07.2018)
Subjek PM meyakini kekuasaan Tuhan yang memberi pertolongan dalam setiap keadaan. Subjek yakin bahwa setiap perbuatannya di perhitungkan oleh Tuhan, sehingga Tuhan tidak akan meninggalkannya dalam kesusahan. Dengan adanya pengalaman pahit, maka iman akan bertumbuh sehingga menghadirkan pertolongan dan berkat Tuhan. Berikut kutipan pernyataan subjek:
―Karena sa bilang begini ―kita sudah buat yang terbaik, masa Tuhan tidak hitung‖..
(wwc1/S1PM/line505-506/30.07.2018)
―Kita berdoa, pasti Tuhan buka jalan. Tapi kalau kita diam saja, kita tidak buat suatu apapun itu
salah juga..kalau kita kuat berdoa-berdoa terus tidak mungkin..Tuhan..model Tuhan bekerja bukan begitu, iman itu harus bertubuh dengan belajar dengan keadaan, ah itu‖..
(wwc2/S1PM/line892-895/06.08.2018)
―sa bilang tuh..perinsip sa, satu tertutup tapi Tuhan pasti buka jalan di tempat lain, ah begitu.
Jadi itu, walaupun itu kelihatan tertutup tapi ada pintu lain yang dibuka, pintu lain boleh ditutup tapi pasti pintu lain ada dibuka‖..
(wwc2/S1PM/line879-882/06.08.2018)
Subjek PM juga yakin bahwa dalam mengerjakan segala sesuatu perlu dengan keyakinan atau kepercayaan diri yang kuat sehingga apa yang dikerjakan tidak sia – sia. Perkataan dan perasaan tidak mampu akan mempengaruhi seseorang meskipun belum mengerjakannya. Subjek juga mengatakan tidak mungkin ia dapat bertahan selama 5 tahun dipedalaman untuk mengajar jika merasa tidak mampu. Berikut pernyataannya:
―Aaaa,, Karena intinya. Tadi sa balik sa bilang intinya kalau kita buat sesuatu baru kita tidak yakin tu sia – sia‖.
(wwc1/S1PM/line727-728/30.07.2018)
―Seperti kalau sa mau kerja. Kalau sa bilang ―sa tidak mampu‖ berarti kita tidak akan mampu. Jadi perasaan itu buat kita tidak mampu, walaupun kelihatan belum bisa, walaupun belum ada. Aa itu sa kayak, kalau sampai sekarang sudah 5 tahun ni tidak mungkin sa bisa bertahan kalau sa bilang ―aa ini tidak mampu."
(wwc1/S1PM/line730-733/30.07.2018)
―Tidak yakin, ya tidak mungkin disana. Karena sa yakin kalau sa disana, intinya ya sekolah bisa berdiri, disamping itu anak – anak bisa bertumbuh..baru pendidikan bisa maju, karna ada beberapa sekolah bahkan coba tanya ada keluarga di Kurima‖. (wwc1/S1PM/line735- 738/30.07.2018)
110
Subjek juga menganggap sebagai pengajar ilmu yang dimiliki perlu dibagikan pada orang lain agar talenta/kemampuan yang dimiliki dapat berkembang dan menjadi berkat bagi orang lain. Subjek juga meyakini adanya keadilan dunia. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup seorang diri, sehingga perlu saling tolong menolong.
Ketika subjek menolong, maka orang lainnya juga akan menolong dirinya. Kemudian orang kita tolong juga dapat menolong orang lainnya.
―Kalau kita punya ilmu baru kita Cuma dibayar karna kita punya ilmu saja, itu tidak suatu kebanggaan. Kita punya ilmu, kita harus.. ilmu itu kita bisa tanamkan. Kalau dokterkan punya yaa sudah terbatas. Dia kasih ajar sesuai. Tapi kalau kita punya ilmukan kita harus. Pendidikankan apa yang kita punya kelebihan kita bagi. Supaya dari situ Tuhankan bilang jadi berkat. Jadi supaya kita punya talenta itu bertambah. Bukan Cuma sampai disitu‖..
(wwc1/S1PM/line858-863/30.07.2018)
―Arti menolong bagi saya ya prinsipnya ya.. kalau kita tolong pasti orang lain tolong kita. Karena kita tidak bisa hidup sendirikan? Tanpa orang lain‖.
(wwc2/S1PM/line112-114/06.08.2018)
―Kalau kita menolong dunia lebih baik, ya setidaknya kalau kita bisa tolong orang lain, orang lain yang kita tolong bisa tolong orang lain lagi…
aaa.. jadi untuk buat baik itu kayaknya‖..
(wwc2/S1PM/line116-118/06.08.2018)
Subjek kedua meyakini bagaimana pentingnya perilaku menolong bagi sesama. Subjek yakin bahwa dalam menolong perlu melihat kualitas menolong tersebut.
―Hehehe. Ya sudah kita tau semua, tidak saling tolong menolong ya saling cari keuntungan saja‖
(wwc1/S2BA/line380-381/06.08.2018)
―Iyo. Orang yang kaya semakin kaya, makin miskin ya makin menderita. Tidak ada lagi hati tolong menolong‖
(wwc1/S2BA/line383-384/06.08.2018)
Kalau Cuma saya ya dampaknya Cuma saya sendiri mungkin tidak besar, kecil saja. Tapi sekecil apapunkan setidaknya dampaknya kelihatan. Aa’ aa’ begitu. walaupun kecil. Kalau misalnya seperti kita disini tolong orang ya dampaknya kecil, tapi kalau misalnya ditempat lain ada orang juga sama dengan kita ya makin hari makin besar. Kita lihatkan bukan kuantitas dampaknya kita lihat dulu dia punya dampak ada ka tidak‖.
(wwc1/S2BA/line400-409/06.08.2018)
―Iyo kualitas menolongnya bagaimana‖.
(wwc1/S2BA/line404-409/06.08.2018)
Nilai Kepatuhan pada keyakinan subjek PM pada Tuhan membuat subjek PM dapat mengekspresikan nilai – nilai lainnya meskipun dalam keadaan tidak menyenangkan. Subjek tetap mengekspresikan nilai kasih sayang dan tanggung jawab terhadap sesama dengan melakukan tindakan altruistik. Subjek memperlihatkan bagaimana pentingnya perilaku menolong orang lain.
Nilai dan keyakinan subjek BA mengenai pentingnya menolong orang lain sehingga tercipta keadilan sosial. Subjek BA juga menjelaskan pentingnya memperhatikan kualitas dari tindakan menolong.
112
c. Fungsi Self- Esteem
Sikap dapat berfungsi sebagai pembentuk harga diri.
Dimana sikap dapat membantu seseorang untuk mempertahankan atau meningkatkan harga diri. Baron (2004) menjelaskan bahwa, seseorang yang memiliki harga diri yang positif merasa dirinya berharga dan berkemampuan, sedangkan seseorang yang memiliki harga diri yang negatif memandang dirinya sebagai orang yang tidak berguna, tidak berkemampuan, dan tidak berharga. Hasil analisis wawancara kedua subjek menunjukkan perasaan dibutuhkan didaerah Y dan X sebagai seorang pengajar. Kedua subjek menjelaskan rasa bangga mereka karena sukses dapat berguna bagi orang lain. serta merasa masih dibutuhkan. Berikut penggalan pernyataan subjek:
Kalau apa yang saya buat itu gagal. Perasaannya ya tidak berhasilah.. kayak kecewa begitu tidak bisa tolong orang lain, padahal kita mampu tapi tidak bisa tolong..127-129 wwc2
(wwc2/S1PM/line127-129/06.08.2018)
―Itu, ada perasaan bangga, senang. Karena sa anggap ahh berarti sa sukses. Walaupun kelihatan tadi sa bilang, mungkin dalam fisik atau bangunan itu tidak sukses. Tapi dalam pertumbuhan, dalam pendidikan, sa rasa itu sukses. Skarang mereka su bisa baca. Inti dari pelajaran semuakan anak – anak kami su bisa baca, menulis, bisa mengerti.
Intinya itu. Bisa mengerti pelajaran yang diterapkan. Kalau kita sekolah baru kita tidak mengerti sama saja. Buat apa kita sekolah? Aa inti dari setiap pendidikan, ilmu, itu harus dia mengerti. Kalau tidak mengerti percuma. A itu yang ada kebanggaan. Karena, orang dipasar.
Mungkin nanti ada waktu kita jalan – jalan ke Misi
baru kita lihat. Orang – orang jual – jual sayur ada pegang hp. Jalan – jalanlah lihat.‖
(wwc2/S1PM/line704-713/06.08.2018)
―Beban dulu disini. Kalau ada guru lain ya sa jalan.
Tapi ya kalau Cuma saya sendiri. Maksudnya kayak kita tanamkan harapan di orang baru kita sendiri yang apa e. hahaha kau memberi harapan tapi hahahaha‖
(wwc1/S2BA/line293-296/06.08.2018)
―Keuntungan dari menolong ya ini, apa e,. kembali lagi kita punya hidup bukan cuma untuk diri kita sendiri. Tapi kita bisa berguna untuk orang lain.
Jadi ya keuntungan untuk kita menolong ya bisa lihat orang yang tertolong, bisa lihat orang yang susah itu jadi baik. Begitu‖
(wwc1/S2BA/line395-398/06.08.2018)
“Rasa ya senang saja. Karna apa e.. sa punya usaha itu tidak sia – sia. Kalau, ya itu sudah. Sa lihat mereka punya perkembangan to dari tidak tau sampai jadi tau. Itu saja.‖
(wwc1/S2BA/line269-271/06.08.2018)
“Cuma bisa ini saja. Cuma apa e.. manfaatnya ya bisa saya punya hidup itu berguna buat orang saja. Kalau untuk manfaat finansial ya tidak ada, jelas – jelas tidak ada, keuntungan apa‖
(wwc1/S2Ba/line357-359/06.08.2018)
Kedua subjek menjelaskan bagaimana dirinya merasa bangga karena dapat berguna bagi orang lain. Subjek PM dan subjek BA merasa bahwa masyarakat setempat membutuhkan bantuan mereka. Hampir delapan tahun bekerja kedua subjek merasa sukses dengan apa yang telah dikerjakan di daerah – daerah tersebut.