• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV INTEPRETASI DATA

4.6. Faktor Penyebab Pergeseran Makna Robu Mamahpah

dengan menggunakan keyboard. Hal ini seperti yang dikatakan informan yang bernama S.F Girsang (lk, 68 Tahun) yaitu :

kalau dulu itu acara robu mamahpah itu menggunakan gondang, sarunei dan ogung. Tapi sekarang sudah menggunakan keyboard.

Karna sekarang udah masuk listrik. Kalau dulu kan belum ada listrik.

(wawancara nopember 2010)

Pernyataan diatas diperkuat lagi oleh D.Sipayung (lk, 49 Tahun) :

“sebelumnya kami menggunakan alat musik tradisional simalungun nya seperti ogung, gondang dan sarunei. Tapi karna teknologi digantilah jadi keyboard. Keyboard lebih canggih kan…?

(wawancara Nopember 2010)

D. Girsang (lk, 52 Tahun) juga menyatakan hal yang sama, yaitu :

“sekarang ini nya udah menggunakan keyboard untuk membuka dan menutup acara robu mamahpah ini. Kalo dulu pake gondang nya. Selain itu ada sarunei dan ogung lagi.”

(wawancara Nopember 2010)

Proses perubahan dan pergeseran makna robu mamahpah yang terjadi ditengah-tengah kehidupan masyarakat Nagori Siboras membuktikan bahwa mayarakat secara umum tidak akan pernah mengalami stagnan. Masyarakat akan selalu berubah seiring dengan berjalannya waktu.

Yang dimaksud secara eksternal adalah perubahan yang didorong oleh terjadinya akuturasi budaya lokal dengan budaya luar. Semakin luasnya mobilitas maka masyarakat secara tidak langsung akan memproses terjadinya interaksi antar individu dengan latar budaya yang berbeda. Selanjutnya akan menghasilkan individu yang berpikiran moderat dalam melakukan suatu aturan-aturan adat, budaya, termasuk dalam menentukan ritual dalam robu mamahpah.

Sedangkan secara internal perubahan ini lebih didorong oleh semakin tingginya tingkat pendidikan masyarakat yang membawa kesadaran baru dalam menyikapi hukum adat dan budaya yang berlaku serta dapat dipatuhi oleh masyarakat.

Gultom DJ (dalam Sibarani, 2005 : 6 ) mengemukakan bahwa perkembangan zaman mempengaruhi terjadinya perubahan dalam setiap bagian baik itu dalam adat dan budaya, dimana perubahan-perubahan yang dimaksud yaitu menambah atau mengurangi kewajiban- kewajiban tertentu dalam adat atau budaya tersebut, baik upacaranya, unsur upacara maupun hakekat yang terkandung didalam setiap upacara yang mengalami perubahan dan pembaharuan.

Dari semua sikap atau tindakan, itu merupakan penyesuaian yang terdapat dalam nilai ataupun makna tersendiri yang suatu keharusan bagi setiap kehidupan bersama akan terikat pada keteraturan sikap yang tidaklah bersifat statis. Penyesuaian disini adalah kesediaan individu untuk menyesuaikan dirinya ataupun berubah secara alami sesuai dengan perubahan menurut waktu serta zaman.

Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan, berikut ini akan dipaparkan faktor yang menjawab penyebab pergeseran makna robu mamahpah dalam masyarakat Nagori Siboras.

Adapun faktor-faktor tersebut adalah :

1. Penemuan baru dan kemajuan teknologi informasi

Teknologi merupakan hasil kreatifitas manusia yang ditujukan untuk membantu atau mempermudah proses hidup dan kehidupan manusia. Namun disisi lain teknologi juga membawa dampak negatif yang dapat mengancam kehidupan manusia itu sendiri seperti hilangnya nilai- nilai atau ikatan sosial masyarakat. Dampak teknologi dalam hal ini juga telah membawa akibat terhadap hilangnya tradisi, adat-istiadat maupun ritual peribadatan masyarakat simalungun.

(Simanjuntak, B. 2001. Pergeseran adat batak toba bagian I (online) 20 Jnuari 2011, pkl 15.22).

Dengan ditemukannya alat musik baru seperti keyboard, robu mamahpah yang pada awalnya memakai alat musik simalungun asli seperti gondang, sarune, ogung, dan seruling beralih menjadi menggunakan keyboard. Adapun yang menjadi alasan mereka adalah masalah ekonomi dimana dengan memakai keyboard, biaya yang dikeluarkan lebih murah karena tidak melibatkan banyak peralatan musik dan banyak orang. Keyboard yang memiliki banyak jenis suara musik dianggap lebih efektif dan efisien dalam acara robu mamahpah. Hal dengan diatas diungkapkan oleh informan kunci yang bernama J. Girsang (lk, 75 Tahun). Berikut pernyataan informan ini :

dulu waktu aku masih kecil, masih ingatnya aku kalo dulu itu waktu acara robu mamahpah selalu menggunakan alat musik simalungun asli seperti gondang, sarune, ogung, dan seruling.

Nah… itu kan melibatkan banyak alat musik dan banyak lagi pemainnya. Tapi setelah orang-orang sini sudah mengenal keyboard, mulailah orang sini melihat-lihat daerah-daerah lain yang menggunakan keyboard. Yang mereka lihat itu bagaimana suara yang dihasilkan dan berapa harga sewanya. Setelah orang sini melihat bahwa lebih enak memakai keyboard, barulah mereka mengusulkan dan akhirnya diterapkan disini. Apalagi anak mudanya senang kali dulu waktu sudah mulai dipakai keyboard.

Karena kan mereka bisa menari-nari dengan berbaga jenis musik

yang mereka mau. Jadi dukungan dari masyarakt sini itu sangat besar dulu…”.

(wawancara nopember 2010)

Hal senada juga diungkapkan oleh D. sipayung (lk, 49 Tahun) :

“kalo dulu setiap acara robu mamahpah tiba, selalunya itu make alat musik khas simalungun. Selalu itu. Orang tuaku pun dan opungku dulu bilang gitu nya. Tapi sekarang ini dengan adanya keyboard, orang-orang sini pun jadi memmakai dan menganjurkan supaya menggunakan keyboard aja. Alasannya katanya pemain musiknya tidak banyak. Jenis musiknya juga banayak. Terus sewanya juga murah katanya. Ya udahlah..

terjadilah pergeseran dalam kebiasaan robu mamahpah kan…?”

(wawancara Nopember 2010)

Perkembangan teknologi dalam dunia informasi juga telah membawa dampak negatif, selain dampak positifnya. Teknologi informasi yang dimaksud disini adalah televisi. Munculnya televisi dalam kehidupan manusia tidak jarang menghadirkan suatu efek sosial yaitu perubahan nilai-nilai sosial dan budaya suatu kelompok masyarakat. Televisi dianggap merupakan media informasi yang paling efektif. Televisi memberikan informasi sekaligus dengan adanya penanyangan gambar sehingga memudahkan penyerapan informasi tersebut. Tidak jarang siaran-siaran dari televisi tersebut mempengaruhi pola pikir masyarakat yang pada akhirnya mempengaruhi tatanan kehidupan sosial mereka.

(

Adanya tayangan-tayangan yang disiarkan melalui televisi banyak mempengaruhi pandangan dan pola pikir masyarakat Nagori Siboras, dan budayanya sendiri. Informasi yang diperoleh melalui televisi membawa akibat pada prilaku masyarakat Nagori Siboras, khususnya pada generasi mudanya. Dampak prilaku tersebut yaitu proses tertanamnya nilai-nilai sosial budaya yang ditayangkan oleh televisi yang kemudian diterapkan dan dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dari cara berpakaian, cara bergaul, cara bertindak, dan

sebagainya yang dapat diistilahkan dengan gaya hidup modern, dimana hal ini pada akhirnya akan menciptakan image (kesan) bagi masyarakat Nagori siboras, khususnya generasi mudanya bahwa kebudayaan masyarakat Nagori siboras termasuk budaya robu mamahpah tanpa dibarengi dengan hal-hal yang baru setiap tahunnya merupakan hal yang ketinggalan zaman, atau dengan kata lain disebut kuno. berikut ini merupakan pernyataan dari ibu L. Saragih (pr, 57 Tahun):

“semenjak listrik sudah masuk ke desa ini, ngikut jugalah orang memasukkan TV kerumahnya kan. Sampai pada akhirnya sekarang ini sudah hampir setiap rumah sudah memiliki TV. Dan kalau pengalamanku sendiri kadang aku tertarik mengikuti hal baru yang aku lihat dari televisi itu. Apalagi kalo itu aku lihat banyak nilai positifnya untuk aku. Dan sepertinya bukan aku aja yang seperti itu…. Karna aku lihat orang-orang disini juga banyak yang berubah semenjak TV masuk disini. Dan aku lihat, kepedulian orang juga udah berubah sama keadaan robu mamahpah.

Dulunya orang sangat senang kalo acara robu mamahpah tiba, tapi sekarang kebanyakan orang lebih memilih nonton dirumah dan semakin tidak suka dengan acara robu mamahpah itu. Gaya hidup orang-orang disini juga udah semakin berubah karena pengaruh dari tv itu”.

(wawancara nopember 2010)

S. Sipayung (lk, 38 Tahun) :

“semenjak tv udah masuk kesini, makin sombong kulihat orang- orang sini. Tingkah-tingkah orang sini pun makin berubah. Udah banyak yang macam di tv-tv itu. Akibat dari tv ini kan, orang- orang pun udah semakin tidak perduli lagi dengan robu mamahpah. Kalo ada hal baru yang didapat dari tv, mau itu diterapkan orang sini dalam acara robu mamahpah itu. Ya .. kalo gitu pasti makin berubahlah nanti acara robu mamahpah itu kan..?

(wawancara Nopember 2010)

2. Faktor ekonomi dan efisiensi waktu

Sebagian masyarakat Nagori Siboras sekarang ini menganggap bahwa budaya robu mamahpah tidak lagi efisien karena memakan waktu yang lama dan juga memerlukan biaya yang banyak. Masyarakat Nagori Siboras menganggap tradisi tersebut tidak efisien lagi dengan kondisi masyarakat yang sekarang, yang menuntut segala pekerjaan harus dilakukan dengan cepat. Rutinitas kerja dengan segala konsekuensinya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari orientasi ekonomi masyarakat Nagori Siboras sekarang ini. Mereka lebih memilih mengadakan acara robu mamahpah tersebut dengan cara yang lebih sederhana dan mengerjakan segala sesuatunya dengan serba instan. Apa yang tertulis diatas sesuai dengan pernyatan dari salah satu informan biasa yang bernama P. Simaringga (lk, 48 Tahun). Informan ini mengatakan :

“karena sulitnya mencari uang sekarang ini, orang-orang sudah kurang semangat mengadakan acara robu mamahpah ini. Malah sekarang ini,banyak orang-orang sini yang menganggap acara robu mamahpah itu adalah buang-buang waktu. Jadi banyak juga orang-orang sini yang mengikuti acara robu mamahpah ini dengan cara yang sederhana saja. Mereka lebih mementingkan pekerjaan mereka. Bagi mereka waktu yang sedikitpun sangat berharga sama orang-oran sini. Yah… akibatnya orang-orang pun agak malas mengikuti acara ini seperti yang seharusnya. Banyak diantara kami mencari jalan pintas atau cara cepat untuk mengerjakan segala sesuatunya supaya cepat selesai. Kalo udah selessai kan, kami bisa kembali bekerja ke pekerjaan kami..”.

(wawancara nopember 2010)

Hal sama juga di ungkapkan oleh D. Girsang (lk, 52 Tahun) :

“kalo untuk orang sekarang ini, udah banyak yang tidak perduli dengan acara robu mamahpah ini. Semua keknya hanya memikirkan uang. Ada juga yang bilang acara ini buang-buang uang dan waktu. Sehingga membuat mereka mengikuti acara ini dengan sederhana. Cara-cara yang mereka lakukan juga dalam megerjakan segala sesuatu yang dibutuhkan juga bukan lagi dengan cara aslinya, melainkan semuanya dengan serba cepat.

(wawancara Nopember 2010)

3. Pengaruh kebudayaan lain

Adanya kontak dengan kelompok masyarakat yang lain akan menyebabkan terjadinya interaksi yang dapat mempengaruhi kebiasaan hidup sehari-hari antara satu dengan yang lainnya.

Begitu juga dengan yang terjadi pada masyarakat Nagori Siboras dewasa ini. Hal yang sangat terlihat jelas adalah terjadinya perkawinan campur dengan orang yang bukan berasal dari daerah ataupun budaya yang sama. Jika salah satu pasangan pengantin terutama pihak laki-laki bukan berasal dari etnis simalungun ataupun bukan besar di Nagori Siboras, maka akan terjadi tradisi bercampur dengan budaya yang dibawa suami. Dan pihak pengantin perempuan biasanya akan mengikuti tradisi atau budaya yang dibawa oleh pengantin laki-laki yang akan mereka terapkan selama kehidupan mereka. Pernyataan diatas dapat disimpulkan berdasarkan informasi yang di peroleh dari informan yang bernama Jamardin jawak (lk, 50 Tahun). Informan ini menyatakan :

“aku rasa penyebabnya karna udah banyak orang yang sekolah keluar daerah atau keluar kota… kenapa saya bilang gitu.. karena dari anak muda yang sekolah keluar, sudah jarang diantara mereka yang menikah dengan orang asli dari sini. Rata-rata diantara mereka menikah dengan orang luar. Bukan orang simalungun lagi.. tapi banyak juga diantara mereka walaupun menikah dengan orang luar, mereka juga tinggal di tempat ini.

Bukan di tempat mertuanya. Apalagi yang menikah dengan orang luar itu rata-rata adalah anak perempuan .makanya heran juga nya aku kadang-kaang melihat orang itu. Gara-gara itu juganya yang membuat banyak budaya disini menjadi bercampur. Gak asli lagi. Samalah seperti robu mamahpah. Gak jarang juga diantara mereka gak suka ikut mengadakan acara robu mamahpah ini, karena mereka merasa ada kebiasaan baru yang lebih penting.

Selain itukarena ada juga diantara mereka yang ngikut kebiasaan suami.

(wawancara nopember 2010)

D. Girsang (lk, 52 Tahun) juga mengatakan :

“kan pengetahuan orang kan semakin banyak… jadi banyak yang sudah di campur-campur orang kegiatan robu mamahpah itu dengan pengetahuan mereka yang baru ataupun kebudayaan lain.

Akhirnya kan budaya itu pun jadi gak asli lagi kan. Kalo udah gak asli berarti udah bergeser lah itu kan…?

(wawancara Nopember 2010)

Hubungan yang dilakukan secara fisik antara dua masyarakat yang memiliki tradisi masing-masing, mempunyai kecenderungan untuk menimbulkan pengaruh timbal-balik. Artinya masing-masing masyarakat mempengaruhi masyarakat lainnya, dan juga menerima pengaruh dari masyarakat tersebut. Hal ini dapat disebut dengan difusi, yaitu suatu proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari orang perorangan kepada perorangan lain, dan dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya.

BAB V PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Robu Mamahpah adalah suatu kebudayaan masyarakat Nagori Siboras yang sudah berlangsung secara turun-temurun yang dianggap memiliki makna yang sangat berguna bagi kelangsungan hidup mereka terutama dalam hal interaksi mereka dengan masyarakat setempat dan keluarga mereka masing-masing.

Adapun yang menjadi makna dari robu mamahpah adalah : 1. Memestakan hasil panen padi

2. Sebagai sarana untuk bertemu dengan keluarga

3. Sebagai sarana untuk mempererat hubungan kekeluargaan.

Kegiatan robu mamahpah selalu rutin dilakukan oleh masyarakat setiap tahunnya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari aparat pemerintah setempat dan juga informan, acara robu mamahpah selalu diadakan pada hari sabtu dan minggu, minggu kedua, dalam bulan agustus, Sehingga kegiatan tersebut selalu berdekatan dengan perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Adapun ritual yang dilakukan dalam acara robu mamahpah diawali dengan pertemuan para tokoh-tokoh masyarakat setempat untuk menentukan segala seuatu yang berhubungan dengan acara robu mamahpah. Setelah itu, satu minggu sebelum acara tersebut diadakan, para tokoh masyarakat tersebut menentukan orang-orang tertentu untuk mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan dalam acara tersebut. Selain tiu setiap keluarga juga mempersiapkan segala jenis makanan yang menjadi makanan khas dalam acara robu mamahpah.

Ketika waktunya sudah tiba, para keluarga mereka dari daerah lain pun berdatangan dan menikmati apa yang sudah di hidangkan. Selama acara tersebut berlangsung, mereka menghabiskan waktu untuk melakukan sharing mengenai permasalahan yang dihadapi oleh keluarga dan menacari solusi dari setiap permasalahan yang diahadapi oleh keluarga tersebut.

Jika mereka tidak memiliki masalah, maka mereka menghabiskaan waktu untuk melampiaskan rasa sukacita mereka dengan cara mereka masing-masing.

Pada hari minggu, keluarga mereka pun mempersiapkan diri untuk kembali ketempat asal mereka masing-masing, Begitu juga dengan keluarga yang akan mereka tinggal akan mempersiapkan oleh-oleh yang bisa dibawa oleh saudara mereka kembali ketempat asalnya.

Setelah itu masyarakat setempat pun kembali kedalam aktifitas mereka sehari-hari.

Setelah dilakukan wawancara terhadap informan, pengetahuan masyarakat sekarang mengenai makna robu mamahpah yang sebenarnya mengalami pergeseran. Dimana masyarakat sekarang memandang bahwa makna robu mamahpah adalah untuk memperdekat rasa silaturahmi dengan masyarakat dari desa lain dan untuk meningkatkan hasil pertanian mereka. Dalam hal ini masyarakat setempat mempercayai bahwa dengan diadakannya robu mamahpah maka hasil pertanian mereka juga akan mengalami peningkatan.

Proses terjadinya pergeseran makna robu mamahpah dalam masyarakat terjadi secara perlahan dan bertahap. Dimana itu semua diawali dari masuknya listrik dan barang elektronik ke desa tersebut yang akhirnya merubah cara pemikiran masyarakat setempat. Pemikiran masyarakat yang serba memikirkan uang membuat interaksi yang mereka lakukan dengan masyarakat setempat juga mengalami perubahan. Selain itu masyarakat Nagori Siboras juga semakin banyak yang melanjutkan pendidikan ke kota yang juga mendukung perubahan pola

pikir mereka, dimana pola pikir mereka tersebut juga ditransfer secara perlahan kepada keluarga dan masyarakat.

Adapun yang menjadi faktor penyebab terjadinya pergeseran makna robu mamahpah dalam masyarakat yaitu :

1. Penemuan baru dan kemajuan teknologi informasi 2. Faktor ekonomi dan efisiensi waktu

3. Pengaruh kebudayaan lain

Dari hasil temuan data dan analisis data yang dilakukan, maka peneliti dapat membuat beberapa kesimpuan inti dalam laporan penelitian ini. Antara lain adalah :

1. Kebudayaan yang bersifat magis religious seperti robu mamahpah tampak bergeser dalam kehidupan etnis simalungun terutama dalam masyarakat Nagori Siboras, dan menuju kearah kehidupan dengan perhitungan ekonomis.

2. Semakin menipisnya kesadaran budaya yang dialami oleh masyarakat Nagori Siboras saat ini menjadi kendala tersendiri yang menyebabkan tradisi-tradisi masyarakat Nagori Siboras menjadi bergeser, dan kalaupun tidak, itu terjadi dalam skala yang relatif kecil.

5.2. Saran

Melalui tulisan ini, peneliti ingin memberikan beberapa saran sehubungan dengan fenomena yang tampak dalam pergeseran makna robu mamahpah dalam masyarakat Nagori Siboras. Antara lain :

1. Hendaknya pemerintah daerah melalui dinas kebudayaan melakukan upaya-upaya untuk melestarikan kebudayaan masyarakat Simalungun. Misalnya melalui berbagai kegiatan seperti seminar, lokakarya dan sebagainya agar budaya masyarakat Simalungun sebagai salah satu unsur budaya nasional dapat terjaga eksistensinya.

2. Makna robu mamahpah hendaknya ditanamkan sejak kecil dalam keluarga, sehingga masyarakat Nagori Siboras memiliki benteng pertahanan agar ada regenerasi yang dapat melanjutkan kebudayaan masyarakat Nagori Siboras, sehingga kebudayaan masyarakat Nagori Siboras tersebut tidak hilang seluruhnya.

DAFTAR PUSTAKA

Basrowi, M. S. 2005. Pengantar Sosiologi. Bogor: Ghalia Indonesia.

Chulsum Umi dan Windy Novia. 2006. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Surabaya: Kashiko.

Douglas J. Goodman. 2004. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prenada Media, Kencana.

Gatut Murniatmo, dkk. 2000. Khazanah Budaya Lokal. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.

Poloma, Margaret, M, 2004, Sosiologi Kontemporer, Jakarta, PT Raja Grafindo persada Purba, D. Kenan, 1997, Adat Istiadat Simalungun, P. Siantar, Bina Budaya

Ritzer, George. 2003. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta: Raja GrafindoPersada.

Soekanto, Soerjono. 2002. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: UI-Press.

Sumbayak, St. Drs. Japiten, 2005. Refleksi Habonaron Do Bona dalam Budaya Simalungun.

P.Siantar

Tarigan, henri Guntur, 1980, sahap Silumat – lumat ni Simalungun, Jakarta, Depdikbud.

Sumber internet :

diakses tanggal 23

september 2010

september 2010

september 2010

diakses tanggal 23

september 2010

september 2010

23 september 2010

september 2010

diakses

tanggal 24 september 2010

INTERVIEW GUIDE Nama : Nalon Ginting

NIM : 060901063

Judul Penelitian : Pergeseran Makna Robu Mamahpah dalam Masyarakat __________________________________________________________________

DAFTAR PETANYAAN UNTUK INFORMAN KUNCI

I. Profile informan

1. Nama :

2. Jenis kelamin :

3. Usia :

4. Agama :

5. Suku :

6. Pendidikan terakhir : 7. Pekerjaan :

II. Pengetahuan tentang makna robu mamahpah 1. Apakah sebenarnya makna dari robu mamahpah ?

2. Coba anda jelaskan bagaimana sebenarnya ritual asli dari acara robu mamahpah?

3. Mengapa harus pahpah, lemang dan tape yang menjadi makanan khas dari robu mamahpah?

5. Mengapa gendang guro-guro aroon selalu ada dalam acara robu mamahpah, sementara gendang guro-guro aroon tersebut merupakan kebudayaan asli dari karo?

6. Apa saja yang dilakukan oleh masyarakat dalam acara robu mamahpah?

7. Berdasarkan perkembangan zaman pada saat ini, menurut anda apakah robu mamahpah ini masih bisa dipertahankan kedepan?

III. Pergeseran makna robu mamahpah

1. Apakah ada terjadi pergeseran makna dari robu mamahpah dalam masyarakat?

2. Bagaimana perbedaan ritual robu mamahpah yang asli dengan yang sekarang?

3. Dalam hal apa sajakah terdapat perbedaan robu mamahpah yang asli dengan yang sekarang?

4. Hal apa saja yang menyebabkan terjadinya pergeseran makna robu mamapah tersebut dalam masyarakat?

5. Bagaimana proses terjadinya pergeseran makna robu mamahpah tersebut?

6. Bagaimana masyarakat menanggapi pergeseran makna robu mamahpah tersebut?

7. Menurut anda, apa yang harus dilakukan dengan keberadaan budaya robu mamahpah pada saat ini?

INTERVIEW GUIDE Nama : Nalon Ginting

NIM : 060901063

Judul Penelitian : Pergeseran Makna Robu Mamahpah dalam Masyarakat __________________________________________________________________

DAFTAR PERTANYAAN UNTUK INFORMAN BIASA

I. Profil informan

1. Nama :

2. Jenis kelamin :

3. Usia :

4. Agama :

5. Suku :

6. Pendidikan terakhir : 7. Pekerjaan :

II. Pengetahuan tentang makna robu mamahpah 1. Menurut anda apakah makna dari robu mamahpah?

2. Apa sajakah riutal yang dilakukan dalam acara robu mamahpah?

3. Apa sajakah makanan khas dari robu mamahpah dan apa alasannya?

4. Apakah yang menjadi lauk utama dari robu mamahpah dan apa alasannya?

5. Apakah anda setuju kegiatan robu mamahpah ini terus diadakan setiap tahunnya?