• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKTOR YANG MENDORONG BANK SEBAGAI SALAH

Dalam dokumen Analisis Kasus Tindak Pidana Penggelapan (Halaman 32-120)

FAKTOR YANG MENDORONG BANK DALAM TINDAK PIDANA PENGGELAPAN DI BIDANG PERBANKAN

A. Azas-azas etik perbankan dalam hubungan bankir dengan nasabah

Yang diartikan dengan etik perbankan ialah kebiasaan yang baik atau peraturan-peraturan dalam dunia perbankan yang diterima dan ditaati oleh bankir- bankir nasional dan kemudian mengendap menjadi normatif5

1. Etik Perbankan di bidang kepercayaan masyarakat .

Dalam melaksanakan etik perbankan nasional telah dijelaskan, bahwa kita tidak bisa memisahkan diri dari moral pancasila. Tindak tanduk kita sehari-hari dalam pekerjaan di Bank juga harus berpedoman pada kelima sila dari Pancasila.

Justru dengan melaksanakan etik perbankan akan tercapai sistem perbankan nasional yang sehat di negara kita.

Sebelum kita memahami etik perbankan apakah bank itu terlebih dahulu perlu diketahui apakah sebenarnya Bank itu? Undang-undang mengartikan bank sebagai lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran .lembaga keuangan adalah semua badan yang melalui kegiatan-kegiatanya di bidang keuangan menarik uang dari masyarakat dan meyalurkannya kepada masyarakat.

Dari uraian diatas dapatlah kita simpulkan, bahwa salah satu aspek dari etik perbankan ialah kepercayaan yang harus dimilikinya dalam rangka melaksanakan kepercayaan masyarakat tersebut.

Menurut George AQ.Allan, First Educational Director Institute of Banking, maka banker yang berhasil (successful) memiliki:

5 O.P.Simorangkir, etik dan moral perbankan, akademi ilmu perbankan, Jakarta 1978, halaman 71

1 Satuperlima keahlian di bidang akuntansi 2 Duaperlima keahlian di bidang hukum 1. Tigaperempat ahli ekonomi

2. Empatperlima gentleman

Total menjadi sepuluh perlima yang disebut double size.

Kalau kita teliti satu persatu pengetahuan uyang dibutuhkan Oleh banker menurut George A.Allan, maka ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Bankir nasional itu harus belajar terus dan belajar itu sebagai suatu kebiasaan. Penulis sependapat dengan George A.Allan, bahwa banker harus mengetahui bidang akuntansi, hukum dan ekonomi. Namun bagi tingkat masyarakat Indonesia dewasa ini banker nasional sebaiknya juga memilki unsur-unsur kependidikan.

Dalam arti bahwa banker harus bersedia memberikan penerangan yang bersifat mendidik kepada nasabah jika diminta, harus kita ketahui, bahwa masih banyak pengusaha-pengusaha kita membutuhkan penerangan dan pendidikan dalam berbagai bidang usaha-usaha. Juga masih banyak pengusaha- pengusaha kurang mengetahui jasa-jasa yang dapat diberikan oleh Bank. Jika usaha-usaha nasabah berjalan baik dengan sendirinya bank-bank turut menikmatinya. Nasabah-nasabah pun akan lebih banyak menyimpan uangnya di bank.

Penerangan ataupun nasehat meliputi antara lain bidang administrasi, pembukuan, marketing dan lain-lain. Menurut pengamatan penulis, masih banyak nasabah-nasabah bank selaku pengusaha belum memilki administrasi maupun organisasi penjualan yang sehat. Sering nasabah-nasabah bank belum dapat mendisiplinir dirinya dalam rangka mengatur keuangannya. Mungkin di

Ilmi Akbar Lubis : Analisis Kasus Tindak Pidana Penggelapan Dengan Menggunakan Jabatan Dalam

Negara George A.Allan hal-hal yang kita jelaskan di atas tidak merupakan masalah pokok seperti di Negara kita.

2. Etik Pemegang Saham

Tiap-tiap pemegang saham sesuatu bank harus mengetahui bahwa keputusan-keputusan rapat pemegang saham tidak boleh menyimpang dari anggaran-anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Kalaupun ada penyimpangan harus disetujui bersama.

Lazim oleh direksi bank dalam rapat pemegang saham diajukan neraca dan perhitungan laba-rugi dari tahun yang lalu untuk dipertimbangkan dalam rapat pemegang saham tersebut ditetapkan pembagian keuntungan dan besarnya deviden.dalam rapat tersebut usul-usul diajukan oleh direksi , dewan komisaris dan para pemegeng saham untuk ditolak atau disahkan.

Bagi pemegang saham dalam penetapan pembagian keuntungan harus juga berpedoman kepada moral Pancasila khususnya keadilan sosial. Dalam penentuan program kerja titik tolak pemegang saham bank hanya sebanyak mungkin mencari keuntungan, melainkan harus bertitik tolak dari masalah- masalah sosial ekonomi.

Tiap-tiap pemegang saham bank nasional harus sadar, bahwa usaha perbankan bukan hanya mencari keuntungan sebesar-besarnya, tetapi kepentingan segi-segi sosial masyarakat tidak boleh diabaikan.

3. Etik perbankan dalam hubungan antara pimpinan dan karyawan Sesuatu bank merupakan proses kegiatan dalam suatu kesatuan. Dengan demikian maka perilaku pimpinan dan karyawan bank merupakan juga suatu kesatuan. Tegasnya, kalau rencana dan tujuan sudah ditetapkan, dan

kebijaksanaan banking operation sudah ditentukan, maka banking operation ini sering macet atau tidak sehat, bila pimpinan bank kurang bersih dari godaan materi. Dengan sendirinya ia tidak lagi memiliki kekuatan dan keberanian untuk memebersihkan para karyawan yang kurang jujur melaksanakan tugasnya. Tidak mungkin terdapat suatu banking operation yang sehat jika pimpinan dan karyawan-karyawan tidak bersih dari berbagai godaan, seperti yang sudah kita jelaskan diatas. Jika bawahan mengetahui, bahwa pimpinan bekerja curang, bawahan memandang remeh dan tidak acuh melaksanakan perintahnya. Hal ini akan mengganggu kelancaran mekanisme bank operation.

4. Etik Perbankan dalam hubungan bankir dan nasabah.

1. Prinsip saling menguntungkan.

Baik bank maupun nasabah dalam pelaksanaan persetujuan kredit harus berpedoman pada prinsip saling menguntungkan. Bank memberikan kredit, karena akan memeperoleh keuntungan dari hasil pinjaman. Nasabah menerima kredit dengan tujuan pinjaman tersebut digunakan di sektor produksi untuk memperoleh keuntungan.

2. Persetujuan yang harus dilaksanakan

a. Penulis sebagai nasabah bank pernah memperoleh fasilitas kredit yang setiap saat (sesuai dengan persetujuan) dapat ditarik. Penulis mengeluarkan cek kepada seorang pengusaha sebagai pembayaran dari suatu transaksi. Pengusaha tersebut Penulis kenal baik, sehingga ia percaya dan menerima cek tersebut. Kemudian si penjual menguangkannya. Apa yang terjadi? Cek ditolak oleh bank dengan alas an yang dicari-cari

Ilmi Akbar Lubis : Analisis Kasus Tindak Pidana Penggelapan Dengan Menggunakan Jabatan Dalam

Coba bayangkan, nama penulis dirusak oleh bank itu. Dengan sendirinya penjual barang tersebut tidak akan percaya pada penulis, apapun alasan yang diberikan. Si penjual barang itu mungkin butuh uang pada saat itu sebab harus memenuhi kewajibannya sesuai dengan perjanjiannya. Mungkin ia sendiripun tidak akan dipercaya oleh rekannya lagi jika tidak dapat melunasi kewajiban tepat pada waktunya. Mungkin juga rekannya ini berjanji pula kepada pengusaha lainnya melunasi kewajibannya pada esok harinya.

Sebenarnya bank yang tidak memenuhi persetujuan mengorbankan bukan hanya satu orang, tetapi sekian banyak orang secara berantai.

Suatu persetujuan yang tidak memenuhi kemungkinan akan merusak kepercayaan baik hubungan antara-antara pengusaha maupun antara pengusaha-pengusaha itu sendiri, dan bukan hanya merusak kepercayan antara pengusaha, melainkan juga akan menimbulkan efek berantai yang negatif. Perusahaan yang satu mungkin mengalami stagnasi di bidang produksinya, karena kekurangan biaya, demikian juga perusahaan lainnya . Ini menunjukan betapa pentingnya dipenuhi sesuatu perjanjian.

a. Seorang debitur bank dengan pinjaman yang relatif besar berjanji melunasi hutangnya tepat pada waktunya kepada bank. Seandainya hal ini tidak terlaksana, bank tersebut akan kewalahan. Mungkin juga ia telah mengadakan suatu perjanjian dengan beberapa calon- calon debitur akan memberikan fasilitas kredit, dengan harapan dana untuk fasilitas kredit yang berasal dari pinjaman yang

diterima. Jika likuiditas bank tersebut tidak mencukupi, terpaksa kredit fasilitas ditunda atau batal. Bank ini akan di golongkan : 1. Tidak dapat memenuhi persetujuan.

2. tidak mengatur dananya .

3. kurang baik memberikan servis kepada nasabah.

Memang seharusnya bank menseleksi para debiturnya, namun demikian bisa saja terjadi bahwa seseorang debitur lalai melunaskan kewajibannya. Oleh karena itu harus ada peraturan- peraturan dan perjanjian-perjanjian yang harus dilaksanakan tepat pada waktunya. Suatu perjanjian yang macet dapat merusak mekanisme bisnis itu sendiri.

b. Telah kita jelaskan, bahwa Negara kita terpengaruh oleh berbagai nilai-nilai yang datang dari luar. Di dunia barat, business ethics mengutamakan janji atau sesuatu persetujuan harus dilaksankan tepat pada waktunya. Waktu oleh dunia usahawan barat dan Jepang dinilai sama dengan uang. Uang sangat penting, demikian juga waktu.

Dewasa ini di kota-kota besar usahawan-usahawan Indonesia sudah menilai waktu sebagai sesuatu yang termasuk business ethics.

Namun dalam praktek hal ini tidak mudah dilaksanakan.

Sebagai contoh : pernah seorang pengusaha Indonesia merencanakan suatu persetujuan dengan industrialis Jepang untuk menjadi agen tunggal sesuatu jenis barang bagi seluruh Indonesia.

Umumnya penetapan agen tunggal sesuatu jenis barang yang

Ilmi Akbar Lubis : Analisis Kasus Tindak Pidana Penggelapan Dengan Menggunakan Jabatan Dalam

berharga, menuntut pemenuhan syarat-syarat yang tidak begitu mudah. Pembicaraan dan surat-menyurat antara si pengusaha Indonesia dan Pengusaha jepang tersebut sudah berjalan baik, tinggal pelaksanaan persetujuan saja. Sesuai dengan persetujuan tersebut, kedua belah pihak membubuhkan tanda tangan di depan notaries, juga jam dan tanggal/hari sudah ditetapkan. Tapi pihak pengusaha Indonesia terlambat satu jam datang di depan notaries . Industrialis jepang tersebut demikian kesal atas kelambatan itu, sehingga pelaksanaan persetujuan agen tunggal dibatalkan.

Keuntungan jutaan rupiah yang diharapkan dengan sendirinya amblas. Alasan jepang tersebut ialah bahwa pengusaha Indonesia yang bersangkutan tidak dapat memenuhi janji.

3. Jangan menerima gift, upeti atau uang pelicin

Kebiasaan memberikan gift atau upeti lahir dari suatu masyarakat yang feudal dalam masyarakat yng berstruktur feudal, dimana raja sebagai cakrawati Negara dianggap juga sebagai wakil sang nata pengusaha khayangan di dunia, maka pemberian gift atau upeti bukan saja merupakan suatu yang halal atau wajar, tetapi juga menjadi suatu kewajiban yang suci.

Oleh berbagai penulis dikemukakan, bahwa masyarakat kita dewasa ini dalam pergaulan hidup masih dianggap mengandung pewarisan kebudayaan yang feodalistis itu. Demikian juga kebiasaan gift atau upeti tersebut masih melekat dikalangan pejabat-pejabat bank- bank nasional. Para pejabat bank-bank dalam memberikan kredit sering

memperoleh gift dari para nasabahnya. Sulit menentukan maksud dan tujuan gift tersebut. Apakah gift itu semata-mata ditujukan sebagai uang pelicin agar permohonan kreditnya segera terlaksana ? apakah gift itu ditujukan mengelabui mata pejabat berhubung jaminan tidak memenuhi syarat? apakah gift itu hanya sebagai uang terima kasih atas servis yang diberikan oleh bank? apakah gift itu bertujuan merusak nama bank?

apakah gift bertujuan subversi ekonomi? Ini akan menjadi suatu masalah bagi kita, seandainya pejabat bank itu sengaja tutup mata terhadap jaminan yang tidak cukup atau pinjaman berikut bunga dan biaya-biaya lainnya tidak dikembalikan tepat pada waktunya. Atau tidak memeperdulikan apakah sasaran kredit sesuai dengan keinginan pemerintah, ataupun motif lainnya seperti sudah kita jelaskan diatas.

Dengan alasan inilah setiap gift berupa upeti bertentangan dengtan etik perbankan.

Sekarang kasus ini kita tinjau dari segi moral pancasila. Maka timbul pertanyaan, siapa yang dirugikan ? yang dirugikan ialah bank dan rakyat Indonesia. Yang beruntung dan merusak ialah si peminjam bersama para pejabat bank. Jika kredit yang diberikan itu bermilyar rupiah dan ini tidak dapat dikembalikan, maka ini berarti bahwa bangsa dan Negara digorogoti secara besar-besara. Jelas kasus ini bertentangan dengan moral pancasila.

Bagaimana seandainya gift diberikan hanya sebagai uang tanda terima kasih pejabat ? Adalah tugas dan kewajiban pejabat meladeni para nasabah. Pejabat menerima gaji yang cukup untuk melayani para

Ilmi Akbar Lubis : Analisis Kasus Tindak Pidana Penggelapan Dengan Menggunakan Jabatan Dalam

nasabah bank. Kami kira sebaiknya setiap gift jangan dibiasakan diterima. Lain halnya undangan makan bersama antara para nasabah dan pejabat bank. Penulis telah banyak bergaul dengan pengusaha- pengusaha pribumi maupun non-pribumi. Umumnya dalam hati kecilnya, jika pengusaha-pengusaha ini telah memberikan sesuatu gift kepada para pejabat, mereka berpendapat se-akan-akan pejabat dapat dibeli atau diatur sesuai dengan kehendak mereka.

Gift ada baiknya diterima pada hari-hari mendekati hari raya Idul Fitri, hari Natal dan Tahun Baru. Tiap-tiap pengusaha Indonesia berterima kasih kepada bank, sebab melalui jasa dan dana yang dipinjamkan oleh bank usahanya berkembang. Bangsa Indonesia memilki budi pekerti yang tinggi. Ia merasa berhutang budi kepada bank dan ingin memberi sesuatu sebagai balas jasa. Namun sebaiknya pada hari-hari besarlah diberikan atensi jasa tersebut .

4. Memberi nasehat

Seandainya seorang pejabat bank memberikan nasehat-nasehat kepada seseorang nasabah bank, dan nasehat-nasehat tersebut ternyata memuaskan dan nasabah bank memperoleh keuntungan, maka timbul pertanyaan apakah nasabah tersebut mempunyai keharusan untuk memberi gift sebagai balas jasa kepada pejabat bank yang bersangkutan?

Dalam tiap bank pejabatnya senantiasa memberikan nasehat jika diminta, sebab sudah merupakan servis bank itu tidak mengikat dengan suatu persetujuan tertentu, bahwa pejabat akan diberikan honorarium sekian persen dari hasil keuntungan, jika kelak nasehat itu membawa

keuntungan. Demikian tidak ada alasan mengapa nasabah itu harus memberi gift.

Ditinjau segi ekonomi perusahaan mungkin saja gift yang diberikan kepada pejabat sebagai hasil dari keuntungan tidak akan memberatkan beban perusahaan. Mungkin saja orang berpendapat, bahwa gift dapat diterima selama tidak ada fihak yangt dirugikan, termasuk bank. Namun bank dalam hal ini dapat disamakan sebagai guru. Kalau anak didik guru menjadi pintar dan berhasildi masyarakat, maka ini bukan mengharuskan si anak didik memberikan balas jasa kepada si guru.mendidik anak adalah kewajiban guru.

5. Mendidik nasabah

Bank harus mendidik nasabahnya agar memberikan informasi yang jelas tentang usahanya. Tugas bank dapat disamakan dengan dokter.

Dokter memberikan diagnose yang baik, jika si pasien memberikan keterangan yang benar tentang penyakit yang dideritanya. Demikian juga halnya dengan nasabah, harus memberikan informasi yang benar tentang kesehatan dan penyakit usahanya. Dalam hal ini nasabah antara lain harus memberikan:

a. Keterangan keuangan secara kwantitatip harus jelas, sehingga memudahkan bank mengambil keputusan-keputusan yang seperlunya.

b. Menyajikan informasi yang dapat dipercaya mengenai posisi keuangan dan perobahan-perobahan kekayaan bersih.

Ilmi Akbar Lubis : Analisis Kasus Tindak Pidana Penggelapan Dengan Menggunakan Jabatan Dalam

c. Menyajikan informasi keuangan yang dapat membantu dalam menaksir kemampuan memperoleh laba.

d. Menyaksikan informasi lain yang diperlukan mengenai perubahan-perubahan dalam harta dan kewajiban serta mengungkapkan lain-lain informasi.

Dengan demikian bank dimungkinkan memberikan terapi yang tepat, informasi yang tidak benar pasti akan menghasilkan terapi yang kurang tepat. Diagnosa tentu tergantung dari jenis penyakit yang diderita. Penambahan kredit (injeksi keuangan) mungkin dapat menyembuhkan penyakit usaha. Umpamanya : kenaikan harga karena faktor-faktor ekstern dengan kenaikan harga impor bahan-bahan baku.

Kalkulasi biaya berobah, sehingga membutuhkan tambahan biaya.

Bank mendidik nasabahnya agar menjadi pengusaha yang baik, juga memilki jiwa Pancasila. Bank sebenarnya di samping mendidik juga mengadakan seleksi diantara para nasabahnya. Seleksi itu harus ketat. Jika bank telah memilki para nasabah yang benar-benar baik, menghayati prinsip-prinsip ekonomi, kami kira hal ini akan mengurangi tugas-tugas bank. Bank tidak lagi begitu repot mengurus masalah kredit macet, cek-cek kosong, alamat palsu, tanda tangan palsu dan sebagainya.

6. Kewajiban Internasional

Tiap-tiap bank devisa nasional harus melunasi kewajiban internasional yang segera dapat ditagih.seandainya kewajiban tidak dipenuhi berarti:

a. Bank devisa tidak akan dipercayai di luar negeri

b. Mungkin hanya satu bank devisa yang berlaku curang, namun secara psikologis bank devisa lainnya “kena getahnya” untuk tidak dipercaya selanjutnya.

c. Merusak nama baik Negara kita yang kita cintai : hal ini bertentangan dengan undang-undang dasar 1945 Pasal 30 ayat 1 mengatakan: wajib menjunjung tinggi nama baik Negara.

B. Law Enforcement/sistem penegakan hukum Perbankan di Indonesia Aspek pengembangan dan koreksi-koreksi yang diperlukan dalam bidang hukum, ternyata tidak sejalan dengan perkembangan yang terjadi pada dunia usaha dan perbankan. Langkah-langkah korektif yang diperlukan untuk mencegah terjadinya kemerosotan pada sector riil dan prbankan pada umumnya tidak efektif.6

a) Terdapat gejala dan kesan yang kuat bahwa berbagai peraturan yang diterbitkan oleh pemerintah maupun perbankan senantiasa mengandung celah-celah yang memungkinkan terjadinya tindakan-tindakan yang menyimpang yaitu salah satunya berupa tindak pidana berupa Penggelapan.

Hal tersebut dapat terjadi pada umumnya sebagai akibat dari adanya kolusi segitiga yang melibatkan unsur-unsur birokrasi pemerintah, perbankan dan oknum-oknum pengusaha tertentu. Dalam kaitan ini ada beberapa aspek yang berada di balik dari terjadinya praktik-praktik yang negatif itu, yaitu:

b) Langkah-langkah yang ditempuh pemerintah dalam usahanya untuk melindungi pertumbuhan jenis usaha dan kelompok usahawan tertentu

6 Masyhud Ali, Restrukturisasi perbankan dan dunia usaha, PT.Elex Media Komputindo, 2002,

Ilmi Akbar Lubis : Analisis Kasus Tindak Pidana Penggelapan Dengan Menggunakan Jabatan Dalam

telah disusupi dengan praktik-praktik monopoli serta pemberian prioritas yang kurang sehat.

c) Kebijakan yang lebih cenderung pada usaha mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi telah tidak diikuti oleh Prudential effort dalam mengatisipasi risiko yang mungkin ada.

d) Lembaga-lembaga pengawas seperti BPK dan BPKP tidak sepenuhnya mampu menjalankan fungsi kontrol yang efektif dan lebih banyak pada usaha mengungkapakan tindak-tindak pentyimpangan yang telah terjadi.

e) Kurang adanya law enforcement yang efektif dan seimbang serta terkoordinasi dengan baik di antar Lembaga-lembaga penegak Hukum yang ada.

f) Management information sistem yang memonitor langkah-langkah di sektor riil, perbankan dan pemerintahan belum terintegrasi secara efektif.

C. Hubungan Hukum antara Bank dengan Pemegang Rekening Bank.

Bank dengan pemegang rekeningnya mempunyai hubungan biasanya adalah hubungan debitur (bank) dengan Kreditur (pemegang Rekening). Kadang- kadang kontrak ini dinyatakan secara tulis, tetapi lebih sering tidak tertulis, dan kebiasaan perbankan yang sudah mapan, undang-undang perbankan, serta anggaran dasar lainya memberikan kerangka aturan-aturan dan ketentuan di dalam mana transaksi-transaksi diselenggarakan7

7 American Institute of banking, dasar-dasar operasi bank, Bina Aksara, Jakarta, 1989, halaman 126

.

Kontrak adalah perjanjian bisnis yang berlaku menurut hukum pada umumnya dapat dikatakan, bahwa kontrak hanya berlaku jika pihak-pihak yang membuat kontrak itu mepunyai wewenang hukum untuk membuat perjanjian.

Wewenang bank untuk membuat kontrak ditetapkan dan dibatasi oleh undang-undang di mana ia berkedudukan. Lebih lanjut wewenangnya dibatasi oleh anggaran dasarnya, anggaran rumah tangganya, dan dewan komisaris. Orang- orang yang menjalankan wewenang ini atas nama bank ditentukan dan diangkat oleh dewan ini atau oleh pejabat eksekutif yang dikuasakan untuk bertindak atas namanya.

Apabila seseorang memasuki pekarangan sebuah bank dan berurusan dengan seseorang yang duduk di tempat resmi, ia umumnya dapat dianggap orang yang mempunyai wewenang untuk mengikat bank dalam kontrak-kontrak biaya yang berhubungan dengan bisnis perbankan.

Bankir mendapatkan dirinya dalam posisi yang agak berbeda banyak orang yang datang ke mejanya tidak dikenalnya sama sekali.seseorang mungkin memperkenalkan dirinya sebagai orang tertentu, seorang kompanyon, bendaharawan perseroan, trustee, atau wali harta tetap. Sebelum membuat kontrak dengan seseorang asing, wakil bank itu haruslah memeriksa identitas orang tersebut. Selanjutnya, jika orang itu tidak bertindak untuk dirinya sendiri sebagai perseorangan, maka hendaklah ditentukan dengan tegas wewenangnya untuk bertindak atas nama orang lain dan wewenangnya untuk menginstruksikan bank sehubungan dengan kontrak tersebut.

Setoran (deposit) adalah sejumlah uang atau kredit yang ditaruh di bank untuk digunakan sesuai dengan praktek perbankan agaknya logis timbul

Ilmi Akbar Lubis : Analisis Kasus Tindak Pidana Penggelapan Dengan Menggunakan Jabatan Dalam

pertanyaan, kenapa bank memerlukan identififikasi dan bukti wewenang dari mereka yang menawarkan uang mereka kepada bank? Pertanyaan ini mengabaikan sama sekali fakta bahwa bank dalam menerima setoran juga menerima instruksi mengenai penarikan dana-dana itu. Bagi bank selalu penting mengetahui bahwa orang dengan siapa ia mengadakan hubungan rekening adalah orang sebagaimana dinyatakannya dan bahwa ia berwenang sebagaimana dinyatakannya, karena bank akan dianggap bertanggung jawab penuh untuk kewajiban-kewajiban yang tersurat dan tersirat dalam kontrak tersebut

Contoh, John Jones menandatangani selembar cek sebagai direktur perseroan XYZ. Situasi ini menyangkut beberapa hal yang harus dipastikan oleh bank. Pertama, John Jones memang benar Direktur Perseroan itu ; yang kedua :s ebagai direktur ia berwenang menandatangani cek ; dan ketiga, tanda tangan diatas cek itu adalah tanda tangan asli dari orang yang dikuasakan untuk menandatangani dan bukan pemalsuan seorang penipu.

Oleh karena Bank menjual jasa-jasa dan mengaharapkan dibukanya rekening–rekening, maka wajarlah ia harus memikul sebagian besar kewajiban kontrak rekening bank. Salah satu kewajibanya yang terpenting adalah melaksanakan perintah-perintah pembayaran hanya yang betul-betul sesuai dengan instruksi-instruksi sah dari pemegang rekening. Di samping itu bank dalam keadaan-keadaan tertentu bertanggung jawab terhadap pihak ketiga jika ia secara tak sengaja memungkinkan seorang pemegang rekening melalui rekeningnya, mengalihkan dana-dana yang sesungguhnya milik orang lain.

Contoh, misalkan pegawai A berada dalam posisi yang memungkinkannya memperoleh pemilikan cek-cek yang ditarik atas perintah B, majikannya .Untuk

Dalam dokumen Analisis Kasus Tindak Pidana Penggelapan (Halaman 32-120)

Dokumen terkait