FASILITAS PERPAJAKAN
B. Bentuk-Bentuk Fasilitas Pajak 1. Pengertian Fasilitas Pajak
2. Fasilitas Berkaitan Pajak Pertambahan Nilai
A. Fasilitas Pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
Dasar hukum pembebasan PPN adalah Pasal 16B Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 (selanjutnya disebut UU PPN). Pasal 16B ini memberikan wewenang kepada Pemerintah untuk memberikan fasilitas berupa PPN tidak dipungut atau PPN dibebaskan untuk:
- Kegiatan di kawasan tertentu atau tempat tertentu di dalam daerah Pabean;
- Penyerahan Barang Kena Pajak tertentu atau penyerahan Jasa Kena Pajak tertentu;
- Impor Barang Kena Pajak tertentu;
- Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud tertentu dari luar daerah Pabean di dalam daerah Pabean;
- Pemanfaatan Jasa Kena Pajak tertentu dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean.
B. PP 146 Tahun 2000 Jo PP 38 Tahun 2003
Sebagian Barang Kena Pajak tertentu yang atas impornya dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai adalah:
- Senjata, amunisi, alat angkutan di air, alat angkutan di bawah air, alat angkutan di udara, alat angkutan di darat, kendaraan lapis baja, kendaraan patroli, dan kendaraan angkutan khusus lainnya, serta suku cadangnya yang diimpor oleh Departemen Pertahanan, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisisan Negara Republik Indonesia (POLRI) atau oleh pihak lain yang ditunjuk oleh Departemen Pertahanan, TNI atau POLRI untuk melakukan impor tersebut, dan komponen atau bahan yang belum dibuat di dalam negeri, yang diimpor oleh PT (PERSERO) PINDAD, yang digunakan dalam pembuatan senjata dan amunisi untuk keperluan Departemen Pertahanan, TNI atau POLRI;
- Vaksin Polio dalam rangka pelaksanaan Program Pekan Imunisasi Nasional (PIN);
- Buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama;
- Kapal laut, kapal angkutan sungai, danau dan kapal angkutan penyeberangan, kapal pandu, kapal tunda, kapal penangkap ikan, kapal tongkang, dan suku cadang serta lat keselamatan pelayaran atau keselamatan manusia yang diimpor dan digunakan oleh Perusahaan Pelayaran Niaga Nasional, Perusahaan Penangkapan Ikan Nasional, Perusahaan Penyelenggara Jasa Kepelabuhan Nasional atau Perusahaan Penyelenggara Jasa Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan Nasional, sesuai dengan kegiatan usahanya.
Sebagian Barang Kena Pajak yang atas penyerahannya dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai adalah:
- Rumah sederhana, rumah sangat sederhana, rumah susun sederhana, pondok boro, asrama mahasiswa dan pelajar serta perumahan lainnya, yang batasannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan setelah mendengar pertimbangan Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah;
- Senjata, amunisi, alat angkutan di air, alat angkutan di bawah air, alat angkutan di udara, alat angkutan di darat, kendaraan lapis baja, kendaraan patroli dan kendaraan angkutan khusus leinnya, serta suku cadangnya yang diserahkan kepada Departemen Pertahanan, TNI atau POLRI, dan komponen atau bahan yang diperlukan dalam pembuatan senjata dan amunisi oleh PT (PERSERO) PINDAD untuk keperluan Departemen Pertahanan;
- Vaksin polio dalam rangka pelaksanaan Program Pekan Imunisasi Nasional (PIN);
- Buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama.
Sebagian Jasa Kena Pajak Tertentu yang atas penyerahaannya dibebaskan dari poengenaan Pajak Pertambahan Nilai adalah:
- Jasa yang diterima oleh Perusahaan Angkutan Laut Nasional, Perusahaan Penangkapan Ikan Nasional, Perusahaan Penyelenggara Jasa Kepelabuhan Nasional atau Perusahaan Penyelenggara Jasa Angkutan Sungai, Danau, dan Penyebrangan Nasional, yang meliputi:
a. Jasa persewaan kapal;
b. Jasa kepelabuhan meliputi jasa tunda, jasa pandu, jasa tambat, dan jasa labuh;
c. Jasa perawatan atau reparasi (docking) kapal;
- Jasa yang diterima oleh Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional yang meliputi:
a. Jasa persewaan pesawat udara;
b. Jasa perrawatan atau reparasi pesawat udara;
- Jasa perawatan atau reparasi kereta api yang diterima oleh PT (PERSERO) Kereta Api Indonesia.
C. Peraturan Pelaksanaan 1. Barang Tidak Kena PPN
Barang berdasarkan UU PPN didefinisikan sebagai barang berwujud, yang menurut sifat atau hukumnya dapat berupa barang bergerak atau barang tidak bergerak, dan barang tidak berwujud. Pada prinsipnya, semua barang dikenakan Pajak Pertambahan Nilai. Namun demikian, UU PPN memberikan kekecualian di Pasal 4A, di mana ada jenis barang-barang tertentu yang tidak dikenakan PPN.
Penetapan jenis barang yang tidak dikenakan PPN diatur dengan Peraturan Pemerintah. Sementara UU PPN memberi batasan kelompok-kelompok barang yang tidak dikenakan PPN. Berdasarkan Pasal 4A ayat (2) UU PPN, kelompok barang yang tidak dikenakan PPN adalah:
a. Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya. Yang dimaksud dengan barang hasil pertambangan dan hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya seperti minyak mentah (crude oil), gas bumi, pasir dan kerikil, bijih besi, bijih timah, bijih emas.
b. Barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak.
Yang dimaksud dengan kebutuhan pokok dalam ayat ini adalah beras dan gabah, jagung, sagu, kedelai, garam baik yang berjodium maupun yang tidak berjodium.
c. Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan, warung, dan sejenisnya. Hal ini dimaksudkan agar tidak dikenakan pajak berganda karena sudah dikenakan pajak daerah.
2. Jasa Tidak Kena PPN
Berdasarkan Pasal 4A ayat (3) UU PPN dan Peraturan Pemerintah Nomor 144 Tahun 2000, beberapa jenis-jenis jasa yang tidak dikenkan PPN adalah sebagai berikut:
a. Jenis jasa di bidang pelayanan kesehatan medik meliputi: jasa dokter umum, dokter spesialis, dan dokter gigi; jasa dokter hewan; jasa ahli kesehatan seperti akupunktur; ahli gigi; ahli gizi; dan fisioterapi; jasa kebidanan dan dukun bayi;
jasa paramedis dan perawat; dan jasa rumah sakit, rumah bersalin, klinik kesehatan, laboratorium kesehatan, dan sanatorium.
b. Jenis jasa di bidang pelayanan sosial meliputi: jasa pelayanan panti asuhan dan panti jompo; jasa pemadam kebakaran kecuali yang bersifat komersial; jasa pemberian pertolongan pada kecelakaan; jasa Lembaga Rehabilitasi kecuali yang bersifat komersial; jasa pemakaman termasuk krematorium; dan jasa di bidang olah raga kecuali yang bersifat komersial.
c. Jenis jasa di bidang keagamaan meliputi: jasa pelayanan rumah ibadah; jasa pemberian khotbah atau dakwah; dan jasa lainnya di bidang keagamaan.
d. Jenis jasa di bidang kesenian dan hiburan yang telah dikenakan Pajak Tontonan termasuk jasa di bidang kesenian yang tidak bersifat komersial seperti pementasan kesenian tradisional yang diselenggarakan secara cuma- Cuma.
e. Jenis jasa di bidang penyiaran yang bukan bersifat iklan yaitu jasa penyiara radio atau televisi yang dilakukan oleh instansi Pemerintah atau swasta yang bukan bersifat iklan dan tidak dibiayai oleh sponsor yang bertujuan komersial.
f. Jenis jasa di bidang angkutan umum yaitu jasa angkutan umum di darat, di laut, di danau, dan di sungai yang dilakukan oleh Pemerintah atau swasta.
3. PPN Tidak Dipungut
Fasilitas PPN tidak dipungut adalah sebagai berikut:oleh
a. Pengadaan barang oleh bendaharawan pemerintah dengan nilai dibawah Rp 1 juta;
Utuk pemberlian oleh Bendaharawan Pemerintah dengan nilai sampai dengan Rp 1 juta diberikan fasilitas tidak dipungut PPN.
b. Impor dan penyerahan barang tertentu;
c. Penyerahan di kawasan berikat;
Fasilitas perpajakan yang diberikan pada kawasan berikat dapat diberikan untuk kegiatan sebagai berikut:
1) Impor barang atau bahan yang dimasukkan ke tempat penimbunan berikat;
2) Penyerahan barang kena pajak dalam negeri ke tempat penimbunan berikat diberikan fasilitas berupa tidak dipungut PPN dan PPnBm dan PPh Pasal 23;
d. Kemudahan Import untuk tujuan Eksport (KITE)
Kemudahan impor tujuan ekspor adalah pemberian dan/atau pengembalian bea masuk dan/atau cukai serta PPN dan PPnBM tidak dipungut atas impor barang dan/atau bahan untuk diolah, dirakit, atau dipasang pada barang lain yang hasilnya terutama untuk ekspor.
4. Penyerahan BKP oleh Enterport Produksi untuk Tujuan Ekspor (EPTE)
Fasilitas perpajakan yang diberikan terhadap pengusaha EPTE adalah sebagai berikut:
a. Atas impor barang modal, barang dan/atau bahan dari luar daerah pabean ke dalam EPTE diberikan penangguhan PPN barang dan jasa dan PPnBM;
b. Penyerahan BKP antara PKP EPTE, PPN dan PPnBM yang terutang tidak dipungut;
c. Atas penyerahan BKP oleh produsen dari daerah pabean Indonesia lainnya kepada perusahaan berstatus EPTE untuk diolah lebih lanjut, diberikan perlakuan perpajakan yang sama dengan perlakukan perpajakan terhadap barang yang diekspor, atau dikenakan PPn dengan tarif 0%;
5. PPN dibebaskan
Berbagai BKP dan JKP yang dibebaskan pengenaan PPn-nya dapat dirinci sebagai berikut:
a. Impor dan penyerahan buku pelajaran umum, kitab suci dan buku pelajaran agama
b. Impor dan penyerahan BKP strategis c. Jasa kena pajak tertentu
6. PPn yang ditanggung pemerintah
Berbagai kegiatan usaha yang PPn-nya ditanggung pemerintah antara lain:
a. Minyak goreng;
b. Perusahaan taksi;
c. Bantuan luar negeri;