untuk
mufradmudzakkar,
seperti 66g
i.jfir ib5elahhadir
para mahasiswa kecualiZaid). Maka lafazh khald tersebut meru- pakan kalimah
fi il
yang mabni fathah,sedangkan;fr ,rl-nya berupa dhamiryang wajib disimpan, dengan perkiraan huwa(y')
VanSkembali kepada mashdar
daikalimahf
ilyangberada di awal.Jadi maknanya: wf:*iy. tafazh zaidqn
kedudukannya sebagaimaffilbih,sekalipunadaulamanahwuyangmengatakan bahwalafazh
khalditu tidak
mempunyaifa'il
danmafttl
bih,sebagaimana telah dibicarakan cii muka dalam entri hdsyo.
@
Kamus Ilmu Nahwu dan SharafAdapun
jika
lafazhkhaii itu
didahului olehmd
mashdartgah, maka ia merupakankalimah,Ti'il dan wajib me-noshob-kan padakalimah rsfm yang berada sesudahnya (mus tatsna) menjadi
mqffil
bfh, seperti ungkapan penyair:
lrtr:[u.:Y
p'X * lt!"u:i,till
ucii trs
Ingatlah,
setiap segala sesuatu selainAllahitupunah, dan setiap kenikmatan p asti hilang .3.
Fi'il mddhi mutasharrif yang mengandung makna kosong, seperti3E33t >i; (Tempat itu kosong); makna bertumpu seperti
*j,b
&j )1, (Zaid bertumpu kepada bapaknya); makna berangkat untuk suatu urusanseperti,r;$ &f,
(Aku telah berangkat untukbelajar) atau makna tenang seperti*, J! )lt
(Hati Zaid telah tenang).Khilaf Baina Al-Bishriyyin wa Al-Kffiyyir, (.ip6!, &#t.* i)li)
Pokok persoalan adanya perbedaan antara mazhab (aliran) Bashrah dan mazhab Kufah adalah perluasan kajian dalam periwayatan syair dan
istilah-istilah
bahasa Arab. Mazhab Bashrah sangat fanatik, di mana ulamanya tidak mau menetapkan dalam kitab-kitab karangan mereka dalam bidang nahwu, kecuali apa yang mereka dengar dari orang-orang yang diyakini bahwa mereka adalah orang Arab fasih yang murni dan tidak dipengaruhi kefasihannya oleh bahasa-bahasa asing (Qais, Tamim, Asad, Quraisy, dan sebagian kabilah Kinan dan Ttray).Sementara maz,hab Kufah memperluas cakupan masalah dalambidang periwayatan. Mereka senantiasa mengambil bahasa dari orang-orang
Arab
yangdiam di
daerah-daerahIrak, di
manaulama
Bashrah mengambil ilmu nahwu dari mereka.Sebagaimana pula perbedaan antara
mazhab
Bashrah dan mazhab Kufah itu terfokus pada masal ah qiyd.s dan penetapan kaidah-kaidah nahwu. LJlama Bashrah menetapkan syarat qiyds yang ada dalam syausdhid yang dapat dijadikan standar adalah ia harus digunakan sesuai dengan lisan orang Arab yang fasih. Sebab bahasa fasih menurut merekaitu lebih teliti
dan sesuai kaidah. Sementara ulama KufahKhilaf Baina Al-Bishriyyin wa Al-Kufiyyin
-
Khushrishan@
menimbang pendapat-pendapat dan syair-syair dari orang-orang Arab yang telah lama hidup menetap (hadhdri).
Imam IGmaludin Abu Barakat Abdurahman bin Muhammad Al-Anbari telah menyusun sebuah kitab yang khusus mengkaji masalah-masalah
khildf (perbedaan) antara mazhab Bashrah dan mazhab Kufah, disebut
kitab
Al-fnshAffi Masdil Al-KhilAf baina An-Nahuiyyin
usaAl-
Kftfig yin. Di antara khilAf itu adalah :
1. Perbedaan dalam persoala
n'
dmil yang me-rafa'-kan mubtadd, dankhabar.
Lllama Bashrah menetapkan,bahwa 'dmil rafa'pada
mubtadd' adalah ibtidd' (permulaan), sedangkan khabar-nyadi-
rafa'-l<an oleh mubtadd'. Sementara ulama Kufah mengatakan, bahwamubtadd'ittrme-rafa-kankepadakhabar-nya,danlclnbar me-rafa'-kan kepada mubtadd'. Jadi keduanya salingme-rafa'-
kan.Asal mula isytiqdq. Ulama Kufah berpendapat, bahwa
kalimah
7t17 (kata kerja) merupakan asal mula lahirnya sejumlah musytaq, sedangkan ulama Bashrah berpendapat, bahwa yang menjadi asal mula rsyhgdq adalah mashdar (akar kata).
3.
Mendahulukan khabar /aiso(f)
atas lafazhitu. [Ilama
Kufah menolaknya, sedangkan ulama Bashrah membolehkan.KhiIaIQ1l*)
Lafazhkhrldlmerupal<anzharaf makdn(tempat)yangdibaeafathah, mengandung makna baina atau
md
baina(di
antara), seperti ayatJbiltDli
li"ilq3 (Maka mereka berkeliarandi
antara perkampungan).Atau seperti rp.
lf
'J:ir.$"(Aku
berjalan di antara pepohonan).Khushtshan (q,L)
Lafazh
khushfishan seringterjadi di
tengah-tengah pembicaraan.Kedrdukan lafazh tersebut menjadi
maffil
muthlaq (mashdar) yang dibaca nashab olehkalimahf
ilyang dibuang, dengan perkiraan:rlil,
seperti
,aW#t{fil *\(Aku
suka buah-buahan, terutama buah 2.@
Kamus Ilmu Nahwu dan Sharafanggur). Kalimah al-'inaba menjadi
mafttl
bihdari
mashdar lafazh khushfishan. Kadangtafazhini
dibarengi oleh wdwu,maka i'rdb-nya sama seperti tersebut di atas, seperti ungkapan:q*girrl
'6itv*ilif';ire"-J
(Aku suka buah-buahan, terutama buah- buahan Indonesia).Dal
Da'Q_,r)
Kalimahdo'terdiri
dari dua bagian, yaitu:1
.
Kal, mahfiilamr
yang mengandung makna 'tinggalkanlah', seperti ungkapan penyair terkenal Abu Nuwas:rrjn
e sr.;!U ebi; S rfl-ri[t
i,Fteie
Ting g alkan hinoon kepadaku. S ebab hinaan itu memb ang
kitkan rasa
perrnusuhan, dan samahalnya ia mengobatiht
dengan penyakit.2. Isimf il
amryan1mengandung makna doa keselamatan kepadamitra pembicara.
Terkadang tafazh tersebut dijadikan /rtl
mudha'af
menjadi-1.tis.
:
Da'wah Bahasa 'Amiyafr qUV ill*t)
lTokoh
pertama yangmenyeru
(da'usah) kepada bahasa'dmiyah
(pasaran) adalah seorang berkebangsaan Jerman, Dr. Wilhelm Spitta, Direktur DAr Kutub Al-Mishriyyah tahun r88o, kemudian seruanitu
berkembang luas. Pada tahun
r88r,
majalahAl-Muqtathclmemilih
menu-lis berbagai kajian ilmu pengetahuan menggunakan tulisan yang biasa digunakan oleh kebanyakan orang
umum
(bahasa pasaran), seperti halnya William Willcoks menyeru agar membuang bahasa fasih,ffi
@
Kamus Ilmu Nahwu dan Sharafdengan alasan sukar dan tidakrelevan dengan perkembangan zaman.
Dia menggunakan baha sa' dmiy ah dalam sej umlah tulisan sastranya.
Demikian itu terjadi pada tahun 1893, ketika seorang pembicara pada seminar
di
YazbekiyahMesir
memaparkan makalah denganjudul
"limd lam tfijad al-ikhtird' ladd al-Mishriyyin al-dna'(kenapa kini tidak
ditemukan kekuatan menciptakan hal baru pada orang-orang Mesir?).Pada tahun
t9oz,
IskandarMa'luf
menulis artikel pada majalahAl-
'
Hildl dengan ungkapan bahwa telah banyak orang menekuni diri dalam bahasa 'dmiyah sampai pada pembicaraan mengenai persoalan sah atau tidaknya keimanan, keharusan menguatkan dan menyatakannya.Tulisannya didukungolehAhmad Luthfi Sayid danAnis Farihah, serta ilmuwan lainnya. Semuanya menyeru agar senantiasa berpijak pada bahasa
'dmiyah.
Sebab,menurut
keyakinan mereka bahasa fasih adalah bahasa yang telah usang dan tidak relevan lagi dengan zamannya, serta iatidak
dapat menyeru pada kesadaran akan kehidupan yang sudahberkembang maju.Seruan tersebut sebenarnya berbahaya sekali. Sebab, seruan agar se- lalu menggunakan bah asa'dmiyahberarti mencerabut akar hubungan antara peradaban bangsa Arab dengan masa lampaunya, memutuskan ikatan
kita
dengan turdts (pusaka) bahasa Arab, menjauhkan kaummuslimin dari Alquran
dan a8amanya, serta menelantarkandari berjuta-juta kitab
berbahasa Arab yang sudah dicetak atau masihmanuskrip. Untuk itu
dalamhal ini, Dr. 'Amil
Badi Ya'qub telah menjelaskan persoalan tersebut secara rinci dalam kitabnya, FiqhAl-
LughahAl-Arabiyy
ah u a l(hashdishuhd (halaman t6o-L72).D6liyah (i:lti)
Ddliyahadalah kasidah atau penggalan syair, di mana struktur
huruf
ranui-nyatersusun dari
huruf daLDi
antara kasidah ddliyah adalah ungkapan Mutanabbi dari bahar basith :""i;*,* i\it AU, * "*\ eYdb
F:!b
Hari
ray a dalam kondisi bag aimanapun eng kau kembali lag i,uahai
Daliyah
-
Dima@
hari raya pada
zaman Adng telahlewat atou karena
sesuatuhal
eng kau t erj adi p erub ahan.
Dema
(ls)
Lafazh ddma
terdiri
dari beberapa bagian, yaitu:1.
Fi'ilmAdhijdmid (ghair
mutasharriJ) serta ndgrsh.laber-'amal me-rafa'-kan mubtadd'
sebagai fsim-nya dan me-nashab-kan khabar dengan syarat harus didahului oleh md mashdariyyah, seperti Ui;.lli U dLt;f
pfSL (Aku akan mempertahankan tanah airku selama aku masih hidup). Lafazh md tersebut dapat ditakwil kepada mashdar-nya:V*W'til dbt:f gi}..
Para ulama nahwu berbeda pendapat mengenai khabar ddmayang didahulukan atas rsim-nya. Ibnu Mu'thi berpendapat tidak boleh
mendahulukan khabar ddma atas isim-nya, seperti
Ij
lr.li iri, be$L"t'!.
Namun pendapat yang benar adalah boleh mendahulukan khabar-nya, seperti ungkapan penyair:rtti *ltrKr\ rld * i&i
,Y;s EdC +1" f
Tidak ada kesenangan hidup selama kelezatannya
itu
menAu- sahkanhidupnya dengan selalu mengingat kematian dan kepilanan.
2.
Fi'il mddhi tdmm(sempurna), bila:Didahului md mashdariyyah selain zharfigyah,
sepertiUiY $,r-t
(Tetapnyakamu membuat aku
bahagia).Md tersebut dapat ditakwil kepada mashdar-nya menjadi:
au; $r-f
Didahului oleh md
nffiyah,
seperti i-s\i: 11c;6 [
(Kebahagiaan itu tidaklah langgeng).c.
Dapat digunakan denganbentuk
shighahmudhdi',
seperti$4 t*'{, iifiseminggu
itu tetap tujuh hari).d.
Tidak didahului oleh md, seperti &Jt- UUlf;31ramu
semuaa.
b.
@
Kpm-'s Ilmu.Nahwu dan Sharafkedudukannya sebagai
hdl.
,,, , ,
:iDaraki(4!p)
Lafazh
ddraki merupakan isimfiil omr
yang,mengaBdung,Inikna .'adrik' (susullah,temukanlah), mabni
kasrah, sementarafd'il-nya
.
berupa dhamiryang wajib disimpan, sepertilJiyE ;{ii
(susullah orang yan8 dengki kepadamu). Lafoghhdsida\a
nlenjadirnqfttl
bih yang dibaca nashab.1.
.
Ou'i (iUC
Du'd (doa) adalah permohortan sesuhtu dari yang lebih rendah kedu-
.,
dukannyakepadayang lebihitinggi. Apabila ia terjadi dari yang lebih,,
tinggi kepadaiyang lebih rendah kedudukannya; maka ungkapanitu disebut amr (perintah):
Danapabila
samakedudukan di
antara.
keduanya; maka,halitu
disebutiltimds.
Kadang ada ungkapan yang menggun ak
anfril
amr tetapi menunjukkanuntuk
doa,seperti ti-VL.:
(Wahai Tuhanku, ampunilahaku);"['il
mudhdri'yang didahului oleh ldm amr atati ld nchi, sementara yang dimaksud dengannya adalah doq, seoerti,Ufiie\,41i),;Il bi
E(wahai
Tuhanku, semoga Engkaumengampu"if." a";
:anganlah Engkaumenelantarkanku), atau menggunaka
7 katimgn fllhcbol Genta) tetapi yang
dimaksud
dengannya adalah doa, seperti ungkapantIlCf
(Semoga Allah memberi taufik
kepadaku). ::
'Dubait (c,+i)
Dubait adalah sebuah istilah nama yang
terdiri dailafazh
'du'Persiayang berarti dua, sedan gkun tafazhbaft adalah ungkapan bahasa Arab yang berarti bait syair. Maksudnya, bait syair yang tersusun dari dua syair yang telah dibentuk u)azan,' tetapi ia berada di luar ketentuan bahar-bahcr syair, Imam l(halil,sebagai peletak dasar bahar- Dubait ini dikenal oleh ulamabahasakontemporer sebagaibahar silsilch atau
rubd'iyy at,seperti halnya syair-syair Jalaluddin Rumi'
Daraki
-
Drnaka@ Drina(63)
Lafazh
dfina
adalahzharaf
makd.n(tempat)
yang dibaca nashab sebagai zharqfdalam kebanyakan penggunaannya. Kadang iadi-jarr-
kan olehhuruf
min. Lafazhdfina
mempunyai beberapa makna, di antaranya:Makna dekat, seperti l-gut
a;l li+ (em
duduk dekat perapian).Makna di depan, seperti &33
l$Jt
(Sesuatu berada di depan kamu).Makna
di
belakang, seperti.-iltt;93 jii
(Dia dudukdi
belakang barisan).Makna'min ghaii'(tanpa)
seperti#'$I r*lt, ii(Aku
melak-sanakan ker,rajibanku tanpa lalai).
Lafazh dfi na kadan g mabni. dhammahbila dibuang mudhdf ilaih-nya dan disertai niat dalam maknanya seperti t33
;lql(Duduklah
di bawahpohon).
Dffnaka(&i3)
Lafazh dftnakaterdiri dari dua bagian, yaitu :