• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fi'il mddhi j dmid sebagai rshtsnd' yang melekat pada kalimah bim

Dalam dokumen BUKU Kamus Ilmu Nahwu Dan Sharaf (Halaman 109-117)

untuk

mufradmudzakkar,

seperti 66

g

i.

jfir ib5elahhadir

para mahasiswa kecualiZaid). Maka lafazh khald tersebut meru- pakan kalimah

fi il

yang mabni fathah,sedangkan;fr ,rl-nya berupa dhamiryang wajib disimpan, dengan perkiraan huwa

(y')

VanS

kembali kepada mashdar

daikalimahf

ilyangberada di awal.

Jadi maknanya: wf:*iy. tafazh zaidqn

kedudukannya sebagaimaffilbih,sekalipunadaulamanahwuyangmengatakan bahwa

lafazh

khald

itu tidak

mempunyai

fa'il

dan

mafttl

bih,

sebagaimana telah dibicarakan cii muka dalam entri hdsyo.

@

Kamus Ilmu Nahwu dan Sharaf

Adapun

jika

lafazh

khaii itu

didahului oleh

md

mashdartgah, maka ia merupakankalimah,Ti'il dan wajib me-noshob-kan pada

kalimah rsfm yang berada sesudahnya (mus tatsna) menjadi

mqffil

bfh, seperti ungkapan penyair:

lrtr:[u.:Y

p'X * lt!"u:i,till

u

cii trs

Ingatlah,

setiap segala sesuatu selainAllahitupunah, dan setiap kenikmatan p asti hilang .

3.

Fi'il mddhi mutasharrif yang mengandung makna kosong, seperti

3E33t >i; (Tempat itu kosong); makna bertumpu seperti

*j,b

&j )1, (Zaid bertumpu kepada bapaknya); makna berangkat untuk suatu urusan

seperti,r;$ &f,

(Aku telah berangkat untukbelajar) atau makna tenang seperti

*, J! )lt

(Hati Zaid telah tenang).

Khilaf Baina Al-Bishriyyin wa Al-Kffiyyir, (.ip6!, &#t.* i)li)

Pokok persoalan adanya perbedaan antara mazhab (aliran) Bashrah dan mazhab Kufah adalah perluasan kajian dalam periwayatan syair dan

istilah-istilah

bahasa Arab. Mazhab Bashrah sangat fanatik, di mana ulamanya tidak mau menetapkan dalam kitab-kitab karangan mereka dalam bidang nahwu, kecuali apa yang mereka dengar dari orang-orang yang diyakini bahwa mereka adalah orang Arab fasih yang murni dan tidak dipengaruhi kefasihannya oleh bahasa-bahasa asing (Qais, Tamim, Asad, Quraisy, dan sebagian kabilah Kinan dan Ttray).

Sementara maz,hab Kufah memperluas cakupan masalah dalambidang periwayatan. Mereka senantiasa mengambil bahasa dari orang-orang

Arab

yang

diam di

daerah-daerah

Irak, di

mana

ulama

Bashrah mengambil ilmu nahwu dari mereka.

Sebagaimana pula perbedaan antara

mazhab

Bashrah dan mazhab Kufah itu terfokus pada masal ah qiyd.s dan penetapan kaidah-kaidah nahwu. LJlama Bashrah menetapkan syarat qiyds yang ada dalam syausdhid yang dapat dijadikan standar adalah ia harus digunakan sesuai dengan lisan orang Arab yang fasih. Sebab bahasa fasih menurut mereka

itu lebih teliti

dan sesuai kaidah. Sementara ulama Kufah

Khilaf Baina Al-Bishriyyin wa Al-Kufiyyin

-

Khushrishan

@

menimbang pendapat-pendapat dan syair-syair dari orang-orang Arab yang telah lama hidup menetap (hadhdri).

Imam IGmaludin Abu Barakat Abdurahman bin Muhammad Al-Anbari telah menyusun sebuah kitab yang khusus mengkaji masalah-masalah

khildf (perbedaan) antara mazhab Bashrah dan mazhab Kufah, disebut

kitab

Al-fnshAf

fi Masdil Al-KhilAf baina An-Nahuiyyin

usa

Al-

Kftfig yin. Di antara khilAf itu adalah :

1. Perbedaan dalam persoala

n'

dmil yang me-rafa'-kan mubtadd, dan

khabar.

Lllama Bashrah menetapkan,

bahwa 'dmil rafa'pada

mubtadd' adalah ibtidd' (permulaan), sedangkan khabar-nya

di-

rafa'-l<an oleh mubtadd'. Sementara ulama Kufah mengatakan, bahwamubtadd'ittrme-rafa-kankepadakhabar-nya,danlclnbar me-rafa'-kan kepada mubtadd'. Jadi keduanya saling

me-rafa'-

kan.

Asal mula isytiqdq. Ulama Kufah berpendapat, bahwa

kalimah

7t17 (kata kerja) merupakan asal mula lahirnya sejumlah musytaq, sedangkan ulama Bashrah berpendapat, bahwa yang menjadi asal mula rsyhgdq adalah mashdar (akar kata).

3.

Mendahulukan khabar /aiso

(f)

atas lafazh

itu. [Ilama

Kufah menolaknya, sedangkan ulama Bashrah membolehkan.

KhiIaIQ1l*)

Lafazhkhrldlmerupal<anzharaf makdn(tempat)yangdibaeafathah, mengandung makna baina atau

md

baina

(di

antara), seperti ayat

JbiltDli

li"ilq3 (Maka mereka berkeliaran

di

antara perkampungan).

Atau seperti rp.

lf

'J:ir.

$"(Aku

berjalan di antara pepohonan).

Khushtshan (q,L)

Lafazh

khushfishan sering

terjadi di

tengah-tengah pembicaraan.

Kedrdukan lafazh tersebut menjadi

maffil

muthlaq (mashdar) yang dibaca nashab oleh

kalimahf

ilyang dibuang, dengan perkiraan:

rlil,

seperti

,aW#t{fil *\(Aku

suka buah-buahan, terutama buah 2.

@

Kamus Ilmu Nahwu dan Sharaf

anggur). Kalimah al-'inaba menjadi

mafttl

bih

dari

mashdar lafazh khushfishan. Kadang

tafazhini

dibarengi oleh wdwu,maka i'rdb-nya sama seperti tersebut di atas, seperti ungkapan:

q*girrl

'6itv*ilif';ire"-J

(Aku suka buah-buahan, terutama buah- buahan Indonesia).

Dal

Da'Q_,r)

Kalimahdo'terdiri

dari dua bagian, yaitu:

1

.

Kal, mahfi

ilamr

yang mengandung makna 'tinggalkanlah', seperti ungkapan penyair terkenal Abu Nuwas:

rrjn

e sr.;!U ebi; S rfl-ri[t

i,Ft

eie

Ting g alkan hinoon kepadaku. S ebab hinaan itu memb ang

kitkan rasa

perrnusuhan, dan sama

halnya ia mengobatiht

dengan penyakit.

2. Isimf il

amryan1mengandung makna doa keselamatan kepada

mitra pembicara.

Terkadan

g tafazh tersebut dijadikan /rtl

mudha'af

menjadi-1.tis.

:

Da'wah Bahasa 'Amiyafr qUV ill*t)

l

Tokoh

pertama yang

menyeru

(da'usah) kepada bahasa

'dmiyah

(pasaran) adalah seorang berkebangsaan Jerman, Dr. Wilhelm Spitta, Direktur DAr Kutub Al-Mishriyyah tahun r88o, kemudian seruan

itu

berkembang luas. Pada tahun

r88r,

majalah

Al-Muqtathclmemilih

menu-lis berbagai kajian ilmu pengetahuan menggunakan tulisan yang biasa digunakan oleh kebanyakan orang

umum

(bahasa pasaran), seperti halnya William Willcoks menyeru agar membuang bahasa fasih,

ffi

@

Kamus Ilmu Nahwu dan Sharaf

dengan alasan sukar dan tidakrelevan dengan perkembangan zaman.

Dia menggunakan baha sa' dmiy ah dalam sej umlah tulisan sastranya.

Demikian itu terjadi pada tahun 1893, ketika seorang pembicara pada seminar

di

Yazbekiyah

Mesir

memaparkan makalah dengan

judul

"limd lam tfijad al-ikhtird' ladd al-Mishriyyin al-dna'(kenapa kini tidak

ditemukan kekuatan menciptakan hal baru pada orang-orang Mesir?).

Pada tahun

t9oz,

Iskandar

Ma'luf

menulis artikel pada majalah

Al-

'

Hildl dengan ungkapan bahwa telah banyak orang menekuni diri dalam bahasa 'dmiyah sampai pada pembicaraan mengenai persoalan sah atau tidaknya keimanan, keharusan menguatkan dan menyatakannya.

Tulisannya didukungolehAhmad Luthfi Sayid danAnis Farihah, serta ilmuwan lainnya. Semuanya menyeru agar senantiasa berpijak pada bahasa

'dmiyah.

Sebab,

menurut

keyakinan mereka bahasa fasih adalah bahasa yang telah usang dan tidak relevan lagi dengan zamannya, serta ia

tidak

dapat menyeru pada kesadaran akan kehidupan yang sudahberkembang maju.

Seruan tersebut sebenarnya berbahaya sekali. Sebab, seruan agar se- lalu menggunakan bah asa'dmiyahberarti mencerabut akar hubungan antara peradaban bangsa Arab dengan masa lampaunya, memutuskan ikatan

kita

dengan turdts (pusaka) bahasa Arab, menjauhkan kaum

muslimin dari Alquran

dan a8amanya, serta menelantarkan

dari berjuta-juta kitab

berbahasa Arab yang sudah dicetak atau masih

manuskrip. Untuk itu

dalam

hal ini, Dr. 'Amil

Badi Ya'qub telah menjelaskan persoalan tersebut secara rinci dalam kitabnya, Fiqh

Al-

Lughah

Al-Arabiyy

ah u a l(hashdishuhd (halaman t6o-L72).

D6liyah (i:lti)

Ddliyahadalah kasidah atau penggalan syair, di mana struktur

huruf

ranui-nyatersusun dari

huruf daLDi

antara kasidah ddliyah adalah ungkapan Mutanabbi dari bahar basith :

""i;*,* i\it AU, * "*\ eYdb

F:!

b

Hari

ray a dalam kondisi bag aimanapun eng kau kembali lag i,

uahai

Daliyah

-

Dima

@

hari raya pada

zaman Adng telah

lewat atou karena

sesuatu

hal

eng kau t erj adi p erub ahan.

Dema

(ls)

Lafazh ddma

terdiri

dari beberapa bagian, yaitu:

1.

Fi'il

mAdhijdmid (ghair

mutasharriJ) serta ndgrsh.

laber-'amal me-rafa'-kan mubtadd'

sebagai fsim-nya dan me-nashab-kan khabar dengan syarat harus didahului oleh md mashdariyyah, seperti Ui

;.lli U dLt;f

pfSL (Aku akan mempertahankan tanah airku selama aku masih hidup). Lafazh md tersebut dapat ditakwil kepada mashdar-nya:V

*W'til dbt:f gi}..

Para ulama nahwu berbeda pendapat mengenai khabar ddmayang didahulukan atas rsim-nya. Ibnu Mu'thi berpendapat tidak boleh

mendahulukan khabar ddma atas isim-nya, seperti

Ij

lr.li iri, b

e$L"t'!.

Namun pendapat yang benar adalah boleh mendahulukan khabar-nya, seperti ungkapan penyair:

rtti *ltrKr\ rld * i&i

,Y;s E

dC +1" f

Tidak ada kesenangan hidup selama kelezatannya

itu

menAu- sahkan

hidupnya dengan selalu mengingat kematian dan kepilanan.

2.

Fi'il mddhi tdmm(sempurna), bila:

Didahului md mashdariyyah selain zharfigyah,

seperti

UiY $,r-t

(Tetapnya

kamu membuat aku

bahagia).

Md tersebut dapat ditakwil kepada mashdar-nya menjadi:

au; $r-f

Didahului oleh md

nffiyah,

seperti i-s\i: 11

c;6 [

(Kebahagiaan itu tidaklah langgeng).

c.

Dapat digunakan dengan

bentuk

shighah

mudhdi',

seperti

$4 t*'{, iifiseminggu

itu tetap tujuh hari).

d.

Tidak didahului oleh md, seperti &Jt- UUl

f;31ramu

semua

a.

b.

@

Kpm-'s Ilmu.Nahwu dan Sharaf

kedudukannya sebagai

hdl.

,

,, , ,

:i

Daraki(4!p)

Lafazh

ddraki merupakan isim

fiil omr

yang,mengaBdung,Inikna .'adrik' (susullah,

temukanlah), mabni

kasrah, sementara

fd'il-nya

.

berupa dhamiryang wajib disimpan, seperti

lJiyE ;{ii

(susullah orang yan8 dengki kepadamu). Lafogh

hdsida\a

nlenjadi

rnqfttl

bih yang dibaca nashab.

1.

.

Ou'i (iUC

Du'd (doa) adalah permohortan sesuhtu dari yang lebih rendah kedu-

.,

dukannyakepadayang lebihitinggi. Apabila ia terjadi dari yang lebih

,,

tinggi kepadaiyang lebih rendah kedudukannya; maka ungkapan

itu disebut amr (perintah):

Dan

apabila

sama

kedudukan di

antara

.

keduanya; maka,hal

itu

disebut

iltimds.

Kadang ada ungkapan yang menggun ak

anfril

amr tetapi menunjukkan

untuk

doa,

seperti ti-VL.:

(Wahai Tuhanku, ampunilah

aku);"['il

mudhdri'yang didahului oleh ldm amr atati ld nchi, sementara yang dimaksud dengannya adalah doq, seoerti,Ufiie

\,41i),;Il bi

E

(wahai

Tuhanku, semoga Engkau

mengampu"if." a";

:anganlah Engkau

menelantarkanku), atau menggunaka

7 katimgn fllhcbol Genta) tetapi yang

dimaksud

dengannya adalah doa, seperti ungkapan

tIlCf

(Semoga Allah memberi taufik

kepadaku). ::

'

Dubait (c,+i)

Dubait adalah sebuah istilah nama yang

terdiri dailafazh

'du'Persia

yang berarti dua, sedan gkun tafazhbaft adalah ungkapan bahasa Arab yang berarti bait syair. Maksudnya, bait syair yang tersusun dari dua syair yang telah dibentuk u)azan,' tetapi ia berada di luar ketentuan bahar-bahcr syair, Imam l(halil,sebagai peletak dasar bahar- Dubait ini dikenal oleh ulamabahasakontemporer sebagaibahar silsilch atau

rubd'iyy at,seperti halnya syair-syair Jalaluddin Rumi'

Daraki

-

Drnaka

@ Drina(63)

Lafazh

dfina

adalah

zharaf

makd.n

(tempat)

yang dibaca nashab sebagai zharqfdalam kebanyakan penggunaannya. Kadang ia

di-jarr-

kan oleh

huruf

min. Lafazh

dfina

mempunyai beberapa makna, di antaranya:

Makna dekat, seperti l-gut

a;l li+ (em

duduk dekat perapian).

Makna di depan, seperti &33

l$Jt

(Sesuatu berada di depan kamu).

Makna

di

belakang, seperti

.-iltt;93 jii

(Dia duduk

di

belakang barisan).

Makna'min ghaii'(tanpa)

seperti

#'$I r*lt, ii(Aku

melak-

sanakan ker,rajibanku tanpa lalai).

Lafazh dfi na kadan g mabni. dhammahbila dibuang mudhdf ilaih-nya dan disertai niat dalam maknanya seperti t33

;lql(Duduklah

di bawah

pohon).

Dffnaka(&i3)

Lafazh dftnakaterdiri dari dua bagian, yaitu :

Dalam dokumen BUKU Kamus Ilmu Nahwu Dan Sharaf (Halaman 109-117)