Ekonomi Islam
4. Filosofi Ilmu dan Peranannya dalam Ekonomi Islam
pengalaman yang terjadi berulang-ulang sehingga pengetahuan yang diperoleh mudah untuk dibuktikan dan diuji kebenarannya.
4) Spiritualitas
Elemen spiritualitas ini merupakan elemen yang bersifat khusus, tetapi tidak bisa diabaikan karena spiritualitas ini merupakan petunjuk atau ilham dari Allah SWT. yang hanya dapat dicapai dan dirasakan oleh orang-orang tertentu pilihan Allah SWT.. Salah satu cara mendapatkan ilmu pengetahuan dari spiritualitas adalah bertasawuf. Pada akhirnya, akan ada suatu pertanyaan apakah ilmu yang didapatkan akan mendatangkan berkah atau justru mendatangkan laknat Allah SWT..
pengetahuan saling melengkapi dalam membangun suatu kehidupan yang baik bagi manusia dan seluruh kehidupan.
Oleh karenanya, ekonomi Islam bukanlah mazhab lain dari ekonomi konvensional, seperti yang selalu diinformasikan pada saat ini. Ekonomi Islam berasal dari filsafatnya sendiri. Menurut Muhammad Arif Zakaullah11 dalam tulisannya mencoba menjawab kritik yang dengan berbagai alasan menentang perkembangan ekonomi Islam. Ini akan memungkinkan untuk memahami sifat ilmiah ekonomi Islam, tetapi juga akan memungkinkan mereka untuk menghargai bahwa perkembangan paradigma syariah dari ekonomi Islam sebenarnya, awal dari revolusi ilmiah di bidang ekonomi. Mazhab kapitalisme menunjukkan bahwa sistem ekonomi Islam sama dengan kapitalisme, mereka menekankan bahwa Islam juga memungkinkan hak atas kemakmuran swasta, usaha bebas, dan ekonomi pasar.
Namun, mereka mengakui bahwa penyesuaian tertentu perlu dilakukan dalam kapitalisme agar sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Menurut kelompok ini, ilmu ekonomi Islam kurang memiliki landasan ilmiah dan hanya merupakan refleksi dari keyakinan agama tertentu.
Pada dasarnya sistem ekonomi Islam sangat berbeda dengan kapitalisme. Paradigma ekonomi Islam berbeda dengan paradigma ekonomi lainnya. Ekonomi Islam didirikan atas dasar ilmiah yang kuat. Ekonomi Islam memiliki struktur keilmuan yang lengkap; yaitu, ia memiliki landasan filosofisnya sendiri, dasar ilmiah untuk landasan mikro dan paradigma syariahnya. Komposisi struktur ekonomi Islam yang lengkap ini menunjukkan bahwa ia memiliki potensi ilmiah yang penuh untuk pembangunan.
Masyarakat yang anggotanya menganut agama Islam sebagai jalan hidupnya akan mengembangkan sistem ekonomi Islam. Menurut Muhammad Arif Zakaullah seperti halnya sistem ekonomi lainnya, sistem Islam juga berakar pada landasan filosofis tertentu seperti:
1. Tauhid: Kesatuan dan kedaulatan Allah SWT.;
2. Rububiyyah: Pengaturan Ilahi untuk memberi makan dan mengarahkan hal-hal menuju kesempurnaannya;
11 Arif, Muhammad. “Toward the Shari’ah Paradigm of Islamic Economics: The Beginning of a Scientific Revolution.” The American Journal of Islamic Social Sciences 2, No. 1 (1985b): 79-99
3. Khilafah: Peran manusia sebagai wakil Allah SWT. di muka bumi;
4. Takziyah: Pemurnian ditambah pertumbuhan;
5. Pertanggungjawaban di hari pembalasan dan implikasinya bagi kehidupan di dunia dan akhirat.
Metodologi ekonomi Islam memiliki peranan yang sangat penting dalam memberikan makna terhadap bangunan ekonomi Islam sebagai suatu disiplin ilmu. Menurut al-Attas12 bahwa tantangan terbesar yang dihadapi umat Islam adalah tantangan pengetahuan yang disebarkan ke seluruh dunia Islam oleh peradaban Barat. Menurut al-Faruqi bahwa sistem pendidikan Islam telah dicetak dalam sebuah karikatur Barat; sains Barat telah terlepas dari nilai dan harkat manusia, nilai spiritual, serta harkat dengan Tuhan.
Al-Attas mendefinisikan ilmu sebagai sebuah makna yang datang ke dalam jiwa bersamaan dengan datangnya jiwa kepada makna dan menghasilkan hasrat serta kehendak diri. Al-Attas mengartikan makna pendidikan sebagai suatu proses penanaman sesuatu ke dalam diri manusia dan kemudian ditegaskan bahwa sesuatu yang ditanamkan itu adalah ilmu, dan tujuan dalam mencari ilmu ini terkandung dalam konsep ta’dib. Sementara itu, tujuan pendidikan Islam adalah menanamkan kebajikan dalam “diri manusia” sebagai individu dan sebagai bagian dari masyarakat. Secara ideal, Naquib menghendaki pendidikan Islam mampu mencetak manusia yang baik secara universal (al-insan al-kamil). Implikasinya dalam tujuan pendidikan Islam yakni pendidikan Islam diarahkan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang bermutu, berkualitas dalam bidang intelektual dan yang paling mendasar adalah nilai-nilai moral-agama selalu membimbingnya.
Gagasan awal islamisasi ilmu pengetahuan muncul pada saat konferensi dunia pertama tentang pendidikan muslim di Makkah, pada tahun 1977 yang diprakarsai oleh King Abdul Aziz University.
Ide islamisasi ilmu pengetahuan dilontarkan oleh Ismail Raji al-Faruqi dan Muhammad Naquib al-Attas. Menurut al-Attas bahwa tantangan terbesar yang dihadapi umat Islam adalah tantangan pengetahuan yang disebarkan ke seluruh dunia Islam oleh peradaban Barat.
12 Novayani, Irma. “Islamisasi Ilmu Pengetahuan Menurut Pandangan Syed M. Naquib Al-attas dan Implikasi Terhadap Lembaga Pendidikan International Institute of Islamic Thought Civilization (Istac).” Jurnal Muta’aliyah, Vol. 1, No. 1, 2017, pp. 74-89.
Islamisasi pengetahuan berarti mengislamkan atau melakukan penyucian terhadap sains produk Barat yang selama ini dikembangkan dan dijadikan acuan dalam wacana pengembangan sistem pendidikan Islam agar diperoleh sains yang bercorak “khas islami”.13
Untuk melakukan islamisasi ilmu pengetahuan tersebut, menurut al-Attas, perlu melibatkan dua proses yang saling berhubungan.
Pertama ialah melakukan proses pemisahan elemen-elemen dan konsep-konsep kunci yang membentuk kebudayaan dan peradaban Barat, dan kedua, memasukan elemen-elemen Islam dan konsep- konsep kunci ke dalam setiap cabang ilmu pengetahuan masa kini yang relevan. Jelasnya, “ilmu hendaknya diserapkan dengan unsur- unsur dan konsep utama Islam setelah unsur-unsur dan konsep pokok dikeluarkan dari setiap ranting.
Islamisasi pada ilmu ekonomi merupakan bagian dari islamisasi ilmu pengetahuan. Mengapa dilakukan islamisasi pada ilmu ekonomi?
Ekonomi konvensional sebagai salah satu cabang ilmu yang modern tidak bebas nilai dan juga tidak bebas ideologi. Fondasi dari ekonomi konvensional secara tidak langsung terbentuk dari budaya Barat yang kental terhadap sekularisme. Hal ini tidak sejalan dengan worldview Islam. Menurut Al-Faruqi14 dan Haneef15, hal tersebut dipicu oleh faktor internal yang disebut sebagai malaise of ummah (kesakitan umat) dalam semua bidang (ekonomi, politik, agama, budaya dan sebagainya), sedangkan menurut Al-Attas hal tersebut merupakan akibat dari faktor internal umat muslim sendiri, yaitu “loss of adab” atau hilangnya kedisiplinan yang berlanjut pada hilangnya keadilan.
Hal ini yang menyebabkan kegagalan memahami perbedaan antara ilmu pengetahuan terutama dari pengetahuan Barat.
Proses islamisasi ilmu ekonomi secara sederhana merupakan proses penyusunan kembali ilmu pengetahuan yang disesuaikan dengan nilai dan warisan Islam. Bidang ekonomi merupakan satu prioritas utama karena adanya keterbelakangan negara-negara muslim yang terjadi di bidang ekonomi.
13 Idem
14 Al-Farouqy, Ismail (1982). Islamization of Knowledge: General Principle and Workplan. Herndonn: IIIT 15 Haneef, M.A (1997) “Islam, the Islamic Worldview and Islamic Economics.” IIUM Journal of Economics and
Management. Vol 5 (1).
Kembali lagi ke filosofi ilmu dan peranannya dalam ekonomi Islam, metodologi ekonomi Islam memiliki peranan yang sangat penting dalam memberikan makna terhadap bangunan ekonomi Islam sebagai suatu disiplin ilmu. Para ahli dalam ekonomi Islam seperti Choudhury16, M. Aslam Haneef17, Umer Chapra18, Syed Nawab Haider Naqvi19, Abdul Mannan20 memiliki pertimbangan bagaimana metodologi ekonomi Islam dalam membangun teori ekonomi berdasarkan Alquran dan sunah. Metodologi dapat dilihat sebagai bagian dari cabang filsafat yang disebut epistemologi. Epistemologi mempelajari teori pengetahuan (theory of knowledge), sumber- sumber ilmu pengetahuan (sources of knowledge), penerapan ilmu pengetahuan (application of knowledge) dan keterbatasan ilmu pengetahuan (limitations of knowledge). Penerapan ilmu pengetahuan dan keterbatasan ilmu pengetahuan dalam metodologi bermakna, studi atau penelitian lebih sempit dan lebih spesifik tentang bagaimana mengembangkan pengetahuan (teori) dan bagaimana untuk mengevaluasi pengetahuan (teori) yang dihasilkan.21
Berbicara mengenai metodologi ekonomi Islam maka tidak akan dapat terlepas dari gambaran besar mengenai filosofi ilmu pengetahuan yang terdiri atas tiga komponen, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ketiga komponen filosofi ini pada dasarnya adalah satu kesatuan utuh yang saling terkait satu dengan yang lainnya, yang menjadi landasan dalam pembahasan hakikat dari sebuah ilmu pengetahuan.
Di dalam kaitannya dengan ekonomi Islam ketiga unsur filsafat ilmu pengetahuan begitu penting peranannya apabila dilihat keterkaitan antar-unsur filosofi tersebut dalam membangun ekonomi Islam sebagai sebuah disiplin ilmu. Jika diibaratkan sebuah bangunan ontologi berfungsi menentukan bagian utama apa saja yang diperlukan untuk sebuah bangunan berdiri kokoh, sementara epistemologi adalah material dari bahan yang dipakai di setiap bagian
16 Choudhury, M. A. (1986). Contributions to Islamic economic theory: A study in social economics. Springer 17 Haneef, M. A. (1995). Contemporary Islamic economic thought: A selected comparative analysis. Alhoda UK18 Chapra, M. U. (2001). Masa depan ilmu ekonomi: sebuah tinjauan Islam. Gema Insani
19 Naqvi, S. N. H. (Ed.). (2013). Islam, Economics, and Society (RLE Politics of Islam). Routledge
20 Muhammad Abdul Mannan (1985). Ekonomi Islam: Teori dan Praktis, Jilid. 1, terj. Radiah Abdul Kader. Kuala Lumpur: A.S. Noordeen.
21 Haneef, M. A., & Furqani, H. (2011). Methodology of Islamic Economics: Overview of Present State and Future Direction. International Journal of Economics, Management and Accounting, 19.
utama, sedangkan aksiologi berfungsi menentukan fungsi dan mengarahkan tujuan dari berdirinya bangunan tersebut.
Teori-teori yang dibangun dalam ilmu ekonomi Islam pada akhirnya merupakan sintesis yang berasal dari harmonisasi doktrin dan realitas. Doktrin mencerminkan normative economics (what should be) dan realitas mencerminkan positive economics (what it is). Jadi, antara doktrin dan realitas harus sejalan atau paralel. Doktrin yang ada yang bersumber dari ajaran Islam (Alquran dan sunah) harus bisa diimplementasikan, bukan sesuatu yang abstrak. Syarat utama dari hal ini adalah kesadaran umat Islam secara individual dan kolektif untuk berusaha mengimplementasikannya secara kafah (keseluruhan).
Gambar 3.1 Bangun Ruang Filosofi Ilmu Pengetahuan