Ekonomi Islam
2. Memahami nas (fahmun nushush)
Proses memahami nas-nas yang berkaitan dengan akar permasalahan pun tidak bisa secara sembarangan. Ada beberapa langkah yang harus dilewati agar sampai pada inti dalam memahami nas ini. Perhatikan bagan berikut.
Gambar Skema Tahapan Memahami Nash
Dari gambar tersebut, kita dapat mengetahui bahwa pembeda dari skema-skema sebelumnya, pada tahap memahami fakta ini terdapat proses verifikasi terlebih dahulu. Proses verifikasi adalah p roses mengonfirmasikan a pakah obyek y ang dibahas memiliki k esamaan dengan obyek yang dibahas pada fakta permasalahan yang telah ditetapkan atau tidak
Gambar 1.4 Skema Tahapan Memahami Nas
Dari gambar tersebut, kita dapat mengetahui bahwa pembeda dari skema-skema sebelumnya, pada tahap memahami fakta ini terdapat proses verifikasi terlebih dahulu. Proses verifikasi adalah proses mengonfirmasikan apakah objek yang dibahas memiliki kesamaan dengan objek yang dibahas pada fakta permasalahan yang telah ditetapkan atau tidak.
Contoh menentukan akar permasalahan:
Permasalahan ini berbeda dengan saat krisis yang sebelumnya terjadi, sehingga perlu dilakukan penelitian terhadap fenomena ini. Berbeda dengan krisis keuangan global tahun 2008, pandemi Covid-19 tidak hanya menyerang sistem ekonomi keuangan saja, tetapi juga menyerang sistem kesehatan publik. Perbankan sangat terdampak karena Covid-19 menyerang seluruh lini produk perbankan dari pembiayaan standar konsumsi hingga perdagangan derivatif.
Pendekatan Deduktif
Pendekatan deduktif diawali dengan mengekstraksi inti ajaran Islam menjadi elemen-elemen teori ekonomi Islam. Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian- bagiannya yang khusus. Dengan kata lain, metode ini digunakan untuk menghasilkan hukum syariat Islam yang diturunkan langsung dari nas-nas Alquran dan sunah. Di dalam Islam dikenal qiyas dalam ushul fiqh yang dapat dikatakan mirip dengan metode deduktif ini, atau dalam arti lain, qiyas dihasilkan dari logika deduktif analogis (perbandingan). Ulama yang banyak melakukan metode ini adalah Imam Syafi’i.
Di dalam melakukan penelitian, diperlukan metodologi yang dapat membina teori dan menguji hipotesis di lapangan. Dari bagian metodologi penelitian itu terdiri dari komponen falsafah dan operasionalnya. Komponen falsafah di antaranya tasawuf, epistemologi, ontologi, dan aksiologi.
Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, bahwa pendekatan deduktif dalam Islam identik dengan cara untuk menghasilkan hukum syariat. Hukum syariat diartikan sebagai seruan dari Pembuat Hukum yang mengikat perbuatan hamba. Dari definisi tersebut, salah satu syarat bahwa nas Alquran dan sunah dapat menjadi hukum syariat yakni harus mengandung seruan/tuntutan.
Adapun skema penarikan hukum syariat dengan pendekatan deduktif
adalah sebagai berikut:
Dari gambar 6 dapat diambil contoh perintah Allah SWT untuk memerangi orang yang tidak beriman kepada Allah SWT dan hari akhir.
Perintah ini terdapat dalam Alquran surah at-Taubah [9] : 29.
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah SWT dan tidak (pula) kepada hari Kemudian…”
Ayat di atas secara eksplisit diawali dengan sebuah perintah.
Terbukti dari kata “qaatiluu” yang artinya “perangilah”. Namun, apakah perintah tersebut termasuk ke dalam jazm atau ghairu jazm? Untuk menjawabnya, maka kita perlu menemukan qarinah/tanda.
Setelah ditelusuri, ternyata ayat tersebut mempunyai qarinah dalam Alquran surah at-Taubah [9] : 39
“Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah SWT menyiksa kamu dengan siksa yang pedih....”
Dengan memahami tanda-tanda tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sifat dari perintah Allah SWT dalam Alquran surah at-Taubah [9] ayat 29 adalah jazm yang hukumnya adalah wajib.
Sebagaimana kita ketahui, makna wajib, yaitu ketika dilakukan maka akan mendapat pahala sedangkan ketika tidak dilakukan maka akan mendapat siksa.
Penarikan Hukum (Istinbathul Ahkam)
Pada tahap ini, kita akan mengalami proses penarikan hukum syara’ terhadap status perbuatan manusia yang hendak dihukuminya. Lalu, bagaimana proses dalam penarikan hukum ini?
Proses yang dilakukan adalah sama dengan proses penarikan hukum syariat dengan pendekatan deduktif. Hal tersebut dikarenakan ketika hendak menarik hukum suatu perbuatan maka paling tidak akan melewati beberapa langkah sebagai berikut:
Gambar 1.5 Skema Penarikan Hukum Syar’i dengan Metode Deduktif
a. Menentukan jenis khithob atau seruan. Apakah mengandung perintah atau larangan.
b. Mencari qarinah/tanda. Apakah bersifat jazm atau ghairu jazm c. Menentukan status hukum syariatnya. Apakah wajib, sunah,
mubah, makruh, atau haram.
Muamalah Diatur dalam Syariah
Hidup merupakan realisasi ibadah kepada Allah SWT., yang segala sesuatunya harus kembali kepada Allah SWT, termasuk di dalamnya aspek muamalah (Q.S. al-An’am [6]: 162):
“Katakanlah (Muhammad): Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah SWT, Tuhan semesta alam.”
Di dalam merealisasikan hal tersebut, perlu ada panduan dan rambu-rambu yang menjauhkan manusia dari hal-hal yang merugikan manusia itu sendiri, baik di dunia maupun di akhirat. Rambu-rambu dalam ibadah adalah fikih ibadah dan rambu-rambu dalam muamalah adalah fikih muamalah.42
Muncul kesadaran umat untuk melaksanakan ajaran Islam secara benar dan utuh (kafah). Kesadaran itu muncul bertitik tolak dari pemahaman Islam sebagai ajaran yang bersifat universal, bukan hanya menyentuh aspek spiritual-ritual saja, melainkan menyentuh pula aspek kehidupan secara luas, termasuk ekonomi.43 Aktivitas ekonomi dalam bingkai syariah (menurut aturan Allah SWT) adalah melakukan aktivitas ekonomi seseorang harus menyesuaikan diri dengan aturan Alquran dan hadis. Persoalan muamalah ini tidak akan terlepas dari pembahasan syariat untuk membimbing dan memberi petunjuk kepada manusia dalam mencari sumber penghidupan, selain diharapkan dapat memberi kemaslahatan bagi kehidupannya di dunia yang merupakan bagian dari amal ibadah sebagai bekal kehidupan akhirat.44
42 Maulan, R. (2015). Fiqh Muamalah dalam Islam. Diambil kembali dari Takaful Umum: https://takafulumum.
co.id/literasi.html
43 Sari, N., & Hasnita, N. (2015). Kontrak (Akad) dan Implementasinya Pada Perbankan Syariah di Indonesia.
Banda Aceh: Pena.
44 Rahmawati. (2011). Dinamika Akad dalam Transaksi Ekonomi Syariah. Al-Iqtishad: Vol. III, No. 1, 19-34.
Muamalah berhubungan dengan perbuatan manusia dengan manusia dan alam sekitarnya, sehingga tanggung jawabnya tidak hanya kepada Allah SWT semata, melainkan juga kepada sesama
manusia dan alam sekitarnya.
Kata muamalah secara lughowi (bahasa) berasal dari kata a’mila-ya’malu kemudian berubah menjadi ‘aamala-yu’aamilu- mu’aamalah semakna dengan al-muf’alah (saling berbuat) dan dalam muamalah secara terminologi memiliki beberapa pengertian, yaitu:
bentuk jamak mu’aamalat. Mua’malah dalam arti umum adalah hubungan antara manusia baik sebagai sesama untuk memenuhi kebutuhan masing-masing. Beberapa pengertian dari muamalah di antaranya:45
1. Muamalah adalah hubungan antara manusia dalam usaha mendapatkan alat-alat kebutuhan jasmaniah dengan cara
sebaik-baiknya sesuai dengan ajaran-ajaran dan tuntutan agama.
2. Muamalah adalah hukum yang mengatur hubungan individu dengan individu lain, atau individu dengan negara Islam, dan atau negara Islam dengan negara lain.
3. Muamalah adalah peraturan-peraturan yang harus diikuti dan ditaati dalam hidup bermasyarakat untuk menjaga kepentingan manusia.
Sementara itu, menurut etimologi kata muamalah adalah bentuk masdar dari kata amala yang artinya saling bertindak, saling berbuat, dan saling beramal. Pengertian fikih muamalah menurut terminologi dibagi menjadi dua. Pertama dalam arti luas, fikih muamalah adalah aturan-aturan (hukum) Allah SWT yang ditujukan untuk mengatur kehidupan manusia dalam urusan keduniaan atau urusan yang berkaitan dengan urusan duniawi dan sosial kemasyarakatan. Kedua dalam arti sempit, fikih muamalah lebih menekankan keharusan untuk menaati aturan-aturan Allah SWT yang telah ditetapkan untuk mengatur hubungan antara manusia dengan cara memperoleh, mengatur, mengelola dan mengembangkan harta benda.
45 Rohmansyah. (2017). Fiqh Ibadah dan Mu’amalah. Yogyakarta: Lembaga Penelitian, Publikasi dan Pengabdian Masyarakat (LP3M).
Muamalah merupakan bagian dari hukum Islam yang mengatur hubungan antara dua pihak atau lebih, baik antara seorang pribadi dengan pribadi lain, maupun antara badan hukum, seperti perseroan, firma, yayasan, negara, dan sebagainya.46 Muamalah didefinisikan sebagai hukum atau peraturan-peraturan yang berkaitan dengan tindakan manusia dalam persoalan-persoalan keduniaan (horizontal) seperti hukum yang mengatur masalah ekonomi, politik, sosial, budaya, dll.47
Ruang lingkup fikih muamalah adalah keseluruhan kegiatan muamalah manusia berdasarkan hukum-hukum Islam yang berupa peraturan-peraturan yang berisi perintah atau larangan seperti wajib, sunah, haram, makruh dan mubah.48 Ada dua hal yang menjadi ruang lingkup dari muamalah. Pertama, bagaimana transaksi itu dilakukan.
Hal ini menyangkut dengan etika (adabiyah) suatu transaksi, seperti ijab kabul, saling meridai, tidak ada keterpaksaan dari salah satu pihak, adanya hak dan kewajiban masing-masing, kejujuran, dan segala sesuatu yang bersumber dari indra manusia yang ada kaitannya dengan peredaran harta dalam kehidupan masyarakat.
Kedua, apa pun bentuk transaksi itu. Ini menyangkut materi (madiyah) transaksi yang dilakukan, seperti jual beli, pegang gadai, jaminan dan tanggungan, pemindahan utang, perseroan harta dan jasa, sewa menyewa dan lain sebagainya.
Pembagian fikih muamalah yang dikemukakan ulama fikih sangat bervariasi tergantung pada sudut pandang mereka mengonsepsikan dalam pengertian luas dan/atau dalam arti sempit. Ibn Abidin, salah seorang yang mendefinisikan fikih muamalah dalam arti luas, membagi menjadi lima, yaitu Muwadhah Maliyah (Hukum Kebendaan), Munakahat (Hukum Perkawinan), Muhasanat (Hukum Acara), Amanat dan Aryah (Pinjaman), Tirkah (Harta Peninggalan). Selain itu, hukum muamalah dalam ilmu keIslaman terbagi kepada lima bagian.
Pertama, hukum perdata (muamalat), yaitu peraturan yang mengatur hubungan antara manusia dengan manusia mengenai harta benda dan segala hak milik yang berupa materi. Kedua, hukum
46 Nurfaizal. (2013). Prinsip-prinsip Muamalah dan Implementasinya dalam Hukum Perbankan Indonesia.
Jurnal Hukum Islam Vol.VIII No.1, 192-205.
47 Sari, N., & Hasnita, N. (2015). Kontrak (Akad) dan Implementasinya Pada Perbankan Syariah di Indonesia.
Banda Aceh: Pena.
48 Habibullah, E. S. (2018). Prinsip-prinsip Muamalah dalam Islam. Jurnal Perbankann Syariah Ad-Deenar Vol.2 No.1, 25-48.
perkawinan (munākahāt), yaitu peraturan yang mengatur hubungan sesama manusia yang berhubungan dengan keperluan biologi, sebagai suami-istri. Ketiga, hukum waris (al-mīrāts), yaitu hukum yang berkaitan dengan harta benda yang disebabkan oleh kematian.
Keempat, hukum pidana (jināyah), yaitu hukum yang berhubungan dengan jiwa, akal, dan kehormatan manusia. Kelima, hukum politik (siyāsah), yaitu hukum yang berhubungan dengan kenegaraan dan pengaturannya.
Sementara itu, Al-Fikri dalam kitab Al-Muamalah Al-Madiyah wa Al-Adabiyah, membagi fikih muamalah menjadi dua.49
1. Al-Muamalah Al-Madiyah adalah muamalah yang mengkaji dari segi objeknya, yaitu benda, seperti jual beli yang tidak hanya
untuk memperoleh keuntungan semata, tetapi untuk memperoleh rida Allah SWT. Konsekuensinya harus mengikuti tata cara jual beli yang telah ditetapkan syara’.
2. Al-Muamalah Al-Adabiyah adalah muamalah ditinjau dari segi cara tukar menukar benda yang sumbernya dari panca indra manusia, sedangkan unsur-unsur penegaknya adalah hak dan
kewajiban, seperti jujur, hasut, iri, dendam, dan lain-lain.
Muamalah al-maadhiyah atau Muamalah almaaliyah menjadi pijakan dalam ekonomi Islam, karena berkaitan dengan perolehan harta, pengelolaan harta, dan pemanfaatan harta. Terlepas dari berbagai bentuk muamalah, hakikatnya muamalah adalah bagian integral dari sistem Islam yang sempurna dan berkaitan dengan syariah dalam rangka ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT..
Syariah berasal dari bahasa Arab syara’ yang berarti jalan, cara, dan aturan. Sementara itu, secara terminologi, syariah diartikan sebagai segala hukum dan aturan yang ditetapkan Allah SWT. kepada hamba-Nya untuk diikuti, yang mengatur hubungan antara manusia dengan lingkungan dan kehidupannya.
Sumber hukum syariat Islam ialah hukum syara’ yang diambil dari empat sumber utama. Pertama, kitab suci umat Islam, yaitu Alquran, sebagai sumber segala sumber hukum. Kedua, hadis yang merupakan sekumpulan keterangan yang berasal dari Rasulullah SAW. baik berupa tindakan, ucapan, sikap (qawlun, fi‘liyyun, taqrīriyyun) serta
49 Fikri, Aly. Al-Mu’amalat al-Maddiyah wa al-Adabiyah Vol. 1-3 Kairo: Mustafa al-Bany al-Halaby, 1946.
perilaku beliau dalam kehidupannya yang sangat terjaga dengan baik.
Ketiga, hukum syariah ialah ijmak para ulama. Ijma’ berarti pandangan para mujtahid atau kesepakatan pendapat dari para ahli hukum Islam terhadap permasalahan atau pertanyaan yang dihadapi oleh masyarakat pada masa tertentu. Keempat, qiyas atau analogi merupakan proses yang diambil oleh para mujtahid berhubungan dengan permasalahan yang meragukan dengan cara membandingkan permasalahan tersebut dengan kasus-kasus yang hampir serupa dan sudah ditetapkan dengan jelas dalam Alquran maupun hadis.
Dari sumber hukum di atas, kita wajib melaksanakan ajarannya karena syariah memiliki hubungan dengan kata dīn yang berarti patuh, taat, atau mengikuti. Syariat adalah hukum ilahi, yaitu ketentuan-ketentuan Allah SWT. yang wajib ditaati baik oleh individu maupun masyarakat. Kewajiban mengamalkan syariat Islam merupakan kewajiban yang tidak dapat dielakkan, dan merupakan keharusan syar’iyyah atas penguasa (Allah SWT.).
Prinsip Dasar dari Muamalah
Klasifikasi prinsip muamalah terbagi menjadi dua, prinsip umum dan prinsip khusus. Adapun prinsip umumnya, ialah:50
1. Muamalah pada dasarnya boleh (mubah).
“Pada dasarnya muamalah itu boleh, atau kaidah lain, pada dasarnya muamalah itu halal hingga ada dalil yang tegak untuk melarangnya.”
2. Muamalah yang dilakukan untuk mewujudkan kemasalahatan.
Hakikat kemaslahatan dalam Islam adalah segala bentuk kebaikan dan manfaat yang berdimensi integral duniawi dan ukhrawi, material dan spiritual, serta individual dan kolektif. Sesuatu dipandang mengandung maslahat jika memenuhi dua unsur, yakni kepatuhan syariah (halal) dan bermanfaat serta membawa kebaikan (tayib) bagi semua aspek secara integral yang tidak menimbulkan mudarat.
50 Madjid, S. S. (2018). Prinsip-prinsip (Asas-asas) Muamalah. J-HES (Jurnal Hukum Ekonomi Syariah), 14- 28.
Sebagaimana Djuwain mengatakan dengan mengutip pendapat Ibnu Taimiyyah yang mengatakan:
“Syariah diturunkan untuk mewujudkan kemaslahatan, menyempurnakan, mengeliminasi, mereduksi kerusakan, memberikan alternatif pilihan terbaik di antara beberapa pilihan, memberikan nilai maslahat yang maksimal di antara beberapa maslahat, dan menghilangkan nilai kerusakan yang lebih besar dengan menanggung kerusakan yang lebih kecil.”
Kaidah ushul al-fiqh:
“Pada dasarnya setiap muamalah itu mewujudkan keadilan, menjaga kemaslahatan antara dua belah pihak dan menghilangkan kemudaratan dari keduanya.”
3. Muamalah dilaksanakan dengan memelihara nilai keseimbangan (tawaazun).
Konsep ini meliputi berbagai segi antara lain keseimbangan antara pembangunan material dan spiritual serta pemanfaatan dan pelestarian sumber daya. Selain itu, keseimbangan kehidupan dunia dengan akhirat, keseimbangan pribadi dan jamaah, keseimbangan antara aspek jasmani dan rohani, akal dan hati, antara das sein dan das sollen, serta mengeliminasi setiap kesenjangan di antara manusia. Dalam hal ini, Islam mengupayakan pula agar pendistribusian harta kekayaan dilakukan secara proporsional.
4. Muamalah dilaksanakan dengan memelihara nilai keadilan.
Segala bentuk muamalah yang mengandung unsur penindasan tidak dibenarkan. Keadilan adalah menempatkan sesuatu hanya pada tempatnya dan memberikan sesuatu hanya pada yang berhak, serta memperlakukan sesuatu sesuai posisinya. Implementasi keadilan dalam aktivitas ekonomi berupa aturan prinsip muamalah yang melarang adanya unsur riba, zalim, maysir, garar, dan haram. Di dalam terminologi fikih, adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya dan memberikan sesuatu hanya pada yang berhak serta memperlakukan sesuatu pada posisinya (wadh‘ al-syai` fi mahallih).
Sementara itu, prinsip khususnya, yaitu:
1. Objek transaksi harus halal. Artinya dilarang melakukan aktivitas ekonomi terkait yang haram.
2. Adanya keridaan pihak-pihak yang bermualamah. Dasar asas ini adalah an taradhin minkum (saling rela di antara kalian, Q.S.
an-Nisa: 29). Asas ini menyatakan bahwa segala transaksi yang dilakukan harus atas dasar kerelaan antara masing-masing pihak sebagai prasyarat bagi terwujudnya transaksi. Jika dalam transaksi tidak terpenuhi asas ini, berarti memakan sesuatu
dengan cara batil.
3. Pengurusan dana yang amanah, yaitu menyampaikan hak apa saja kepada pemiliknya, tidak mengambil sesuatu melebihi haknya
dan tidak mengurangi hak orang lain.
4. Pencatatan proses transaksi. Di antara upaya penjagaan dalam sebuah transaksi dari terjadinya sengketa, lupa, kehilangan, dan lainnya maka syariah memerintahkan otentifikasi (tautsiq) melalui pencatatan, kesaksian, jaminan gadai guna menjaga setiap hak dari pemiliknya.
Studi Kasus
Pertanyaan Studi kasus 1:
1. Jelaskan bagaimana implikasi worldview terhadap perilaku?
2. Menurut Anda, sejauh mana worldview mempengaruhi pembentukkan perilaku manusia?
Gambar 1.6
Penjelasan Studi kasus 2:
Pandemi Covid-19 yang melanda dunia termasuk Indonesia, mempengaruhi seluruh lini produk perbankan dari pembiayaan sektor konsumsi sampai dengan pembiayaan derivatif. Pada awal masa pandemi, posisi DPK dan PYD masih mengalami pertumbuhan.
Meskipun pertumbuhan perbankan Syariah mengalami peningkatan, namun selama pandemic Covid-19 berlangsung, perbankan mengalami banyak risiko yang harus dihadapi. Tujuan dari penelitian ini adalah pada masalah pengendalian risiko. Terdapat empat sumber risiko yang dapat berpotensi menyebabkan risiko sistemik, yaitu (i) risiko kredit, (ii) risiko pasar, (iii) risiko likuiditas, dan (iv) risiko operasional. Dari keempat risiko tersebut, risiko kredit atau risiko pembiayaan dapat memberikan dampak yang paling signifikan pada keberlangsungan bisnis perbankan terutama pada pembiayaan berbasis bagi hasil. Penelitian ini menggunakan metode (1) value at risk untuk mengukur risiko pembiayaan bagi hasil dan (2) Interpretative Structural Model (ISM) yang dikembangkan melalui pemetaan dasar dari berbagai elemen terkait guna merancang strategi pengendalian risiko pembiayaan bagi hasil. Hasil penelitian diharapkan dapat menunjukkan potensi risiko pada pembiayaan bagi hasil dan memperoleh usulan dan strategi pengendalian risiko pada pembiayaan bagi hasil di perbankan Syariah Indonesia.
Pertanyaan Studi kasus 2:
1. Islam memiliki pendekatan terhadap masalah ekonomi. Jelaskan dua pendekatan utama yang digunakan untuk mengembangkan ilmu ekonomi Islam!
2. Dari skema di atas, menunjukkan tahapan ketiga dari pendekatan Islam terhadap masalah ekonomi melalui pendekatan induktif.
Untuk dapat menarik hukum syara’ dengan pendekatan induktif ini harus melalui tiga tahapan, jelaskan secara lengkapnya!
Kesimpulan
Pandangan dunia atau pandangan hidup (worldview) berperan sangat penting dengan segala dampaknya dalam sistem masyarakat tertentu. Worldview berfungsi sebagai dasar bagi keseluruhan bangunan pengetahuan. Cendekiawan muslim menyebut Islamic
worldview dengan berbagai istilah. Maulana al-Maududi mengistilahkan worldview dengan nazhariat al Islam (Islamic vision), Sayyid Quttub menggunakan istilah al-tashawwur al islami (Islamic vision), Samih Athif az-Zein menyebutnya al-mabda’ al-islami (Islamic principle), sedangkan Syed Naquib al-Attas menamakannya ru’yatul Islam lil wujud (Islamic worldview). Namun, secara esensi istilah tersebut seluruhnya mengacu pada keharusan seorang muslim menjadikan Islam sebagai sistem hidup yang mengatur semua sisi kehidupan manusia, termasuk ekonomi Islam.
Ekonomi Islam lahir dan dibentuk menjadi sebuah paradigma yang berasal dari dua sumber utama, yaitu naqli (wahyu) dan ‘aqli (ijtihad). Sumber naqli adalah Alquran atau al-wahy al-matlu (wahyu yang dibaca) dan al-Sunnah atau al-wahy ghayr al-matlu (wahyu yang tidak dibaca). Keduanya juga dikenal sebagai al-adillah al-qat’iyyah (bukti bahwa kebenarannya tidak dapat diperdebatkan). Sementara itu, sumbernya Aqli, terutama yang telah disepakati adalah al-ijma’
dan al-qiyas. Keduanya juga dikenal sebagai al-adillah al-ijtihadiyyah (pandangan diperoleh melalui kesungguhan pikiran).
Pendekatan utama yang digunakan untuk mengembangkan ilmu ekonomi Islam adalah: Pendekatan Induktif yang diartikan sebagai metode penarikan hukum yang berangkat dari problem kontemporer yang kemudian ditarik status hukum syariatnya. Tahapannya adalah memahami fakta (fahmul waqi’), memahami nas (fahmun nushush), serta melakukan penelitian dan pengamatan. Selain itu, ada yang disebut pendekatan deduktif yakni metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus. Dengan kata lain, metode ini digunakan untuk menghasilkan hukum syariat Islam yang diturunkan langsung dari nas-nas Alquran dan sunah.
Rangkuman
1. Secara teoritas, Islam adalah agama yang diwahyukan Tuhan ke pada manusia melalui Muhammad sebagai Rasul. Islam merupakan ajaran Ilahi yang bersifat integral (menyatu) dan komprehensif (mencakup segala aspek kehidupan). Oleh sebab itu, Islam harus dilihat dan diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari secara komprehensif pula. Ajaran Islam meliputi
akidah, akhlak, dan syariah. Akidah dijabarkan melalui rukun Iman, syariah adalah komponen ajaran Islam yang mengatur tentang kehidupan seorang muslim baik berkaitan dengan
ibadah (hablumminAllah SWT) maupun dalam bidang muamalah (hablumminnas), sedangkan akhlak adalah ajaran mengenai
kepribadian seorang muslim yang taat berdasarkan syariah dan akidah. Ajaran Islam yang menjadi pedoman hidup tersebut bersumber dari beberapa sumber-sumber hukum Islam, yaitu
Alquran, hadis, ijmak, dan qiyas.
2. Paradigma ekonomi Islam adalah gambaran komprehensif dan esensial tentang ekonomi Islam yang bertujuan untuk
menjelaskan konsep dengan benar dan teliti sehingga menjadi dasar untuk semua pengadaan, penggunaan atau kegiatan manajemen sumber. Proses pembentukan pola pemikiran ekonomi Islam ini terdiri dari dua aliran utama, yakni:
1) Aliran pemikiran yang akomodatif-modifikasi dengan sifat eklektisme-metodologis, yakni menggabungkan pendekatan ekonomi neo-klasik dengan fikih.
2) Aliran pemikiran yang berpegang bahwa ekonomi Islam itu harus lahir dari tassawur Islam itu sendiri, tanpa
dicampuradukkan dengan sistem ekonomi pada umumnya.
3. Paradigma ekonomi Islam didasarkan pada paradigma Islam dengan elemen-elemen asas dalam tashawwur Islam, yaitu Allah SWT SWT. sebagai pencipta, manusia sebagai makhluk dan sumber daya alam juga sebagai makhluk. Paradigma ekonomi Islam lahir dan dibentuk dari dua sumber utama, yaitu naqli (wahyu) dan
‘aqli (ijtihad). Sumber naqli adalah Alquran atau al-wahy al-matlu (wahyu yang dibaca) dan al-sunnah atau al-wahy ghayr al-matlu (wahyu yang tidak dibaca).
4. Adapun pola paradigma ekonomi Islam, di antaranya:
1) Tauhid (Keesaan Allah SWT.)
2) Al-’Ubudiyyah (berbakti/beribadah kepada Allah SWT.) 3) Manusia sebagai hamba dan khalifah sebagai pelaku ekonomi Islam
4) Mawarid al-tabi’i (sumber daya alam) sebagai alat pembangunan ekonomi
5) Al-Tawazun (keseimbangan) antara dunia dan akhirat 6) Mencapai mardat Allah SWT (rida Allah SWT.)
5. Di dalam perspektif ekonomi Islam, aktivitas ekonomi tidak hanya sekadar untuk memenuhi naluri dan hasrat kebutuhan