BAB III METODE PENELITIAN
D. Data dan Sumber Data
Data yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keterangan yang dijadikan objek kajian, yakni kata, kalimat/ungkapan yang mendukung
genetik. Data yang dimaksud adalah yang menyangkut dengan strukturalisme genetik dalam novel Dzikir-Dzikir Cinta karya Anam Khoirul Anam.
2. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini, yakni novel yang berjudul Dzikir- Dzikir Cinta karya Anam Khoirul Anam.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan untuk memeroleh data dan informasi mengenai strukturalisme genetik yaitu dengan melakukan penulisan pustaka (percetakan). Adapun langkah-langkah yang ditempuh penulis dalam teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut:
1. Mencari dan mengumpulkan standar acuan yang dijadikan acuan dalam penelitian penelitian secara sistematis dan struktur agar tidak menjadi kesalahan akan subjek yang diteliti.
2. Membaca novel Dzikir-Dzikir Cinta secara keseluruhan.
3. Memahami isi novel yang telah di baca dan berkaitan erat dengan masalah strukturalisme genetik.
4. Menganalisis paragraf demi paragraf, bab demi bab, dan melakukan pengklasifikasian.
5. Mengelompokkan data yang di dalamnya mengandung strukturalisme genetik.
F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data penelitian sastra selalu berkait dengan teori, konsep, dan metode. Teori yang dipergunakan peneliti sesuai dengan prinsip-
prinsip teknik analisis data berdasarkan teori Strukturalisme Genetik. Sasaran penelitian dengan teori strukturalisme genetik adalah memahami pandangan pengarang tentang masyarakat dalam teks karya sastra.
Data yang diperoleh dalam penelitian ini, dianalisis berdasarkan pendekatan strukturalisme genetik dengan langkah-langkah sebagai berikut ini:
a. Membaca berulang-ulang seluruh isi novel Dzikir-Dzikir Cinta Karya Anam Khoirul Anam.
b. Mengidentifikasi unsur intrinsik yang terdapat pada novel Dzikir-Dzikir Cinta karya Anam Khoiru Anam.
c. Identifikasi dan analisis data pandangan dunia pengarang novel Dzikir- Dzikir Cinta karya Anam Khoirul Anam.
d. Identifikasi dan analisis data yang berhubungan dengan sosial Budaya yang terdapat dalam novel Dzikir-Dzikir Cinta karya Anam Khoirul Anam.
e. Mengadakan pemeriksaan keabsahan data berdasarkan aspek 1 yang dianalisis sebagai hasil penelitian.
f. Apabila hasil penelitian sudah dianggap sesuai, maka hasil tersebut dianggap sebagai hasil akhir.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Pada bab ini akan diuraikan secara terperinci hasil penelitian terhadap novel Dzikir-Dzikir Cinta Karya Anam Khoirl Anam, dengan menggunakan pendekatan analisis deskriptif. Hasil penelitian ini akan dikemukakan beberapa data yang diperoleh sebagai bukti hasil penelitian. Data akan disajikan pada bagian ini adalah data yang memuat aspek strukturalisme genetik sebagai salah satu unsur pembentuk novel tersebut. Berdasarkan pendekatan yang digunakan oleh penulis dala menganalisis novel Dzikir- Dzikir Cinta Karya Anam Khiorul Anam maka diharapkan dapat mengungkapkan secara terperinci dan jelas.
Analisis data dilakukan dalam tiga bagian. Pertama, analisis data yang berhubungan dengan struktur novel Dzikir-Dzikir Cinta karya Anam Khoirul Anam yaitu unsur intrinsik yg meliputi tema, alur, penokohan/perwatakan, latar/setting, sudut pandang dan amanat. Kedua, analisis data yang berhubungan dengan kehidupan sosial pengarang Anam Khoirul Anam yang berhubungan dengan novel Dzikir-Dzikir Cinta. Ketiga, analisis data yang berhubungan dengan sosial budaya masyarakat yang terdapat dalam novel Dzikir-Dzikir Cinta karya Anam Khorul Anam.
29
1. Unsur Intrinsik a. Tema
Seorang pengarang yang mengemukakan hasil karya tentu ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada pembacanya. Sesuatu yang menjadi gagasan pokok yang menjadi pemikiran itulah yang disebut tema. Tema dalam sebuah cerita tidak disampaikan secara langsung, namun secara emplisit melalui cerita dengan kata lain tema tersembunyi dalam cerita.
Seperti halnya dengan novel “Dzikir-Dzikir Cinta” tema tidak disampaikann secara langsung, akan tetapi harus membaca cerita kata demi kata, agar bisa mengetahui makna yang terkandung di dalam cerita.
Penulis dalam menulis karya sastra ini, bukan hanya lahir sekadar bercerita, melainkan juga ingin menyampaikan pesan tertentu kepada pembaca. Novel Dzikir-Dzikir Cinta pada dasarnya mengemukakan tentang masalah agama dan dikembangkan dengan menceritakan masalah percintaan para tokohnya. Jadi tema yang mendasari novel ”Dzikir-Dzikir Cinta” yaitu masalah agama dan cinta. Kutipan dapat dilihat sebgai berikut:
Konteks:
“Kenapa aku selalu merindukan suranya tiap malam-malamku?
Sehabis aku bermunajat kepada-Mu? Apakah benih cinta bersemi seiring musim gugur? Benarkah rasa ini adalah rasa karena cinta?
Apakah aku tegolong manusia yang sesat hanya karena terpesona pada sebuah keindahan ciptaan-Mu? Aku harap semua ini tidak membuatku lalai akan keindahan sejati-Mu. Semoga menyadari keindahan mahluk-Mu juga berarti aku mengingat keagungan- Mu?”(hal. 191 paragraf ke-2)
Kutipan di atas menggambarkan bahwa cinta bukan hanya terpaut pada pesona lahiriah, melainkan pada substansi cinta itu sendiri, yaitu kemampuan
untuk sebanyak mungkin mendistribusikan kasih sayang demi kebaikan kemanusiaan. Cinta sesungguhnya dapat dijadikan medium bagi kecintaan kita kepada Tuhan.
b. Alur ( Plot )
Plot yang digunakan dalam novel “ Dzikir-Dzikir Cinta” adalah plot maju mundur atau alur sorot balik, yaitu urutan kronologis peristiwa-peristiwa yang disajikan dalam cerita disela dengan peristiwa yang terjadi sebelumnya.
Sorot balik ini ditampilkan di dalam dialog, di dalam mimpi, atau sebagai lamunan tokoh yang menelusuri kembali jalan hidupnya atau teringat kembali suatu jalan peristiwa yang masa lalu.
Adapun urutan-urutan penyajian peristiwa secara kronologis dalam novel Dzikir-Dzikir Cinta Karya Anam Khoirul Anam, dapat diuraikan sebagai berikut:
a) Eksposisi
Dalam bab pertama novel Dzikir-Dzikir Cinta karya Anam Khoirul Anam diawali dengan paparan, yaitu pemaparan tentang sebuah desa yang tenteram dan damai. Dapat dilihat pada kutipan sebagai berikut:
Konteks:
“SENJA tampak sayu di balik lipatan kabut. Suasana Kampungkuning tampak remang dan lengang, meski maatahari belum sepenuhnya tenggelam. Ia masih membiaskan warna-warna mempesona, teduh memandikan jiwa yang sepi. ketakjuban memancar di antara lanskap yang kian tirus, berurai sendu. Ceracau burung yang hinggap di atas dahan nan landai meriuhkan suasana. Di senja kala itu, langit tampak mendung sembab. Burai, kabut hitam putih menyelimuti berbukitan yang membuhul diantara celah-celah ranting pepohonan.
Gerimis turun berlarik-larik dari langit, seperti sekawanan anak panah yang dihujamkan ke perut bumi.”(hal 21 paragraf ke-1)
Paparan selanjutnya yaitu tentang tokoh Rusli yang datang dari Jawa Timur untuk menimba ilmu di pondok pesantren Al-masnawiyyah dan paparan tentang tokoh Sukma yang saleha dan taat beribadah seperti dalam kutipan sebagai berikut:
Konteks: (1)
“Pemuda itu berjalan ke arah utara, tepat setelah ia turun dari angkutan kota. Di pundaknya terdapat ransel yang terlihat sarat dengan muatan. Dengan mengenakan busana khas santri ia menyusuri jalan setapak di hadapannya.”(hal. 35 paragraf ke-1)
Konteks: (2)
“Tepat di depan bola matanya sebuah sajadah tergelar. Lalu gadis itu mengambil rukuhnya. Ia kenakan lalu, menghadap ke rah kiblat.
Dengan tenag dan kusyu ia melakukan ritual suci, Tahajjud. Setelah melakukan shalat beberapa rakaat. Gadis itu mengambil kitab suci Al- qur’an. Syahdu suaranya melafal.” (hal 88 paragraf ke-1)
b) Ransangan
Ransangan timbul ketika muncul tokoh yang menjadi penengah antara hubungan Rusli dan Sukma. Ia adalah Fatimah putri kiyai Mahfud. Dalam novel ” Dzikir-Dzikir Cinta” telah terjadi beberapa konfliks atau pertikaian, yaitu konfliks yang terjadi pada tokoh tambahan dan yang terjadi pada tokoh utama. Maka konfliks kecil yang terjadi terdapat pada kutipan sebagi berikut:
Konteks: (1)
“Tampak keringat dingin membanjir dari kedua jidat mereka, pucat pasi. Masya Allah! Astagfirullahal adzim! Nudzubillahi min dzalik!
Astaga! Dimana Tuhan dan rasa mau ketika itu? bukankah Tuhan telah melarang percabulan semacam itu sebelum kau mengenal nama?
Dan, Tuhan pun seakan memalingkan wajah pada seoerang Pezina.”(hal.52 paragraf ke-1)
Kutipan data tersebut menjelaskan konfliks yang terjadi antara Hasim dan Ki Ageng Panembahan. Konflik tersebut disebabkan karena Hasim dipergoki ciuman dengan putri ki Ageng Panembahan.
Konteks: (2)
“Dengan mengendarai speda motor mereka bersikap angkuh pada partisipan pendukung Gus Mu’ali yang sedang konvoi. Tanpa alasan yang jelas tiba-tiba salah satu preman memukuli partisipan dengan balok. Tak ayal jika cucuran darah muncrat dari jidatnya. Ia terluka parah.( hal. 257 paragraf ke-2)
Data di atas menunjukkan bahwa konflik yang terjadi disebabkan beberapa preman yang dengan tiba-tiba menyerang tanpa sebab.
c) Konflik atau Tikaian
Adapun konfliks utama yang membangun novel “Dzikir-Dzikir Cinta” adalah pertarungan antara wacana otoritas Kiyai yang kemudian melahirkan konsep barokah dengan kenyataan rasa cinta yang harus menampik otoritas itu. Adapun kutipannya sebagai berikut:
Konteks: (1)
”Sepanjang perjalanan pikirannya jadi kacau. Ia makin bimbang.
Bingung. Jika ia menolak ajakan dari Kiyai Lathif, ia takut tidak mendapat barokah dari ilmunya. Ia juga merasa takut jika nanti ia menolak ajakan itu akan mendapat murka dari Abahnya. Tapi, bagaimana dengan harapan cintanya pada Rusli? Apakah begitu saja ia pupuskan hanya untuk menuruti sebuah keinginan seseorang yang tak pernah ia harap dan tak pernah ia cintai, dan tak pernah akan bisa masuk dalam wadag hatinya?”(hal. 318 paragraf ke-4)
Kutipan di atas menjelaskan Fatimah didera dilema yang amat akut antara keharusan menerima kiyai walau hatinya tidak pernah ada cinta, dan
kejujuran untuk menolak meski penolakannya melahirkan rasa ketakutan tidak mendapatkan barokah.
Konteks: (2)
“...dan aku dibuat semakin kaget dan tak berdaya saat kiyai Mahfud mengemukakan rencana untuk menjodohkan aku dengan putrinya, Fatimah. Bukankah ini membuatku tak berdaya, membuatku semakin jauh dari kesadaranku? Terlebih lagi ketika kiyai mengatakan bahwa selama ini Fatimah, putrinya, telah jatuh cinta kepadaku. Aku sendiri heran, sejak kapan?”(hal.337 paragraf ke-2)
Kutipan di atas menunjukkan bahwa sebab ulah kejujuran Fatimah yang mengakui bahwa ia mencintai Rusli, maka Kiyai Mahfud menjodohkan Fatimah dengan Rusli dan Rusli pun tak bisa mengelak atas perjodohannya itu. dengan demikian Rusli telah mengecewakan kekasihnya yaitu Sukma.
d) Leraian Konteks:
”Di depan kiyai Mahfud dan juga Gus Mu’ali. Rusli dan Sukmasaling berpeluk melepas kerinduan yang sekian tahun tak mampu mereka sampaikan. Keduanya saling hanyut dalam haru biru. Ada siraman bahagia dalam pelukan itu. ada secercah bahagia menyelimuti keduanya. Pelukan mesra itu serasa menjadi pengganti dari apa yang bergemuruh dalam jiwa sekian waktu lamanya.”
(hal. 369-370 paragraf ke-2)
Puncak klimaks tercapai ketika Rusli dan Sukma dipertemukan, yaitu setelah meninggalnya Fatimah dalam keadaan melahirkan. Rusli kemudian menikahi Sukma atas suruhan KiyaiMahfud dan Gus Mu’ali.
e) Penyelesaian Konteks :
“Rul, sekarang kami telah bersatu di alam kami. Kami hidup bahagia.
Aku menemuimu karena aku ingin menyampaikan kebahagiaan ini padamu. Tolong jika kamu bertemu dengan abah sampaikan salamku
dan juga kabar ini, dan tak lupa sampaikan pula pada Gus Mu’ali.
Mungkin jika tanpa bantuannya, aku takkan pernah bisa seperti sekarang ini, bisa memiliki dua isteri, meski semuanya hanya bisa kurasakan di alam lain dari kehidupan dunia.”
(hal. 376 paragraf ke-3)
Penyelesaian diakhiri dengan kematian (menyedihkan). Rusli meninggal ketika pulang pengajian. Ia ditabrak truk. Begitu pun Sukma, ia meninggal karena tak tahan melihat nasib suaminya. Ia meninggal dalam keadaan mengandung.
c. Penokohan atau Perwatakan
Tokoh-tokoh dalam novel Dzikir-Dzikir Cinta adalah manusia yang berperan mengikuti alur di dalam ceritanya. Semua tokoh-tokoh saling menjalin hubungan satu sama lainnya, meskipun hubungan yang terjalin itu tidak selalu erat dan berdampingan. Tokoh utama Protagonis yaitu: Rusli dan Sukma. Tokoh-tokoh lainnya (tambahan) yaitu: Fatimah, Kiyai Mahfud, Gus Mu’ali, Kiyai Lathif, Kiyai Husen, Nikmah, Asrul, Pak Tabah, Nyi Tabah, Pak Harto, Subhan, dan lain-lain.
a) Rusli
Rusli adalah gambaran seorang pemuda yang wataknya selalu baik. Ia adalah pemuda jujur, tawaddu, dipercaya, ramah, tidak congkak, serta tidak banyak tingkah. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut ini:
Konteks: (1)
“Entah mengapa, di pondok tersebut Rusli seakan- akan sudah menjadi tangan kanan Kiyai Mahfud. Padahal kemampuannya jauh bila dibandingkan dengan santri-santri yang lebih senior. Hanya saja ia memang lebih tawaddu’ dan tidak banyak polah. Selain itu pula ia selalu patuh jika mendapat perintah dari pak Kiyai. Selain itu, Rusli juga mengandalkan kejujuran dan sikap ramahnya dalam bergaul pada
siapapun. Selalu andap ansor pada yang lebih tua dan sayang pada mereka yang lebih muda. Tidak congkak atau angkuh. Bahkan ia sempat dinasehati oleh teman-temannya sesama santri, “kamu itu mbok ia sekali-kali marah, wong digojloki, dipojokkan, kok kamu malah senyum-senyum.” (hal. 119-120 paragraf ke-5)
Konteks:(2)
“Ah, kenapa tadi malam aku nyenyak sekali hingga aku kelewat batas,
“ia masih tidak terima akan kelelaiannya itu. bukan karena ingin mendengarkan suara Sukma namun ia menyesal juga karena tidak bisa melakukan shalat sunnat Tahajjud.”(hal.147 paragraf ke-4)
Data di atas menunjukkan bahwa Rusli adalah tokoh santri yang saleh, taat beribadah, ia selalu berusaha menjalankan ibadah dengan ikhlas dan istiqomah, baik ibadah yang wajib maupun yang sunnat.
b) Sukma
Ia adalah gadis yang cantik, penuh wibawa, cerdas, bersifat petualang, berani menanggung resiko, berkomitmen tinggi, sabar, dan tabah dalam mengarungi kehidupan. Selain itu juga ia adalah gadis yang salehah, taat beribadah, dan bahkan sampai menjadi seorang sufiah.
Konteks: (1)
“Di pondok Gus Mu’ali barangkali hanya Sukma saja yang tampak berbeda. Meskipun wajahnya terbilang canti, ia tetap bersahaja di depan teman-temannya. Dan satu hal yang paling penting, dia cerdas, penuh wibawa. Sifat kedewasaan yang ada pada dirinya juga menjadikannya selalu dijadikan tempat berbagi, kendati usianya relatif muda. Bahkan ia seperti dianggap lebih dewasa dalam memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi teman-temannta. Seperti ‘ibu’
di asrama puteri tersebut. Feminim dan keibuan. Ia sangat cakap bila diajak bicara. Nada bicaranya yang lemah lembut turut meneduhkan setiap gelembung jiwa.”
(hal. 101 paragraf ke-2)
Konteks: (2)
“Di pondok kamu adalah permata bagi teman-teman. Di samping kau cantik, kau juga memiliki kemahiran dalam banyak hal. Dulu semasih SMU, kau menjadi juara satu lomba tarik suara. Pada akhirnya, kemhiran itu menjadikanmu qoriah terbaik. Kau adalah si suara emas, begitulah julukannmu, kau juga merpati jelita.”
(hal. 344 paragraf ke-3)
Data (1) dan (2) menunjukkan bahwa Sukma adalah gadis yang cantik, cerdas, cakap, penuh wibawa, pemimpin, dan keibuan.
Konteks: (3)
“Meski ia cantik dan banyak orang yang mengejarnya, namun bukan tipe wanita yang suka mengumbar kecantikannya. Ia bukan wanita gampangan. Ia bukan wanita yang mudah berpindah hati pada lain orang. Dan, inilah wujud darib sebuah kesetiaan. Biarlah rendaman luka membusuk namun ia yakin bahwa luka itu tanpa disengaja. Ia menerima kenyataan itu dengan lapang dada.”
(hal. 340 paragraf ke-2)
Pada data menggambarkan bahwa Sukma tipe perempuan yang setia dalam bercinta. Meski kekasihnya telah dimiliki oleh orang lain, ia tetap menggengam cintanya. Ia memutuskan untuk hanya mencintai satu orang dalam hidupnya. Hal itu ia lakukan lebih kepada kesetiaannya terhadap cinta. Ia selalu tabah dan lapang dada dalam ujian hidup termasuk ujian dalam bercinta.
Konteks: (4)
“Dari kesendirian jiwa. Ia ingin melupakan urusan duniawi yang selalu membuatnya resah. Ia ingin menyepi bukan berarti membenci kehidupan akan tetapi ia ingin membersihkan jiwanya, bersih dari semua hal yang akan menjadikannya nista. Ia telah terasuki oleh syair sufi Rabiah. Bahwa hidup milik sang Pencipta dan segala hal yang ada pada dirin ya adalah milik sang Pencipta.”
( hal. 342 paragraf ke-1)
c) Fatimah Konteks:
“Akang masih mencintainya, kan? Akang masih mengharap kehadirannya di sisi Akang, kan? Jika memang akang mau menikahinya aku rela. Aku rela demi menebus kesalahanku pada cinta kalian.”(hal. 349 paragraf ke-5)
Data di atas menggambarkan bahwa Fatimah adalah gadis belia yang berparas cantik. Ia wanita yang berhati baik.
d) Kiyai Mahfud Konteks:
“O, malah kebetulan sekali saya malah bersyukur bisa menampung orang yang ingin menuntut ilmu. Di samping mendapat pahala, kami juga bisa menyampaikan ilmu yang kami kuasai,” spontan Kiyai menjawab. Tanpa basa-basi. Tersungging senyum tipis di bibirnya.”
( hal. 38 paragraf ke-4)
Data di atas menunjukkan bahwa Kiyai Mahfud adalah tokoh yang berhati baik. Ia adalah seorang kiyai yang mengamalkan ilmunya kepada siapa saja yang mau menuntut ilmu.
e) Gus Mu’ali Konteks:
“Sebagai rasa syukur atas keberhasilan menjadi Kepala Daerah, maka langkah wal yang menjadi program kerja adalah mengurangi laju pertumbuhan anak jalanan.”(hal. 294 paragraf ke-3)
Dari data di atas terlihat jelas bahwa sosok Gus Mu’ali yang memiliki jiwa sosial yang tinggi.
f) Asrul
“Asrul mencoba menerapkan pola pendidikan yang lebih modern”(hal.380 paragraf ke-2)
Berdasarkan data digambarkan bahwa Asrul sosok yang memiliki otak yang cerdas karena selain mengajarkan kitab kuning. Di pondok juga di gunakan sebagai sekolah umum. Asrul ingin membentuk lembaga pendidikan yang sifatnya umum dan juga mengembangkan pondok modern atas gagasan yang ia inginkan.
g) Nikmah Konteks:
“Karena hanya Nikmah lah satu-satunya sahabat muslimnya. Sahabat Sukma yang bisa menerima dirinya. Semua teman-teman Sukma adalah penganut Nasrani.”(hal. 223 paragraf ke-1)
Pada data di atas menunjukkan bahwa Nikmah adalah teman yang setia karena disaat sukma dalam masalah yang berat hanya dia lah yang menjdi tempat untuk berbagi.
h) Pak Tabah (ayah Rusli) Konteks:
“Semula ayah Rusli tidak memerdulikan desas-desus perselingkuhan istrinya, perempuan yang melahirkan Rusli. Ia berkeyakinan bahwa istrin ya adalah istri yang baik, istri yang selalu mempertahankan kehormatan rumah tangganya.” (hal.150 paragraf ke-1)
Terlihat jelas bahwa pak Tabah adalah seorang lelaki yang tak mudah percaya dengan gosip yang beredar dan tak menghiraukan perkataan orang lain.
i) Nyi Tabah (ibu Rusli)
“Dasar...! Bojo klijengan!”
“Pak Tabah menyeret istrinya keluar rumah. Ia sama sekali tidak memerdulikan lelaki yang telah merusak pagarayu orang lain itu.”
( hal. 152 paragraf ke- 1)
Dari data di atas dapat di simpulkan bahwa ibu tabah adalah seorang perempuan yang tidak setia dan berkhianat.
j) Kiyai Husen Konteks:
“Kenapa mukamu memar begitu, Rus?” tanya Kiyai Husen ketika mengajarkan kitaJurumiyaah, ba’da shalat shubuh.
“Tidak apa-apa, Kiyai. Hanya terjatuh saja.”
“Tadi malam kamu belum apa-apa. Kok sekarang lebam wajahmu itu.
kamu jatuh dari man?”
“Dari sepeda waktu ngantar teman cari makan sahur tadi.”
.( hal. 282 paragraf ke- 3)
Data di atas menunjukkan bahwa Kiyai Husen sosok yang penuh perhatian terhadap santrinya. Ia berusaha mengetahui sebab mengapa wajah Rusli yang lebam.
k) Pak Harto (ayah tiri Rusli) Konteks:
“Masak, sudah diajari berulang-ulang kamu tidak bisa-bisa juga.
Makanya belajar! Jangan banyak mainnya. Bapak nganti jenkel ngarakne awakmu, Le”(hal.180 paragraf ke-4)
Berdasarkan data dapat disimpulkan bahwa pak Harto merupakan sosok yang gampang marah (pemarah).
l) Subhan
“Kedigdayaan itu ternyata dislah artikan oleh Subhan. Ilmu itu digunakan untuk mencari sasaran pelampiasan hasrat nafsu birahi.
Ketika jiwanya terlepas- dalam posisi kanuragan ngerogoh sukmo itu.
jiwanya hinggap di kamar santriwati dan terjadilah ‘hal itu’.”( hal.81 paragraf ke-2)
Data di atas dapat disimpulkan bahwa Subhan tidak bisa menjaga amanah.
d. Latar atau setting
Latar dalam cerita adala situasi tempat, ruang dan waktu terjadinya sebuah cerita. Penggunaan latar dalam cerita, memberikan pijakan kongkret dan jelas kepada pembaca. Hal ini memberikan kesan realistis kepada pembaca, menciptakan suasana tertentu seolah-olah sungguh ada dan terjadi.
Dengan demikian, pembaca merasa dipermudah mengoperasikan daya imajinasi di samping memungkinkan berperan kritis sehubungan dengan pengetahuannya tentang latar. Pembaca dapat merasa dan menilai kebenaran ketepatan dan aktualisasi latar yang diceritakan.
Latar dalam novel Dzkir-Dzikir cinta terdiri dari latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Secara terperinci latar tersebut meliputi lokasi geografis, pemandangan, pekerjaan, atau kesibukan sehari-hari para tokoh, waktu berlakunya kejadian, lingkungan agama, moral, intelektual, sosial, dan emosional para tokoh.
a) Latar Tempat
Latar tempat yangt digunakan novel Dzikir-Dzikir Cinta yaitu: kamar tidur, kamar mandi, hutan, alun-alun, kantor, masjid, gudang, rumah, dan di dalam bus. Hal itu dapat dilihat pada data berikut:
Konteks: (1)
“Seperti biasa ia akan meletakkan semua peralatan di gudang penyimpanan peralatan”( hal. 51)
Konteks :(2)
“Gadis itu melangkah menuju pancuran. Ia buka kran. Berkumur.
membasuh mukanya. membasuh kedua tangannya. Ubun-ubunya.