BAB III METODE PENELITIAN
H. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dari data sekunder akan diolah dan dianalisis berdasarkan rumusan masalah yang telah diterapkan sehingga diharapkan dapat diperoleh gambaran yang jelas. Analisis data yang digunakan adalah analisis data yang berupaya memberikan gambaran secara jelas dan konkrit terhadap objek yang dibahas secara kualitatif dan selanjutnya data tersebut disajikan secara deskriptif yaitu menjelaskan, menguraikan dan menggambarkan sesuai dengan permasalahan yang erat kaitannya dengan penelitian ini, sehingga data yang disajikan dapat menggambarkan situasi dan data penelitian itu sendiri. Empat tahap dalam analisis data ini dijelaskan sebagai berikut :
1. Pengumpulan data
Peneliti melakukan tahap pengumpulan data dan merangkum data dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi.
54 2. Reduksi data
Setelah itu data di transkrip atau menuliskan kembali hal-hal yang dianggap penting dalam penelitian, selanjutnya peneliti melakukan coding data atau pengkodean data, yakni data-data yang sifatnya sama. Dalam hal ini peneliti membagi dua jenis pengkodean data berdasarkan rumusan masalah yakni, R1 = Rumusan Masalah 1, dan R2 = Rumusan Masalah 2, sehingga data yang sudah direduksi akan memberikan gambaran yang dapat mempermudah peneliti untuk kembali mencari data yang diperlukan nantinya.
3. Penyajian data
Penyajian data yang dilakukan peneliti yakni memaparkan data penelitian dalam bentuk uraian yang didukung dengan matriks jaringan kerja. Sehingga mempermudah peneliti dalam melihat hasil penelitian. Dengan penyajian data dapat dipahami apa yang terjadi, apa yang harus dilakukan dan lebih lanjut lagi dalam menganalisis dan mengambil tindakan berdasarkan atas pemahaman yang didapat di lapangan.
4. Penarikan kesimpulan
Proses dalam tahap ini menyangkut interpretasi peneliti, yaitu pengambilan/penggambaran makna dari data yang di dapatkan dari proses pengolahan data yakni, pengumpulan data, reduksi data dan penyajian data. Hal tersebut dilakukan agar data yang diperoleh dan penafsiran tehadap data memiliki validitas sehingga kesimpulan yang ditarik menjadi kokoh.
55 I. Teknik Keabsahan Data
Penelitian kualitatif ini akan dilakukan keabsahan data melalui uji kredibilitas. Triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu.
1. Triangulasi Sumber
Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber.
Seperti halnya dalam penelitian ini dilakukan kredibilitas mengenai data yang peneliti peroleh dari judul penelitian yang diteliti “Disparitas Social (Studi Peluang Kerja Generasi Terdidik Tepian Danau Matano Desa Sorowako Kecamatan Nuha Kabupaten Luwu Timur)”.
2. Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.
Misalnya penelitian ini yang peneliti peroleh dari kabar berita, selanjutnyaakan dicek dengan cara observasi atau dokumentasi. Jika kedua teknik tersebut menghasilkan data yang berbeda-beda, maka peneliti akan melakukan diskusi lebih lanjut kepada narasumber yang bersangkutan untu memastikan data mana yang dianggap paling benar.
56 3. Triangulasi waktu
Triangulasi waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Data yang diperoleh dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi berbeda. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda, maka penelitian dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kepastian.
J. Eika Penelitian
Dalam pelaksanaan penelitian ini peneliti menekankan masalah etika penelitian meliputi :
1. Informed consent
Sebelum permintaan persetujuan menjadi responden, peneliti menjelaskan terlebih dahulu mengenai maksud dan tujuan penelitian pada responden, bahwa penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hal-hal yang dilakukan peneliti adalah memberikan penjelasan akan dilakukannya penelitian mengenai Disparitas Social Generasi Terdidik Terhadap Peluang Kerja di Desa Sorowako.
Keuntungan bagi responden dengan ikut serta dalam penelitian ini adalah mengetahui Disparitas Sosial Generasi Terdidik Terhadap Peluang Kerja di Desa Sorowako.
57 2. Anomity (tanpa nama)
Untuk menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak akan mencantumkan nama responden secara lengkap pada lembar kuisioner, responden cukup mencantumkan nama inisial dari nama responden.
3. Confidentiality (kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi yang diberikan responden dijamin sepenuhnya oleh peneliti, data dari responden tidak disebarluaskan.
58 BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
Sesuai dengan lokasi penelitian yang dipilih oleh peneliti, maka pada bagian ini peneliti akan memaparkan secara singkat profil Desa Sorowako Kecamatan Nuha Kabupaten Luwu Timur sebagai wilayah atau lokasi peneliti mengadakan penelitian.
Untuk itu jelasnya diuraikan sebagai berikut : A. Sejarah Desa Sorowako
Tak ada catatan pasti mengenai asal-usul nama Sorowako. Namun, berdasarkan informasi masyarakat sekitar, istilah Sorowako memiliki dua pengertian. Pertama, Sorowako berasal dari kata Serewako, nama sejenis tanaman yang mirip bunga kenanga. Tanaman ini dulu banyak tumbuh di daerah ini.
Kedua, berarti “tempat mundur”. Menurut masyarakat, pada masa silam tempat ini dibangun sebagai permukiman baru pada saat penduduk Kampung Helai terpaksa mengungsi. Sorowako adalah nama kampung yang dulunya ditempati oleh masyarakat Suku Tomoni yang menetap di daerah pinggiran Danau Matano, dalam perkembangannya Sorowako menjadi nama kota penghasil nikel dimana lokasi tersebut terdiri dari tiga kawasan yang setingkat desa atau kelurahan yaitu Desa Sorowako, Desa Nikkel, dan Kelurahan Magani.
Sejarah Sorowako memang tak pernah lepas dari nikel, namun kapan sesungguhnya kegiatan pertambangan di Sorowako dimulai? Menurut para arkeolog, eksploitasi dan tradisi peleburan besi di sekitar Danau Matano memiliki
59
sejarah yang cukup panjang. Bahkan jauh sebelum masa keemasan Kerajaan Majapahit, yang pernah mencatat Luwu sebagai pemasok bijih besi. Menurut sebuah catatan, sekitar Danau Matano telah menjadi pusat tambang besi-nikel jauh sebelum Majapahit lahir (1293). Hasil analisis carbon dating laboratorium Australian National University terhadap lapisan arang gerabah wadah kubur memperlihatkan kronologi 1000 BP atau sekitar abad IX-X Masehi. Pada masa Kerajaan Majapahit, nama Luwu bahkan tercatat dalam Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca (1365).
Pada tahun 1998 David F Bulbeck dan Bagyo Prasetyo dua pakar arkeologi, pernah melakukan penggalian di sekitar Desa Matano yang dahulunya merupakan bagian dari kawasan Sorowako. Mereka menemukan beragam petunjuk mulai dari kerak besi, manik-manik hingga kain tenun. Iwan Sumantri, Arkeolog dari Universitas Hasanuddin Makassar, menyebutkan bahwa di Matano pernah ditemukan kain tenun bertahun produksi sekitar 410 Masehi. Daerah Luwu khususnya Sorowako telah dikenal sejak lama sebagai penghasil besi berpamor16 yang diminati oleh orang Jawa sejak zaman Majapahit hingga sekarang. Bahan pamor dari Luwu memiliki sifat kristal yang homogen, dan sejak dulu menjadi komoditas ekspor. Bukan saja di Asia, bahkan sampai ke Madagaskar. Bahan logam itu digunakan sebagai campuran dalam pembuatan pedang. Dalam Bahasa Bugis, bahan pamor ini disebut sebagai basi pamorro, sedangkan orang Jawa menamakannya sebagai pamor Bugis. Hal ini diperkuat
60
dengan pernyataan Manase bahwa: ”Peleburan besi dilakukan di pesisir Danau Matano yang menjadi jalan utama desa sekarang. Tanahnya itu kelihatan gosong, itu hitam karena ada peleburan besi. Tapi jaman sekarang tidak ada lagi peleburan seperti itu karena tidak ada generasi sekarang yang mau tau lagi apalagi melakukan kegiatan itu”.
Dulunya Sorowako hanyalah wilayah yang jauh dari teknologi dan merupakan daerah dengan masyarakat yang digolongkan masyarakat yang homogen. Dengan perkembangan zaman dari waktu ke waktu serta terjadinya perubahan sosial, maka daerah ini bisa dikatan menjadi daerah yang cukup modern serta menjadikan daerah ini menjadi daerah yang telah menghasilkan pajak yang cukup besar terhadap pemerintah setempat. Ada 4 area hunian penduduk asli yaitu Helai, Sukoyo, Pontada, dan Lentebure. Awalnya penduduk asli Sorowako tinggal di daerah Pontada, kemudian karena bencana alam Tsunami sehingga perkampungannya tenggelam, di mana dulunya Danau Matano memiliki luas yang kecil namun setelah adanya Tsunami Danau Matano menjadi sangat luas. Kemudian mereka berpindah ke Sukoyo, di daerah tersebut terjadi perang suku antar penduduk asli suku Tomoni dengan Suku Tomobahono.
Suku Tomoni melakukan perjalanan mencari perkampungan sebagai tempat tinggal dan mereka menemukan daerah yang disebut Helai sebagai tempat bermukim. Namun, perang suku pun terus berlanjut antara suku Tomoni dengan Suku Tomori sehingga banyak korban jiwa. Sehingga pada akhirnya sebagian penduduk yang tersisa kembali melakukan perjalanan mencari tempat bermukim
61
sehingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal dan bermukim di daerah Sorowako pinggir Danau Matano. Versi lain dikemukakan oleh masyarakat bahwa suku Tomoni melakukan perjalanan ke Sorowako karena wilayah Kerajaan Luwu mulai dari Selatan, Pitumpanua ke Utara Poso, dan dari Tenggara Kolaka (Mengkongga) ke Barat Tana Toraja. Setelah Indonesia merdeka, Luwu dijadikan salah satu dari tujuh daerah Suwantara, yang membawahi Kewedanan Malili. Kemudian Untuk menciptakan keseragaman dan efisiensi struktur Pemerintahan Daerah, maka berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Tenggara No.1100/1961, dibentuk 16 Distrik di Daerah Tingkat II Luwu, salah satunya yaitu Distrik Nuha yang membawahi Sorowako sebagai salah satu wilayahnya namun pada saat itu Sorowako masih merupakan daerah hutan yang masuk dalam wilayah Desa Towuti. Kemudian pada SK Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Tenggara No.2067/1961 tanggal 18 Desember 1961 menyatakan semua Distrik berubah nama menjadi sebuah kecamatan.
Ketika PT. INCO memulai pembangunan pabrik dan segala konstruksi, pada tahun 1978, sekitar 10.000 tenaga kerja Indonesia dan 1.000 pekerja asing dikerahkan membangun fasilitas pengolahan nikel dan pembangkit tenaga air bersama dengan jalan, fasilitas kota, pelabuhan, lapangan terbang dan infrastruktur lain. Masa inilah, gelombang orang-orang mendatangi wilayah Sorowako. Sorowako, tempat pabrik berdiri menjadi kota, bukan lagi daerah
62
terpencil yang sulit dijangkau. Pembangunan jalan tambang menembus beberapa desa dibuat yang kemudian hari menjadi jalan utama.
B. Letak Geografis Luwu Timur
Kabupaten Luwu Timur merupakan kabupaten yang berbatasan dengan dua propinsi yaitu Propinsi Sulawesi Tenggara Tengah di sebelah utara dan timur dan Propinsi Sulawesi Tenggara di sebelah selatan. Selain itu Kabupaten Luwu Timur juga berbatasan langsung dengan laut yaitu dengan Teluk Bone di sebelah selatan.
Kabupaten Luwu Timur terletak di sebelah selatan garis khatulistiwa di antara 2,03’00” – 2,03’25” Lintang Selatan dan 119,8’56” – 121,47’27” Bujur Timur.
Kabupaten Luwu Timur merupakan kabupaten paling timur di Propinsi Sulawesi Selatan. Adapun batas-batas wilayah administrasi Kabupaten Luwu Timur sebagai berikut : (1) Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah, (2) Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah, (3) Sebelah Selatan berbatasan dengan Teluk Bone, Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara, (4) Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan.
Malili merupakan Ibukota Kabupaten Luwu Timur. Luas wilayah Kabupaten Luwu Timur tercatat 6.944,88 km2 atau sekitar 11,14% dari luas wilayah Propinsi Sulawesi Selatan.. Kecamatan terluas adalah Kecamatan Towuti yang mencapai 1.820,48 km2 atau sekitar 26,21% dari luas wilayah Kabupaten Luwu Timur.
Pembagian wilayah dan peta administrasi berdasarkan kecamatan sebagai berikut:
63
Tabel 4.1 Pembagian Daerah Administratif di Kabupaten Luwu Timur Tahun 2018
No Kecamatan Desa Kelurahan Dusun Luas (km²)
1. Burau 18 - 66 256,23
2. Wotu 16 - 70 130,52
3. . Tomoni 13 1 52 105,91
4. Tomoni
Timur
8 - 24 168,09
5. Angkona 10 - 48 147,24
6. Malili 15 1 56 921,20
7. Towuti 19 - 56 1.820,46
8. Nuha 5 1 17 808,27
9. Wasponda 6 - 29 1.244,00
10. Mangkutana 11 - 47 1.300,96
11. Kalaena 7 - 27 41,98
Jumlah 128 3 492 6.944,88
Sumber : Kabupaten Luwu Timur dalam angka 2018
Kabupaten Luwu Timur dibagi menjadi 11 kecamatan yaitu Burau, Wotu, Tomoni, Angkona, Malili, Towuti, Nuha, Mangkutana, Kalaena, Tomoni Timur, dan Wasuponda. Wilayah Kabupaten Luwu Timur terdiri dari 124 desa dan 3 kelurahan. Kecamatan yang sudah terbentuk kelurahan adalah Kecamatan Tomoni, Kecamatan malili dan Kecamatan Nuha. Berikut adalah kawasan strategis yang ada pada wilayah Luwu Timur.
64
Gambar 4.1 : Peta Luwu Timur (Sumber : Statistik Potensi Desa Kabupaten Luwu Timur 2018)
Kecamatan Nuha sendiri berada di wilayah utara Kabupaten Luwu Timur. Berdasarkan sejarah dan riwayat hukumnya, kecamatan ini sudah terbentuk sejak masih tergabung dengan Kabupaten Luwu Utara, kemudian pada tahun 2003 ketika Kabupaten Luwu Timur dibentuk, kecamatan ini termasuk kedalam wilayah Kabupaten Luwu Timur. Mulanya, kecamatan ini merupakan gabungan dari Kecamatan Wasuponda, Kecamatan Towuti dan Kecamatan Nuha sendiri. Kecamatan Nuha terdiri dari empat desa dan satu kelurahan, yaitu Desa Sorowako, Desa Matano, Desa Nuha, Desa Nikkel dan Kelurahan Magani. Kecamatan ini berbatasan dengan kecamatan/provinsi sebagai berikut:
65 Sebelah Timur : Kecamatan Towuti Sebelah Barat : Kecamatan Wasuponda Sebelah Selatan : Kecamatan Towuti Sebelah Utara : Provinsi Sulawesi Tengah
Tepatnya, letak astronomis Kecamatan Nuha berada pada 2 18’ 00” – 2 39’ 00” Lintang Selatan dan 121 3’ 00” - 121 34’ 30” Bujur Timur dengan luas wilayah 808,27 km2. Luasan tersebut membawa kecamatan ini menempati urutan kelima kecamatan terluas dari sebelas kecamatan di Kabupaten Luwu Timur dengan persentase sebesar 11,64 persen. Untuk luasan masing-masing desa dan kelurahan, dapat dilihat di Gambar 1 berikut :
Gambar 1. Persentase Luas Desa/Kelurahan terhadap Luas Kecamatan Nuha (Sumber : Kecamatan Nuha dalam Angka 2019)
Seperti yang tertera di Gambar 1, Desa Matano adalah desa terluas di Kecamatan Nuha, dengan luas 242 km2 sementara desa terkecil adalah Desa
30%
11%
22%
12%
25% matano
nuha sorowako nikel magani
66
Nuha dengan luas wilayah 86 km2. Topografi wilayah Kecamatan Nuha sebagian besar merupakan perbukitan. Terdapat dua sungai yang melintasi kecamatan ini, yaitu Sungai Landangi dan Sungai Angka’uno. Kedua sungai tersebut melintasi Desa Matano.Kecamatan Nuha memiliki ikon kecamatan, yakni Danau Matano. Danau tersebut merupakan danau terdalam se-Asia Tenggara, kedalamannya mencapai 589 meter dan luasnya 16.408 hektar dengan sumbu memanjang 28 km arah timur barat. Posisi dasar danau ini sangat khas karena letaknya lebih rendah dari permukaan laut. Danau Matano menjadi salah satu ciri khas Kabupaten Luwu Timur. Diperkirakan terbentuknya danau ini memakan waktu empat juta tahun dengan volume air mencapai 43 km3 dan daerah aliran sungai seluas 448 km2. Air yang mengalir dari Danau Matano mengalir ke Danau Mahalona kemudian ke Danau Towuti dan Selanjutnya mengalir ke Sungai Larona hingga akhirnya bermuara di Teluk Bone.
Gambar 2. Profil Danau Matano (Sumber : Kecamatan Nuha dalam Angka 2019) Sorowako secara geografis terletak dibagian selatan garis khatulistiwa 2018’00” – 2039’00” Bujur Timur dan diantara 121030’0” - 121034’30” Lintang
67
Selatan. Secara singkat dapat dijelaskan Sorowako mempunyai batas-batas administrasi sebagai berikut :
Sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah
Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Towuti
Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Towuti
Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Wasuponda23
Sorowako mempunyai luas wilayah daratan 808,27 km, luas wilayah perairan 56.100 ha yang merupakan kawasan pembangkit tenaga listrik. Kondisi topografi wilayah pusat Sorowako pada umunya pegunungan dan berbukit.
Sorowako terdapat 3 buah Danau yang terkenal yaitu Danau Matano lokasi Sorowako berada persis di pinggiran Danau tersebut, Danau Mahalona dan Danau Towuti. Ketiga Danau tersebut dihubungkan oleh sungai Larona dan bermuara di Malili Ibukota Kabupaten Luwu Timur.
Sorowako termasuk dalam Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Berada di ketinggian ± 1388 kaki dari permukaan laut. Sorowako berjarak 500 km dari Makassar (Ibu Kota Sulawesi Selatan). Desa di sekitar Sorowako yang termasuk dalam Kecamatan Nuha adalah: Desa Nuha, Desa Matano, Kelurahan Magani, dan dusun disekitarnya antara lain: Pontada, Salonsa, Old Camp, Lawewu, Tapulemo, Sorowako, Tambeha, Otuno, Helai, Lamoare, Sumasang, Tapuondau.
C. Administrasi pemerintahan
68
Wilayah administrasi kecamatan nuha terdiri dari desa/kelurahan, wilayah administrasi kecamatan dusun/lingkungan, dan rukun tetangga sebagai tingkat terkecil. Sampai dusun/lingkungan, dan dengan tahun 2018 wilayah administrasi kecamatan nuha terbagi atas 1 201 kelurahan dan 4 desa, 3 lingkungan dan 15 dusun, dengan 60 rt. Secara lebih kelurahan dan rinci, pembagian wilayah administrasi kecamatan nuha dapat dilihat pada rinci, pembagian wilayah administrasi kecamatan nuha dapat dilihat pada bagan di gambar 3 berikut.
Gambar 3. Susunan Administrasi Kecamatan Nuha Tahun 2018 (Sumber : Kecamatan Nuha dalam Angka 2019).
Untuk personil Polri yang siap melayani masyarakat di Kecamatan Nuha, Untuk personil Polri yang siap melayani masyarakat di Kecamatan Nuha, terdapat 23 orang personil. Jumlah tersebut telah berhasil menyelesaikan 52 orang personil.
Jumlah tersebut telah berhasil menyelesaikan kasus perkara pidana dari total 74
69 laki-
laki 12%
perem puan 88%
JENIS KELAMIN
8%
53% 38%
1%
TINGKAT PENDIDIKAN
SLTA D-IV S1 S2 1% 12%
78%
9%
GOLONGAN
Gol I Gol II Gol III Gol IV
perkara pidana yang diterima pada tahun kasus perkara pidana dari total 2018.
Sementara untuk jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kecamatan Nuha. Sementara untuk jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kecamatan Nuha, terdapat 14 orang PNS yang bertugas di Kantor Kecamatan Nuha, 64 orang PNS terdapat 14 orang PNS yang bertugas di Kantor Kecamatan Nuha, di Puskesmas Nuha, 6 orang PNS di BP3K Kecamatan Nuha dan 7 orang PNS di di Puskesmas Nuha, Kantor Kelurahan Magani. Dengan demikian, total keseluruhan PNS adalah 90 Kantor Kelurahan Magani. Dengan demik orang. Distribusi berdasarkan jenis kelamin, golongan dan tingkat pendidikan orang.
Gambar 4. Distribusi PNS menurut Jenis Kelamin, Tingkat Pendidikan dan Golongan (Sumber : Kecamatan Nuha dalam Angka 2019)
70
Informasi lebih rinci mengenai Gambar 4, di Kecamatan Nuha terdapat 80 Informasi lebih rinci mengenai Gambar 4 di Kecamatan Nuha terdapat PNS perempuan dan 11 PNS laki-laki. Apabila dilihat dari golongannya, PNS di PNS perempuan dan 1 Kecamatan Nuha terdiri dari 1 PNS golongan I, 11 PNS golongan II, 71 PNS Kecamatan Nuha terdiri dari golongan III dan 8 PNS golongan IV. Sementara berdasarkan tingkat pendidikan, PNS di Kecamatan Nuha terdiri dari 7 orang lulusan SLTA/Sederajat, 35 orang lulusan Diploma I- IV, 48 orang lulusan S1 dan 1 orang lulusan S2.
D. Keadaan Penduduk
Berdasarkan data yang tercatat di desa dan kecamatan, jumlah penduduk di Kecamatan Nuha tahun 2018 mencapai 24.054 jiwa, dengan rincian penduduk laki-laki sebanyak 12.159 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 11.895 jiwa.
Jumah tersebut menurun apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk tahun 2016 yang sebesar 24.544 jiwa.
Komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin dapat diketahui dari angka rasio jenis kelamin (sex ratio). Sex ratio merupakan nilai perbandingan merupakan nilai perbandingan penduduk laki-laki terhadap penduduk perempuan di suatu wilayah. Nilai laki terhadap penduduk perempuan di suatu wilayah. Nilai sex ratio yang lebih besar dari 100 mencerminkan bahwa jumlah penduduk laki- laki yang lebih besar dari 100 mencerminkan lebih besar dibandingkan penduduk perempuan, sebaliknya nilai sex ratio di lebih besar dibandingkan penduduk
71
perempuan, sebaliknya nilai sex ratio di bawah 100 mencerminkan bahwa di wilayah tersebut jumlah penduduk bawah 100 mencerminkan bahwa di wilayah tersebut jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk laki-laki. Sex Ratio perempuan lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk laki Kecamatan Nuha tahun 2018 adalah 102,22. Sementara apabila dirinci per Kecamatan Nuha tahun 201 desa/kelurahan, Desa Sorowako dan Nuha jumlah penduduk perempuannya desa/kelurahan, Desa Sorowako dan Nuha jumlah lebih banyak dari jumlah penduduk laki-laki, sedangkan di Desa Nikkel, Matano lebih banyak dari jumlah penduduk laki dan Kelurahan Magani, jumlah penduduk laki-lakinya lebih banyak dan Kelurahan Magani, jumlah penduduk laki dibandingkan jumlah penduduk perempuannya. dibandingkan jumlah penduduk perempuannya. Indikator penting untuk melihat persebaran penduduk adalah rasio kepadatan penduduk (density ratio), yang sangat erat kaitannya dengan daya dukung (carrying capacity) suatu wilayah. Tingkat kepadatan penduduk merupakan rasio yang menyatakan perbandingan antara banyaknya penduduk terhadap luas wilayah. Diantara empat desa dan satu kelurahan yang terdapat di Kecamatan Nuha, Desa Sorowako dan Desa Nikkel merupakan desa yang paling padat penduduknya, yakni sekitar 51 hingga 56 orang/km2, kepadatan di dua desa tersebut dipengaruhi oleh keberadaan perusahaan tambang PT. Vale Indonesia, fasilitas pendidikan dan fasilitas kesehatan. Sementara desa dengan kepadatan penduduk terkecil adalah Desa Matano dan Desa Nuha, karena
72 0
2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000
sorowako nikkel magani matano nuha
jumlah kepadatan penduduk
kepadatan (jiwa/km²) jumlah (jiwa)
dua desa tersebut berlokasi di seberang Danau Matano, sehingga masih sedikit penduduk yang menetap di desa tersebut.
Gambar 5. Jumlah kepadatan penduduk menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan Nuha tahun 2018 (Sumber : Kecamatan Nuha dalam Angka 2019)
E. Keadaan Pendidikan
Pembangunan di bidang pendidikan memiliki peranan penting dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Untuk meningkatkan mutu pendidikan, berbagai program telah dilaksanakan oleh pemerintah, baik dari segi peningkatan mutu tenaga pendidik maupun peningkatan sarana dan prasarana pendidikan. Dalam rangka penyelenggaraan pendidikan usia dini di Kecamatan Nuha, terdapat 9 sekolah Taman Kanak-kanak (TK) yang terdiri dari 1 TK Negeri dan 8 TK Swasta. Jumlah Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Nuha pada tahun 2018 berjumlah 10 sekolah yang terdiri dari 6 SD Negeri dan 4 SD Swasta.
73
Dilihat dari persebarannya, tiap desa memiliki satu hingga dua SD, sementara di Desa Sorowako terdapat 4 SD. Selain SD, terdapat pula Madrasah Ibtidaiyah (MI) Swasta di Desa Nikkel. Jumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kecamatan Nuha tercatat sebanyak 5 sekolah yang terdiri dari 3 SMP Negeri dan 2 SMP Swasta. Sekolahsekolah tersebut tersebar merata di seluruh desa dan kelurahan di Kecamatan Nuha. Adapun jumlah SMA/SMK di Kecamatan Nuha tercatat sebanyak 4 sekolah yang terdiri dari 1 SMA Negeri di Desa Sorowako, 2 SMA Swasta dan 1 SMK Swasta di Kelurahan Magani. Untuk jenjang pendidikan perguruan tinggi, Akademi Teknik Sorowako (ATS) merupakan satu-satunya perguruan tinggi yang ada di Kecamatan Nuha dengan jumlah mahasiswa pada tahun 2018 mencapai 296 orang. Sementara itu, jumlah dosennya sebanyak 43 orang (Kecamatan Nuha dalam Angka 2019).
F. Kesehatan
Pembangunan di bidang kesehatan dilakukan dalam rangka peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang diantaranya dapat dilihat dari meningkatnya kualitas hidup dan bertambahnya usia harapan hidup masyarakat itu sendiri. Saran kesehatan di Kecamatan Nuha meliputi Rumah Sakit (RS), Puskesmas/Pustu, Poskesdes, Posyandu, Praktik Dokter/Bidan. Satusatunya rumah sakit yang berada di Kecamatan Nuha terletak di Desa Sorowako. Terdapat satu Puskesmas/Pustu di Desa Nikkel, 8 Poskesdes yang tersebar di seluruh desa/kelurahan, dan 4 praktik dokter/bidan. Strategi pelayanan kesehatan dasar masyarakat dengan fokus khusus pada ibu dan anak dapat dilakukan pada