• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Fokus Penelitian

Adapun yang menjadi fokus penelitian ini adalah:

a. Implemntasi nilai-nilai islam b. Kebersihan lingkungan D. Deskripsi Fokus Penelitian.

Adapun yang menjadi deskripsi fokus penelitian ini adalah : a. Implementasi Nilai-nilai islam

Nilai adalah suatu tumpuan norma-norma yang dipegang oleh manusia sebagai makhluk individual dan sebagai makhluk sosial. islam sebagai sistem nilai-nilai yang terangkum dalam kemasan akhlak, puncak dari penilaian-nilaian

25 Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif Teori & Pratik, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2013), hlm. 112.

26 Jasa Ungguh Muliawan, Metodelogi Penelitian Pendidikan ; Dengan Studi Kasus, (Yogyakarta: Gava Media, 2014), hlm. 85.

islam adalah al-akhlak al –karimah ( akhalak yang mulia). Sistem nilai yang terkemas dalam nilai akidah, nilai sosial, dan nilai akhlak.

b. Kebersihan Lingkungan

Bersih secara konkrit adalah kebersihan dari kotoran atau sesuatu yang dinilai kotor. Kebersihan tersebut meliputi kebersihan badan, pakaian, rumah, halaman, kendaraan, dan lain-lain. Hal ini demi mencegah pencemaran lingkungan dan timbulnya berbagai macam penyakit.

E. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. Baik yang berupa benda nyata, sesuatu yang abstark, peristiwa/

gejala.27 Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Data Primer yaitu data yang langsung diperoleh peneliti pada saat penelitian atau berlangsung. Sumber data primer pada penelitian ini adalah : masyarakat, pemerintah, petugas kesehatan setempat.

b. Data Sekunder yaitu Sumber data yang diperoleh atau dikumpulkan dari buku dan majalah ilmiah referensi yang telah ada. Data sekunder yang dimaksud peneliti yang ini adalah data yang untuk melengkapi dan mendukung sumber data primer digunakan sumber data tambahan yang berupa buku atau catatan, majalah ilmiah, dokumen, surat kabar dan sebagainya. Dalam hal ini data sekunder yang digunakan adalah beberapa buku-buku, dokumen dari internet.28

27 Sukaandarrumidi, Metodologi Penelitian ; Petunjuk Praktis Untuk Peneliti Pemula,

(yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 2012), hlm. 44.

2828

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), hlm. 172.

F. Instrumen Penelitian

Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai pengumpul data utama, hal ini dilakukan karena peneliti memahami kaitan kenyataan- kenyataan di lapangan seperti interaksi antar objek dan subjek. Peneliti sebagai perencana, pelaksana, menganalisis, menafsirkan hingga pelaporan hasil penelitian. Penelitian juga menggunakan instrumen bantuan seperti daftar catatan dan alat tulis.

a. Pedoman Observasi

Pedoman observasi Yaitu berupa teknik yang digunakan sebagai pencatat dalam melaksanakan observasi baik secara langsung maupun tidak langsung.

Berdasarkan keterangan di atas teknik observasi sangat sederhana tidak membutuhkan biaya yang terlalu besar. Berhubungan dengan penelitian penulis, observasi ini merupakan langkah awal untuk mendapatkan informasi tentang apa yang akan diteliti.

b. Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara yaitu pengumpulan data dengan melakukan Tanya jawab langsung dengan para informan. Pedoman tersebut berisi sejumlah pertanyaan menyangkut masalah yang diteliti dalam proposal ini. Menurut Surya:

“Metode wawancara adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan secara langsung dengan mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan pada para informan dan kegiatannya dilakukan secara langsung”. Adapun alat yang digunakan dalam wawancara seperti buku tulis/catatan, pensil, pulpen.

c. Catatan Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Metode tersebut digunakan untuk mendapatkan sumber data yang berkaitan dengan penelitian seperti latar belakang berdirinya remaja masjid, aktivitas remaja masjid pada umumnya dan remaja pada khususnya.

G. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:

1. Observasi

Observasi penelitian adalah metode penelitian yang me ggunakan cara pengamatan terhadap objek yang menjadi pusat perhatian penelitian. Metode observasi umumnya di tujukan untuk jenis penelitian yang brusaha memberikan gambaran mengenai peristiwa apa yang terjadi di lapangan. Atau dengan kata lain, observasi adalah mengadakan pengamatan secara langsung maupun tidak langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang di lakukan.

Dalam penelitian ini menggunakan metode observasi yaitu di lakukan dengan cara melakukan pengamatan secara langsung terhadap penomena yang akan di teliti.

Dimana dilakukan pengamatan atau pemusatan perhatian perhatian terhadap objek yang akan di gunakan untuk mengetahui bagaimana Pengimplementasian Nilai- Nilai Islam Terhadap Kebersihan Lingkungan di Desa Bululoe Kecamatan Turatea Kabupaten Jeneponto.

2. Wawancara

Wawancara adalah suatu percakapan yang diarahkan pada suatu masalah tertentu dan merupakan proses tanya jawab lisan dimana dua orang atau lebih berhadapan secara fisik. Metode ini digunakan untuk menggali data yang berkaitan dengan Pola Penerapan nilai-nilai islam terhadap kebersihan lingkungan masyarakat menjadi sumber informasi dan juga yang akan diwawancarai adalah:

a. Masyarakat dan Tokoh Agama desa untuk mendapatkan keterangan mengenai Pola atau tata cara penerapan nilai-nilai Islam tentang lingkngan di Desa Bululoe Kecamatan Turatea Kabupaten Jeneponto.

b. Pemerintah , untuk mendapatkan informasi mengenai program-program yang dilakukan untuk menanggulangi dampak dari pencemaran lingkungan Desa Bululoe Kecamatan Turatea Kabupaten Jeneponto.

3. Dokumentasi

Dokumentasi dari asal katanya dokumen, yang artinya barang-barang tertulis, di dalam melaksanakan Metode dokumentasi peneliti menyelidiki dengan mencari data mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda dan sebagainya.

a. Dokumentasi dilakukan untuk mendapatkan data tambahan sehingga diperoleh diskripsi yang komprehensif. Dalam penelitian ini dokumentasi dilakukan dengan cara mengumpulkan data-data tertulis yang ada di Desa Bululoe Kecamatan Turatea Kabupaten Jeneponto.

H. Teknik Analisis Data

Setelah proses pengumpulan data dilakukan terutama wawancara, proses selanjutnya adalah melakukan analisis data. Analisis atau penafsiran data merupakan proses mencari dan menyusun atur secara sistematis catatan temuan penelitian melalui pengamatan dan wawancara dan lainnya untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang fokus yang dikaji dan menjadikannya sebagai temuan untuk orang lain, mengedit, mengklasifikasi, mereduksi, dan menyajikannya.

Menurut Lexy Analisis data merupakan proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya kedalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar.

Metode analisis data yang digunakan adalah menggunakan analisis deskriptif, yaitu suatu model yang digunakan untuk memecahkan atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang.

Untuk menghasilkan kesimpulan maka analisis data merupakan langkah untuk mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Pengumpulan Data

Peneliti mencatat semua data objektif dan apa adanya sesuai dengan hasil observasi dan wawancara di Lapangan.

2. Reduksi Data (Data Reduction)

Reduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok memfokuskan pada hal-hal penting, kemudian dicari tema dan polanya. Sehingga dapat memberikan gambaran secara jelas dan dapat mempermudah peneliti untuk mengumpulkan data berikutnya, yaitu mengenai Implementasi nilai-nilai islam terhadap kebersihan lingkungan yang dikumpulkan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi untuk kemudian dijadikan rangkuman.

3. Penyajian Data (Data Display)

Penyajian adalah suatu cara merangkai data dalam suatu organisasi yang memudahkan untuk membuat kesimpulan/ tindakan yang diusulkan.

4. Penarikan Kesimpulan atau verifikasi (Conclusion Drawing / verification) Langkah keempat yaitu penarikan kesimpulan dan verifikasi, kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. Dalam pengambilan keputusan didasarkan pada reduksi data dan penyajian data yang merupakan jawaban atas masalah yang diangkat dalam penelitian.

36 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Peneltian 1. Sejarah Berdirinya Desa Bululoe

Sejarah mencatat bahwa Desa Bululoe berdiri pada tahun 1979, menjadi desa persiapan yang dikelolah oleh Karaeng Gassing. Sekretaris desa yaitu Daeng Ranca, dan terjadinya desa finitip pada tahun 1982. Sejarah nama Desa Bululoe yaitu berasal dari bahasa makassar dari kata Bulu‟ yang berarti gunung dan Loe berarti banyak. Jadi arti dari kata bululoe yaitu banyaknya gunung yang mengitari desa tersebut, hal ini menandakan bahwa desa bululoe terletak di bawah lembah pegunungan.29

2. Letak Geografis dan Iklim

Kabupaten Jeneponto adalah daerah yang curah hujannya sangat minim termasuk di wilayah Desa Bululoe. Musim hujan pada umumnya terjadi pada bulan November sampai dengan bulan April, sedangkan mkusim kemarau terjadi pada bulan Mei sampai bulan Oktober. Berdasarkan dari stasiun pengamat iklim pakkaterang, Desa Bululoe setahun terakhir ini (2006) jumlah curah hujan adalah 1.531 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak ±71 hari, suhu maksimum di Daerah ini adalah 35°c dan suhu minimum 29°c. Desa Bululoe berada pada ketinggian antara 500 m -900 m di atas permukaan laut, dengan keadaan topografi bergelombang sampai berbukit. Jarak ke ibukota Kecamatan 15.500 km dan jarak

29 H. Suardi.S.Pd.I Narasumber Sejarah di Desa Bululoe Kecamatan Turatea Kabupaten Jeneponto. Hasil wawancara peneliti pada tanggal 20 juni 2020.

ke kota Kabupaten 15.80 km. Kelurahan/Desa Bululoe memiliki 6 dusun dengan 6 RW (rukun warga) dari 30 RT (rukun tetangga).

Perjalanan menuju Desa Bululoe, harus melalui perjalanan dari Kabupaten Gowa sampai ke Kabupaten Takalar, setelah sampai di Kabupaten Takalar masuk perbatasan antara Takalar dan Jeneponto, perjalanan memasuki kecamatan Bangkala terdapat sederetan penjual lammang yang berjejeran dipinggir jalan, kemudian perjalanan berlanjut sekitar lima kilo meter dengan melewati penjual garam yang berjejeran dipinggir jalan dan lalu memasuki Kelurahan Boyong Kecamatan Tamalatea yang terdapat barisan warung-warung dan tempat wisata yang bisa dijadikan tempat beristirahat. Melewati tempat beristirahat tersebut lanjut perjalanan dengan melewati perjalanan sekitar 10 km sebelum kota Jeneponto sampai di pertigaan Desa Bungung Lompoa belok kiri dengan melewati beberapa Desa. Jarak Desa Bululoe ke ibukota Kecamatan 15.50 km dan jarak ke kota Kabupaten 15.80 km.

Desa Bululoe adalah salah satu Desa yang ada di Kecamatan Turatea yang termasuk wilayah Kabupaten Jeneponto. Wilayah Desa Bululoe yaitu sebagai berikut:

a. Sebelah utara berbatasan dengan Desa Parannakeng b. Sebelah Timur berbatasan dengan gunung Bontoa c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Manngepong d. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Datara

3. Keadaan Demografis a. Jumlah Penduduk

Berdasarkan data sekunder tahun 2016 yang diperoleh dari kantor Desa Bululoe, jumlah penduduk berjumlah 3.225 jiwa, terdiri dari 1.433 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 1.822 jiwa, berjenis kelamin perempuan. Desa Bululoe yang terdiri dari 6 dusun dan pertumbuhan penduduk cenderung meningkat untuk setiap tahunnya.

b. Jenis Penduduk

Adapun distribusi penduduk berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini:

Tabel 4.1

Distribusi jumlah penduduk berdasrkan jenis kelamin di Desa Bululoe

No Dusun Laki-Laki Perempuan Jumlah

1 2 3 4 5 6

Pangkajene Bontobiraeng Kampung beru Punagayya selatan Punagayya induk Palambuta

272 175 149 248 233 356

385 235 204 338 254 406

657 410 353 586 487 762

Jumlah 1433 1822 3255

Sumber Data: Kantor Desa Bululoe Tahun 2020.

Berdasrkan tabel 4.1 bahwa jumlah penduduk yang paling banyak terletak di Dusun Palambuta berjumlah 762 jiwa, Dusun Pangkajene berjumlah 657 jiwa, Dusun Punagayya Induk berjumlah 487 jiwa, Dusun Bontobiraeng berjumlah 410

jiwa, Dusun Punagayya Selatan berjumlah 586 jiwa, dan Dususn Kampung beru berjumlah 353 jiwa. Adapun apabila dilihat secara keseluruhan jumlah jiwa laki- laki dan perempuan berbeda sedikit dari segi jumlah, namun lebih banyak jumlah perempuan dibandingkan jumlah laki-laki.

c. Pendidikan

Adapun distribusi penduduk berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.2

Distribusi Jumlah Penduduk Berdasrkan Tingkat Pendidikan di Desa Bululoe

No Tngkat Pendidikan Jumlah

1 2 3 4 5 6 7

Pasca sarjana (S2,S3) Sarjana (S1)

Diploma (D1,D2,D3) SLTA/ sederajat SMP/ sederajat SD/ sederajat Tidak Sekolah

9 35 20 614 625 985 967

Jumlah 3255

Sumber data : Kantor Desa Bululoe Tahun 2020.

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan yang mendominasi di Desa bululoe yaitu penduduk dengan tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD) yaitu sebanyak 985 jiwa, pendidikan yang memiliki tamatan pendidkan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yaitu sebanyak 625 jiwa, penduduk yang memilikan tamatan pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) yaitu

sebanyak 641 jiwa, penduduk yang memiliki tamatan pendidikan Diploma (D1, D2, dan D3) yaiyu sebanyak 20 jiwa, penduduk yang memiliki tamatan pendidikan sarjana (S1) yaitu sebanyak 35 jiwa, sedangkan penduduk yang memiliki tamatan pendidikan pascasarjana (S2 dan S3) sebanyak 9 jiwa. Hal ini berarti, untuk tingkat pendidikan di daerah tersebut sudah cukup baik namun perlu adanya perthatian yang lebih dari pemerintah.

d. Mata Pencaharian

Penduduk Adapun sumber mata pencaharian utama masyarakat Desa Bululoe adalah petani jagung dan padi, mata pencaharian lainnya adalah wiraswasta, PNS, buruh tani, sopir, dan tukang ojek. Masyarakat lainnya juga memilih bekerja sebagai peternak sapi, kuda, kambing, itik, dan ayam petelur untuk bertahan hidup.

Tabel 4.3

Distribusi Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian di Desa Bululoe

No Jenis Mata Pencaharian Jumlah

1 2 3 4 5 6 7

Petani Pensiunan Tukang ojek Sopir

PNS

Tukang Batu Buruh Ternak

378 9 25

9 15

9 2

Jumlah 448

Sumber Data : Kantor Desa Bululoe Tahun 2020.

e. Sarana dan Prasarana Desa

Keberhasilan suatu daerah tidak hanya dilihat dari segi sumber daya manusia akan tetapi keberhasilan suatu daerah tidak terlepas dari sarana dan prasarana pendukung yang memadai. Ketersediaan sarana dan prasarana sangat erat kaitannya dengan aktivitas keseharian masyarakat seperti sekolah, transportasi, rumah ibadah, sarana kesehatan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.4 dibawah ini:

Tabel 4.4

Distribusi sarana dan prasarana di Desa Bululoe

No Jenis Jumlah

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Kantor Desa TK/Paud SD SMP SMA Puskesmas Posyandu Pasar

Masjid/Mushollah Lapangan Sepak Bola

1 Unit 5 Unit 3 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 6 Unit 1 Unit 7 Unit 1 Unit

Jumlah 24

Sumber Data: Kantor Desa Bululoe Tahun 2020.

Berdasrkan tabel diatas menunjukkan bahwa sarana dan prsarana di Desa Bululoe Kecamatan Turatea Kabupaten Jeneponto sudah cukup memadai. Ini

terlihat dari keterpenuhan sarana dan prsarana yang menunjang keberlangsungan aktivitas masyarakat.

B. Kebersihan Lingkungan di Desa Bululoe Kecamatan Turatea Kabupaten Jeneponto

Kebersihan lingkungan adalah keadaan bebas dari kotoran , menciptakan lingkungan yang sehat sehingga tidak mudah terserang berbagai penyakit seperti demam berdarah, muntaber dan lainnya. Ini dapat dicapai dengan menciptakan suatu lingkungan yang bersih dan nyaman. Untuk mengoptimalkan Kebersihan Lingkungan Di Desa Bululoe Kecamatan Turatea Kabupaten Jeneponto pemerintah harus memberikan sarana dan prasarana yang memadai, sarana dan prasarana adapun contoh sarana dan prasarana adalah memberikan pengarahan kepada masyarakat, dan mobilitas atau alat yang digunakan, seperti mobilitas pengangkut sampah, bank sampah desa. Hal ini sesuai dengan ungkapan bapak H. Mantariso S.Pd. selaku Kepala Desa:

“Kebersihan lingkungan di desa bululoe Kebersihan Lingkungan Di Desa Bululoe Kecamatan Turatea Kabupaten Jeneponto belum maksimal sesuai apa yang diharapkan karena belum lengkap sarana dan prasarana.”30

Peneliti juga mewawancarai bapak Mashabta, A.Ma selaku Imam Desa Bululoe dengan hasil wawancara sebagai berikut:

“Kebersihan lingkungan desa bululoe ada perubahan, tertata lebih baik, desa lebih bersih. Akan tetapi masih ada masyarakat yang mengotori sungai, membuang sampah pada sungai.”31

30 H. Mantariso S.Pd. (wawancara langsung, 20-06- 2020)

31 Mashabta. A.Ma ( wawancara langsung, 20-06- 2020)

Dari wawancara di atas dapat penulis simpulkan bahwa masih rendahnya kesadaran membuang sampah pada tempatnya karena belum tersedianya mobilitas pembungan sampah. Dalam menjaga kebersihan lingkungan masyarakat dan pemerintah harus memiliki kesadaran tentang kebersihan, membuang sampah pada sembarang tempat akan menyebabkan berbagai penyakit, meninggalkan kesan yang tidak rapi, asri, tidak ada unsur keindahan,

Hal serupa juga diungkapkan oleh Permata Ayu selaku masyarakat Desa Bululoe juga mengungkapkan bahwa:

“Kebersihan lingkungan desa bululoe masih banyak masyarakat yang sadar akan kebersihan dan ada yang belum sadar, diantaranya masih banyak yang membuang sampah di sembarang tempat, membuang sampah disungai,Tidak menyediakan bak sampah dibelakang rumah, tidak memisahkan barang organik dan anorganik. Sebagaian masyarakat perlu disadarkan akan kebersihan”32

Kebersihan lingkungan dimulai dari lingkungan rumah dan tempat kita bekerja. Untuk kebersihan lingkungan disekitar rumah. Sampah yang dihasilkan rumah tangga seharusnya kita menjadi pilah jadi tiga, sampah organik,sampah non organik, dan sampah kaca.

Hal tersebut juga diugkapkan oleh ibu Jumrah S.Pd. selaku masyarakat Desa Bululoe :

“Kebersihan lingkungan desa Bululoe ada perubahan. Mengalami perkembangan walaupun masih ada masyarakat yang masih bandel, keluhan masyarakat rata-rata sama yaitu belum ada tempat sampah umum, sehingga masyarakat masih membuang sampah di pinggiran sungai.”33

32 Permata Ayu masyarakat desa bululoe ( wawancara langsung, 20-06- 2020)

33Jumrah S.Pd. masyarakat desa bululoe ( wawancara langsung, 20-06- 2020)

Hal serupa juga diungkapkan oleh bapak H. Lahoddin selaku sekretaris desa bululoe bahwa:

“Kebersihan lingkungan Sudah baik, akan tetapi sebagian masyarakat sudah mengaplikasikan kebersihan dan masih ada yang belum mengaplikasikan, dengan membuang sampah tidak pada tempatnya, mengotori tempat umum.”34

Bapak H. Nurdin saeni selaku masyarakat desa bululoe juga mengungkapkan bahwa:

“Kebersihan lingkungan didesa bululoe saya rasa sudah ada peningkatan, bangunan lebih tertata rapi, asri, walaupun masyarakat masih banyak membuang sampah di pinggiran sungai.”35

Dalam ajaran agama Islam juga diajarkan mengenai kebersihan lingkungan, kebersihan tersebut meliputi kebersihan rumah,sumber air, jalanan atau tempat umum. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi muhammad Saw. Yaitu kebersihan adalah sebagian dari pada iman. Salah satu aspek kehidupan yang menjadi perhatian islam adalah dan kebersihan lingkungan penting dalam kelangsungan hidup makhluk Allah dibumuka bumi. Berdasarkan ajaran islam, rumah yang suci adalah rumah yang terawat, bersih, dan lingkungan sekitar yang bersih.

Dari beberapa pendapat diatas dapat diketahui bahwa kebersihan lingkungan di Desa Bululoe Kecamatan Turatea Kabupaten Jeneponto sudah ada perubahan namun tidak signifikan, karena masih ada sebagaian masyarakat yang

34 H.Lahoddin Sekretaris Desa ( wawancara langsung, 20-06- 2020)

35 H. Nurdin Saeni Masyarakat Desa Bululoe ( wawancara daring, 23-06- 2020 )

kurang faham atau belum sepenuhnya sadar terkait kebersihan lingkungan dan karena kurangnya sarana dan prasarana, contoh sarana dan prasarana yaitu mobilitas sampah, dan tempat sampah yang digunakan untuk menunjang kebersihan lingkungan.

C. Bentuk Implementasi Nilai-Nilai Islam Terhadap Kebersihan Lingkungan di Desa Bululoe Kecamatan Turatea Kabupaten Jeneponto.

Setelah penulis menyampaikan pendekatan teoritis yang telah dijelaskan pada bab II dan bab III. Bagian bab ini menjelaskan hasil-hasil data lapangan yang didapatkan dari penelitian dan mendiskusikan secara mendalam dengan membandingkan tinjauan teoritis.

Data yang diperoleh melalui wawancara terhadap masyarakat, pemerintah, dan tokoh agama di Desa Bululoe Kecamatan Turatea Kabupaten Jeneponto, maka dapat diketahui bahwa ada tiga nilai-nilai islam yang diimplementasikan yaitu:

a. Nilai akidah, akidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara Pasti dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu.

Dalam hal ini akidah berupa keyakian kebersihan sebagaian daripada iman.

Hal tersebut diungkapkan oleh bapak H.Mantariso S.Pd selaku kepala desa bululoe:

“Bentuk implementasi nya yaitu jumat bersih, remaja mesjid membersihkan masjid, mengadakan kerja bakti, karang taruna mengadakan penanaman pohon, ibu-ibu PKK mengadakan kerja bakti dengan mengaplikasikan nilai- nilai islam yaitu kebersihan sebagaian dari iman.”36

36 H. Mantariso S.Pd. Kepala Desa Bululoe ( wawancara langsung, 20 -6-2020).

Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa nilai akidah dalam Implementasi Nilai-Nilai Islam Terhadap Kebersihan Lingkungan Di Desa Bululoe Kecamatan Turatea Kabupaten Jeneponto berupa keyakinan yang tertanam disebagian masyarakat yaitu mempercayai bahwa kebersihan sebagian dari pada iman karena apabila iman dapat dipilah dan dibagi, maka porsi keberssihan dalam keimanan adalah setara dengan setengahnya dari keimanan.

Hal ini menunjukkan betapa kebersihan merupakan bagian yang sangat mendasar dalam keimanan seseorang. Hal ini dapat dilihat dari berbagai kegiatan yang dilakukan masyarakat di Desa Bululoe Kecamatan Turatea Kabupaten Jeneponto yaitu salah satunya dengan kegiatan jumat bersih.

b. Nilai sosial, dalam islam yaitu berberilaku baik kepada sesama, dalam artian membantu orang yang dalam kesusahan,

Ibu Jumrah S.Pd selaku masyarakat desa bululoe mengungkapkan bahwa:

“ Bentuk implementasinya yaitu kerja bakti oleh ibu-ibu PKK, dan saya terlibat langsung dalam kegiatan tersebut, karena saya selaku sekretaris PKK.” 37

Hal serupa juga diungkapkan oleh Bapak H.lahoddin selaku sekretaris desa bululoe mengungkapkan bahwa:

“Pengaplikasiannya yaitu lebih kepada ibu pkk yang bekerja bakti, masyarakat sekali-kali juga melakukan jumat bersih membantu remaja masjid.kemudian baru-baru ini masyarakat bersama pemerintah melakukan fogging atau penyemprotan di setoap dusun guna menghindari penyebaran virus covid-19”38

37 Jumrah.S.Pd. Masyarakat Desa Bululoe ( wawancara langsung, 20-06- 2020 )

38 H.Lahoddin Sekretaris Desa ( wawancara langsung, 20-06- 2020)

Hal ini juga diperkuat oleh hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti bahwa masyarakat melakukan kegiatan sosial dengan penyemprotan disenfektan untuk penanggulangan pandemi covid -19.

Bapak H. Nurdin saeni selaku masyarakat desa bululoe juga mengungkapkan bahwa:

“Bentuk Implementasi dari Nilai-Nilai Islam Terhadap Kebesihan Lingkungan Di Desa Bululoe Kecamatan Turatea Kabupaten Jeneponto menurut saya yakni remaja masjid bersama masyarakat bergotong royong , melakukan jumat bersih. Semoga itu bisa ditingkatkan lagi.”39

Kemudian adapun faktor yang menghambat Implementasi Nilai-Nilai Islam terhadap Kebersihan Lingkungan di Desa Bululoe Kecamatan Turatea Kabupaten Jeneponto menurut bapak H.Mantariso S.Pd selaku kepala desa bululoe mengatakan bahwa:

“Faktor penghambat nya yaitu belum lengkapnya sarana dan prasarana di desa ini, masyarakat juga belum ada tempat sampah nya di depan setiap rumah.

insya allah bappeda merencanakan akan memperadakan mobilitas sampah.”40

dalam pelaksanaan dari bentuk Implementasi Nilai-Nilai Islam Terhadap Kebersihan Lingkungan Di Desa Bululoe Kecamatan Turatea Kabupaten Jeneponto seperti yang telah dikatakan oleh bapak h. Mantariso bahwa belum lengkapnya sarana dan prasarana. Seperti yang kita ketahui bahwa tempat sampah merupakan benda paling pentung dalam kegiatan membersihkan.

39 H. Nurdin Saeni Masyarakat Desa Bululoe ( wawancara daring, 23-06- 2020 )

40 H. Mantariso S.Pd. Kepala Desa Bululoe ( wawancara langsung, 20 -6-2020).

Dokumen terkait