BAB II TINJAUAN PUSTAKA
G. Fokus Penelitian
Pembatasan fokus Penelitian sangat penting dan berkaitan erat dengan masalah maupun data yang dikumpulkan, dimana fokus merupakan pecahan dari masalah. Agar Peneliti dapat dengan mudah dalam pencarian data, maka lebih dahulu ditetapkan fokus penelitian yang dimana fokus penelitaian saya yaitu bagaimana bentuk inovasi pelayanan sosial lanjut usia terlantar (GELIAT) ini dalam menangani lansia terlantar di Kabupaten Bulukumba tekhusus di Kecamatan Herlang dan bagaimana proses pelayanan inovasi geliat tersebut kepada masyarakat lansia di Kecamatan Herlang
Inovasi Pelayanan Sosial Lanjut Usia Melalui Program Gerakan Lanjut Usia Terlantar di
Kabupaten Bulukumba
Faktor pendukung
Terlaksananya program inovasi pelayanan yaitu geliat
Faktor penghambat INDIKATOR INOVASI
1. Keuntungan relative 2. Kesesuaian
3. Kerumitan
29
H. Deskripsi Pokus Penelitian
Menurut Rogers (Anggraeny, 2013) sebuah inovasi memiliki beberapa indikator diantaranya:
1. Keuntungan relatif
Keunggulan relatif adalah derajat dimana suatu inovasi dianggap lebih baik unggul dari yang pemah ada sebelumnya. Sebuah inovasi harus mempunyai keunggulan dan nilai lebih dibandingkan dengan inovasi sebelumnya. Selalu ada sebuah nilai kebaruan yang melekat dalam inovasi yang menjadi ciri yang membedakannya dengan yang lain. Meski berbeda namun perbedaan ini biasanya tidak terlalu signifikan. Untuk dapat mengetahui inovasi menguntungkan atau tidak pada sebuah masyarakat, bisa dilihat dari indikator-indikatomya seperti:
a) Kenyamanan, berhasil tidaknya suatu inovasi bisa diukur dari faktor kenyamanan. Lingkungan kantor yang kondusifdan pelayanan pegawai yang ramah merupakan bagian dari indikator kenyamanan.
b) Kepuasan, aspek kepuasan bisa menjadi tolak ukur dalam menilai suatu inovasi. Kemudahan mendapatkan pelayanan dan jasa merupakan bagian dari faktor kepuasan ini.
2. Kesesuaian
Kompatibel ialah tingkat kesesuaian inovasi dengan nilai (values), pengalaman lalu, dan kebutuhan dari penerima. Inovasi juga sebaiknya mempunyai sifat kompatibel atau kesesuain dengan inovasi yang digantinya. Hal ini dimaksudkan agar inovasi yang lama tidak serta merta
30
dibuang begitu saja, selain karena alasan faktor biaya yang tidak sedikit, namun juga inovasi yang lama menjadi bagian dari proses adaptasi dan proses pembelajaran terhadap inovasi itu secara lebih cepat. Dałam mengukur aspek kesesuaian, bisa diketahui dari item-item berikut:
a. Sesuai dengan kebutuhan masyarakat, inovasi yang baru harus bisa memudahkan urusan masyarakat dałam hal ini pengurusan administrasi seperti pembuatan akta kelahiran.
b. Kemudahan dałam adminsitrasi, artinya masyarkat sangat dimudahkan dałam pengurusan administrasi karena dengan inovasi ini masyarakat tidak perlu lagi ke kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil untuk mendapatkan akta kelahiran.
3. Kerumitan
Kompleksitas adalah tingkat kesukaran untuk memahami dan menggunakan inovasi bagi penerima. Dengan sifatnya yang baru, maka inovasi mempunyai tingkat kerumitan yang boleh jadi Iebih tinggi dibandingkan dengan inovasi sebelumnya. Namun demikian, karena sebuah inovasi menawarkan cara yang Iebih baru dan Iebih baik, maka tingkat kerumitan ini pada umumnya tidak menjadi masalah penting.
Untuk memahami tingkat kerumitan dari suatu inovasi, bisa dilihat dari ease ofuse dimana item ini mengukur sejauh mana inovasi ini dapat diapahami dengan baik oleh masyarakat.
31 BAB III
METODE PENELITIAN A. Waktu Dan Lokasi Penelitian
Waktu penelitian ini akan di laksanakan selama 2 (dua) bulan setelah seminar proposal penelitian, sedangkan lokasi penelitian ini akan dilaksankan di Dinas Sosial Kabupaten Bulukumba dan Kecamatan Herlang Adapun alasan peneliti memilih tersebut karena Kecatnatan Herlang merupakan Kecmnatan yang tnetniliki lansia yrang paling banyak terlantar, sehingga sangat Inenarik untuk di teliti dan sebagai pemutakhiran data lansia terlantar nantinya
B. Jenis dan tipe penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penehtian kualitatif, yaitu suatu jenis penelitian yang memberikan gambaran tentang inovasi pelayaanan sosial yaitu gerakan lanjut usia terlantar dalam Pelayanan lansia terlantar di Kabupaten Bulukumba khususnya Kecamatan Herlang
2. Tipe Penelitian
Tipe penelitian ini adalah deskriptif dengan didukung data kualitatif dimana penelitian berusaha untuk mengungkapkan suatu fakta atau realita mengenai gerakan lanjut usia lerlantar (geliat) dalam penanganan lansia di Kabupaten Bulukumba.
32
C. Sumber Data 1. Data Primer
Data primer dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi dan wawancara yaitu data yang diperoleh langsung dari informan melalui tatap muka langsung dan terbuka sesuai dengan kebutuhan dalam penelitian ini.
3. Data Sekunder
Data sekunder, yaitu data yang diperoleh melalui studi kepustakaan, referensi-referensi, peraturan perundang-undangan, dokumen, observasi, yang diperoleh dari lokasi penelitian.
D. Informan Penelitian
Pengambilan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, artinya menentukan informan dengan sengaja sesuai dengan kreteria terpilih yang relevan dengan fenomena inovasi pelayanan sosial khususnya di Kecamatan Herlang. Dalam penelitian ini peneliti menetapkan informan yang betul-betul dapat memberikan informasi sesuai dengan penelitian yang sedang dilaksanakan. Adapun informan penelitian di gambarkan sebagai berikut.
No Jabatan Informan Nama Informan
1 Kepala Dinas Sosial Syarifuddin, S.Sos., MAP
2 Kabid Rehsos Dinas Sosial H. Andi Sudirman. SE 3 Sekertaris KKA (Komunitas Keluarga
Angkat)
Ardiansyah, S,IP
4 Masyarakat Takko
5 Lansia Dawiah
E. Teknik Pengumpulan Data
33
Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini untuk memperoleh informasi atau data yang akurat sehingga dapat dipertanggungjawabkan sebagai suatu penelitian sosial yang ilmiah. Adapun cara-cara tersebut dapat dibagai atas tiga bagian, yakni melalui: observasi atau pengamatan, wawancara dan dokumentasi.
1. Observasi yaitu teknik pengumpulan data yang digunakan melalui obseıvasi langsung atas pengamatan terhadap obyek yang diteliti. Alasan peneliti ınelakukan observasi adalah untuk ınenyajikan gaınbaran realistik perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk membantu mengerti perilaku manusia, dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut.
2. Wawancara, Penelitian ini dilakukan dengan cara mengadakan wawancara secara langsung (tanya jawab dalam bentuk komunikasi verbal) kepada semua informan yang ada. Teknik wawancara yang digunakan adalah teknik wawancara terstruktur dengan menyiapkan bentuk-bentuk pertanyaan yang sama antar informan satu dengan yang lainnya.
3. Dokumentasi yaitu pencatatan dokumen dan data yang berhubungan dengan penelitian ini. Data ini berfungsi sebagai bukti dari hasil wawancara di ataş. Kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh data yang diperlukan dengan menelusuri dan mempelajari dokumen yang sudah ada.
Hal ini dimaksud untuk mendapatkan data dan informasi yang berhubungan dengan materi penelitian. Studi dokumentasi dilakukan
34
dengan mempelajari buku-buku dan hasil laporan lain yang ada kaitannya dengan obyek penelitian.
F. Teknik Analisis Data
Sugiyono (Pernando et al., 2021) mengatakan bahwa analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data di lapangan model Miles dan Huberman, yang disebut pula dengan istilah teknik analisis data interaktif dimana analisis data dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh.
Proses analisis data menurut model Miles dan Huberman yaitu meliputi aktivitas pengumpulan data, data reduction (reduksi data), data display (penyajian data), dan conclusion drawing atau penarikan kesimpulan/verifikasi Miles dan Huberman (Rijali, 2018). Dalam penelitian kualitatif, kegiatan analisis data dimulai sejak penelitian melakukan kegiatan pra lapangan sampai dengan selesainya penelitian.
Dalam penelitian kualitatif, teknik analisis data yang digunakan diarahkan untuk menjawab rumusan masalah.
1. Reduksi data merupakan komponen pertama analisis data yang mempertegas, memperpendek, membuat fokus membangun hal yang tidak
35
penting dan ınengatur data sedemikian rupa sehingga kesimpulan penelitian dapat dilakukan.
2. Sajian data merupakan suatu rakitan informasi yang memungkinkan kesimpulan secara singkat dapat berarti cerita sistematis dan logos agar makna peristiwanya menjadi lebih mudah dipahami.
3. Penarikan kesimpulan dalam awal pengumpulan data, peneliti sudah harus mulai mengerti apa arti dari hal-hal yang ditemui dengan mencatat peraturan-peraturan şebab akibat dan berbagai proporsi sehingga penarikan kesimpulan dapat dipertangung jawabkan.
G. Pengabsaha Data
Pada penelitian kualitatif peneliti hanıs mampu mengungkap kebenaran yang objektif, karena itü keabsahan data dalam penelitian kualitatif sangat penting. Hal tersebut benujuan untuk mengukur tingkat kepercayaan (kredibilitas) penelitian kualitatif sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Pengukuran keabsahan data pada penelitian ini dilakukan dengan triangulasi. Sugiyono (Pernando et al., 2021) mengatakan bahwa triangulasi adalah teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada.
Validasi data sangat mendukung hasil akhir penelitian, oleh karena itu diperlukan teknik untuk memeriksa keabsahan data. Dalam penelitian ini diperiksa dengan menggunakan teknik triangulasi. Dalan teknik pengumpulan data, triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah
36
ada. Teknik seperti ini juga menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda- beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama.
1. Triangulasi sumber dilakukan untuk menguji kredibilitas data dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber.
2. Triangulasi Metode bermakna data yang diperoleh dari satu sumber dengan menggunakan metode atau teknik tertentu, diuji keakuratan atau ketidak akuratannya.
3. Triangulasi waktu berkenan dengan waktu pengambilan data. Waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data, data yang dikumpulkan dengan Teknik wawancara di pagi hari pada saat narasumber masih segar, belum banyak masalah, sehingga akan memberikan data yang lebih valid.
4. Mengadakan Member check adalah proses pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada pemberi data. Tujuan member check adalah untuk mengetahui seberapa jauh data yang diperoleh sesuai dengan apa yang diberikan oleh pemberi data. Pelaksanaan member check dapat dilakukan setelah satu periode pengumpulan data selesai, atau setelah mendapat suatu temuan atau kesimpulan. Caranya dapat dilakukan secara individual, dengan cara peneliti datang ke pemberi data, atau melalui forum
37 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Objek Penelitian
Pada bab ini peneliti akan menyajikan gambaran umum lokasi penelitian dan tentang “Inovasi Pelayanan Sosial Lanjut Usia Melalui Program GELIAT (Gerakan Lanjut Usia Terlantar)” di Kabupaten Bulukumba. Gambaran umum tentang kota Bulukumba mencakup wilayah dan kependudukan Kota Bulukumba.
1. Gambaran Umum Kabupaten Bulukumba
Mitodologi penamaan “Bulukumba”, bersumber dari dua kata dalam bahasa bugis yaitu “Bulu’ku” dan “Mupa” yang dalam bahasa Indonesia berarti “masih gunung milik saya atau tetap gunung milik saya”. Mitos ini pertama kali muncul pada abad ke-17 Masehi ketika terjadi perang saudara antara dua kerajaan besar Sulawesi yaitu Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone. Di pesisir pantai yang bernama “Tana Kongkong”, di situlah utusan Raja Gowa dan Raja Bone bertemu, mereka berunding secara damai dan menetapkan batas wilayah pengaruh kerajaan masing-masing. Bangkeng Buki’ (secara harfiah berarti kaki bukit) yang merupakan barisan lereng bukit dari Gunung Lompo battang diklaim oleh pihak Kerajaan Gowa sebagai batas wilayah kekuasaannya mulai dari Kindang sampai ke wilayah bagian timur. Namun pihak Kerajaan Bone bersih keras mempertahankan Bangkeng Buki’ sebagai wilayah kekuasaannya mulai dari barat sampai ke selatan. Berawal dari peristiwa tersebut kemudian tercetuslah kalimat dalam
39
bahasa Bugis “Bulu’ku mupa” yang kemudian pada tingkatan dialek tertentu mengalami perubahan proses bunyi menjadi “Bulukumba”. sejak itulah nama Bulukumba mulai ada dan hingga saat ini resmi menjadi sebuah Kabupaten.
Peresmian Bulukumba menjadi sebuah nama kabupaten dimulai dari terbitnya Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959, tentang pembentukan daerah-daerah Tingkat II di Sulawesi yang ditindaklanjuti dengan Peraturan Daerah Kabupaten Bulukumba Nomor 5 Tahun 1978, tentang Lambang Daerah. Akhirnya setelah dilakukan seminar sehari pada tanggal 28 Maret 1994 dengan narasumber Prof. Dr. H. Ahmad Mattulada (ahli sejarah dan budaya) maka ditetapkan hari jadi Kabupaten Bulukumba, yaitu tanggal 4 Februari 1960 melalui Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 1994. Secara yuridis formal Kabuaten Bulukumba resmi menjadi daerah tingkat II setelah ditetapkan Lambang Daerah Kabupaten Bulukumba oleh DPRD kabupaten Bulukumba pada tanggal 4 Februari 1960 dan selanjutnya dilakukan pelantikan Bupati pertama yaitu Andi Patarai tanggal 12 februari 1960.
Kabupaten Bulukumba terletak di bagian selatan dari jazirah Sulawesi Selatan dan berjarak 153 km dari Makassar (Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan). Luas wilayah Kabupaten Bulukumba 1.154,7 km2 atau 2,5 % dari luas wilayah Propinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten Bulukumba terdiri dari 10 kecamatan yaitu Kecamatan Ujung Bulu (Ibukota Kabupaten), Kecamatan Gantarang, Kecamatan Kindang, Kecamatan Rilau Ale, Kecamatan Bulukumpa, Kecamatan Ujung Loe, Kecamatan Bonto Bahari, Kecamatan Bonto Tiro, Kecamatan Kajang dan Kecamatan Herlang. Tiga Kecamatan
40
sentral pengembangan pertanian dan perkebunan yaitu Kecamatan Kindang, Kecamatan Rilau Ale, dan Kecamatan Bulukumpa. Dua kecamatan juga merupakan sentral pariwisata yaitu kecamatan Bonto Bahari dan Kecamatan Bonto Tiro. Secara geografis Kabupaten Bulukumba terletak pada koordinat antara 5o 20” sampai 5o 40” Lintang Selatan dan 119o 50” sampai 120o 28”
Bujur Timur. Batas-batas wilayah adalah : a. Sebelah Utara : Kabupaten Sinjai b. Sebelah Selatan : Laut lores c. Sebelah Timur : Teluk Bone
d. Sebelah Barat : Kabupaten Bantaeng
Daerah perbukitan di Kabupaten Bulukumba terbentang mulai dari Barat ke Utara dengan ketinggian 100 sampai dengan di atas 500 meter dari permukaan laut meliputi bagian dari Kecamatan Kindang, Kecamatan Bulukumpa dan Kecamatan Rilau Ale. Kabupaten Bulukumba mempunyai suhu rata-rata berkisar antara 23,82oC-27,68oC. Suhu pada kisaran ini sangat cocok untuk pertanian tanaman pangan dan tanaman perkebunan.
Berdasarkan analisis Smith-Ferguson (tipe iklim diukur menurut bulan basah dan bulan kering) maka klarifikasi iklim di Kabupaten Bulukumba termasuk iklim lembab atau agak basah. Keadaan Topografi di Kabupaten Bulukumba sangat bervariasi dari 0- >1000 meter dari permukaan laut yang dapat dibagi kedalam 3 (tiga) satuan ruang morfologi. Daerah dataran rendah dengan ketinggian antara 0 -25 Mdpl meliputi kecamatan Gantarang, Ujung Bulu, Ujung Loe, Bonto Bahari, Bonto Tiro, Kajang dan Kecamatan Herlang yang
41
merupakan wilayah Pesisir. Untuk daerah bergelombang dengan ketinggian antara 25 – 100 Mdpl meliputi kecamatan Gantarang, Kindang, Bontobahari, Bontotiro, Kajang, Herlang, Bulukumpa dan Kecamatan Rilau Ale. Sedang untuk daerah perbukitan dengan ketinggian 100 – diatas 500 Mdpl yang terbentang mulai dari barat ke utara yang meliputi Kecamatan Kindang, Bulukumpa dan Kecamatan Rilau Ale.
Adapun susunan personalia atau struktur organisasi pemerintah Kota Bulukumba dalam lingkup kantor Bupati Kota Bulukumba, yaitu sebagai berikut :
Pembentukan dan Susunan Daerah Kabupaten Bulukumba 2021
42
2. Gamabaran Khusus lokasi Penelitian
Secara Khusus Lokasi Penelitian ini berada di C5XV+Q2Q, Caile, Ujung Bulu, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan 92518. Lokasi Dinas Sosial berhadapan langsung dengan rumah sakit Andi Sultan Daeng Raja Kabupaten Bulukumba. Dibawah kepemimpinan Syarifuddin, S.Sos,M.A.P. dengan visi misi sebagai berikut:
a. Visi
Untuk menghadapi tantangan, persaingan dan tuntutan masyarakat akan pelayanan yang baik serta perubahan kondisi ke depan yang akan dihadapi serta adanya kewenangan daerah Kabupaten Bulukumba yang luas, perlu adanya antisipasi secara dini oleh instansi Dinas Sosial Kabupaten Bulukumba agar tetap eksis dan unggul, sesuai tuntutan kebutuhan masyarakat. Untuk itu Dinas Sosial Kabupaten Bulukumba perlu memiliki Visi.
Visi Dinas Sosial Kabupaten Bulukumba sebagai lembaga pelayanan Publik di Bidang Pembangunan Kesehjateraan Sosial dan adalah : Terwujudnya Keesehjateraan Sosial Masyrakat Bulukumba melalui penanganan dan pelayanan pembangunan Kesehjateraan Sosial dan yang Profesional dan Berkualitas.
Berdasarkan Visi Dinas Sosial Kabupaten Bulukumba di atas maka Dinas Sosial Kabupaten Bulukumba menjabarkan kedalam misi.
43
b. Misi
1) Pemerataan pembangunan kesehjateraan sosial dalam lingkungan kualitas hidup penyandang masalah kesehjateraan sosial.
2) Meningkatkan harkat dan martabat serta kualitas hidup manusia dan mengembangkan sistem jaminan sosial dan perlindungan sosial.
3) Mengembangkan prakarsa dan peran aktif masyarakat dalam pembangunan kesehjateraan sosial.
4) Mencegah, mengendalikan serta mengatasi permasalahan sosial dan dampak yang ditimbulkan.
5) Pengembangan pelayanan masyarakat yang propesional.
Berbagai usaha penyelenggaraan pembangunan di bidang sosial dan yang dilaksanakan oleh Dinas Sosial Kabupaten Bulukumba memiliki tujuan sebagai berikut :
a. Terciptanya kesehjateraan sosial yang lebih mandiri dan merata dalam kehidupan perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat.
b. Meningkatkan pelayanan dan rehabilitasi sosial yang berkualitas dan propesional dalam upaya mengembalikan fungsi sosial Penyandang Masalah Kesehjateraan Sosial.
c. Semakin melembaganya usaha kesehjateraan sosial masyarakat dan semakin profesionalisme serta menjangkau sasaran program yang luas.
Adapun sasaran yang ingin dicapai oleh Dinas Sosial Kabupaten Bulukumba, yang merupakan penjabaran dari tujuan penyelenggaraan pembangunan bidang kesehjateraan sosial adalah :
44
a. Pembinaan kepada kelompok usaha bersama ( KUBE) dan perbaikan rumah tidak layak huni bagi keluarga miskin.
b. Pemberian bantuan kesehjateraan sosial kepada Janda Pahlawan, Veteran dan warakauri dalam rangka pelestarian nilai-nilai kepahlawanan dan kejuangan.
c. Pelayanan dan penyantunan kepada penyandang masalah lanjut usia terlantar baik melalui dalam Panti maupun luar Panti. 4. Pembinaan kepada anak terlantar, anak jalanan, anak cacat melalui Panti maupun non Panti.
d. Rehabilitasi Sosial kepada korban bencana alam dan PMKS Tuna Sosial (WTS, Gelandangan, Pengemis, Waria, Eks Napi dan mantan Pengguna Narkoba).
e. Rehabilitasi Sosial kepada Penyandang Cacat baik melalui Panti maupun Luar Panti.
f. Pemberdayaan dan Penguatan Kelembagaan Organisasi Sosial, Karang Taruna dan Pekerja Sosial Masyarakat dan Pilar Partisipasi Kesehjateraan Sosial Masyarakata (Taruna Siaga Bencana).
3. Gambaran Khusus Inovasi Gerakan Lanjut Usia Terlantar (GELIAT) GELIAT adalah sebuah gerakan Kemanusiaan yg konsen pada Lansia, yang berpotensi atau/sedang mengalami keterlantaran. GELIAT adalah sebuah kegiatan inovasi Bidang Rehsos Dinas Sosial Kabupaten Bulukumba. Kegiatan GELIAT diperankan oleh Dinas Sosial bersama
45
Komunitas Penggiat Sosial di Kabupaten Bulukumba. Kegiatan Geliat Meliputi :
1. Pemberian Bantuan Permakanan Berkelanjutan.
2. Pemberian Bantuan Sandang dan Kebutuhan Papan Lainnya.
3. Pemberian Bantuan Bahan Rumah dan/atau Bedah Rumah.
4. Memfasilitasi mendapatkan layanan jaminan,perlindungan dan bantuan sosial.
5. Memfasilitasi pengurusan Dokumen Kependudukan,Layanan Kesehatan, Layanan Pendidikan dan Pendampingan Hukum.
Sumber dana GELIAT bersumber dari donasi masyarakat yg disalurkan melalui Rekening komunitas penggiat sosial, sumbangan lainnya yang sah dan tidak mengikat serta dana APBD Kabupaten Bulukumba.
Pelaksanaan GELIAT dilaksanakan oleh Para Komunitas Penggiat Sosial sedangkan Kehadiran Dinas Sosial hanya sebagai Pembina dan Fasilitator.
GELIAT juga diharapkan sebagai wadah membangun kesetiakawanan sosial, gotong royong dan Media pemersatu lintas profesi, status sosial,suku dan ideologi. Saat berada ditengah tengah masyarakat maka semua sama kedudukan sebagai relawan sosial dan Kegiatan GELIAT tdk boleh ditumpangi kepentingan politik. GELIAT murni kegiatan sosial kemanusiaan. Terbentuknya geiovasi ini di prakarsai oleh 3 orang dan beberapa komunitas lainya yang didominasi oleh Koumintas Keluarga Angkat (KKA).
46
B. Inovasi pelayanan sosial gerakan Iansia terlantar (GELIAT) bagi masayarakat di Kecamatan Herlang Kabupaten Bulukumba.
Inovasi menjadi salah satu tool dalam mengakselerasi peningkatan daya saing Indonesia. Setiap negara yang meliputi pemerintah, privat, masyarakat harus melakukan inovasi. Inovasi pada lingkungan instansi pemerintah meliputi antara lain kementerian, lembaga pemerintah non kementerian (LPNK), pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten\kota sangat penting karena mengakselerasi inovasi privat dan masyarakat dalam meningkatkan pelayanan public. Menurut Kamus Besar Indonesia, kata “inovasi” memiliki arti penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode, atau alat).
Sementara itu, kata “inovatif” berarti bersifat memperkenalkan sesuatu yang baru.
Inovatif merupakan kata untuk menyifati inovasi itu sendiri. Artinya, suatu karya hasil inovasi akan disebut sebagai karya yang inovatif. Inovasi bermanfaat untuk menyempurnakan atau pun meningkatkan fungsi dari pemanfaatan suatu produk atau sumber daya. Tujuannya adalah agar manusia bisa mendapatkan manfaat yang lebih. Inovasi sendiri telah merambah pada bidang, pendidikan, bisnis, komunikasi, dan Iain-lain.
Dalam arti sempit pelayanan sosial yang sering di identikkan dengan pelayanan kesejahteraan sosial. Pelayanan sosial Iebih ditekankan pada kelompok yang kurang beruntung, tertekan, dan rentan. Secara umum pelayanan sosial diartikan sebagai tindakan memproduksi, mengalokasi, dan mendistribusi sumberdaya sosial kepada publik. Sumberdaya sosial mencakup seluruh barang dan jasa sosial yang dibutuhkan oleh baik individu maupun masyarakat untuk mencapai tingkat kesejahteraan. Inilah yang menjadi salah satu fokus dalam diskursus teori
47
kesejahteraan yang mengangkat persoalan bagaimana mengerjakan ketiga kegiatan besar itu dan apa dampaknya bagi individu dan masyarakat. Pelayanan sosial diartikan sebagai aktivitas atau kegiatan terorganisir yang bertujuan membantu para anggota masyarakat baik secara individu maupun kelompok untuk dapat menyesuaikan diri dengan peran dan lingkungan sosialnya. Pelayanan sosial dapat berbentuk pengembangan, pencegahan, penyembuhan atau rehabilitasi dan bantuan sosial. Pelayanan sosial adalah aktivitas yang terorganisir yang bertujuan untuk membantu para anggota masyarakat untuk saling menyesuaikan diri dengan sesamanya dan dengan lingkungan sosialnya.
Selain itu disebutkan bahwa salah satu fungsi utama pelayanan sosial adalah untuk penyembuhan, perlindungan, dan rehabilitasi, yang bertujuan untuk melaksanakan pertolongan kepada seseorang baik secara individu maupun kelompok/lembaga dan masyarakat agar mampu mengatasi masalah-masalahnya.
Fungsi pelayanan sosial untuk rehabilitasi dimaksud untuk memulihkan dan mengembangkan kemampuan seseorang yang mengalami disfungsi sosial agar dapat melaksanakan frngsi sosialnya secara wajar.
GELIAT adalah suatu inovasi yang khusus untuk menangani lanjut usia yag terlantar, yang tidak terawat oleh keluarganya, tidak memiliki keluarga dekat.
Dalam hal ini penelitian memfokuskan inovasi pelayanan sosial lanjut usia melalui program GELIAT (Gerakan Lanjut Usia Terlantar) yang mengacu kepada teori Roger dengan indikator yaitu Keuntungan Relatif, Kesesuian dan Kerumitan.