• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

C. Fokus Penelitian

5. Dampak negatif kebijakan ruang terbuka hijau dari aspek sosial misalnya timbulnya kemacetan yang berada di sekitar ruang terbuka hijau dan memanfaatkan ruang terbuka hijau sebagai tempat berpacaran atau berudua- duaan.

6. Faktor yang mempengaruhi merupakan faktor pendukung atau penyelesaian dari kebijakan ruang terbuka hijau seperti peningkatan kualitas ruang terbuka hijau yang ada di kota Makassar, misalnya dengan memperbaiki fasilitas- fasilitas yang ada di dalam ruang terbuka hijau dan memperbanyak tumbuhan-tumbuhan yang ada. Dukungan atau dorongan bagi phak swasta misalnya mengajak kepada pihak swasta agar bekerjasama untuk membangun ruang terbuka hijau yang ada di sekliling kantor swasta tersebut. Penerapan insentif dan diintensif misalnya memberikan kompenasi kepada masyarakat yang membangun ruang terbuka hijau dan kepada swasta untuk meningkatkan jumlah pengadaan ruang terbuka hijau yang ada di sekeliling kantor.

Pelibatan terhadap pihak swasta misalnya melibatkan pihak swasta untuk bekerjasama dengan pemerintah agar pihak swasta untuk melestarikan ruang terbuka hijau.

7. Faktor penghambat atau kendala-kendala yang dihadapai dari kebijakan ruang terbuka hijau seperti kurangnya lahan yang ada di kota Makassar misalnya banya lahan digunakan untuk membangun ruko-ruko sehingga lahan untuk membangun ruang terbuka hijau tidak ada. Penindakan yang belum tegas misalnya aturan yang sudah diberlakukan belum tegas dilaksanakan kepada pihak swasta yang hendak melanggar aturan tersebut. Dana atau anggaran

misalnya dana yang digunakan tidaklah sedikit, akan tetapi dana sedikit bisa untuk menambah dan memperbaiki fasilitas-fasilitas yang ada. Kepedulian dan keterlibatan terhadap masyarakat misalnya masyarakat kurang partisipasi pentingnya melestarikan tanaman atau tumbuhan yang sudah ada.

8. Hasil capaian dampak kebijakan suatu hasil yang menunjukkan tingkat keberhasilan atau kegagalan kegiatan menejemen dalam mencapai tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu.

BAB III

METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 7 Januari sampai 3 Maret 2015.

Penelitian ini dilaksanakan di Kantor Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kota Makassar sebagai salah satu unsur birokrasi pemerintah yang secara fungsional bertanggung jawab sebagai pelaksana pemanfaatan ruang sebagai ruang terbuka hijau di Kota Makassar.

Alasan penelitian lokasi yang di dasarkan pada 1) Kantor Badan Lingkungan Hidup Daerah merupakan pelaksana kebijakan Ruang Terbuka Hijau yang masih belum terimplementasi dengan baik dan tidak sesuai dengan peraturan daerah.

B. Jenis dan Tipe Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang mendeskripsikan tentang ruang lingkup dan dampak dari kebijakan ruang terbuka hijau di Kota Makassar.

2. Tipe penelitian

Peneliti menggunakan tipe penelitian fenomenologi yaitu untuk memberi gambaran tentang situasi atau fenomena sosial secara detail. Yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu secara jelas masalah- masalah yang diteliti berdasarkan pengalaman yang dialami informan.

38

C. Sumber Data

Sehubungan dengan permasalahan penelitian maka data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah:

1. Data Primer

Data Primer yaitu data empiris yang diperoleh tentang ruang terbuka hijau yang berada di lapangan dan merupakan segala informasi yang diperoleh dari informan observasi yang dicatat oleh peneliti secara langsung dari obyek penelitian.

2. Data Sekunder

Data Sekunder yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung kepada obyek penelitian yang dapat berupa dokumen, buku, catatan-catatan, makalah, laporan, arsip, monografi, dan lain-lain, terutama yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.

D. Informan Penelitian

Alasan memilih informan karena dapat memberikan keterangan yang relevan sesuai dengan kondisi di lapangan dan dapat memberikan keterangan yang jelas sesuai dengan judul penulis.

TABEL INFORMAN

No Nama Inisial Jabatan/ Status Jumlah Ket 1 Irnawati

Hamid I.H

Kepala Sub. Bidang

KSDA 1 Perempuan

2 Ibrahim Tiri

Nurdin I.T

Staf Pegawai Sub.

Bidang KSDA 1 Laki-Laki

3 Hardina H.A Staf Pegawai Sub.

Bidang KSDA 1 Perempuan

4 Arifin A.N Masyarakat Pengunjung

1 Laki-Laki 5 Musdhalifah M.H Masyarakat Pengunjung

1 Perempuan

6 Radit R.T Mahasiswa

1 Laki-Laki

7 Susi S.I Mahasiswa

1 Perempuan 8 Husin H.N Masyarakat Pengunjung

1 Laki-Laki 9 Mita M.A Masyarakat Pengunjung

1 Perempuan 10 Ayu A.U Pedagang Sektor

Informal (Minuman) 1 Perempuan 11 Kasman K.A Pedagang Sektor

Informal (Asongan) 1 Laki-Laki 12 Eka E.A Pedagang Sektor

Informal (Minuman) 1 Perempuan

Jumlah 12

E. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan langkah yang sangat penting dalam penelitian, karena itu seorang peneliti harus terampil dalam mengumpulkan data agar mendapatkan data yang valid. Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperoleh.

1. Observasi

Observasi adalah cara pengambilan data dengan menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut. Dalam kegiatan sehari- hari, kita selalu menggunakan mata untuk mengamati sesuatu. Pada metode

pengamatan ini, peneliti akan melakukan pengamatan langsung ke lapangan mengenai hasil dampak yang dihasilkan dari kebijakan Ruang terbuka Hijau di Kota Makassar.

2. Wawancara

Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab, sambil bertatap muka antara si penanya dengan si penjawab dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara). Wawancara ini bertujuan untuk memperoleh informasi secara jelas dan konkret tentang hasil yang ditimbulkan dalam dampak Ruang Terbuka Hijau dalam di Kota Makassar.

3. Dokumentasi

Dokumentasi adalah setiap bahan tertulis baik berupa karangan, memo, pengumuman, instruksi, majalah, pernyataan, aturan suatu lembaga masyarakat dan berita yang disiarkan kepada media massa. Tujuan digunakan metode ini untuk mengumpulkan data-data dari pegawai tentang hasil yang ditimbulkan dalam dampak Ruang Terbuka Hijau dalam di Kota Makassar.

F. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah langkah selanjutnya untuk mengelola data di mana data yang diperoleh, dikerjakan dan dimanfaatkan sedemikian rupa untuk menyimpulkan persoalan yang diajukan dalam menyusun hasil penelitian. Dalam model ini terdapat 3 (tiga) komponen pokok. Menurut Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2012:92-99) ketiga komponen tersebut yaitu:

1. Data Reduction (Reduksi Data)

Data yang diperoleh di lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu perlu dicatat secara teliti dan rinci. Seperti telah dikemukakan makin lama peneliti di lapangan, maka jumlah data akan makin banyak, kompleks dan rumit.

Untuk itu perlu segera dilakukan analisis data melalui reduksi data.

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu.

2. Data Display (Penyajian Data)

Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori dan sejenisnya.

3. Conclusion Drawing/Verification (Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi) Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila data kesimpulan data yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh kembali bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali kelapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.

G. Keabsahan Data

Salah satu cara yang digunakan oleh peneliti dalam pengujian kredibilitas data adalah dengan triangulasi. Menurut Sugiyono (2012:125) Triangulasi

diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Lebih lanjut Sugiyono (2012:127) membagi triangulasi ke dalam tiga macam, yaitu:

1. Triangulasi Sumber

Triangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek data yang diperoleh melalui beberapa sumber dalam hal ini peneliti melakukan pengumpulan dan pengujian data yang telah diperoleh melalui hasil pengamatan, wawancara dan dokumen-dokumen yang ada. Kemudian peneliti membandingkan hasil pengamatan dengan wawancara, dan membandingkan hasil wawancara dengan dokumen yang ada.

2. Triangulasi Teknik

Triangulasi teknik dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Dalam hal ini data yang diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi dan dokumen. Apabila dengan tiga teknik pengujian kredibilitas data tersebut, menghasilkan data yang berbeda- beda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan atau yang lain, untuk memastikan data mana yang dianggap benar atau mungkin semuanya benar karena sudut pandangnya berbeda-beda.

3. Triangulasi Waktu

Triangulasi waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat narasumber masih segar, belum banyak masalah, akan memberikan data yang lebih valid sehingga lebih kredibel. Untuk itu dalam rangka pengujian kredibilitas data

dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda, maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kepastian datanya. Triangulasi dapat juga dilakukan dengan cara mengecek hasil penelitian, dari tim peneliti lain yang diberi tugas melakukan pengumpulan data.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Objek Penelitian

1. Sejarah dan Letak Kantor Badan Lingkungan Hidup Daerah Kota Makassar

Sejarah singkat kantor Badan Lingkungan Hidup Daerah Kota Makassar, pada tahun 2000 nama kantor BLHD Kota Makassar yaitu Badan Pengendalian Pengelolaan Dampak Lingkungan Hidup Kota Makassar. Sekian lama di jalani, pada Tahun 2005-2009 nama kantor berubah menjadi Dinas Pengelolaan Badan Lingkungan Hidup Daerah Kota Makassar. Sesudah jalani selama 4 tahun, nama kantor berubah menjadi Badan Lingkungan Hidup Daerah Kota Makassar yang terbentuk pada tahun 2009 sampai sekarang.

Letak kantor Badan Lingkungan Hidup Daerah Kota Makassar yaitu berada di Jalan Urip Sumoharjo No. 8 di perumahan Dinas Kecamatan Bontoala Kota Makassar.

2. Visi dan Misi Badan Lingkungan Hidup Daerah

Visi dari BLHD yaitu Mewujudkan Makassar sebagai Kota Dunia yang Berwawasan Lingkungan, yang dapat diartikan sebagai membangun Kota Makassar yang berkelanjutan sebagai kota bertaraf dunia yang berwawasan lingkungan.

45

Untuk mewujudkan Visi tersebut, maka ditetapkan Misi sebagai berikut:

a. Meningkatkan sumberdaya manusia yang didukung oleh peningkatan kualitas intelektual, mental spiritual, keterampilan serta sarana dan prasarana.

b. Meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat untuk mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat.

c. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

3. Tugas Pokok dan Fungsi Badan Lingkungan Hidup Daerah

Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kota Makassar ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 3 Tahun 2009 tentang Pembentukan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Badan Lingkungan Hidup Daerah Kota Makassar.

Adapun tugas pokok dan fungsinya adalah:

a. Tugas Pokok

Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kota Makassar mempunyai tugas pokok merumuskan, membina, mengkoordinasikan dan mengendalikan kebijakan di bidang lingkungan hidup meliputi analisis dampak lingkungan, pencegahan dan pengendalian dampak lingkungan, pemulihan dampak lingkungan serta panaatan hukum lingkungan.

b. Fungsi

Berdasarkan Peraturan Walikota Nomor 47 tahun 2009 tentang uraian tugas jabatan struktural Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kota Makassar, BLHD dalam melaksanakan tugas pokok menyelenggarakan fungsi :

1) Penyusunan rumusan kebijakan teknis dibidang lingkungan hidup meliputi dampak lingkungan hidup, strategi penegakan hukum dan pengembangan instrument ekonomi dalam rangka pelestarian lingkungan hidup;

2) Penyusunan rencana dan program pengendalian, pengawasan pencemaran dan kerusakan lingkungan;

3) Penyusunan rumusan kebijakan teknis pelaksanaan penegakan hukum lingkungan baik secara administrasi perdata maupun pidana terhadap pelaku pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup dengan mengembangkan skema insentif-desisentif dan pelaksanaan perjanjian internasional di bidang pengendalian dampak lingkungan;

4) Pemberian fasilitas kegiatan intansi terkait dalam hal pengendalian dampak lingkungan yang meliputi penerapan AMDAL, penerapan instrument baru dalam pengelolaan sumber daya dan lingkungan, monitoring kualitas air, penerapan sistem manajemen mutu, ekolabelling, produksi bersih dan teknologi ramah lingkungan, pengembangan perangkat ekonomi lingkungan, penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Standar Kompotensi Personil Bidang Lingkungan Hidup,

Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) dan Laboratorium Lingkungan;

5) Pelaksanaan perencanaan dan pengendalian teknis operasional pengelolaan keuangan, kepegawaian dan pengurusan barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya;

6) Pelaksanaan kesekretariatan;

7) Pembinaan unit pelaksana teknis dan tenaga fungsional.

Susunan Organisasi Badan Lingkungan Hidup Daerah Kota Makassar sebagai berikut:

a. Kepala Badan

b. Sekretariat, terdiri atas:

1. Sub Bagian Umum dan Perlengkapan 2. Sub Bagian Keuangan

3. Sub Bagian Perlengkapan

c. Bidang Tata Lingkungan dan Penaatan Hukum Lingkungan 1. Sub Bidang Analisis Dampak Lingkungan

2. Sub Bidang Penaatan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup d. Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pencemaran

1. Sub Bidang Pengendalian Pencemaran Air, Udara dan Tanah 2. Sub Bidang Pengaasan Limbah B3 dan Domestik

e. Bidang Pemulihan Kerusakan da Konservasi Sumber Daya Alam 1. Sub Bidang Pemulihan Kerusakan Wilayah Pesisir dan Laut 2. Sub Bidang Konservasi Sumber Daya Alam

f. Bidang Pengembangan Kapasitas dan Partisipasi Masyarakat 1. Sub Bidang Pengembangan Kapasitas

2. Sub Bidang Pembinaan Partisipasi Masyarakat dan Kemitraan g. Unit Pelaksana Teknis

h. Kelompok Jabatan Fungsional

Adapun Tugas pokok dan fungsi dari uraian struktur organisasi yaitu:

a. Sekretariat

1) Sekretariat mempunyai tugas memberikan pelayanan administrative bagi selururh satuan kerja di lingkungan badan lingkungan hidup.

2) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada pasal 2 ayat (1) peraturan ini, secretariat menyelenggarakan fungsi :

a) Pelaksanaan koordinasi, sinkronisasi dan integrasi kegiatan di lingkungan badan,

b) Pengelolaan koordinasi perencanaan dan perumusan kebijakan teknis.

c) Pelaksanaan koordinasi penyusunan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan tugas badan,

d) Pelaksanaan pembinaan dan pelayanan administrasi, ke tata usahaan organisasi dan tata laksana kepegawaian, keuangan perlengkapan dan rumah tangga:

e) Pelaksanaan tugas lain yang diberiakan oleh Kepala Badan sesuai Bidang tugasnya.

b. Bidang Tata Lingkungan dan Penataan Lingkungan

Bidang Tata Lingkungan dan Penataan Lingkungan mempunyai tugas bahan kebijakan teknis kelayakan dokumen lingkungan, upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan dan pengendalian teknis penerapan rencana pengolahan lingkungan hidup serta laporan hasil penilaian dokumen amdal.

c. Sub. Bidang Dampak Lingkungan

Sub Bidang Dampak Lingkungan mempnyai tugas menginventarisasi dan mempersiapkan pembahasan, penilaian, dan menganalisis dokumen pengelolaan lingkungan serta melakukan pengkajian terhadap instrument pengelolaan lingkungan hidup lainnya.

d. Sub Bidang Penataan dan Penegakan Hukum Lingkungan

Subbidang penataan dan penegakan hukum lingkungan mempunyai tugas menginventariskan produk hukum lingkungan,perizinan yang berkaitan dengan masalah dampak lingkungan, melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap pemrakarsa usaha dan atau kegiatan serta melakukan pengkoordinasian penertiban lingkungan hidup dengan instansi terkait.

e. Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pencemaran

Bidang pengawasan dan pengendalian Pencemaran mempunyai tugas menyiapkan bahan kebijakan teknis terhadap pengawasan dan penegndalian pencemaran air, udara dan tanah serta penanganan limbah domestic dan limbah B3.

f. Bidang Pemulihan Kerusakan Lingkungan dan Konservasi Sumber Daya Alam

1) Bidang pemulihan Kerusakan Lingkungan dan Konservasi Sumber Daya Alam mempunyai tugas mengkoordinasikan perencanaan pemulihan kerusakan lingkungan dan konservasi sumber daya alam.

2) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada pasal 12 ayat (1) Peraturan ini, Bidang Pemulihan dan Kerusakan Lingkungan dan Konservasi Sumber Daya Alam menyelenggarakan fungsi;

a) Perencanaan, koordinasi dan pelaksanaan pemulihan kerusakan lingkungan dan konservasi sumber daya alam;

b) Penyiapan pengawasan dan pengendalian kerusakan wilayah pesisir dan laut dan konservasi keanekaragaman hayati;

c) Pengkoordinasian pembinaan dan perencanaan pelaksanaan pemulihan kerusakan lingkungan dan konservasi SDA;

d) Pelaksanaan koordinasi, kerjasama dan keterpaduan dengan instansi terkait dalam hal pelaksanaan pemulihan kerusakan lingkungan dan konservasi SDA;

e) Pengelolaan administrasi urusan tertentu.

g. Sub.bidang Konservasi Sumber Daya Alam

1) Subbidang Konservasi Sumber Daya Alam mempunyai tugas melaksanakan pemantauan dan pengawasan serta pengendalian keanekaragaman hayati dalam wilayah konservasi sumber daya alam.

2) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pasal 14 ayat (1) peraturan ini, Subbidang konservasi Sumber Daya Alam menyelenggarakan fungsi:

a) Melakukan koordinasi dalam perencanaan konservasi keanekaragaman hayati;

b) Menetapkan dan melaksanakan kebijakan konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati;

c) Menetapkan dan melaksanakan pengendalian kemerosotan keanekaragaman hayati;

d) Melakukan pemantauan dan pengawasan pelaksanaan konservasi keanekaragaman hayati;

e) Melakukan penyelesaian konflik para-pihak dalam pemanfaatan keanekaragaman hayati;

f) Melakukan pengembangan manajemen sistem informasi dan pengelolaan database keanekaragaman hayati;

g) Melakukan koordinasi dengan instansi terkait atau melakukan kerjasama dengan daerah lain dalam hal penanggulangan kekeringan (atau konservasi sumber daya air, khususnya penyediaan air baku air minum);

h) Melaksanakan bidang kedinasan lain yang diberikan oleh atasan;

i) Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas.

4. Sumber Daya Manusia Badan Lingkungan Hidup Daerah

Berdasarkan dari data yang diperoleh, maka sumber daya manusia di kantor Badan Lingkungan Hidup Daerah adalah sebagai berikut:

Tabel 2 Keadaan Pegawai Menurut Jabatan, Eselonisasi, Status PNS dan Jumlah Pegawai dalam Lingkup BLHD Kota Makassar

Bidang PNS Non PNS Keterangan Jumlah

(orang)

L P L P

Kepala Badan 1 - - - Eselon II B 1

Sekretariat 5 7 6 4

Eselon III A Eselon IV A

Staf:

1 3 18 Bidang Tata

Lingkungan dan Penataan Lingkungan

3 6 4 3

Eselon III A Eselon IV A

Staf:

1 2 13 Bidang Pengawasan

dan Pengendalian Pencemaran

6 5 4 6

Eselon III A Eselon IV A

Staf:

1 2 18 Bidang Pemulihan

Kerusakan dan KSDA

5 5 4 3

Eselon III A Eselon IV A

Staf:

1 2 14 Bidang

Pengembangan Kapasitas Dan

Partisipasi Masyarakat

4 3 3 6

Eselon III A Eselon IV A

Staf:

1 2 13

Jumlah 24 26 21 22 93

Sumber: Badan Lingkungan Hidup Daerah Kota Makassar 2015 B. Dampak Kebijakan Ruang Terbuka Hijau di Kota Makassar

Rujukan teori yang digunakan penelitian untuk menganalisis hasil penelitian tentang dampak kebijakan sesuai dengan dimensi-dimensi dari evaluasi dampak kebijakan menurut Dye dalam Winarno (2008:232-235) yaitu, Dampak kebijakan kepada keadaan-keadaan atau kelompok-kelompok di luar sasaran atau tujuan

kebijakan. Kebijakan ini dinamakan eksternalitas atau dampak yang melimpah seperti dampak positif dan dampak negatif.

1. Dampak Positif

Dampak adalah keinginan untuk membujuk, meyakinkan, mempengaruhi atau memberi kesan kepada orang lain, dengan tujuan agar mereka mengikuti atau mendukung keinginannya. Sedangkan positif adalah pasti atau tegas dan nyata dari suatu pikiran terutama memperhatikan hal-hal yang baik. Positif adalah suasana jiwa yang mengutamakan kegiatan kreatif dari pada kegiatan yang menjemukan, kegembiraan dari pada kesedihan, optimisme dari pada pesimisme.

Dampak positif adalah pengaruh dari suatu kegiatan yang dijalankan sehingga menimbulkan unsur kebaikan terhadap masyarakat.

Berdasarkan hasil pengamatan penulis di lapangan dengan adanya Ruang Terbuka Hijau di Kota Makassar telah berdampak terhadap lingkungan ataupun kepada masyarakat setempat. Salah satu dampak positifnya dapat dilihat dari berbagai aspek yaitu:

a. Aspek Ekologis

Ekologis terkait dengan ilmu alam seperti fisika. Sebab ekologi juga mencakup faktor fisik seperti misalnya suhu, cahaya dan hal lain yang juga dipelajari dalam Fisika.. Ekologis yang dimaksud adalah dampak postif dari ruang terbuka hijau yang berlokasi, berukuran, dan berbentuk pasti dalam suatu wilayah kota, seperti mencegah banjir, mengurangi polusi udara, dan menurunkan suhu kota.

1) Mencegah Banjir

Banjir merupakan fenomena alam yang biasa terjadi di suatu kawasan yang banyak dialiri oleh aliran sungai. Secara sederhana banjir dapat didefinisikan sebagainya hadirnya air di suatu kawasan luas sehingga menutupi permukaan bumi kawasan tersebut.. Dalam siklus hidrologi kita dapat melihat bahwa volume air yang mengalir di permukaan Bumi dominan ditentukan oleh tingkat curah hujan, dan tingkat peresapan air ke dalam tanah. Di kota Makassar sering terjadi banjir ketika musim hujan telah datang, sehingga genangan air yang ada di kota Makassar semakin tinggi. Dengan itu pemerintah kota Makassar membuat kebijakan untuk membangun ruang terbuka hijau.

Berdasarkan hasil pengamatan penulis di lapangan salah satu dampak positif Ruang Terbuka Hijau dari aspek ekologis yaitu dapat mencegah banjir sesuai hasil wawancara dengan staf pegawai Sub Bidang Konversi Sumber Daya Alam yang mengemukakan bahwa:

”Ruang Terbuka Hijau dapat mencegah banjir karena merupakan area resapan air yang dapat menyerap air hujan ke air tanah” (Hasil wawancara IT, 9 Februari 2015).

Hasil wawancara di atas bahwa ruang terbuka hijau merupakan suatu area yang penggunaannya lebih bersifat terbuka yang ditumbuhi tanaman yang berfungsi sebagai resapan air yang menyerap air hujan dan membuat air tanah menjadi lebih baik. Hal serupa yang di ungkapkan dengan staf pegawai yang lain menerangkan bahwa:

”Ruang Terbuka Hijau dapat mencegah banjir karena adanya pohon-pohon yang banyak yang dapat menyerap air hujan” (Hasil wawancara HA, 9 Februari 2015).

Pernyataan di atas bahwa ruang terbuka hijau merupakan area yang memiliki banyak tanaman yang memiliki fungsi untuk menyerap air hujan yang melalui akar tanaman tersebut. Hal ini di ungkapkan dengan Kepala Sub Bidang Konversi Sumber Daya Alam menjelaskan bahwa:

”Ruang Terbuka Hijau dengan sekumpulan vegetasinya dapat meningkatkan kualitas atau kesuburan tanah maka memudahkan penyerapan air sehingga dapat mencegah banjir” (Hasil wawancara IH, 9 Februari 2015).

Ruang terbuka hijau merupakan keseluruhan komunitas tumbuhan di suatu tempat tertentu seperti taman kota, mencakup baik perpaduan komunal dari jenis- jenis tumbuhan yang menempati suatu ekosistem yang dibentuknya. Dengan adanya sekumpulan tanaman atau tumbuhan yang ada di taman mampu memberikan kuantitas dan kesuburan suatu tanah.

Ruang terbuka hijau merupakan area yang mempunyai banyak tanaman atau tumbuhan yang berfungsi sebagai menyerap air ketika musim hujan datang yang mampu untuk mencegah banjir yang ada di sekitar taman macan kota Makassar.

Hal yang sama di ungkapkan dengan masyarakat pengunjung di Lapangan Hasanuddin menerangkan bahwa:

”Adanya ini taman dapat mencegah terjadinya banjir karena banyaknya pohon yang menyerap air” (Hasil wawancara AN, 13 Februari 2015).

Hasil wawancara di atas bahwa dengan adanya ruang terbuka hijau yang merupakan fungsi untuk menyerap air dan dapat mencegah banjir. Hal yang sama di ungkapkan dengan masyarakat pengunjung di Lapangan Hasanuddin yang menjelaskan bahwa:

”Dengan adanya taman ini sebagai fungsi mencegah banjir karena adanya tumbuhan yang menyerap air” (Hasil wawancara MH, 13 Februari 2015).

Dokumen terkait