BAB II TINJAUAN PUSTAKA
E. Fokus penelitian
Fokus penelitian ini ialah pada pihak pemerintah Kelurahan Paria, Kepala Sekolah dan Guru SMA Negeri 1 Majauleng, yaitu bagaimana Koordinasi Pemerintah Kelurahan dengan Lembaga Pendidikan (SMAN 1 Majauleng) dalam hal kesepakatan,kerjasama dan sharing informasi sehingga tercipta koordinasi yang optimal dalam hal pengendalian kenakalan remaja.
Koordinasi Pemerintah Kelurahan dan Lembaga
Pendidikan
Bentuk pengendalian kenakalan remaja :
1. Kesepakatan 2. Kerjasama
3. Sharing informasi
Evektivitas Koordinasi Yang Optimal Dalam
Mengendalikan Kenakalan Remaja
G Deskripsi Fokus Penelitian
Koordinasi adalah proses pengintegrasian tujuan-tujuan dan kegiatan- kegiatan pada satuan-satuan yang terpisah dalam suatu organisasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kelurahan dengan Lembaga Pendidikan yang ada di Kelurahan Paria Kecamatan Majauleng Kabupaten Wajo.
a. Koordinasi adalah proses pengintegrasian tujuan-tujuan dan kegiatan- kegiatan pada satuan-satuan yang terpisah dalam suatu organisasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kelurahan dengan Lembaga Pendidikan yang ada di Kelurahan Paria Kecamatan Majauleng Kabupaten Wajo
b. Kesepakatan adalah sebuah kesepakatan tertulis yang mencakup sekolompok atau lemabaga yang menetapkan syarat-syarat dan ketentuan dalam hubungan kerja mereka, kesepakatan ini mencakup hal-hal seperti hubungna kerja dan kmelakukan sosialisasi
c. Kerjasama yang dimaksud adalah pihak pemerintah kelurahan dengan lembaga pendidikan bekerjasama menyelesaikan masalah kenakalan reamaja yaitu dengan pemberian Pengerahan kemampuan secara maksimal, yaitu masing-masing anggota tim secara maksimal, kerja sama akan lebih kuat dan berkualitas dan setiap anggota kelompok Saling berkontribusidalm pengendalian kenakalan remaja
d. Sharing informasi adalah adanya intraksi antara dua kelompok atau lebih yang memeiliki ikatan khusus dengan mengacu aturan yang di sepakati, dalam ksepakatan itu ada koneksi yang slalu bertukar informasi guna melayani permasalahan yang ada berdasarkasn tujuan dari kerjasama
anatara pihak pemerintah kelurahan dengan pihak lembaga pendidikan, informasi tersebut akan muncul melalui pertemuan/rapat dan komunikasi langsung yang efekti demi kelancaran dalam pengendalian kenakalan remaja.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakanbulan Januari 2015 sampai bulan Maret 2015. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Paria Kecamatan Majauleng Kabupaten Wajo terkait dengan maraknya perilaku remaja penghisap lem fox yang sangat menghawatirkan para orang tua. Peneliti tertarik untuk melakukan pendalam untuk mengetahui sejauh mana peran pemerintah dan lembaga pendidikan selaku pihak terkait dalam menanggulangi kenakalan remaja.
B. Jenis dan Tipe Penelitian
Jenis dan tipe penelitian yang digunakan oleh peneliti antara lain:
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah kualitatif yang akan mendeskripsikan data-data empirik yang memuat gejala sosial dan membutuhkan pemahaman holistik sehingga data yang dianalisis bukan hanya mengungkap hal-hal permukaan saja tetapi juga apa yang ada di Kelurahan Paria Kecamatan Majauleng Kabupaten Wajo terkait dengan maraknya perilaku remaja penghisap lem fox.
2. Tipe Penelitian
Tipe penelitian ini adalah fenomenologi yaitu peneliti mendeskripsikan pengalaman yang dilakukan dan dialami oleh para informan dalam penanggulangan perilaku remaja penghisap lem fox di Kelurahan Paria Kecamatan Majauleng Kabupaten Wajo.
C. Sumber Data 1. Data Primer
Data Primer ialah data yang dapat diproleh dari lapangan, atau tempat penelitian. Sumber data yang pokok, utama yang diproleh dari wawancara informan yaitu pihak Pemerintah Kelurahan Paria yaitu Lurah dan Sekertaris Lurah dan SMA Negeri 1 Majauleng yaitu Kepala Sekolah dan beberapa guru serta beberapa pihak yang terkait langsung dengan prilaku sikap remaja penghisap lem fox. peneliti menggunakan data ini untuk mendapatkan informasi secara langsung tentang bagaimana koordinasi Pemerintah Kelurahan dengan Lembaga Pendidikan dalam pengendalian kenakalan remaja di Kelurahan Paria.
2. Data sekunder
Peneliti menggunakan data sekunder atau data pendukung ini untuk memprkuat penemuan dan melengkapi informasi yang telah dikumpulkan melalui wawancara dengan informan guna mengetahui Koordinasi pemerintah kelurahan dengan lembaga pendidikan dalam pengendalian kenakalan remaja di Kelurahan
Paria Kecamatan Majauleng Kabupaten Wajo dan mengetahui faktor-faktor penyebab perilaku remaja penghisap lem fox.
D. Informan Penelitian
Untuk memperdalam analisis data yang berkaitan dengan penanggulangan perilaku remaja penghisap lem fox di Kelurahan Paria Kecamatan Majauleng Kabupaten Wajo, maka dilakukan wawancara secara mendalam dengan informan.
Penentuan informan penelitian terlebih dahulu diidentifikasi para aktor yang terlibat dalam penanggulangan perilaku remaja penghisap lem fox di Kelurahan
Paria Kecamatan Majauleng Kabupaten Wajo. nforman dalam penelitian ini adalah :
NO NAMA INISIAL JABATAN JUMLAH
1 BAHARUDDIN S.Sos BH LURAH 1
2 A.SAMANG S.Sos SM SEKLUR 1
3 Drs. FAIZAL M.Si FS KEPALA SEKOLAH 1
4 Drs. RIFAI RF GURU 1
5 USMAN US MASYARAKAT 1
JUMLAH 5 ORANG
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian oleh peneliti yaitu:
a. Observasi yaitu peneliti akan melakukan observasi penanggulangan perilaku remaja penghisap lem fox di Kelurahan Paria Kecamatan Majauleng Kabupaten Wajo.
b. Wawancara yaitu peneliti akan melakukan wawancara dengan para informan antara lain Pemerintah Kelurahan Paria dan Lembaga Pendidikan SMA Negeri 1 Majauleng .
c. Dokumen yaitu peneliti akan mengumpulkan dokumen tertulis seperti data- data korban dari beberapa tahun terakhir sebagai upaya pembanding informasi.
F. Teknik Analisis Data
Dalam peneltian ini, setelah mendapatkan data dibutuhkan, selanjutnya diolah menggunakan teknik analisa data kulaitatif dengan jalan mengabstrksikan secara cermat setiap informasi yang diperoleh. Analisa ini diharapkan mampu memberikan pemahaman yang utuh dan mendalam terhadap interaksi atau konsep-konsep yang akan diteliti. Sehubungan penelitian ini akan menjawab permasalahan yang berkenaan dengan penanggulangan perilaku remaja penghisap lem fox di Kelurahan Paria Kecamatan Majauleng Kabupaten Wajo, faktor-faktor yang melatarbelakangi dan memetakan realitas problematis yang ada maka dengan analisis yang bersifat deskriptif kualitatif segera dilakukan setelah melakukan wawancara, meghimpun data sekunder maupun literatur, dan sumber- sumber lainnya terkumpul secara lengkap.
Studi lapangan dilakukan untuk mendapatkan data primer dan sekunder.
Data primer dilakukan melalui metode wawancara, observasi atau pengamatan.
Sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumen-dokumen yang dapat memperjelas data primer.Dalam kaitan ini, peneliti juga melakukan studi dokumen yang dimaksudkan untuk memperoleh informasi berkaitan dengan penanggulangan perilaku remaja penghisap lem fox di Kelurahan Paria Kecamatan Majauleng Kabupaten Wajo.Dengan demikian dari studi dokumen tersebut diperoleh gambaran jelas mengenai isi dan substansi penanggulangan perilaku remaja penghisap lem fox di Kelurahan Paria Kecamatan Majauleng Kabupaten Wajo. Sementara itu metode wawancara yang digunakan adalah metode wawancara secara tak berstruktur, yaitu peneliti mengajukan pertanyaan-
pertanyaan secara lebih bebas dan leluasa tanpa terikat oleh susunan pertanyaan yang telah dipersipkan secara kaku, selain itu dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan penelitian. Proses selanjutnya data yang telah terkumpul akan diseleksi dan diklsifikasikan sesuai dengan kebetuhan analisis.
G. Keabsahan Data
Kredibilitas data sangat mendukung hasil penelitian, oleh karena itu diperlukan teknik untuk memeriksa keabsahan data. Keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi bermakna silang yakni mengadakan pengecekan akan kebenaran data yang akan dikumpulkan dari sumber data dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang lain serta pengecekan pada waktu yang berbeda yaitu:
1. Triangulasi Sumber
Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah dipeoleh melalui beberapa sumber. Dengan mengacu William Wiersma, (1986) dalam sugiono, (2012:273) maka pelaksanaan teknis dari langkah pengujian yaitu:
2. Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik untuk menguji kredibiltas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.
3. Triangulasi Waktu
Untuk itu dalam rangka pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda. Bila hasil uji menghasilkan data yang
berbeda, dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kepastian ditanya.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Objek Penelitian a. Keadaan kelurahan paria
Secara geografis wilayah kelurahan paria yang luasnya ±12,02 kilometer persegi. Secara mayoritas kelurahan paria adalah wilayah agraris atau pertanian, dengan batas wilayah, sebelah utara berbatasan dengan desa laerung, sebelah selatan berbatasan dengan desa cinnongtabi, sebelah timur berbatasan denagan kelurahan limpomajang, dan sebelah barat berbatasan dengan kelurahan uraiyang Wilayah kelurahan paria kecamatan majauleng yang terdiri dari daerah pertanian, peternakan, dan perindustrian seperti pertanian sawah yang luas lahan ±474 Ha.
Dan berbagai jenis ternak sebagai mata pencaharian dan pekerjaaan sampingan masyarakat, misalnya sapi dan sejenis unggas.
Secara demografis, jumlah penduduk kelurahan paria pada Tahun 2014 sebanyak 2.626 jiwa penduduk yang terdiri dari laki-laki 1.248 jiwa dan perempuan sebanyak = 1.378jiwa. Mereka mendiami kedalam 2 (dua) wilayah administrasi pemerintahan lingkungan ; yaitu dusun : tengnga,dan lompo masing- masing berpotensi untuk mengembangkan pertanian persawahan
b. Visi Dan Misi Pemerintahan kelurahan paria kecamatan majauleng kabupaten wajo.
Adapun visi misi kelurahan paria kecamatan majauleng kabupaten wajo yaitu : terwujudnya pelayanan pemerintahan yang good governance dalam rangka pemenuhan hak dasar, sedangkan misi perintahan kelurahan paria kecamatan majauleng kabupaten wajo adalah sebagai berikut :
1. Peningkatan sumber daya aparatur pemerintah kelurahan
2. Membuka ruang terhadap publik dalam proses perencanaan pembangunan 3. Peningkatan sdm terhadap masyarakat
4. Peningkatan infrastruktur penunjang pelayanan publik c. Tugas pokok dan fungsi kelurahan paria
Kelurahan mempunyai Tugas Pokok melaksanakan penyelenggaraan tugas- tugas Pemerintahan, Pembangunan dan Kemasyarakatan serta melaksanakan tugas-tugas lainnya yang dilimpahkan oleh Bupati, sedangnkan tupoksi kelurahan paria adalah sebagai berikut:
1. Penyusunan Program dan Kegiatan Kelurahan.
2. Pelaksanaan koordinasi atas jalannya penyelenggaraan Pemerintahan, Pembangunan dan Kemasyarakatan di Wilayah Kelurahan.
3. Pemberdayaan Masyarakat di Wilayah Kelurahan. - Pengkoordinasian Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat.
4. Pelaksanaan Penyelenggaraan Ketentraman dan Ketertiban Umum di Wilayah Kelurahan.
5. Pelaksanaan Pelayanan Umum kepada Masyarakat.
6. Pemeliharaan Sarana Prasarana dan Fasilitas Layanan Umum di Wilayah Kelurahan.
7. Pelaksanaan Pembinaan Kelembagaan Kemasyarakatan di Wilayah Kelurahan.
8. Pelaksanaan Penatausahaan/Urusan Kesekretariatan Kelurahan.
d. Kepegawaian
Pemerintah kelurahan dengan lembaga pendidikan(SMA Negeri 1 Majauleng) kelurahan paria kecamatan majauleng kabupaten wajo merupakan instansi pemerintah daerah yang saling berkoordinasi dalam menangani pengendalian kenakalan remaja, tentunya pemerintah kelurahan berkewajiban menyusun sebuah rencana yang memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program dan kegiatan pembangunan yang di susun sesuai dengan yang mengacuh pada program RENSTRA-kelurahan yang bersifat berkesinambungan dengan tujuan pembangunan yang berkesinambungan, sehinggga dapat mendorong partisipasi masyarakat. Adapun jumlah pegawai kelurahan paria kecamatan majauleng kabupaten wajo periode 2014-2019 sebanyak, dengan sebagai berikut : Tabel 1.2. Keadaan Pegawai kelurahan Berdasarkan Jabatan
No Jabatan Jumlah Persentase
1 Lurah 1 10%
2 Sekretaris lurah 1 10%
3 Bendahara lurah 1 10%
4 Kasi 4 40%
5 Staf 1 10%
6 Kepala lingkungan 2 20%
Jumlah 10 100%
Berdasarkan uraian dari tabel 1.2 di atas, dapat diketahui bahwa untuk jabatan Lurah,Sekretaris dan bendahara Kelurahan Pariamasing-masing berjumlah 1 orang, kepala seksi (Kasi) berjumlah 4 orang yang terbagi atas ; Kasi Pembangunan, Kasi Pemerintahan, Kasi Ekonomidan Kasi Trantib, sedangkan untuk staf sebanyak 1 orang. dan kepala lingkungan yang berjumlah 2 orang masing-masing bertugas di setiap lingkungan tertentu, Adapun jumlah pegawai secara keseluruhan sebanyak 10 orang.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembagian tugas pemerintahan dalam pelaksanaan pembangunan yang mencakup tugas dan wewenang pada pemerintah kelurahan paria kecamatan majauleng kabupaten wajo cukup proporsional dan objektif mengingat ruang lingkup kerja dan tugas-tugas yang dilaksanakan sehingga program-program kerja yang telah direncanakan dapat berjalan secara efektif dan maksimal.
Table 1.2. Adapun keadaan pegawai berdasarkan pendidikan adalah sebagai berikut:
No Tingkat pendidikan Jumlah Persentase
1 Strata 2 (S2) 1 10%
2 Strata 1 (S1) 6 60%
3 Diploma 1 10%
4 SMA 3 30%
Jumlah 10 100%
Berdasarkan dari uraian table 1. di atas, dapat diketahui bahwa pegawai yang memiliki tingkat pendidikan Strata 2 (S2) berjumlah 1 orang atau sebesar 10 persen, pegawai dengan tingkat pendidikan Strata 1 (S1) berjumlah 6 orang atau sebesar 60 persen, sedangkan pegawai dengan tingkat pendidikan Diploma berjumlah 1 orang atau sebesar 10 persen dan pegawai yang memiliki tingkat pendidikan SMA berjumlah 3 orang atau sebesar 30 persen dari jumlah total 10 pegawai yang bekerja pada kantor pemerintah kelurahan paria kecamatan majauleng kabupaten wajo . Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan pegawai cukup baik dimana pegawai yang memiliki tingkat pendidikan Strata 2 (S2) dan Strata 1 (S1) berjumlah 7 orang atau sebesar 70 persen dari keseluruhan pegawai yang bekerja pada lingkup kelurahan. Hal tersebut tentu saja merupakan salah satu faktor dalam meningkatkan pemahaman para pegawai dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dalam rangka peningkatan mutu layanan kepada masyarakat dalam terkhusus dalam penyelesaian masalah kenakalan remaja yang terjadi di berbagai wilayah kabupaten wajo. Adapun keadaan pegawai berdasarkan tingkatan usia dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 1.3. Keadaan Pegawai Berdasarkan Tingkatan usia
No Tingkat Usia Jumlah Persentase
1 20-30 Tahun 2 20%
2 31-40 Tahun 5 50%
3 41-50 Tahun 3 30%
Jumlah 10 100%
Berdasarkan uraian dari table 1.3 di atas, dapat diketahui bahwa pegawai dengan tingkat usia 20-30 tahun berjumlah 2 orang atau sebesar 20 persen, pegawai dengan tingkat usia 31-40 tahun berjumlah 5 orang atau sebesar 50 persen, pegawai dengan tingkat usia 41-50 tahun berjumlah 3 orang atau sebesar 30 persen. Dengan melihat hasil dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pegawai yang bekerja pada kantor pemerintah kelurahan paria kecamatan majauleng kabupaten wajo memiliki rata-rata usia 31-40 tahun sehingga jika dilihat dari hal tersebut maka tentunya setiap program-program yang akan dilaksanakan masih mampu dimaksimalkan dalam upaya meminimalisir berbagai masalah kenakalan remaja
e. Visi Misi lembaga pendidikan ( SMA Negeri 1 Majauleng) a. Visi
Adapun visi sma negeri 1 majauleng yaitu : Unggul dalam mutu berakar pada wawasan wiyatamandala, dengan indikator sebagai berikut :
1. Unggul dalam perolehan rata rata NEM 2. Unggul dalam persaingan UMPTN 3. Unggul dalam IMTAQ dan IPTEK 4. Unggul dalam olahraga dan seni 5. Unggul dalam kepedulian lingkungan
b. Misi yang diharapkan dapat menwujudkan visi SMA Negeri 1 Majauleng sebagai berikut :
1. Meningkatkan pembinaan akhlak atau budi pekerti yang luhur
2. Mengembangkan minat bakat dan kreatifitas siswa agar tumbuh dan berkembang
3. Mampu menciptakan kegaitan belajar mengajar, yang dapat memotivasi siswa untuk berinisiatif, inovatif, serta mengembangkan minat pada kegiatan ekstrakurikuler.
4. Melaksanakan bimbingan dan proses pembelajaran secara intensif sehingga konsep materi kurikulum tercapai 100 %
5. Mengoptimalkan fungsi guru dalam kegiatan pembelajaran, bimbingan dan keterampilan
6. Mengoptimalkan kerjasama dengan orang tua, masyarakat dan pemerintah
7. Melakukan pelatihan dan dorongan siswa mengenal potensi diri sehingga mampu bersaing dalam setiap even kegiatan
8. Pola manajemen Partisipatif dengan melibatkan seluruh warga sekolah.
f. Kepegawaian
Pemerintah kelurahan dengan lembaga pendidikan(SMA Negeri 1 Majauleng) kelurahan paria kecamatan majauleng kabupaten wajo merupakan instansi pemerintah daerah yang saling berkoordinasi dalam menangani pengendalian kenakalan remaja, tentunya pemerintah kelurahan berkewajiban menyusun sebuah rencana yang memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program dan kegiatan pembangunan yang bersifat berkesinambungan dengan tujuan pembangunan yang berkesinambungan, sehinggga dapat mengembangkan pendidikan yang lebih
maju. Adapun jumlah pegawai SMA negeri 1 majauleng kecamatan majauleng kabupaten wajo sebanyak, dengan sebagai berikut :
Tabel 2.1. Keadaan Pegawai kelurahan Berdasarkan Jabatan
Berdasarkan uraian dari 2.1 di atas, dapat diketahui bahwa untuk jabatan Kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan bendahara sekolah SMA Negeri 1 majauleng masing-masing berjumlah 1 orang, wali kelas sebanyak 15 orang masing-masing bertanggung jawab dari setiap satu kelas yang ada di SMA Negeri 1 Majauleng . Adapun guru tetap berjumlah17 orang yang terbagi ke dalam beberapamata pelajaran di SMA Negeri 1 Majauleng. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembagian kerja yang mencakup tugas dan wewenang pada sekolah SMA Negeri 1 Majauleng cukup proporsional dan objektif mengingat ruang lingkup kerja dan tugas-tugas yang dilaksanakan sehingga program- program kerja yang telah direncanakan dapat berjalan secara efektif dan
No Jabatan Jumlah Persentase
1 Kepala sekolah 1 2%
2 Wakil kepala sekolah 1 2%
3 Bendahara sekolah 1 2%
4 Wali kelas 15 30%
5 Guru 17 34%
6 Honorer 12 24%
7 Sukarela 5 10%
Jumlah 50 100%
maksimal. Adapun keadaan pegawai berdasarkan pendidikan adalah sebagai berikut:
No Tingkat pendidikan Jumlah Persentase
1 Strata 2 (S2) 33 66%
2 Strata 1 (S1) 15 30%
4 SMA 2 4%
Jumlah 50 100%
Berdasarkan dari uraian table di atas, dapat diketahui bahwa pegawai yang memiliki tingkat pendidikan Strata 2 (S2) berjumlah 33 orang atau sebesar 66 persen, pegawai dengan tingkat pendidikan Strata 1 (S1) berjumlah 15 orang atau sebesar 30 persen, sedangkan pegawai dengan tingkat pendidikan SMA berjumlah 2 orang atau sebesar 4 persen. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan pegawai cukup baik dimana pegawai yang memiliki tingkat pendidikan Strata 2 (S2) dan Strata 1 (S1) berjumlah 48 orang atau sebesar 96 persen dari pegawai yang bekerja pada lingkup SMA negeri 1 majauleng . Hal tersebut tentu saja merupakan salah satu faktor dalam meningkatkan pemahaman para pegawai dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dalam rangka peningkatan mutupendidikan kepada masyarakat terkhusus dalam penyelesaian masalah kenakalan remaja yang terjadi di berbagai wilayah kabupaten wajo.
Adapun keadaan pegawai berdasarkan tingkatan usia dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 1.6. Keadaan Pegawai Berdasarkan Tingkatan usia
No Tingkat Usia Jumlah Persentase
1 20-30 Tahun 12 24%
2 31-40 Tahun 8 16%
3 41-50 Tahun 25 50%
4 51-55 Tahun 5 10%
Jumlah 50 100%
Berdasarkan uraian dari table 1.6 di atas, dapat diketahui bahwa pegawai dengan tingkat usia 20-30 tahun berjumlah 12 orang atau sebesar 24 persen, pegawai dengan tingkat usia 31-40 tahun berjumlah 8 orang atau sebesar 16 persen, pegawai dengan tingkat usia 41-50 tahun berjumlah 25 orang atau sebesar 50 persen. Dan pegawai dengan tingkat usia 51-55 tahun sebanyak 5 orang atau sebesar 10 persen .Dengan melihat hasil dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa guru yang bekerja pada Lembaga Pendidikan SMA Negeri 1 Majauleng kabupaten wajo memiliki rata-rata usia 31-40 tahun sehingga jika dilihat dari hal tersebut maka tentunya setiap program-program yang akan dilaksanakan masih mampu dimaksimalkan dalam upaya meminimalisir berbagai masalah kenakalan remaja yang terjadi di lingkungan sekolah
A. Koordinasi Pemerintah Kelurahan Dengan Lembaga Pendidikan Pengendalian Kenakalan Remaja
Koordinasi pemerintah kabupaten wajo dalam pengendalian kenakalan remaja merupakan tugas dan fungsi pemerintah kelurahan dan lembaga pendikan SMA negeri 1 majauleng sebagai pelaksana tekhnis dalam bidang pembangunan, terkhusus dalam pengendalian kenakalan remaja. Kenakalan remaja disebabkan oleh beberapa hal antara lain kesalahan sistem pengajaran di sekolah yang kurang menanamkan sistem nilai, transisi kultural, kurangnya perhatian pemerintah dan orang tua, dan kurangnya kepedulian masyarakat pada masalah remaja. Untuk mengatasi permasalahan remaja tersebut perlu dilakukan secara sistemik dan komprehenship melalui lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat, dan melalui kebijakan pemerintah.
Berbagai faktor dan permasalahan yang terjadi di kelurahan Paria kecamatan majauleng di kalangan remaja masa kini khususnya para remaja yang menghisap lem fox, maka tentunya ada beberapa solusi yang tepat dalam pembinaan dan perbaikan remaja masa kini. Bentuk daripada solusi yaitu adanya koordinasi yang berupa kesepakatan, kerjasama, dan sharing informasi, apabila kebijakan pemerintah berjalan dengan baik maka optimalisasi koordinasi di kelurahan paria berjalan dengan baik.
1. Kesepakatan
Kesepakatan adalah sebuah kesepakatan tertulis yang mencakup sekolompok atau lemabaga yang menetapkan syarat-syarat dan ketentuan dalam hubungan kerja mereka, kesepakatan ini mencakup hal-hal seperti hubungna kerja
antara Lurah dan Lembaga Pendidikan dalam pengendalian kenakalan remaja serta melakukan program peningkatan keterampilan dalam bimbingan remaja.
Sebuah kepekatan bersama akan dinilai berdasarkan uji” tidak merugikan”, yang akan memastikan ,bahwa kesepakatan tersebut, secara seimbang tidak mengurangi syarat-syarat dan ketentuan hubungan kerja keseluruhan terhadap lembaga yang tercakup dalam kesepakatan tersebut.umumnya hal ini melibatkan perbadingan antara syarat-syarat dan ketentuan dalam suatu kesepakatan.
a. Perjanjian hubungan kerja
Pada dasarnya hubungan kerja antara kelurahan dengan lembaga pendidikan yaitu hubungan antara kedua lembaga yang terjadi setelah di adakan perjanjian yang menyatakan kesanggupannya untuk melaksanakan tugas dan fungsi masing- masing lembaga sesui dengan pembagian kerja yang telah di sepakati bersama.
Didalam perjanjian ada beberapa unsur yang harus di penuhi, yaitu adanya unsur work atau pekerjaan, adanya service atau pelayanan, adanya unsur time atau waktu tertentu,suatu hal tertentu terjadi apabila ada kesepakatan dari kedua belah pihak.
Hasil wawancara oleh Bapak BH selaku pemerintah kelurahan terkait perjanjian hubungan kerja dalam penanggulangan kenakalan remaja adalah sebagai berikut :
“ Kami segenap pemerintah kelurahan dalam hal ini bertindak sebagai fasilitator siap melayani masyarakat baik itu dalam bentuk kelompok maupun individu. Sama halnya dalam pengendalian kenakalan remaja kami sudah membagi tugas dari pihak sekolah di antaranya melakukan
pendekatan moral kepada mereka remaja yangselalu buat onar dilingkungan kelurahan paria(Wawancara Pada Tanggal 05 Februari 2015) Sesuai dengan uraian di atas dapat dikemukakan bahwa dalam perjanjian hubungan kerja yang dilakukan oleh pihak kelurahan dengan sekolah yaitu, berupa pembagian tugas dari masing-masing instansi dengan melakukan pendekatan moral pada remaja yang senang tiasa meresahkan masyarakat dan mengganggu ketertiban lingkungan
Berdasarkan hasil observasi selama di lapangan peneliti menemukan hal sama, bahwa perjanjian hubungan kerja antara pihak pemerintah kelurahan dengan lembaga pendidikan berjalan maksimal dengan melakukan pembagian tugas kepada masing-masing kelompok tugas. Dengan demikian perjanjian hunbungan kerja dalam pengendalian kenakalan remaja sudah efektif dan menyentuh sisi psikologis para remaja yang bisa membantu dalam peningkatan moral atau kepribadian seseorang.
Hasil wawancara oleh Bapak FS selaku lembaga pendidikan terkait perjanjian hubungan kerja dalam pengendalian kenakalan remaja adalah sebagai berikut :
“Pihak sekolah sudah lama melakukan perjajian kerja dengan kelurahan, adapun perjanjiannya masing-masing melalakukan pembinaan dengan melakukan pendekatan persuasif kepada remaja baik yg tergolong remaja pengisap lem fox maupun remaja yang lain, tiap tugas kami lebih fokus kepada siswa yang terdaftar.(Wawancara pada Tanggal 06 Februari 2015)
Sesuai hasil wawancara di atas dapat di kemukakan bahwa lembaga pendidikan sudah melakukan perjanjian kerja dalam pengendalian kenakalan