• Tidak ada hasil yang ditemukan

koordinasi pemerintah kelurahan dengan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "koordinasi pemerintah kelurahan dengan"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Agar penelitian ini terfokus pada masalah yang menjadi objek penelitian, maka perlu diberikan batasan-batasan yang akan menjadi masalah yang akan diteliti.

Tujuan Penelitian

Bagaimana Pemerintah Kecamatan Berkoordinasi dengan Instansi Pendidikan Dalam Penanggulangan Kejahatan Remaja di Kecamatan Paria Kecamatan Majauleng Kabupaten Wajo (Studi Kasus: Remaja Merokok Lem Rubah). Berdasarkan hasil wawancara di atas, peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa koordinasi dalam bentuk kesepakatan dilakukan oleh pemerintah kabupaten dengan lembaga pendidikan untuk mengendalikan kenakalan remaja.

Kegunaan Penelitian

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian koordinasi

Kenakalan remaja mencakup segala tingkah laku yang menyimpang dari norma pidana yang dilakukan oleh remaja. Hasil wawancara yang dilakukan oleh Bpk. BH selaku pemerintah kecamatan mengenai perjanjian hubungan kerja dalam menangani kenakalan remaja adalah sebagai berikut. Dalam penanggulangan kenakalan remaja kami juga membagi tugas sekolah, termasuk pelaksanaannya.

Hasil wawancara Bpk. FS sebagai lembaga pendidikan mengenai kontrak kerja dalam penanganan kenakalan remaja adalah sebagai berikut. Hasil wawancara Bpk. SM sebagai pemerintah daerah dalam kaitannya dengan kontrak kerja dalam menangani kenakalan remaja adalah sebagai berikut. Hal ini merupakan salah satu upaya pemerintah Kecamatan Paria dalam menyelesaikan permasalahan kenakalan remaja khususnya kenakalan menghisap lem rubah.

Berdasarkan hasil wawancara di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa koordinasi yang dilakukan pemerintah kecamatan dengan lembaga pendidikan dalam pemberantasan tindak pidana remaja akan lebih efektif apabila bersama-sama menyelesaikan permasalahan berdasarkan tugas dan fungsi kedua instansi tersebut. . Hasil wawancara yang dilakukan oleh Bpk. BH selaku pemerintah kecamatan pada pertemuan rutin dalam menangani tindak pidana remaja adalah sebagai berikut. Hasil wawancara yang dilakukan oleh Bpk. RF sebagai lembaga pendidikan mengenai pertemuan rutin dalam menangani kenakalan remaja adalah sebagai berikut.

Hasil wawancara yang dilakukan oleh Bpk. BH selaku pemerintah kecamatan mengenai komunikasi langsung dalam menangani kenakalan remaja adalah sebagai berikut. Bentuk kerjasama yang dilakukan pemerintah kecamatan dan lembaga pendidikan dalam pengendalian kenakalan remaja akan lebih efektif jika bersama-sama menyelesaikan permasalahan berdasarkan tugas dan fungsi kedua lembaga tersebut.

Masalah dalam koordinasi

Tipe-tipe koordinasi

Syarat-syarat koordinasi

Esprit de corps, yang berarti bagian yang termasuk atau dihargai, umumnya akan berkontribusi pada aktivitas yang hidup. Menurut Handayaningrat, koperasi mempunyai unsur kesukarelaan, atau sikap kesukarelaan masyarakat.

Ciri-ciri koordinasi

Adanya kesepakatan mengenai kegiatan atau tindakan yang harus dilakukan masing-masing pihak, termasuk rencana yang dimaksudkan. Terdapat pertukaran informasi timbal balik oleh semua pihak yang bekerja sama mengenai kegiatan dan hasil pada waktu tertentu, termasuk permasalahan yang dihadapi masing-masing pihak.

Pengertian Remaja

Masa ini disebut dengan masa stabil, karena pada masa ini tidak terjadi lagi perubahan-perubahan besar baik fisik maupun psikis pada penglihatan.Jadi masa ini merupakan penegasan terhadap fungsi-fungsi yang sudah ada pada masa sebelumnya.Periode stabil ini dimulai pada kira-kira . usia 20 tahun hingga 40 tahun. Masa remaja ditempatkan pada masa yang progresif, namun berkenaan dengan konsep remaja sering kali digunakan istilah yang sama dengan pengertian yang berbeda dan sebaliknya, keadaan atau hal yang sama dapat juga disebut berbeda.

Kenakalan Remaja

Permasalahan kenakalan remaja mulai mendapat perhatian khusus masyarakat sejak ditetapkannya peradilan anak nakal (juvenile court) pada tahun 1899 di Illinois, Amerika Serikat. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk-bentuk perilaku menyimpang.” Santrock: Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial dan berujung pada tindakan kriminal. Dalam kehidupan berkeluarga, kurangnya bimbingan agama juga menjadi salah satu faktor munculnya kenakalan. Di kalangan anak di bawah umur. Dalam pembentukan moral, agama mempunyai peranan yang sangat penting karena nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.

Kemerosotan moral, perilaku dan perbuatan buruk orang dewasa menjadi contoh atau teladan bagi anak-anak dan remaja, sehingga mengakibatkan munculnya kenakalan remaja. Kenakalan remaja sering terjadi pada saat anak berada di bangku sekolah dan kelas sedang senggang. Memperbaiki keadaan lingkungan sekitar, kondisi sosial keluarga dan masyarakat yang banyak terdapat kenakalan remaja.

Upaya pencegahan kenakalan remaja dilakukan secara khusus oleh para pendidik mengenai gangguan perilaku pada remaja.Pendidikan psikologi di sekolah dilaksanakan oleh guru, konselor dan psikolog sekolah bersama-sama dengan para pendidik lainnya, baik di rumah maupun di sekolah. Jika berbagai solusi dan pedoman di atas diterapkan, diharapkan kemungkinan terjadinya kenakalan remaja akan berkurang dan teratasi. Dari pembahasan penanggulangan masalah kenakalan remaja tersebut, perlu ditegaskan bahwa segala upaya penanggulangan kenakalan remaja harus ditujukan untuk mencapai kepribadian remaja yang stabil, harmonis, dan matang.

Kerangka Fikir

Fokus penelitian

Peneliti menggunakan data sekunder atau data pendukung untuk memperkuat temuan dan melengkapi informasi yang dikumpulkan melalui wawancara dengan informan untuk mengetahui koordinasi antara pemerintah kecamatan dan lembaga pendidikan dalam pengendalian tindak pidana remaja di kecamatan. Koordinasi Pemerintah Kabupaten Wajo dalam pemberantasan tindak pidana remaja merupakan tugas dan fungsi pemerintah kecamatan dan lembaga pendidikan SMA Negeri 1 Majauleng sebagai pelaksana teknis dalam bidang pembangunan khususnya dalam pemberantasan tindak pidana remaja. Berdasarkan hasil observasi di lapangan, peneliti juga menemukan hal serupa, yaitu dalam pemberantasan kenakalan remaja, pihak pemerintah kecamatan dan lembaga pendidikan telah membagi tugas dengan melakukan pembinaan dan pendekatan yang meyakinkan khususnya bagi remaja yang tergolong perokok lem rubah. . Hal ini terlihat dari bimbingan yang diberikan pihak sekolah pada saat proses pembelajaran.

Manajemen kapasitas adalah dimana pemerintah kecamatan dan lembaga pendidikan bekerja sama untuk mengendalikan masalah kenakalan remaja dengan mengarahkan setiap anggota tim untuk bertindak sesuai dengan kemampuannya. Berdasarkan hasil observasi di lapangan, peneliti juga menemukan hal yang sama, yaitu bahwa kegiatan kerjasama pemerintah kecamatan dan lembaga pendidikan dalam pengendalian tindak pidana remaja kurang berjalan dengan baik. Hal ini disebabkan adanya miskomunikasi yang melibatkan kepala sekolah. tidak melakukan pengawasan terhadap guru yang menjadi koordinator tim, sehingga pengawasan terhadap remaja yang menghisap lem fox tidak berjalan dengan baik. Berdasarkan hasil observasi di lapangan, peneliti menemukan hal serupa: dalam pelaksanaan kegiatan pemberantasan kejahatan remaja, pemerintah kecamatan memberikan kontribusi berupa pelayanan dan fasilitas di lokasi kegiatan.

Berdasarkan hasil observasi lapangan, peneliti menemukan hal yang sama bahwa pihak lembaga pendidikan SMA Negeri 1 Majauleng telah melakukan koordinasi dengan pemerintah kecamatan dalam pelaksanaan kegiatan, dengan pihak lembaga pendidikan SMA Negeri 1 Majauleng turut andil dalam mengarahkan siswa sebagai peserta kegiatan penyuluhan terkait untuk memberantas kenakalan remaja. Pertemuan dapat diartikan sebagai pertemuan atau pertukaran informasi yang dilakukan oleh Pengadilan Negeri dengan pihak lembaga pendidikan SMA Negeri 1 Majauleng untuk membahas dan menyelesaikan permasalahan tindak pidana remaja berupa pengasapan lem rubah di Kelurahan Paria Kecamatan Majauleng. kabupaten, kabupaten Wwajo, sehingga beberapa informasi mengenai masalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Berdasarkan hasil observasi di lapangan, kami menemukan hal lain yaitu koordinasi antara pihak Pemerintah Kecamatan Paria dan pihak lembaga pendidikan kurang berjalan dengan baik, karena pihak sekolah jarang menghadiri agenda rapat rutin di kantor Kecamatan Paria. . sehingga para remaja nakal yang kebanyakan adalah remaja pengisap lem fox tidak menyelesaikannya dengan baik.

Deskripsi Fokus Penelitian

METODE PENELITIAN

Jenis Dan Tipe Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif yang akan mendeskripsikan data empiris yang mengandung fenomena sosial dan memerlukan pemahaman yang holistik, sehingga data yang dianalisis tidak hanya mengungkap hal-hal yang dangkal saja, tetapi juga apa yang terdapat di Desa Paria, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo terkait dengan perilaku remaja yang meluas. pengeksploitasi.Lem rubah. Jenis penelitian ini bersifat fenomenologis yaitu peneliti mendeskripsikan pengalaman yang dilakukan dan dialami informan dalam menghadapi perilaku remaja perokok foxglove di Desa Paria Kecamatan Majauleng Kabupaten Wajo.

Sumber Data

Informan Penelitian

Teknik Pengumpulan Data

Teknik Analisis Data

Keabsahan Data

Dengan demikian, perjanjian hubungan kerja dalam pengendalian kejahatan remaja efektif dan menyentuh sisi psikologis remaja, sehingga dapat membantu meningkatkan moral atau kepribadian seseorang. “Sebagai koordinator peradilan kecamatan dalam pemberantasan tindak pidana remaja, saya diberi tugas untuk menelusuri siapa saja yang melakukan aksi penghisapan rubah, yang kemudian ditindaklanjuti bersama.” Sesuai dengan uraian di atas dapat dikemukakan bahwa dalam pemberantasan kenakalan remaja yang terjadi di sekolah telah dilakukan koordinasi antara pihak kecamatan dengan pihak sekolah, dengan koordinator sekolah melakukan survey awal kepada siswa dan selanjutnya melakukan penelitian lanjutan. . untuk kelancaran koordinasi.

Berdasarkan uraian di atas maka dalam pengendalian kenakalan remaja dapat disimpulkan bahwa sosialisasi memang sudah dilakukan dengan cukup efektif dalam pengendalian remaja penyerap lem rubah, dan saya berharap pihak sekolah juga memberikan perhatian yang lebih terhadap hal tersebut. siswanya dan selalu memberikan arahan yang positif. kepada remaja atau pelajar. “Dalam penanggulangan kenakalan remaja, kami dari pihak sekolah sering mengadakan seminar atau dialog yang bertujuan agar proses penyelenggaraan sosialisasi terkait kenakalan remaja dapat tersampaikan dengan jelas kepada siswa” (wawancara yang dilakukan FS pada 6 Februari 2015. Berdasarkan uraian di atas, dalam pengendalian kenakalan Sekolah sering menyelenggarakan sosialisasi tentang kenakalan remaja dalam bentuk seminar dan dialog guna memastikan proses penyelenggaraan sosialisasi dapat tersampaikan dengan jelas.

Berdasarkan hasil observasi peneliti di lapangan juga ditemukan bahwa dalam hal pendampingan kepada orang tua siswa mengenai kenakalan remaja, kepala desa melakukan hal tersebut dalam rapat-rapat yang mengundang seluruh perangkat masyarakat. Berdasarkan hasil kesepakatan pihak daerah, kami mengarahkan para guru khususnya guru kelas untuk melakukan pembinaan kepada siswa tentang pentingnya penanganan kenakalan remaja. Meskipun waktu kami sangat terbatas, kami selalu berusaha mengingatkan mereka untuk mengikuti permasalahan kenakalan remaja” (wawancara yang dilakukan RF pada tanggal 6 Februari 2015. Berdasarkan hasil observasi peneliti di lapangan, mereka menemukan hal yang sama, yaitu pembinaan siswa terhadap kenakalan remaja dilakukan oleh orang tua, namun pembinaan yang diberikan sangat terbatas karena hanya dilakukan pada saat hendak memulai proses belajar mengajar.

Sesuai dengan uraian di atas, dapat dikemukakan bahwa agenda rapat rutin yang dilaksanakan pemerintah kecamatan dilaksanakan setiap hari Jumat di aula kantor Kecamatan Paria dengan melibatkan tokoh masyarakat, pemuda dan guru di SMA Negeri 1 Majauleng. adalah. untuk membahas masalah remaja nakal yang merokok permen karet rubah. Berdasarkan hasil observasi selama di lapangan, peneliti menemukan hal lain bahwa dalam pertemuan rutin yang dilakukan pemerintah kecamatan dengan mengundang tokoh masyarakat, pemuda dan guru SMA Negeri Majauleng, permasalahan kejahatan remaja belum teratasi. dibahas secara tuntas, sehingga kejahatan remaja hingga saat ini belum terselesaikan dengan baik. .

Tabel 1.3. Keadaan Pegawai Berdasarkan Tingkatan usia
Tabel 1.3. Keadaan Pegawai Berdasarkan Tingkatan usia

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Koordinasi pemerintah kelurahan dengan lembaga pendididkan

Gambar

Tabel 1.3. Keadaan Pegawai Berdasarkan Tingkatan usia
Tabel 2.1. Keadaan Pegawai kelurahan Berdasarkan Jabatan

Referensi

Dokumen terkait

The Regulation of the Minister of Education and Culture of the Republic of Indonesia Number 84 of 2013 is a policy made by the Minister of Education and Culture in 2013 taking into

7$%/7LPHWDNHQWRXSGDWHVFKHPDWLFGUDZLQJVZLWKRXW*8, 1RRISDQHOV 1RRIPDLQ UHOD\LQSXW FLUFXLWV XSGDWHG 1RRI GUDZLQJVVHWV $YHUDJHWLPH WDNHQPLQVHF WRXSGDWH UHOD\LQSXW 7LPHWDNHQ