BAB IV MANAJEMEN LABORATORIUM
B. Fungsi labororatirum
Emda (2017, Vol 5 No 1) fungsi laboratorium adalah sebagai berikut:
a. Menyeimbangkan antara teori dan praktik ilmu dan menyatukan antara teori dan praktik,
b. Memberikan keterampilan kerja ilmiah bagi para peneliti, baik dari kalangan siswa, mahasiswa, dosen, atau peneliti lainnya. Hal ini disebabkan laboratorium tidak hanya menuntut pemahaman terhadap objek yang dikaji, tetapi juga menuntut seseorang untuk melakukan eksperimentasi,
c. Memberikan dan memupuk keberanian para peneliti (yang terdiri dari pembelajar, peserta didik, mahasiswa, dosen dan seluruh praktisi keilmuan lainnya) untuk mencari hakikat kebenaan ilmiah dari suatu objek keilmuan dalam lingkungan alam dan lingkungan sosial,
d. Menambah keterampilan dan keahlian para peneliti dalam mempergunakan alat media yang tersedia di dalam laboratorium untuk mencari dan menentukan kebenaran ilmiah sesuai dengan berbagai macam riset ataupun eksperimentasi yang akan dilakukan,
e. Memupuk rasa ingin tahu kepada para peneliti mengenai berbagai macam keilmuan sehingga akan mendorong mereka untuk selalu mengkaji dan mencari kebenaran ilmiah dengan cara penelitian, ujicoba, maupun eksperimentasi,
f. Laboratorium dapat memupuk dan membina rasa percaya diri para peneliti dalam keterampilan yang diperoleh atau terhadap penemuan yang didapat dalam proses kegiatan kerja di laboratorium,
g. Laboratoriun dapat menjadi sumber belajar untuk memecahkan barbagai masalah melalui kegiatan praktik, baik itu masalah dalam pembelajaran, masalah akademik, maupun masalah yang terjadi ditengah masyarakat yamg membutuhkan penanganan dengan uji laboratorium,
h. Laboratorium dapat menjadi sarana belajar bagi para siswa, mahasiswa, dosen, aktivis, peneliti dan lain-lain untuk memahami segala ilmu pengetahuan yang masih bersifat abstrak sehingga menjadi sesuatu yang bersifat konkret dan nyata.
Menurut Sukarso (2005), secara garis besar laboratorium dalam proses pendidikan adalah sebagai berikut: (1), Sebagai tempat untuk berlatih mengembangkan keterampilan intelektual melalui kegiatan pengamatan, pencatatan dan pengkaji gejala-gejala alam, (2) Mengembangkan keterampilan motorik siswa. Siswa akan bertambah keterampilannya dalam mempergunakan alat- alat media yang tersedia untuk mencari dan menemukan kebenaran, (3) Memberikan dan memupuk keberanian untuk mencari hakekat kebenaran ilmiah dari sesuatu objek dalam lingkungan alam dan sosial, (4) Memupuk rasa ingin tahu siswa sebagai modal sikap ilmiah seseorang calon ilmuan, (5) Membina rasa percaya diri sebagai akibat keterampilan dan pengetahuan atau penemuan yang diperolehnya.
70 Manajemen Sarana dan Prasarana C. Manajemen laborotarium
Manajemen laboratorium didasarkan terhadap beberapa hal pokok sebagai berikut (Decaprio, 2013:43)):
(1) Laboratorium harus dirancang dan dikelola untuk dapat menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan penggunanya dalam berbagai macam kegiatan praktek. Misalnya jika laboratorium itu berada di lingkungan sekolah, maka pengelolaannya harus dimaksudkan untuk menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan siswa dalam memahami materi pelajaran dengan bentuk kegiatan praktek di laboratorium, (2) Laboratorium harus dirancang dan dikelola untuk dapat melatih kemampuan menyusun dan menganalisis hasil pengamatan yang kemudian dilanjutkan untuk menafsirkan hasil pengamatan. Artinya laboratorium menjadi dasar pengembangan psikomotorik penggunanya, (3) Laboratorium harus dirancang dan dikelola untuk dapat melatih kemampuan membuat simpulan logis. Dengan kegiatan praktek yang dilakukan di laboratorium maka diharapkan dapat menemukan kebenaran yang bersifat ilmiah sesuai dengan hasil penelitian, bukan berdasarkan kesimpulan teoritis atau tafsir yang masih bersifat abstrak, (4) Laboratorium harus dirancang dan dikelola untuk dapat melatih kemampuan mengkomunikasikan hasil kegiatan praktek, (5) Laboratorium harus dirancang dan dikelola untuk dapat melatih keterampilan merancang kegiatan praktek dan melaksanakannya, (6) Laboratorium harus dirancang dan dikelola secara fleksibel serta tidak menekan siapa saja yang terlibat di dalamnya.
Selanjutnya terkait dengan elemen-elemen dalam manajemen laboratorium adalah sebagai berikut:
1. Perencanaan
Menurut Bafadal (2003:27), perencanaan sarana dan prasarana sekolah harus memenuhi prinsip-prinsip: 1) perencanaan sarana dan prasarana sekolah
harus betul-betul merupakan proses intelektual, 2) perencanaan di dasarkan pada analisis kebutuhan, 3) perencanaan sarana dan prasarana sekolah harus realistis, sesuai dengan kenyataan anggaran, 4) visualisasi hasil perencanaan sarana dan prasarana sekolah harus jelas dan rinci, baik jumlah, jenis, merek, dan harganya.
Merujuk pada pendapatnya Bafadal tersebut maka perencanaan laboratorium di sekolah harus memenuhi prinsip: 1) intelektual; karena kegiatan pembelajaran di laboratorium merupakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh saintis muda, 2) sesuai kebutuhan; karena keberadaan laboratorium sekolah merupakan kebutuhan dasar untuk melakukan eksperimentasi sederhana yang dapat dilakukan peserta didik dengan bimbingan guru, 3) realistis dengan kondisi sekolah; keberadaan laboratorium hendaknya disesuaikan dengan kondisi sekolah itu berada, baik letak geografis, ekonomis, maupun historisnya, dan 4) deskripsi laboratorium harus jelas dan rinci .
2. Pengorganisasian
Pengorganisasian dalam hal ini adalah melakukan aktivitas mengelola kegiatan laboratorium sekolah meliputi hal-hal sebagai berikut: (a) merumuskan rincian tugas.
Rincian tugas yang jelas dan yang mampu menjelaskan tugas dari masing-masing pihak yang terlibat dalam pengelolaan laboratorium maka kegiatan pengelolaan laboratorium akan berjalan dengan penuh tanggung jawab, (b) mengorganisir setting laboratorium yang meliputi pengaturan tata letak dan penataan yang mencakup penempatan peralatan dan bahan-bahan laboratorium juga perlu diorganisir (Ananda Rusydi, 2017).
3. Pengawasan
Manullang (2012:177), pengawasan dibedakan atas: (1) Pengawasan preventif, dimaksudkan untuk pengawasan yang dilakukan sebelum terjadinya penyelewengan,
72 Manajemen Sarana dan Prasarana
setelah rencana sudah dijalankan, dengan kata lain diukur hasil-hasil yang dicapai dengan alat pengukur standar yang telah ditentukan terlebih dahulu.
4. Pemeliharaan
Menurut Ibrahim Bafadal (2004: 49), terdapat beberapa macam pemeliharaan sarana dan prasarana laboratorium sekolah yaitu sebagai berikut: (1) pemeliharaan yang bersifat pengecekkan, pengecekan ini dilakukan oleh seseorang yang mengetahui tentang baik buruknya keadaan mesin, (2) pemeliharaan yang bersifat pencegahan, kondisi mesin selalu dengan keadaan yang baik, (3) pemeliharaan yang bersifat perbaikan ringan, (4)Perbaikan yang bersifat berat (Pakem, Hamong Putera).
Secara umum pemeliharaan terhadap laboratorium secara periodik yaitu melakukan pemeliharaan terhadap beberapa hal yaitu: (a) ruangan dan utility-nya, (b) jaringan listrik dan instalasi air, (c) kondisi alat dan suku cadang laboratorium, (d) kondisi pemadam kebakaran, dan (e) Kebersihan ruangan.