BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Nilai Religius Siswa
3. Fungsi Nilai Religius
20
setiap orang pasti berbeda-beda. Dan biasanya nilai ini lebih banyak dimiliki oleh para musisi, pelukis, dan perancang model.
5. Nilai Ibadah
Ibadah merupakan bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Arab, yaitu dari masdar ‘abadayang berarti penyembahan. Sedangkan secara istilah berarti khidmat kepada Tuhan, taat mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Jadi ibadah adalah ketaatan manusia kepada Tuhan yang diimplementasikan dalam kegiatan sehari- hari misalnya sholat, puasa, zakat, dan lain sebagainya.
6. Nilai Etika
Etika berasal dari bahasa yunani kuno bentuk tunggal kata etika yaitu ethos sedangkan bentuk jamaknya yaitu etha. Ethos mempunyai tempat tinggal yang biasa, kebiasaan , watak, perasaan. Etika adalah cabang dari filsafat yang menyelidiki penilaian suatu perbuatan atau tingkah laku manusia.apakah suatu perbuatan boleh dilakuankan atau tidak. Azizah (2003 : 4).
2. Sebagai petunjuk arah, yakni nilai berkaitan dengan cara berpikir, berperasan, bertindak, serta menjadi panduan dalam menentukan pilihan hidup.
3. Sebagai pengawas, yakni nilai mendorong , menuntun, bahkan menekan atau memaksa individu berbuat dan bertindak sesuai dengan nilain yang bersangkutan.
4. Sebagai alat solidaritas, yakni nilai dapat menjaga solidaritas di kalangan kelompok atau masyarakat.
5. Sebagai benteng perlindungan, yakni nilai berfungsi menjaga dari hal-hal negatif dalam suatu kelompok atau masyarakat.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Nilai Religius Siswa
Menurut Hadikusuma (1999 : 36) faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan nilai religius sesorang yaitu:
a. Lingkungan Keluarga
Keluarga sebagai lingkungan pertama yang mempengaruhi perkembangan nilai, moral dan sikap seseorang. Biasanya tingkah laku seseorang berasal dari bawaan ajaran orang tuanya. Orang-orang yang tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan orang tuanya di masa kecil, kemungkinan besar mereka tidak mampu mengembangkan superegonya sehingga mereka biasa menjadi orang yang sering melakukan pelanggaran norma.
22
b. Lingkungan Sekolah
Di sekolah, anak-anak mempelajari nilai-nilai norma yang berlaku di masyarakat sehingga mereka juga dapat menentukan mana tindakan yang baik dan boleh dilakukan. Tentunya dengan bimbingan guru. Anak- anak cenderung menjadikan guru sebagai model dalam bertingkah laku, oleh karena itu seorang guru harus memiliki moral yang baik.
c. Lingkungan Pergaulan
Dalam pengembangan kepribadian, factor lingkungan pergaulan juga turut mempengaruhi nilai, moral dan sikap seseorang. Pada masa remaja, biasanya seseorang selalu ingin mencoba suatu hal yang baru.
Dan selalu ada rasa tidak enak apabila menolak ajakan teman. Bahkan terkadang seorang teman juga bisa dijadikan panutan baginya.
d. Lingkungan Masyarakat
Masyarakat sendiri juga memiliki pengaruh yang penting terhadap pembentukan moral dan religi. Tingkah laku yang terkendali disebabkan oleh adanya control dari masyarakat itu sendiri yang mempunyai sanksi-sanksi tersendiri untuk pelanggar-pelanggarnya.
e. Tekhnologi
Pengaruh dari kecanggihan teknologi juga memiliki pengaruh kuat terhadap terwujudnya suatu nilai. Di era sekarang, remaja banyak menggunakan teknologi untuk belajar maupun hiburan. Contoh: internet memiliki fasilitas yang menwarkan berbagai informasi yang dapat diakses secara langsung.
Nilai positifnya, ketika remaja atau siswa mencari bahan pelajaran yang mereka butuhkan mereka dapat mengaksesnya dari internet. Namun internet juga memiliki nilai negativ seperti tersedianya situs porno yang dapat merusak moral remaja. Apalagi pada masa remaja memiliki rasa keingintahuan yang besar dan sangat rentan terhadap informsi seperti itu.
Mereka belum bisa mengolah pikiran secara matang yang akhirnya akan menimbulkan berbagai tindak kejahatan seperti pemerkosaan dan hamil di luar nikah/hamil usia dini.
24 BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian survey (lapangan) dengan pendekatan kualitatif dengan mengeksploitasi data di lapangan dengan metode analisis deskriptip yang bertujuan memberikan gambaran tentang bagaimana Pengaruh Perkembangan Media Sosial Terhadap Nilai Religius Siswa di SMK Negeri 1 Enrekang Kabupaten Enrekang.
B. Lokasi dan Objek Penelitian
Adapun lokasi penelitian ini adalah di SMK Negeri 1 Enrekang Kabupaten Enrekang. Dengan dasar dan pertimbangan bahwa di lokasi tersebut representatife dengan judul yang akan diteliti. Adapun objek penelitian ini adalah siswa SMK Negeri 1 Enrekang Kabupaten Enrekang.
C. Variabel Penelitian
Dengan melihat judul diatas pengaruh perkembangan media sosial terhadap nilai religius siswa, terdapat dua variabel. Yaitu variabel bebas (x) yaitu pengaruh perkembangan media sosial sedangkan variabel terikat (y) yaitu nilai religius siswa.
D. Defenisi Operasional Variabel
Agar penelitian ini dapat terarah dalam pengumpulan data, maka penulis mengemukakan defenisi variabel-variabelnya secara operasional, adalah sebagai berikut:
1. Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual yang memungkinkan penggunanya lebih muda berinteraksi satu sama lain.
2. Nilai religius adalah nilai kerohanian yang tertinggi, bersifat mutlak dan abadi, serta bersumber pada kepercayaan dan keyakinan dalam diri manusia.
E. Populasi Dan Sampel
Agar pembahasan hasil terarah dan sistematis sesuai dengan tujuan penelitian, maka peneliti berupaya semaksimal mungkin untuk menguraikan hal-hal yang terkait dengan metode penelitian ini adalah populasi dan sampel.
1. Populasi
Populasi dan sampel merupakan penentuan dalam penelitian.
Populasi mutlak di perlukan dalam penelitian, hal ini disebabkan karena populasi memberikan batasan terhadap apa yang akan diteliti. Untuk mengetahui dengan jelas dari masalah populasi itu, perlu dikemukakan tentang pengertian populasi , sebagaimana yang dikemukakan oleh para ahli sebagai berikut:
Menurut suharsimi arikunto (2002: 108) mengatakan, populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Sedangkan sugiono (2002: 55) bahwa populasi adalah keseluruhan objek yang diteliti, baik berupa benda, kejadian, nilai maupun hal-hal yang terjadi.
26
Berdasarkan beberapa pandangan di atas, maka dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan populasi adalah seluruh anggota atau objek yang akan diteliti di dalam suatu penelitian.
Tabel 1 Jumlah Populasi
No. Kelas Siswa
1 X 87
2 XI 95
3 XII 118
Jumlah 300
Sumber Data : Kantor SMK Negeri 1 Enrekang 2. Sampel
Dalam penelitian diperlukan adanya yang dinamakan sampel penelitian atau miniatur dari populasi hal ini mardalis (2004:55) mengatakan bahwa sampel adalah sebagian dari seluruh individu yang menjadi objek penelitian, sedangkan sampel menurut sutrisni hadi (2002:
221) adalah sebagian dari populasi penelitian yang di pilih yang memiliki sifat yang sama dengan populasi dengan kata lain sampel adalah sebagian dari populasi yang di teliti.
Suharsimi Arikunto (2010 : 134) mengemukakan bahwa:
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan sampel adalah bagian populasi yang hendak diteliti dan mewakili karakteristik populasi. Apabila populasi penelitian berjumlah kurang dari 100 maka sampel yang diambil adalah semuanya, namun apabila
populasi penelitian berjumlah lebih dari 100 maka sampel dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih
Dengan melihat beberapa pendapat di atas maka penulis menyimpulkan bahwa sampel adalah bagian dari populasi yang mewakili keseluruhan. Adapun yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas X, XI, XII SMK Negeri 1 Enrekang berjumlah x 300 = 60
untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut ini:
Tabel 2 Keadaan Sampel
No. Kelas Siswa
1 X 17
2 XI 19
3 XII 24
Jumlah 60
Sumber Data : Kantor SMK Negeri 1 Enrekang F. Instrumen Penelitian
Adapun instrumen yang penulis akan pergunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pengaruh perkembangan media sosial terhadap nilai religius siswa di SMK Negeri 1 Enrekang.
Instumen yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian ini adalah mengunakan angket, panduan wawancara, dan observasi untuk mengukur, mengamati dan mencatat pengaruh perkembangan media sosial terhadap nilai religius siswa di SMK Negeri 1 Enrekang Kabupaten Enrekang.
28
G. Teknik Pengumpulan Data A. Angket
Angket atau kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.
B. Dokumentasi
Kegiatan dekomentasi dimaksud untuk memperoleh data siswa kelas X. Ak1 SMK Negeri 1 Enrekang Kabupaten Enrekang, kurikulum dan rencana pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran pendidikan agama islam dengan standar kompetensi akan di sesuaikan pada saat penelitian.
C. Wawancara
Wawancara dilakukan untuk mengumpulkan data yang di lakukan secara langsung yaitu kepada guru pandidikan agama islam D. Observasi
Observasi ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh perkembangan media sosial terhadap nilai religius siswa.
H. Teknik Analisis Data
Data yang telah terkumpul baik dari hasil dokumen, wawancara, angket dan observasi akan dianalisisa dengan menggunakan teknik induktif Model Miles dan Huberman. Mula-mula peneliti akan melakukan reduksi data dimana data-data yang diperoleh dipilah-pilah berdasarkan kategori dan konsep tertentu. Dari hasil reduksi data tersebut, kemudian
dipaparkan dalam bentuk naratif untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dan mudah dipahami tentang persoalan penelitian yang diteliti.
Setelah itu peneliti akan menarik kesimpulan sebagai hasil penelitian.
Untuk melihat persentase hasil analisis data, Hermawan Wasito (1997: 58) memaparkan rumus sebagai berikut:
P = F
N × 100%
Keterangan F : Frekuensi
N : Jumlah frekuensi/banyaknya responden P : Angka persentase
Hasil dari perhitungan tersebut, kemudian peneliti tabulasikan dalam bentuk table frekuensi dan diberikan interpretasi terhadap hasil tabulasi untuk menjawab permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya.
30 BAB IV
HASIL PENELITIAN A. Sekilas Tentang SMK Negeri 1 Enrekang
Pada pembahasan ini penulis menguraikan tentang hasil penelitian, namun sebelum terlalu jauh membahas mengenai hasil penelitian ini, terlebih dahulu peneliti memberikan gambaran tentang obyek lokasi penelitian sebagai berikut:
1. Sejarah Berdirinya SMK Negeri 1 Enrekang
Berdiri sejak Tahun 1965 dengan nama SMEP Kalosi, Kabupaten Enrekang. Tahun 1968 merupakan kelas jauh Rantepao, Empat Tahun kemudian (1972) menjadi kelas jauh dari SMEA Negeri Rappang. Tahun 1976 merupakan kelas jauh dari SMEA Negeri Pangkajene Sidenreng. Tahun 1978 kelas jauh dari SMEA Negeri Pinrang. Tahun 1978–1985 berubah menjadi SMEA YAKSAPEKA Kalosi.
Perjalanan panjang dari sekolah ini, tepatnya 1986–1999 diakreditasi dengan status diakui, Tahun 1999 behasil menjadi SMK Negeri 1 Enrekang, dibuktikan dengan keluarnya SK pendirian sekolah No 217/ 0 / 2000 tanggal 17 November 2000.
2. Visi dan Misi SMK Negeri 1 Enrekang a. Visi SMK Negeri 1 Enrekang
SMK Negeri 1 Enrekang sebagai pusat pendidikan dan pelatihan bertaraf nasional dan internasional.
b. Misi SMK Negeri 1 Enrekang
1. Menghasilkan lulusan yang berkepribadian unggul dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bertaraf nasional dan internasional, menyiapakan lulusan yang mampu mengembangkan kompetensi secara professional dan berwawasan global.
3. Menyiapkan lulusan yang siap kerja cerdas dan kompetitif, menjadi wirausahawan yang tangguh.
3. Keadaan Guru dan Pegawai
Guru dan pegawai merupakan salah satu komponen yang sangat penting pula dalam pengelolaan pendidikan dan pengajaran. Guru sebagai anggota masyarakat yang mengembang suatu tugas profesional mempunyai syarat-syarat profesional yang dipercayakan untuk mentransfer nilai-nilai pendidikan kepada peserta didik sebagai suatu jawaban profesional yang dilaksanakan atas dasar kode etik keguruan yang di dalamnya tercakup suatu kedudukan fungsional yang melaksanakan tanggung jawabnya sebagai pengajar, pemimpin dan sebagai orang tua. Untuk mengetahui keadaan guru dan pegawai yang ada di SMK Negeri 1 Enrekang Kab. Enrekang dapat diliat pada tabel berikut:
32
Tabel 3
Keadaan Guru dan Pegawai
NO NAMA/NIP/NUPTK JK TEMPAT/
TGL. LAHIR JABATAN
1 2 3 4 5
GURU TETAP
1
Drs. Abbas
-19641231 198903 1 210 - 3563742643200023
L
Tellang-Tellang, Tahun 1964
Ka Sek.
2
Muhammad Yusuf -
- 2653737639200023
L
U.Pandang, Tahun 1959
Guru Wakasek
3
Muh. Sain, S.Pd.
-
- 2563747650200013
L
Enrekang, Tahun 1969
Guru
4
Suparman, S.I.P.
- 2334475465620003
L
Paseno, 02-10-1976
Guru
5
Lina Budihartini, S.Pd.
- P
U.Pandang 25-06-1984
Guru
6
Idayanti, S.Pd.
- P
Lt. Salo, 25-02-1986
Guru
7
Darti A. Pariwusi
-2550736638300002
P
Rappang, Tahun 1958
Pegawai
8
H a s n i
-1444740643300003
P
Baranti, Tahun 1962
Pegawai
Sumber Data : Kantor SMK Negeri 1 Enrekang
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa sumber daya manusia di SMK Negeri 1 Enrekang sangat memadai dalam rangka meningkatkan minat hasil belajar siswa yang ada di sekolah tersebut.
4. Keadaan Siswa
Siswa merupakan komponen yan sangat penting dalam proses belajar mengajar. Siswa menjadi sasaran atau objek sekaligus sebagai subyek atau pelaksana dalam kegiatan belajar mengajar, karena kelanjutan dari suatu lembaga pendidikan ataupun dalam usaha untuk menarik minat masyarakat, juga tergantung adanya jumlah siswa yang hadir di sekolah tersebut. Dengan kata lain siswa adalah sebagai daya tarik dalam menentukan jumlah siswa yang masuk di tahun-tahun berikutnya. Siswa atau anak didik yang dimaksud di sini adalah anak yang belum dewasa, yang masih memerlukan bimbingan dan pertolongan dari orang lain yang telah dewasa guna melaksanakan tugasnya sebagai hamba Allah SWT, sebagai khalifah di muka bumi, juga sebagai anggota masyarakat.
Dalam kaitannya dengan uraian-uraian tersebut di atas, maka berikut ini akan menguraikan tentang data siswa SMK Negeri 1 Enrekang berdasarkan jumlah dan jenis kelamin secara keseluruhan, tabel berikut:
34
Tabel 4
Keadaan Siswa di SMK Negeri 1 Enrekang Kab. Enrekang
No. Kelas Siswa
1 X 87
2 XI 95
3 XII 118
Jumlah 300
Sumber Data : Kantor SMK Negeri 1 Enrekang 5. Keadaan Sarana dan Prasarana
Keadaan Sarana dan prasarana SMK Negeri 1 Enrekang Kabupaten Enrekang dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 5
Keadaan Sarana dan Prasaana SMK Negeri 1 Enrekang
No Jenis Sarana Jumlah Letak
1 Meja Siswa 14 Ruang TB
2 Lemari 1 Ruang TB
3 Papan Tulis 1 Ruang TB
4 Kursi Guru 1 Ruang TB
5 Meja Guru 1 Ruang TB
6 Kursi Siswa 25 Ruang TB
7 Lap Former 1 Lab. Akuntansi
8 Meja Siswa 5 Lab. Akuntansi
9 Tempat Sampah 1 Lab. Akuntansi
10 Meja Siswa 30 Lab. Akuntansi
11 Printer Deskjet-Color 2 Lab. Akuntansi
12 Jam Dinding 1 Lab. Akuntansi
13 Sapu ijuk 3 Lab. Akuntansi
14 Printer Deskjet 1 Lab. Akuntansi
15 Printer Deskjet 1 Lab. Akuntansi
16 Papan Tulis/White Board 1 Lab. Akuntansi
17 Kursi Siswa 30 Lab. Akuntansi
18 Kursi Siswa 5 Lab. Akuntansi
19 LCD Proyektor 1 Lab. Akuntansi
20 Printer Laserjet 1 Lab. Akuntansi
21 Komputer PC 20 Lab. Akuntansi
22 Komputer PC 15 Lab. Akuntansi
23 Lemari Rak Tinggi 1 Lab. Akuntansi
24 Meja Guru 2 Lab. Akuntansi
25 Ember Plastik 1 Lab. Akuntansi
26 Lemari Kaca 1 Lab. Akuntansi
27 Kursi Guru 2 Lab. Akuntansi
28 Layar (Screen) 1 Lab. Akuntansi
29 Papan pengumuman 1 Lab. Akuntansi
30 Meja Siswa 16 Ruang JB
31 Kursi Siswa 30 Ruang JB
32 Papan Tulis 1 Ruang JB
33 Lemari 1 Ruang JB
34 Meja Guru 1 Ruang JB
Sumber Data : Kantor SMK Negeri 1 Enrekang Kab. Enrekang B. Perkembangan Media Sosial Siswa di SMK Negeri 1 Enrekang
Kabupaten Enrekang
Perkembangan media sosial siswa yang ada di SMK Negeri 1 Enrekang Kabupaten Enrekang dapat dikatakan semakin meningkat seiring lajunya pekembangan media sosial saat ini sebagian besar siswa mengggunakan media sosial setiap saat namun secara langsung itu terjadi diluar sekolah kerena pada saat siswa berada dalam lingkungan sekolah siswa tidak dapat menggunakan ponsel karena adanya larangan siswa menggunakan ponsel di sekolah.
Pesatnya perkembangan media sosial kini dikarenakan semua siswa seperti bisa memiliki media sendiri. Jika untuk memiliki media tradisional seperti televisi, radio, atau koran dibutuhkan modal yang besar dan tenaga kerja yang banyak, maka lain halnya dengan media. Seorang
36
pengguna media sosial bisa mengakses menggunakan media sosial dengan jaringan internet bahkan yang aksesnya lambat sekalipun, tanpa biaya besar, tanpa alat mahal dan dilakukan sendiri tanpa karyawan.
Pengguna media sosial dengan bebas bisa mengedit, menambahkan, memodifikasi baik tulisan, gambar, video, grafis, dan berbagai model content lainnya yang dibutuhkan di sekolah.
Hal ini ditegaskan oleh Ibu Hartati (guru Pendidikan Agama Islam) Perkembangan media sosial siswa di SMK Negeri 1 Enrekang banyak mengalami perkembangan seiring lajunya perkembangan tekhnologi saat ini termasuk media sosial. Media sosial saat ini, menjadi paporit tersendiri bagi siswa, namun media sosial itu sendiri hanya dapat memberi dampak negatif bagi siswa yang terlalu berlebihan menggunakan media sosial. (wawancara 2 Oktober 2015).
Tidak dapat dipungkiri jika kemajuan teknologi khususnya internet saat ini berkembang sangat pesat. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya inovasi-inovasi yang telah dibuat di dunia ini. Salah satu inovasi yang dibuat adalah media sosial. Media sosial merupakan salah satu inovasi yang diciptakan untuk membantu dan mempermudah manusia dalam bersosialisasi. Jejaring sosial juga dapat digunakan untuk media belajar. Individu yang memiliki minat terhadap sesuatu dapat membentuk kelompok dijejaring sosial. Mereka dapat saling bertukar pikiran dan belajar tanpa harus ada hubungan tatap muka. Dengan pemanfaatan jejaring sosial seperti ini, ilmu pengetahuan akan berkembang lebih cepat. Jejaring sosial juga mempengaruhi kemampuan berbahasa generasi muda. Bagi anak dan remaja, tidak adanya aturan
ejaan dan tata bahasa di situs jejaring sosial akan membuat mereka semakin sulit untuk membedakan antara berkomunikasi di situs jejaring sosial dan di dunia nyata.
Untuk memperkuat data tentang perkembangan media sosial siswa di SMK Negeri 1 Enrekang maka berikut disajikan beberapa tabel hasil angket yang diberikan kepada responden.
Tabel 6
Jawaban Responden Tentang Proses Perkembangan media sosial di SMK Negeri 1 Enrekang
No Alternative jawaban Frekuensi Persentase
1 Sangat baik 10 17%
2 Baik 46 77%
3 Cukup baik 4 6%
Jumlah 60 100%
Sumber : Hasil Olah Data Angket Nomor 1
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa 10 atau 17%
responden mengatakan bahwa perkembangan media sosial di SMK Negeri 1 Enrekang sangat baik. 46 atau 77% mengatakan perkembangan media sosial di SMK Negeri 1 Enrekang baik , dan 4 atau 6% mengatakan cukup baik. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan media sosial di SMK Negeri 1 Enrekang berkembang dangan baik.
38
Tabel 7
Jawaban Responden Tentang Perkembangan Media Sosial Memenuhi Kebutuhan Belajar Siswa di SMK Negeri 1 Enrekang
No Alternative Jawaban Frekuensi Persentase
1 Sangat terpenuhi 14 23%
2 Tepenuhi 27 45%
3 Cukup terpenuhi 17 28%
4 Tidak terpenuhi 2 4%
Jumlah 60 100%
Sumber : Hasil Olah Data Angket Nomor 2
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa 14 atau 23%
responden mengatakan bahwa perkembangan media sosial di SMK Negeri 1 Enrekang sangat terpenuhi dalam kebutuhan belajar siswa, 27 atau 45% mengatakan memenuhi kebutuhan belajar siswa, 17 atau 28%
mengatakan cukup memenuhi kebutuhan belajar siswa dan 2 atau 4%
mengatakan kebutuhan belajar siswa tidak terpenuhi. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan media sosial di SMK Negeri 1 Enrekang dapat memenuhi kebutuhan belajar siswa dengan baik.
Dengan menggunakan media sosial dapat membantu siswa dalam berbagai hal, seperti membantu mendapatkan teman yang baik, menambahkan kreatifitas, membantu bekerjasama dan berkolaborasi menciptakan kreasi, berfikir, pengguna media sosial dengan bebas bisa mengedit, menambahkan, memodifikasi baik tulisan, gambar, video,
grafis, dan berbagai model lainnya yang dibutuhkan dalam proses belajar mengajar .
Tabel 8
Jawaban Responden Tentang Dampak Perkembangan Media Sosial di SMK Negeri 1 Enrekang
No Alternative jawaban Frekuensi Persentase
1 Sangat baik 8 13%
2 Baik 33 55%
3 Cukup baik 19 32%
Jumlah 60 100%
Sumber : Hasil Olah Data Angket Nomor 3
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa 8 atau 13%
responden mengatakan bahwa perkembangan media sosial di SMK Negeri 1 Enrekang dampaknya sangat baik bagi siswa, 33 atau 55%
mengatakan perkembangan media sosial baik bagi siswa, dan 19 atau 32% mengatakan cukup baik bagi siswa. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan media sosial di SMK Negeri 1 Enrekang dampaknya baik bagi siswa atau positif bagi siswa.
Media sosial sangat memberikan dampak positif bagi siswa, dimana media sosial itu mengajarkan untuk lebih meningkatkan kreasi, saling berbagi ide, dan pengguna media sosial dengan bebas bisa mengakses media sosial sesuai yang dibutuhkan dalam pembelajaran.
40
C. Nilai Religius Siswa di SMK Negeri 1 Enrekang Kabupaten Enrekang
Pada umumnya nilai religius siswa di SMK Negeri 1 Enrekang Kabupaten Enrekang dapat dikatakan baik dibuktikan dengan pelaksanaan shalat jama’ah Dzuhur di sekolah serta bacaan Al-Quran siswa rata-rata lancar dan baik serta Pendidikan Agama Islam lebih ditingkatkan dengan adanya pelajaran tambahan disekolah. Pendidikan Agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi religius dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama.
Berikut perbedaan nilai religius siswa sebelum dan setelah berkembangnya media sosial :
1. Nilai religius siswa di SMK Negeri 1 Enrekang sebelum berkembangnya media sosial:
a. Siswa lebih aktif beribadah, seperti pelaksanaan shalat Dzuhur secara berjama’ah di sekolah, pengajian bersama satu kali seminggu,
b. Siswa lebih sopan kepada guru di sekolah, c. Siswa saling menghargai satu sama lain.
2. Sedangkan nilai religius siswa setelah berkembangnya media sosial di SMK Negeri 1 Enrekang :
a. Berkurangnya keefektipan siswa dalam beribadah seperti melaksanakan shalat Dzuhur secara berjama’ah dan pemahaman mengenai pelajaran Agama Islam semakin berkurang sebagai akibat dari media social.
b. Perkembangan media sosial di SMK Negeri 1 Enrekang mempengaruhi kurangnya kesopanan siswa kepada guru.
c. Siswa tidak menghargai satu sama lain.
Adapun bentuk-bentuk nilai religius yang perlu diajarkan kepada siswa untuk ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu :
1. Ibadah
Ibadah merupakan bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Arab, yaitu dari masdar ‘abadayang berarti penyembahan. Sedangkan secara istilah berarti khidmat kepada Tuhan, taat mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Jadi ibadah adalah ketaatan manusia kepada Tuhan yang diimplementasikan dalam kegiatan sehari- hari misalnya sholat, puasa, zakat, dan lain sebagainya.
Ibadah perlu ditanamkan kepada diri seorang peserta didik, agar peserta didik menyadari pentingnya beribadah kepada Allah. bahkan penanaman nilai ibadah tersebut hendaknya dilakukan ketika anak masih kecil dan berumur 7 tahun, yaitu ketika terdapat perintah kepada anak untuk menjalankan shalat. Perintah mendirikan shalat mempunyai nilai- nilai edukatif yang sangat mendalam, karena shalat itu tidak hanya dikerjakan sekali atau dua kali saja, tetapi seumur hidup selama hayat