BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4 Gambaran Akses Media dan Asuransi Responden
Hasil penelitian di tabel 3 menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki keluarga yang tidak pernah membaca surat kabar (62,7%), tidak mendengarkan radio (62,6%), 1 kali seminggu menonton televisi (84,7%), tidak mengakses internet (52,0%), frekuensi akses internet yang tidak pernah (55,0%), memiliki asuransi kesehatan (59,9%)
Tabel 4.4
Distribusi Responden Berdasarkan Akses Media dan Asuransi pada Balita 12 -23 bulan di Indonesia tahun 2017
Variabel Kategori Jumlah Presentase
(%) Membaca Surat
Kabar Tidak pernah 4067 62,7
Kurang dari 1 kali seminggu 1860 28,7
1 kali seminggu 557 8,6
Total 6483 100
Mendengarkan Radio Tidak pernah 4060 62,6
Kurang dari 1 kali seminggu 1706 26,3
1 kali seminggu 717 11,1
Total 6483 100
Menonton Televisi Tidak pernah 250 3,9
Kurang dari 1 kali seminggu 743 11,5
1 kali seminggu 5491 84,7
Total 6483 100
Mengakses Internet Tidak 3370 52,0
Ya 3114 48,0
Total 6483 100
Frekuensi Akses
Internet Tidak pernah 3567 55,0
Kurang dari 1 kali seminggu 193 3,0
1 kali seminggu 640 9,9
Hampir setiap hari 2084 32,1
Total 6483 100
Kepemilikan Asuransi
Kesehatan Tidak 2598 40,1
Ya 3886 59,9
Total 6483 100
4.5 Hubungan Karakteristik Keluarga Dengan Kelengkapan Imunisasi
Berdasarkan uji ch-square yang dilakukan, hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kelengkapan imunisasi dasar dengan pendidikan ibu (P−value 0,000), status hubungan ibu (P−value 0,042), pendidikan ayah (P−value 0,000), dan variable ayah tinggal bersama ibu (P−value 0,000).
Hubungan yang bermakna juga didapatkan antara status hubungan ibu dengan kelengkapan status imunisasi dasar. Anak dengan ibu yang tidak ada hubungan berisiko lebih besar untuk memiliki imunisasi dasar tidak lengkap dibandingkan anak dengan ibu yang pernah
dan sedang berhubungan. Hasil pada penelitian ini berbeda dengan penelitian Luman (2007) dan Etana (2012) di Ethiopia yang mendapatkan hasil bahwa ibu yang berstatus menikah tidak berhubungan bermakna dengan kelengkapan imunisasi dasar anak.
Di samping itu, hasil uji bivariat juga memperlihatkan adanya peningkatan peluang pemberian imunisasi seiring dengan peningkatan tingkat pendidikan formal ibu. hasil penelitian menunjukkan ibu dengan pendidikan primer berpeluang 1,294 (95% CI : 0,987- 1,695) untuk memberikan imunisasi dasar lengkap dibandingkan ibu yang tidak sekolah.
Peluang semakin besar pada ibu berpendidikan terakhir skunder dengan PR = 1,531 (95%CI : 1,171-2,000) Sedangkan pada ibu berpendidikan tinggi, peluang tersebut menjadi 1,579 (95%CI : 1,205-2,083). Hasil penelitian ini serupa juga diungkapkan pada beragam penelitian (Nankabirwa et.al, 2010) (Ozer et.al, 2018).
Tabel 4.5.
Hubungan Karakteristik dengan Status Imunisasi Dasar Lengkap Pada balita 12 -23 bulan di Indonesia tahun 2017.
Variabel Peran Keluarga
Status imunisasi
P−value PR
95% CI Lengkap
Tidak
Lengkap Total
n % n % n %
Usia Ibu
≥ 30 tahun 2377 67,9 1122 32,1 3499 100
0,882 0,995 (0,927-1,068) < 30 tahun 2022 67,8 962 32,2 2984 100
Pendidikan Ibu
Tidak sekolah 29 46 34 54,0 63 100 1
1,29 (0,99-1,69)
Primer 966 59,6 656 40,4 1622 100 0,037
Sekunder 2646 70,5 1109 29,5 3755 100 0,000 1,53 (1,17-2,00)
Tinggi 758 72,7 285 27,3 1043 100 0,000 1,58 (1,20-2,08)
Pekerjaan Ibu
Bekerja 2101 68,1 986 31,9 3087 100
0.723 0,987 (0,920-1,060) Tidak bekerja 2298 67,6 1099 32,4 3397 100
Waktu Kerja Ibu
Sepanjang tahun 1871 68,7 853 31,3 2724 100 1
Musiman 138 65,7 72 34,3 210 100 0,397 0,95 (0,86-1,05)
Sesekali 91 60,3 60 39,7 151 100 0,038 0,87(0,77-1,01)
Upah Kerja Ibu
Tidak dibayar 395 64,3 219 35,7 614 100 1
Barang 10 71,4 4 28,6 14 100 0,779 1,11 (0,79 – 1,55)
Uangdan barang 57 63,3 33 36,7 90 100 0,854 1,016(0,83-1,16)
Uang 1639 69,2 730 30,8 2369 100 0,021 1,07(1,00-1,14)
Status Hubungan Ibu
Tidak ada hubungan 2 40 3 60,0 5 100 1
Pernah berhubungan 91 59,9 61 40,1 152 100 0,398 1,49(0,51-4.40)
Sedang berhubungan 4306 68,1 2020 31,9 6326 100 0,336 1,70 (0,58-4,97) Usia Ayah
≥ 30 tahun 3186 68 1499 32,0 4685 100
0,854 1,008 (0,928-1,094) < 30 tahun 1120 68,3 521 31,7 1641 100
Pendidikan Ayah
Tidak sekolah 22 44,9 27 55,1 49 100 0,000 1
1,39(1.02 -1,91)
Primer 1090 62,8 647 37,2 1737 100 0,011
Sekunder 2576 70,1 1100 29,9 3676 100 0,000 1,56(1,14 - 2,13)
Tinggi 617 71,5 246 28,5 863 100 0,000 1,59 (1,16 – 2,17)
Pekerjaan Ayah
Tidak bekerja 27 65,9 14 34,1 41 100
0,761 1,070 (0,698-1,639)
Bekerja 4278 68,1 2006 31,9 6284 100
Ayah Tinggal Bersama
Tinggal terpisah 431 75,1 143 24,9 574 100
0,000 0,764 (0,659-0,884) Tinggal Bersama 3874 67,4 1876 32,6 5750 100
Dilihat dari sisi ayah, tabel 5 juga menunjukkan bahwa pendidikan ayah mempunyai hubungan bermakna dengan status imunisasi dasar dengan P−value 0,000. Berdasarkan nilai risk estimate, hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang memiliki ayah yang tidak sekolah berisiko 2,044 kali untuk memiliki imunisasi dasar tidak lengkap dibandingkan dengan responden yang memiliki ayah dengan pendidikan terakhir primer (95% CI 1,154-3,619).
Risiko meningkat jika kelompok tersebut dibandingkan dengan kelompok responden dengan ayah berpendidikan sekunder; yaitu sebesar 2,840 kali (95% CI 1,610-5,009). Resiko semakin tinggi seiring dengan semakin tingginya tingkat pendidikan kelompok pembanding. Jika dibandingkan dengan responden dengan ayah berpendidikan tinggi, responden yang memiliki ayah yang tidak sekolah berisiko 3,037 kali untuk memiliki imunisasi dasar tidak lengkap (95%
CI 1,697-5,435).
Hasil pada penelitian ini sejalan dengan penelitian Som (2010) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pendidikan orang tua dengan cakupan imunisasi anak. Hasil yang berbeda didapatkan oleh TM Thaib (2013) yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pendidikan ayah dengan riwayat imunisasi dasar lengkap, meskipun terdapat kecenderungan bahwa anak dengan pendidikan ayah yang lebih tinggi mempunyai riwayat imunisasi dasar lengkap yang lebih tinggi.
Hasil lain yang didapatkan pada penelitian ini adalah adanya hubungan yang bermakna antara ayah tinggal bersama dengan ibu dengan kelengkapan imunisasi dasar. Namun status imunisasi tidak lengkap lebih banyak didapatkan pada anak dengan ayah yang tinggal bersama dengan ibu dibandingkan dengan anak dengan ayah yang tinggal terpisah dengan ibu.
4.6 Hubungan Akses Media Dengan Kelengkapan Imunisasi
Hasil penelitian yang tertera pada tabel 6 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara status imunisasi dasar dengan membaca surat kabar (P−value 0,009),
menonton televisi (P−value 0,000), mengakses internet (P−value 0,000), frekuensi akses internet (P−value 0,000), dan kepemilikan asuransi kesehatan (P−value 0,000).
Tabel 4.6
Hubungan Akses Media dan Asuransi Dengan Status Imunisasi Dasar Lengkap Pada balita 12 -23 bulan di Indonesia tahun 2017.
Akses Media dan Asuransi
Status imunisasi
P−value PR
95% CI Lengkap
Tidak Lengkap
Total
n % n % n %
Membaca Surat Kabar
Tidak pernah 2704 66,5 1363 33,5 4067 100 1
Kurang dari 1 kali seminggu 1302 70 557 30,0 1859 100 0,007 1,053 (1,015-1,092) 1 kali seminggu 393 70,6 164 29,4 557 100 0,055 1,206 (1,061-1,124) Mendengarkan Radio
Tidak pernah 2752 67,8 1308 32,2 4060 100 1
Kurang dari 1 kali seminggu 1164 68,2 542 31,8 1706 100 0,740 1,007 (0,968-1,046) 1 kali seminggu 483 67,4 234 32,6 717 100 0,825 1,006 (0,940-1,050) Menonton Televisi
Tidak pernah 119 47,6 131 52,4 250 100 1
Kurang dari 1 kali seminggu 491 66,2 251 33,8 742 100 0.000 1,390 (1,209-1,600) 1 kali seminggu 3789 69 1702 31,0 5491 100 0,000 1,447 (1,271-1,652) Mengakses Internet
Tidak 2179 64,7 1190 35,3 3369 100
0,000 1,230 (1,145-1,322)
Ya 2220 71,3 894 28,7 3114 100
Frekuensi Akses Internet
Tidak pernah 2314 64,9 1253 35,1 3567 100 1
Kurang dari 1 kali seminggu 145 74,7 49 25,3 194 100 0,005 1,152(1,105-1,254) 1 kali seminggu 463 72,3 177 27,7 640 100 0,000 1,114 (1,057-1,176) Hampir setiap hari 1478 70,9 606 29,1 2084 100 0,000 1,092 (1,053-1,133) Kepemilikan Asuransi Kesehatan
Tidak 1681 64,7 916 35,3 2597 100
0,000 1,174 (1,093-1,260)
Ya 2718 69,9 1168 30,1 3886 100
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara status imunisasi dasar dengan kebiasaan membaca surat kabar dengan pvalue <0,05 . Berdasarkan nilai risk estimate, ibu yang membaca surat kabar kurang dari 1 kali seminggu berpeluang 1,053 (95%CI :1,015-1,092) kali untuk memberikan imunisasi dasar lengkap dibandingkan ibu yang tidak pernah membaca surat kabar. Peluang tersebut semakin meningkat seiring dengan peningkatan frekuensi membaca surat kabar. Hubungan dan peluang yang seruap juga terjadi pada hubungan variable menonton telivisi dengan kelengkapan status imunisasi dasar.
Akses terhadap media internet juga menunjukkan hubungan yang bermakna dengan status imunisasi dasar dengan pvalue 0,000. Berdasarkan nilai risk estimate, hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang mengakses internet berpeluang 1,230 kali (95% CI 1,145-1,322).
untuk memberikan imunisasi dasar lengkap dibandingkan ibu yang tidak mengakses internet.
Hal ini sejalan dengan penelitian glanz J. M,. et al (2017) dengan OR = 1,92; 95% [CI], 1,07- 3,47) (Wagner et al., 2020).
Berdasarkan frekuensi akses internet, ibu yang memiliki frekuensi akses internet kurang dari 1 kali seminggu berpeluang 1,152 kali (95%CI : 1,105-1,254) untuk memberikan imunisasi dasar lengkap dibandingkan ibu dengan yang tidak pernah frekuensi akses internet.
Peluang semakin berkurang seiring dengan peningkatan frekuensi akses internet.
Di samping itu, hasil penelitian juga menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara kepemilikan asuransi dengan status imunisasi dasar. Berdasarkan perhitungan risk estimate, ibu yang memiliki asuransi kesehatan berisiko 1,174 kali (95% CI 1,093-1,260).untuk memberikan imunisasi dasar lengkap dibandingkan yang tidak memiliki asuransi Kesehatan.
Menurut Arifiantio (2014), sumber informasi mengenai imunisasi paling banyak diperoleh masyarakat melalui situs internet. Namun informasi dapat berpengaruh negatif dan terkadang membuat keraguan seorang terhadap pembeiran imunisasi (Arifianto, 2017).
4.7 Analisis Multivariat Pengaruh Peran Keluarga dan Akses Media Terhadap Kelengkapan Imunisasi
Berdasarkan hasil uji multivariat, hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu, mendengarkan radio, menonton televisi, dan kepemilikan asuransi kesehatan (P−value < 0,05). Variabel pendidikan ibu tingkat tinggi merupakan variabel dengan peluang paling besar, yaitu 2,803 (95%CI: 1,27 – 6,15)
Tabel 4.7
Hasil Analisis Multivariat Faktor Peran Keluarga, Akses Media dan Asuransi Kesehatan dengan Status Imunisasi Balita 12 -23 bulan Di Indonesia Tahun 2017
Variabel B SE df Sig Exp (B) Lower Upper
Pendidikan ibu 3 0,002
Tidak Sekolah
Pendidikan Primer 0,461 0,377 1 0,221 1,586 0,758 3,318 Pendidikan Skunder 0,792 0,382 1 0,038 2,209 1,044 4,674 Pendidikan Tinggi 1,031 0,401 1 0,010 2,803 1,278 6,150
Waktu kerja ibu 2 0,286
Sepanjang tahun
Musiman 0,088 0,161 1 0,582 1,092 0,797 1,497
Sesekali -0,255 0,179 1 0,154 0,775 0,545 1,101
Upah kerja ibu 3 0,881
Tidak Dibayar
Barang 0,188 0,600 1 0,754 1,207 0,373 3,909
Uang dan Barang -0,168 0,248 1 0,497 0,845 0,520 1,373
Uang 0,008 0,104 1 0,936 1,008 0,822 1,237
Pendidikan ayah 3 0,189 Tidak Sekolah
Primer 0,371 0,433 1 0,392 1,449 0,621 3,382
Skunder 0,567 0,436 1 0,193 1,763 0,751 4,140
Pada variabel pendidikan tinggi ibu, terlihat bahwa ibu dengan pendidikan tinggi bepeluang 2,803 untuk memiliki status imunisasi dasar lengkap. Peluang ini jauh lebih besar daripada ibu dengan pendidikan skunder maupun ibu dengan pendidikan primer. Hasil penelitian serupa juga diungkapkan pada beragam penelitian (Awasthi et al., 2015)(Özer, Fidrmuc, Mehmet, & Eryurt, 2018). Menurut Ozer dkk (2018), pendidikan yang dimiliki ibu meningkatkan probabilitas ibu untuk memberikan imunisasi dasar lengkap pada anaknya. Ibu yang mempunyai pendidikan bagus cendrung mempunyai perilaku pencarian kesehatan dan mengevaluasinya (Krishna, Afiah, Zulkefli, & Mahmud, n.d.). Ibu yang memiliki pendidikan yang baik dinilai mempunyai tingkat pengetahuan yang baik (Awasthi et al., 2015).
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Sebanyak 67,9% anak usia 12 – 23 bulan di Indonesia sudah memiliki status imunisasi dasar lengkap.
2. Karakteristik keluarga yang berhubungan bermakna dengan kelengkapan imunisasi dasar pada anak usia 12 – 23 bulan di Indonesia adalah pendidikan ibu, status hubungan ibu, pendidikan ayah, dan ayah tinggal bersama ibu.
3. Akses media yang berhubungan bermakna dengan kelengkapan imunisasi dasar pada anak usia 12 – 23 bulan di Indonesia adalah membaca surat kabar, menonton televisi, mengakses internet, frekuensi akses internet, dan kepemilikan asuransi kesehatan.
4. Faktor yang paling berpengaruh terhadap kelengkapan imunisasi dasar pada anak usia 12 – 23 bulan di Indonesia adalah pendidikan ibu, mendengarkan radio, menonton televisi, dan kepemilikan asuransi Kesehatan
5.2 Saran
1. Sebagai orang terdekat, intervensi imunisasi melalaui ibu merupakan cara yang tepat 2. Program wajib belajar 12 tahun bagi perempuan terutama ibu menjadi hal yang
petning untuk ditegakkan agar kelengkapan imunisasi anak semakin meningkat 3. Promosi imunisasi melalui internet merupakan salah satu solusi untuk meningktakan
angka kelengkapan imunisasi di Indonesia.
BAB 6 LUARAN YANG DICAPAI
Luaran yang dicapai berisi Identitas luaran penelitian yang dicapai oleh peneliti sesuai dengan skema penelitian yang dipilih.
Jurnal
IDENTITAS JURNAL
1
1 Nama Jurnal MKMI-Media Kesehatan Masyarakat Indonesia 2
2 Website Jurnal http://journal.unhas.ac.id/index.php/mkmi 3
3 Status Makalah Submitted 4
4 Jenis Jurnal Jurnal Nasional terakreditasi sinta 2 5
5 Tanggal Submit 08 April 2020 6
6 Bukti Screenshot submit (terlampir)
Jurnal
IDENTITAS JURNAL
1
1 Nama Jurnal Jurnal Arteri 2
2 Website Jurnal http://arteri.sinergis.org/index.php/arteri/index 3
3 Status Makalah Submit
4
4 Jenis Jurnal Jurnal Nasional 5
5 Tanggal Submit 15 April 2020 6
6 Bukti Screenshot submit (terlampir)
BAB 7 RENCANA TINDAK LANJUT DAN PROYEKSI HILIRISASI
Hasil Penelitian 1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan atau kajian untuk kebijakan dalam peningakatan program Kesehatan Ibu dan Anak, khususnya imunisasi.
2. Hasil penelitian dapat dikembangkan sebagai sebagai input untuk pemasaran sosial imunisasi yang diutamkan pada peningkatan Pendidikan ibu.
3. Untuk petugas, penelitian ini diharapkan dapat memberikan motivasi agar mampu memberikan konseling yang tepat terkait dengan imunisasi agar ibu dan keluarga lainnya tidak terjebak pada rumor atau kepercayaan yang mereka yakini.
4. Untuk pengelola program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi perbaikan strategi komunikasi program KIA.
Rencana Tindak Lanjut 1. Melakukan pengabdian masyarakat untuk meningkatan kelengkapan imunisasi dasar melalui pendekatan keluarga, terutama ibu.
2. Membuat penelitian lanjutan dengan baselin penelitian yang dilakuakan ini.
DAFTAR PUSTAKA
Al-lela O.Q. B, Bahari M.B, Al-Qazaz H.K, Salih M.R.M, Jamshed SQ, Elkalmi, R.M. (2014).
Are parents’ knowledge and practice regarding immunization related to pediatrics’
immunization compliance? A mixed method study. 14(20).
Ames, H, Glenton, C, Lewin, S. (2017). Parents' And Informal Caregivers' Views And Experiences Of Communication About Routine Childhood Vaccination: A Synthesis Of Qualitative Evidence. Cochrane Database Of Systematic Reviews, 2,
Arifianto. (2017). Pro Kontra Imunisasi Agar Tak Salah Memilih Demi Kesehatan Buah Hati.
Jakarta : Noura Books.
Awasthi A, Pandey CM, Singh U, Kumar S, Singh TB. (2015). Maternal Determinants of Immunization Status of Children Aged 12-23 Months in Urban Slums of Varanasi, India.
Clin Epidemiol Glob Heal. 3:110–6.
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Badan Pusat Statistik, Kementerian Kesehatan. (2018). Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017. Jakarta: BKKBN.
Chandra dan Yateri. (2017). Hubungan Tingkat Pengetahuan, Pekerjaan, Kepercayaan, dan Dukungan Keluarga Dengan Pemberian Imunisasi Dasar Pada Batita di Wilayah Kerja Puskesmas Alalak Selatan. Sagacious Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Sosial, 3 (2) : 47-56.
Dewi AP, Darwin E. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu dengan Pemberian Imunisasi Dasar Lengkap pada Bayi di Kelurahan Parupuk Tabing Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Buaya Kota Padang Tahun 2013. J Kesehat Andalas. 2014;3(2).
Etana, B., dan W. Deressa. (2012). Factors Associated with Complete Immunization Coverage in Children Aged 12-23 Months in Ambo woreda, Central Ethiopia. BMC Public Health 12.
Giddens. Anthony. (2010). Teori Strukturisasi, Dasar-Dasar Pembentukan Sosial Masyarakat.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Gilkey, M.B, McRee A-L, Magnus B.E, Reiter P L, Dempsey A.F, Brewer N.T. (2016).
Vaccination Confindence and Parental Refusal/Delay of Early Childhood Vaccines.PLoS ONE 11 (7) : 1-12.
Hadianti, Dian Nur, dkk. (2014). Buku Ajar Imunisasi. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kesehatan: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Husna, C. A & Yuziani. (2016). Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ayah Dengan Kelengkapan Imunisasi Dasar Pada Balita Di Puskesmas Samudera Tahun 2016.
Hutahaean, J. (2015). Konsep Sistem Informasi. Yogyakarta: Deepublish.
Jr, M., Raymod, & Schell, G. P. (2008). Sistem Informasi Manajemen. Jakarta: Salemba empat.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2017 Tentang Penyelenggaraan Imunisasi. Vol. 2, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2017. (a)
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Pedoman Umum Program Indonesia Sehat Dengan Pendekatan Keluarga Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan RI. (2013). Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta : Kementerian Kesehatan.
Krishna, D, Afiah, N, Zulkefli, M, Mahmud, A. (2019). Sociodemographic and H Health Care Factors in Determining Immunization Defaulters Among Preschool Children in Petaling District, Selangor: A Cross-Sectional Dtudy in Malaysia. BMC Public Health. 19:1275.
Luman ET, Worku A, Berhane Y, Martin R, Cairns L. (2007). Comparison of Two Survey Methodologies To Assess Vaccination Coverage. Int J Epid, 36, 633-641.
Mbengue, M.A, Sarr, M., Faye, A., Badiane, O., Camara, F.B.N., Mboup, S., dan Dieye, T.N, (2017). Determinants Of Complete Immunization Among Senegalese Children Aged 1223 Months: Evidence From The Demographic And Health Survey. BMC Public Health, 17, 630 -639.
Özer M, Fidrmuc J, Mehmet |, Eryurt A. Maternal Education and Childhood Immunization in Turkey. Health Econ. 2018;27:1218–29.
Setyowati, N.P, Hanny .R, Erti I.D. (2013). Hubungan Peran Ayah di Keluarga dengan Keikutsertaan Balita Usia 2-24 bulan Dalam Pelaksanaan Imunisasi DPT di Desa Pare Kecamatan Silo.
Som S, Pal M, Chakrabarty S, Bharati P. (2010). Socioeconomic Impact on Child Immunisation in the Districts of West Bengal, India. Singapore Med J, 51(5), 406-412.
Thaib T.M, Darussalam D, Yusuf S, Andid R. (2013). Cakupan Imunisasi Dasar Anak Usia 1- 5 tahun dan Beberapa Faktor yang Berhubungan di Poliklinik Anak Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Banda Aceh. Sari Pediatri, 14(5), 283-287.
Wagner, N. M., Narwaney, K. J., Kraus, C. R., Glanz, J. M., Xu, S., Shoup, J. A., … Omer, S.
B. (2020). Web-based Social Media Intervention to Increase Vaccine Acceptance : A Randomized Controlled Trial. 140(6).
Word Health Organization . (2013). What Influences Vaccine Acceptance: A Model Of Determinants Of Vaccine Hesitancy. http://www.who.int/immunization/monitoring surveillance
World Health Organization. United Nations Children’s Fund (UNICEF). (2014). Global Immunization data. Geneva. http://www.who.int/immunization/monitoring_surveillance /global_immunization_data.
Word Health Organization (WHO). (2016). Immunization coverage.
http://www.who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/immunization-coverage.
Xeuatvongsa A, Hachiya M, Miyano S, Mizoue T, Kitamura T, Pdr L (2017). Determination of Factors Affecting The Vaccination Status of Children Aged 12–35 months in Lao People’s Democratic Republic. Heliyon. 3:16–9.
Yusmawati. (2018). Group Faceebook Gesamun Sebagai Media Baru Dalam Upaya Menyadarkan Masyarakat Akan Pentingnya Imunisasi. eJournal, 9 (1).
Yuyun. Wahyu.(2016).Hubungan Dukungan Keluarga dan Keterpaparan Informasi dan Pelaksanaan Imunisasi Campak Ulangan di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Jatitujuh Kabupaten Majalengka Tahun 2016.Jurnal Ilmiah Indonesia ISSN : 2541-0849 e-ISSN : 2548-1398 Vol. 2, No 4 April 2017.
LAMPIRAN
1. Bukti submit luaran wajib (submit ke jurnal terakreditasi sinta)
[MKMI] Submission Acknowledgement
1 message
Ida Leida M.Thaha <[email protected]> Wed, Apr 8, 2020 at 3:31 PM To: Mrs Izza Suraya <[email protected]>
The following message is being delivered on behalf of Media Kesehatan Masyarakat Indonesia.
________________________________________________________________________
Mrs Izza Suraya:
Thank you for submitting the manuscript, "Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu Dengan Kelengkapan Imunisasi Dasar Pada Anak Usia 12- 23 Bulan di Indonesia" to Media Kesehatan Masyarakat Indonesia. With the online journal management system that we are using, you will be able to track its progress through the editorial process by logging in to the journal web site:
Manuscript URL:
http://journal.unhas.ac.id/index.php/mkmi/author/submission/9768 Username: izza
If you have any questions, please contact me. Thank you for considering this journal as a venue for your work.
Ida Leida M.Thaha
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia
________________________________________________________________________
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia
Email : [email protected] / [email protected] Web OJS : http://journal.unhas.ac.id/index.php/mkmi
Phone Number : +628114440454
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia
Volume … Issue … Bulan 2020
DOI : 10.30597/mkmi.v0000.0000
Website : http://journal.unhas.ac.id/index.php/mkmi
Copyright © 2020 by author. This is an open access article under the CC BY-NC-SA lincense
1
Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu Dengan Kelengkapan Imunisasi Dasar Pada Anak Usia 12- 23 Bulan di Indonesia
Association Between Maternal Education Level and Primary Immunization Completeness on 12-23 month in Indonesia
Izza Suraya 1, Yoli Faradika1, Nia Musniati1, Hidayati1
1 Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA, Institusi penulis pertama, [email protected]
ABSTRAK
Indonesia menargetkan 80% anak telah mendapatkan imunisasi secara lengkap. Namun, pada tahun 2013, hanya terdapat 59,2 % anak Indonesia yang lengkap imunisasinya. Pendidikan ibu diduga mempunyai pengaruh besar dalam peningkatan status imunisasi anak di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pendidikan ibu terhadap kelengkapan imunisasi dasar anak. Penelitian dilakukan dengan disain cross-sectional dengan menganalisis lanjut data SDKI Indonesia tahun 2017. Penelitian dilaksanakan dari bulan Januari hingga Maret 2020. Dengan teknik pengambilan sampel jenuh, sampel dalam penelitian ini berjumlah 6483 orang ibu. Pengolahan dan analisis data menggunakan SPSS dan analisis data yang dilakukan adalah analisis univariat, bivariat (chi square), dan multivariat (regresi logistic). Setelah dilakukan uji multivariat, hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pemberian imunisasi dasar dengan pendidikan ibu (p−value = 0,002). Berdasarkan dari nilai risk estimate, hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan peluang pemberian imunisasi lengkap seiring dengan peningkatan level pendidikan ibu. Peluang tertinggi terdapat pada ibu berpendidikan tinggi, yaitu 2,803 (95% CI :1,278- 6,150). Dengan demikian, peningkatan angka kelengkapan imunisasi dasar dapat dilakukan dengan meningkatkan pendidikan bagi ibu.
Kata Kunci : Imunisasi, Pendidikan Ibu, Indonesia
ABSTRACT
Indonesia has been targteting 80% of children have been fully immunized. However, in the year 2013, there were only 59.2% of Indonesian children who complete their immunisations. Maternal education is suspected to have a major influence on improving the immunization status of children in Indonesia. Therefore, this study was conducted to determine the influence of maternal education on the completeness of primary immunization of children. The research was conducted with cross-sectional design by analyzing the data of SDKI Indonesia in 2017. The study was conducted from January to March 2020. With the saturated sampling technique, the samples in this study amounted to 6483 mothers. The processing and analysis of data using SPSS and the analysis of the data conducted are univariate analysis, bivariate (Chi Square), and multivariate (regression logistic). After a multivariate test, the results showed that there was a significant associtaion between primary immunisation completeness with maternal education (p − value = 0.002). Based on the risk estimate value, the research results also show that there is an increasing oportunity to give complete immunization along with increasing maternal education level. The highest chance to get compelete immunization is high educated mother
, with 2,803 (95% CI :1,278- 6,150). Thus, the increase of primary immunization completeness can be done by enhancing education for mothers.
Keywords : Immunization, Maternal Education, Indonesia PENDAHULUAN
Imunisasi merupakan intervensi yang paling efektif dalam menurunkan angka mortalitas dan morbiditas anak. Sampai tahun 2014, setiap tahunnya, imunisasi telah menyelamatkan hampir 3 juta anak di dunia, 1, 5 di antaranya anak di bawah 5 tahun (1) . Berdasarkan data dari Centers for Disease Control and Prevention, imunisasi juga telah mengeradikasi kasus polio hampir di seluruh dunia, mengeliminasi angka kematian cacar sebesar 79%, dan mereduksi beragam penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Namun, pada tahun 2016, terdapat 19.6 juta bayi di seluruh dunia tidak mendapatkan layanan imunisasi lengkap. Sebesar 60% diantaranya hidup di 10 negara berkembang, salah satunya Indonesia (2).
Indonesia sendiri menargetkan cakupan imunisasi dasar lengkap di atas 80 %.
Namun, berdasarkan riset kesehatan dasar tahun 2013, cakupan imunisasi dasar di Indonesia hanya 59,2 % (3).
Salah satu faktor yang mempengaruhi kelengkapan pemberian imunisasi dasar seorang anak adalah pendidikan ibu. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa status imunisasi berhubungan dengan pendidikan ibu (4)(5). Namun, penelitian lain menyatakan hal yang bertolak belakang (6).
Di Indonesia, sebagaian besar ibu telah mempunyai pendidikan formal mnimal sekolah dasar. Hal ini ditunjukkan dengan angka partisipasi sekolah perempuan di Indonesia yang sudah di aats 70 % (7). Sayangnya, pada tahun 2014, 75% pendidikan di Indonesia tidak memenuhi standar layanan minimal pendidikan (8).
Namun belum ada penelitian yang menkaji hubungan antara tungkat pendidikan ibu dengan pembeian imunisasi pada anak di Indonesia. Oleh karena iti,, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan tersebut
METODE
Penelitian ini menggunakan disain cross sectional dengan menganalisis lanjut data Survei Dasar Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017. SDKI tahun 2017 merupakan survei rumah tangga skala nasional yang dilakukan di provinsi di Indonesia dengan waktu pengumpulan data dari bulan Juli hingga September 2017.