STUDI KASUS PT. BITUNG MINA UTAMA
A. Gambaran Umum Lokasi Studi Kasus
BAB 12
STUDI KASUS PT. BITUNG
tahun 2001 dengan produk utama Tuna, Marlin dan Swordfish.
Pertama kali beroperasi perusahan memiliki total jumlah karyawan sebanyak 68 orang yang menduduki berbagai posisi di dalam perusahan, kemudian untuk menjalankan dan memimpin perusahan PT. Bitung Mina Utama pemilik perusahan mengangkat Ir. Novanina A Pinangkaan sebagai direktur dibantu oleh empat orang ahli dari Taiwan sebagai manager dan staff yang terampil di bidang fish processing, hal ini sesuai dengan Undang-undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 1967 yang mengatur tentang penanaman modal asing di Indonesia, di mana pada Bab IV Pasal 11 disebutkan bahwa: Perusahan modal asing diizinkan mendatangkan atau menggunakan tenaga- tenaga pimpinan dan tenaga-tenaga ahli warganegara asing bagi jabatan-jabatan yang belum dapat diisi dengan tenaga kerja warganegara Indonesia (Sumber:
http://hukum.unsrat.ac.id/uu/uu_1_67.htm).
Struktur kepemimpinan tertinggi di dalam PT.
Bitung Mina Utama dipegang oleh komisaris perusahan kemudian ke presiden direktur perusahan yang keduanya berada di Taiwan, sehingga tidak secara langsung melihat atau mengatur proses pekerjaan yang terjadi di dalam perusahan. Proses pekerjaan dan produksi dalam perusahan diawasi oleh direktur perusahan melalui manajer-manajer perusahan, yang kemudian memberikan pelaporan kepada presiden direktur dan komisaris perusahan. Pembagian wewenang dan tanggung jawab di
10 9
dalam perusahan serta pembagian bidang-bidang yang ada di dalam perusahan dari pimpinan tertinggi sampai karyawan digambarkan pada struktur organisasi PT. Bitung Mina Utama yang dapat dilihat pada gambar 5.1 di halaman 114.
PT. Bitung Mina Utama bergerak di bidang processing ikan mentah yang tentu saja membutuhkan pasokan bahan baku utama ikan segar yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan produksi perusahan. Bahan baku ikan segar PT.Bitung Mina Utama didapatkan dari hasil kerjasama dengan perusahan lain yang bergerak di bidang penangkapan ikan yang berada di Kota Bitung seperti: PT. Anekaloka Indotuna, PT. Bina Nusa Mandiri Pertiwi, PT. Fisco Marindo Utama, PT. Lautan Lestari Abadi, dan PT. Agrindo Bahari Kencana. Selain perusahan- perusahan penangkapan ikan PT. Bitung Mina Utama juga mendapatkan bahan baku ikan segar dari pemilik - pemilik kapal penangkapan ikan dan para nelayan lokal yang beroperasi di sekitar perairan zona ekonomi eksklusif (ZEE) laut Sulawesi dan zona ekonomi eksklusif (ZEE) samudra pasifik, kapal-kapal pemasok bahan baku diberi izin untuk dapat langsung malabuhkan hasil tangkapan mereka di dermaga milik PT. Bitung Mina Utama.
Hasil produksi PT. Bitung Mina Utama sebagian besar diekspor ke berbagai negara di Asia, Amerika, dan Australia. Sebagai perusahan pengekspor produk makanan PT. Bitung Mina Utama telah menjalankan standar Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) yang merupakan
suatu sistem yang mengindentifikasi, mengevaluasi, dan mengendalikan bahaya yang nyata bagi keamanan pangan.
Standar HACCP diatur oleh Codex Alimentarius Commission yang merupakan bagian dari Food and Agriculture Organization of the United Nations bergabung dengan FAO/WHO Food Standards Programmed. Sistem HACCP merupakan sistem yang diakui secara internasional sebagai standar untuk keamanan pangan sehingga bersifat universal dalam perdagangan dunia, selain itu HACCP berkaitan dengan Food Safety Management System (FSMS) yang berlaku secara internasional seperti ISO 22000, FSSC,
BRC, IFS dan SQF
(Sumber:http://www.alpindonesia.org/index1.php?view
&id=202).
Alur proses produksi untuk mendapatkan produk yang akan dipasarkan oleh perusahan melewati berbagai tahapan yaitu:
1. Receiving (Penerimaan bahan baku)
Bahan baku ikan segar dibeli dari kapal penangkap atau perusahan penangkap ikan yang beroperasi di ZEE laut Sulawesi dan ZEE samudra pasifik, dengan kondisi bahan baku sejak tangkapan berada di atas kapal, ikan ditangani dan diproses dengan cepat dan disimpan di palkah dengan menggunakan sistem pendingin air laut dengan temperatur -1.2oC sampai -1.5oC selama maksimal 14 hari. Jenis ikan yang diterima perusahan adalah: Yelowfin tuna, Big eye tuna, Swordfish, Meka, Marline.
2. Temporary Storage (Penyimpanan sementara)
Bahan baku disimpan untuk sementara waktu sebelum proses selanjutnya di dalam cold storage pada temperatur - 18oC atau di bawah itu.
3. De Heading (mengeluarkan bagian kepala)
Melakukan pemotongan bagian kepala ikan untuk produk tertentu seperti: loin/chunk, steak, ground meat.
4. Loining
Melakukan pemisahan bagian loin ikan dari bagian yang lain pada badan ikan dengan ukuran yang sudah ditentukan.
5. Triming 1
Melakukan perapian tahap pertama untuk mempermudah proses selanjutnya dan tetap menjaga kualitas ikan.
6. Skining, Slicing/ Forming
Mengupas kulit ikan sampai benar-benar bersih dari kulit kemudian melakukan pemotongan untuk pembentukan daging ikan.
7. Weighing 1, Smoking, Chiling
Penimbangan tahap pertama untuk melihat berat daging ikan apakah sesuai untuk diproses, kemudian dilakukan pengasapan menggunakan gas, tahap yang selanjutnya pendinginan untuk mempersiapkan daging ikan menuju tahap selanjutnya.
8. Slicing, Triming 2, Plastic vacuum sealing
Melakukan pemotongan dan pembentukan kembali setelah melewati proses sebelumnya untuk menjaga bentuk potongan daging ikan, kemudian dilakukan perapian tahap
kedua, setelah itu dimasukan kedalam plastik vacuum yang disegel.
9. Freezing, Vacuuming
Daging ikan dibekukan kembali, setelah benar-benar beku untuk kemudian di vacuum kemasan plastiknya.
10. Weighing 2, Metal detecting
Penimbangan tahap kedua untuk memastikan berat bersih produk yang telah melewati berbagai proses sebelumnya, setelah ditimbang produk diperiksa kembali menggunakan detektor logam untuk menjaga kemungkinan ada bahan logam tertinggal di dalam produk pada saat proses produksi.
11. Packing, Labelling, Cold Storage
Produk dikemas dan diberi label, spesifikasi label produk terdiri dari: nama negara asal produk, berat bersih, nama produk, waktu produksi, waktu kadaluarsa dan kode produksi. Jenis-jenis kemasan yang digunakan juga berbeda-beda sesuai jenis produk dan berat produk yang diproduksi, jenis-jenis kemasan yang digunakan antara lain:
Plastik, Vacuum pack, Styrofoam, and Master Carton. Proses selanjutnya disimpan kembali kedalam cold storage untuk menjaga kualitas produk sebelum dipasarkan dan diekspor.
Produk akhir dari proses produksi berbeda-beda jenis sesuai dengan bahan baku ikan segar yang digunakan, kemasan dan tahapan proses, jenis-jenis produk hasil produksi PT. Bitung Mina Utama adalah: Frozen Saku, Slice, Steak, Loin/Chunk, Ground Meat/Cube, Off-Cut, Belly and Fishmeat.
Gambar Struktur Organisasi PT. Bitung Mina Utama Sumber: HRD PT. Bitung Mina Utama (2013)