BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Gambaran Umum Kabupaten Tana Toraja
a.
Sejarah, Letak, dan LuasTana Toraja merupakan sebuah suku yang sejarahnya tidak berupa tulisan melainkan secara lisan dari mulut ke mulut yang biasanya dikaitkan dengan salah satu peristiwa besar yang terjadi pada saat itu. Tana Toraja berasal dari tiga kata yaitu tana, to dan riaja. Tana artinya negeri, to artinya orang dan riaja artinya utara. Menurut antropolog DR. C. Cruyit, suku Toraja awalnya berasal dari imigran bagian utara yaitu indocina atau sekitar teluk tongkin yang merantau melalui Asia Tenggara. Mereka datang secara bergelombang dengan gelombang pertama yang disebut protomelayu (melayu tua) dan gelombang kedua yang disebut deutromelayu (melayu muda). Pada mulanya, protomelayu menempati wilayah pesisir daratan Sulawesi tapi karena merasa terdesak dengan kedatangan pendatang baru yang memiliki tingkat peradaban lebih tinggi yaitu deutromelayu sehingga mereka berpindah menyusuri sungai Sa’dan dan berhenti di salah satu tempat bernama Endekan atau Endrekang yang artinya naik ke darat.
Mereka datang membawa budayanya yang berupa keyakinan dan aturan hidup. Sama halnya ketika membangun permukiman, mereka terinspirasi dari bentuk perahu yang mereka gunakan untuk mengarungi lautan sehingga
terbentuklah rumah Toraja yang sekilas mirip dengan perahu. Itulah mengapa rumah yang mereka bangun selalu menghadap ke arah utara karena untuk menghormati asal mereka yaitu dari daratan Indocina. Selanjutnya dalam perkembangannya, suku Toraja mengenal 2 jenis upacara antara lain:
1. Upacara Rambu Tuka’ atau upacara syukuran 2. Upacara Rambu Solo’ atau upacara kedukaan
Kedua upacara tersebut direncanakan dan dilaksanakan melalui wadah tongkonan itu sendiri yang berfungsi sebagai to urrengnge’ tondok (pemerintah) dan keagamaan.
Tana Toraja merupakan salah satu kabupaten yang berada di bagian utara Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia yang ibu kotanya terletak di Kecamatan Makale. Berdasarkan letak astronomis berada pada 119’ - 120’ Bujur Timur dan 20 - 30 Lintang Selatan. Keadaan topografinya terdiri dari 35%
pegunungan, 20% dataran tinggi, 38% dataran rendah , 20% rawa dan sungai.
Secara administratif luas wilayah Kabupaten Tana Toraja sebesar 1.990 km² tetapi setelah dilakukan pemekaran menjadi 2.054,30 km² dengan jumlah penduduk sebanyak 270.489 jiwa dengan kepadatan 132 jiwa/km². Kabupaten Tana Toraja terdiri dari 19 Kecamatan, 47 Kelurahan dan 112 Desa dengan kecamatan yang wilayahnya terluas yaitu Kecamatan Malimbong Balepe dengan luas 211.47 km² sedangkan Kecamatan dengan wilayah terkecil yaitu Kecamatan Makale Utaradengan luas 26.08 km².
Tabel 4.1
Luas Daerah Kabupaten Tana Toraja Berdasarkan Kecamatan
Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Tana Toraja 2022 b. Demografi (Keadaan Penduduk)
Kabupaten Tana Toraja memiliki jumlah penduduk sebanyak 280.794 jiwa pada tahun 2020. Setelah dibandingkan dalam jangka waktu sepuluh tahun
Kecamatan Ibu Kota
Kecamatan Luas (Km²) Persentase %
Bonggakaradeng Ratte Buttu 206.76 10.06
Simbuang Simbuang 194.82 9.48
Rano Rumandan 89.43 4.35
Mappak Kondo Dewata 166.02 8.08
Mengkendek Ge’tengan 196.74 9.58
Gandangbatu
Sillanan Benteng Ambesso 108.63 5.29
Sangalla Bulian Massabu 36.24 1.76
Sangalla Selatan Rante Alang 47.8 2.33
Sangalla Utara Tombang 27.96 1.36
Makale Bombongan 39.75 1.93
Makale Selatan Tiromanda 61.7 3
Makale Utara Lion Tanduk Iring 26.08 1.27
Saluputti Pattan Ulu Salu 87.54 4.26
Bittuang Bittuang 163.27 7.95
Rembon Talion 134.47 6.55
Masanda Pondingao 134.77 6.56
Malimbong Balepe Malimbong 211.47 10.29
Rantetayo Padang Iring 60.35 2.93
Kurra Ratte Kurra 60.5 2.94
yaitu mulai 2010 sampai 2020, jumlah penduduk mengalami penambahan signifikan sebanyak 59.713 jiwa. Berikut ini adalah data jumlah penduduk di setiap kecamatan:
Tabel 4.2
Jumlah, Persentase, dan Rasio Jenis Kelamin Penduduk Kabupaten Tana Toraja Berdasarkan Kecamatan
Kecamatan
Jenis Kelamin
Total Persentase (%)
Rasio Jenis Kelamin Laki-
Laki Perempuan
Bonggakaradeng 4.280 3.743 8.023 2,86 114,35
Simbuang 4.129 3.830 7.959 2,83 107,81
Rano 4.012 3.637 7.649 2,72 110,31
Mappak 3.685 3.333 7.018 2,50 110,56
Mengkendek 18.797 17.593 36.390 12,96 106,84
Gandangbatu
Sillanan 11.775 11.274 23.049 8,21 104,44
Sangalla 4.112 3.846 7.958 2,83 106,92
Sangalla Selatan 4.940 4.617 9.557 3,40 107,00
Sangalla Utara 4.581 4.460 9.041 3,22 102,71
Makale 19.755 19.059 38.814 13,82 103,65
Makale Selatan 8.672 7.937 16.609 5,92 109,26
Makale Utara 7.437 7.165 14.602 5,20 103,80
Saluputti 5.014 4.727 9.741 3,47 106,07
Bittuang 9.807 8.885 18.692 6,66 110,38
Rembon 12.888 11.774 24.662 8,78 109,46
Masanda 4.493 4.002 8.495 3,03 112,27
Malimbong
Balepe 5.421 5.096 10.517 3,75 106,38
Rantetayo 7.557 7.057 14.614 5,20 107,09
Kurra 3.960 3.444 7.404 2,64 114,98 Tana Toraja 145.315 135.479 280.794 100,00 107,26 Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Tana Toraja 2022
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah laki-laki di Kabupaten Tana Toraja sebanyak 145.315 jiwa atau 51,75 persen sedangkan jumlah penduduk perempuan sebanyak 135.479 jiwa atau 48,25 persen dari total penduduk.
Maka dapat disimpulkan bahwa rasio jenis kelamin penduduk tercatat sebesar 107,26 yang artinya 107 sampai 108 orang laki-laki untuk setiap 100 orang perempuan di Kabupaten Tana Toraja.
Sementara suku asli yang mendiami Kabupaten Tana Toraja adalah suku Toraja dengan sebagian besar masyarakatnya menetap di kawasan pegunungan. Populasi keseluruhan suku Toraja diperkirakan sekitar ± 1 juta jiwa, dan ± 500.000 jiwa diantaranya berada di Kabupaten Mamasa, Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara. Mayoritas masyarakat Toraja memeluk agama Kristen, agama Islam dan sebagian lagi menganut kepercayaan animisme atau yang lebih dikenal sebagai Aluk Todolo.
Kepercayaan ini sudah di akui oleh Pemerintah Indonesia sebagai bagian dari agama Hindu Dharma.
c. Visi Misi Kabupaten Tana Toraja
Visi yaitu Tana Toraja bangkit, produktif dan tangguh menyongsong tatanan kehidupan baru.Sedangkan misi Kabupaten Tana Toraja yaitu:
1. Mengoptimalkan tatanan kelola pemerintahan yang baik, peduli, tanggap, bersih, berbasis kinerja E- Govermance.
2. Memantapkan sistem pencegahan, pengendalian dan penanganan Pandemi Covid-19 serta mengoptimalkan pelayanan kesehatan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
3. Memperbaiki serta meningkatkan fasilitas pendidikan dan mutu pelayanan belajar - mengajar
4. Memulihkan roda perekonomian daerah melalui pemberdayaan usaha masyarakat di sektor UMKM, indistri rumah tangga, ekonomi kreatif, peternakan, perkebunan, pertanian, perikanan air tawar, sektor jasa dan usaha produktif lainnya.
5. Mengembangkan potensi pariwisata yang lebih inovatif, variatif, dan terintegrasi sejalan dengan usaha revitalisasi kearifan lokal adat- budaya serta tata kelola untuk pelestarian lingkungan hidup.
6. Membangun, memelihara, dan memperbaiki infrastruktur (jembatan, jalan, dan drainase) serta prasarana publik yang vital.
7. Menguatkan peranan seluruh elemen masyarakat dalam memperkokoh kesetiakawanan sosial berbasis moral, budi pekerti, akhlak dan sikap saling menghormati.
2. Profil Kantor Pertanahan Kabupaten Tana Toraja
Kantor Pertanahan Kabupaten Tana Toraja berada dibawah naungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional atau yang disingkat ATR/BPN Kantah Kabupaten Tana Toraja terletak di Jalan Pongtiku Nomor 157, Kamali Pentalluan, Kecamatan Makale, Kabupaten Tana Toraja,
Provinsi Sulawesi Selatan. Kantor ini berada di ibukota Kabupaten Tana Toraja tepatnya di Makale yang secara geografis terletak di bagian Utara Provinsi Sulawesi Selatan yaitu antara 2° - 3° Lintang Selatan dan 119° - 120° Bujur Timur, dengan luas wilayah tercatat 2.054,30 Km² persegi dengan batas-batas, yaitu:
a. Sebelah utara adalah Kabupaten Toraja Utara dan Propinsi Sulawesi Barat b. Sebelah Selatan adalah Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Pinrang c. Sebelah Timur adalah Kabupaten Luwu
d. Sebelah Barat adalah Provinsi Sulawesi Barat
Gambar 4.1 Peta Administratif Kabupaten Tana Toraja Sumber: Kantor Pertanahan Kabupaten Tana Toraja 2022
Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa luas penggunaan tanah pada lahan kering sebesar 194.994 ha, pada lahan sawah sebesar 10.761 ha, dan pada kawasan hutan sebesar 1.628 km². Jumlah bidang tanah di Kabupaten Tana Toraja yang sudah terdaftar sebesar 27.310 bidang dengan luas 793.170.173 m².
a. Visi Misi Kantor Pertanahan Kabupaten Tana Toraja
Visi dan misi yang dilaksanakan pada Kantor Pertanahan Kabupaten Tana Toraja merupakan turunan dari visi dan misi Kementerian ATR/BPN.
Adapun tujuan utama Kementerian ATR/BPN adalah memastikan bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Untuk itu Kementerian ATR/BPN menetapkan sasaran strategis tahun 2015-2019 adalah:
1. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan agraria yang adil dan berkelanjutan.
2. Terwujudnya ruang yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan 3. Berkurangnya kasus tata ruang dan pertanahan sengketa, konflik dan
perkara.
Kantor Pertanahan Kabupaten Tana Toraja dalam mewujudkan sasaran stratregis tersebut melaksanakan:
1. Penyelenggaraan dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya didaerah.
2. Pengelolaan sarana dan prasarana.
3. Program penataan hubungan hukum keagrariaan di daerah
4. Program Pengendalian Pemanfaatan Ruang dan Penguasaaan Tanah 5. Program Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Sebagai ujung tombak Kementerian ATR/BPN dalam memberikan pelayanan pertanahan dilingkup kabupaten/kota diwujudkan dalam bentuk pelaksanaan kegiatan.
b. Tugas Pokok dan Fungsi Kantor Pertanahan Kabupaten Tana Toraja Kantor Pertanahan merupakan instansi vertikal antara Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional di kabupaten atau kota yang berada di bawah naungan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional serta bertanggung jawab melalui Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional.
Berdasarkan Peraturan Menteri ATR/BPN Nomor 17 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional dan Kantor Pertanahan, maka tugas pokok Kantor Pertanahan Kabupaten Tana Toraja adalah melaksanakan sebagian tugas dan fungsi dari Badan Pertanahan Nasional. Dalam melaksanakan tugasnya, Kantor Pertanahan memiliki fungsi antara lain:
1. Penyusunan program, rencana, anggaran dan pelaporan 2. Pelaksanaan pemetaan dan survei
3. Pelaksanaan pendaftaran tanah dan penetapan hak 4. Pelaksanaan pemberdayaan dan penataan
5. Pelaksanaan pengembangan pertanahan dan pengadaan tanah 6. Pelaksanaan penanganan dan pengendalian sengketa pertanahan
7. Pelaksanaan modernisasi pelayanan pertanahan yang berbasis elektronik 8. Pelaksanaan penanganan pengaduan dan reformasi birokrasi
9. Pelaksanaan pemberian dukungan administrasi terhadap semua unit organisasi yang ada di Kantor Pertanahan.
Adapun struktur organisasi yang ada di kantor pertanahan adalah sebagai berikut:
1. Subbagian Tata Usaha
Subbagian Tata Usaha terdiri dari kelompok jabatan fungsional yang mempunyai tugas pokok antara lain:
a. Melakukan pemberian dukungan administrasi kepada semua unit organisasi yang ada di Kantor Pertanahan
b. Melaksanakan pengelolaan terhadap modernisasi pelayanan pertanahan yang berbasis elektronik
c. Melaksanakan fasilitasi reformasi di birokrasi Kantor Pertanahan.
2. Seksi Survei dan Pemetaan
Seksi Survei dan Pemetaan terdiri dari kelompok jabatan fungsional yang mempunyai tugas pokok antara lain:
a. Melaksanakan pengukuran serta pemetaan bidang dan ruang
b. Pemeliharaan kerangka dasar batas-batas tanah nasional dan pengukuran batas administrasi kawasan
c. Pengukuran dan pemetaan dasar
d. Survei dan pemetaan tematik bidang, kawasan dan ruang pertanahan e. Pembinaan kepada tenaga teknis dan surveyor yang memiliki lisensi.
3. Seksi Penetapan Hak dan Pendaftaran
Seksi Penetapan Hak dan Pendaftaran terdiri dari kelompok jabatan fungsional yang mempunyai tugas pokok antara lain:
a. Melaksanakan, mengidentifikasi, mengelola, menginventarisasi data dan menyajikan informasi terkait pendaftaran dan penetapan hak tanah b. Pemeliharaan terkait hak atas tanah dan ruang
c. Penatausahaan hak komunal dan tanah ulayat d. Penetapan dan pengelolaan tanah milik pemerintah
e. Melakukan hubungan kelembagaan serta pembinaan dan pengawasan terkait mitra kerja dan PPAT.
4. Seksi Penataan dan Pemberdayaan
Seksi Penataan dan Pemberdayaan terdiri dari kelompok jabatan fungsional yang mempunyai tugas pokok antara lain:
a. Melaksanakan perombakan dalam pemilikan dan penguasaan tanah b. Pengelolaan dan analisis terkait penguasaan, penggunaan tanah,
pemanfaatan dan kepemilikan tanah, redistribusi tanah, dan penatagunaan tanah
c. Pemberdayaan tanah masyarakat
d. Penyediaan fasilitas penyusunan serta penataan tanah sesuai dengan rencana tata ruang,
e. Pemanfaatan ruang di daerah
f. Penataan wilayah perbatasan, pulau-pulau kecil, pesisir dan wilayah tertentu lainnya.
5. Seksi Pengdaan Tanah dan Pengembangan
Seksi Pengadaan Tanah dan Pengembangan terdiri dari kelompok jabatan fungsional yang mempunyai tugas pokok antara lain:
a. Melakukan pelaksanaan pencadangan dan pengadaan tanah
b. Melakukan konsolidasi tanah terkait pengembangan dan pemanfaatan tanah
c. Penilaian tanah serta ekonomi pertanahan.
6. Seksi Pengendalian dan Penanganan Sengketa
Seksi Pengendalian dan Penanganan Sengketa terdiri dari kelompok jabatan fungsional yang mempunyai tugas pokok antara lain:
a. Melaksanakan pengendalian hak tanah, alih fungsi lahan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, serta perbatasan untuk wilayah tertentu b. Penertiban penguasaan, pemanfaatan, serta pemilikan dan penggunaan
tanah
c. Penanganan konflik dan sengketa d. Penanganan perkara pertanahan
49
Gambar 4.2 Struktur Kantor Pertanahan Kabupaten Tana Toraja Tahun 2022 Sumber: Kantor Pertanahan Kabupaten Tana Toraja 2022
50
3. Sumber Daya Manusia di Kantor Pertanahan Tana Toraja
Sumber daya manusia merupakan individu yang bekerja dan bertugas sebagai penggerak di suatu organisasi atau instansi sebagaimana menjalankan tugas dan fungsinya. Adapun sumber daya manusia yang bekerja pada Kantor Pertanahan Tana Toraja pada tahun 2022 dengan jumlah keseluruhan pegawai 65 orang dengan rincian 24 orang Aparatur Sipil Negara (ASN) dan 41 orang Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri (PPNPN).
a. Sumber Daya Manusia Berdasarkan Jenjang Pendidikan
Adapun sumber daya manusia berdasarkan jenjang pendidikan di Kantor Pertanahan Kabupaten Tana Toraja khususnya Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah sebagai berikut:
Tabel 4.3
Jenjang Pendidikan Lingkup Kantor Pertanahan
Sumber data: Kantor Pertanahan Kabupaten Tana Toraja Tahun 2022
No Jenjang Pendidikan ASN
1 SMA/SMK 2
2 D I, D II, D III, D IV 6
3 S1 12
4 S2 4
Jumlah 24
Dari tabel diatas maka dapat disimpulkan bahwa jumlah sumber daya manusia yang bekerja di Kantor Pertanahan Kabupaten Tana Toraja yang merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) sebanyak 24 orang dengan rincian 2 orang lulusan SMA/SMK, 6 orang lulusan D I, D II, D III, D IV, 12 oranng lulusan S1 dan 4 orang lulusan S2.
b. Sumber Daya Manusia Berdasarkan Golongan
Adapun sumber daya manusia berdasarkan tingkat golongan pada Kantor Pertanahan Kabupaten Tana Toraja adalah sebagai berikut:
Tabel 4.4
Sumber Daya Manusia Berdasarkan Golongan
No Golongan Jumlah
1 Golongan II 4
2 Golongan III 18
3 Golongan IV 2
Jumlah 24
Sumber data: Kantor Pertanahan Kabupaten Tana Toraja Tahun 2022
Dari tabel diatas maka dapat disimpulkan bahwa sumber daya manusia berdasarkan tingkat golongan pada Kantor Pertanahan Kabupaten Tana Toraja paling banyak diduduki oleh golongan III sebanyak 18 orang kemudian golongan II sebanyak 4 orang sedangkan golongan yang paling sedikit yaitu golongan IV hanya 2 orang.
c. Sumber Daya Manusia Berdasarkan Jenis Kelamin
Adapun sumber daya manusia yang bekerja pada Kantor Pertanahan Kabupeten Tana Toraja berdasarkan jenis kelamin adalah sebagai berikut:
Tabel 4.5
Sumber Daya Manusia Berdasarkan Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin ASN PPNPN Jumlah
1 Laki-laki 19 18 37
2 Perempuan 5 23 28
Jumlah 24 41 65
Sumber data: Kantor Pertanahan Kabupaten Tana Toraja Tahun 2022
Dari tabel diatas maka dapat disimpulkan sumber daya manusia yang bekerja pada Kantor Pertanahan Kabupeten Tana Toraja berdasarkan jenis kelamin berjumlah 65 orang yang didominasi oleh pegawai laki-laki sebanyak 37 orang dimana 19 orang Aparatur Sipil Negara dan 18 orang Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri (PPNPN), sedangkan pegawai Perempuan sebanyak 28 orang dimana 5 orang ASN dan 23 orang PPNPN
4. Gambaran Umum Bandar Udara Toraja
Bandar Udara Toraja (Toraja Airport) yang sebelumnya bernama Bandar Udara Buntu Kunik adalah bandar udara yang terletak di Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan.
Pembangunan Bandar Udara ini dilakukan untuk menggantikan Bandar Udara Pongtiku yang berada di Rantetayo karena sudah tidak memungkinkan lagi untuk dikembangkan. Bandar Udara Toraja berada pada ketinggian 923,23 MDPL dengan titik koordinat 3.185833°S dan 119.91775°E.
Bandar Udara Toraja merupakan bandar udara yang dibangun sejak tahun 2011 namun pembangunannya sempat terhambat selama beberapa tahun dan kemudian pembangunan tahap I baru dilakukan pada tahun 2018 oleh pemerintah pusat. Barulah pada pertengahan tahun 2020, bandar udara ini akhirnya rampung dikerjakan. Pada tanggal 20 Agustus 2020, pesawat milik dari maskapai Wings Air jenis ATR/72-600 merupakan pesawat komersial pertama yang mendarat di bandar udara ini seminggu setelah uji coba lintasan yang dilakukan menggunakan pesawat jenis kalibrasi Hawker 900 XP milik Kementrian Perhubungan.
Bandar Udara ini dibangun seluas 141 hektar dengan panjang landasan pacu sepanjang 2.000 meter x 30 meter kemudian apron seluas 94,5 x 65 meter dan juga taxiway 124,5 x 15 meter. Dengan luas tersebut maka landasan ini bisa didarati pesawat terbesar dengan jenis ATR 72 sedangkan luas bangunan untuk terminal sekitar 1.152 M² dan bisa menampung 150 penumpang. Pada Bandar Udara Toraja baru terdapat tiga (3) maskpai yaitu Citilink dengan tujuan Makassar, Wings Air dengan tujuan Makassar dan juga Susi Air dengan tujuan Seko.
Gambar 4.3 Struktur Kantor UPBU Kelas III Pongtiku 5. Penyelesaian Sengketa Lahan
Penyelesaian sengketa lahan merupakan suatu penyelesaian perkara pertanahan yang dilakukan antara salah satu pihak dengan pihak yang lainnya yang telah mengajukan pengaduan keberatan terhadap suatu tanah yang dapat diselesaikan dengan cara melalui jalur pengadilan (litigasi) dan melalui jalur
Kepala Kantor ANAS LA BAKARA, S.T
1. Unit AVSEC
- Petugas Senior AVSEC - Petugas Junior AVSEC - Petugas Basic AVSEC - Petugas AVSEC 2.Unit PKP-PK
- Petugas Senior PKP-PK - Petugas Junior PKP-PK - Petugas Basic PKP-PK - Petugas PKP-PK 3. Unit Listrik
- Teknisi Penerbangan Pelaksana Lanjutan
- Teknisi Penerbangan Pelaksana - Petugas Listrik Bandara
4. Unit Bangunan dan Landasan - Petugas Pemelihara Bangunan
dan Landasan 5.Unit AMC
6.Pemproses Bahan Kerjasama dan Pengembangan Jasa
Kebandarudaraan 1. Bendahara
- Bendahara Penerima - Bendahara Pengeluaran 2.Pengelola Keuangan 3.Pengevaluasi dan Penyusun
Laporan
Kasubsi Tokpeldar PETRUS RANTE LINGGI, S.E Kepala Urusan Tata Usaha
AGUS B. HARIJONO
luar pengadilan (non litigasi). Proses penyelesaian melalui jalur pengadilan merupakan opsi terakhir yang dilakukan ketika kedua belah pihak yang berperkara tidak menemui titik tengah ataupun jalan keluar melalui jalur non pengadilan atau biasa disebut jalur kekeluargaan. Kantor Pertanahan dalam hal ini selaku unit pelaksana dalam penyelesaian sengketa lahan dan berbagai hal terkait pertanahan memiliki tugas untuk menyelesaikan setiap masalah sengketa yang berkas perkaranya sudah diterima.
Sebagaimana yang terdapat pada Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Indonesia No.3 Tahun 2011 tentang pengelolaan pengkajian dan penanganan kasus pertanahan bahwa sengketa, konflik atau perkara pertanahan merupakan perselisihan tanah yang melibatkan persorangan, kelompok, organisasi, lembaga, atau badan hukum yang memiliki dampak secara sosio- politis.
Selanjutnya Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia membuat peraturan dalam Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia No. 3 Tahun 2011 tentang pengelolaan pengkajian dan penanganan kasus pertanahan. Peraturan ini bertujuan untuk mengetahui akar permasalahan kasus pertanahan kemudian merumuskan strategi untuk penyelesaian masalah sehingga mendapatkan kepastian dan perlindungan hukum agar tanah dapat dimiliki, dipergunakan dan juga dimanfaatkan oleh pemiliknya. Dalam proses pengaduan, pemohon dapat mengajukan permohonan baik secara lisan, tulisan ataupun melalui website www.bpn.go.id serta dapat disampaikan langsung ke
kantor pertanahan setempat. Pengaduan yang dilakukan secara lisan atau melalui website akan di proses dengan pembuatan permohonan secara tertulis.
Sedangkan syarat pengaduan meliputi fotocopy berkas identitas (KTP) pengadu dan jika proses pengaduan diwakilkan maka wajib melampirkan surat kuasa dan juga identitas dari ahli kuasa, fotocopy bukti kepemilikan tanah atau data pendukung lainnya dan uraian singkat terkait kronologi kasus. Selanjutnya pengaduan akan dituangkan di dalam resume pengaduan jika seluruh persyaratan dinyatakan lengkap dan akan dikaji oleh petugas yang berwenang untuk menentukan apakah termasuk kasus atau bukan kasus.
Dalam penyelesaian sengketa lahan yang ada, perlu dilakukan pengkajian yang mendalam untuk mengetahui kebenaran terkait pengaduan yang diajukan.
Banyaknya masyarakat yang hanya mencoba-coba ataupun hanya sekedar iseng yang kemudian dapat menimbulkan konflik baru ketika ada pihak yang keberatan sehingga masalah yang awalnya hanya iseng saja menjadi besar.
Dalam penyelesaiannya di lapangan, kerap kali petugas mendapati berbagai kendala yang harus diselesaikan menggunakan metode mediasi ataupun lanjut ke pengadilan. Dengan mediasi, semua pihak yang bersengketa dipertemukan kemudian melakukan musyawarah untuk mendapatkan jalan tengah melalui jalur kekeluargaan. Namun ketika ada pihak yang tetap beriskeras sehingga tidak menemukan jalan keluar maka petugas melanjutkan kasus sengketa ke perkara lahan dimana proses penyelesaiannya menunggu hasil dari pengadilan.
Adapun tahapan untuk penanganan kasus di Kantor Pertanahan Kabupaten Tana Toraja adalah sebagai berikut:
57
Gambar 4.4 Tahapan Penanganan Kasus Evidence:
1. Surat Tugas Penelitian 2. Kertas Kerja
Penelitian 3. Surat
Pengantar 4. BA Penelitian 5. Laporan Hasil
Penelitian Evidence:
Telaah Staff
Evidence:
1. Undangan 2. Daftar Hadir 3. Notulen Gelar
4. Pemberitahuan Kepada Pengadu
5. Hasil:
a. Surat instansi lain b. Surat ke
Kanwil/Kantah c. Jawaban ke Pengadu d. Kertas Kerja
Penelitian
Evidence:
1. Undangan 2. Daftar
Hadir 3. BA
Ekspose
Evidence:
1. Undangan 2. Daftar
Hadir 3. BA Rakor
Evidence:
1. Undangan 2. Daftar Hadir 3. BA Gelar
Hasil:
1. Keputusan Penyelesaian 2. Surat
Rekomendasi 3. Surat Petunjuk Penyelesaian
Kasus
1. Risalah Pengelolaan Data (RPD)
2. Kriteria 1:
a. Keputusan Pembatalan b. Surat Permohonan Tidak
Dapat Dikabulkan
Kriteria 2:
a. Surat Petunjuk Penyelesaian Kasus
b. Surat Penetapan piha yang berhak tetapi belum dapa ditindaklanjuti kerena ada syarat yang harus dipenuhi yang merupakan kewenangan instansi lain
c. Surat rekomendasi peyelesaian kasus d. Surat usulan penyelesaian kasus karena
kewenangan (ususlan pembatalan) innstansi lain ada pada menteri atau kanwil
Evidence:
1. Undangan 2. Daftar Hadir 3. BA Mediasi 4. BA Perdamaian
Mediasi Kriteria 3:
a. Surat
pemberitahuan bukan kewenangan
58
Berdasarkan tabel diatas terkait Tahapan Penanganan Kasus, adapun dijelaskan dalam bentuk uraian yakni sebagai berikut:
1. Pertama, pengkajian dilakukan untuk memahami kasus yang ditangani dan dituangkan dalam bentuk telaah staff yang memuat judul, riwayat kasus, pokok permasalahan, klarifikasi kasus, data atau dokumen yang tersedia, dan hal penting lainnya.
2. Kedua, dari hasil pengkajian kasus dijadikan dasar melaksanakan gelar awal yang tujuannya untuk:
a. Merumuskan rencana penanganan
b. Menentukan data fisik, data yuridis, data lapangan dan bahan yang diperlukan lainnya
c. Menentukan lembaga atau instansi ataupun pihak yang berwenang dan berkepentingan terkait kasus yang ditangani
d. Menentukan ketentuan perundang-undangan yang akan diterapkan e. Menyusun rencana kerja dalam penelitian
f. Menentukan target waktu untuk menyelesaikan kasus.
Kemudian hasilnya dibuatkan ringkasan gelar awal (notula) yang ditandatangani oleh notulis dan menjadi dasar untuk menyiapkan surat kepada instansi terkait lainnya untuk menyelesaikan jika kasusnya termasuk kewenangan instansi lain, menyiapkan surat kepada Kepala Kantor Wilayah atau Kantor Pertanahan untuk melakukan penanganan dan