BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian
Penelitian ini ialah penelitian kuantitatif deskriptif yang membahas dampak dari fenomena objek yang diteliti. Data yang dipakai dalam penelitian ini ialah data sekunder yang berbentuk laporan keuangan triwulan pada tahun 2018 – 2021 yang didapatkan dari website resmi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang diterbitkan secara berkala sebagai bentuk pelaporan perkembangan sektor perbankan syariah di Indonesia.
Penelitian ini menggunakan Bank Syariah di Indonesia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai objek penelitian. Jumlah Bank Syariah yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) per Desember 2021 sebanyak 4 Bank Umum Syariah tetapi hanya ada 3 Bank Syariah yang memiliki data laporan keuangan sebelum dan setelah pandemi Covid-19. Populasi dari penelitian ini akan diteliti kinerja keuangannya pada masa sebelum Covid-19 dan selama Covid-19.
B. Hasil Penelitian
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia (BEI), yang terletak di lantai 2 menara Iqra Universitas Muhammadiyah Makassar di Jl. Sultan Alauddin No. 259, Gn. Sari, Kec.
Rappocini, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Pembahasan hasil menggunakan analisis statistik deskriptif untuk mengambarkan hasil penelitian apa adanya dan uji statistik menggunakan paired sample t test untuk hipotesis
kinerja keuangan bank sebelum dan selama pandemi Covid-19 dari seluruh sample.
Tabel 4.1
Data Mentah Rasio Kinerja Keuangan Sebelum Pandemi Covid 19
NO Nama Bank Triwulan II-2018
FDR ROA CAR NPF
1 Bank Panin Dubai Syariah 105,47% 0,26% 16,28% 3,77%
2 Bank BRI Syariah 91,01% 0,92% 23,73% 3,99%
3 Bank BTPN Syariah 92,37% 12,54% 42,28% 1,79%
NO Nama Bank Triwulan III-2018
FDR ROA CAR NPF
1 Bank Panin Dubai Syariah 93,87% 0,25% 15,64% 3,68%
2 Bank BRI Syariah 82,65% 0,77% 19,38% 3,35%
3 Bank BTPN Syariah 98,48% 12,39% 43,09% 1,87%
NO Nama Bank Triwulan I-2019
FDR ROA CAR NPF
1 Bank Panin Dubai Syariah 117,45% 0,24% 29,21% 3,53%
2 Bank BRI Syariah 77,28% 0,43% 49,63% 1,87%
3 Bank BTPN Syariah 100,45% 12,68% 51,66% 3,53%
34
NO Nama Bank Triwulan II-2019
FDR ROA CAR NPF
1 Bank Panin Dubai Syariah 111,41% 0,15% 92,07% 3,09%
2 Bank BRI Syariah 74,53% 0,32% 49,06% 1,91%
3 Bank BTPN Syariah 110,03% 12,73% 89,23% 3,24%
NO Nama Bank Triwulan III-2019
FDR ROA CAR NPF
1 Bank Panin Dubai Syariah 118,94% 0,16% 92,58% 3,16%
2 Bank BRI Syariah 74,45% 0,32% 50,17% 3,05%
3 Bank BTPN Syariah 80,75% 13,05% 24,35% 1,77%
Tabel 4.2
Data Mentah Rasio Kinerja Keuangan Selama Pandemi Covid 19
NO Nama Bank Triwulan II-2020
FDR ROA CAR NPF
1 Bank Panin Dubai Syariah 08,77% 0,40% 27,74% 8,45%
2 Bank BRI Syariah 77,78% 0,90% 29,31% 5,13%
3 Bank BTPN Syariah 97,89% 6,96% 36,90% 1,65%
NO Nama Bank Triwulan III-2020
FDR ROA CAR NPF
1 Bank Panin Dubai Syariah 93,44% 0,00% 25,97% 4,79%
2 Bank BRI Syariah 76,40% 0,84% 29,79% 5,30%
3 Bank BTPN Syariah 96,03% 5,80% 39,69% 1,56%
NO Nama Bank Triwulan I-2021
FDR ROA CAR NPF
1 Bank Panin Dubai Syariah 98,87% 0,10% 18,47% 5,00%
2 Bank BRI Syariah 79,55% 0,92% 27,82% 5,68%
3 Bank BTPN Syariah 96,03% 2,77% 39,34% 1,38%
NO Nama Bank Triwulan II-2021
FDR ROA CAR NPF
1 Bank Panin Dubai Syariah 94,66% 0,05% 16,70% 4,56%
2 Bank BRI Syariah 85,25% 1,70% 26,88% 4,98%
3 Bank BTPN Syariah 96,17% 5,67% 39,40% 1,34%
NO Nama Bank Triwulan III-2021
FDR ROA CAR NPF
1 Bank Panin Dubai Syariah 97,88% 0,04% 15,17% 4,41%
2 Bank BRI Syariah 90,40% 1,70% 26,54% 4,45%
3 Bank BTPN Syariah 98,68% 7,91% 41,11% 1,30%
1. Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui karakteristik data.
Analisis deskriptif akan menganalisis rasio-rasio kinerja keuangan dengan nilai mean pada waktu sebelum dan selama pandemi Covid-19 berlangsung pada Bank Syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
36
(BEI). Adapun rasio-rasio tersebut yaitu rasio likuiditas yang diwakilkan oleh rasio FDR, rasio rentabilitas yang diwakili oleh rasio ROA, rasio solvabilitas yang diwakili oleh rasio CAR, dan rasio kualitas aset yang diwakili oleh rasio NPF. Adapun data-data yang didapat adalah:
Tabel 4.3
Statistik Deskriptif Kinerja Keuangan
Bank Syariah yang terdaftar di BEI Sebelum Covid-19
Indikator Mean
FDR 95,27
ROA 4,48
CAR 45,89
NPF 3,99
Sumber : Data diolah dengan SPSS Versi 25.
Berdasarkan Tabel 4.3 diketahui variabel FDR Bank Syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelum Covid-19 memiliki nilai rata-rata sebesar 95,27%. Nilai rata-rata tersebut menurut Surat Edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP Tahun 2004 dikatakan aman karena nilainya tidak kurang dari 75% dan tidak lebih dari 120%. Hal ini mengindikasikan bahwa rasio FDR Bank Syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada triwulan II 2018 hingga triwulan III 2019 terpantau aman. Nilai rata-rata tersebut menjadi acuan penilaian rasio FDR. Semakin tinggi nilai FDR maka akan semakin tinggi pula risiko likuiditas dan semakin tinggi pula profitabilitasnya.
Berdasarkan Tabel 4.3 diketahui variabel ROA Bank Indonesia sebelum Covid-19 mempunyai nilai rata-rata sebesar 4,48%. Menurut SE-
BI No. 13/24/DPNP 2011 ketentuan ROA dianggap sehat jika lebih dari 1,5% dan dikatakan tidak sehat jika kurang dari 0%. Dapat diketahui bahwa rasio ROA Bank Syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada triwulan II 2018 – triwulan III 2019 memiliki nilai rata-rata yang sangat sehat. Dengan demikian, pada saat periode tersebut Bank Syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) mampu mendapatkan profitabilitas dari kegiatan operasionalnya dengan baik.
Berdasarkan Tabel 4.3 diketahui variabel CAR Bank Syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelum pandemi Covid-19 menunjukkan nilai rata-rata sebesar 45, 89%. Menurut Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 6/23/DPNP Tahun 2004, CAR dianggap sehat jika lebih dari 12% dan dikatakan tidak sehat jika kurang dari 6%. Berdasarkan hal tersebut rasio CAR pada triwulan II 2018 – triwulan III 2019 dikategorikan sangat sehat. Maka diketahui bahwa Bank Syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesi (BEI) mampu menjaga rasio CARnya.
Berdasarka Tabel 4.3 diketahui variabel NPF Bank Syariah yang terdaftar di BURSA Efek Indonesia (BEI) sebelum Covid-19 menunjukkan nilai rat-rata sebesar 3, 99%. Menurut SE-BI No. 6/23/DPNP Tahun 2004, NPF dianggap sehat jika lebih kecil dari 2% dan dikatakan tidak sehat jika melebihi 12%. Dengan demikian dapat diketahui bahwa nilai rata-rata rasio NPF dikategorikan aman. Maka dapat disimpulkan bahwa Bank Syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) mampu menjaga rasio NPFnya pada triwulan II 2018 – triwulan III 2019.
38
Tabel 4.4
Statistik Deskriptif Rasio Kinerja Keuangan Bank Syariah yang terdaftar di BEI Selama Covid-19
Indikator Mean
FDR 91,18
ROA 2,38
CAR 29,38
NPF 2,83
Sumber: Data diolah dengan SPSS Versi 25.
Beradasarkan Tabel 4.4 diketahui variabel FDR memiliki nilai rata- rata sebesar 91,18%. Nilai rata-rata ini menurut Surat Edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP Tahun 2004 dikatakan aman dengan nilai ketentuan kurang dari 75% dan tidak lebih dari 120%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa rasio FDR pada triwulan II 2020 – Triwulan III 2021 dikatakan aman. Tapi, rasio FDR mengalami penurunan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Hal ini mengambarkan bahwa pembiayaan bank melemah.
Berdasarkan Tabel 4.4 diketahui variabel ROA Bank Syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama pandemi Covid-19 menunjukkan nilai rata-rata sebesar 2,38%. Menurut SE-BI No.
13/24/DPNP 2011 ketentuan ROA dianggap sehat jika lebih dari 1,5%
dan dikatakan tidak sehat jika kurang dari 0%. Dengan demikian dapat diketahui bahwa nilai rata-rata rasio ROA pada triwulan II 2020 – triwulan III 2021 dikategorika sehat. Tapi, dibandingkan dengan periode
sebelumnya menunjukan penurunan. Maka dapat diketahui kinerja rasio ROA pada periode ini mengalami kemunduran.
Berdasarkan Tabel 4.4 diketahui variabel CAR Bank Syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama pandemi Covid-19 menunjukkan nilai rata-rata sebesar 29,38%. Menurut SE-BI No 6/23/DPNP Tahun 2004, CAR dianggap sehat jika lebih dari 12% dan dikatakan tidak sehat jika kurang dari 6%. Berdasarkan hal tersebut rasio CAR pada triwulan II 2020 – triwulan III 2021 dikategorikan sehat. Tapi, jika dibandikan dengan periode sebelumnya menunjukkan kemunduran kinerja CAR. Maka dapat diketahui bahwa rasio CAR mengalami penurunan kinerja.
Berdasarkan Tabel 4.4 diketahui variabel NPF Bank Syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama pandemi Covid-19 menunjukkan nilai rata-rata sebesar 2,83%. Menurut SE-BI No.
6/23/DPNP Tahun 2004, NPF dianggap sehat jika lebih kecil dari 2% dan dikatakan tidak sehat jika lebih dari 12%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa nilai rata-rata rasio NPF dikategorikan aman pada triwulan II 2020 – triwulan III 2021. Namun jika dibandingkan dengan periode sebelumnya rasio NPF mengalami penurunan yang berarti rasio tersebut mengalami penurunan kinerja.
2. Uji Hipotesis
2.1. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui data berdistribusi normal atau tidak. Dalam penelitian ini untuk mengetahui data
40
berdistribusi normal atau tidak menggunakan Test of normality shapiro-wilk, dalam pengujianya dasar pengamblan keputusan data berdistribusi normal atau tidak dilihat dari nilai Sig, dengan ketentuan:
a. Jika data objek yang diteliti nila signifikasinya ˃ dari 0,05, maka data tersebut berdistibusi normal.
b. Jika data objek yang diteliti nilai signifikasinya ˂ dari 0,05, maka data tersebut berdistribusi tidak normal/ abnormal.
Jika nilai Sig. pada Shapiro-wilk test ˃ 0,05 maka, data berdistribusi dengan normal, namun jika Sig. pada Shapiro-wilk test ˂ 0,05, maka data berdistribusi tidak normal. Adapun hasil uji normalitas pada Bank Syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu sebagai berikut.
Tabel 4.5
Uji Normalitas Bank Syariah yang terdaftar di BEI Indikator Statistik df Sig. Keterangan Distribusi FDR
Sebelum Covid-19
0,947 15 0,441 Sig ˃ 0,05 Normal
FDR Selama Covid-19
0,145 15 0,352 Sig ˃ 0,05 Normal
ROA Sebelum Covid-19
0,216 15 0,158 Sig ˃ 0,05 Normal
ROA Selama Covid-19
0,816 15 0,276 Sig ˃ 0,05 Normal
CAR Sebelum Covid-19
0,210 15 0,098 Sig ˃ 0,05 Normal
CAR Selama Covid-19
0,916 15 0,146 Sig ˃ 0,05 Normal
NPF Sebelum Covid-19
0,206 15 0,089 Sig ˃ 0,05 Normal
NPF Selama Covid-19
0,901 15 0,084 Sig ˃ 0,05 Normal
Sumber: Data diolah dengan SPSS Versi 25.
Pada Tabel 4.5 uji normalitas dapat diketahui dari Shapiro-wilk test, menunjukkan rasio FDR sebelum pandemi Covid-19 mendapatkan nilai Sig. sebesar 0,441 yang berarti nilai Sig. lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa rasio FDR sebelum pandemi Covid-19 berdistribusi normal. Sedangkan FDR selama pandemi Covid-19 memiliki nilai Sig. sebesar 0,352 yang berarti nilai Sig lebih besar dari 0,05 maka bisa disimpulkan bahwa rasio FDR setelah pandemi Covid-19 berdistribusi normal.
Pada Tabel 4.5 uji normalitas dapat diketahui dari Shapiro-wilk test, menunjukkan rasio ROA sebelum pandemi Covid-19 memiliki
42
nilai Sig. sebesar 0,158 yang berarti nilai Sig, lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa rasio ROA sebelum pandemi Covid- 19 berdistribusi normal. Sedangkan, pada rasio ROA selama pandemi Covid-19 memiliki nilai Sig. sebesar 0,276 dimana nilai Sig.
lebih besar dari 0,05 maka dapat dikatakan bahwa rasio ROA selama pandemi Covid-19 berdistribusi normal.
Pada Tabel 4.5 uji normalitas pada Shapiro-wilk test, rasio CAR sebelum pandemi Covid-19 memiliki nilai Sig. sebesar 0,098 yang mana nilai Sig. lebih besar dari 0,05 maka dapat dikatakan bahwa rasio CAR sebelum pandemi Covid-19 berdistribusi dengan normal. Sedangkan rasio CAR selama pandemi Covid-19 memiliki nilai Sig. 0,146 yang mana nilai Sig. lebih besar dari 0,05 maka dapat dikatakan bahwa rasio CAR selama pandemi Covid-19 berdistribusi dengan normal.
Pada Tabel 4.5 uji normalitas pada Shapiro-wilk test, rasio NPF sebelum pandemi Covid-19 memiliki nilai Sig. sebesar 0.089 dimana nilai Sig. lebih besar dari 0,05 maka dapat dikatakan bahwa rasio NPF sebelum pandemi Covid-19 berdistribusi normal. Sedangkan rasio NPF selama pandemi Covid-19 memiliki nilai Sig. 0,084 dimana nilai Sig. lebih besar dari 0,05 maka dapat dikatakan bahwa rasio NPF selama pandemi Covid-19 berdistribusi dengan normal.
Berdasarkan hasil pengujian normalitas maka didapatkan bahwa semua data dari rasio kinerja keuangan berdistribusi secara normal.
2.2. Uji Homogenitas
Uji homogenitas merupakan uji yang bertujuan untuk mengetahui apakah sample pada penelitian tersebut diperoleh dari populasi yang bervariasi homogen atau tidak. Cara mengetahui data tersebut homogen atau tidak yaitu dengan menggunakan uji homogenitas varians dengan ketentuan jika nilai Sig. lebih besar dari 0,05 maka data tersebut homogen sedangkan jika nilai Sig.
kurang dari 0,05 maka data tersebut tidak homogen. Berdasarkan pengujian didapatkan hasil untuk pengujian homogenitas kinerja keuangan Bank Syariah yang terdaftar di Burasa Efek Indonesia (BEI) sebelum dan selama pandemi Covid-19 yaitu sebagai berikut:
Tabel 4.6 Uji Homogenitas
Bank Syariah yang Terdaftar di BEI Sebelum dan Selama Covid 19
Indikator Levene Statistik
Sig. Keterangan Distribusi FDR 2,891 0,149 Sig. ˃ 0,05 Homogen ROA 1,648 0,206 Sig. ˃ 0,05 Homogen CAR 3,463 0,070 Sig. ˃ 0,05 Homogen NPF 3,921 0,054 Sig. ˃ 0,05 Homogen
Sumber: Data diolah dengan SPSS Versi 25
Pada Tabel 4.6 uji homogenitas dapat diketahui rasio FDR mendapatkan nilai Sig. sebesar 0,149 yang berarti nilai Sig. lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa rasio FDR mempunyai sifat homogen.
44
Pada Tabel 4.6 uji homogenitas dapat diketahui rasio ROA memiliki nilai Sig. sebesar 0,206 yang berarti nilai Sig. lebih besar dari 0,05 maka dapat dikatakan bahwa rasio ROA mempunyai sifat homogen.
Pada Tabel 4.6 uji homogenitas dapat diketahui CAR memiliki nilai Sig. sebesar 0,070 dimana nilai Sig, lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa rasio CAR mempunyai sifat homogen.
Pada Tabel 4.6 uji homogenitas dapat diketahui NPF memiliki nilai Sig. sebesar 0,054 dimana nilai Sig. lebih besar dari 0,05 maka dapat dikatakan bahwa rasio NPF mempunyai sifat homogen.
Berdasarkan hasil pengujian homogenitas didapatkan data rasio FDR, ROA, CAR, dan NPF memiliki sifat yang homogen.
Dari hasil uji normalitas dan homogenitas maka selanjutnya akan dilakukan uji beda pada rasio FDR, ROA, CAR, dan NPF menggunakan uji Paired sample t-test.
2.3 Uji Beda
Pengujian beda yang digunakan dalam penelitian ini ialah uji paired sample t-test . Kegunaan dilakukanya uji beda adalah untuk mengetahui dampak dari Covid-19 terhadap kinerja keuangan Bank Syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan membandingkan data sebelum dan selama adanya pandemi Covid 19. Kemudian untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan dilihat dari tabel Paired Sample T-
test. Digunakan dasar keputusan jika nilai Sig. kurang dari 0,05 maka terdapat perbedaan yang signifikan terhadap kinerja keuangan pada Bank Syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelum dan selama pandemi Covid 19. Sedangkan jika nilai Sig. lebih dari 0,05 maka tidak ada perbedaan signifikan kinerja keuangan pada Bank Syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelum dan selama pandemi Covid 19.
Tabel 4.7
Uji Beda Paired Sample T-test dengan Membandingan Nilai Rata-Rata Data Bank Syariah yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Sebelum dan Selama Pandemi Covid-19 No Indikator Nilai Rata-rata
Sebelum Pandemi Covid-19
Nilai Rata-rata Selama Pandemi
Covid-19
Naik↑ / Turun↓
1 FDR 95,2753 91,1860 ↓ 4,09
2 ROA 4,4807 2,3840 ↓ 2,1
3 CAR 45,8907 29,3887 ↓ 16,51
4 NPF 3,9987 2,8367 ↓ 1,16
Berdasarkan Tabel 4.7 perbandingan nilai rata-rata data bank sayariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) nilai FDR sebelum pandemi Covid- 19 sebesar 95,2753 sedangkan nilai FDR selama pandemi Covid-19 sebesar 91,1860 yang berarti nilai FDR sebelum dan selama pandemi Covid-19 menurun hingga 4,09. Hal ini menggambarkan bahwa pembiayaan bank melemah setelah adanya pandemi Covid-19.
46
Berdasarkan Tabel 4.7 perbandingan nilai rata-rata data bank sayariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) nilai ROA sebelum pandemi Covid- 19 sebesar 4,4807 sedangkan nilai ROA selama pandemi Covid-19 sebesar 2,3840 yang berarti nilai ROA sebelum dan selama pandemi Covid-19 menurun hingga 2,1. Maka dapat diketahui bahwa kinerja rasio ROA mengalami kemunduran setelah adanya pandemi Covid-19.
Berdasarkan Tabel 4.7 perbandingan nilai rata-rata data bank syariah yang terdaftra di Bursa Efek Indonesia (BEI) nilai CAR sebelum pandemi Covid- 19 sebesar 45,8907 sedangkan nilai CAR setelah adanya pandemi Covid-19 sebesar 29,3887 yang berarti nilai CAR sebelum dan selama pandemi Covid-19 mengalami penurunan hingga 16,51. Maka dapat diketahui bahwa rasio CAR mengalami penurunan kinerja setelah adanya pandemi Covid-19.
Berdasarkan Tabel 4.7 perbandingan nilai rata-rata data bank syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) nilai NPF sebelum pandemi Covid- 19 sebesar 3,9987 sedangkan nilai NPF selama pandemi Covid-19 sebesar 2,8367 yang berarti nilai NPF mengalami penurunan sebesar 1,16. Maka dapat diketahui bahwa rasio NPF mengalami penurunan kinerja setelah adanya pendemi Covid-19.
Tabel 4.8
Uji Beda Paired Sample T-test
Bank Syariah yang Terdaftar di BEI Sebelum dan Selama Covid 19
Indikator T Sig.
(Tailed)
Keterangan Keputusan
FDR 1,248 0,033 Sig. ˂ 0,05 H1 diterima ROA 2,220 0,043 Sig. ˂ 0,05 H2 diterima CAR 2,134 0,049 Sig. ˂ 0,05 H3 diterima NPF 3,287 0,005 Sig. ˂ 0,05 H4 diterima Sumber: Data diolah dengan SPSS Versi 25
Hipotesis pertama dalam penelitian ini menduga adanya perbedaan yang signifikan rasio likuiditas yang diwakilkan oleh FDR pada Bank Syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelum dan selama pandemi Covid 19. Output SPSS pada tabel 4.7 menggambarkan hasil uji beda pada Paired Sample T-test. Pada rasio FDR menggambarkan nilai Sig. sebesar 0,033 dengan begitu nilai Sig. lebih kecil dari 0,05 maka dapat disimpulkan terdapat perbedaan yang signifikan pada rasio FDR sebelum dan selama pandemi Covid 19.
Hipotesis kedua dalam penelitian ini menduga adanya perbedaan yang signifikan rasio rentabilitas yang diwakilkan oleh ROA pada Bank Syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelum dan selama pandemi Covid 19. Output SPSS pada tabel 4.7 menggambarkan hasil uji beda dari Paired sample t-test. Pada rasio ROA menunjukkan nilai Sig.
sebesar0,043 dengan demikian nilai Sig. lebih kecil dari 0,05 maka dapat
48
disimpulkan terdapat perbedaan yang signifikan pada rasio ROA sebelum dan selama pandemi Covid 19.
Hipotesis ketiga dalam penelitian ini menduga adanya perbedaan yang signifikan rasio solvabilitas yang diwakilkan oleh CAR pada Bank Syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelum dan selama Covid 19. Output SPSS pada tabel 4.7 menggambarkan hasil uji beda dari Paired sample t-test. Pada rasio CAR menunjukkan nilai Sig. sebesar 0,049 maka dapat disimpulkan terdapat perbedaan yang signifikan pada rasio CAR sebelum dan selama pandemi Covid 19.
Hipotesis keempat dalam penelitian ini menduga adanya perbedaan yang signifikan rasio kualitas aset yang diwakilkan oleh NPF pada Bank Syariah yang terdaftar di Burs Efek Indonesia (BEI) sebelum dan selama pandemi Covid 19. Output SPSS pada tabel 4.7 mengambarkan hasil uji beda dari Paired sampel t-test. Pada rasio NPF menunjukkan nilai Sig.
sebesar 0,005 dengan demikian nilai Sig. lebih kecil dari 0,05 maka dapat disimpulkan terdapat perbedaan yang signifikan pada rasio NPF sebelum dan selama pandemi Covid 19.
C . Pembahasan
1. Perbedaan Kinerja Rasio Likuiditas Sebelum dan Selama Pandemi Covid 19 yang Diwakilkan oleh FDR pada Perbankan Syariah yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
Berdasarkah hasil uji Paired Sample T-test menunjukkan nilai signifikansi FDR sebesar 0,033 yang berarti H1 diterima. Dengan demikian, diketahui bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap
rasio likuiditas yang diwakilkan oleh rasio FDR. Rasio FDR memiliki nilai rata-rata sebelum pandemi Covid 19 sebesar 95,27% sedangkan nilai rata-rata selama pandemi Covid 19 sebesar 91,18%. Rasio FDR selama pandemi Covid 19 dipantau aman dilihat dari nilai rata-rata yang diatas ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor. 6/23/DPNP Tahun 2005 dengan ketentuan dikatakan sangat sehat jika nilainya kurang dari 75% dan dikatakan tidak sehat jika nilainya lebih dari 120%.
Rasio FDR ialah rasio yang membahas seberapa banyak pembiayaan yang dikeluarkan memakai dana pihak ketiga, sehingga jika pertumbuhan dana pihak ketiga meningkat dan tidak disertai dengan kenaikan pertumbuhan kredit maka mengakibatkan rasio FDR menurun.
Adanya perbedaan yang signifikan pada rasio FDR dikarenakan rasio tersebut mengalami penurunan saat sebelum dan selama pandemi Covid 19. Rata-rata rasio FDR pada sebelum Covid sebesar 95,27% dan menurun selama Covid 19 dengan rata-rata 91,18%. Penurunan rata-rata tersebut disebabkan oleh pertumbuhan pembiayaan yang menurun dan kenaikan pertumbuhan DPK sehingga terjadi ketidak seimbangan.
Penurunan kredit atau pembiayaan disebabkan oleh permintaan yang rendah sebagai dampak dari kehilangan pendapatan karena adanya pemutusan kontrak kerja (PHK), kehilangan pendapatan usaha sebagai dampak aturan-aturan yang ditetapkan pemerintah dan keadaan ekonomi yang tidak stabil yang mana hal-hal ini akan menurunkan minat untuk melakukan pembiayaan. Selain itu, penyebab menurunya pembiayaan
50
juga karena keadaan ekonomi yang tidak stabil, hal ini sama dengan penelitian (Sumadi,2020).
Pada penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada rasio FDR baik sebelum dan selama pandemi Covid 19.
Hal ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh (Yoga Adi & Binti Nur Aisyah, 2020) yang menyatakan bahwa kemungkinan akan terjadi risiko yang berhubungan dengan likuiditas hal tersebut dikarenakan adanya pertumbuhan perekonomian yang rendah, kesulitan keuangan serta penurunan pertumbuhan kredit.
Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh (Ihsan Effendi &
Prawidya Harian RS, 2020) yang menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada rasio FDR sebelum dan selama pandemi Covid 19. Hal tersebut dikarenakan tingkat kepercayaan nasabah pembiayaan dan simpanan terhadap Bank Syariah masih tinggi, selain itu kebutuhan akan dana simpanan dan dana pembiayaan masih stabil.
2. Perbedaan Kinerja Rasio Rentabilitas Sebelum dan Selama Pandemi Covid-19 yang di Wakilkan oleh ROA pada Perbankan Syariah yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
Berdasarkan hasil uji Paired Sampel T-test menunjukkan nilai signifikasi rasio ROA sebesar 0,043% yang berarti H2 diterima. Dengan begitu, dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap rasio rentabilitas yang diwakilkan oleh rasio ROA. Rasio ROA memiliki nilai rata-rata sebelum pandemi Covid 19 sebesar 4,48%, sedangkan nilai rata-rata selama Covid 19 sebesar 2,38%. Nilai rasio
ROA selama pandemi Covid 19 terpantau aman dilihat dari nilai rata- ratanya diatas ketentuan yang ditetapkan berdasarkan SE-BI No.
13/24/DPNP 2011 dengan ketentuan ROA dianggap sangat sehat jika lebih dari 1,5% dan dikatakan tidak sehat jika kurang dari 0%.
Rasio ROA dipakai untuk mengetahui kemampuan manajemen dalam menghasilkan profitabilitas dari aktivitas penjualan maupun investasi. Semakin tinggi rasio ROA maka semakin baik pula efektifitas manajemen dalam mendapatkan profitabilitas atau keuntungan.
Terdapat perbedaan yang signifikan pada rasio ROA dikarenakan ada perbedaan rata-rata sebelum pandemi Covid 19 dan selama pandemi Covid 19. Saat sebelum pandemi Covid 19 rata-rata rasio ROA sebesar 4,48% sedangkan selama pandemi Covid 19 rata-rata rasio ROA sebesar 2, 38% yang berarti pada saat selama pandemi Covid 19 kinerja rasio ROA menurun.
Penyebab turunya rasio ROA selama pandemi Covid 19 dikarenakan kreditur kesusahan untuk membayar kewajibanya kepada Bank yang dikarenakan usahanya terhambat sebagai dampak pandemi Covid 19 sehingga Bank kehilangan pendapatanya. Penyebab turunya rasio ROA juga dikarenakan hilangnya pendapatan sebagai penyalur dana karena Bank tidak bisa menyalurkan dana secara optimal akibat menurunya minat masyarakat terhadap kredit/pembiayaan (Laporan Profil Industri Perbankan Kuartal IV, 2020).
Pada penelitian ini menunjukkan perbedaan yang signifikan pada rasio rentabilitas yang diwakilkan oleh rasio ROA. Hal ini sama dengan