• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Umum Objek Penelitian

Dalam dokumen keselamatan kerja buruh pabrik penggilingan (Halaman 90-137)

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

Kabupaten Jember memiliki potensi yang sangat besar dalam bidang pertanian khususnya padi. Hal ini terbukti dengan Kabupaten Jember memiliki luas sawah yang ditanami padi seluas 78.815 hektar yang menempati urutan pertama dijawa timur (BPS, 2012). Produksi padi yang sangat tinggi diiringi dengan banyaknya tempat penggilingan padi salah satunya yang berada di Dusun Krajan Desa Mumbulsari yang bernama PBK.Lancar. Namun setelah beberapa tahun kemudian diubah menjadi UD.Lancar.

Desa Mumbulsari adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Mumbulsari Kabupaten Jember. Jarak tempuh dari Dusun Krajan Mumbulsari ke Kantor Kepala Desa sekitar 2 km, yang dapat ditempuh dengan waktu sekitar 15 menit. Sedangkan jarak tempuh ke Ibu Kota Kabupaten sekitar 1 jam.

Secara Geografis berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa tahun 2017 jumlah penduduk Desa Mumbulsari Jember adalah terdiri dari 8978 penduduk, sedangkan total luas wilayah Desa yaitu 1.463 Ha.40 Dilihat dari letaknya Desa Mumbusari Dusun Krajan ini secara topografi letaknya sangat strategis dan menguntungkan secara ekonomi dan bisnis,

40 Dokumen Profil Desa Mumbulsari Kecamatan Mumbusari Kabupaten Jember.

karena Dusun krajan ini yang memiliki pasar ditengah-tengah Desa namun tidak banyak juga penduduk di Desa ini sebagai petani. Penduduk Desa Mumbulsari mayoritas berbahasa Madura namun bukan asli Madura.41

Secara administratif, Desa Mumbusari terletak di Wilayah Kabupaten Mumbulsari Kabupaten Jember dengan posisi dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Adapun batas-batas Desa Mumbulsari, antara lain :

a. Sebelah utara berbatasan dengan Desa Lampeji b. Sebelah barat berbatasan dengan Desa Belangan

c. Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Sumber Tengah d. Sebelah timur berbatasan dengan Desa Socah

2. Mata Pencaharian

Di Desa Mumbulsari Kabupaten Jember penduduknya memiliki mata pencaharian yang berbeda-beda. Mata pencaharian penduduk di Desa Mumbulsari terdiri dari petani, industri, pedagang, kebun, PNS, kuli bangunan dan mata pencaharian lain. Menurut Bapak Jumadin selaku seksi pemberdayaan masyarakat Desa di Kecamatan Mumbulsari, paling banyak adalah petani dan buruh kebun.42 Karena dari jaman Bapak Soeharto perkebunan karet terutama sangat banyak dan tumbuh subur dari ujung barat sampai ujung timur, namun ladang sawah waktu itu juga sangat luas dan banyak lahan yang ditanami padi.

41 Subaideh, Wawancara, Mumbulsari, 27 April 2018.

Menurut keterangan Bapak Tolleb selaku petani di Desa Mumbulsari Jember meskipun sedang musim kemarau panjang para petani tidak pernah kekurangan dalam mengairi sawah karena sumber mata air disana dari sungai dan waduk yang mengalir dari perkebunan sekitar.43 Selain pertanian sektor perkebunan di Desa Mumbulsari juga sangat bagus hal ini dibuktikan dengan adanya banyak perkebunan disepanjang jalan Desa Mumbulsari dan Desa tetangga. Namun dalam sektor perdagangan Desa ini tidak begitu bagus karena kurangnya perumahan dan minat penduduk di Desa tersebut.

Dalam hal pekerjaan kuli bangunan menurut Bapak Holili begitu banyak juga peminatnya, karena adanya kekurangan sumber mata pencaharian dan juga keahlian. Di Desa Mumbulsari ini begitu banyak kepala rumah tangga yang menjadi seorang buruh kuli bangunan karena penghasilannya juga sudah pasti dan biasanya penduduk disana merantau ke Kota yang lebih maju tentang perekonomiannya seperti di Bali dan Kalimantan.

3. Keadaan Sosial

Keadaan sosial adalah keadaan atau kondisi yang menggambarkan tentang hal yang berkaitan perbuatan dengan manusia.44 Kecamatan Mumbulsari Jember merupakan salah satu Kecamatan yang tidak begitu banyak penduduknya, namun menurut Ibu Murtin selaku sekertariat desa beliau mengatakan bahwa dalam sosial penduduk desa disini saling

43 Tolleb, Wawancara, 01 Mei 2018.

44 Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), 5.

membantu satu sama lainnya dan walaupun tidak banyak kebiasaan atau adad yang dilakukan di desa tersebut namun sistem sosialisasinya antar masyarakat sangat erat.

4. Keadaan Ekonomi

Keadaan ekonomi adalah keadaan baik atau lancar dan tersendatnya perjalanan ekonomi di daerah tersebut.45 Ekonomi memang sangat dibutuhkan dalam kelangsungan hidup manusia dalam artian semua makhluk hidup ini harus mampu berusaha memenuhi kebutuhan primer, sekunder dan tersier.

Sedangkan di Dusun krajan Desa mumbulsari ini keadaan ekonominya menurut Ibu Sri tergolong menengah, karena tidak terlalu banyak yang mampu mengelola SDM dengan baik dan benar. Padahal keadaan SDM yang cukup memadai dan bisa untuk dikelolala sendiri itu masih kurang akan kesadaran masyarakat.46 Sebagai contoh yang ada disekitar rumah penduduk disana yaitu kebun karet yang luasnya dari ujung barat hingga diapit oleh sebelah kiri ujung timur kebarat, itu semua menjadi milik perusahaan lain yaitu PTPN yang pengelolanya bukan asli penduduk Mumbulsari Jember.

5. Keadaan Agama

Suatu kebiasaan yang tak bisa dipungkiri dari sejak kita lahir yaitu suatu hukum alam yang akan selalu berjalan dengan lahirnya zaman yaitu Agama atau suatu keyakinan. Agama sendiri adalah sistem yang mengatur

45 Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), 5.

tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan yang maha kuasa serta kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.47

Setelah peneliti melakukan survey secara pribadi kepada salah satu penduduk disana mengatakan bahwa, karena penduduk Desa Mumbulsari mayoritas bukan asli penduduk Desa maka sekitar 0,5% pendatang dan beragama islam.

B. Penyajian Data dan Analisis Data

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, interview, dan dokumentasi sebagai alat untuk meraih data sebanyak mungkin terhadap berbagai hal yang berkaitan dan mendukung untuk mengeksplorasi dan mengumpulkan data dalam penelitian ini.

Untuk mendapatkan data yang berkualitas dan intensifikasi secara berurutan akan disajikan data tentang :

1. Implementasi Keselamatan Kerja di Penggilingan Padi UD.LANCAR di Desa Mumbulsari Kecamatan Mumbulsari Kabupaten Jember

Keselamatan kerja adalah keselamatan yang bertalian denga mesin, pesawat alat kerja, bahan dan proses pengelolaannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya, serta cara-cara melakukan pekerjaan. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia keselamatan kerja dapat diartikan

47 Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), 5.

sebagai suatu kondisi yang bebas dari resiko yang relatif sangat kecil dibawah nilai tertentu.

Analisis yang dilakukan penulis terhadap implementasi keselamatan kerja yang dilakukan oleh pemilik pabrik penggilingan padi UD.Lancar Mumbulsari Jember yaitu seperti yang telah dicantumkan dalam wawancara dengan bapak Sopi beliau menyatakan bahwa :

“sejak dulu saya tidak memberikan alat pelindung diri pada pekerja atau buruh saya, karena menurut saya debu yang dihasilnya oleh padi tidak berbahaya”.

Wawancara selanjutnnya yaitu dengan bapak Ibu Sopi yang menyatakan :

“saya kurang faham mengenai adanya peraturan semacam itu bak.... “

Wawancara selanjutnya dengan bapak Sopi yang menyatakan :

“saya tidak tahu bak.... dengan adanya peraturan Pemerintah yang mengatur tentang ketenagakerjaan.

Wawancara selanjutnya dengan Bapak Sopi yang menyatakan bahwa:

“Walaupun saya pegang HP saya tidak mengerti dengan adanya peraturan UU itu bak....?”

“Karena saya hanya orang desa pendidikan yang rendah sehingga pemahaman dan pengetahuan saya terbatas.”

Ya saya sadar bak,,,,, tidak adanya alat pelindung diri itu, para pekerja saya sering mengeluh pada saya karena saya dianggap tidak bertanggung jawab atas keselamatan dan kesehatan kerja”.

Karena menurut saya memakai masker bisa mengganggu pekerjaan dan aktifitas bekerja apalagi cuaca sedang panas.”

Dapat ditarik titik tumpu yang dinyatakan oleh informan diatas bahwa Bapak Sopi selaku pemilik pabrik memang tidak memberikan alat pelindung diri pada pekerja/buruhnya dengan alasan debu yang dihasilkan dari penggilingan padi miliknya itu tidak berbahaya menurutnya.

Wawancara selanjutnya dengan Bapak Tollep yang menyatakan bahwa :

Ya disini sering terjadi gangguan pernafasan, bahkan bukan hanya sesak nafas namun juga batuk, flu dan sering pusing.

“saya tidak pernah mendapatkan pelindung kepala ataupun pelindung tangan, mungkin karena kurangnya persediaan fasilitas pabrik penggilingan padi ini.

Wawancara selanjutnya dengan Bapak Sutari yang menyatakan bahwa :

Ya benar, saya tidak pernah mendapatkan pelindung tangan maupun pelingdung pernafasan atau masker seperti yang bak maksud”.

Wawancara ini sama dengan informan yang sebelumnya yaitu Bapak Tollep dengan Bapak Sutari yang menyatakan bahwa memang

benar pabrik penggilingan padi tidak memberikan pelindung tangan, maupun pelindung pernafasan atau masker wajah.

Dengan kata lain pabrik memang menyadari bahwasannya hak seorang pengusaha terhadap pekerjanya harus memberikan alat pelindung tangan, mata, pernafasan maupun kaki.

Dapat disimpulkan bahwa menurut informan diatas pabrik penggilingan padi UD.Lancar Mumbulsari Jember tidak diberikan pelindung pernafasan atau masker, pelindung tangan, dan pelindung mata sesuai dengan yang seharusnya mereka dapatkan sesuai dengan standar opereasional. Selanjunya observasi yang saya lakukan yaitu sebagai berikut :

“Pagi itu saya datang dan melihat-lihat proses penggilingan padi di UD.LANCAR saya bertemu dengan Bapak Sutari, dan Bapak Efendi sebagai pekerja/buruh disana yang sedang sibuk mengangkut dan memasukkan padi kemesin penggilingan dengan cara manual tampa alat bantu juga tampa alat pelindung atau penutup hidung”.48

Semangat para pekerja/buruh sangatlah memberikan banyak motifasi bagi suatu kehidupan yang begitu kerasnya dijaman yang sekarang ini, karena tidak semua pekerja melakukan pekerjaannya dengan bersungguh. Namun ketika saya lihat di Penggilingan padi disana mereka tampa lelah melakukan pekerjaan mereka masing-masing dengan baik dan benar.

Wawancara yang saya lakukan dengan salah satu pekerja/buruh pabrik Ud.Lancar yaitu Bapak Sutari mengatakan :

“Kewejibennah dinnak yeh, aberrik ongkossah se alakoh ben arenah bing, mak le bisa ngakan tang anak binih, ben bektoh laotan monlah bejenah laotan”.49

Wawancara kedua dengan Bapak Mupet mengatakan bahwa :

“Kodunah yeh alokoh pabender bing, mak le tak e gigirin bik orengah polanah ejegeh teros”.50

Dari penjelasan informan diatas maka dapat disimpulkan bahwa apa yang dimaksut dengan hak dan kewajiban antara pekerja/buruh dengan pengusaha atau pabrik secara umum adalah melakukan kewajibannya sebagaimana mestinya dan juga memberikan waktu istirahat yang cukup bagi pekerjanya sedangkan sebagai pekerja harus bekerja dengan baik dan benar sesuai dengan yang telah ditentukan oleh pabrik tersebut.

a. Kecelakaan yang sering terjadi di tempat kerja

Dalam melakukan segala sesuatu pasti mengakibatkan sebuah resiko terutama ketika kita melakukan pekerjaan yang banyak dilakukan di sebuah pabrik dan lain sebagainya. Karena dalam pekerja kita juga harus mengetahui seberapa besar resiko yang akan terjadi jika itu dilakukan dalam jangka waktu yang lama. Dengan begitu kita bisa mengira-ngira apa yang akan terjadi saat pekerjaan itu dilakukan.

49 Sutari, Wawancara, 15 mei 2018.

50 Mupet, Wawancara, 15 mei 2018.

Ada banyak pekerjaan yang dilakukan secara manual maupun menggunakan alat atau mesin untuk menghasilkan sesuatu. Maka dari itu sebagai pekerja maupun sebagai pimpinan harus lebih jeli akan terjadinya suatu kecelakaan yang akan terjadi. Kecelakaan yang sering terjadi yaitu pada bagian area penggilingan padi dan saat proses berlangsung juga saat para pekerja atau buruh memindahkan padi pada penyimpanan.

Wawancara yang saya lakukan dengan Bapak Sutik mengatakan bahwa :

“Resikonah reng alakoh reh mon neng dinna’ bing,... aruwah monlah bedeh se sala lakonah mesteh e gigirin, yeh kadeng egeggerin padih ruwah pole”.51

Wawancara yang saya lakukan dengan Bapak Laeli mengatakan:

“mon resikonah reng alokoh reh bennyak, padenah monlah masok ka eyeddi’en mesin ruwah mon se lah tuwah ngak engkok lekas sessek nyabeh bing”.52

Alat yang digunakan hanyalah penganggkut atau alat dorong untuk mengangkut barang atau padi yang sudah dijemur sedangkan yang seharusnya diberikan pada pekerja atau buruh harus sesuai dengan standar yang berlaku.

Dapat disimpulkan dari penjelasan informan diatas bahwa kecelakaan yang terjadi di tempat kerja banyak resiko yang harus

51 Sutikno, Wawancara, 15 Mei 2018.

ditanggung dan ketika terjadi kesalahan yang bisa berdampak fatal maka akan terjadi kecelakaan yang membuat para pekerja/buruh mengalami cedera. Kecelakaan ini terjadi karena tidak adanya alat pelindung diri yang seharusnya diberikan pihak pabrik pada pekerjanya.

2. Implementasi Keselamatan Kerja Di Penggilingan Padi UD.Lancar Mumbulsari Jember Dalam Perspektif UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan

Keselamatan dalam suatu pekerjaan memang sangatlah dibutuhkan semua para pekerja/buruh, akan tetapi yang terjadi saat ini di Penggilingan Padi UD.Lancar Mumbulsari Jember pekerjaan yang mereka lakukan rata- rata yang penulis lihat langsung saat mendatangi lokasi memang banyak yang menggunakan dengan cara yang manual. Karena pabrik ini memang tidak terlalu besar untuk ukuran pabrik mungkin tergolong biasa dan sederhana. Begitupun dengan tempat yang tidak begitu strategis karena banyak masyarakat disana yang kurang bisa memanfaatkan adanya pabrik penggilingan padi ini, kecuali musim panen tiba barulah banyak pemasok padi yang berdatangan.

Namun dengan kondisi pabrik yang memang hanya menyediakan alat pelindung yang kurang memadai untuk pekerja, para pekerja tetap melakukan pekerjaannya dengan baik dan benar. Begitu banyak resiko yang harus diambil dalam bekerja namun dengan ketekunan dan adanya kebutuhan yang harus mereka penuhi, mereka melakukan resiko itu sebagai pekerjaan sehari-hari.

1) Alat pelindung diri (APD) pada UD.Lancar Mumbulsari Jember Di Pabrik penggilingan padi UD.Lancar ini pekerja /buruh tidak disediakan alat pelindung yang memadai oleh pabrik dengan demikian pekerja/buruh seringkali mengalami kecelakaan ringan namun bisa berakibat fatal. Peneliti sendiri sudah pernah tiga kali melihat dan mendengar lansung dari pekerja atau buruh disana bahwa benar mereka para pekerja menggunakan alat yang kurang maksimal.

Alat yang digunakan untuk bekerja seperti dalam menggiling padi para pekerja/buruh hanya menggunakan topi milik pribadi, alat angkut/ alat dorong manual dan juga kain atau baju bekas sebagai alas untuk memangkul padi atau beras yang sudah siap jual.

Sedangkan jika dilihat dari kaca peraturan UU No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan dalam pasal 86 bisa dilihat dibagian latar belakang itu menunjukkan ketidaksesuaian praktek dengan yang senyatanya.

Ketika pengangkutan atau pemindahan beras ketempat penyimpanan para pekerja hanya menggunakan tangan dan dipindah ketempat penyimpanan dengan alat angkut secara manual. Di pabrik ini memiliki sekitar 12 pekerja/buruh yang terdiri dari, 4 orang penggiling padi, 4 orang penjemur padi, 3 orang penggiling jagung sekaligus pemangkul padi maupun jagung yang akan di giling maupun yang sudah digiling dan 1 orang pengurus ayam petelur hingga menjualkannya kewarung sekitar. Pekerja di pabrik tersebut

melakukan pekerjaannya dengan sistem yang telah diatur oleh pabrik yaitu melakukan pekerjaannya tidak hanya satu pekerjaan walaupun sudah ditempatkan pada bagiannya masing - masing.

Sedangkan jika jika dilihat dari perspektif UU No.13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan pasal 32 ayat (2) yang berbunyi : “ penempatan tenaga kerja diarahkan untuk menempatkan tenaga kerja pada jabatan yang tepat sesuai dengan keahlian, keterampilan, bakat, minat dan kemampuan dengan memperhatikan harkat, martabat, hak asasi dan perlindungan hukum”. Namun Pada prakteknya pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja di pabrik UD.Lancar tidak sesuai dengan yang tercantum dalam peraturan perundang-undangan.

Dalam peraturan menteri telah terinci jelas bahwa alat penegaman diri harus diberikan kepada pekerja sesuai dengan standar dan ketentuan yang berlaku sesuai dengan pasal 2 dan 3 ayat (1) yang berbunyi bahwa : pasal 2 ayat (1) Pengusaha wajib menyediakan APD bagi pekerja/buruh di tempat kerja. 2) APD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) atau standar yang berlaku. 3) APD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib diberikan oleh pengusaha secara cuma-cuma. Pasal 3 berbunyi bahwa APD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 meliputi:

a. pelindung kepalab. pelindung mata dan muka. c. pelindung telinga.

d. pelindung pernapasan beserta perlengkapannya. e.pelindung tangan;

dan/atau f. pelindung kaki.

2) Lokasi kerja yang sering terjadi kecelakaan di UD.Lancar Mumbusari Jember

Lokasi kerja yang sering terjadi kecelakaan di penggilingan padi UD.Lancar yaitu pada area penggilingan padi tepatnya pada saat pemprosesan penggilingan padi berlangsung sampai selesai. Dan kecelakaan yang sering terjadi pada saat memangkul padi kemesin penggilingan, sering terjadi kecelakaan seperti tertimpa padi yang dibawanya atau waktu memindahkannya maupun mengeluarkannya dari sak padi. Sesuai dengan wawancara yang penulis lakukan yaitu dengan Bapak tika yang menyatakan bahwa :

“Pabrik ruwah bedeh mulaen jemanah pak Harto, Jed tadek seaberrik totop ka se alakoh, sajjenah sealakoh dissak kan bennyak se sessek dedenah polanah nyedot abunah padih ruwah ben areh. Mun sakek beih gun esoro mule tak eberrik pesse gebey aobet. Ben pole se endik ruwah reng cenah bing”.

Sesuai dengan wwancara diatas akibat dari sering terjadinya kecelakaan tersebut pabrik hanya menghimbau kepada pekerja untuk lebih hati-hati dalam bekerja, karena di pabrik ini memang menggunakan alat secara manual dan masih begitu sederhana dalam memproduksi barang setengah jadi yaitu beras dan jagung. Bukan hanya kecelakaan seperti yang dimaksud diatas namun seringkali buruh yang berada diarea penggilingan padi atau ruangan yang khususnya menggiling padi, mereka mengalami sesak nafas. Alat

pelindung yang seharusnya disediakan oleh pabrik seperti penutup kepala, penutup mulut atau hidung itu tidak disediakan oleh pabrik.

Akibatnya pekerja atau buruh karena sering menghirup udara yang berdebu membuat mereka sering mengalami masalah pada pernafasan.

Dan menurut masyarakat disekitar pabrik menyakini bahwa pekerja atau buruh yang sudah lama bekerja disana memang sering mengalami mati muda. Dan pernyataan ini di katakan oleh sekitar lima informan secara umum, dan salah satunya adalah anggota keluarga yang sudah meninggal yang mengatakan pernah bekerja selama 3 tahun di pabrik UD.Lancar Mumbulsari Jember.

Jika dilihat dari unsur penting dalam perlindungan tenaga kerja atau buruh harus dilakukan secara menyeluruh termasuk pabrik-pabrik kecil ataupun menengah. Pemerintah juga sudah memberikan peraturan yang sudah tertera dalam UU No 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan pasal 87 pasal (1) yang berbunyi bahwa: 1) setiap perusahaan wajib menerapakan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan. Dengan kata lain praktek yang terjadi di pabrik penggilingan padi ini tidak melaksanakan atau tidak memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan yang telah diatur dalam undang – undang.

3) Efisiensi dan efektifitas sumber daya yang disediakan oleh UD.Lacar Mmbulsari Jember

Dalam mengefektifkan sumber daya yang disediakan dalam pabrik, pabrik tidak hanya menarjetkan pemasokan padi melainkan juga menyediakan tempat istirahat dan tempat beribadah karena pekerja disana rata-rata semuanya beragama islam. Untuk mengefektifkan dan mengefesienkan pekerjaan didalam pabrik pemilik pabrik tidak mengizinkan untuk pulang lebih awal dengan alasan yang tidak masuk akal.

Saat terjadi kesalahan secara teknis dan itu dilakukan oleh individu maupun kelompok pihak pabrik langsung memotong gaji atas apa yang telah dilakukannya. Karena ketika terjadi kehilangan semisalnya ataupun terjadi kerusakan pada beras yang digiling akan menurunkan harga beras yang akan dipasarkan. Sedangkan tidak ada perjanjian secara tertulis maupun tidak tertulis dari pihak pabrik yang menyatakan akan memberikan potongan bagi pekerja atas kesalahan yang terjadi ditempat bekerja dengan sengaja maupun tidak.

Sesuai yang telah diatur dalam peraturan perusahaan atau pabrik dalam UU No 13 tahun 2003 menjelaskan bahwa pada pasal 108 ayat (1) pengusaha yang memperkerjakan pekerja/buruh sekurang-kurangnya 10 orang wajib membuat peraturan perusahaan yang mulai berlaku setelah disahkan oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk. Dengan kata lain pengusaha atau UD.Lancar ini tidak

menerapkan apa yang seharusnya dilakukan dalam perusahaan atau pabrik.

3. Implementasi Keselamatan kerja dipenggilingan padi UD.Lancar Mumbulsari Jember dalam Perspektif Maqasyid al-Syariah

Tujuan hukum untuk mencari kebenaran dan kemaslahatan bersama yang sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an dan hadist, seperti yang telah dijelaskan dalam pengertian apa itu maslahah yaitu meraih manfaat atau menhindarkan kemudaratan. Sedangkan menurut para ulama Al-Gozali mengatakan bahwa maslahah meraih manfaat dan menolak kemudaratan dalam rangka memelihara tujuan syara’ yaitu, memelihara Agama, memelihara jiwa, memelihara akal, memelihara keturunan dan memelihara harta.

Dengan demikian segala hal yang menyangkut makhluk hidup didunia ini sudah diatur dalam Al-Quran dan hadist. Karena semuanya hanya semata-semata untuk melindungi kelangsungan hidup manusia yang aman dan sejahtera termasuk menjaga jiwa sama halnya dengan menjaga keamanan seorang pekerja/buruh ataupun sebaliknya karena semua makluk hidup memiliki hak dan kewajiban.

Sedangkan pada prakteknya dalam memperkerjakan pekerja/buruhnya pabrik UD.Lancar tidak menjaga keselamatan dan kesejahteraannya. Karena dapat dilihat dibagian latar belakang masalah yang peneliti tulis menyatakan bahwa pabrik ini tidak memberikan alat pelindung bagi pekerja/buruhnya akibatnya sering terjadi masalah pada

Dalam dokumen keselamatan kerja buruh pabrik penggilingan (Halaman 90-137)

Dokumen terkait