sebesar 9,27%. Dapat disimpulkan bahwa dosis rendah tidak memiliki aktivitas umtuk menurunkan kadar glukosa darah. Dapat dilihat dari grafik bahwa semakin besar dosis yang digunakan maka semakin besar pula persentase penurunan kadar glukosa darah pada tikus.
Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya pada masing-masing peneltian infusa tunggal, seduhan jahe dengan dosis 1 g selama 30 hari dapat menurunkan kadar glukosa darah sebesar 50,38% (Yanto Andri Rudi, 2016), seduhan bubuk kayu manis dengan dosis 8 g diberikan 2 x sehari selama 14 hari dapat menurunkan kadar GDPP sebesar 47,89 % (Prettika Juhan, 2016), penelitian tunggal seduhan daun teh hijau dengan dosis 1 g tidak berpengaruh nyata terhadap penurunan kadar glukosa darah pada tikus diabetes (Yoyanda, 2011), kombinasi jahe merah, bawang putih, apel, perasan lemon dan madu menurut penelitian (Ifora, 2016) dapat menurunkan kadar kolesterol sebesar 20,50% dengan masa pemberian 28 hari. Berdasarkan presentase penurunan pada penelitian sediaan tunggal sebelumnya terdapat penurunan kadar glukosa darah yang signifikan tetapi masa pemberiannya rata-rata lebih dari 14 hari. Sedangkan kombinasi infusa jahe, kayu manis, teh hijau, perasan lemon dan madu dengan dosis tinggi pada penelitian ini mampu untuk menurunkan kadar glukosa darah dengan presentase penurunan sebesar 43,74% yang diberikan selama 14 hari. Maka berdasarkan hasil penelitian ini sediaan dalam bentuk kombinasi lebih efektif dibandingkan dengan bentuk sediaan tunggalnya. Data yang sudah dibuat persentase penurunan kadar glukosa darah tersebut, kemudian dimasukan dalam uji statistik.
5.
Analisa Data Hasil Presentasi Penurunan Kadar Glukosa Darah Tikus Pengolahan data hasil penelitian menggunakan SPSS versi 24.0 dan uji statistik menggunakan Uji ANOVA satu arah dengan tingkat signifikansi (α) adalah 0,05 atau 5 %. Data yang digunakan dalam uji statistik adalah % penurunan kadar glukosa darah. Sebelum menggunakan ANOVA satu arah maka dilakukan terlebih dahulu uji normalitas data dan uji homogenitas data. Jika data hasil pengujian berdistriusi normal dan homogen maka dilanjutkan dengan uji ANOVA satu arah, dan jika hasil uji ANOVA satu arah adalah ada perbedaan maka dilanjutkan dengan uji Tukey untuk melihat perbedaan antar kelompok.Hasil pengujian statistik terhadap prosentase penurunan kadar glukosa darah diperoleh uji distribusi normal {(p=0,200)>0,05} dan uji homogenitas {(p=0,113)>0,05}. Hal ini menunjukan bahwa data terdistribusi normal dan homogen. Kemudian dilanjutkan dengan uji ANOVA satu arah untuk menguji apakah mean dari % penurunan kadar glukosa darah adalah sama atau berbeda secara signifikan, dan hasilnya didapatkan {(p=0,002)<0,05}, artinya ada perbedaan yang signifikan antar kelompok. Karena hasil uji ANOVA satu arah terdapat perbedaan yang signifikan maka dilanjutkan dengan uji Tukey untuk mengetahui kelompok manakah yang memiliki perbedaan yang signifikan atau tidak antara kontrol negatif dengan kontrol positif, dosis tinggi, dosis sedang dan dosis rendah.
Hasil uji Tukey yang dapat dilihat pada lampiran 20 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna antara kelompok kontrol negatif dengan kontrol positif serta kelompok yang diberi sediaan uji. Pada kelompok dosis rendah tidak terdapat perbedaan yang bermakna terhadap kelompok negatif. Sedangkan pada kelompok dosis sedang tidak terdapat perbedaan bermakna dengan kelompok positif dan negatif. Namun dalam hal ini kelompok dosis tinggi memiliki perbedaan yang bermakna terhadap kontrol negatif. sehingga diambil kesimpulan bahwa dosis yang efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah pada tikus jantan yang diinduksi aloksan dan pakan hiperlipidemia adalah kombinasi infusa dosis tinggi (Jahe 1 g/kgBB + Kayu Manis 0,822 g/kgBB + Teh Hijau 1 g/kgBB + Lemon 0,9 ml/200 gBB + Madu 1,8 g/200 gBB) dengan presentase penurunan sebesar 43,74% yang memiliki perbedaan dengan kelompok negatif dan tidak berbeda secara bermakna dengan kelompok positif (metformin) yang memiliki presentase penurunan sebesar 39,66%
Kemampuan penurunan kadar glukosa darah pada kelompok perlakuan yang diberikan sediaan uji kombinasi infusa berkaitan dengan aktivitas biologis senyawa yang terkandung dalam jahe, kayu manis, teh hijau, perasan lemon dan madu. Penggunaan minuman jahe sebagai bahan pangan sebenarnya sudah lama dilakukan diberbagai negara berkembang. Menurut Djama’an, et al (2012) pemberian jahe dalam bentuk perasan dapat menurunkan kadar glukosa darah.
Kandungan senyawa dari jahe yang diduga sebagai antidiabetik adalah gingerol,
shogaol, paradol, fenol, dan zingeron yang merupakan derivat dari flavonoid.
Beberapa riset mengatakan bahwa jahe merupakan sumber antioksidan yang baik dan meningkatkan aktivitas antioksidan (Adel et al., 2010). Mekanisme senyawa jahe sebagai antidiabetes ini yaitu keutamaannya sebagai zat antioksidan.
Senyawa shogaol dan gingerol ini yang merangsang pengeluaran insulin dan efek lainnya, serta memperbaiki metabolisme karbohidrat dan lemak dalam tubuh (Djama’an, et al., 2012).
Kayu manis adalah rempah rempah yang terdapat di Indonesia dan memiliki banyak manfaat. Meskipun belum ada bukti yang pasti, namun diduga kuat sejumlah senyawa bioaktif yang memiliki aktifitas sebagai antidiabetes pada kayu manis diantaranya adalah Methylhidroxy Calcone Polymer (MHCP) (Dougua et al, 2007), Senyawa Methylhidroxy Calcone Polymer (MHCP) adalah flavonoid yang memiliki efek mirip insulin. MHCP pada kayu manis mempunyai kerja seperti insulin yaitu mengaktivasi sintesis glikogen, meningkatkan pengambilan glukosa, mengaktivasi insulin reseptor kinase dan menghambat defosforilasi reseptor insulin (Tjahjani, 2014).
Teh merupakan salah satu minuman yang terpopuler di dunia karena selain nikmat juga memberikan manfaat bagi kesehatan. Kandungan polifenol dalam teh hijau mampu menangkal radikal bebas dalam tubuh. Menurut Song et al. (2003) polifenol terutama epigalokatekin galat (EGCG) dapat melindungi kerusakan sel β pankreas dari pengaruh oksidasi dengan cara menghambat transport sodium glukosa pada mukosa. Kobayashi et al. (2000) dan Maeda et al. (2005) melakukan penelitian dengan pemberian teh hijau secara oral, menemukan bahwa pemberian teh hijau dapat menekan kadar gula darah.
Lemon (citrus limon L.) mengandung vitamin C yang tinggi, sumber serat dan mengandung bioflavonoid yang beraktivitas sebagai antiiflamasi, antioksidan yang membantu mencegah penyakit kanker (Afrianti, 2010). Madu merupakan bahan alami yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan dan kesehatan karena mengandung banyak komponen yang menyehatkan seperti glukosa, fruktosa, mineral dan vitamin (Suputa dan Ahmad, 2007). Madu mengandung tiga macam gula sebagai komponen utama yaitu fruktosa (41%), glukosa (35%) dan sukrosa (19%), sisanya berupadekstrin (1,5%), mineral (0,2%). Fruktosa dapat
dikonsumsi oleh para penderita diabetes karena transportasi fruktosa ke sel-sel tubuh tidak membutuhkan insulin, sehingga tidak mempengaruhi keluarnya insulin (Winarno, 1982; Lehninger, 1990). Terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa mengonsumsi fruktosa dalam jumlah yang banyak dapat memberikan efek negatif terhadap tubuh, namun bila diberikan dalam jumlah yang cukup fruktosa terutama yang berasal dari alam akan memberikan efek yang menguntungkan pada manusia (Park J, 2013). Fruktosa dalam madu dapat meningkatkan penyerapan glukosa hepatik juga sintesis dan penyimpanan glikogen sehingga meningkatkan kontrol glikemik pada DM (Iran J, 2013)
Madu juga mengandung antioksidan yang signifikan seperti katalase, asam askorbat, asam fenolat, derivate karetenoid, asam organic, produk reaksi Mailard, asam amino, protein dan juga flavonoid (Redha A. 2010). Flavonoid berperan sebagai antioksidan dengan cara mendonasikan atom hidrogennya atau melalui mengkelat logam, berada dalam bentuk glukosida atau dalam bentuk bebas yang disebut aglikon (Redha A. 2010). Flavonoid yang bermanfaat pada diabetes mellitus adalah melalui kemampuannya untuk menghindari absropsi glukosa atau memperbaiki toleransi glukosa. Efek antioksidan madu menjadikannya sangat bermanfaat dalam manajemen diabetes mellitus (Novrizal D, 2012).
6.
Pengukuran Kadar Trigliserida DarahPengukuran kadar trigliserida dilakukan sebanyak 2 kali, yang pertama 35 hari setelah pemberian pakan tinggi lemak dikombinasi dengan induksi aloksan pada hari ke 28 dan yang kedua setelah pemberian infusa dan obat pembanding (fenofibrat) selama 14 hari.
Pengambilan darah dilakukan melalui sinus orbital, tikus dibius dengan ketamine hingga tidak sadarkan diri, kemudian bagian sudut mata ditusuk dengan menggunakan pipa kapiler sampai darah mengalir, kemudian darah ditampung ke dalama mikrotube dan selanjutnya disentrifugasi dengan kecepatan 4000 rpm selama 15 menit pisahkan serum dengan darahnya. Kemudian serum digunakan untuk mengukur kadar trigliserida menggunakan spektrofotometer klinikal.
Tabel 10. Rerata Persentase Penurunan Kadar Trigliserida Darah Tikus Setelah Diberikan Sediaan Infusa (%)
No Kelompok Rata - rata Kadar SD
1 Kontrol Normal 12.53 ±32.33
2 Dosis Tinggi 40.28 ±15.90
3 Dosis Sedang 48.40 ±1,44
4 Dosis Rendah 24.64 ±11.72
5 Kontrol Negatif -7.27 ±24.20
6 Kontrol Positif 32.56 ±11.50
Gambar 7. Grafik presentase penurunan kadar trigliserida yang telah diberikan sediaan uji
Data hasil pengukuran trigliserida dibuat persentase penurunan kadar