Bab 4 GOVERNOR
4.4. Governor Elektrik
42
Servo motor untuk mengatur synchronizer dan pembebanan dari jarak jauh Speed drop untuk mengatur statisme agar mesin dapat paralel dengan mesin lain Load limit untuk membatasi beban
Speed lsetting untuk mengatur beban atau putaran mesin secara manua Speed setting indicator untuk mengatur mesin pada putaran idle spee
Compensation alat ini digunakan agar bisa diatur maksimum dan minimum perubahan kecepatan agar tidak terlalu tinggi maupun terlalu rendah. Begitu pula bila suatu beban yang agak besar akan masuk dengan mendadak, kecepatan pada detik itu tentu akan turun, dengan alat konpensasi ini bisa diatur agar kecepatan dapat kembali normal dengan cepat dan tidak terlalu bergoyang.
43
jumlah bahan bakar untuk membuat putaran mesin sesuai dengan setting (yang diinginkan )
44
Pilot valve plunjer dihubungkan dengan sebuah magnit permanen yang ditahankan oleh pegas penahan didalam penguatan dua coil selenoid. Hasil signal dari kontrol 2301 digunakan ke coil selenoid untuk membuat gaya magnityang sebanding dengan arus dalam coil. Gaya magnit ini selalu berusaha mengubah magnit dan pilot valve plunjer kebawah ( bahan bakar bertambah ).
Prinsip kerja actuator
Gaya centering spring ( diatas plunjer ) selalu berusaha mengubah magnit dan pilot valve plunjer keatas (bahan bakar berkurang )
Bilamana magnit berputar pada putaran stabil ( steady state condations ), ini berarti dua gaya sama tetapi arahnya berlawanan. Pilot valve plunjer pada saat berada ditengah ( the control land menutup control part )
Jika terjadi penurunan setting putaran mesin pada control 2301 atau kenaikkan putaran mesin (disebabkan dari penurunan beban mesin), input tegangan ke coil selenoid di actuator menjadi turun. Daya magnit dari coil selenoid juga turun , pada waktu gaya dari centering spring lebih besar dari pada coil pilot valve plunjer akan bergerak keatas posisi center. Maka oli yang dibawah power akan bergerak keatas menyebabkan berputarnya terminal shaft kearah penurunan bahan bakar
Jika terjadi kenaikkan setting putaran mesin pada control 2301 atau penurunan mesin (disebabkan dari kenaikkan beban mesin ) input tegangan ke coil selenoid juga akan naik, sekarang gaya dari pada gaya centering spring dan pilot valve plunjer akan bergerak turun mengikuti tekanan oli dibawah power piston. Pada waktu daerah permukaan (tekanan oli bekerja lagi) dari power adalah lebih besar dari pada bagian bawah dari bagian atas piston, piston akan bergerak keatas. Terminal shaft berputar kearah penambahan bahan bakar.
45
46
BAB V
BAGIAN UTAMA UTAMA MESIN DIESEL 5.1. Prime mover
Peralatan utama terdiri dari : 1. Kepala silinder ( cylinder head ) 2. Perangkat katup ( valve gear ) 3. Perangkat piston ( piston assy ) 4. Dinding silinder ( cylinder head ) 5. Block silinder ( cylinder block ) 6. Bantalan utama ( main bearing ) 7. Poros engkol ( cranksfaht ) 8. Poros bubungan ( cam sfaht ) 9. Peredam getaran ( counter weight ) 10. Dudukan mesin ( base plate )
47
1. Piston & Connecting Rod Assy.
2. Cylinder Liner & Engine Block.
3. Crank Shaft.
4. Cam Shaft.
5. Transmission Gear.
5.2. Cylinder head
Fungsi :
1. Menutup bagian atas silinder
2. Tempat meletakkan peralatan - Katup hisap dan buang - Injektor
- Rocker arm
- Ruang bakar mula 3. Untuk pendinginan
48
JENIS KEPALA SILINDER.
KEPALA SILINDER TUNGGAL
KEPALA SILINDER MAJEMUK
49
5.3. Perangkat katup ( valve gear )
Fungsi valve :
Mengatur masuk dan keluarnya udara masuk dan gas buang
Fungsi valve guide : Untuk menjaga gerakan katup agar tegak lurus pada dudukannya
50
5.4. ROCKER ARM ( PELATUK ).
Fungsi : meneruskan gaya dari Cam shaft untuk menggerakkan katup
5.5. Cam shaft
Fungsi : mengatur gerakan inlet & exhaust valve dan fuel injection pum
Dudukan katup ( inlet valve seat )
Sudut dudukan katup berkisar 300 – 450 .
Dudukan katup yang sudah aus sekali biasanya diganti baru
51
5.6.Piston
Fungsi :
1. Merapatkan ruangan silinder dari bagian dalam
2. Memampatkan udara
3. Menerima tekanan pembakaran waktu proses kerja
4. Meneruskan tekann pembakaran Keporos engkol melalui batang penghubung (connecting rod) 5. Bagian permukaan menyerap panas selama proses berlang sung
Piston assy
Keterangan :
1. Piston (rakitan lengkap torak) 2. Torak
3. Pena piston 4. Ring pegunci 5. Ring persegi
6. Ring kompresi muka plat chromium
7. Ring kompresi muka 8. Ring pegas helix
Rakitan lengkap batang peng- hubung ( connecting rod )
10. Batang penghubung 11. Dudukan pena pistin 12. Baut
13. Pena / pin 14. Ring ½ 15. Sekrup
16. Pena pengunci 17. Pna plug 18. Washer 19. Baut kollar 20. Bantalan
52
Fungsi ring piston pada umumnya :
1. Mencegah kebocoran ruang bakar 2. Menyalurkan panas dari piston ke air
pendi ngin melewati dinding silinder
Fungsi batang penghubung :
1. Meneruskan tekanan torak ke poros engkol..
2. Meneruskan putaran poros engkol ke torak.
53
5.7. Dinding silinder (cylinder head)
54
Fungsi :
Tempat berlangsungnya seluruh urutan kerja mesin ( hisap, kompresi, usaha dan buang )
Dinding silinder terbagi dua : 1. Dinding basah ( wet liner ) 2. Dinding kering ( dry liner )
Dinding basah :Dinding yang didinginkan langsung oleh air pendingin, biasanya untuk mesin sedang/besar
Dinding kering :Dinding yang didinginkan tidak oleh air, umumnya mesin kecil atau kondisi khusu
5.8. Poros engkol ( crank shaft ) Fungsi :
1. Menerima gaya inersia yang tinggi pada puncak tekanan gas diatas piston 2. Mengubah gerak bolak-balik ( translasi ) menjadi gerak putar ( rotasi )
55
5.9. Bantalan ( main bearing )
Fungsi : Untuk mendukung bagian–
bagian yang bergerak sehingga bagian-bagian tersebut tetap berada pada posisi yang diinginkan
Klasifikasi bantalan :
1. Bantalan untuk gerak putar ( rotary motion )
a. Journal bearing yang mendapat beban utama dari perputaran poros (main bearing)
b. Trust bearing (bantalan axial) yang mendapat beban sepanjang poros yang berputar
2.. Bantalan untuk gerak bolak-balik (reciprocating motion)
a. Bantalan untuk gerak lurus (contoh : dinding silinder untuk mendukung pergerakan piston )
b. Bantalan untuk gerak tumbukan (contoh : bushing untuk mendukung pin piston )
56
5.10. TRANSMISION GEAR ( RODA GIGI PENGATUR )
Fungsi :
1. Mengatur saat membuka & menutup katup.
2. Mengatur waktu pengabutan bahan bakar.
3. Mengatur langkah torak.
5.11. Turbo charger
Fungsi : Untuk memampatkan udara yang akan masuk kegalam silinder, sehingga daya mesin akan lebih besar, dibanding dengan mesin berdimensic sama tetapi tanpa turbocharger.
57
Turbocharger terdiri atas turbin dan blower
58
59
BAB VI
PERALATAN BANTU MESIN DIESEL
6.1. SISTEM PELUMASAN
6.1.1 JENIS SISTEM PELUMASAN.
1. Sistem Pelumasan Basah ( Wet system ).
Sistem Pelumasan Basah
Dimana bak penampungan pelumas berada di dalam mesin yang biasa disebut CARTER
60
2. Sistem Pelumasan Kering ( Dry system ).
Sistem Pelumasan Kering
Dimana bak penampungan pelumas berada di luar mesin yang biasa disebut SUMP TANK.
61
6.1.2. FUNGSI DAN KLASIFIKASI PELUMAS.
Fungsi Pelumasan
1. Untuk membatasi bagian-bagian yang bergerak agar tidak saling bergesekan dengan membuat lapisan FILM.
2. Sebagai media pendingin mesin.
3. Mengeluarkan kotoran (geram-geram) yang berada diantara bagian yang bergerak agar tidak mempengaruhi bagian yang bergerak menjadi lebih cepat rusak (aus).
4. Sebagai media pencegah korosi komponen mesin.
Klasifikasi Pelumas (API).
Mesin Bensin.
1. SA.
2. SB 3. SC 4. SD 5. SE 6. SF 7. SG 8. SH
Klasifikasi Pelumas (API).
Mesin Diesel.
1. CA.
2. CB 3. CC 4. CD 5. CD II 6. CE 7. CF 4
62
DIAGRAM SISTEM PELUMASAN
Bak Penampung.
( Carter, Sump Tank )
Pompa Pelumas.
( Lub. Oil Pump )
Thermostsat
Oil Cooler
Filter Bagian-bagian mesin yang
perlu dilumasi
Lub Oil Centrifugal ( Purifier ) Lub Oil Pressure
Control Valve
63
6.1.3. PERALATAN SISTEM PELUMASAN
( Fungsi dan Prinsip Kerja ) 1. Carter atau Sump Tank.
Fungsi :
a. Menampung pelumas untuk di sirkulasikan keseluruh bagian mesin yang memerlukan pelumasan dan yang telah bersirkulasi dalam mesin.
b. Menampung endapan kotoran dan geram-geram dalam mesin agar tidak ikut bersirkulasi.
Prinsip Kerja :
Bak penampung akan menampung pelumas yang telah bersirkulasi dan mempunyai area untuk pipa (saluran) isap dari pompa pelumas, sehingga kotoran tidak ikut terhisap oleh pompa.
64
2. Pompa Pelumas.
Fungsi :
Memompakan minyak pelumas bersirkulasi ke bagian utama mesin dan bagian-bagian mesin yang perlu mendapat pelumasan.
Prinsip Kerja :
Pompa pelumas adalah pompa roda gigi sehingga tekanan pompa dapat mencapai tekanan yang tinggi, pada saat mesin mulai berputar pompa sudah mulai bekerja dengan tekanan yang rendah, kemudian jika putaran
65
3. Filter
66
Fungsi :
Menyaring minyak pelumas agar kotoran dan geram-geram tidak ikut bersirkulasi ke bagian utama mesin dan bagian-bagian mesin yang perlu mendapat pelumasan.
Prinsip Kerja :
Pelumas yang bersirkulasi di dalam mesin kemungkinan mempunyai kotoran akibat adanya komponen mesin yang terkikis, sehingga sebelum pelumas bersirkulasi kotoran tersebut harus disaring agar tidak merusak komponen mesin yang lain.
4. Oil Cooler.
Fungsi :
Minyak pelumas yang bersirkulasi keseluruh komponen mesin bertemperatur tinggi dan akibatnya nilai viskositasnya akan menurun, sehingga pelumas tidak dapat bekerja maksimal, untuk memperbaiki nilai viskositas maka, temperatur pelumas harus diturunkan sesuai atau mendekati temperatur yang diijinkan agar viskositasnya kembali normal.
67
Prinsip Kerja :
Pelumas yang bersirkulasi setelah berada di Sump Tank atau Carter di isap oleh pompa pelumas dan di tekan dengan tekanan yang tinggi melalui Oil Cooler untuk di dinginkan agar nilai viskositasnya kembali atau mendekati nilai normal, pendingin pelumas dapat menggunakan air maupun udara, sesuai sistem pendingin yang ada pada mesin tersebut.
5. Relief Valve.
Fungsi :
Mengatur tekanan pelumas yang bersirkulasi ke bagian utama mesin dan bagian- bagian mesin yang perlu mendapat pelumasan.
Prinsip Kerja :
Pompa pelumas adalah pompa roda gigi sehingga tekanan pompa dapat mencapai tekanan yang tinggi, tetapi tekanan pelumas harus ditetapkan bekerja pada tekanan tertentu pada temperatur tertentu agar dapat dimonitor kondisi kerja sistem pelumas.
68
6. Separator.
Fungsi :
1. Membersihkan pelumas dari partikel-patikel keras yang berada dalam pelumas agar tidak ikut bersirkulasi yang mengakibatkan kerusakan komponen mesin.
2. Memisahkan kandungan air yang berada dalam pelumas dengan perbedaan berat jenis.
Prinsip Kerja :
Pelumas yang masuk dalam separator harus dipanaskan terlebih dahulu agar pelumas lebih cair untuk memudahkan pemisahan air dan unsur-unsur lain yang berada dalam pelumas, kemudian pelumas diputar, dan akibat perbedaan berat jenis maka air dan unsur-unsur yang lebih berat akan terpisah dengan pelumas sesuai gaya sentripental masing-masing unsur yang berada dalam pelumas.
69
7. Deep Stick.
Fungsi :
Mengetahui ketinggian pelumas yang berada dala Sump Tank atau Carter.
Prinsip Kerja :
Deep Stick mempunyai tanda maksimal dan minimal yang akan menentukan level pelumas yang berada dalam tangki penampung.
Proses pengukuran agar lebih akurat yaitu dengan kondisi mesin yang telah berhenti selama beberapa jam dan posisi stick ketika ditarik harus tegak lurus.
70 6.1.4. PROSEDUR PENGOPERASIAN
1. SISTEM PELUMASAN MESIN DIESEL KECIL.
Pada mesin Diesel yang kecil pompa pelumas berada didalam mesin, tetapi pada mesin Diesel sedang serta yang besar mempunyai 2 (dua) macam pompa pelumas yang berada didalam mesin dan diluar mesin.
Untuk mesin Diesel kecil pompa pelumas letaknya sulit dijangkau karena berada didalam mesin kemudian bekerjanya setelah mesin beroperasi, sehingga pelumas mulai bersirkulasi pada saat mesin hidup.
Dengan kondisi yang seperti ini maka perlu mendapat perhatian yang lebih teliti pada sistem pelumasnya, terutama kondisi pompa pelumas, relief valve dan saringan pelumas, agar pelumas dapat bersirkulasi dengan baik pada waktu mesin beroperasi.
Kemudian untuk mesin Diesel yang sedang dan besar sistem pelumas lebih mudah untuk dilakukan pemeriksaan mengingat keberadaan peralatan pompa berada diluar atau menempel pada bagian yang mudah dijangkau, maka proses pemeriksaannya lebih mudah.
Dari kedua sistem pelumas tersebut, untuk mesin Diesel kecil pengoperasian sistem pelumas lebih mudah dibandingkan mesin Diesel sedang dan mesin Diesel besar.
6.1.5. SISTEM PELUMASAN MESIN DIESEL BESAR
Pada mesin Diesel yang besar, pelumasan harus dilaksanakan terlebih dahulu sebelum mesin dihidupkan (Pelumasan Awal) dengan menjalankan pompa awal (manual atau elektris) untuk melumasi bagian utama mesin yaitu Poros engkol.
71
Langkah pengoperasian sistem pelumasan.
1. Periksa level pelumas pada tangki penampung pelumas (Sum Tank).
2. Level minyak pelumas disarankan harus berada pada level MAKSIMUM pada saat mesin belum dihidupkan.
3. Jalankan pompa awal sampai mencapai tekanan yang sesuai dengan petunjuk mesin.
4. Periksa tekanan pelumas dan kemungkinan adanya kebocoran pada pipa dan sambungan sistem pelumas.
5. Putar poros engkol beberapa kali untuk meyakinkan bahwa pelumas telah bersirkulasi dengan baik pada poros engkol dan bagian mesin lainnya.
6. Jika putaran poros telah ringan dan tidak ada kebocoran pada sistem pelumas, maka mesin siap untuk di start dan di operasikan.
6.2. SISTEM PENDINGIN.
6.2.1. JENIS SISTEM PENDINGIN.
Jenis pendingin untuk mesin adalah bagaimana proses pelaksanaan pendinginan mesin dilakukan selama mesin beroperasi dengan stabil dan aman.
Untuk pendinginan yang umum digunakan sistem :
a. Sistem Pendinginan Terbuka.
b. Sistem Pendinginan Tertutup.
1. Sistem Pendinginan Terbuka.
Sistem ini menggunakan media pendinginnya adalah air tawar maupun air laut.
72
Proses pendinginan mesinnya yaitu :
Air pendingin mesin dipompakan langsung dari sumber air (Sungai, Danau, Tangki penampungan dan Laut) masuk ke dalam mesin dan setelah mendinginkan mesin langsung dibuang ketempat semula(Sungai, Danau, Tangki penampungan dan Laut).
2.. Sistem Pendinginan Tertutup.
Sistem ini menggunakan media pendinginnya adalah air tawar maupun air laut yang kemudian air tawar maupun air laut didinginkan kembali dengan menggunakan udara maupun air tawar atau air laut.
Proses pendinginan mesinnya yaitu :
Air pendingin mesin dipompakan langsung dari penampungan air yang didinginkan (Disebut Radiator atau Water Cooler) kemudian di sirkulasikan kembali ke dalam mesin yang perlu pendinginan selanjutnya kembali lagi ke Radiator atau Water Cooler.
Untuk mesin yang menggunakan Radiator, air pendingin mesin di dinginkan dengan menggunakan udara yang dialirkan dengan menggunakan kipas udara.
Kemudian untuk mesin yang menggunakan Water Cooler, air pendingin mesin di dinginkan dengan menggunakan air tawar, air danau maupun air laut yang dialirkan dengan menggunakan pompa air.
Bahan pendinginan mesin pada umumnya menggunakan 2 (dua) media pendingin yaitu :
1. Udara.
2. Air.
Kedua media tersebut tidak berbahaya dan sangat mudah serta murah, sehingga hampir seluruh mesin menggunakan media tersebut.
73
Sistem pendingin mesin mempunyai beberapa macam cara untuk mendinginkan media pendingin mesin pada sistem pendinginannya yaitu antara air tawar didinginkan dengan udara, air tawar didinginkan dengan air laut dan air tawar didinginkan dengan air tawar.
6.2.2. FUNGSI DAN SYARAT PENDINGIN.
Fungsi pendinginan mesin :
a. Mempertahankan suhu kerja mesin.
b. Meredam suara.
c. Memperpanjang umur pemakaian komponen mesin.
Persyaratan bahan pendingin yang digunakan harus memenuhi sebagai berikut :
a. Aman.
b. Mudah didapat.
c. Murah.
d. Tingkat korosif yang rendah.
e. Tidak mempunyai endapan lumpur.
f. Viskositas sangat rendah.
g. Tidak mudah terbakar.
h. Mempunyai titik didih diatas rata-rata air tawar.
Kualitas air pendingin yang digunakan memberikan pengaruh terhadap komponen mesin yang dilalui oleh air pendingin.
Pengaruh yang dialami oleh mesin jika menggunakan air pendingin kurang memenuhi syarat untuk digunakan sebagai media pendingin mesin adalah :Korosi dan Endapan lumpur.
74
Korosi pada bagian dalam mesin yang terendam air pendingin akan menyebabkan komponen mesin tersebut berlubang dan dapat menyebabkan komponen tersebut bocor atau pecah.
Endapan lumpur pada bagian dalam mesin yang terendam air pendingin akan menyebabkan saluran air pendingin menjadi lebih kecil / mengecil akibatnya akan mempengaruhi air pendingin yang bersirkulasi pada mesin
6.2.3. DIAGRAM SISTEM PENDINGIN.
DIAGRAM SISTEM PENDINGIN DENGAN AIR.
DIAGRAM SISTEM PENDINGIN DENGAN UDARA.
Radiator (Water Cooler)
Pompa Sirkulasi
Mesin Thermostat
Kipas Udara
Oil Cooler Sirip Pendingin
Mesin
75
6.2.
4. PERALATAN SISTEM PENDINGIN (AIR)
( Fungsi dan Prinsip Kerja )
1. Radiator.
Fungsi :
Mendinginkan air yang telah menyerap panas mesin selama beroperasi agar temperatur air pendingin mesin tetap terjaga pada temperatur operasi yang normal.
Prinsip Kerja :
Air dari dalam mesin keluar menuju radiator akibat tekanan pompa sirkulasi air pendingin mesin yang dihisap dari radiator.
Temperatur air yang dihisap dari radiator lebih rendah dari temperatur air yang keluar dari mesin, air pendingin mesin yang berada di radiator di dinginkan oleh udara yang mengalir akibat putaran kipas (Fan).
76
2. Thermostat
a.Tipe 1 b. Tipe 2
Fungsi :
Mengatur aliran air pendingin yang akan masuk ke mesin dari radiator pada saat temperatur mesin masih rendah (temperatur mesin masih dingin).
Air yang berada di dalam mesin di sirkulasikan kembali kedalam mesin agar temperatur mesin cepat mendekati temperatur kerja normal (+ 75o C)
77
Prinsip Kerja :
A. B.
Pada saat mesin masih dingin atau temperatur belum mencapai temperatur tertentu, katup thermostat masih menutup aliran air pendingin yang menuju radiator dan aliran air pendingin mesin hanya bersirkulasi dari dalam mesin kembali ke mesin melalui thermostat. (Gambar A)
Jika temperatur sudah mendekati + 60o C, katup thermostat sudah mulai membuka, dan aliran air pendingin mesin mulai mengalir ke radiator dan pada temperatur tertentu katup terbuka penuh, sehingga sirkulasi air pendingin sudah berjalan dengan kapasitas normal.
78
6.2.5.PERALATAN SISTEM PENDINGIN (UDARA)
( Fungsi dan Prinsip Kerja )
a Blower.
Fungsi :
Mendinginkan sirip-sirip udara untuk pendingin oli dan yang terdapat pada kepala silinder dan dinding silinder agar temperatur kerja mesin tetap normal.
Prinsip Kerja :
Blower berputar dengan bantuan poros pompa ini mempunyai tekanan yang tinggi, putaran pompa dari putaran rendah hingga putaran sedang pompa digerakkan oleh nok dan volume pemompaan mengikuti putaran penggerak pompa (Pompa plunyer).
79
b. Sirip Pendingin Mesin
Fungsi :
Mengalirkan panas dari dalam mesin agar permukaan yang akan didinginka menjadi lebih luas dan sirip-sirip udara tersebut di dingin oleh udara yang mengalir dari blower kipas udara (fan), maka panas yang di dalam silinder akan mudah di dinginkan.
6.2.6.PROSEDUR PENGOPERASIAN SISTEM PENDINGIN.
MESIN BERPENDINGIN AIR Sebelum mesin dihidupkan lakukan :
1. Periksa kondisi dan level air pendingin pada Radiator.
2. Periksa sambungan-sambungan dan klem.
3. Periksa kondisi dan kekencangan Fan Belt.
4. Perhatikan adanya kebocoran dari pompa sirkulasi air.
5. Periksa adanya kebocoran pipa-pipa pendingin.
80
Setelah mesin hidup lakukan :
1. Periksa kemungkinan adanya kebocoran pada saluran.
2. Amati ikatan-ikatan pada selang karet.
3. Buka tutup radiator dan amati gerakan air pendingin, apakah ada gelembung udara dalam sirkulasi air pendingin.
4. Amati perubahan temperatur air pendingin selama mesin beroperasi.
Sistem pendingin berjalan normal, umur pemakaian serta daya yang dihasilkan dapat maksimal.
MESIN BERPENDINGIN UDARA.
Sebelum mesin dihidupkan lakukan :
1. Periksa kondisi kipas (fan) pendingin mesin.
2. Periksa sambungan-sambungan, mur dan baut pengikat penutup bangian- bagian mesin..
3. Periksa kondisi dan kekencangan Fan Belt (jika kipas menggunakan Fan belt).
4. Perhatikan adanya kelonggaran ikatan Fan Belt..
Setelah mesin hidup lakukan :
1. Periksa kemungkinan adanya kelonggaran Fan.
2. Amati ikatan-ikatan pada rumah Fan.
3. Amati perubahan temperatur mesin selama mesin beroperasi.
81 6.3. SISTEM BAHAN BAKAR.
6.3.1.KARAKTERISTIK BAHAN BAKAR.
Komposisi bahan bakar biasanya terdiri dari karbon dan hidrogen atau kombinasi keduanya yang disebut Hidrokarbon dan akan menghasilkan panas apabila dibakar.
Bahan bakar ini semuanya berasal dari alam (perut bumi), dan berbentuk padat, cair atau gas, yang terjadi karena adanya proses evolusi dari fosil-fosil selama beribu-ribu tahun yang lalu, oleh karena itu bahan bakar jenis ini disebut sebagai bahan bakar fosil.
Bahan bakar solar umumnya adalah Distilat tengah minyak bumi.
Komponennya ada yang tidak stabil terhadap proses oksidasi sehingga menjurus pada terbentuknya semacam lumpur yang menyebabkan terjadinya endapan pada sistem pemasukan bahan bakar.
Penyumbatan dapat terjadi terutama pada filter bahan bakar, pompa dan pipa-pipa bahan bakar. Endapan lumpur ini cenderung menimbulkan korosi.
Untuk menghindari korosi dan endapan lumpur diberikan bahan tambah yaitu Aditif Antioksidan dan Anti Korosi.
Penggunaan bahan bakar yang bermutu tinggi pada mesin Diesel akan memperbaiki sifat Atomisasi dan kebersihan ruang bakar serta mencegah terbentuknya endapan sehingga dapat mencapai pembakaran sempurna dan normal.
Selain mutu bahan bakar yang diukur dengan Angka Cetana, sifat- sifat lain dari bahan bakar Diesel yang sangat penting dan langsung mempengaruhi tingkat mutu yang tercantum dalam spesifikasi bahan bakar adalah :
a. Densitas.
b. Distilasi.
82
c. Viskositas.
d. Kadar Belerang.
e. Stabilitas.
f. Kadar Air.
g. Titik Didih.
h. Titik Keruh.
i. Sedimen.
j. Kadar Abu.
k. Titk Nyala.
i. SIFAT DENSITAS.
Sifat Densitasadalah satuan berat bahan bakar dalam 1 (satu) liter bahan bakar Diesel.
Rata-rata Density bahan bakar minyak Solar yang digunakan di Indonesia adalah 0,84 – 0,92 kg/liter.
ii. SIFAT DISTILASI.
Sifat Distilasi adalah kadar endapan dan kejernihan bahan bakar dalam 1 (satu) liter bahan bakar Diesel.
Sifat Distilasi bahan bakar minyak Solar akan mempengaruhi efisiensi pembakaran dan timbulnya endapan-endapan Kokas dalam saluran Injektor dapat menyumbat lubang laluan dan merusak fungsi Injektor.
iii. SIFAT STABILITAS.
Sifat Stabilitas sangat berpengaruh terhadap gangguan fungsi Injektor dan dapat membentuk endapan pada pompa bahan bakar serta penyumbatan pada filter bahan bakar.
iv. SIFAT VISKOSITAS.
Tingkat Viskositas bahan bakar Diesel menyebabkan kesulitan start pada saat kondisi mesin dingin atau pada suhu udara sekitarnya yang dingin.
83
Kondisi ini dapat menurunkan sifat pelumasan bahan bakar pada Injektor dan Pompa Injeksi sehingga dapat menyebabkan daya mesin menurun secara tajam.
v. KANDUNGAN BELERANG.
Kadar belerang yang tinggi dalam bahan bakar akan menimbulkan keausan pada bagian-bagian mesin.
Penyebab keausan adalah akibat proses pembakaran yang menghasilkan Oksida Belerang SO2 dan SO4 dimana pada suhu tinggi Oksida Belerang akan berbentuk Uap.
Keausan yang ditimbulkan dari bahan bakar yang mempunyai kadar belerang tinggi yang terutama adalah Ruang bakar dan Injektor.
vi. KANDUNGAN AIR DAN SEDIMEN.
Kadar air dan sedimen dalam bahan bakar selalu ada dan sulit dipisahkan dengan proses Destilasi.
Sedimen yang berbentuk partikel-partikel padat dapat merusak Pompa Injeksi dan Nozzles.
Kandungan air dan sedimen dapat menimbulkan karat dalam ruang bakar mesin dan tangki bahan bakar.
vii. TITIK NYALA.
Titik nyala bahan bakar Diesel harus cukup tinggi untuk menghindari terbakarnya bahan bakar pada suhu Ambien yang normal.
Spesifikasi yang berlaku di Indonesia untuk bahan bakar adalah Minimum 68o C atau 154o F.
viii. TITIK EMBUN (CLOUD POINT).
Titik embun bahan bakar Solar adalah suatu keadaan selama terjadi pendinginan bahan bakar telah mencapai suhu tertentu sehingga terjadi pembentukan kristal yang sangat tipis dalam phase cairan.