• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profil Kitab Irsyâdu at-Thâlibîn ilâ Dhabthi al-Kitâbi al-Mubîn

Dalam dokumen Mubīn - repository iiq - IIQ Jakarta (Halaman 67-108)

BAB III PROFIL MUHAMMAD SÂLIM MUHAISIN DAN KITAB

B. Profil Kitab Irsyâdu at-Thâlibîn ilâ Dhabthi al-Kitâbi al-Mubîn

Kitab ini ditulis oleh Muhammad Sâlim Muhaisin, salah seorang pakar ilmu Al-Qur’an kontemporer yang cukup masyhur. Kitab yang penulis

81Sabri Mohamad, “Syaikh Muhammad Salim Muhaysin:Tokoh Ilmu Qira’at Abad ke 20”, h. 24

82Sabri Mohamad, “Syaikh Muhammad Salim Muhaysin:Tokoh Ilmu Qira’at Abad ke 20”, h. 26

51

gunakan dalam penelitin ini diterbitkan di Kairo pada tahun 2002M/1422H oleh penerbit Dâr al-Muhaisin. Kitab ini terdiri dari 64 halaman. Kitab ini memiliki bentuk fisik dengan ukuran 14x20x1 cm.

Cover kitab Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâbal-Mubîn

Keterangan tentang Penerbit

2. Identifikasi Substansi

Pada umumnya, para muallif mengawali tulisannya dengan muqaddimah yang berisikan latar belakang atau alasan beliau menulis kitab tersebut. Namun, berbeda dengan Muhammad Sâlim Muhaisin. Dalam kitabnya, pada halaman pertama beliau mengawalinya dengan muqaddimah yang langsung berisikan pengertian dhabth secara bahasa dan istilah. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan bahwa naqth terbagi menjadi dua, yakni naqth al-i’rab dan naqth al-i’jam. Selanjutnya beliau

53 menguraikan pengertian dari naqth i’rab dan beliau memaparkan perbedaan para ‘ulama mengenai siapa orang yang pertama kali menemukan ilmu dhabth beserta alasannya. Kemudian, beliau menguraikan latar belakang munculnya ilmu dhabth. Setelah itu, beliau melanjutkan dengan memaparkan pengertian dari naqth i’jam.83

Pada halaman selanjutnya, beliau mengklasifikasi huruf hijaiyyah menjadi dua serta memberikan alasannya, adapun pembagiannya, yaitu:84 Pertama, huruf Mu’jam yang terdiri dari 15 huruf yakni

ذ خ ج ث ت ب ى ن ق ف غ ظ ض ش ز

Kedua, huruf Muhmal yang terdiri dari 13 huruf yakni

ط ص س ر د ح أ م ل ك ع

ه و

Pada halaman selanjutnya, beliau mengatakan bahwa dalam kajian ilmu dhabt mencakup lima aspek pembahasan, yaitu, harakah, sukûn, syiddah, tanda mad, dan juga hamzah. Kemudian beliau melanjutkan dengan pemaparan dari perbedaan antara ilmu rasm dengan ilmu dhabth. Setelah itu barulah masuk kedalam pembahasan pertama, dalam kitab ini terdapat 11 fashl atau sebelas pembahasan.

83Muhammad Salȋm Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h. 5

84Muhammad Salȋm Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h. 7

Daftar Isi

Adapun pembahasan yang pertama, yakni tentang tanda-tanda harakah (fathah, kasrah, dhammah) dan tanwîn. Sâlim Muhaisin mengatakan bahwa, terdapat perbedaan pendapat terkait dengan letakharakah fathah.

Selain terletak di atas huruf, ada juga yang berpendapat bahwa harakah fathah terletak di depan huruf. Namun Sâlim Muhaisin mengatakan bahwa pendapat ini lemah. Begitu pula dengan letak harakah dhammah terdapat

55

beberapa perbedaan. Selain pendapat yang mengatakan bahwa harakah dhammah terletak di atas huruf, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa harakah dhammah terletak di depan huruf dan di dalam huruf. Mengenai bentuk dhammah yang berupa waw kecil, apakah kepala waw-nya dibuang atau tidak, dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat antara madzhab masyâriqah dan madzhab maghâribah. Madzhab masyâriqah berpendapat bahwa tetap ada kepala waw. Sedangkan madzhab maghâribah mengatakan bahwa kepala waw-nya dibuang maka bentuknya seperti huruf dal. Kemudian, terkait dengan bentuk harakah kasrah yang berupa huruf ya’ yang dibalik kebelakang dan dihapus kepalanya, maka bentuknya ini menjadi seperti garis (-).85

Selanjutnya pada pembahasan kedua, yakni tentang tata cara penulisan tanwîn dan huruf yang terletak setelah tanwin. Selanjutnya pada pembahasan yang ketiga, yakni tentang tata cara penulisan huruf sukûn dan huruf yang terletak setelah huruf sukûn. Menurut Salȋm Muhaisin, para ulama berbeda pendapat mengenai dhabth pada huruf sukûn. Apakah boleh memberi tanda baca untuk menunjukkan huruf sukûn atau tidak. Pendapat ahli ‘Irak tidak membolehkan memberi tanda baca untuk menunjukkan adanya huruf sukûn. Sedangkan yang lain membolehkan. Selain itu terdapat beberapa perbedaan pendapat para ulama mengenai bentuk dan asal tanda sukûn.86

Kemudian pada pembahasan yang keempat, yakni tentang tanda tasydîd. Menurut Salȋm Muhaisin, para ulama berbeda pendapat mengenai huruf yang ditasydîd. Apakah dibutuhkan tanda yang menunjukkan tasydîd atau tidak. Sebagian ahlul ‘Irak berpendapat bahwa tidak perlu diberikan

85Muhammad Salȋm Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h. 9

86Muhammad Salȋm Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h.14

tanda tasydîd, cukup dengan harakah pada hurufnya saja. Sedangkan jumhur ulama berpendapat bahwa harus ada tanda yang menunjukkan tasydîd. Menurut Salȋm Muhaisin, para ulama juga berbeda pendapat mengenai posisi tanda tasydîd jika terletak pada huruf yang berharakah fathah dan dhammah, apakah tasydîd mengiringi huruf atau harakah.

Menurut Abû ‘Amr ad-Dânî tasydîd harus mengiringi huruf, contohnya seperti

يل و هللا

. Namun ada juga yang mengatakan bahwa jika hurufnya berharakah fathah dan dhammah, maka tasydîd terletak di depan huruf, namun jika kasrah maka di bawah huruf. Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa harakah kasrah terletak di atas huruf dan di bawah tasydîd, namun pendapat ini tergolong lemah.87

Kemudian pembahasan kelima, yakni tentang tanda mad. Menurut Salȋm Muhaisin para ulama berbeda pendapat dalam memberikan tanda baca pada huruf mad, apakah pemberian tanda baca pada huruf mad dibutuhkan atau tidak. Namun jumhur ulama mengharuskan penggunaan tanda baca pada huruf mad. Adapun untuk Mad Badal dan Mad Layn tidak diberikan tanda baca, kecuali pada keadaan isyba’. Selain dalam keadaan isyba’, maka tidak perlu diberikan tanda mad seperti contoh:

ٌءي ش ,ا و ن ما ء ءو ُّسلا

.88

Selanjutnya, pembahasan keenam, yakni tentang hamzah. Menurut Salȋm Muhaisin pembahasan hamzah dikelompkkan menjadi lima bagian, yaitu:89 bentuk, warna, harakah, keadaan dan letaknya. Pertama bentuk

87Muhammad Salȋm Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h.19

88Muhammad Salȋm Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h.21

89Muhammad Salȋm Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h.24

57

hamzah, para ulama berbeda pendapat mengenai bentuk hamzah. Ada yang mengatakan bahwa bentuknya titik bulat seperti titik i’jâm baik dalam keadaan tahqîq maupun tashîl. Sedangkan para ahli nahwu mengatakan bahwa bentuknya seperti ‘ain kecil. Kedua warna hamzah, dalam keadaan tahqîq, contohnya lafadz

ذ ﺧ أ

, hamzah berbentuk titik bulat dengan warna tinta kuning. Sedangkan jika dalam keadaan tashîl baina-baina, contohnya lafaz

ﺖ , أ ر أْي

hamzah berbentuk titik bulat dengan tinta berwarna merah.

Namun jika dalam keadaan ibdâl huruf yang berharakah contohnya lafadz

ِل ئ

لَ ,

ibdâl dengan ya’. Hamzah berbentuk titik bulat dengan tinta berwarna merah pula. Ketiga harakat hamzah, cara untuk meng-ibdâl-kan huruf yang berharakah ada dua pendapat. Pertama, membuang harakah hamzah.

Kedua, memberikan hamzah harakah dhammah. Keempat keadaan hamzah, terdapat dua keadaan. Pertama hamzah yang berdiri sendiri, yaitu:

a. Memiliki rumah, contohnya: rumah alif (

ل س ﺄ

) rumah waw (

ل ﺆ لْﺆ

) dan

rumah ya’ (

ْﻢ ك ِرِﺋ با

)

b). Tidak memiliki rumah contohnya, hamzah yang terletak di awal kata (

م ء دا

) hamzah yang terletak di tengah kata (

ٌف ء ْو ل ر

) hamzah yang terletak di akhir kata (

ءا م َّسلا

)

Kedua hamzah yang berkumpul, yaitu:

a. Berbeda rumahnya, contohnya

ْﻢ ك ِ ب ئ أ ؤ ن , ًاك ْف أِﺋ

b. Sama rumahnya, Jika rumahnya sama, maka dihapus satu rumahnya.

Contohnya,

هْﻢ ْر ﺗ ذ ء أْن

Kelima letak hamzah, jika hamzah tidak memiliki rumah maka terletak di awal contohnya (

م ء دا

) terletak di tengah contohnya (

ٌف ء ْو ل ر

) dan terletak di akhir contohnya (

ء ما سل ا

). Namun, jika hamzah memiliki rumah, maka diletakkan di atas rumahnya, rumah alif contohnya (

ذ ﺧ أ

) rumah waw

contohnya (

ْﻢ ك لْﺆ يْك

) rumah ya’ contohnya (

لَ ِل ئ

) hal ini berlaku untuk huruf yang berharakah ataupun sukûn, kecuali yang berharakah kasrah. Jika berharakah kasrah, hamzah terletak di bawah rumahnya, rumah alif contohnya (

ا ن ِإ

) rumah ya’ contohnya (

ة كِئ ل مْلا

) dan rumah waw contohnya (

ﺆ لْﺆل لا

).90

Selanjutnya, pembahasan ketujuh, yakni tentang cara penulisan ikhtilas, Isymâm, dan imâlah. Ikhtilas ialah sesuatu yang diibaratkan dari mempercepat pelafalan kata dengan harakah. Dapat dikatakan pula sebagai pelafalan kata dengan 2/3 harakah, pelafalannya menyerupai sukûn.

Sedangkan Isymâm ialah pelafalan kata dengan harakah yang sempurna dan merupakan gabungan dari dua harakah, yakni dhammah dan kasrah

90Muhammad Salȋm Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h.24

59

yang keluar secara tidak umum. Harakah dhammah didahulukan namun dengan porsi yang lebih sedikit sedangkan harakah kasrah lebih banyak sehingga pelafalannya menyerupai harakah dhammah. Sedangkan Imâlah ialah pelafalan yang berlawanan dengan fathah, imâlah terbagi menjadi dua bagian yaitu:

a. Imâlah kubrâ, lebih dekat dengan fathah dari pada kasrah dan alif dari pada ya’.

b. Imâlah shughrâ, yaitu antara fathah dan imâlah kubrâ, dan karena itu dinamakan (baina baina) pelafalannya menyerupai harakah fathah dan kasrah.

Menurut Salȋm Muhaisin, para ulama seperti Abû Dâwud Sulaimân Ibnu Najâh berpendapat untuk tidak menggunakan tanda pada ikhtilas, isymâm dan juga imâlah dengan alasan bahwa hal tersebut bukan bagian dari khat. Sedangkan yang lainnya, seperti Abû ‘Amr ad-Dânî berpendapat untuk menetapkan tanda yang menjelaskan tentang ikhtilas, isymâm dan imâlah tersebut.91

Kemudian pembahasan kedelapan, yakni tentang tata cara penulisan tanda alif washal, alif ibtidâ’, dan naql.92 Kemudian pembahasan kesembilan, yakni tentang tata cara pemberian tanda baca huruf yang rasmnya dibuang. Menurut Salȋm Muhaisin penghapusan huruf illat ada 3 sebab yaitu:93

1. Berkumpulnya dua huruf illat yang sama

91Muhammad Salȋm Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h.30

92Muhammad Salȋm Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h.32

93Muhammad Salȋm Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h.34

2. Meringkas

3. Adanya pengganti dari huruf yang dibuang

Kemudian pembahasan kesepuluh, yakni tentang tata cara pemberian tanda baca yang terdapat penambahan rasm. Menurut Salȋm Muhaisin dalam hal ini terdapat dua pendapat, yakni menurut sebagian ulama masyâriqah tanda baca huruf yang ditambah rasmnya berbentuk seperti huruf (x) dan diletakkan di atasnya. Sedangkan menurut pendapat yang lain tandanya seperti bulatan (o) dan diletakkan di atas huruf yang ditambah rasmnya.94

Terakhir pembahasan kesebelas, yakni tentang cara penulisan lam alif.

Setelah itu kitab ini ditutup dan diakhiri dengan tatimmah dan khâtimah yang berisikan pembahasan yang belum tercantum dalam 11 fashl, seperti tanda waqaf dan yang lainnya.

94Muhammad Salȋm Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h.40

61 BAB IV

INVENTARISASI, EVALUASI KRITIS DAN SINTESIS TERHADAP PEMIKIRAN MUHAMMAD SÂLIM MUHAISIN TENTANG DHABTH

Pada bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai profil kitab Irsyâdu at- Thâlibîn ilâ Dhabthi al-Kitâb al-Mubîn karya Muhammad Sâlim Muhaisin. Selanjutnya, pada bab ini penulis akan mencoba memaparkan pemikiran Muhammad Sâlim Muhaisin tentang dhabth yang tertera dalam kitab tersebut.

Setelah itu, penulis juga akan mencoba menganalisa pemikiran Muhammad Salȋm Muhaisin.

A. Inventarisasi Pemikiran Muhammad Sâlim Muhaisin Tentang Dhabth 1. Harakah Tunggal

No. Materi Contoh Surah : Ayat

ْ ب ه ذ ل

Al-Baqarah : 20

1. Fathah

ْ ل ع ج

Al-Baqarah : 22

ْ رَّخ س و

Az-Zumar : 5

Dari beberapa contoh pada tabel di atas, dapat diketahui bahwaSâlim Muhaisin dalam Irsyâdu at-Thâlibîn memuat tanda fathah yang digagas oleh Khalîl Ibn Aẖmad al-Farâhîdî, yakni berupa alif kecil yang memanjang dari kanan ke kiri yang terletak di atas huruf. Menurut Sâlim Muhaisin, ada juga

yang mengatakan bahwa tanda fathah terletak di depan huruf, namun pendapat ini lemah.95

No. Materi Contoh Surah : Ayat

Ali-‘Imran : 13

1. Kasrah Ali-‘Imran : 21

ِْرِفا غ

Ghâfir : 3

Dari beberapa contoh pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa Sâlim Muhaisin dalam Irsyâdu at-Thâlibîn memuat tanda kasrah yang digagas oleh Khalîl Ibn Aẖmad al-Farâhîdî, yakni berupa alif kecil yang memanjang dari kanan ke kiri yang terletak di bawah huruf. Tanda ini diambil dari huruf ya’

yang dibalik ke belakang dan dihapus kepalanya.96

No. Materi Contoh Surah : Ayat

Fusshilat : 20

1. Dhammah

ُْجِلوُت

Ali-‘Imran : 27

Ali-‘Imran : 29

Dari beberapa contoh pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa Sâlim Muhaisin dalam Irsyâdu at-Thâlibîn memuat tanda dhammah yang digagas

95Muhammad Salȋm Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h.9

96Muhammad Salȋm Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h.9

63

olehKhalîl Ibn Aẖmad al-Farâhîdî dan ahli masyâriqah, yakni berupa waw kecil yang terletak di atas huruf dan menetapkan (tidak menghapus) kepala waw nya. Namun menurut Sâlim Muhaisin, dalam tanda dhammah ahli maghâribah berpendapat tidak menetapkan (menghapus) kepala waw-nya sehingga bentuknya seperti huruf dal (د). Sâlim Muhaisin juga mengatakan bahwa tanda dhammah terletak di depan huruf dan di dalam huruf namun pendapat ini lemah. 97

2. Harakah ganda (tanwîn) dan huruf yang terletak setelahnya

No. Materi Contoh Surah : Ayat

1. Fathah tanwîn diletakkan di

atas huruf sebelum alif

اًمي ْ عِْل

2. Fathah tanwîn terletak di atas

alif

ًْامي ْ عِْل

An-Nisâ’ : 111 3. Satu garis di atas huruf dan

satu garis di atas alif

ْ ا مي ْ عِْل

4. Terletak di atas alif, tetapi

hanya terdapat satu garis

ْ امي ْ عِْل

Dari beberapa contoh pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa Sâlim Muhaisin dalam Irsyâdu at-Thâlibîn memuat tanda fathah tanwîn yang berada pada kalimat yang ghairu maqshur, yaitu kalimat yang diakhiri dengan rasm alif, yakni pada bacaan mad ‘iwadh. Contoh pertama merupakan pendapat Khalîl bin Ahmad al-Farâhîdî dan Sibawaih. Pendapat ini yang dipilih oleh sebagian ahli masyâriqah. Contoh kedua merupakan pendapat ad-Dânî dan Abû Dâwud. Pendapat ini diamalkan oleh ahli maghâribah, Madinah, Kuffah, dan Bashrah. Pada contoh ketiga dan keempat tidak disebutkan siapa yang

97Muhammad Salȋm Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h.9

berpendapat demikian, Sâlim Muhaisin hanya mengatakan bahwa kedua pendapat tersebut lemah98

No. Materi Contoh Surah : Ayat

Ali-‘Imrân : 39

1. Kasrah tanwîn Al-Anfâl : 16

At-Taubah : 3

Dari beberapa contoh pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa Sâlim Muhaisin dalam Irsyâdu at-Thâlibîn memuat tanda kasrah tanwîn yang diletakkan di bawah huruf yang dikembangkan oleh Khalîl Ibn Aẖmad al- Farâidi.

No. Materi Contoh Surah : Ayat

An-Nûr : 29

1. Dhammah tanwîn Hud : 9

Al-Baqarah : 7

Dari beberapa contoh pada tabel di atas, ditemukan bahwa Sâlim Muhaisin dalam Irsyâdu at-Thâlibîn memuat tanda dhammah tanwîn yang

98Muhammad Salȋm Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h.10

65

diletakkan di atas huruf yang juga dikembangkan olehKhalîl Ibn Aẖmad al- Farâidi.

Berdasarkan pengamatan penulis, dari beberapa contoh fathah tanwîn, kasrah tanwîn, dan dhammah tanwîn di atas dapat diketahui bahwa dalam penggunannya tanda tanwîn ada yang tarkîb (harakahtanwîn yang sejajar) dan ada juga yang tatâbu’ (harakah tanwîn yang berjajar depan belakang).

Penggunaannya tergantung pada huruf yang terletak setelahnya.99 Berikut keadaan tanwîn terhadap huruf setelahnya:

No. Materi Contoh Surat : Ayat

Al-Isrâ’ : 49

1. Tanwîn setelahnya huruf izhâr

Ali-‘Imrân : 28

Ali-‘Imrân : 172

Dilihat dari tabel di atas dapat diketahui bahwaSâlim Muhaisin dalam Irsyâdu at-Thâlibîn mengatakan jika setelah tanwîn berupa huruf izhâr, maka menggunakan tanda tanwîn tarkîb (tanwîn sejajar) dan huruf setelahnya tidak ditasydîd. Tanda tanwîn tarkîb menunjukkan bahwa jarak makhraj tanwîn dengan izhâr huruf-huruf sangat jauh. Sehingga penulisan tanda tanwîn dijauhkan dari huruf izhâr setelahnya.100

99Muhammad Salȋm Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h.12

100Muhammad Salȋm Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h.12

No. Materi Contoh Surat : Ayat Tanwîn setelahnya huruf Al-Furqân : 39

1. ikhfâ’ Ali-‘Imrân : 185

Al-Baqarah : 217

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwaSâlim Muhaisin dalam Irsyâdu at-Thâlibîn memuat tanda tanwîn tatâbu’ dan pada huruf setelahnya tanpa tanda tasydîd yang menunjukkan tanwîn dibaca ikhfâ’.

No. Materi Contoh Surat : Ayat

Sabâ’ : 28

1. Tanwîn setelahnya huruf Al-Kahfi : 31

idghâm kâmil Al-Baqarah : 216

Berdasarkan beberapa contoh pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa Sâlim Muhaisin dalam Irsyâdu at-Thâlibîn memuat tanda tanwîn tatâbu’ dan huruf setelahnya diberikan tanda tasydîd yang menunjukkan tanwîn dibaca idghâm kâmil dengan huruf setelahnya.

67

No. Materi Contoh Surat : Ayat

Tanwîn setelahnya huruf Luqmân : 29

1. idghâm nâqish Al-Kahfi : 26

Al-Baqarah : 219

Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa Sâlim Muhaisin dalam Irsyâdu at-Thâlibîn memuat tanda tanwîn tatâbu’ dan huruf setelahnya tidak diberikan tanda tasydîd yang menunjukkan tanwîn dibaca idghâm nâqish.

No. Materi Contoh Surat : Ayat

Ali-‘Imrân : 39

1. Tanwîn setelahnya huruf iqlâb Al-Qalam : 11

Asy-Syûrâ : 27

ِرو دُّصلا ِتا ذِب ٌﻢيِل ع

At-Taghâbun: 4

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pada contoh pertama sampai ketiga, Sâlim Muhaisin dalam Irsyâdu at-Thâlibîn memuat tanda tanwîn yang digagas oleh Abû Dâud Sulaimân Ibnu Najâh, yakni dengan

meletakkan satu harakah dan mim kecil sebagai pengganti dari tanwîn serta pada huruf setelahnya tidak diberikan tanda tasydîd untuk menunjukkan bahwa tanwîn dibaca dengan iqlâb. Sedangkan pada contoh keempat Sâlim Muhaisin memuat tanda tanwîn yang digagas oleh Abû ‘Amr ad-Dânî, yakni dengan harakah tanwîn tanpa diberi tanda mim kecil101

3. Sûkun dan huruf yang terletak setelahnya

No. Materi Contoh Surat : Ayat

Thâhâ : 89

1. Sûkun Ali-‘Imran : 22

An-Nisâ : 153

Dari beberapa contoh pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa Sâlim Muhaisin dalam Irsyâdu at-Thâlibîn memuat tanda sukûn yang berbentuk setengah lingkaran yang diambil dari kepala kha’ dan berasal dari kata

فيفﺧ

yang artinya ringan dan diletakkan di atas huruf yang mati.Hal ini dikarenakan huruf sukûn lebih ringan diucapkan dari pada huruf yang ber-harakah. Tanda tersebut merupakan pendapat yang digagas oleh Khalîl bin Ahmad al-Farâhîdî serta sahabat-sahabatnya dan pendapat ini yang diamalkan oleh ahli masyâriqah. Selain itu, mereka juga berpendpat bahwa, tanda sukûn berupa kepala huruf jim (

ج

) yang diambil dari kata

ْم ز ج

yang artinya memutus atau

101Muhammad Salȋm Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn,h.13

69

mati. Selain itu tanda sukûn bisa juga berupa kepala huruf ha’ (

ح

) yang berasal dari lafadz

ٌحا رِتْسِا

karena dalam pengucapan huruf sukûn, seketika santai dalam pengucapannya. Namun ada juga yang berpendapat meletakkan tanda bulat untuk menandakan huruf sukûn, ini merupakan pendapat Abû Dâwud, pendapat ini yang lebih banyak diikuti di Madinah dan yang diamalkan oleh ahli maghâribah dan sebagian kecil ahli Masyâriqah. Sedangkan menurut sebagian ulama Madinah dan sebagian ulama nahwu, tanda sukûn adalah ءاه yang terbelah, seperti ه.102

No. Materi Contoh Surat : Ayat

An-Nûr : 33

1. Sûkun setelahnya huruf izhâr Ghâfir : 7

Hud : 116

Berdasarkan contoh pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa Sâlim Muhaisin dalam Irsyâdu at-Thâlibîn berpendapat bahwa bacaan izhâr baik yang terdiri dari dua kata maupun satu kata maka diberikan tanda sûkun di atas hurufnya. Sedangkan pada bacaan idghâm, iqlâb, serta ikhfâ’ tidak diberi tanda sûkun.

102Muhammad Salȋm Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h.16

4. Tasydîd

No. Materi Contoh Surat : Ayat

1. Pada huruf yang ber-harakah

fathah

َّْم ع

An-Nabâ’ : 1

2. Pada huruf yang ber-harakah

kasrah

ْ نوُبِ ذ كُت

Al-Mursalât : 29 3. Pada huruf yang ber-harakah

dhammah

ْ نُظ ت

Al-Qamar : 25

Berdasarkan contoh pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa Sâlim Muhaisin dalam Irsyâdu at-Thâlibîn memuat pendapat yang digagas oleh Khalîl Ibn Aẖmad al-Farâidi, Sibawaih, dan ahli masyâriqah yang mengatakan bahwa tanda tasydîd bentuknya seperti kepala huruf syîn dengan tanpa titik yang berasal dari kata

ٌد ِد ْي ش

yang artinya kuat, dan tanda tasydîd tersebut diletakkan di atas huruf..103

6. Mad

No. Materi Contoh Surat : Ayat

Al-Isrâ’ : 49

1. Mad thabi’î Al-Mâidah : 16

Yûsuf : 60

103Muhammad Salȋm Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h.19

71

ْ قوُع ي و

Nûh : 23

Berdasarkan contoh yang telah penulis sebutkan pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa Sâlim Muhaisin dalam Irsyâdu at-Thâlibîn berpendapat bacaan mad thabi’i ditandai dengan alif kecil, waw kecil, kepala ya’ kecil dan tidak diberi tanda sûkun.

No. Materi Contoh Surat : Ayat

An-Nâzi’ât : 45

1. Mad jaiz munfashil At-Tahrîm : 6

At-Tahrîm : 12

Berdasarkan contoh yang telah penulis paparkan pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa Sâlim Muhaisin dalam Irsyâdu at-Thâlibîn berpendapat bacaan madmunfashil diberikan tanda baca yang berasal dari kata

دم

yang

mengalami perubahan dengan dihapuskan kepala mim-nya dan dihilangkan ujung bagian atas dari huruf dal sehingga bentuknya menyerupai alis wanita.

No. Materi Contoh Surat : Ayat

Al-Kahfi : 15

1. Mad wajib muttashil Al-Isrâ’ : 97

An-Nahl : 27

Sama halnya dengan mad munfashil, berdasarkan beberapa contoh dalam tabel di atas dapat diketahui bahwa Sâlim Muhaisin dalam Irsyâdu at- Thâlibîn berpendapat tanda baca pada mad muttashil juga berasal dari kata

دم

yang mengalami perubahan dengan dihapuskan kepala mim-nya dan dihilangkan ujung bagian atas dari huruf dal sehingga bentuknya menyerupai alis wanita.

No. Mate ri Contoh Surat : Ayat

Al-Baqarah : 1

1. Mad lazim Ad-Duhâ : 7

Al-Fajr : 18

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa Sâlim Muhaisin dalam Irsyâdu at-Thâlibîn berpendapat tanda baca pada mad lazim serupa dengan mad munfashil dan mad mutthasil.

6. Hamzah

Dalam dokumen Mubīn - repository iiq - IIQ Jakarta (Halaman 67-108)

Dokumen terkait