Membumi III: Peran Orang Tua dan Keluarga dalam Pendampingan Anak dengan Gangguan Fungsi
A. Di Hadapan Pendidikan Kita Setara
Pendidikan Inklusif
Matahari condong ke barat. Pancaran merah jingga mengusap langit biru, melemparkan pendar warna pelangi, melengkung semakin ke mur semakin samar. Bias ronanya mengusap permukaan lembah tegalan dan hamparan semak perdu, menebarkan warna merah kecoklatan pada ujung-ujung daun kering dan ran ng. Sementara seekor burung tekukur bertengger pada batang ran ng ja , membentuk siluet berlatar matahari senja yang siap hinggap di jajaran bukit warna kelabu.
Angin basah berhembus halus, suara belalang dan garenpung saling bersahut tanda datangnya pancaroba menuju ke musim penghujan. Beberapa penggembala tampak menggiring ternak kembali ke kandang, berjalan berjajar melewa tebing tepian sungai yang sat (kering tanpa air).
Sumardi duduk termenung di atas sebongkah batu kapur di tebing sungai, memperha kan matahari yang pelan-pelan merayap bersembunyi di balik punggung bukit. Sayup terdengar panggilan sujud ke hadapan Illahi, menyeru semua umatnya untuk hening cipta, sembahyang. Memohon petunjuk dan kekuatan untuk menjalani kehidupan agar lancar dan selamat dalam mencapai tujuan.
Sumardi segera berdiri. Dengan langkah gontai, menyusuri tebing sungai, membelok ke jalan kecil berbatu dan menanjak, menuju surau yang ada di ujung bawah dusun tempat nggalnya.
Setelah menjalankan kewajiban bersimpuh dan bertafakur, Sumardi berdiri. Ternyata ia orang terakhir di surau. Ia berjalan menyusuri jalan kecil menuju jalan utama dusun, ke arah tempat nggalnya.
Sambil merenung, ia mencoba menafsir bahasa alam saat senja. Dalam keadaan semua isi alam hampir
menyelesaikan tugas harian, masing-masing tampak tekun dan se a sesuai hukum harmoni kehidupan.
Semua itu ternyata mampu menghasilkan konfigurasi mosaik panorama yang menakjubkan, sungguh sebuah persembahan alam dari Sang Pencipta yang harus disyukuri dan dijaga.
Gambaran kehidupan senja dari hasil renung- an itu benar-benar memberikan pengingat dan penyadaran bagi Sumardi, bahwa penyelenggaraan pendidikan inklusif adalah media pesemaian ling- kungan masyarakat yang natural dan hakiki. Adalah sebuah kewajiban bagi semua yang terlibat untuk perperan ak f sesuai tugas dan peran masing- masing. Melalui proses bersama, mewujudkan har- moni kehidupan mengiku kodrat alam yang harus dipertahankan sepanjang hayat.
Sumardi teringat ke ka kuliah pernah mem- baca dua buku pemikiran Ki Hadjar Dewantara terkait Pendidikan dan Kebudayaan. Penamaan 'Taman Siswa' untuk sekolah yang didirikan Ki Hadjar, me- rupakan cara pengingat bangsa agar memaknai sekolah adalah 'Taman' dan 'Siswa': bunga-bunga bangsa dengan beragam sifat kodra yang hidup bersama dalam asuhan pamong,—bertugas sebagai juru taman yang menyiram, memupuk, menggem- burkan tanah, menghalau hama, dan menyiangi
tanaman liar yang mengganggu pertumbuhan bunga- bunga yang dirawatnya. Kelak di kemudian hari, bunga- bunga itu baik secara sendiri-sendiri maupun bersama- sama, mampu menyumbangkan keindahan dan keha- ruman dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Sebagai juru taman, pamong, fasilitator, atau guru dak bisa memaksa Mawar berubah menjadi Mela , Menur berubah menjadi Kenanga, pun sebalik- nya. Mereka hanya bisa berusaha membantu si Mela tumbuh sebagai Mela , si Mawar tumbuh sebagai Mawar, yang semuanya dengan kondisi dan potensi masing-masing bisa tumbuh-berkembang secara sem- purna, mampu menunjukkan kepatuhan diri akan tugas kodra nya, dan mampu mempersembahkan keindahan dan keharuman diri kepada kehidupan sesama.
Menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan merupakan upaya pembebasan diri manusia dari belenggu-belenggu yang menghambat kemerdekaan jiwa dan raga dalam membentuk kehidupan bersama yang ter b, damai, salam (selamat), dan bahagia.
Renungan Sumardi itu membawa pada kesa- daran bahwa pendidikan harus ditujukan kepada terwujudnya kehidupan bersama melalui peran indi- vidu dengan tugas masing-masing sesuai kondisi dan
potensinya. Kehidupan seper itu adalah kehidupan Bhinneka Tunggal Ika, semboyan dan cita-cita bangsa Indonesia. Pendidikan semacam itulah yang harus menjadi prinsip sistem pendidikan nasional.
Ketetapan ha Sumardi mendasari sikap setuju pada penger an pendidikan inklusif se- bagaimana dicantumkan dalam Peraturan Daerah Is mewa Yogyakarta Nomor 4/2012 yang menyebut- kan bahwa: Pendidikan inklusif adalah sistem pendidikan yang memberikan peran kepada semua peserta didik dalam suatu iklim dan proses pembe- lajaran bersama tanpa membedakan latar belakang sosial, poli k, ekonomi, etnik, agama, kepercayaan, golongan, jenis kelamin, kondisi fisik maupun mental, sehingga sekolah merupakan miniatur masyarakat.
Sekolah harus menjadi cermin perilaku sosial masyarakatnya, karena sekolah punya peran pen ng dalam membentuk pola perilaku sosial masyarakat.
Jika ingin mempunyai masyarakat yang saling meng- hargai sesama, rasa toleransi nggi, saling menolong, gotongroyong, rukun, bermufakat, dan sejenisnya, maka sekolahnya harus inklusif.
Tanggal 17 Agustus setelah upacara bendera Hari Kemerdekaan, ke ka para siswa dan guru-guru lain sudah pulang, Bu Landri menghampiri Sumardi yang sedang menuju halaman parkir motor.
“Maaf Pak, bisa saya minta tolong?”
“Oh, bagaimana Bu. Apa yang bisa saya bantu?”
“Dari pela han yang saya iku , saya mendapat tugas. Besok harus presentasi tentang beberapa penger an pendidikan inklusif”.
“Baik. Kapan Bu Landri ada waktu untuk men- diskusikan hal itu?”
“Jika dak keberatan, sekarang bisa Pak.”
“Boleh, Bu.” jawab Sumardi sambil meng- angguk.
Bu Landri menyampaikan kepada Sumardi hal yang menggelisahkan pikirannya, mengenai bentuk kelas untuk penyelenggaraan pendidikan inklusif.
1. Bentuk kelas reguler penuh: Anak dengan gangguan fungsi belajar bersama anak lain sepanjang hari di kelas reguler dengan meng- gunakan kurikulum yang sama.
2. Bentuk kelas reguler dengan klaster: Anak dengan gangguan fungsi belajar bersama dengan anak lain di kelas reguler dalam kelompok khusus.
3. Bentuk kelas reguler dengan pull out: Anak dengan gangguan fungsi belajar bersama anak lain di kelas reguler, namun dalam waktu-waktu tertentu akan ditarik keluar dari kelas reguler ke ruang sumber untuk belajar dengan guru pembimbing khusus.
4. Bentuk kelas reguler dengan klaster dan pull out: Anak dengan gangguan fungsi belajar bersama anak lain di kelas reguler dalam kelompok khusus dan dalam waktu-waktu tertentu akan ditarik keluar dari kelas reguler ke ruang sumber untuk belajar dengan guru
pembimbing khusus.
5. Bentuk kelas khusus dengan berbagai peng- integrasian: Anak dengan gangguan fungsi belajar di kelas khusus di sekolah reguler, namun dalam bidang-bidang tertentu dapat belajar bersama anak lain di kelas reguler.
6. Anak dengan gangguan fungsi belajar di kelas khusus penuh dalam sekolah reguler: Anak deng- an gangguan fungsi belajar sepenuhnya di kelas khusus yang diadakan di sekolah reguler
Untuk itulah Bu Landri meminta pendapat Sumardi dengan menyerahkan catatannya. Sumardi menerima catatan itu dan membacanya dengan teli . Ia mengangguk-angguk kecil.
Menurut Sumardi, orang yang berpendapat demikian adalah orang-orang yang cara berpikirnya masih terjebak pada persoalan teknis metodologis pembelajaran saja. Mereka berhen pada pikiran bagaimana cara mengajar dalam pelaksanaan pen- didikan inklusif. Mereka lupa bahwa ada persoalan lain yang juga dak kalah pen ng, yaitu tujuan penyeleng- garaan pendidikan inklusif itu sendiri. Hal terakhir inilah yang merupakan persoalan ideologis filosofis.
Pendidikan dak pernah lepas dari ideologi yang mendasarinya. Karena pendidikan juga bertujuan pembentukan watak dan kepribadian individu, masya-
rakat, dan bangsa. Jadi pendidikan dak lepas dari ideologi atau falsafah bangsa yang dalam hal ini adalah Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Hal inilah yang harus dipahami oleh para guru atau pamong, karena merekalah yang memiliki peran utama sebagai ujung tombak dalam proses pendidikan bangsa. Karena bangsa itu terdiri dari beragam komunitas masyarakat, dan masyarakat itu sendiri terbentuk dari individu-individu, maka per- tumbuhan dan perkembangan individu secara fisik, psikologis, maupun sosial menjadi bekal utama dalam pembentukan bangsa.
Oleh sebab itu, guru harus memahami kon- disi dan potensi masing-masing murid, karena itulah bekal pokok yang harus dimiliki guru. Dengan demikian, se ap guru akan dapat menentukan dan menyuguhkan kebutuhan belajar yang diperlukan dalam pertumbuhan dan perkembangan masing- masing murid.
Mendengar uraian Sumardi, Bu Landri me- narik napas panjang. Ia teringat pelajaran sejarah, Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan warisan leluhur yang ditulis Empu Tantular dalam kitab Sutasoma pada masa Majapahit abad 14. Untuk mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan
kerajaan Majapahit, Empu Tantular menekankan pelaksanaan Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Darma Mangrua, yang ar nya bahwa untuk menjaga dan mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan suatu bangsa ada jalan lain kecuali mewujudkan kesatuan dalam keberagaman.
Jalan utama untuk menanamkan jiwa Bhin- neka Tunggal Ika kepada segenap putra bangsa adalah lewat pendidikan. Jadi dalam proses pendidikan, Bhinneka Tunggal Ika dak hanya diucapkan, tetapi harus dilaksanakan sebagai corak kehidupan sehari- hari. Dengan demikian se ap warga akan dapat belajar untuk saling asah, saling asih, dan saling asuh untuk
membentuk masyarakat yang merdeka, ter b, damai, salam (selamat), dan bahagia, sebagaimana disampaikan oleh Ki Hadjar Dewantara.
Bhinneka Tunggal Ika, bendera kebesaran Majapahit, simbolnya Gula Kelapa atau Merah Pu h.
Warna merah pu h dimaknai Merah berar 'Berani' dan Pu h berar 'Suci'. Dengan demikian kemer- dakaan dan keutuhan bangsa ini harus diperjuangkan dengan keberanian dan kesucian jiwa. Merah juga diar kan sebagai 'Darah' dan Pu h diar kan sebagai 'Tulang'. Karena itulah kawasan Indonesia kemudian diletakkan sebagai Tanah Tumpah Darah yang berar tempat mengabdi, berjuang sekuat jiwa dan raga.
Selain itu Merah juga diar kan sebagai 'Ibu' dan Pu h diar kan sebagai 'Bapak' yang diar kan sebagai awal dari kejadian anak manusia yang lahir di bumi.
Karena itulah negeri ini disebut juga Ibu Per wi, tempat rakyat berbak .
Bu Landri merasa seolah-olah ada yang me- nuntun ingatannya sehingga bisa menyampaikan semua hal tersebut kepada Sumardi dengan lancar, meluncur begitu saja. Kini Sumardilah yang gan an mengangguk-angguk kecil mendengar penjelasan Bu Landri.
Pada dasarnya paham inklusifisme adalah paham yang meyakini bahwa untuk dapat hidup
bersama, maka manusia harus saling bersikap dan berperilaku menerima dan menghargai eksistensi individu antar sesama dengan berbagai ragam kondisi dan latar belakang kehidupannya. Karena itu pendi- dikan inklusif merupakan pendidikan Bhinneka Tunggal Ika yang harus diperjuangkan keberadaan dan penye- lenggaraannya dengan jiwa Merah Pu h.
Mereka berdua kemudian tampak diam, me- renungkan kembali hal-hal yang telah mereka dis- kusikan bersama. Tanpa disadari, hal yang mereka diskusikan juga terkait perenungan makna Hari Kemerdekaan yang baru saja diperinga . Di mata pendidikan, semua anak bangsa punya hak dasar yang sama. Di hadapan pendidikan, kita semua setara. Itulah seja nya merdeka belajar.
”Baik, saya kira cukup sampai di sini dulu diskusi kita. Saya sudah lapar. Ayo kita ke warung Mbok Girah dekat pasar desa. Nasi urap, sambal tumpang, dan tempe mendoannya enak lho”, ajak Sumardi sambil menyerahkan kembali catatan Bu Landri.
Setelah memasukkan lembaran catatan ke dalam tas, Bu Landri menyalakan motor, menuju warung Mbok Girah diiku oleh Sumardi dari belakang.
Mereka makan siang dengan lahap. Di samping merasa lapar karena baru selesai diskusi serius, juga
nasi urap sambal tumpang masakan Mbok Girah memang sedap. Warung Mbok Girah, jika jam makan siang sangat laris, ramai, penuh orang-orang yang jajan dan makan di tempat, dak dibungkus untuk dibawa pulang.
Di warung Mbok Girah, mereka semua seolah berbagi rasa merdeka.
Seper biasa, pagi sebelum matahari tampak di permukaan bukit, Bu Landri sudah memacu sepeda motor menuju tempat mengajar. Ia mulai melewa bulak panjang, kanan-kiri jalan merupakan tegalan dengan berbagai tanaman palawija: ketela pohon, ubi jalar, kacang-kacangan, dan beragam