• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagaimana Menggunakan Buku Pandu

Dalam dokumen Memoar Panduan Pendidikan Inklusif (Halaman 45-49)

Membumi III: Peran Orang Tua dan Keluarga dalam Pendampingan Anak dengan Gangguan Fungsi

F. Bagaimana Menggunakan Buku Pandu

Matahari tegak lurus di atas kepala, panasnya serasa membakar kulit. Pohon-pohon ja tampak kering merangas, hingga yang tersisa hanya batang, dahan, dan ran ng saja. Daun-daunnya telah rontok, gugur. Di atas jalanan berbatu dan berkelak-kelok mendaki bukit, Sumardi mengendarai motor bebek yang usianya terhitung sudah tua. Motor itu meru- pakan lungsuran ( nggalan) dari ayahnya yang dibeli 15 tahun silam untuk bekerja. Kemudian dilungsurkan kepadanya ke ka ia mulai masuk kuliah.

Sambil mengendalikan kemudi untuk meng- hindari lubang jalan dan bebatuan, sesekali Sumardi memandangi dusun di mana ia mengajar dan ber- tempat nggal. Di dusun itulah Sumardi mulai mena- pakkan kaki menempuh tugas hidup, mengemban misi mulia, mencerdaskan kehidupan bangsa, menjadi seorang guru. Mencarikan jalan bagi anak-anak yang masih tersisih dan dipinggirkan dari semarak kehidu- pan yang layak, diterima hidup bersama-sama dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dengan kesetaraan hak asasinya.

“Tidak lama lagi akan sampai”, gumamnya.

Setelah memasuki gerbang dusun, dilewa nya sekolah tempat ia mengajar. Tampak sepi. Jam pulang

sekolah sudah lewat. Memang hari itu Sumardi dak mengajar, ia harus mengiku pela han di kabupaten.

Kelasnya di pkan kepada Bu Landri.

Sampai di depan pondokan, Sumardi melihat motor Bu Landri terparkir di bawah pohon mangga, di halaman samping. Sumardi langsung menuju ke belakang melalui longkangan sisi bangunan rumah.

Ia masuk dari pintu samping dan langsung ke kamar.

Setelah meletakkan tas rangsel di meja kerja, kemu- dian mencuci muka, tangan, dan kaki di kamar madi, ia keluar ke peringgitan menemui Bu Landri yang telah menunggu.

“Selamat siang Bu Landri, sudah lama menung- gu?”

“Selamat siang juga, Pak. Belum terlalu lama, sekitar 20 menitan. Bagaimana pela hannya?”

“Cukup menarik, nan kita diskusikan. Oh iya, ada kabar apa sehingga Bu Landri memerlukan mampir kemari?”

“Ya, dak terlalu pen ng sih. Tapi rasanya perlu segera saya sampaikan.”

“Kabar apa itu, Bu? Tapi sebentar, saya ambil- kan air minum dulu,” kata Sumardi sambil berdiri dan berjalan ke belakang. Tak lama kemudian, ia kembali lagi sambil membawa segelas teh.

Setelah minum beberapa teguk, Bu Landri mulai bercerita. Ia menyampaikan pembicaraannya dengan Bu Yatmi saat jam is rahat sekolah. Selain itu, Bu Mursi dan Bu Rodiah juga ikut bergabung. In nya mereka ingin Pak Sumardi mengajak diskusi bersama, karena mereka telah diminta oleh Pak Suwita dan Pak Karyadi supaya belajar memahami pendidikan inklusif.

Sumardi mengangguk dan tersenyum men- dengar cerita Bu Landri. Ia menyikapi cerita Bu Landri sebagai kesempatan baik untuk memberikan pen- jelasan kepada Bu Yatmi, Bu Mursi , dan lebih-lebih Bu Rodiah. Tapi karena Sumardi masih harus meng- iku pela han sampai dua hari lagi, maka ia meminta Bu Landri yang menjelaskan pendidikan inklusif dan rencana penyusunan buku pandu kepada mereka.

Meski awalnya Bu Landri menolak, tetapi setelah memper mbangkan bahwa inilah saat yang tepat, maka ia pun bersedia memberikan penjelasan itu. Untuk melakukan hal tersebut, Bu Landri me- minta pendapat Sumardi tentang bagaimana cara menyampaikannya. Setelah mendapatkan masukan dari Sumardi, Bu Landri pun berpamitan, pulang.

Esok paginya, sebelum jam belajar dimulai, Bu Landri menemui Pak Suwita. Ia menyampaikan hasil dikusi bersama Sumardi kemarin di pondokannya.

Pak Suwita menyambut baik, bahkan setelah is rahat pertama, para siswa diminta belajar mandiri di rumah, karena waktu belajar di sekolah akan digunakan untuk rapat guru, yaitu mendengarkan paparan Bu Landri.

Setelah menerangkan apa dan bagaimana program pendidikan inklusif harus dijalankan, Bu Landri mulai menjelaskan rancangan buku pandu.

Satu persatu Bu Landri menjelaskan bakal isi dan materi buku pandu. Untuk memudahkan dalam me- mahami apa saja yang dimuat dalam buku, pembaca harus lebih dulu membaca dan memahami bagian utama yang pertama yaitu Menumbuh I sampai Membumi IV, yang memuat pembabaran tentang sudut pandang yang harus digunakan dalam me- mahami persoalan anak dengan gangguan fungsi dan hakekat sebenarnya mengenai pendidikan inklusif.

Baru setelah itu pembaca dapat langsung memilih hal-hal sesuai dengan kepen ngannya. Jika dak merasa perlu, pembaca dak harus membaca seluruh isi buku, apalagi secara berurutan dari halaman pertama hingga halaman terakhir.

Di sisi lain, secara terbuka, pembaca juga diberi kesempatan dan ruang untuk komentar, saran, kri k, pendapat, dan masukan, untuk kepen ngan pe- nyempurnaan buku pandu berikutnya.

Setelah rampung memberikan penjelasan dan menjawab hal-hal yang ditanyakan oleh para guru,

Bu Landri mengakhiri paparannya dan mengembalikan kesempatan berikutnya kepada Pak Suwita sebagai kepala sekolah.

Memperha kan paparan Bu Landri, Pak Suwita merasa puas dan memberikan apresiasi yang nggi atas usaha Bu Landri dan Sumardi dalam upaya me- menuhi hak pendidikan bagi semua anak tanpa kecuali.

Pak Suwita berharap, sudah dak ada lagi kesalah- pahaman di antara guru tentang rencana penerapan program pendidikan inklusif.

Bu Rodiah, Bu Mursi , dan Bu Yatmi pun ter-diam tak dapat berkata apa-apa. Dari wajah mereka tampak penyesalan karena telah melakukan upaya penolakan terhadap pelaksanaan program pendi-dikan inklusif.

Hal yang dak kalah menarik setelah perte- muan, ke ga guru tersebut menyatakan mendukung penyelenggaraan pendidikan inklusif dan ingin belajar melalui buku pandu yang sedang disusun dan disiapkan.

Pendidikan merupakan upaya pembebasan diri manusia dari

belenggu-belenggu yang menghambat kemerdekaan jiwa dan

raga dalam membentuk kehidupan bersama yang ter b, damai, salam

(selamat), dan bahagia.

- Ki Hadjar Dewantara -

Pendidikan Inklusif

Matahari condong ke barat. Pancaran merah jingga mengusap langit biru, melemparkan pendar warna pelangi, melengkung semakin ke mur semakin samar. Bias ronanya mengusap permukaan lembah tegalan dan hamparan semak perdu, menebarkan warna merah kecoklatan pada ujung-ujung daun kering dan ran ng. Sementara seekor burung tekukur bertengger pada batang ran ng ja , membentuk siluet berlatar matahari senja yang siap hinggap di jajaran bukit warna kelabu.

Angin basah berhembus halus, suara belalang dan garenpung saling bersahut tanda datangnya pancaroba menuju ke musim penghujan. Beberapa penggembala tampak menggiring ternak kembali ke kandang, berjalan berjajar melewa tebing tepian sungai yang sat (kering tanpa air).

Dalam dokumen Memoar Panduan Pendidikan Inklusif (Halaman 45-49)