• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI HAMA TANAMAN KELAPA SAWIT

3. Hama serangga

a. Hama ulat setora, Setora nitens.

Ulat api termasuk ke dalam family Limacodisae, ordo Lepidoptera. (Gambar 1).

Ulat ini dicirikan dengan adanya satu garis membujur ditengah punggung yang berwarna keunguan. Untuk S. nitens selama perkembangannya, Ulat Api berganti kulit 7-8 kali dan mampu menghabiskan helaian daun seluas 400 cm2 (Susanto dkk., 2006).

Siklus hidup ulat api (Setora nitens) berlangsung antara 40 s/d 70 hari dengan periode larva hingga instar ke 9 selama 18 s/d 32 hari. Telur ulat api (S. nitens) hampir sama dengan telur Setothosea asigna hanya saja meletakkan telur antara satu sama lain tidak saling tindih. Telur menetas setelah 4-7 hari (Sudharto, 1991). Telurnya berbentuk pipih dan berwarna bening, lebarnya 3 mm, diletakkan pada permukaan bawah daun dalam 3-5 deretan, kadang kala mencapai 20 deret. Larva Setora nitens muda hidup dalam koloni dan memakan bagian bawah jaringan epidermis daun. Pada fase selanjutnya, larva memakan semua daun dengan menyisakan hanya tulang daunnya saja.

Larva S. nitens dewasa berwarna hijau agak jingga dan memiliki median ungu yang memanjang dan terputus-putus. Serangan berat S. nitens biasanya terjadi saat musim kemarau dan mencapai ambang kendalinya pada fase tanaman sawit belum menghasilkan ketika populasinya mencapai 5 larva per pelepah daun dan pada fase tanaman sawit menghasilkan ketika populasinya mencapai 10 larva per pelepah (Andriyansyah, 2013).

Larva mula-mula berwarna hijau kekuningan kemudian hijau dan biasanya berubah menjasi kemerahan menjelang masa pupa. Panjangnya mencapai 40 mm, mempunyai 2 rumpun bulu kasar di kepala dan dua rumpun di bagian ekor. Larva ini dicirikan dengan adanya satu garis membujur ditengah punggung yang berwarna biru keunguan. Perilaku ulat ini sama dengan ulat Setothosea asigna. Stadia ulat berlangsung sekitar 50 hari (Sudharto, 1991). Untuk kepompong selama 35-40 hari. Seekor ngengat betina mampu bertelur sebanyak 300-400 butir telur dan akan menetas setelah 4-8 hari setelah diletakkan (Sudharto, 1991).

Pupanya bulat berdiameter 15 mm dan berwarna coklat. Imago S. nitens berupa ngengat jantan dengan lebar rentang sayap sekitar 35 mm dan betina sedikit lebih lebar.

panjang 20 mm pada betina dan lebih pendek pada jantan. Ngengat aktif pada senja dan malam hari sedangkan pada siang hari 11 hinggap di pelepah tua atau pada tumpukan daun yang telah dibuang dengan posisi terbalik. Serangan S. nitens di lapangan umumnya mengakibatkan daun Kelapa Sawit habis dengan sangat cepat dan berbentuk seperti melidi. Tanaman tidak dapat menghasilkan tandan Selama 2-3 tahun jika serangan yang terjadi sangat berat. Umumnya gejala serangan dimulai dari daun bagian bawah hingga akibatnya helaian daun berlubang habis dan bagian yang tersisa hanya tulang daun saja. Ulat ini sangat rakus, tingkat populasi 5-10 ulat per pelepah merupakan populasi kritis hama tersebut di lapangan dan harus segera diambil tindakan pengendalian (Sudharto, 1991).

Ulat Api, Setora nitens

Pengendalian ulat api biasanya dilakukan secara kimiawi dengan insektisida dan hayati dengan virus NPV. Namun pengendalian secara kimiawi menjadi kurang bijaksana karena terbukti dapat menimbulkan berbagai dampak negatif pada lingkungan. Secara teknis, pengendalian hayati lebih unggul dibandingkan pengendalian dengan insektisida sintesis, karena cukup efektif, berkelanjutan dan ramah lingkungan. Pengendalian hayati Ulat Api pada Kelapa Sawit dapat menggunakan mikroorganisme entomopatogenik, yaitu bakteri Bacillus thuringiensis (Sipayung dan Hutauruk, 1982). Wood et al. (1977) menemukan bahwa berdasarkan penelitian di laboratorium, B. thuringiensis efektif melawan S. nitens dengan tingkat kematian 90 % dalam 7 hari. Ulat juga dapat dikendalikan secara kimiawi dengan penyemprotan racun kontak, misalnya Hostation 25 ULV, Sevin 85 ES, Dursban 20 EC dengan konsentrasi 0,2 ± 0,3 %.

b. Kumbang oryctes , Oryctes rhinoceros

Gejala serangan : Kumbang dewasa masuk ke dalam daerah titik tumbuh dan memakan bagian yang lunak.bila serangan mengenai titik tumbuh, tanaman akan mati, tetapi bila makan bakal daun hanya menyebabkan daun dewasa rusak seperti terpotong gunting.

Pengendalian : untuk mencegah berkembangnya hama ini, kebersihan di sekitar tanaman harus dijaga baik. Sampah-sampah atau pohon yang mati dibakar agar larva hama ini mati. Pengendalian secara biologis dengan menggunakan cendawan Metharrizium anisopliae dan virus Baculovirus oryctes.

c. The oil palm bunch moth

Penyebab : Larva Tirathaba mundella Wlk. (Piramida yang kadang-kadang salah diidentifikasi sebagai T. fructivora (Meyr.) atau Melissoblaptes fructivora Meyr.) menyebabkan kerusakan parah pada perbungaan jantan dan betina, buah dan daun baru kelapa sawit [Elaeis guineensis] di beberapa negara bagian Malaya. Tandan buah yang terinfestasi ditandai dengan tabung panjang dari sutra dan frass yang dibangun oleh larva.

Dewasa yang dipelihara di laboratorium tidak menghasilkan telur yang subur, tetapi betina yang ditangkap di lapangan masing-masing menghasilkan rata-rata 134 telur, di mana 92% di antaranya menetas. Semua tahapan yang dipelihara dari telur-telur ini dijelaskan secara singkat. Di lapangan, perkiraan yang cukup akurat tentang intensitas infestasi di perkebunan dapat dilakukan dengan mengambil sampel 20 tandan buah/100 hektar dan menghitung jumlah larva hidup per tandan; untuk sementara diperkirakan bahwa 3-5 larva per tandan menunjukkan tingkat serangan yang merusak secara ekonomi.

Wabah telah menjadi semakin umum dalam beberapa tahun terakhir, terutama pada penanaman muda di bekas perkebunan karet. Di beberapa tempat, infestasi kronis terus menerus berkembang dan kemudian secara bertahap menurun tanpa intervensi kimia;

belum ada musuh alami atau faktor alam lain yang merugikan. Ngengat Tirathaba mundella, Gejala serangan : Telur-telur Tirathaba diletakkan pada tandan buah terutama pada buah-buah yang telah masak atau busuk. Setelah menetas, ulat atau larva melubangi buah-buah muda atau memakan permukaan buah yang matang.

Pengendalian : Ulat Tirathaba dapat dikendalikan dengan Dipterex atau Thiodan.

Caranya sbb. : 0,55 kg Dipterex atau Thiodan dilarutkan dalam air sebanyak 370 liter (dosis per hektar) dan diaduk sampai merata, selanjutnya disemprotkan pada kelapa sawit yang terserang ulat Tirathaba tersebut.

Pengujian 24 senyawa kimia yang diaplikasikan sebagai semprotan pada tandan buah dilakukan di beberapa tempat pada tahun 1965 dan 1968-1970. Endosulfan umumnya paling efektif, bahkan pada konsentrasi yang sangat rendah, dan dalam beberapa pengujian klorfenvinfos, monokrotofos, dikrotofos dan metomil juga memberikan hasil yang sangat baik.

Dokumen terkait