لاح سفنلل ةيعاد اهل ىلإ اهلاعفأ نم ريغ ركف لاو ةيور
B. Hasil Belajar Pendidikan Aqidah Akhlak 1. Pengertian Hasil Belajar
Dalam dunia pendidikan dan pengajaran, hasil belajar memegang peranan penting. Dimana hasil belajar merupakan gambaran keberhasilan siswa dalam belajar. Dalam kaitan ini, John M. Keller berpendapat bahwa yang dimaksud
“hasil belajar berupa keluaran dari suatu sistem pemrosesan berbagai masukan yang berupa informasi.”14
Adapun menurut A.J. Romiszowski, “hasil belajar merupakan keluaran (outputs) dari suatu system pemrosesan masukan (inputs). Masukan dari system tersebut berupa bermacam - macam informasi sedangkan keluarannya adalah perbuatan atau kinerja (performance).”15
Hasil Belajar adalah kemampuan - kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.16
Dari beberapa pengertian di atas, diketahui bahwasanya hasil belajar ialah sebuah bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang peserta didik dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya. Adapun hasil belajar dalam penelitian ini yaitu hasil belajar Pendidikan Akidah Akhlak yang berupa nilai dari hasil ulangan harian.
2. Macam - macam Hasil Belajar
Dalam proses hasil belajar, hasil belajar yang dicapai peserta didik sangat penting diketahui oleh guru, agar guru dapat merancang/mendesain pengajaran
14 Mulyono Abdurrahman, Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta Rineka Cipta, 2012), 27.
15 Mulyono Abdurrahman, 26.
16 Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2011), 22.
selanjutnya secara tepat guna meningkatkan hasil belajar peserta didik. Dalam khasanah ilmu pengetahuan, perubahan tingkah laku akibat dari adanya proses belajar, bisa dibedakan menjadi beberapa jenis.
Dalam kurikulum 2013 guru sering dihadapkan untuk mengambil keputusan penting terkait siswa, seperti menentukan apakah siswa perlu mengulang materi, naik kelas, lulus atau tidak. Untuk mendapatkan keputusan yang tepat , diperlukan informasi yang memadai tentang siswa, seperti penguasaan mereka terhadap materi, sikap dan perilaku peserta didik. Dalam konteks inilah penilaian memegang peranan yang cukup penting.
Menurut Benjamin S. Bloom, “ada tiga ranah (domain) hasil belajar, yaitu kognitif, afektif dan psikomotik.”17 Adapun yang dimaksud dengan hasil belajar kognitif yaitu hasil belajar yang ada kaitannya dengan ingatan, kemampuan berpikir dan intelektual. Untuk hasil belajar ranah afektif yaitu “merujuk pada hasil belajar yang berupa kepekaan rasa atau emosi. Dan hasil belajar psikomotorik berhubungan dengan keterampilan motorik, manipulasi benda atau kegiatan yang memerlukan koordinasi saraf dan kordinasi badan.18
Dengan demikian, diketahui bahwasanya macam - macam hasil belajar itu dapat dikategorikan menjadi tiga macam, yaitu hasil belajar ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.
3. Faktor - faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Betapa tingginya nilai suatu keberhasilan, sampai - sampai seorang guru berusaha sekuat tenaga dan pikiran mempersiapkan program pengajarannya
17 Mulyono Abdurrahman, Anak Berkesulitan, 26.
18 Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, 207.
dengan baik dan sistematik. Namun terkadang keberhasilan yang dicita - citakan tak dapat tercapai, justru kegagalan yang ditemui. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor sebagai penghambatnya. Sebaliknya, jika keberhasilan itu menjadi kenyataan, maka berbagai factor itu juga sebagai faktor pendukungnya.
Faktor - faktor yang mempengaruhi hasil belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada diluar individu.19
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai apa saja yang tergolong faktor intern, maka yang termasuk ke dalam faktor intern adalah:
a. Faktor jasmaniah baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh. Misalnya penglihatan, pendengaran, struktur tubuh dan sebagainya.
b. Faktor psikologis baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh terdiri atas:
1.) Faktor intelektif yang meliputi kecerdasan dan bakat.
2.) Faktor non intelektif meliputi sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi, penyesuaian diri.
c. Faktor kematangan fisik maupun psikis.20
19 Slameto, Belajar dan Faktor - faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), 54.
20 Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), 138.
Sedangkan faktor ekstern dapat dikelompokkan menjadi 3 faktor, adapun yang termasuk faktor ekstern yaitu: “faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat.”21
Faktor - faktor di atas dalam banyak hal sering saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain. Faktor - faktor tersebut sangat berpengaruh bagi keberhasilan belajar peserta didik.
4. Pengertian Pendidikan Aqidah Akhlak
Pendidikan merupakan suatu hal yang tidak bisa luput dari kehidupan manusia. Sejak terlahir di dunia, manusia sudah diberikan pendidikan dari orang tuanya. Bahkan sampai tua, pendidikan tak pernah lepas dari kehidupan manusia.
Sebagai umat Islam, pendidikan aqidah akhlak juga tidak boleh ditinggalkan. Pendidikan aqidah akhlak harus diberikan sejak dini, mulai dari balita sampai lanjut usia. Dalam Islam dikenal istilah pendidikan sepanjang hayat (life long education) yang artinya selama ia hidup tidak akan lepas dari pendidikan, karena setiap langkah manusia hakikatnya adalah belajar, baik langsung maupun tidak langsung.
Pendidikan aqidah akhlak adalah usaha untuk memperkuat iman dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan ajaran Islam, bersikap inklusif, rasional dan filosofis dalam rangka menghormati orang lain dalam hubungan kerukunan dan kerjasama antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan Nasional (Undang - undang No. 2 Tahun 1989).
21 Slameto, Belajar dan Faktor - factor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), 60.
5. Dasar - dasar Pendidikan Aqidah Akhlak
Dasar aqidah akhlak adalah ajaran Islam itu sendiri yang merupakan sumber - sumber hukum dalam Islam yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits. Al-Qur’an dan Al-Hadits adalah pedoman hidup dalam Islam yang menjelaskan kriteria atau ukuran baik buruknya suatu perbuatan manusia. Dasar aqidah akhlak yang pertama dan utama adalah Al-Qur’an. Ketika ditanya tentang aqidah akhlak Nabi Muhammad SAW, Siti Aisyah berkata “Dasar aqidah akhlak Nabi Muhammad SAW adalah Al-Qur’an.”
Islam mengajarkan agara umatnya melakukan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan buruk. Ukuran baik dan buruk tersebut dikatakan dalam Al- Qur’an karena Al’Qur’an merupakan firman Allah SWT, maka harus diyakini oleh setiap muslim.
Dalam Surat Al-Maidah ayat 15-16 disebutkan yang artinya
“Seseungguhnya telah dating kepadamu rasul kami, menjelaskan kepadami banyak isi dari Al-Kitab yang kamu sembunyikan dan banyak pula yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah dating kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan.
Dengan kitab itulah Allah menunjukkan orang - orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang - orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan izinNya, dan menunjukkan mereka ke jalan yang lurus.”
Dasar aqidah akhlak yang kedua bagi seorang muslim adalah Al-Hadits atau Sunnah Rasul. Untuk memahami Al-Qur’an lebih terinci, umat Islam
diperintahkan untuk mengikuti ajaran Rasulullah SAW, karena perilaku Rasulullah adalah contoh nyata yang dapat dilihat dan dimengerti oleh setiap umat Islam.
6. Tujuan Pendidikan Aqidah Akhlak
Aqidah akhlak harus menjadi pedoman bagi setiap muslim. Artinya setiap umat Islam harus meyakini pokok - pokok isi aqidah akhlak tersebut. Adapun tujuan aqidah akhlak itu adalah:
1) Memupuk dan mengembangkan dasar ketuhanan yang sejak lahir.
Manusia adalah makhluk yang berketuhanan. Dengan aqidah akhlak, naluri atau kecendrungan manusia akan keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Kuasa dapat berkembang dengan benar
2) Aqidah Akhlak bertujuan pada pembentukan pribadi muslim yang luhur dan mulia. Seseorang muslim yang berakhlak mulia senantiasa bertingkah laku terpuji, baik ketika berhubungan dengan Allah SWT, dengan sesama manusia, makhluk lainnya serta dengan alam lingkungan. Oleh karena perwujudan dari pribadi muslim yang luhur berupa tindakan nyata menjadi tujuan dalam aqidah akhlak
3) Menghindari diri dari pengaruh akal pikiran yang menyesatkan manusia diberi kelebihan oleh Allah dari makhluk lainnya berupa akal pikiran. Pendapat atau pikiran yang semata - mata didasarkan atas akal manusia, kadang - kadang menyesatkan manusia itu sendiri. Oleh karena itu akal pikiran perlu dibimbing oleh aqidah
akhlak agar manusia terbebas atau terhindar dari kehidupan yang sesat.
C. Keterkaitan Antara Akhlak Peserta Didik dengan Hasil Belajar Mata