HUBUNGAN KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI DENGAN KEMAMPUAN LITERASI SAINS GURU BIOLOGI
4. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan penelitian yang
telah dilakukan maka dapat diketahui skor hasil pengukuran diperoleh dari hasil tes yang dilakukan pada sampel sebanyak 20 orang guru biologi SMA.
Skor responden hasil penelitian pengukuran kemampuan berpikir tingkat tinggi dan kemampuan literasi sains dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Skor Responden No.
Responden
Kemampuan Berpikir Tingkat
Tinggi (BTT)
Kemampuan Literasi Sains (LS)
1 66 60
2 66 66
3 64 76
4 66 66
5 60 60
6 82 73
7 80 50
8 66 63
9 68 70
10 72 73
11 76 76
12 72 73
13 82 76
14 82 76
15 66 70
16 78 66
17 70 60
18 78 80
19 78 80
20 78 73
Berdasarkan data skor responden pada Tabal.1 pengujian prasyarat meliputi pengujian normalitas dan homogenitas. Pengujian normalitas dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov pada α=0,05 pada program SPSS 16.0. Pada pengujian normalitas skor kemampuan berpikir tingkat tinggi diketahui bahwa nilai p=0,06 lebih besar dari level signifikansi 0,05 yang berarti terima H0 pada α=0,05. Pada pengujian normalitas skor kemampuan literasi sains diketahui bahwa nilai p=0,15 lebih besar dari level signifikansi 0,05 yang berarti terima H0 pada α=0,05. Hal ini menunjukkan data skor kemampuan berpikir tingkat tinggi dan kemampuan literasi sains berdistribusi normal.
Uji yang digunakan dalam uji homogenitas adalah uji homogenitas variansi pada program SPSS 16.0. Hasil dari pengujian diketahui bahwa nilai p=0,22 lebih besar dari level signifikansi 0,05 yang menunjukkan data berasal dari populasi yang homogen.
Hasil penelitian yang telah diuji prasyarat kemudian diuji dengan menggunakan analisis uji korelasi sederhana (bivariate correlation), menggunakan Pearson Correlation (Pearson Product Moment) pada program SPSS 16.0. Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kemampuan berpikir tingkat tinggi dengan kemampuan literasi sains, mengetahui bagaimana arah hubungan tersebut dan seberapa besar hubungan tersebut. Hasil uji korelasi sederhana dapat dilihat pada
90 Tabel 2. di bawah ini.
BTT BTT Pearson Correlation 1
Sig. (2-tailed)
N 20
LS Pearson Correlation .362 Sig. (2-tailed) .117
N 20
Pada hasil diperoleh nilai Pearson Correlation (koefisien korelasi) sebesar rxy =0,362. Hal ini menunjukan arah korelasi positif yaitu terdapat hubungan berbanding lurus antara kemampuan berpikir tingkat tinggi dengan kemampuan literasi sains, yang artinya bahwa semakin tinggi kemampuan berpikir tingkat tinggi seorang gurumaka semakin tinggi pula skor kemampuan literasi sainsnya, demikian pula sebaliknya. Hasil tersebut memperlihatkan kesesuaian dengan temuan penelitian yang dilakukan oleh Anggraini (2014) hasil penelitiannya menyebutkan bahwa kemampuan literasi sains kelas X berbanding lurus dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi kelas X pada konten biologi.
Besaran korelasi (0,362) yang lebih kecil dari 0,5 menunjukkan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi berkorelasi kurang kuat dengan kemampuan literasi sains. Adanya hubungan antara kemampuan berpikir tingkat tinggi dengan kemampuan literasi sains, hal ini dibuktikan dengan ketika seorang guru biologi SMA menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang meliputi kemampuan berpikir kritis dan kreatif dalam upaya menentukan keputusan dan memecahkan berbagai permasalahan sains yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari seperti pemanasan global, krisis pangan, revolusi hijau, biodiversitas, kesehatan, penyakit, gizi, pencemaran lingkungan, pembentukan dan perusakan tanah, cuaca dan iklim, serta bioteknologi.
Hasil uji korelasi sederhana diketahui bahwa nilai signifikansi koefisien korelasi sebesar (p=0,117) lebih besar dari level signifikansi 0,05 yang artinya tidak ada hubungan secara signifikan antara kemampuan berpikir tingkat tinggi dengan kemampuan literasi sains.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa:
1) Terdapat hubungan positif (berbanding lurus) antara kemampuan berpikir tingkat tinggi dengan kemampuan literasi sains pada guru biologi SMA.
2) Kemampuan berpikir tingkat tinggi berkorelasi kurang kuat dengan kemampuan literasi sainspada guru biologi SMA.
DAFTAR PUSTAKA
Anderson, W. L., & Krathwohl, R. D.
2001. Kerangka Landasan untuk Pembelajaran, Pengajaran dan Assesmen. Terjemahan Agung Prihantoro. 2010. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Angraini, G. 2014. Analisis Kemampuan Literasi Sains dan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi (HOTS- Higher Order Thingking Skill) Siswa SMAN Kelas X DI Kota Soloks Pada Konten Biologi.
Tesis UPI: Tidak diterbitkan.
Costa, A. L. 1985. Developing mind, A Resource Book for Theaching Thinking. Alexandria: ASCD.
Deboer, G., E. 2000. Scientific Literacy:
Another Look at Its Historical
and Contemporary
Meaningsand Its Relationship to Science Education Reform.
Journal Of Research In Science Teaching. 37(6), 582-601.
Eka, W., D. 2015. Implementasi Pembelajaran Scientific Approach dengan Soal Higher
91 Order Thinking Skillspada Materi Alat-alat Optik Kelas X di SMA Nahdlatul Ulama 1 Gresik.
Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika.
ISSN: 2302-4496. (04) 03. 32-37.
Hadinugraha, S. 2012. Analisis Literasi Sains Berdasarkan Kerangka PISA (The Programme for Internatinal Student Assessment) Pada Konten Pengetahuan Biologi. Skripsi UPI: Tidak diterbitkan.
Hamalik, O. 2004. Media Pendidikan.
Bandung: PT Cipta Adiya Bakti.
Heong, Y.M., Othman, W.D., Md Yunos, J., Kiong, T.T., Hassan, R., & Mohamad, M.M.
2011. The Level of Marzano Higher Order Thinking Skills Among Technical Education Students. International Journal of Social and Humanity, Vol. 1, No. 2, July 2011, 121-125
Kemendikbud. 2014. Pembelajaran Biologi melalui Pendekatan Saintifik. Direktorat Jendral Pendidikan Menengah, Direktorat Pembinaan SMA: Jakarta.
Kemendikbud. 2016. Panduan Penyusunan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS).
Direktorat Jendral Pendidikan Menengah, Direktorat Pembinaan SMA: Jakarta.
Liliasari. 2011. Pengembangan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi siswa sebagai dampak Lesson Study. Jakarta: UPI.
Made, P., I. 2016. Pengujian Hipotesis dalam Penelitian-Penelitian.
Bandung: Alfabeta
National Committee on Science Education Standards [NCSES].1996. National Science Education Standards.
Washington. DC: National Academy of Sciences.
National Science Teachers Association [NSTA]. 2003. Standards for Science Teacher Preparation.
Diunduh dari
http://NSTA/revised/2003.
Nickerson, R., S. 1985. The Teaching of Thinking. New Jersey: Laurence Erlbaum Associates Publisher.
Organization for Economic Cooperation and Development [OECD]. 2006.
Assessing Scientific, Reading and Mathematical Literacy A Framework for PISA 2006.
Diunduh dari
http://www.oecd.org/pisa/pisa products.
Organization for Economic Cooperation and Development [OECD]. 2009.
Take the test: sample questions from OECD’s PISA Assessments.
Diunduh dari
http://www.oecd.org/pisa/pisa products.
Organization for Economic Cooperation and Development [OECD]. 2013.
Draft Science Framework.
Diunduh dari
http://www.oecd.org/pisa/pisapro ducts.
Organization for Economic Cooperation and Development [OECD]. 2014.
PISA 2012 Results in Focus What 15-year-olds know and what they can do with what they know.Diunduh
darihttp://www.oecd.org/pisa/k eyfindings/pisa-2012-results- overview.pdf.
Özgelen, S. 2012. Students’ Science Process Skills within a Cognitive Domain Framework. Eurasia Journal of Mathematics, Science
& Technology Education. 8(4), 283-292.
Rifqiati. 2013. Analisis Literasi Sains Dan Kemampuan Melakukan
92 Mini Riset Mahasiswa Biologi.
Tesis UPI: Tidak diterbitkan Rochmah, L., N. dan Widi, W., A. 2015.
Analisis Soal Tipe Higher Order Thinking Skills (HOTS) dalam Soal UN Kimia SMA Rayon B Tahun 2012/2013. Jurnal Kaunia.
IX (1). 1436: 27-39. ISSN: 1829- 5266 (print). ISSN: 2301-8550 (online).
Setiawati, D. W. 2013.
Analisis Literasi Sains Guru Biologi SMA Dan PenerapannyaDalam Proses
Mengembangkan LKS Inkuiri.
Tesis UPI: Tidak diterbitkan.
Shofiyah, N. 2015. Deskripsi Literasi Sains Awal Mahasiswa Pendidikan IPA Pada Konsep IPA. Journal Pedagogia. 4(2).
Sulastri, A. 2014. Kontribusi Literasi
Sains Dan Korelasinya Terhadap Perilaku Sehat Siswa Sekolah Lanjutan Atas Kelas X.Tesis UPI: Tidak diterbitkan.
Suwarno dan Zulfadli. 2008. Profil Literasi Sains dan Teknologi
Guru mata Pelajaran IPA SD dan SMP serta hubungannya dengan Prestasi Belajar IPA Peserta didik SD dan SMP di Kabupaten Gayo Luwes, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Jurnal Pendidikan Serambi Ilmu.
Universitas Serambi Mekkah.
Toharudin, U., Hendrawati, S., Rustaman, A., 2011.
Membangun Literasi Sains Peserta Didik.
Bandung:
Humaniora.
Wardana, N. 2010. Hubungan Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Ketahanmalangan
Terhadap Kemampuan
Berpikir Tingkat Tinggi dan Pemahaman Konsep Fisika.
Diunduh dari
http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admi
n/jurnal/621016251635_1858-
4543.
93