• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil dan Pembahasan

1. Praktik Sistem Kerjasama Antara Nelayan dan Pemilik Kapal Menjadi seorang nelayan adalah suatu perjuangan yang luar biasa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat.

Seperti halnya yang terjadi di Desa Bontosunggu yang sebagian penduduk pinggir pantai bekerja sebagai nelayan dan yang lainnya sebagai pemilik modal. Mereka bekerja sama dengan maksud dan tujuan yang sama yaitu untuk mendapatkan keuntungan. Kerjasama ini terjadi karena penduduknya ada yang mempunyai peralatan melaut dan juga ada yang tidak.

Bapak Azis Daeng Taba menjelaskan bahwa alasan beliau ikut bekerja sama dengan pemilik kapal yang bernama Bapak H Lotteng karena memang beliau tidak mempunyai perlengkapan melaut sendiri.

Alasan saya dulu mau ikut gabung sama yang punya kapal karena saya tidak punya alat sendiri untuk pergi tangkap ikan, jadi daripada tidak ada penghasilan ya kita kerjasama saja32. Sistem pembagian yang dilakukan oleh pemilik kapal itu 30 % : 70 % dari keuntungan. Jadi setelah ikannnya dijual maka dikurangi biaya modal melaut setelah itu baru dibagi sesuai dengan kesepakatan.

32 Bapak Azis Daeng Taba, Hasil Wawancara, 9 Maret 2020.

Alasan Bapak Rasyid Nandri ikut bekerjasama dengan pemilik kapal yang bernama Bapak H Narang selain karena beliau tidak mempunyai perlengkapan melaut sendiri beliau juga merasa bahwa tidak punya keahlian lain selain mencari ikan dan juga penghasilannya sangat menjanjikan.

Alasan saya mau ikut kerjasama ini karena memang saya tidak punya perlengkapan untuk pergi mencari ikan sendiri dan saya tidak tau kerja yang lain Cuma bisa cari ikan saja, ya sudah kita ikut orang saja33.

Sistem bagi hasil yang diterapkan sama pemilik kapal yaitu 50 % : 50

% dari keuntungan, setelah semua ikan dijual dikurangi modal terlebih dahulu baru sisanya dibagi sesuai dengan kesepakatan.

Sedangakan alasan Bapak Sunar Suang ikut bekerjasama dengan pemilik kapal yang bernama Bapak Aisar Hamid karena beliau tidak mempunyai perlengkapan melaut, mau bertani tidak punya lahan, mau berdagang tidak punya keberanian, akhirnya beliau memilih untuk ikut bekerja sama dan dipercaya sebagai nahkoda kapal dan mendapat penghasilan yang cukup menjanjikan. Sistem bagi hasilnya yaitu 30 % : 70 % dari keuntungan.

Alasan saya mau menjalankan kerja sama ini karena tidak punya kapal sendiri untuk pergi tangkap ikan, mau saya tanam sayur juga tidak punya tempatnya, mau coba jualan tapi belum pernah jualan. Mau tidak mau ya kita harus ikut sama orang34. Dari hasil wawancara kepada ketiga nelayan tersebut dapat disimpulkan bahwa alasan mereka ikut bekerjasama dengan pemilik

33 Bapak Rasyid Nandri, Hasil Wawancara, 9 Maret 2020.

34 Bapak Sunar Suang, Hasil Wawancara, 9 Maret 2020.

43

kapal sebagai nelayan adalah karena mereka tidak mempunyai perlengkapan melaut dan juga tidak mempunyai keahlian dibidang lain.

Bentuk kerjasama ini melibatkan 2 pihak yaitu pihak pertama selaku pemodal (pemilik kapal) dan pihak kedua selaku pengelola (nelayan), yang mana bentuk kerjasama mereka dengan modal berbentuk barang yaitu berupa kapal dan kebutuhan lainnya seperti cat, bahan bakar, es batu balok, bahan makanan, dll. Ada juga pemilik kapal yang memberikan modal berupa uang, dan uang itu akan diserahkan kepada nelayan untuk dibelanjakan kebutuhan yang semuanya sama saja antara 1 kapal dengan kapal lainnya. Dan keuntungan yang akan di terima oleh pihak kedua atau pihak pengelola (nelayan) ketika hasil tangkapan telah di jual dan keuntungan nelayan dibagi setelah dikeluarkan terlebih dahulu modal, dan juga bagian dari pemilik kapal35.

Akad yang digunakan dalam kerjasama yang terjadi di Desa Bontosunggu ini adalah berbicara secara langsung antara pemilik kapal dan nelayan, tidak ada perjanjian diatas hitam putih, hanya bermodalkan kepercayaan antara kedua belah pihak, selain itu orang- orang yang terlibat kerjasama ini adalah warga setempat yang mana mereka juga sudah saling mengenal. Ketika melakukan perjanjian ini kedua belah pihak akan membahas tentang sistem kerjasama, bagi

35 Bapak Aisar Hamid, Hasil Wawancara, 9 Mret 2020.

hasil, tugas serta tanggung jawab masing-masing. Nelayan mempunyai tugas untuk mencari ikan, tetapi didalam satu kapal itu nelayan mempunyai tugas dan peran masing-masing ada sebagai koki, juru mudi, juru mesin, ABK, jadi mereka bekerja sesuai tugasnya masing- masing. Sedangkan kewajiban pemilik kapal yaitu membiayai segala apa yang diperlukan untuk melaut, serta membantu untuk membiayai kehidupan keluarga anggota nelayan selama suami mereka sedang melaksanakan kewajiban mereka36.

Dari hasil wawancara yang dilakukan kepada pemilik kapal dan juga nelayan, secara umum sistem kerjasama yang dilakukan relative sama. Pemilik kapal adalah pihak sebagai pemberi modal memberikan semua kebutuhan melaut sementara itu nelayan berkontribusi dalam hal waktu, tenaga, dan keahliana mereka.

. kerjasama antara nelayan dan pemilik kapal sama-sama mempunyai tujuan untuk memperoleh keuntungan. Pembagian keuntungan antara kedua belah pihak yaitu dalam bentuk bagi hasil.

Dimana proses bagi hasil ini akan dilakukan setelah mereka menjual hasil tangkapan mereka. Besar presentase bagi hasil kerjasama antara nelayan dan pemilik kapal di Desa Bontosunggu berbeda-beda, tergantung dari kesepakatan awal saat mereka melakukan perjanjian kerjasama. Penentuan bagi hasil ini biasanya di lakukan bersama dengan cara berdiskusi antara kedua belah pihak, tetapi ada juga

36 Bapak H Narang, Hasil Wawancara, 16 Maret 2020.

45

penentuannya dilakukan oleh pemilik kapal itu sendiri. Mau itu ditentukan bersama ataupun ditentukan sendiri oleh pemilik kapal, selama ini saya merasa belum pernah ada kecurangan atau saya merasa tidak adil karena perjanjian ini juga disepakati bersama oleh kedua belah pihak37.

Perhitungan bagi hasil yang diterapkan oleh Bapak H Lotteng yaitu setelah ikannya dijual maka akan dipotong dikeluarkan modal terlebih dahulu, setelah itu keuntungan itu akan di potong 30 % untuk pemilik kapal dan sisanya itulah yang akan menjadi keuntungan untuk nelayan. Semua anggota mendapatkan bagian yang sama kecuali juru mudi akan mendapatkan 2 bagian dari nelayan yang lainnya. Bagi hasil ini dapat di contohkan sebagai berikut. Jumlah nelayan yang ikut melaut ada 6 orang terdiri dari: 1 orang nahkoda, 1 orang juru mesin, 1 orang juru masak, dan 3 orang ABK. Lama waktu pencarian ikan selama 7 hari, dengan total modal sebesar Rp 50.000.000. Dengan hasil tangkapan sebesar Rp 100.000.000.

Laba kotor - Modal = RP 100.000.000 – Rp 50.000.000

= Rp 50.000.000 Nisbah pemilik kapal 30 % = Rp 15.000.000

Total bagi pemilik kapal = Rp 50.000.000 + 15.000.000

= Rp 65.000.00 Nisbah nelayan 70 % = Rp 35.000.000

37 Bapak Sunar Suang, Hasil Wawancara, 9 Maret 2020.

Karena total nelayan ada 6 orang, maka total bagian berjumlah 7 orang. Inilah bagian masing-masing nelayan :

Keuntungan nelayan = Rp 35.000.000 : 7

= Rp 5.000.000

Nahkoda = 2 x Rp 5.000.000

= Rp 10.000.000

KKM = 1 x Rp 5.000.000

= Rp 5.000.000

Juru masak = 1 x Rp 5.000.000

=Rp 5.000.000

ABK = 1 x Rp 5.000.000

= Rp 5.000.00038.

Perhitungan bagi hasil yang diterapkan oleh Bapak H Narang yaitu setelah ikannya dijual maka akan dikeluarkan modal, setelah itu hasilnya akan dibagi sama rata yaitu 50 % untuk pemilik kapal dan 50

% utuks nelayan. Semua anggota mendapatkan bagian yang sama kecuali juru mudi akan mendapatkan 2 bagian dari nelayan yang lainnya. Dalam kerja sama ini juga segala kerugian akan dibebankan sepenuhnya kepada nelayan. Bagi hasil ini dapat di contohkan sebagai berikut: Jumlah nelayan yang ikut melaut ada 8 orang terdiri dari: 1 orang nahkoda, 2 orang juru mesin, 1 orang juru masak, dan 4 orang ABK. Lama waktu pencarian ikan selama 7 hari, dengan total modal

38 Bapak H Lotteng, Hasil Wawancara, 16 Maret 2020.

47

sebesar Rp 50.000.000. Dengan hasil tangkapan sebesar Rp 150.000.000.

Laba kotor – modal = RP 150.000.000 – Rp 50.000.000

= Rp 100.000.000 Nisbah pemilik kapal 50 % = Rp 50.000.000

Total bagi pemilik kapal yaitu = Rp 50.000.000 + Rp 50.000.000

= Rp 100.000.000 Nisbah nelayan 50 % = Rp50.000.000

Karena total nelayan ada 8 orang, maka total bagian berjumlah 9 orang. Inilah bagian masing-masing nelayan :

Keuntungan nelayan = Rp 50.000.000 : 9

= Rp 5.555.555

Nahkoda = 2 x Rp 5.555.555

= Rp 11.111.110

KKM = 1 x Rp 5.555.555

= Rp 5.555.555

Juru masak = 1 x Rp 5.555.555

=Rp 5.555.555

ABK = 1 x Rp 5.555.555

= Rp 5.555.55539.

Perhitungan bagi hasil yang diterapkan oleh Bapak Aisar Hamid yaitu setelah ikannya dijual maka akan dikeluarkan modal,

39 Bapak H Narang, Hasil Wawancara, 16 Maret 2020.

setelah itu hasilnya akan dibagi sama rata yaitu 30 % untuk pemilik kapal dan 70 % utuk nelayan. Semua anggota mendapatkan bagian yang sama kecuali juru mudi akan mendapatkan 2 bagian dari nelayan yang lainnya. Bagi hasil ini dapat di contohkan sebagai berikut. Jumlah nelayan yang ikut melaut ada 6 orang terdiri dari: 1 orang nahkoda, 1 orang juru mesin, 1 orang juru masak, dan 3 orang ABK. Lama waktu pencarian ikan selama 5 hari, dengan total modal sebesar Rp 40.000.000. Dengan hasil tangkapan sebesar Rp 100.000.000.

Laba kotor – modal = RP 100.000.000 – Rp 40.000.000

= Rp 60.000.000 Nisbah pemilik kapal 30 % = Rp 18.000.000

Total bagi pemilik kapal yaitu = Rp 18.000.000 + Rp 40.000.000

= Rp 58.000.000 Nisbah untuk nelayan 70 % = Rp 42.000.000

Karena total nelayan ada 6 orang, maka total bagian berjumlah 7 orang. Inilah bagian masing-masing nelayan :

Keuntungan nelayan = Rp 42.000.000 : 7

= Rp 6.000.000

Nahkoda = 2 x Rp 6.000.000

= Rp 12.000.000

KKM = 1 x Rp 6.000.000

= Rp 6.000.000

Juru masak = 1 x Rp 6.000.000

49

=Rp 6.000.000

ABK = 1 x Rp 6.000.000

= Rp 6.000.00040

Dalam sistem kerja sama ini pembebanan kerugian di setiap kapal juga berbeda-beda, semuanya tergantung dari kesepakatan antara nelayan dan pemilik kapal itu sendiri. Dari hasil wawancara yang peneliti lakukan yang terdiri dari 3 orang pemilik kapal dan juga 3 orang nelayan di Desa Bontosunggu ini terdapat 1 orang pemilik kapal yang membebankan kerugian kerjasama ini kepada nelayan.

Menurut Bapak H Lotteng selaku pemilik kapal beliau membebankan kerugian kerjasama ini kepada nelayan karena beliau menganggap bahwa nelayan yang mengelola usaha tersebut sedangkan beliau hanya bertanggungjawab untuk memberikan modal serta membantu keluarga mereka selama para nelayan ini pergi berlayar41.

2. Tinjauan hukum Islam terhadap kerjasama antara nelayan dan pemilik kapal di Kabupaten Takalar

Berikut adalah hasil wawancara peneliti dengan tokoh agama Ustad Saidin Mansyur:

Akad mudharabah adalah suaru akad/ kontrak/ perjanjian yang sudah ditentukan dari awal antara pemilik modal dengan pengelola.

Dimana dalam perjanjian tersebut menjelaskan bahwa pemilik modal adalah pemilik 100 % modal, sedangkan pengelola bertindak sebagai

40 Bapak Aisar Hamid, Hasil Wawancara, 9 Maret 2020.

41 Bapak H Lotteng, Hasil Wawancara, 16 Maret 2020.

pengelola modal tersebut untuk jenis usaha yang halal. Singkatnya akad Mudharabah adalah akad kerja sama pemodal dengan pengelola untuk suatu usaha. Pemodal menyiapkan modal dan pengelola sebagai pelaksana kegiatan usaha dengan pembagian keuntungan sesuai yang disepakati.

Berdasarkan penjelasan di atas, bahwa kerjasama antara pemilik kapal dan nelayan, menunjukkkan bahwa kerjasama antara kedua belah pihak yaitu pemilik kapal dan nelayan adalah adalah Mudharabah.

Kerjasama antara pemodal dengan nelayan, prinsipnya kerjasama ini diperkenankan dalam islam. Dalam praktik kehidupan, tidak semua orang sama dalam hal permodalan, skill mengelola usaha.

Karenanya, sering kali terjadi kerjasama yang saling memberi keuntungan.

Dipesisir misalnya, lazim terjadi kerjasama antara pemodal dengan nelayan. Umumnya, orang kaya/ pemodal menyerahkan modal kepada nelayan untuk digunakan dalam rangka mencari ikan. Dimana dalam kerjasama itu akan ada poin-poin kesepakatan kedua belah pihak. Misalnya soal apakah usaha melaut oleh juragan/ sepenuhya tanggungjawabnya. Kalau misalkan ada kerugian, kecelakaan apakah juragan turut bertanggung jawab. Di sejumlah daerah ada juragan yang turut melaut. Ada juga yang tidak sama sekali dan hanya menanti hasil untuk dibagi keuntungannya setelah biaya operasional dikeluarkan.

51

Didalam kerjasama, kejujuran, tanggungjawab, keuletan sangat dipentingkan agar mendapatkan hasil maksimal.

Q.S Al-maidah : 2 :

ُعْلٱَو ِمْثِ ْلْٱ ىَلَع ۟اوُنَواَعَت َلاَو ۖ َوْقَّتلٱَو ِّرِبْلٱ ىَلَع ۟اوُنَواَعَتَو ۚ ِن َوْد

باَقِعْلٱ ُديِدَش َ َّللَّٱ َّنِإ ۖ َ َّللَّٱ ۟اوُقَّتٱَو

Terjemahannya:

Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah maha berat siksa-Nya.

Dalam Q.S Al-Maidah ayat 2 berisi perintah saling tolong menolong antar manusia dalam kebajikan. Kerjasama antara pemilik kapal dan nelayan adalah bagian dari tolong menolong dimana pemilik kapal menolong nelayan dengan menyediakan modal sedangkan nelayan menolong pemilik kapal dengan cara mengelola modal yang telah disediakan oleh pemilik kapal.

Dalam menjalin kerjasama harus saling mempercayai.

Kejujuran menjadi hal yang sangat penting, disamping profesionalitas pelaksana usaha. Karenanya, suatu kesepakatan harus lahir dari keikhlasan tanpa beban. Kalau didalamnya ada paksaan, spekulasi dll maka tentu tidak sesuai dengan aturan syariah. Apalagi memang kerjasama itu harus berbasis taawun/ tolong menolong dan bukan untuk mengeksploitasi manusia atas manusia. Dalam menjalin kerjasama pada prinsipnya syariah mengatur agar tidak ada tindak

eksploitasi, kecurangan, mau untung sendiri, kebohongan, spekulasi, dll.

Dalam ketentuan kerjasama mudharabah ini, pemodal bertanggung jawab penuh atas kerugian, jika kerugian bukan karena kelalaian pengelola, tetapi apabila kerugian karena kelalaian dari pengelola modal maka pengelola modal harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut.

53

BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian sebelumnya, peneliti dapat menyimpulkan bahwa : 1. Kerjasama yang terjadi antara pemilik kapal dan nelayan di Desa

Bontosunggu ini masuk dalam kerjasama Mudharabah. Yaitu salah satu pihak selaku pemilik modal (pemilik kapal) dan pihak lainnya adalah pengelola modal (nelayan).

2. Kerjasama yang terlaksana antara pemilik kapal dan nelayan menggunakan akad mudharabah, seperti dalam Q.S Al-Maidah : 5:

َوْدُعْلٱَو ِمْثِ ْلْٱ ىَلَع ۟اوُنَواَعَت َلاَو ۖ َوْقَّتلٱَو ِّرِبْلٱ ىَلَع ۟اوُنَواَعَتَو ۚ ِن

باَقِعْلٱ ُديِدَش َ َّللَّٱ َّنِإ ۖ َ َّللَّٱ ۟اوُقَّتٱَو

Terjemahannya:

Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya.

Ayat diatas memperbolehkan umat manusia untuk saling tolong menolong dalam kebajikan seperti yang terjadi antara nelayan dan pemilik kapal. Pemilik kapal membantu nelayan menyediakan modal dan nelayan membantu pemilik kapal untuk mengelola modal tersebut.

B. SARAN

Berdasarkan uraian sebelumnya, maka peneliti sampaikan beberapa saran yaitu :

1. Akad kerja sama antara nelayan dan pemilik kapal masih secara lisan.

Seharusnya menggunakan perjanjian diatas kertas (tertulis) guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan kedepannya.

2. Penelitian masih membutuhkan tindakan lebih lanjut untuk mengetahui peranan ayat terkait kajian lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

55

DAFTAR PUSTAKA

Adiwarman A Karim. 2017. Bank Islam: Analsis Fiqih dan Keuangan. Jakarta:

PT Raja Grafindo.

Apridar, dkk. 2011. Ekonomi Kelautan dan Pesisir. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Arikunto, Suharsimi. 2012. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.

Jakarta: Rineka Cipta.

Departemen Agama RI. 2004. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Bandung:

Jumanatul Ali Art (J-ART).

Djuwaini. 2008. Pengantar Fiqh Muamalah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Khosyi’ah, R. 2014. Fiqh Muamalah Perbandingan. Bandung: CV P ustaka Setia.

Lina A W.,Mimit P. 2018. Ekonomi Produksi Kelautan dan Perikanan.

Miles., Matthew B. 1992. Analisis data Kualitatif, Terjemahan Tjepjep Rohendi Rohidi. Jakarta: UI Press.

Moleong, Lexy. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Muhammad A Antonio. 2001. Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik. Jakarta:

Insani Press.

Nawawi, I. 2012. Fiqih Muamalah Klasik dan Kontemporer. Bogor: Ghalia Indonesia.

Rachmat, Maman. 2011. Metode Penelitian Pendidikan Moral. Semarang: Unnes Press.

Sayyid, S. 2006. Fiqh Sunnah Jilid IV. Jakarta: Pena Pundi Aksara.

Sugiyono. 2013. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Syafe’I, R. 2001. Fiqih Muamalah. Bandung: Pustaka Setia.

Tim Laskar Pelangi. 2013. Metodologi Fiqih Muamalah (Diskursus Metodologi Konsep Interaksi Sosial-Ekonomi. Kediri: Lirboyo Press.

Udovitch Abraham L. 2008. Kerja Sama Syariah dan Bagi Untung-Rugi dalam Sejarah Islam Abad Pertengahan. Kediri: Qubah.

Wawancara dengan Bapak Azis Daeng Taba, nelayan Desa Bontosunggu.

Wawancara dengan Bapak Sunar Suang, nelayan Desa Bontosunggu.

Wawancara dengan Bapak Rasyid Nandri, Nelayan Desa Bontosunggu Wawancara dengan Bapak H Lotteng, Pemilik kapal Desa Bontosunggu.

Wawancara dengan Bapak Aisar Hamid, Pemilik kapal Desa Bontosunggu.

Wawancara dengan Bapak H Narang, Pemilik Kapal Desa Bontosunggu.

Wawancara dengan Bapak Saidin Mansyur, tokoh Agama.

Zaenuddin A Naufal. 2012. Fiqih Muamalah Klasik dan Kontemporer. Bogor:

Ghalia Nusantara.

57

RIWAYAT HIDUP

Slamet Prihatin, lahir di Kediri, 16 Maret 1995, putri ke 6 dari pasangan Sutoro dan Parinem. Penulis menyelesaikan jenjang pendidikan di SD Negeri Inpres Waropen tahun 2006. Kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Muhammadiyah Serui tahun 2009. Lalu kemudian melanjutkan pendidikan di SMK Muhammadiyah Serui pada tahun 2012. Lalu pada tahun 2016 penulis melanjutkan pendidika Perguruan Tinggi di Universitas Muhammadiyah Makassar Fakultas Agama Islam pada Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (S1).

LAMPIRAN

DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA ( PEMILIK KAPAL ) 1. Sudah berapa lama bapak mempunyai perahu ?

a. Sejak tahun berapa

b. Beli perahunya pakai modal siapa

c. Berapa banyak perahu yang bapak miliki

2. Sudah berapa lama bekerjasama dengan para nelayan ? a. Ada berapa orang anggota

b. Apa saja tugas dan peran para nelayan c. Setiap orang dapat berapa penghasilan

3. Darimana bapak mendapatkan modal untuk membeli peralatan melaut ? 4. Apakah bapak ikut pergi melaut bersama para nelayan ? alasannya 5. Apa saja hak dan kewajiban menjadi juragan (pemilik kapal) ?

6. Bagaimana sistem kerjasama yang bapak lakukan dengan para nelayan ? 7. Bagaimana awal mula terjalinnya kerjasama antara bapak dengan para

nelayan ?

8. Apa resiko yang biasanya dihadapi oleh para nelayan ketika melaut ? 9. Bagaimana cara nelayan ketika menghadapi resiko pekerjaannya ?

a. Siapa yang menanggung kerugian

10. Apa saja hasil tangkapan laut yang diperoleh nelayan ketika melaut ? a. Di jual kemana

b. Bagaimana sistem jualnya c. Yang menentukan harga siapa

59

11. Berapa banyak jumlah hasil tangkapan laut yang biasanya dihasilkan oleh para nelayan ?

12. Bagaimana cara pembagian hasil kerjasama antara bapak dan para nelayan?

DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA (NELAYAN)

1. Bagaimana awal mula sehingga terjalin kerjasama antara bapak dengan pemilik kapal ?

2. Sudah berapa lama bapak bekerja sebagai nelayan dan melakukan kerjasama melaut dengan para pemilik kapal ?

3. Apa saja hak dan kewajiban menjadi nelayan ?

4. Bagaimana sistem kerjasama yang bapak lakukan dengan pemilik kapal ? 5. Apa saja resiko yang biasanya bapak hadapi ketika melaut ?

6. Bagaimana cara bapak menghadapi resiko tersebut ? 7. Bagaimana cara pembagian hasil kerjasama ini ?

8. Apakah ada kecurangan atau ketidakadilan ketika pembagian hasil kerjasama ini ?

9. Bagaimna kalau bapak tidak bias ikut melaut karena sakit ? a. Apa juragan akan membantu

10. Bagaimana kalau terjadi kecelakaan dilaut ?

DAFTAR WAWANCARA UNTUK TOKOH AGAMA 1. Apa itu akad Mudharabah ?

2. Bagaimana cara menjalankan akad mudharabah menurut syariat islam ? 3. Bagaimana tinjauan Hukum Islam terhadap sistem kerja sama antara

nelayan dan pemilik kapal ?

4. Batasan dan persyaratan/kesepakatan kerja sama yang dibenarkan syariat islam ?

5. Bagaiamana jika pemilik kapal membebankan kerugian usaha kepada nelayan ?

6. Apakah kerja sama yang terjadi antara nelayan dan pemiik kapal di Desa Bontosunggu sudah sesuai syariat ?

7. Saran untuk nelayan dan pemilik kapal ?

61

Dokumen terkait