BAB III METODOLOGI PENELITIAN
G. Teknik Analisis Data
Analisi yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis data kualitatif. Analisis data kualitatif bersifat induktif, yaitu suatu
33
analisis berdasarkan data yang diperoleh, analisis data terdiri dari 3 (tiga) alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu30:
1. Reduksi data
Reduksi data yaitu proses pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi dta “kasar” peneliti tidak perlu mengartikannya sebagai kuantifikasi, data kualitatif dapat disederhanakan dan ditransformasikan dalam aneka macam cara, yakni melalui seleksi yang ketat, melalui ringkasan atau uraian singkat, menggolongkannya dalan satu pola yang lebih luas, dan sebagainya.
Kadang kala dapat juga mengubah data kedalam angka-angka atau peringkat-peringkat, tetapi tindakan ini tidak selalu bijaksana. Reduksi data di lakukan peneliti dengan memilih dan memutuskan data hasil wawancara dan observasi di lapangan.
2. Penyajian data
Penyajian data adalah menyusun sekumpulan informasi yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian-penyajian data yang di rancangkan guna menggabungkan informasi yang tersusun dalam suatu bentuk yang padu dan mudah di raih misalnya dituangkan dalam berbagai jenis matriks, grafik, dan bagan.
3. Penarikan kesimpulan/verifikasi
30 Rahman, Maman, Metode Penelitian Pendidikan Moral, (Semarang: Unnes Press, 2011), 173.
Penarikan kesimpulan adalah kegiatan mencari arti, mencatat keteraturan, pola-pola penjelasan, alur sebab-akibat dan proposi.
Kesimpulan juga diverifikasikan selama penelitan berlangsung.
Verifikasi adalah penarikan kembali yang melintas dalam pikiran penganalisis selama penyimpulan, suatu tinjauan ulang pada catatan- catatan lapangan dan meminta responden yang telah dijaring datanya untuk membaca kesimpulan yang telah disimpulkan peneliti. Makna- makna yang muncul sebagai kesimpulan data teruji kebenarannnya, kekokohannnya, dan kecocokannya31.
31 Miles, Matthew B dan A, Michael Huberman, Analisis Data Kualitatif, Terjemahan Tjetjet Rohendi Rohidi, (Jakarta, UI Press, 1992), 16-17.
35
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Sejarah Desa
Desa Bontosunggu berada dalam wilayah Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan. Potensi Desa Bontosunggu berada dalam sektor perikanan/kelautan dan sektor pertanian. Wilayah Desa berbatasan langsung dengan selat Makassar, sehingga mayoritas penduduk berprofesi sebagai nelayan.
Sepanjang sejarah kelahirannya, Desa Bontosunggu telah dipimpin sebanyak 6 orang kepala desa. Saat ini Desa Bontosunggu dipimpin oleh Saparuddin Bani yang terpilih sejak Juni 2016 periode sebelumnya 2010 – 2016 dijabat oleh M. Hasyim Rala.
2. Demografi
Kepadatan Desa Bontosunggu dari luas wilayah 0.01 Km2 berkisar 2 jiwa per meter dengan prediksi jumlah penduduk Desa Bontosunggu untuk 5 (lima) tahun kedepan sebanyak 2.395 melihat dari jumlah penduduk dengan luas wilayahnya pertumbuhan naik sekitar 2.13% atau 0.43% pertahunnya.
Desa Bontosunggu yang membawahi 4 wilayah Dusun berikut perbandingan jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin laki-laki dan perempuan di masing-masing Dusun :
Tabel 1.1
Jumlah penduduk (Rumah dan Kepala Keluarga) berdasarkan jenis kelamin
Nama Dusun Jumlah Penduduk Jumlah
jiwa Rumah KK Laki-laki Perempuan
Tamasongo 278 308 549 552 1104
Bontosunggu 385 438 729 743 1472
Kalongkong 379 426 732 738 1470
Maccini Sombala 297 332 648 657 1305
Total 1338 1504 2658 2690 5348
Persentase 49.7% 50.3% 100%
Tabel 1.2
Jumlah siswa dan tenaga pengajar
No Jenis Pendidikan Jumlah Siswa Jumlah Pengajar
1 TK 110 orang 15 orang
2 TPA 220 orang 10 orang
3 SD 455 orang 32 orang
4 SMP/Sederajat Orang Orang
5 SMU/Sederajat
TOTAL Orang Orang
37
Desa Bontosunggu merupakan pusat perniagaan dimana mayoritas penduduk berprofesi sebagai buruh kerja, petani dan nelayan sehingga sektor ini juga menjadi tumpuan hidup sebagian besar penduduknya dan sebagian penduduk berprofesi sebagai PNS, pedagang, wiraswasta, jasa, dan lainnya. Berikut perbandingan persentase jenis mata pencaharian.
Tabel 1.3
Keadaan ekonomi berdasarkan jenis pekerjaan
PEKERJAAN JUMLAH JIWA PERSENTASE
Petani 225 9.3 %
Nelayan 200 6.4 %
Buruh tani 54 2.3 %
Pegawai negeri 40 0.6 %
Pedagang/swasta 125 5.3 %
Jasa 76 3.2 %
Penggarap 123 5.2 %
Tukang kayu 25 1.1 %
Tukang batu 124 5.3 %
Lainnya 91 3.9 %
3. Pembagian Wilayah Desa
Desa Bontosunggu merupakan salah satu dari 9 Desa diwilayah Kecamatan Galesong Utara, yang merupakan Desa Pesisir di
Kecamatan Galesong Utara, yang terletak 4 Km kearah Selatan dari kota Kecamatan. Desa Bontosunggu mempunyai luas wilayah seluas 0,77 Km2. Jumlah penduduk Desa Bontosunggu sebanyak 5348 jiwa yang terdiri dari 2658 laki-laki dan 2690 perempuan dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 1504 KK.
a. Adapun batas wilayah Desa Bontosunggu :
Sebelah Timur : Desa Mandalle Kabupaten Gowa Sebelah Utara : Desa Tamasaju
Sebelah Barat : Selat Makassar Sebelah Selatan : Desa Pa’la’lakkang b. Luas wilayah
Luas Desa Bontosunggu sekitar 0,77 Km2 dari luas tersebut sekitar 122 Ha merupakan lahan pertanian dan 275 Ha merupakan sawah kering. Dari luas tersebut lahan digunakan sebagai tempat tinggal pemukiman/perumahan, lokasi kantor pemerintahan dan tempat perniagaan, lahan tambak serta lahan pertanian.
c. Keadaaan topografi
Secara umum keadaan topografi Desa Bontosunggu adalah daerah dataran rendah. Dengan memiliki 3 wilayah dataran yaitu perkampungan, persawahan dan wilayah pesisir. Semua dusun memiliki garis pantai dan wilayah persawahan.
d. Iklim
39
Iklim Desa Bontosunggu sebagaimana Desa-Desa lain di wilayah Indonesiaberiklim tropis dengan dua musim, yakni kemarau dan hujan.
e. Wilayah administrasi pemerintahan desa
Desa Bontosunggu terdiri atas 4 Dusun yakni, Dusun Tamasongo, Dusun Bbontosunggu, Dusun Kalongkong dan Dusun Maccini Sombala dengan jumlah Rukun Tetangga (RT) sebanyak 21 (RT) dan ( ) RK.
Tabel 1.4
Wilayah administrasi Desa (nama Dusun)
Nama Dusun Jumlah RT Jumlah RK
Bontosunggu 6 -
Tamasongo 5 -
Kalongkong 5 -
Maccini Sombala 5 -
4. Visi dan Misi Desa Bontosunggu a. Visi Desa Bontosunggu
“Mewujudkan ekonomi kerakyatan yang tangguh menuju masyarakat mandiri, demokratis, berkeadilan sosial, aman dan sejahtera.
Adapun penjabaran dari Visi pembangunan Desa Bontosunggu adalah sebagai berikut:
1. Ekonomi Kerakyatan : meningkatkan pendapatan masyarakat berdasarkan usaha kecil dan usaha rumah tangga serta memanfaatkan pasar desa.
2. Masyarakat Mandiri : masyarakat yang mampu merencanakan, mengolah dan mengawasi pembangunan didesa dengan sistem pemberdayaan nasyarakat.
3. Berkeadilan Sosial : masyarakat berkeadilan sosial adalah masyarakat yang mendapatkan pelayanan serta mendapatkan akses pemerintahan tanpa membeda-bedakan.
4. Sejahtera : dimaksudkan adalah bagaimana masyarakat mendapatkan hak dan ketenangan yang sama dalam berbagai macam bentuk kebutuhan kehidupan.
Konsisten dalam proses menuju visi tersebut diatas, merupakan tindakan yang secara terus menerus harus dijaga. Arah menuju tujuan tersebut dapat dideteksi melalui peningkatan pelayanan kepada masyarakat sehingga Desa Bontosunggu menjadi unggul dalam berbagai bidang pembangunan.
b. Misi Desa Bontosunggu
Sedangkan Misi Desa Bontosunggu adalah : 1. Menguatkan rasa persatuan seluruh masyarakat.
2. Meningkatkan sarana dan prasarana perkantoran dan umum.
3. Pengembangan agribisnis berbasis kelompok.
4. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
41
5. Meningkatkan pelayanan masyarakat.
6. Pengembangan ekonomi masyarakat.
7. Membentuk dan mengembangkan Bum Desa.
B. Hasil dan Pembahasan
1. Praktik Sistem Kerjasama Antara Nelayan dan Pemilik Kapal Menjadi seorang nelayan adalah suatu perjuangan yang luar biasa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat.
Seperti halnya yang terjadi di Desa Bontosunggu yang sebagian penduduk pinggir pantai bekerja sebagai nelayan dan yang lainnya sebagai pemilik modal. Mereka bekerja sama dengan maksud dan tujuan yang sama yaitu untuk mendapatkan keuntungan. Kerjasama ini terjadi karena penduduknya ada yang mempunyai peralatan melaut dan juga ada yang tidak.
Bapak Azis Daeng Taba menjelaskan bahwa alasan beliau ikut bekerja sama dengan pemilik kapal yang bernama Bapak H Lotteng karena memang beliau tidak mempunyai perlengkapan melaut sendiri.
Alasan saya dulu mau ikut gabung sama yang punya kapal karena saya tidak punya alat sendiri untuk pergi tangkap ikan, jadi daripada tidak ada penghasilan ya kita kerjasama saja32. Sistem pembagian yang dilakukan oleh pemilik kapal itu 30 % : 70 % dari keuntungan. Jadi setelah ikannnya dijual maka dikurangi biaya modal melaut setelah itu baru dibagi sesuai dengan kesepakatan.
32 Bapak Azis Daeng Taba, Hasil Wawancara, 9 Maret 2020.
Alasan Bapak Rasyid Nandri ikut bekerjasama dengan pemilik kapal yang bernama Bapak H Narang selain karena beliau tidak mempunyai perlengkapan melaut sendiri beliau juga merasa bahwa tidak punya keahlian lain selain mencari ikan dan juga penghasilannya sangat menjanjikan.
Alasan saya mau ikut kerjasama ini karena memang saya tidak punya perlengkapan untuk pergi mencari ikan sendiri dan saya tidak tau kerja yang lain Cuma bisa cari ikan saja, ya sudah kita ikut orang saja33.
Sistem bagi hasil yang diterapkan sama pemilik kapal yaitu 50 % : 50
% dari keuntungan, setelah semua ikan dijual dikurangi modal terlebih dahulu baru sisanya dibagi sesuai dengan kesepakatan.
Sedangakan alasan Bapak Sunar Suang ikut bekerjasama dengan pemilik kapal yang bernama Bapak Aisar Hamid karena beliau tidak mempunyai perlengkapan melaut, mau bertani tidak punya lahan, mau berdagang tidak punya keberanian, akhirnya beliau memilih untuk ikut bekerja sama dan dipercaya sebagai nahkoda kapal dan mendapat penghasilan yang cukup menjanjikan. Sistem bagi hasilnya yaitu 30 % : 70 % dari keuntungan.
Alasan saya mau menjalankan kerja sama ini karena tidak punya kapal sendiri untuk pergi tangkap ikan, mau saya tanam sayur juga tidak punya tempatnya, mau coba jualan tapi belum pernah jualan. Mau tidak mau ya kita harus ikut sama orang34. Dari hasil wawancara kepada ketiga nelayan tersebut dapat disimpulkan bahwa alasan mereka ikut bekerjasama dengan pemilik
33 Bapak Rasyid Nandri, Hasil Wawancara, 9 Maret 2020.
34 Bapak Sunar Suang, Hasil Wawancara, 9 Maret 2020.
43
kapal sebagai nelayan adalah karena mereka tidak mempunyai perlengkapan melaut dan juga tidak mempunyai keahlian dibidang lain.
Bentuk kerjasama ini melibatkan 2 pihak yaitu pihak pertama selaku pemodal (pemilik kapal) dan pihak kedua selaku pengelola (nelayan), yang mana bentuk kerjasama mereka dengan modal berbentuk barang yaitu berupa kapal dan kebutuhan lainnya seperti cat, bahan bakar, es batu balok, bahan makanan, dll. Ada juga pemilik kapal yang memberikan modal berupa uang, dan uang itu akan diserahkan kepada nelayan untuk dibelanjakan kebutuhan yang semuanya sama saja antara 1 kapal dengan kapal lainnya. Dan keuntungan yang akan di terima oleh pihak kedua atau pihak pengelola (nelayan) ketika hasil tangkapan telah di jual dan keuntungan nelayan dibagi setelah dikeluarkan terlebih dahulu modal, dan juga bagian dari pemilik kapal35.
Akad yang digunakan dalam kerjasama yang terjadi di Desa Bontosunggu ini adalah berbicara secara langsung antara pemilik kapal dan nelayan, tidak ada perjanjian diatas hitam putih, hanya bermodalkan kepercayaan antara kedua belah pihak, selain itu orang- orang yang terlibat kerjasama ini adalah warga setempat yang mana mereka juga sudah saling mengenal. Ketika melakukan perjanjian ini kedua belah pihak akan membahas tentang sistem kerjasama, bagi
35 Bapak Aisar Hamid, Hasil Wawancara, 9 Mret 2020.
hasil, tugas serta tanggung jawab masing-masing. Nelayan mempunyai tugas untuk mencari ikan, tetapi didalam satu kapal itu nelayan mempunyai tugas dan peran masing-masing ada sebagai koki, juru mudi, juru mesin, ABK, jadi mereka bekerja sesuai tugasnya masing- masing. Sedangkan kewajiban pemilik kapal yaitu membiayai segala apa yang diperlukan untuk melaut, serta membantu untuk membiayai kehidupan keluarga anggota nelayan selama suami mereka sedang melaksanakan kewajiban mereka36.
Dari hasil wawancara yang dilakukan kepada pemilik kapal dan juga nelayan, secara umum sistem kerjasama yang dilakukan relative sama. Pemilik kapal adalah pihak sebagai pemberi modal memberikan semua kebutuhan melaut sementara itu nelayan berkontribusi dalam hal waktu, tenaga, dan keahliana mereka.
. kerjasama antara nelayan dan pemilik kapal sama-sama mempunyai tujuan untuk memperoleh keuntungan. Pembagian keuntungan antara kedua belah pihak yaitu dalam bentuk bagi hasil.
Dimana proses bagi hasil ini akan dilakukan setelah mereka menjual hasil tangkapan mereka. Besar presentase bagi hasil kerjasama antara nelayan dan pemilik kapal di Desa Bontosunggu berbeda-beda, tergantung dari kesepakatan awal saat mereka melakukan perjanjian kerjasama. Penentuan bagi hasil ini biasanya di lakukan bersama dengan cara berdiskusi antara kedua belah pihak, tetapi ada juga
36 Bapak H Narang, Hasil Wawancara, 16 Maret 2020.
45
penentuannya dilakukan oleh pemilik kapal itu sendiri. Mau itu ditentukan bersama ataupun ditentukan sendiri oleh pemilik kapal, selama ini saya merasa belum pernah ada kecurangan atau saya merasa tidak adil karena perjanjian ini juga disepakati bersama oleh kedua belah pihak37.
Perhitungan bagi hasil yang diterapkan oleh Bapak H Lotteng yaitu setelah ikannya dijual maka akan dipotong dikeluarkan modal terlebih dahulu, setelah itu keuntungan itu akan di potong 30 % untuk pemilik kapal dan sisanya itulah yang akan menjadi keuntungan untuk nelayan. Semua anggota mendapatkan bagian yang sama kecuali juru mudi akan mendapatkan 2 bagian dari nelayan yang lainnya. Bagi hasil ini dapat di contohkan sebagai berikut. Jumlah nelayan yang ikut melaut ada 6 orang terdiri dari: 1 orang nahkoda, 1 orang juru mesin, 1 orang juru masak, dan 3 orang ABK. Lama waktu pencarian ikan selama 7 hari, dengan total modal sebesar Rp 50.000.000. Dengan hasil tangkapan sebesar Rp 100.000.000.
Laba kotor - Modal = RP 100.000.000 – Rp 50.000.000
= Rp 50.000.000 Nisbah pemilik kapal 30 % = Rp 15.000.000
Total bagi pemilik kapal = Rp 50.000.000 + 15.000.000
= Rp 65.000.00 Nisbah nelayan 70 % = Rp 35.000.000
37 Bapak Sunar Suang, Hasil Wawancara, 9 Maret 2020.
Karena total nelayan ada 6 orang, maka total bagian berjumlah 7 orang. Inilah bagian masing-masing nelayan :
Keuntungan nelayan = Rp 35.000.000 : 7
= Rp 5.000.000
Nahkoda = 2 x Rp 5.000.000
= Rp 10.000.000
KKM = 1 x Rp 5.000.000
= Rp 5.000.000
Juru masak = 1 x Rp 5.000.000
=Rp 5.000.000
ABK = 1 x Rp 5.000.000
= Rp 5.000.00038.
Perhitungan bagi hasil yang diterapkan oleh Bapak H Narang yaitu setelah ikannya dijual maka akan dikeluarkan modal, setelah itu hasilnya akan dibagi sama rata yaitu 50 % untuk pemilik kapal dan 50
% utuks nelayan. Semua anggota mendapatkan bagian yang sama kecuali juru mudi akan mendapatkan 2 bagian dari nelayan yang lainnya. Dalam kerja sama ini juga segala kerugian akan dibebankan sepenuhnya kepada nelayan. Bagi hasil ini dapat di contohkan sebagai berikut: Jumlah nelayan yang ikut melaut ada 8 orang terdiri dari: 1 orang nahkoda, 2 orang juru mesin, 1 orang juru masak, dan 4 orang ABK. Lama waktu pencarian ikan selama 7 hari, dengan total modal
38 Bapak H Lotteng, Hasil Wawancara, 16 Maret 2020.
47
sebesar Rp 50.000.000. Dengan hasil tangkapan sebesar Rp 150.000.000.
Laba kotor – modal = RP 150.000.000 – Rp 50.000.000
= Rp 100.000.000 Nisbah pemilik kapal 50 % = Rp 50.000.000
Total bagi pemilik kapal yaitu = Rp 50.000.000 + Rp 50.000.000
= Rp 100.000.000 Nisbah nelayan 50 % = Rp50.000.000
Karena total nelayan ada 8 orang, maka total bagian berjumlah 9 orang. Inilah bagian masing-masing nelayan :
Keuntungan nelayan = Rp 50.000.000 : 9
= Rp 5.555.555
Nahkoda = 2 x Rp 5.555.555
= Rp 11.111.110
KKM = 1 x Rp 5.555.555
= Rp 5.555.555
Juru masak = 1 x Rp 5.555.555
=Rp 5.555.555
ABK = 1 x Rp 5.555.555
= Rp 5.555.55539.
Perhitungan bagi hasil yang diterapkan oleh Bapak Aisar Hamid yaitu setelah ikannya dijual maka akan dikeluarkan modal,
39 Bapak H Narang, Hasil Wawancara, 16 Maret 2020.
setelah itu hasilnya akan dibagi sama rata yaitu 30 % untuk pemilik kapal dan 70 % utuk nelayan. Semua anggota mendapatkan bagian yang sama kecuali juru mudi akan mendapatkan 2 bagian dari nelayan yang lainnya. Bagi hasil ini dapat di contohkan sebagai berikut. Jumlah nelayan yang ikut melaut ada 6 orang terdiri dari: 1 orang nahkoda, 1 orang juru mesin, 1 orang juru masak, dan 3 orang ABK. Lama waktu pencarian ikan selama 5 hari, dengan total modal sebesar Rp 40.000.000. Dengan hasil tangkapan sebesar Rp 100.000.000.
Laba kotor – modal = RP 100.000.000 – Rp 40.000.000
= Rp 60.000.000 Nisbah pemilik kapal 30 % = Rp 18.000.000
Total bagi pemilik kapal yaitu = Rp 18.000.000 + Rp 40.000.000
= Rp 58.000.000 Nisbah untuk nelayan 70 % = Rp 42.000.000
Karena total nelayan ada 6 orang, maka total bagian berjumlah 7 orang. Inilah bagian masing-masing nelayan :
Keuntungan nelayan = Rp 42.000.000 : 7
= Rp 6.000.000
Nahkoda = 2 x Rp 6.000.000
= Rp 12.000.000
KKM = 1 x Rp 6.000.000
= Rp 6.000.000
Juru masak = 1 x Rp 6.000.000
49
=Rp 6.000.000
ABK = 1 x Rp 6.000.000
= Rp 6.000.00040
Dalam sistem kerja sama ini pembebanan kerugian di setiap kapal juga berbeda-beda, semuanya tergantung dari kesepakatan antara nelayan dan pemilik kapal itu sendiri. Dari hasil wawancara yang peneliti lakukan yang terdiri dari 3 orang pemilik kapal dan juga 3 orang nelayan di Desa Bontosunggu ini terdapat 1 orang pemilik kapal yang membebankan kerugian kerjasama ini kepada nelayan.
Menurut Bapak H Lotteng selaku pemilik kapal beliau membebankan kerugian kerjasama ini kepada nelayan karena beliau menganggap bahwa nelayan yang mengelola usaha tersebut sedangkan beliau hanya bertanggungjawab untuk memberikan modal serta membantu keluarga mereka selama para nelayan ini pergi berlayar41.
2. Tinjauan hukum Islam terhadap kerjasama antara nelayan dan pemilik kapal di Kabupaten Takalar
Berikut adalah hasil wawancara peneliti dengan tokoh agama Ustad Saidin Mansyur:
Akad mudharabah adalah suaru akad/ kontrak/ perjanjian yang sudah ditentukan dari awal antara pemilik modal dengan pengelola.
Dimana dalam perjanjian tersebut menjelaskan bahwa pemilik modal adalah pemilik 100 % modal, sedangkan pengelola bertindak sebagai
40 Bapak Aisar Hamid, Hasil Wawancara, 9 Maret 2020.
41 Bapak H Lotteng, Hasil Wawancara, 16 Maret 2020.
pengelola modal tersebut untuk jenis usaha yang halal. Singkatnya akad Mudharabah adalah akad kerja sama pemodal dengan pengelola untuk suatu usaha. Pemodal menyiapkan modal dan pengelola sebagai pelaksana kegiatan usaha dengan pembagian keuntungan sesuai yang disepakati.
Berdasarkan penjelasan di atas, bahwa kerjasama antara pemilik kapal dan nelayan, menunjukkkan bahwa kerjasama antara kedua belah pihak yaitu pemilik kapal dan nelayan adalah adalah Mudharabah.
Kerjasama antara pemodal dengan nelayan, prinsipnya kerjasama ini diperkenankan dalam islam. Dalam praktik kehidupan, tidak semua orang sama dalam hal permodalan, skill mengelola usaha.
Karenanya, sering kali terjadi kerjasama yang saling memberi keuntungan.
Dipesisir misalnya, lazim terjadi kerjasama antara pemodal dengan nelayan. Umumnya, orang kaya/ pemodal menyerahkan modal kepada nelayan untuk digunakan dalam rangka mencari ikan. Dimana dalam kerjasama itu akan ada poin-poin kesepakatan kedua belah pihak. Misalnya soal apakah usaha melaut oleh juragan/ sepenuhya tanggungjawabnya. Kalau misalkan ada kerugian, kecelakaan apakah juragan turut bertanggung jawab. Di sejumlah daerah ada juragan yang turut melaut. Ada juga yang tidak sama sekali dan hanya menanti hasil untuk dibagi keuntungannya setelah biaya operasional dikeluarkan.
51
Didalam kerjasama, kejujuran, tanggungjawab, keuletan sangat dipentingkan agar mendapatkan hasil maksimal.
Q.S Al-maidah : 2 :
ُعْلٱَو ِمْثِ ْلْٱ ىَلَع ۟اوُنَواَعَت َلاَو ۖ َوْقَّتلٱَو ِّرِبْلٱ ىَلَع ۟اوُنَواَعَتَو ۚ ِن َوْد
باَقِعْلٱ ُديِدَش َ َّللَّٱ َّنِإ ۖ َ َّللَّٱ ۟اوُقَّتٱَو
Terjemahannya:
Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah maha berat siksa-Nya.
Dalam Q.S Al-Maidah ayat 2 berisi perintah saling tolong menolong antar manusia dalam kebajikan. Kerjasama antara pemilik kapal dan nelayan adalah bagian dari tolong menolong dimana pemilik kapal menolong nelayan dengan menyediakan modal sedangkan nelayan menolong pemilik kapal dengan cara mengelola modal yang telah disediakan oleh pemilik kapal.
Dalam menjalin kerjasama harus saling mempercayai.
Kejujuran menjadi hal yang sangat penting, disamping profesionalitas pelaksana usaha. Karenanya, suatu kesepakatan harus lahir dari keikhlasan tanpa beban. Kalau didalamnya ada paksaan, spekulasi dll maka tentu tidak sesuai dengan aturan syariah. Apalagi memang kerjasama itu harus berbasis taawun/ tolong menolong dan bukan untuk mengeksploitasi manusia atas manusia. Dalam menjalin kerjasama pada prinsipnya syariah mengatur agar tidak ada tindak
eksploitasi, kecurangan, mau untung sendiri, kebohongan, spekulasi, dll.
Dalam ketentuan kerjasama mudharabah ini, pemodal bertanggung jawab penuh atas kerugian, jika kerugian bukan karena kelalaian pengelola, tetapi apabila kerugian karena kelalaian dari pengelola modal maka pengelola modal harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut.
53
BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian sebelumnya, peneliti dapat menyimpulkan bahwa : 1. Kerjasama yang terjadi antara pemilik kapal dan nelayan di Desa
Bontosunggu ini masuk dalam kerjasama Mudharabah. Yaitu salah satu pihak selaku pemilik modal (pemilik kapal) dan pihak lainnya adalah pengelola modal (nelayan).
2. Kerjasama yang terlaksana antara pemilik kapal dan nelayan menggunakan akad mudharabah, seperti dalam Q.S Al-Maidah : 5:
َوْدُعْلٱَو ِمْثِ ْلْٱ ىَلَع ۟اوُنَواَعَت َلاَو ۖ َوْقَّتلٱَو ِّرِبْلٱ ىَلَع ۟اوُنَواَعَتَو ۚ ِن
باَقِعْلٱ ُديِدَش َ َّللَّٱ َّنِإ ۖ َ َّللَّٱ ۟اوُقَّتٱَو
Terjemahannya:
Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya.
Ayat diatas memperbolehkan umat manusia untuk saling tolong menolong dalam kebajikan seperti yang terjadi antara nelayan dan pemilik kapal. Pemilik kapal membantu nelayan menyediakan modal dan nelayan membantu pemilik kapal untuk mengelola modal tersebut.
B. SARAN
Berdasarkan uraian sebelumnya, maka peneliti sampaikan beberapa saran yaitu :
1. Akad kerja sama antara nelayan dan pemilik kapal masih secara lisan.
Seharusnya menggunakan perjanjian diatas kertas (tertulis) guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan kedepannya.
2. Penelitian masih membutuhkan tindakan lebih lanjut untuk mengetahui peranan ayat terkait kajian lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
55
DAFTAR PUSTAKA
Adiwarman A Karim. 2017. Bank Islam: Analsis Fiqih dan Keuangan. Jakarta:
PT Raja Grafindo.
Apridar, dkk. 2011. Ekonomi Kelautan dan Pesisir. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Arikunto, Suharsimi. 2012. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Rineka Cipta.
Departemen Agama RI. 2004. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Bandung:
Jumanatul Ali Art (J-ART).
Djuwaini. 2008. Pengantar Fiqh Muamalah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Khosyi’ah, R. 2014. Fiqh Muamalah Perbandingan. Bandung: CV P ustaka Setia.
Lina A W.,Mimit P. 2018. Ekonomi Produksi Kelautan dan Perikanan.
Miles., Matthew B. 1992. Analisis data Kualitatif, Terjemahan Tjepjep Rohendi Rohidi. Jakarta: UI Press.
Moleong, Lexy. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Muhammad A Antonio. 2001. Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik. Jakarta:
Insani Press.
Nawawi, I. 2012. Fiqih Muamalah Klasik dan Kontemporer. Bogor: Ghalia Indonesia.
Rachmat, Maman. 2011. Metode Penelitian Pendidikan Moral. Semarang: Unnes Press.
Sayyid, S. 2006. Fiqh Sunnah Jilid IV. Jakarta: Pena Pundi Aksara.
Sugiyono. 2013. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Syafe’I, R. 2001. Fiqih Muamalah. Bandung: Pustaka Setia.
Tim Laskar Pelangi. 2013. Metodologi Fiqih Muamalah (Diskursus Metodologi Konsep Interaksi Sosial-Ekonomi. Kediri: Lirboyo Press.