• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Penolakan Pemberian Persetujuan Menikah Oleh Orang Tua di Kecamatan Lubuklinggau Selatan II

Apabila seorang anak ingin menikah, ia pasti akan meminta terlebih dahulu restu kepada orang tuanya tersebut, terlebih jika itu anak perempuan maka ia harus mempunyai restu dari orang tuanya, karena seorang perempuan yang ingin menikah harus mempunyai wali untuk menikahkannya.

Berbeda dengan anak laki-laki yang ingin menikah, walaupun ia tidak mendapatkan restu dari orang tuanya, maka ia tetap bisa menikah tanpa adanya restu ataupun izin dari orang tuanya tersebut.

Setiap orang tua pasti mempunyai keinginan untuk memiliki pasangan yang terbaik untuk anaknya. Dengan begitu banyak orang tua yang masih mempertimbangkan calon untuk anaknya tersebut dan pastinya orang tua ingin mempunyai calon yang baik agamanya, yang seiman, mempunyai akhlak yang bagus, dan juga sopan terhadap orang yang lebih tua.dengan begitu masih banyak orang tua yang masih menolak untuk menikahkan anaknya. Karena orang tua pasti menginginkan anaknya tersebut untuk melakukan pernikahan sekali dalam seumur hidupnya.

Maka dari itu, orang tua takut dan tidak ingin melihat anak kesayangannya jatuh dengan orang yang salah ataupun dengan orang yang tidak tepat, dengan begitu kebanyakan orang tua akan mempertimbangkan terlebih dahulu bagaimana calon pasangan yang dipilih anaknya sebelum ia ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan.

1. Bentuk Penolakan Orang Tua dalam Menikahkan Anaknya Orang tua sendiri mempunyai hak untuk untuk memberikan restu ataupun tidak kepada anaknya yang sudah berkeinginan untuk menikah,60 setiap anak perempuan yang ingin menikah diharuskan untuk mendapatkan restu dari orang tuanya sebelum menikah,

60Semesta Bertasbih, Dilarang Menikah Oleh Orang Tua”, https://umma.id/article/share/id/6/214104 (20 Januari 2022)

namun berbeda dengan anak laki-laki yang tidak mendapatkan restu dari orang tua, ia tetap boleh menikah walaupun tanpa adanya restu dari orang tuanya tersebut.

Namun dari hasil wawancara penelitian ini, mayoritas responden mengatakan bahwa anak laki-laki yang ingin menikah perlu adanya restu dari orang tuanya terlebih dahulu.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap para responden, peneliti disini mendapatkan banyak hal yang melatar belakangi mengapa orang tua menolak untuk memberikan restu kepada anaknya. Berikut beberapa uraian dari hasil wawancara:

Orang tua G menyampaikan:

Iya, restu dari orang tua sangat penting bagi pernikahan anak, restu orang tua itu ibaratkan sama dengan restu Allah. Mau itu anak laki-laki maupun perempuan juga harus ada restu terlebih dahulu dari kedua orang tuanya. Apabila anak saya sudah mempunyai calonnya tetapi jika dia belum bekerja, saya sebagai orang tua belum memberikan restu kepada anak saya untuk menikah, dan untuk calon menantu anak saya, sebagai orang tua pasti ingin mempunyai menantu yang baik, sopan kepada orang tua dan rajin tidak malas-malasan.61

Kemudian orang tua J mengatakan:

Tidak ada bedanya maupun itu anak laki-laki ataupun anak perempuan tetap harus adanya restu dari orang tuanya. Dia pernah mau minta nikah tetapi belum saya kasih, karena dia kemarin masih kerja serabutan, kerjanya masih belum jelas, kalau dia mau nikah ya silahkan, tapi dengan syarat kalau dia sudah memiliki pekerjaan yang tetap. Kalau untuk umur anak aku harus umur 25 ke atas baru boleh nikah, kalau dibawah umur segitu aku belum mengizinkan dia untuk menikah. Kalau bisa dia dapat calon yang

61 Wawancara orang tua G di Kelurahan Marga Rahayu, 15 Desember 2021

jelas, yang tidak nakal dan aneh-aneh, dan juga yang bisa menghargai orang tua.62

Selanjutnya disampaikan oleh orang tua H:

Apabila anak saya sudah ingin menikah, wajib adanya restu dari saya, baik itu anak saya yang laki- laki maupun yang perempuan perlu adanya restu dari saya terlebih dahulu. Anak saya waktu itu pernah meminta restu dengan saya, tetapi saya tidak memberikannya karena calon perempuannya atau pacarnya yang kemarin itu berbeda agama atau tidak seiman dengan anak saya, maka saya tolak. Anak saya juga sedang kuliah waktu dia ingin meminta untuk menikah, tetapi saya tidak memberikannya karena saya takut nanti apabila ia sudah menikah dan masih kuliah, maka kuliahnya nanti tidak selesai dan ia jadi fokus dengan keluarganya. Anak saya belum memiliki pekerjaan yang tetap, dan saya tidak mau kalau ia menikah dulu, mau dikasih makan apa nanti kalau ia sudah berkeluarga.63

Selanjutnya disampaikan oleh orang tua B:

Yo jelaslah, restu dari wong tuo tu yang paling penteng kalo nak nikah dan menorot aku sih nikah yang ideal tu yo umur 25 ke pucuk. Kalo anak aku lah nak nikah dan ado jodohnyo lajulah, tapi kalo dio lom dapet kerjoan yo aku dak bakalan nak ngerestui dio nak nikah, kalo aku tetep maksoi anak aku ontok nikah tapi dio lom dapet gawean, teros cak mano gek dio nak cukupi kebutuhan keluargonyo kagek, gek dio tulah yang saro, gek jugo ujung-ujungnyo masih nak balek ke wong tuo tulah kalo dak ado gawean.

Anak aku jugo masih kuliah, kalo dio nak nikah selesaikelah dulu kuliahnya baru man dio nak nikah

62 Wawancara orang tua J di Kelurahan Moneng Sepati, 17 Desember 2021

63 Wawancara orang tua H di Kelurahan Marga Rahayu, 16 Desember 2021

lajulah. Tapi jingok-jingok dulu calonnyo. Man sekiro anak baek sih aku dak masalah.64

Kemudian orang tua Y mengatakan:

Yo restu dari wong tuo tulah yang penteng kalo dio nak nikah, percuma bae dio nikah tapi dak ado restu dari wong tuonyo, kareno kan dio jugo nak masuk ke keluargo aku, jadi gek cak mano kalo lah dari aku be dak ngerestui dio cak mano dio nak masok ke keluargo aku. Aku dak galak kalo anak aku nak nikah tapi dio lom dapet gawean, apolagi kan kalo anak lanang, cak mano kalo dio lom dapet gawean tapi dio lah nak nikah yo aku belom ngerestui dio lah ontok nikah, beda cerito kalo anak aku yang tino nak nikah kalo dio lom dapet gawean yo terserahlah kalo dio nak nikah yo nikahlah asak lakinyo lah begawe lah dapet gawean yang tetap dak jadi masalah.65

Hal senada juga disampaikan oleh orang tua P : Yo cak mano dak, dimano-mano kalo wong nak nikah tu pastilah harus ado restu dari wong tuonyo, nak cak manopun kalo dio dak direstui samo wong tuonyo jugo dio tulah yang saro gek. Kalo masalah gawean, yo harus ado gawe dulu man anak aku lah nak nikah, apolagi kan anak aku nih lanang, kalo dio lah nak nikah pasti apo-apo kan lanang tulah yang nak biayai idup anak wong tu.66

Selanjutnya orang tua E :

Saya merestui anak saya ingin menikah jika ia sudah bekerja, dan mempunyai calon yang baik agamanya, dan masalah restu orang tua pastinya restu orang tua itu nomor satu dan sangat penting apabila ingin menikah. 67

64 Wawancara orang tua B di Kelurahan Marga Rahayu, 15 Desember 2021

65 Wawancara orang tua Y di Kelurahan Taba Pingin, 14 Desember 2021

66 Wawancara orang tua P di Kelurahan Simpang Periuk, 15 Desember 2021

67 Wawancara orang tua E di Kelurahan Moneng Sepati, 20 Desember 2021

Dari hasil wawancara dengan orang tua yang ada di kecamatan Lubuklinggau Selatan II diatas, menurut masyarakat setempat bahwa wewenang orang tua dalam memberikan izin untuk menikah itu sangat kuat dan sangat penting, baik itu untuk anak perempuan maupun anak laki- laki. Terbukti jika dengan orang tua tidak memberikan izin, maka tidak ada seorang pun yang berani untuk melanggar larangan dari orang tuanya tersebut, dan salah satu faktor orang tua beralasan untuk menolak memberikan restu kepada anaknya menikah ialah karena faktor pekerjaan yang belum mapan dan ada juga yang beralasan karena perbedaan agama.

Orang tua sekarang berfikiran bahwa jika belum memiliki pekerjaan dan ingin menikah bagaimana nanti bisa menafkahi keluarganya. Bukankah dengan seseorang menikah karena ingin menjaga dari kesucian dirinya, maka Allah akan mudahkan semua jalannya, termasuk dengan rezekinya. Allah akan cukupkan dan membukakaan pintu rezeki bagi yang sudah menikah.

Maka dari itu, hendaknya orang tua membantu anaknya dalam segala kebaikan, termasuk juga dalam hal pernikahannya. Janganlah orang tua menyulitkan keinginan anaknya, dengan anak menunda keinginannya untuk menikah dan dipersulitnya jalan anak untuk menikah karena larangan dari orang tuanya, dan dengan ingin menyalurkan syahwatnya tersebut maka anak akan tidak segan melakukan maksiat dan perbuatan zina .

2. Sikap anak laki-laki yang tidak mendapatkan restu akibat orang tua menolak untuk menikahkannya.

Sebelum seseorang mengambil keputusan untuk menikah, sebaiknya lebih memperhatikan terlebih dahulu hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum mengambil keputusan unutk menikah, diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Jangan menikah karena melihat hartanya saja.

b. Jangan menikah karena perasaan asmaranya saja, karena asmara itu dapat cepat berubah hanya karena rupa, tempat maupun keadaan.

c. Jangan menikah karena wajahnya saja, dengan karena melihatnya enak dipandang dan memiliki wajah yang tampan dan cantik, lalu terburu-buru untuk segera menikahinya dan tanpa melihat dari sisi pandang lainnya, dan tidak memperhatikan bagaimana keluarganya, bagaimana agamanya, bagaimana perilakunya, dan lain sebagainya.

d. Jangan pula seseorang ingin menikah karena rasa iba.

Memiliki rasa kasihan memanglah baik dalam setiap diri manusia, tetapi tidak dalam dasar suatu pernikahan.

e. Jangan menikah hanaya karena ingin memuaskan seksnya saja. Karena seks hanayalah salah satu dari bagian pernikahan, bukan menjadi tujuan utama dalam melakukan pernikahan.

f. Jangan menikah karena desakan atau paksaan dari keluarga dan orang tua.

g. Jangan menikah karena sudah terdesak usia.

h. Dan jangan pula menikah karena untuk membalas jasa.

Orang yang telah berbuat baik dengan kita memang perlu dibalas, baik membalasnya dalam perbuatan, maupun dengan doa tetapi bukan dengan pernikahan.68

Setiap anak yang ingin menikah pasti ia menginginkan pasangannya diterima baik oleh keluarganya dan dianggap seperti anaknya sendiri layaknya ia dengan orang tuanya. Namun, hal seperti ini tidak bisa dirasakan oleh semua anak. Dan tidak heran, anak menantu atau calon menantunya justru kebanyakan tidak bisa akrab dengan mertuanya, dikarenakan belum adanya restu dari orang tua pasangannya.

68 Liza Zakaria, Fitri Liza, Fekum Ariesbowo, Let’s Get Married, (Depok:

Penebar swadaya, 2007), h. 17.

Sering terjadi, banyak pasangan anak muda sekarang memilih untuk memutuskan untuk tidak bersama-sama lagi atau memilih untuk berpisah, karena mereka tidak mendapatkan restu dari orang tua mereka. Walaupun banyak pasangan yang memilih untuk berpisah, ada juga pasangan yang tetap mempertahankan hubungannya, dan melakukan cara agar mendapatkan restu dari orang tuanya dengan menyakinkan ke orang tuanya bahwa pasangannya tersebut memang anak yang baik agamanya.

Berdasarkan hasil dari pengumpulan data yang telah peneliti lakukan, dalam penelian ini responden tentunya mempunyai keputusannya masing-masing untuk tetap melanjutkan hubungannya atau tidak dengan pasangannya apabila tidak mendapatkan restu dari orang tuanya. Dan hasil pengumpulan data yang telah dilakukan, dapat diuraikan sebagai berikut:

Saudara G, ia mengatakan bahwa:

Ya restu dari orang tua sebelum menikah itu emang penting, dan saya juga sudah mempunyai pasangan jadi waktu itu saya pernah bilang ke orang tua saya untuk meminta restu menikah, tetapi orang tua saya tidak memberikan restu karena kebetulan juga kemarin saya belum mempunyai pekerjaan. Dan perihal bagaimana menafkahi itukan bisa sama-sama mencari dan pasangan saya juga kebetulan tidak mempermasalahkan mengenai saya belum memiliki pekerjaan. Walaupun orang tua saya belum memberikan restu tetapi saya dan pasangan saya masih tetap bersama, dan mencari jalan untuk bagaimana orang tua saya dapat memberikan restu kepada kami.69

69 Wawancara dengan saudara G di Kelurahan Marga Rahayu, 15 Desember 2021

Saudara J menyampaikan:

Walaupun orang tua saya sempat menolak keinginan saya untuk menikah, tetapi saya bisa membuktikan kepada orang tua saya, bahwa saya nanti akan memiliki pekerjaan. Dan beruntungnya, pacar saya juga mau menunggu saya sampai saya memiliki pekerjaan. ya emang restu dari orang tua itu penting, maka dari itu saya memunda keinginan saya untuk menikah sampai saya mendapatkan pekerjaan yang layak. Menurut saya sih, usia saya ini sudah cukup ideal untuk kategori siap menikah, maka dari itu saya nggak mau lama-lama apalagi saya pacaran sudah kurang lebih 4 tahun.70

Saudara H juga menyatakan:

Dak lamo waktu itu, aku sempet mintak restu dengan wong tuo aku kalo aku nih nak nikah, wong tuo aku jugo lah pada tau dengan cewek aku nih, kami cewekan jugo lah lamo. Jadi sempet kemaren wong tuo aku nih dak ngizini aku untuk nikah kareno aku nih belom kerjo tetap masih serabutan masih dak jelas gaweannyo. Tapi walaupun wong tuo aku belom ngasih restu aku samo cewek aku masih samo-samo kok sampe sekarang, untunglah cewek aku nih ngerti.

Jadi yo dak masalah71

Selanjutnya saudara B juga mengatakan bahwa:

Ya. Saya pernah coba membicarakan hal itu dengan orang tua saya, tetapi orang tua saya menolak keinginan saya untuk menikah, karena posisi saya sekarang masih menjadi seorang mahasiswa dan kebetulan waktu itu saya juga belum bekerja dan orang tua saya takut jika saya tetap menikah dalam keadaan tersebut, yang orang tua saya khawatirkan

70 Wawancara dengan saudara J di Kelurahan Moneng Sepati, 17 Desember 2021

71 Wawancara dengan saudara H di Kelurahan Marga Rahayu, 16 Desember 2021

kuliah saya pasti tidak akan berlanjut. Jadi saya dibolehkan untuk menikah jika kuliah saya sudah selesai dan sudah memiliki pekejaan72

Hal tersebut juga disampaikan oleh saudara Y :

Menurut saya sih, saya sudah pantas untuk menikah.

Karena itu saya coba meminta restu untuk menikah dengan pasangan saya. Tetapi orang tua saya menolak. Dan sejak orang tua saya menolak, dan saya pun waktu itu langsung memberitahu dengan pcar saya. Dengan kejadian itu lalu pacar saya tidak mau lagi sama saya dan langsung memutuskan saya73

Begitupun dengan saudara P:

Dengan orang tua saya tidak memberikan restu kepada saya untuk menikah, jadi saya sempat berfikir dan menunda keinginan saya untuk menikah, dan lebih mendengarkan ucapan dari orang tua saya.

Karena saya juga berfikir benar juga ya, kalau saya bersikeras untuk menikah kemarin, mungkin saya susah untuk memberikan kebutuhan untuk keluarga saya. Memang sih, katanya rezeki menikah itu dua kali lipat, tetapi kan di jaman sekarang apa-apa sudah susah, bahkan untuk mencari pekerjaan pun sekarang lumayan sulit. Mungkin dapat, tapi pekerjaan yang masih serabutan, jadi saya memutuskan untuk tidak menikah dulu waktu itu74

Selanjutnya saudara E juga mengatakan:

Menurut saya sih umur yang ideal untuk menikah itu di umur 30an ke bawah untuk laki-laki, dan untuk

72 Wawancara dengan saudara B di Kelurahan Marga Rahayu, 15 Desember 2021

73 Wawancara dengan saudara Y di Kelurahan Taba Pingin, 14 Desember 2021

74 Wawancara dengan saudara P di Kelurahan Simpang Periuk, 15 Desember 2021

mengenai hal pekerjaan, memang orang tua saya sempat tidak merestui saya, walaupun saya sekarang sudah memiliki pekerjaan sebagai tukang parkir, tetapi orang tua saya tidak mau untuk memberikan izin karena penghasilan saya yang masih sedikit dan terkadang juga hasilnya tidak menentu75

Dari hasil wawancara diatas, dapat diketahui bahwa hal utama yang menjadi pertimbangan keputusan responden saat hendak menikah ialah adanya restu dari orang tuanya, bahkan anak sampai menunda untuk menikah sebelum adanya restu dari orang tuanya tersebut.

Taat dengan orang tua memang sudah menjadi suatu kewajiban bagi anak terhadap orang tuanya.

Taat yang dimaksud bila masih dalam hal kebaikan, jika dalam hal kemaksiatan dan keburukan kita diperbolehkan untuk tidak taat dengan orang tua. Namun jika ia sudah wajib untuk menikah tetapi ditunda karena keputusan orang tuanya yang harus memiliki pekerjaan tetap dahulu baru menikah, dan jika ia menunda dikhawatirkan ia akan terjerumus dalam perzinaan, maka ia boleh tidak untuk taat dengan orang tuanya tersebut.

Karena tidak ada ketaatan untuk seseorang melakukan maksiat, maka dari itu laki-laki boleh menikah tanpa adanya persetujuan dari orang tua.

B. Tinjaun Hukum Islam Tentang Penolakan Izin Orang Tua Terhadap Anak yang Ingin Menikah di Kecamatan Lubuklinggau Selatan II

Setiap orang pasti mempunyai keinginan untuk menikah, karena Allah telah menciptakan antara laki-laki dan perempuan untuk saling berpasang-pasangan, karena tidak ada seorang pun yang sanggup hidup sendirian di muka bumi ini, dengan begitu pasti mucullah perasaan suka sama suka antara laki-laki dan perempuan karena sudah menjadi fitrahnya manusia untuk

75 Wawancara dengan saudara E di Kelurahan Moneng Sepati, 20 Desember 2021

saling mencintai sesamanya. Bahkan tidak heran, pasti setiap orang menginginkan bisa membangun rumah tangga dengan bahagia bersama pasangan yang dicintainya.

Walaupun begitu, menikah bukanlah perkara yang mudah dan banyak yang harus dilewati sebelum menikah salah satunya untuk mengambil hati orang tua dan meminta restu untuk menikah bersama pasangan yang dicintai bukanlah hal yang mudah. Terkadang banyak orang tua yang masih melarang anaknya menikah dan tidak setuju dengan pilihan anaknya yang dirasa belum pantas untuk dijadikan pendamping hidup anaknya.

Dari hasil penelitian, orang tua menolak keinginan anak yang ingin menikah itu karena dengan alasan faktor ekonomi.

Yang mana anaknya belum memiliki pekerjaan sehingga orang tua beralasan untuk menolaknya. Padahal pekerjaan itu bukanlah menjadi dasar suatu penghalang bagi orang tua untuk menolak keinginan anak yang ingin menikah, bahkan di dalam hukum Islam pun tidak disebutkan larangan untuk menikah itu harus sudah memiliki pekerjaan, hukum Islam hanya melarang untuk seorang tidak boleh menikah itu apabila:

1. Ia masih memiliki hubungan darah dengannya, wanita- wanita yang dimaksud disini ialah: Ibu, adik perempuan, anak perempuan, saudara perempuan, saudara perempuan ibu, saudara perempuan ayah, dan lain sebagainya.

2. Disebabkan karena adanya tali persusuan.

3. Dan disebabkan karena adanya tali kerabat semenda.

Seperti: mertua perempuan, anak tiri, menantu, dan ibu tiri.76

Dan didalam Surat An-Nisa ayat 23 pun sudah dijelaskan mengenai larangan-larangan dalam perkawinan:





76Abdul Rahman Ghazaly, Fiqh Munakahat,… h.79.









Artinya:

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan;

anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak- anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu- ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu- ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri- isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dari ayat di atas, dapat diketahui bahwa unsur seseorang yang belum memiliki pekerjaan tidak dapat menjadi alasan untuk seseorang tidak boleh menikah. Karena apabila seseorang menikah karena ingin menjaga kesucian dirinya, maka Allah menjanjikan jika dengan menikah, Allah akan memudahkan jalan seseorang.77 Sebagaimana hadist dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, yang menjelaskan tentang orang-orang yang akan mendapatkan pertolongan dari Allah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihu wa sallam bersabda:

77 Setyawan Hanif, Menunda Nikah Karena Belum Mapan”, alukhuwah.com/2020/02/10/menunda-nikah-karena-belum-mapan/ (25 januari 2022)

ْﻳِﺮُﻳ يِﺬﱠﻟا ُﺢِﻛ ﺎﱠﻨﻟاَو ِﻪﱠﻠﻟا ِﻞْﻴِﺒَﺳ ِﰲ ُﺪِﻫﺎَﺠُﻤْﻟا ُﻪُﻧْﻮَﻋ ﱠﻞَﺟَو ﱠﺰَﻋ ِﻪﱠﻠﻟا ﻰَﻠَﻋ ﱞﻖَﺣ ْﻢُﻬﱡﻠُﻛ ٌﺔَﺛ َﻼَﺛ َفﺎَﻔَﻌْﻟاُﺪ

ﱠﻟا ُﺐَﺗﺎَﻜُﻤْﻟاَو َءاَدَْﻷا ُﺪْﻳِﺮُﻳ يِﺬ

Artinya:

“Ada tiga orang yang akan mendapatkan pertolongan Allah: (1) orang yang berjihad di jalan Allah; (2) orang yang menikah demi menjaga kesucian dirinya; (3) budak mukatab yang ingin membebaskan dirinya.” (HR. An-Nasa’I, no. 3218; Tirmidzi, no. 1655; Ibnu Majah, no. 2518. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Bahkan dengan menikah pun bisa menjadi ladang rezeki untuk mereka, dan dapat membuka pintu rezeki bagi mereka.

Dengan begitu, walaupun seseorang belum mempunyai apa- apa (miskin), jika ia sudah mampu untuk menikah maka menikahlah. Bahkan Allah menyuruh hamba sahaya yang bahkan tidak mempunyai apa-apa pun diperintahkan oleh Allah untuk menikah. Sebagaimana yang terdapat di dalam surah An-Nur ayat 32:





Artinya:

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.”

Adapun yang terdapat di dalam hadist dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

Dokumen terkait