• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian

Dalam dokumen Muhammad Akhir, S.Pd., M.Pd (Halaman 80-99)

BAB IV GAMBARAN UMUM, HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

tuju desa asli yang kemudian membentuk tujuh kursi dewan adat kerajaan adat kerajaan yang di tempatkan , ketujuh itu adalah Macege, Tanete Riattang, Tanete Ri Awang, Ujung Ponceng Dan Tibojong. selain desa tesebut semua desa dan wanua lainya di anggap pingiran. dalam hal ini menujukan bahwa status kebangsawanan hanya di miliki pada orang memiliki jabatan tertinggi dalam kerajaan, melihat sila keturunan yang memiliki hubungan sedara ini kemudian telah menyebar di berbagai desa yang ada di wilayah Bone. Namun demikian, untuk menjaga agar kekuasaan tetap dalam tangan mereka, persyaratan darah dalam penentuan seseorang menduduki tahta kerajaan mutlak di penuhi.

Membicarakan tentang status sosial suatu masyarakat penting terutama untuk mengetahui dan mencari latar belakang pandangan hidup atau sifat-sifat yang mendasari suatu masyarakat. lebih jauh dari itu, dengan mengetahui pelapisan masyarakat dapat di ungkapkan dengan hubungan-hubungan kejadian dalam masyarakat yang menyangkut tingkah laku dalam segenap kegiatan dalam masyarakat termasuk kegiatan tingkah laku dalam politiknya.

Namun dalam pembagian masyarakat bugis dalam berbagai lapisan atau golongan adalah merupakan suatu factor yang penting untuk mempengaruhi kehidupan sosial, ekonomi dan politik. dalam masyarakat bugis, dikenal adanya pelapisan masyarakat. Munculnya TO MANURUNG dan keturunannya oleh karena itu masyarakat bugis mempercayai darah puti

lapisan, atas dasar kemurnian darah bangsawan yang ada pada mereka.

Masyarakat Bone tradisional mengenal adanya kategori-kategori sosial yang bersifat vertikal maupun horizontal. kategori semacam ini hasil pembangunan dari klasifikasi berdasarkan atas kemurnian darah bangsawan kemerdekaan seseorang dan kelebihan seorang individu dalam masyarakat.

Masyarakat Sulawesi selatan itu pada hakikatnya terdiri atas dua lapisan, yaitu Anak Arung dan To Maradeka. Menurutnya golongan Ata ,merupakan lapisan sekunder yang lahir kemudian, secara vertikal masyarakat bone tradisional ,terbagi dalam dua kategori: orang yang merdeka atau orang yang tidak merdeka .orang yang merdeka ini, terbagi lagi secara vertical menjadi dua lapisan yaitu: golongan bangsawan atau orang yang biasa.orang bangsawan terbagi lagi beberapa lapisan sesuai kemurnian darah dan keturunannya .makin murni darahnya makin tinggi tingkatannya. namun demikian, pemberian status yang diharapkan. Hal ini di buktikan dalam pembagian beberapa golongan.

a. Arung

Arung merupakan mereka yang memakai gelar arung biasanya di hubungkan dengan jabatannya dengan pemerintahan, misalnya Arungpone, Arung palakka, artinya di samping sebagai mangkau (raja), juga iya raja di palakka. Selain itu juga mereka di sebut arung dikarenakan

S.Sos, M.M. (15 september 2016) selaku data informan sebagai beriku;

“Secara garis besar gelar Arung itu adalah pemberian nama kepada pembantu raja membidangi pengadilan di setiap tempat yang ada di bone tersebut, yang kononya terbagi di tujuh tempat itu.

Dalam pernyataan di atas yang dikemukakan oleh informan, Arung merupakan seseorang yang di tunjuk raja yang dapat menyelesaikan suatu masalah di tujuh tempat tersebut, melihat di berbagai daerah yang khususnya berada pada desa-desa sekarang sudah beralih dalam pemerintahan yang modern, sebelum kemerdekaan yang kita ketahui bahwa dalam peperangan melawan penjajah raja kemudian membentuk anggota adat, anggota adat merupakan jabatan turun temurun yang di wariskan kepada putra putrinya yang di anggap mampu membidangi pekerjaan untuk kepentingan raja dan rakyat banyak.

Namun demikian, peperangan antara melawan penjajah ini masih belum berakhir begitu saja meskipun anggota adat telah di bentuk, adapun penjajah yang datang di sulawesi selatan yaitu, orang dulu mengatakan belanda atau VOC yang ingin merebut atau menguasai rempah-rempah yang ada di indonesia khususnya di Sulawesi Selatan. hal ini di kemuakan oleh salah satu informan yaitu Andi Jamaluddin Pt gesso (16 septembr 2016) sebagai berikut:

“Kedatangan Belanda atau VOC yang menguasai di Sulawesi pada saat itu dengan maksud dan tujuan menginginkan rempa-rempa, namun taktit

Hal ini dapat kita ketahui bahwa belanda datang di Indonesia khususnya di Sulawesi selatan hanya menginginkan sumber daya alam yang dikelola oleh raja atau rakyat pada saat itu. melihat dari perkembangan perkawinan silang merupakan pengwajantahan dari arung tersebut. lebih dari beberapa tahun ribu silam keturunan arung pun terbagi dari beberapa daerah yang ada di kabupaten namun di salomekko pada khususnya dikenal dengan datu salomekko pancaitana pemberian gelar arung ini pun sebagai pembeda dengan masyarakat biasa yang masih sedarah dengan datu sebelumnya. hal ini dikemukakan oleh salah satu informan Andi herman S.Sos, (17 september 2016) sebagai berikut:

“Gelar kebangsawanan di bugis memiliki nilai-nilai yang positif khusunya di bugis .karna gelar sepertu itulah kita dapat membedakan stratafikasi sosial masyarakat baik kelompokmaupun indiviu.”

Dalam konsep panggadereng terdapat pulah tiga tata tertib yang harus di miliki oleh kebangsawanan beserta norma dan agama .yang di mana ketiga konsep yang dimaksud panggadereng, yang pertama sistem sosial dan yang kedua sistem kebudayaan yang ketiga sistem kebudayaan materi. ini cukup di pahami sebagai seorang pemimppin. bahwa panggadereng itu memiliki tiga dimensi atau ukuran pedoman hidup dalam tatanan kulturan sebagai mana yg di tetapkan pada raja-raja bone. melalui perundingan-perundingan ade pitue .

Dalam situasi panggadereng mencangkup pulah tiga subjek pendukung yang tidak berkontradiksi sesama masyarakat biasa. panggadereng bagi

raja- raja pada saat itu pintar dan kejujuran yang sempurnah,,mensejahtrakan masyarakat kecil . jangan sampai masyarakat tidak mendaptkan kesejahtraan oleh raja- raja ,atau seorang bangsawan yang sudah ditunjuka atau diberiakan amanah dari hasil perunding dewan adat.

Namuun untuk mendapatkan kepemimpin yang lebih formal tanpan ada campuran darah dari golongan yang bukan keturunan bangsawan yang sepenuhnya. di perlukan hasil perkawinan yang sama-sama mempunyai darah puti atau keturuna bangsawan yang aslih misalkan putri raja dan putri raja .maka pentingnya hal seperti itu di karnakan untuk mendapatkan pemimpin yang formal .dan mendapat nilai nilai tradisional. dan untuk melihat lebih praktisnya di lihat dari daerah bugis .khususnya di bone .misalkan di tingkat kabupaten..yang di tunjuk jadi pemimpin yaitu: yang benar –benar matang gelar kebangsawannya .

Seorang bangsawan harus pulah menguatkan nilai identitasnya beribawanya kepada masyarakat biasa dengan menjawabkan nilai ’sipakatau sipakalebbi’

(saling menghargai).untuk keaatan beribawanya.

b. Datu

Datu merupakan gelar kebangsawanan yang di berikan kepada seseorang yang di anggap berpengaruh di salah satu derah tersebut, dalam hal ini kesetaraan datu pada masa lalu dengan masa sekarang adalah camat. di antara

khususnya dikenal dengan datu salomekko pancaitana, yang memerintah di kedatuan salomekko, mempelajari history itu kemudian menjelaskan bahwa pemerintahan merupakan tanggung jawab yang harus di jalankan, akan tetapi usia merupakan batasan seorang datu dalam ke pemimpinanya, setelah datu salomekko memerintah di kedatuan salomekko maka beliau mengamanatkan kemanakanya ang bernama andi Koneng untuk menggantikan kedudukan sebagai Datu Salomekko. yang di dampingi oleh suaminya Andi Palesangi Arung Mare yang di angkat pilah menjadi Arung Tibojong sebagai Ade Pitu’e di kerajaan bone .dalam waktu tak lama lagi .Andi Koneng datu salomekko berpulang kerahmattullah ,maka adiknya Andi Pia .menggantikannya sebagai permaisuri di kadaulatan salomekko dan itulah merupakan nenek langsung dari DR.H ANDI FASHAR MAHDIN PADJALANGI,MSI .sebagai tokoh atau bupati bone yang menjabat sampai saat ini.

Dalam hal ini kejayaan datu salomekko .di dampingi oleh laskar mengibarkan delapan buah bendera yang berwarna kuning. yang berati delapan pulah desah, yang bersatu padu dukun kebesaran kecamatan salomekko. adalah laskar pabbarani(pemberani) pasukan elit. yang gagah berani siap mempertarukan nyawa sampai titik darah terakhir demi mempertahankan kedaulatan salomekko .

Hingga pada akhirnya di bawalah Lellu Panggadereng adalah datu salomekko .yang di dampingi oleh suaminya Arung Tibojong .yang berasal

sesuai dengan kedudukannya selama tidak melanggar norma- norma yang berlaku.Hal ini di kemukakan oleh Andi muharram Petta mala (19 september 2016) sebagai data informan sebagai berikut:

Sekarang masyaraka di bone. baik di kecamatan maupun di pedesaan masih kental yang namanya Ade panggadereng misalkan ada acara lokal, seperti acara perkawina, mabbarasanji., disitu kita bisah melih bahwa adat itu masih kental ,dari segi pakaian dan tempat kue( bossara.

berupa baju bodo atau jas tutup) untuk melambangkan nilai –nilai adat tradisional yang lokal untuk persembahan kedatuan .

Dari penjelasan diatas dapat kita ketahui bersama bahwa ke datuan di salomekko itu sangat sakral bagi manyarakat lokal .Hingga pada saat itu para kepala desa (wanua) yang menjabat saat itu.bersama istri yang menjabat saat itu. menggunakan pakaian jas tertutup, dan songko to bone serta waju pocong(baju bodo) dan sarung cura lebba (sarung sabbe) demi mendukung kedaulatan dan menjalankan pemerintahan di salomekko. sampai dengan di polosok desa-desa Hingga saat itupulah para rumpun keluarga saoraja,mereka yang terdiri para andi-andi ,anak dara dan pakkalolona salomekko yang menggunakan baju adat yang berwarna merah dan hijau .demi menghargai para bangsawan yang menjabat pada saat itu, berdasarkan ade panggadereng (aturan–aturan) yang sudah di tetapkan .

Namun pada para kerukunana kampung (pabbanua) yang terdiri dari masyarakat peteni., nelayan, pedadang, beserta istri dan lapisan masyarakat lainnya turut partisipasi dalam acara adat tersebut .seiringan dengan

sekapati para Tau mato’e (orang tua duluh) hingga menanamkan nilai nilai yang formal hingga membetuk kepemimpian yang bersifat tradisional dengan acuan atau lontra perkataan ”mali siparappe rebba sipatokkong na’nia mallili sipakainge”

Dari hasil wawancara dengan informan yaitu Puang Pakkita(20 september 2016) mengemukakan bahwa:

"Gelar Kebangsawanan "Datu" adalah gelaran yang sudah ada sejak adanya kerajaan Bugis, di Luwu misalnya, semua raja bergelar Datu, dan Datu yang berprestasi bergelar Pajung atau pemberani, jadi tidak semua yang bergelar Datu disebung Pajung. Sama halnya di Bone, semua raja bergelar Arung, tapi tidak semua Arung bergelar mangkau, hanya arung yang berprestasi bergelar mangkau.

Berdasarkan pernyataan diatas, maka kita dapat memperoleh informasi bahwa gelmear datu sudah lama sejak adanya raja Bugis. Namun datu juga masih mempunyai gelar yang disesuaikan dengan prestasi yang dimilki.

Kemudian kita juga memahami bahwa ajrung juga dalam hal yang sama c. Andi/Petta

Andi/Petta adalah pengantar dari sifat atau julukan dari pemimpi- pemimpin tersebut salah satunya, petta malampee gemmenna “yang panjang rambutnya” sedangkan kata PUANG konotasinya secara esensi bahwa pemimpin adalah pengejawatan atau perpanjangan tangan tuhan. sementara ANDI gelaran yang baku kepada para kepemimpinan sejak era pemerintahannya A. mappanyukki yang masih ter kontrofesi diera globalisasi ini. sampai sekarang keturunan andi masih kental dikalangan masyarakat.

"gelaran "Andi" pertama kali digunakan oleh Raja Bone ke-30 dan ke- 32 La Mappanyukki, beliau adalah Putra Raja Gowa dan Putri Raja Bone. Gelar itu disematkan di depan nama beliau pada Tahun 1930 atas Pengaruh Belanda. Gelar Andi tersebut bertujuan untuk menandakan Bangsawan-bangsawan yang berada dipihak Belanda, dan ketika melihat berbagai keuntungan dan kemudahan yang diperoleh bagi Bangsawan yang memakai gelar "Andi" didepan namanya, akhirnya setahun kemudian secara serentak seluruh Raja-Raja yang berada di Sulawesi Selatan menggunakan Gelar tersebut didepan namanya masing-masing".

Pendapat diatas juga berkaitan dengan Gelar Andi, menurut Susan Millar dalam bukunya 'Bugis Weddings' (telah diterbitkan oleh Ininnawa berjudul (Perkahwinan Bugis) disinggung bagaimana proses lahirnya gelaran Andi itu. Memang, seperti yang disinggung di atas, saat itu Kerajaan Belanda pada tahun 1910-1920 an ingin memperbaiki hubungan dengan para bangsawan Bugis dengan membebaskan keturunan bangsawan dari kerja paksa. Saat itu muncul masalah bagaimana menentukan seorang berdarah bangsawan atau tidak. Akibatnya, berbondong-bondonglah warga mendatangi raja dan merundingkan diri mereka untuk diakui sebagai bangsawan, kerana kerumitan proses itu maka dibuatlah sebuah gelar baru untuk menentukan kebangsawanan seseorang dengan darjat yang lebih rendah. di pakailah kata Andi untuk menunjukkan kebangsawanan seseorang dalam bentuk sijil (mungkin sejenis sijil-sijil yang menunjukkan bahawa yang bersangkutan telah lulus dalam kursus montir mobil atau sejenisnya).

Penggunaan Andi saat itu juga pelbagai di setiap kerajaan. Soppeng misalnya hanya menetapkan bahwa gelaran Andi adalah bangsawan pada

bawahnya, seperti Sulewatang, Arung, Petta, dan lain-lain. Jadi gelaran itu mengikut terhadap jawatan yang didudukinya. Sementara untuk keturunannya yang membuktikan sebagai keturunan bangsawan, di Makassar dipanggil Karaeng. sedang di Bugis dipanggil Puang, dan di Luwu dipanggil Opu.

Adapun gelar Andi, pertama-tama yang menggunakannya adalah Andi Mattalatta untuk membezakan antara pelajar dari turunan bangsawan dan rakyat biasa. Dan gelar Andi inilah yang diikuti oleh turunan bangsawan Luwu, dan Makassar. Jadi di zaman Andi Mattalattalah gelar ini muncul.

Gelar "Andi" baru ada setelah era Kerajaan Kolonial Belanda (PKB). Setelah 1905, Sulawesi Selatan benar-benar ditakluk Belanda dan terjadi kekosongan kepemimpinan tempatan. Tahun 1920-1930an PKB mencanangkan membentuk Zelf Beestuur (Kerajaan Pribumi / swapraja) yang dibawahi oleh Controleur (Pejabat Belanda) untuk Onder Afdeling. Namun yang menjadi soalan adalah, jika memang Andi diidentikan dengan Belanda, mengapa pejuang kemerdekaan (Datu Luwu Andi Jemma, Arumpone, Andi Mappanyukki, Ranreng Tuwa Wajo Andi Ninnong) tetap memakai gelar Andi didepan namanya sementara mereka justru menolak dijajah? tapi juga harus diakui bahwa ada juga yang berinisial Andi yang tunduk patuh pada PKB. Nah ini yang kita harus bijak menilai antara gelaran dan pilihan personal terhadap kemerdekaan / penjajahan.

pimpinan kampung ini yang selanjutnya disebut Kalula / arung dengan nama alias / gelar berbeza-beza yang disesuaikan dengan nama kampung / keadaan / perilaku berkenaan yang dia peroleh melalui pelantikan / pelantikan oleh sekumpulan anang / masyarakat dan secara kekerasan (peperangan bersenjata) yang selanjutnya diwariskan secara turun-temurun kepada ahli warisnya, kecuali jika dikemudian hari ternyata dia ditakluk dan diganti oleh penguasa yang lebih tinggi / kuat.

Sedangkan To Manurung dan To Tompo yang, 'asal usul' dan 'namanya' kadang-kadang tidak diketahui dan segala kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan yang dimilikinya, oleh sekumpulan pimpinan Kalula / arung / matoa bersetuju untuk mengangkatnya menjadi ketua kumpulan dikalangan Kalula / arung yang selanjutnysa menjadi penguasa / raja yang bererti pula asas dasar sebuah kerajaan / negara telah terbentuk-mana tanah / wilayah, pemimpin / penguasa dan pengakuan dari segenap rakyat sudah dipenuhi.

Penguasa / Raja biasanya kawin dengan sesama To Manurung / To Tompo [jika dia 'ada' / muncul tanpa didampingi pasangannya] dan pada tahap awal cenderung mengahwinkan anak-anaknya dengan bangsawan tempatan yang sudah ada sebelumnya. Ketika kerajaan-kerajaan kecil tadi dalam perkembangannya menjadi kerajaan besar, barulah perkawainan anak antar- kerajaan mulai diterapkan oleh Arung Palakka. Apabila yg memakai data dari

persoalan yaitu: Apakah pemberian nama Andi di mana kedudukan bangsawan saat itu gampang dan mudah melihat yang mana pro dan anti terhadap Belanda kerana baik pro dan anti Belanda semuanya menyandang gelaran itu?, lalu apakah contoh yang paling mudah ketika Andi Mappanyukki sebagai tokoh yang memopulerkan nama Andi merupakan orang anti Belanda

Apabila data yang merujuk kerana istilah penghormatan dari masyarakat luar Bugis atau akhirnya digunakan oleh Belanda terhadap bangsawan Bugis dianggap kerana sama setaraf juga ada benarnya dimana yang dulunya istilah Adik adalah Andri menjadi Andi itu sangat relevan kerana contoh sangat konkrit adalah sosok Andi Mappanyukki pada sejarah Kronik Van paser yang namanya disebut hanya La Mappanyukki saja, namun kerana banyaknya ketua Bangsawan Wajo hidup di Paser saat itu hingga mengatakan Andri sehingga masyarakat suku-suku Paser, Kutai dayak hingga Banjar sukar menyebutkan dan menyebabkan penyebutan menjadi Andi saja, hal yang sama ketika salah satu Ibukota kerajan Kutai diberikan nama oleh masyarakat Bugis yang bernama Tangga Arung namun sukar penyebutannya oleh masyarakat setempat menjadi Tenggarong.

Namun dizaman sekarang gelar Andi di Desa Ulubalang dalam penetapannya masih dalam cara tertutup pada umummnya. Sehingga bukan berarti bahwa sistem penetapannya secara terbuka untuk sekarang ditiadakan karena masih ada sebagian orang yang dalam sistem penetapannya

PUANG sebenarnya gelar seperti ini adalah gelar kebangsawanan gelar penghargaan kepada yang di tuakan kepada kita bisah kitakan puang untuk saling menghargai sesame bugis. yang paham dengan adat bugis .semuah yang menjabat di daerah ataupun di kabupaten semuah adalah di berikan gelar PUANG .karna sebutan kata puanglah yang bisah menyatukan sesama bugis karna kata puanglah juga diartikan kata UMUM untuk penyebutan nama panggilan seseorang untuk saling menghargai walaupun bukan ANDI wajib di panggil puang.

Sedangkan gelar kata ANDI/PETTA biasanya cara penyebutannya khusus ataukah pribadi. dalam menyikapinya hal seperti ini yang mendapat gelar penghargaan seperti ini mempunyai tanggung jawab yang sangat positif karna tanggung jawabnya luar bisa, harus memiliki jiwa sosial yang tinggi.

beribawa ,dan memperbaiki tali persaudarran . dalam bahasa bugis nya wija appadecengeng.

Hal di atas searah yang di kemukakan oleh salah satu informan yakni M. Arsyad, S.Sos., M.Si. ( 22 september 2016) mengatakan bahwa:

"Sebagian orang berpendapat bahwa gelar kebangsawanan atau garis keturunan diberikan kepada seseorang harus murni darah keturunanannya disebabkan karena gelar seperti itu dia memiliki sifat "Wija Appadecengang"

yang membantu dalam menyelesaikan problematika kehidupan setiap orang disekitarnya dalam hal ini berjasa"

Di beberapa tempat di daerah Bugis atau di Bone, misalnya di daerah Lappa Riaja, orang yang boleh dipanggil "Puang" hanyalah orang yang memiliki garis keturunan Arung (dalam bahasa Bugis dikenal dengan istilah Maddara Takku'). Berbeda halnya dengan di kampungku, khususnya di Desa Nusa, panggilan "Puang" menjadi sebuah sapaan penghormatan bagi orang yang sudah tua, sudah menikah atau yang lebih tua dari kita. Sedangkan untuk orang- orang yang notabene keturunan Arung, biasanya di panggil "Andi" bagi yang belum dewasa atau yang masih remaja atau yang belum menikah.

Sedangkan setlah dewasa atau setelah menikah atau setelah tua, sapaan yang dianggap paling sopan adalah sapaan "Petta", tidak dengan sapaan "Puang".

Bahkan, terkadang orang dianggap tidak sopan jika menyapa seorang "Petta"

dengan sapaan "Puang". Inilah salah satu keunikan di kampungku yang mungkin jika orang luar datang mereka akan terheran-heran dan menganggap bahwa di situ terdapat banyak sekali keturunan arung, padahal sapaan "Puang"

di kampungku itu hanyalah sebuah ekspresi kesopanan masyarakat bagi orang yang dianggap lebih tua atau lebih bijaksana, bukan berdasarkan keturunan.

Arti "Puang" sendiri dalam bahasa bugis memiliki 2 (dua) makna, yaitu; 1) Ketika kata "Puang" itu diarahkan kepada Sang Khaliq, maka kata "Puang"

berarti Tuhan, biasanya orang menyebut "Puang Allah Ta'ala", 2) Jika kata

"Puang" itu diarahkan kepada Makhluk maka kata "Puang" berarti Tuan, merupakan sapaan penghormatan kepada seseorang yang dianggap lebih tua ataupun sudah tua.

"Sebenarnya puang itu adalah sapaan penghormatan kepada seseorang yang dianggap lebih tua atau dituakan. Puang itu bukan bererti kita harus punya garis keturunan sehingga diberi sapaan puang"

Dari penjelasan informan di atas, maka kita dapat mengetahui bahwa puang adalah sapaan penghormatan yang diberikan kepada orang yang lebih tua dari kita. Ini berarti bahwa untuk kata puang di desa Ulubalang itu ditetapkan secara terbuka dalam hal ini sifanya umum. Puang ini berbeda halnya denga kata Arung, Datu, dan Andi.

C. Pembahasan Hasil Penelitian

Membahas tentang status sosial suatu masyarakat penting terutama untuk mengetahui dan mencari latar belakang pandangan hidup atau sifat-sifat yang mendasari suatu masyarakat lebih jauh dari itu, dengan mengetahui pelapisan masyarakat dapat di ungkapkan dengan hubungan-hubungan kejadian dalam masyarakat yang menyangkut tingkah laku dalam segenap kegiatan dalam masyarakat termasuk kegiatan tingkah laku dalam politiknya. Namun dalam pembagian masyarakat bugis dalam berbagai lapisan atau golongan adalah merupakan suatu factor yang penting untuk mempengaruhi kehidupan sosial, ekonomi dan politik. dalam masyarakat bugis, dikenal adanya pelapisan masyarakat. Dalam penelitian ini kami hanya membahas empat status kekuasaan yaitu arung, datu, andi, dan puang. Arung merupakan mereka yang memakai gelar arung biasanya di hubungkan dengan jabatannya dengan

sebut arung dikarenakan kebangsawanannya, dan juga keturunan Arung lili/palili yang tidak memiliki hubungan darah dengan raja bone. Dalam proses penetapan seorang bangsawan dengan kekuasaannya, maka seorang arung itu ditetapkan dengan cara tertutup. Hal ini menunjukkan bahwa harus ada garis keturunan yang menyebabkan sehingga serang memperoleh gelar arung.

Arung merupakan seseorang yang di tunjuk raja yang dapat menyelesaikan suatu masalah di tujuh tempat tersebut, melihat di berbagai daerah yang khususnya berada pada desa-desa sekarang sudah beralih dalam pemerintahan yang modern, sebelum kemerdekaan yang kita ketahui bahwa dalam peperangan melawan penjajah raja kemudian membentuk anggota adat, anggota adat merupakan jabatan turun temurun yang di wariskan kepada putra putrinya yang di anggap mampu membidangi pekerjaan untuk kepentingan raja dan rakyat banyak.

Datu merupakan gelar kebangsawanan yang di berikan kepada seseorang yang di anggap berpengaruh di salah satu derah tersebut, dalam hal ini kesetaraan datu pada masa lalu dengan masa sekarang adalah camat. di antara beberapa gelar yang ada di bone datulah yang merupakan kebangsawanan tertinggi di bawa kepemimpinan raja pada saat itu. di salomekko pada khususnya dikenal dengan datu salomekko pancaitana, yang memerintah di kedatuan salomekko, mempelajari history itu kemudian menjelaskan bahwa pemerintahan merupakan tanggung jawab yang harus di jalankan, akan tetapi

Dalam dokumen Muhammad Akhir, S.Pd., M.Pd (Halaman 80-99)

Dokumen terkait