• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Adapun hasil penelitian tersebut adalah sebagai berikut:

1. Damayanti & Apriyanto (2017) menyimpulkan bahwa rata-rata prestasi siswa melalui pembelajaran kooperatif tipe TGT lebih dari pembelajaran kooperatif tipe NHT. Jadi, pembelajara kooperatif tipe TGT memiliki dampak positif pada prestasi matematika siswa pada siswa kelas V di SDI Alfalah 1 Petang.

2. Warmansyah (2016) menyimpulkan bahwa: 1) Hasil belajar matematika yang diajarkan melalui model pembelajaran TGT lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang diajarkan dengan metode NHT. (Fhitung

= 14,50>Ftabel ( = 0,05) = 4,08). 2) Terdapat pengaruh interaksi antara metode pembelajaran dan motivasi belajar terhadap hasil belajar matematika (Fhitung = 19,15>Ftabel ( = 0,05) = 4,08). 3) Pada siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi, hasil belajar matematika yang diberikan dengan metode TGT lebih tinggi dari pada siswa yang diberikan metode NHT (Fhitung = 20,82>Ftabel ( = 0,05) = 3,11), dan 4) Pada siswa yang memiliki motivasi belajar rendah, hasil belajar matematika yang diberikan dengan metode NHT lebih rendah dari pada siswa yang diberikan metode TGT (Fhitung = -1,05>Ftabel ( = 0,05) = 3,11).

3. Amin & Suardiman (2016) menunjukkan bahwa: 1) Tidak terdapat perbedaan prestasi belajar matematika antara siswa dengan gaya belajar auditorial, visual, dan kinestetik pada pembelajaran TGT dan NHT, serta

ada perbedaan prestasi belajar matematika siswa antara siswa yang memperoleh pembelajaran TGT dan siswa yang memperoleh pembelajaran NHT, 2) Prestasi belajar matematika dengan model pembelajaran TGT lebih baik dari pada model pembelajaran NHT. Siswa SD masih senang bermain, sehingga tidak dominan dengan satu gaya belajar. Pembelajaran TGT bisa meningkatkan prestasi belajar matematika siswa karena siswa dituntut lebih aktif mulai dari diskusi sampai turnamen.

4. Rahmawati (2017) menyatakan bahwa: terdapat pengaruh model pembelajaran TGT dan NHT terhadap kemampuan penalaran matematis siswa; prestasi matematika dengan model TGT lebih baik dibandingkan prestasi matematika dengan model pembelajaran NHT dan pembelajaran Konvensional; dan siswa dengan kemampuan penalaran matematis tinggi memiliki prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan dengan kemampuan penalaran matematis sedang dan rendah.

5. Rochimawati & Benedictus (2016) menyatakan bahwa FA = 24.364>Ftabel = 4.00; FB = 209.683>Ftabel = 3.15; dan FAB = 0,664<Ftabel = 3,15 yang berarti semua hipotesis diterima. Hasil dari penelitian menunjukkan TGT lebih efektif untuk digunakan daripada NHT, kegiatan belajar tinggi memberikan prestasi matematika terbaik berarti kegiatan belajar akan memberikan pengaruh terhadap prestasi siswa, tidak ada interaksi antara model pembelajaran dan aktivitas belajar.

C. Kerangka Pikir

Metode dalam kaitannya dengan pembelajaran matematika adalah siasat atau kiat yang sengaja direncanakan oleh guru, berkenaan dengan segala persiapan pembelajaran agar pelaksanaan pembelajaran berjalan dengan lancer dan tujuannya yang berupa hasil belajar bisa tercapai secara optimal Suherman, dkk (2003: 5). Untuk mencapai hasil belajar yang optimal, hendaknya digunakan metode yang tepat dalam pembelajaran.

Melalui TGT dan NHT dipandang efektif karena akan memberikan peluang kepada siswa untuk lebih aktif dan dapat menggunakan waktu dengan baik dalam pembelajaran, memberikan suasan baru yang menarik dalam pengajaran khususnya mata pelajar matematika. Melalui TGT dan NHT dapat meningkatkan keaktian dan kreatifitas siswa serta dapat memberikan suasana yang menyenagkan dalam belajar matematika. Melalui peelitian ini akan dibandingkan hasil belajar antara siswa yang diajar mengguanakan TGT dengan siswa yang diajar menggunakan NHT.

Untuk mempermudah pemikiran tersebut digunakan ilustrasi kerangka pikir sebagai berikut:

Gambar 2.1 Kerangka Pikir

Pembelajaran Matematika

Model Kooperatif

Tipe Teams Games Tournament (TGT)

Model Kooperatif

Tipe Numbered Heads Together (NHT) Kelebihan

1. Memperluas wawasan siswa.

2. Mengembangkan sikap dan perilaku orang lain.

3. Keterlibatan aktif pese dalam belajar.

4. Dapat menumbuhkan sikap poitif dalam diri sendiri.

5. Hadiah dan penghargaan yang diperoleh akan

memberirikan dorongan bagi peserta didik untuk mencapai hasil yang lebih tinggi.

Kelebihan

1. Setiap siswa menjadi siap semua.

2. Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh.

3. Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai.

4. Tidak ada siswa yang mendominasi dalam kelompok.

Kekurangan

1. Kemungkinan nomor yang dipanggil, akan dipanggil lagi oleh guru.

2. Tidak semua anggota

kelompok dipanggil oleh guru.

Kekurangan

1. Siswa terbiasa belajar dengan adanya hadiah.

2. Kemungkinan besar

permainan akan dikuasai oleh siswa yang suka berbicara.

3. Tidak semua guru memahami cara siswa melakukan

permainan.

Hasil Belajar dan Aktivitas Siswa yang Diajar Melalui Model Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT) Lebih Tinggi Dari Pada Tipe

Numbered Heads Together (NHT).

D. Hipotesis Penelitian

Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang diajar melalui model kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) dengan Numbered Head Together (NHT) dalam pembelajaran matematika pada kelas VIII SMPS DDI Mattoanging. Dalam hal ini, hasil belajar siswa yang diajar melalui model kooperatif tipe TGT lebih tinggi dari pada siswa yang diajar melalui model kooperatif tipe NHT.

Adapun hipotesis statistiknya sebagai berikut:

Keterangan:

= Skor rata-rata hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika yang diajar melalui model kooperatif tipe Team Games Tournaments (TGT).

= Skor rata-rata hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika yang diajar melalui model kooperatif tipe Nubered Heads Together (NHT).

= Tidak ada perbedaan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika antara sisiwa yang diajar melalui model kooperatif tipe Team Games Tournaments (TGT) dengan tipe Nubered Heads Together (NHT) pada kelas VIII SMPS DDI Mattoanging.

= Ada perbedaan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika antara sisiwa yang diajar melalui model kooperatif tipe Team Games Tournaments (TGT) dengan tipe Nubered Heads Together (NHT) pada kelas VIII SMPS DDI Mattoanging.

33

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasi experimental), dimana kedua kelompok dipilih secara random, untuk melihat komparasi hasil belajar dan aktifitas siswa dalam pembelajaran matematika antara siswa yang diajar melalui model kooperatif tipe TGT dengan NHT pada kelas VIII SMPS DDI Mattoanging.

2. Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah Pretest-Posttest Control Group Design. Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang dipilih secara random, kemudian diberi Pretest untuk mengetahui keadaan awal adakah perbedaan antara kelompok eksperimen I dan kelompok eksperime II.

Kelompok eksperimen Iadalah kelompok yang diajar dengan menggunakan model kooperarif tipe TGT dan kelompok eksperimen II adalah kelompok yang diajar dengan menggunakan model kooperatif tipe NHT. Hasil Pretest yang baik bila nilai kelompok eksperimen tidak berbeda secara signifikan.

Pengaruh perlakuan adalah (O2-O1) – (O4-O3).

Tabel 3.1 Model Desai Penelitian

Kelompok Pretest Perlakuan Posttest

Eksperimen I O1 X1 O2

Eksperimen II O3 X2 O4

X = Perlakuan

O1 = Nilai kelompok eksperimen I sebelum diajar dengan TGT (nilai pretest kelompok eksperimen) O2 = Nilai kelompok eksperimen I setelah diajar

dengan TGT (nilai posttest kelompok eksperimen)

O3 = Nilai kelompok eksperimen II sebelum diajar dengan NHT (nilai pretest kelompok eksperimen) O3 = Nilai kelompok eksperimen II setelah diajar dengan NHT (nilai posttest kelompok eksperimen) Sugiyono (2017: 112).

B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SMPS DDI Mattoanging, Kabupaten Bantaeng, Provinsi Sulawesi Selatan.

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMPS DDI Mattoanging yang terdiri dari 4 kelas dan berjumlah 98 siswa.

2. Sampel

Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah simple random sampling. Dalam penelitian ini, peneliti memperoleh sampel dari populasi secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi,

kelompok eksperimen I dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe TGT dan kelas VIII D sebanyak 20 siswa sebagai kelompok eksperimen II dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe NHT.

D. Definisi Operasional Varibel

Definisi operasional adalah definisi yang dirumuskan oleh peneliti tentang istilah-istilah yang ada pada masalah peneliti dengan maksud untuk menyamakan persepsi antara peneliti dengan orang-orang yang terkait dengan penelitian.

1. Model pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah suatu pembelajaran yang melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan, peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement.

2. Model pembelajaran kooperatif tipe NHT adalah suatu pembelajaran yang dapat menumbuhkan rasa keterampilan sosial siswa karena siswa dapat saling berdiskusi, membagikan ide-ide dan menentukan jawaban yang paling tepat secara bersama-sama.

3. Aktivitas siswa adalah interaksi siswa dengan guru maupun dengan temannya selama proses pembelajaran berlangsung.

4. Hasil belajar matematika adalah skala yang diperoleh dari tes yang diberikan sebelum dan sesudah pembelajaran yang dianalisis dengan melihat rata-rata hasil belajar.

Dalam pengumpulan data penulis menempuh beberapa tahap secara garis besar dibagi dalam dua tahap, yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan.

1. Tahap Perencanaan

a. Melakukan observasi di SMPS DDI Mattoanging untuk melihat kendala-kendala yang dialami oleh para guru dan siswa dalam proses pembelajaran.

b. Merumuskan masalah.

c. Melakukan penarikan sampel, sekaligus penentuan kelompok eksperimen Idan kelompok eksperimen II.

d. Melakukan penentuan pokok bahasan yang akan diajarkan.

e. Melakukan analisis silabus.

f. Membuat handout pembelajaran untuk kelompok eksperimen.

g. Membuat soal tes objektif.

2. Tahap Pelaksanaan

a. Kelompok EksperimenI

1) Tahap pengenalan dengan siswa sekaligus pemberian pretest.

2) Penjelasan kepada siswa tentang model kooperatif tipe TGT dan langsung melaksanakan pembelajaran pertama.

3) Melakukan proses pembelajaran.

4) Pemberian posttest dengan instrumen.

b. Kelompok EksperimenII

1) Tahap pengenalan dengan siswa sekaligus pemberian pretest.

langsung melaksanakan pembelajaran pertama.

3) Melakukan proses pembelajaran.

4) Pemberian posttest dengan instrumen.

F. Instrumen Penelitian

Adapun jenis instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari tes yang berupa pretest dan posttest. Pretest diberikan sebelum pembelajaran dan posttest diberikan setelah pembelajajaran berlangsung. Non tes berupa lembar aktivitas siswa untuk melihat perilaku siswa dalam proses pembelajaran.

1. Tes (pretest dan posttest)

Tes adalah alat yang digunakan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa. Tes yang akan dilakukan oleh peneliti berupa soal uraian yang akan diberikan di awal (pretest) dan di akhir (posttest).

Tabel 3.2 Kisi-kisi Soal Pretest dan Posttest Kompetensi Dasar Materi

Pokok Indikator Bentuk

Tes

Nomor Soal 4.2 Menyelesaikan

masalah yang berkaitan dengan

kedudukan titik dalam bidang koordinat kartesius.

Koordinat kartesius

1. Menentukan kedudukan suatu titik terhadap sumbu-X dan sumbu-Y.

2. Menentukan kedudukan suatu titik terhadap titik tertentu (a, b).

3. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kedudukan titik dan kedudukan garis.

4. Menentukan kedudukan garis yang sejajar dan tegak lurus dengan sumbu-X dan sumbu-Y.

Uraian 1 2 3

4

Non tes yang digunakan dalam penelitian ini berupa lembar observasi aktivitas siswa. Data penelitian ini diperoleh dari hasil observasi peneliti terhadap siswa saat pembelajaran berlangsung.

Tabel 3.3 Lembar Observasi Aktivitas Siswa dalam Proses Pembelajaran Matematika melalui Model Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT)

No. Komponen Sub Komponen No. Butir

1 Sikap

Siswa yang hadir pada saat pembelajaran 1

Menjawab salam guru 2

Memperhatikan penjelasan guru 3

Mengikuti arahan guru saat guru mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok belajar dan meja turnamen

5 dan 8 Memperhatikan perwakilan kelompok

mempresentasikan hasil kerja kelompok 7 Jujur dan disiplin berlomba dengan

kelompok lain pada meja turnamen 9 2 Kerjasama Aktif mengerjakan LKS dalam kelompok 6 3 Tanggapan Menanyakan materi yang belum dipahami

kepada guru 4

4 Hasil kerja

Membuat rangkuman dari materi yang telah diajarkan oleh guru dan didiskusikan bersama teman kelompoknya

10 Tabel 3.4 Lembar Observasi Aktivitas Siswa dalam Proses Pembelajaran

Matematika melalui Model Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT)

No. Komponen Sub Komponen No. Butir

1 Sikap

Siswa yang hadir pada saat pembelajaran 1

Menjawab salam guru 2

Memperhatikan penjelasan guru 3

Mengikuti arahan guru saat guru mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok belajar

5

2 Kerjasama

Berdiskusi dan meyakinkan tiap anggota kelompok telah mengerti atau mengetahui jawaban dari pertanyaan yang ada dalam LKS

6

3 Tanggapan

Menanyakan materi yang belum dipahami

kepada guru 4

Merespon/menanggapi jawaban dari

perwakilan kelompok lain 8

4 Hasil kerja

menyebut satu nomor dan siap mempersentasikan jawaban LKS

7 Membuat rangkuman dari materi yang telah

diajarkan oleh guru dan didiskusikan bersama teman kelompoknya

9

G. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan pengukuran hasil belajar matematika dengan memberikan tes soal uraian sebelum pembelajaran (pretest) dan sesudah pembelajaran (posttest). Sedangkan aktivitas siswa diukur dengan melakukan observasi pada saat pembelajaran kooperatif tipe TGT dan NHT.

H. Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh dalam peneliti ini semuanya diolah dan dianalisis dengan menggunakan teknik statistik yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial.

1. Statistik deskriptif

Statistik deskriptif digunakan untuk menganalisis data dengan cara menggambarkan hasil belajar matematika yang diperoleh siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan model kooperatif tipe TGT dan NHT. Dalam penelitian ini, analisis statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan hasil belajar matematika siswa pada setiap kelompok yang telah dipilih.

a. Rata-rata (mean)

ke-i.

: Nilai statistik.

k : Banyaknya kelompok (Muh. Arif Tiro, 2000: 133).

b. persentase (%) nilai rata-rata

Keterangan: p : Angka persentase.

F : Frekuensi yang dicari persentasenya.

N : Banyaknya frekuensi/sampel responden (Nana Sudjana, 2004: 130).

Pedoman yang digunakan untuk mengubah skor mentah yang diperoleh siswa menjadi skor standar (nilai) untuk mengetahui daya serap siswa mengikuti prosedur yang ditetapkan oleh Kemendikbud, yaitu:

Tabel 3.5 Pedoman Penilaian

Interval Predikat Predikat Keterangan

89 – 100 77 – 88 65 – 76

< 65

A B C D

Sangat Baik Baik Cukup Kurang Baik Kemendikbud (2016)

2. Statistik inferensial

Statistik inferensial adalah teknik statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi. Teknik statistik ini dimaksudkan untuk menguji hipotesis penelitian. Analisis statistik inferensial digunakan peneliti untuk melakukan uji kebenaran dengan menggunakan uji t 2 sisi (Independent Samples T Test) pada program SPSS 23 (Statistical Product and Service Solutions).

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui data berdistribusi normal atau tidak. Pengujian normalitas data hasil penelitian dengan menggunakan uji Kolmogorov-smirnov, dengan langkah-langkah sebagi berikut:

1) Perumusan hipotesis

H0: sampel berasal dari populasi berdistribusi normal H1: sampel ebrasal dari populasi berdistribusi tidak normal 2) Data diturunkan dari yang terkecil ke yang terbesar

3) Menentukan komulatif proporsi (kp) 4) Data ditranformasi ke skorbaku: ̅

5) Menentukan luas kurva zi(z-tabel)

6) Menentukan a1 dan a2 :

a2 : selisih Z-tabel dan kp pada batas atas (a2 = Absoilt (kp- Ztab))

a1: selisih Z-tabel dan kp pada batas bawah (a1 = Absoilt (a2- fi/n))

7) Nilai mutlak maksimum dari a1 dan a2 dinotasikan dengan Do 8) Menentukan harga D-tabel

9) Kriteria pengujian

Jika Do<D-tabel maka diterima Jika Do D-tabel maka ditolak

Jika Do D-tabel : sampel berasal dari populasi berdistribusi normal

Jika Do D-tabel : sampel berasal dari populasi berdistribusi tidak normal (Kadir, 2015)

b. Uji homogenitas

Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah kedua sampel memiliki tingkat varians data yang sama atau tidak. Untuk menguji kesamaan dua varians data dari kedua kelompok rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

(Suharsumi Arikunto, 2002: 290)

Kriteria pengujian adalah jika pada taraf nyata dengan didapat dari distribusi F dengan derajat kebebasan masing- masing sesuai dengan dk pembilang dan dk penyebut pada taraf = 0,05 maka data tersebut dikatakan homogen dan sebaliknya jika pada taraf nyata dengan didapat dari distribusi F dengan derajat kebebasan masing-masing sesuai dengan dk pembilang dan dk penyebut pada taraf = 0,05 maka data tersebut dikatakan tidak homogen.

c. Uji hipotesis

Pengujian hipotesis dengan menggunakan uji kesamaan rata-rata yaitu dengan menerapkan teknik uji-t.

√( ) ( )

( )

Dengan adalah variansi gabungan yang dihitung dengan rumus:

( ) ( ) Kriteria pengujian sebagai berikut:

a) Terima H0 jika t hitung < (1 – ) ( ) table.

b) Tolak H0 jika t hitung > (1 – ) ( ) table.

Keterangan: ̅ : Rata-rata kelompok eksperimen I ̅ : Rata-rata kelompok eksperimen II

: Jumlah anggota kelompok eksperimen I : Jumlah anggota kelompok eksperimen II : Variansi kelompok eksperimen I

: Variansi kelompok eksperimen II (Sugiyono, 2010:

229)

Hipotesis penelitian akan diuji dengan kriteria pengujian adalah:

a) Jika thitung > ttabel atau taraf signifikan < (nilai sign > 0,05) maka H0 ditolak dan H1 diterima, berarti ada perbedaan signifikan dalam penerepan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournaments (TGT) dengan tipe Numbered Heads Together (NHT) pada kelas VIII SMPS DDI Mattoanging.

b) Jika thitung < ttabel atau taraf signifikan > (nilai sign > 0,05) maka H0 diterima dan H1 ditolak, berarti tidak ada perbedaan

Team Games Tournaments (TGT) dengan tipe Numbered Heads Together (NHT) pada kelas VIII SMPS DDI Mattoanging.

Apabila data tidak normal atau data tidak homogen (sama) maka menggunakan uji non parametrik. Adapun derajat kesalahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebesar 5% atau = 0,05.

45

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini merupakan jawaban dari rumusan masalah yang telah ditetapkan sebelumnya yang dapat menguatkan sebuah hipotesis atau jawaban sementara. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di SMPS DDI Mattoanging diperoleh datasebagai berikut:

1. Deskripsi data aktivitas siswa kelas VIII C SMPS DDI Mattoanging menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournaments (TGT) pada Kelas Eksperimen I

Tabel 4.1 Data Aktivitas Siswa Kelas VIII C SMPS DDI Mattoanging pada Kelas Eksperimen I

No. Kategori Aktivitas Siswa yang Diamati

Pertemua

II % III % IV % 1 Siswa yang hadir pada saat

pembelajaran 20 100 20 100 20 100

2 Menjawab salam guru 20 100 20 100 20 100

3 Memperhatikan penjelasan guru 20 100 20 100 20 100 4 Menanyakan materi yang belum

dipahami kepada guru 3 15 6 30 8 40

5 Antusias mengikuti arahan guru saat guru mengorganisasikan siswa kedalam kelompok belajar

20 100 20 100 20 100 6 Aktif mengerjakan LKS dalam

kelompok 18 90 20 100 20 100

7 Memperhatikan perwakilan kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompok

12 60 18 90 20 100

8 Mengikuti arahan guru saat guru mengorganisasikan siswa ke dalam meja pertandingan

20 100 20 100 20 100 9 Jujur dan disiplin berlomba dengan

kelompok lain pada meja turnamen 20 100 20 100 20 100 10 Menyimpulkan materi atau

membuat rangkuman 20 100 20 100 20 100

Rata-rata Persentase Aktivitas Siswa 87 92 94

dari kategori aktivitas siswa yang diamati diperoleh, pertemuan ke-II 87%, pertemuan ke-III 92% dan pertemuan ke-IV 94%.

2. Deskripsi data aktivitas siswa kelas VIII D SMPS DDI Mattoanging menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) pada Kelas Eksperimen II

Tabel 4.2 Data Aktivitas Siswa Kelas VIII D SMPS DDI Mattoanging pada Kelas Eksperimen II

No. Kategori Aktivitas Siswa yang Diamati

Pertemua

II % III % IV % 1 Siswa yang hadir pada saat

pembelajaran 20 100 20 100 20 100

2 Menjawab salam guru 20 100 20 100 20 100

3 Memperhatikan penjelasan guru 20 100 20 100 20 100 4 Menanyakan materi yang belum

dipahami kepada guru 2 10 5 25 6 30

5 Antusias mengikuti arahan guru saat guru mengorganisasikan siswa kedalam kelompok belajar

20 100 20 100 20 100 6 Berdiskusi dan meyakinkan tiap

anggota kelompok telah mengerti atau mengetahui jawaban dari pertanyaan yang ada dalam LKS

15 75 18 90 19 95

7 Antusias mengangkat tangan pada saat guru menyebut satu nomor dan siap mempersentasikan jawaban LKS

20 100 16 100 16 100 8 Merespon/menanggapi jawaban

dari perwakilan kelompok lain 11 55 16 80 18 90 9 Menyimpulkan materi atau

membuat rangkuman 20 100 20 100 20 100

Rata-rata Persentase Aktivitas Siswa 82 88 91 Berdasarkan 4.2 diketahui bahwa rata-rata persentase aktivitas siswa dari kategori aktivitas siswa yang diamati diperoleh, pertemuan ke-II 82%, pertemuan ke-III 88% dan pertemuan ke-IV 91%.

Games Tournaments (TGT) pada Kelas Eksperimen I

Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan di SMPS DDI Mattoanging dan tes yang diberikan pada peserta didik sebelum dan sesudah dilakukan perlakuan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournaments (TGT) di kelas VIII C SMPS DDI Mattoanging yang telah diolah dan didapatkan hasil sebagai berikut:

Tabel 4.3 Data Statistik Deskriptif Hasil Belajar Siswa Sebelum dan Sesudah Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Games Tournaments (TGT)

Statistik Nilai Statistik Pretest Posttest

Jumlah Sampel 20 20

Nilai Terendah 4 60

Nilai Tertinggi 93 100

Nilai Rata-rata 39 82

Berdasarkan table 4.3 diketahui bahwa:

a. Pretest kelas eksperimen I

Sampel yang digunakan berjumlah 20, nilai terendah yang diperoleh sebelum diberikan perlakuan adalah 4, nilai tertinggi 93, dan nilai rata-rata yang diperoleh adalah 39.

b. Posttest kelas eksperimen I

Sampel yang digunakan berjumlah 20, nilai terendah yang diperoleh sebelum diberikan perlakuan adalah 60, nilai tertinggi 100, dan nilai rata-rata yang diperoleh adalah 82.

kemampuan rata-rata hasil belajar matematika sebelum dan setelah diberikan perlakuan sangat berbeda, yakni nilai rata-rata pretest adalah 39 sedangkan nilai rata-rata posttest adalah 82.

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi dan Persentase Hasil Pretest dan Posttest Siswa kelas Eksperimen 1

Tingkat

Penguasaan Kategori Pretest Posstest

Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase 89 – 100

77 – 88 65 – 76

< 65

Sangat Baik Baik Cukup Kurang Baik

1 1 3 15

5 5 15 75

6 5 7 2

30 25 35 10

Jumlah 20 100 20 100

Berdasarkan tabel 4.4 dapat diketahui bahwa hasil belajar matematika siswa sebagai berikut:

a. Pada pretest terdapat 15 siswa (75%) berada pada kategori kurang baik, 3 siswa (15%) berada pada kategori cukup, 1 siswa (5%) berada pada kategori baik, dan 1 siswa (5%) berada pada kategori sangat baik. Dari persentase hasil belajar matematika siswa, dapat kita simpulkan bahwa sebelum diberikan perlakuan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournaments (TGT) pada kelas eksperimen I, kemampuan atau tingkat penguasaan materi masih rendah, sesuai dengan hasil persentase paling tinggi yaitu pada kategori kurang baik dengan hasil persentase 75%. Untuk lebih jelas dapat dilihat diagram lingkaran hasil Pretest pada kelompok eksperimen I.

Gambar 4.1 Diagram Lingkaran Hasil Pretest Kelompok Eksperimen I

b. Pada posttest terdapat 2 siswa (10%) berada pada kategori kurang baik, 7 siswa (35%) berada pada kategori cukup, 5 siswa (25%) berada pada kategori baik, dan 6 siswa (30%) berada pada kategori sangat baik. Dari persentase hasil belajar matematika siswa, dapat kita simpulkan bahwa setelah diberikan perlakuan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournaments (TGT) pada kelas eksperimen I, kemampuan atau tingkat penguasaan materi mengalami peningkatan, sesuai dengan hasil persentase pada kategori sangat baik dengan hasil persentase 30%. Untuk lebih jelas dapat dilihat diagram lingkaran hasil Posttest pada kelompok eksperimen I.

Gambar 4.2 Diagram Lingkaran Hasil Posttest Kelompok Eksperimen I

15%

75%

Sangat Baik Baik

Cukup Kurang Baik

30%

25%

35%

10%

Sangat baik Baik Cukup Kurang baik

Dokumen terkait