• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

Dari proses implementasi kebijakan melalui enam indikator tersebut dapat diketahui apa saja hambatan dalam implementasi kebijakan Program Indonesia Pintar (PIP) di SMA Negeri 2 Barru.

a) Standar dan sasaran kebijakan

Standar serta sasaran dari sebuah kebijakan harus jelas dan terukur agar kebijakan tersebut tepat pada apa yang telah direncanakan sehinga tidak terjadi multiinterpretasi serta dapat menyebabkan sebuah konflik di antara para impelementator.

Berdasarkan hasil wawancara SH selaku tim manajemen PIP Provinsi Sulawesi Selatan dalam hal ini dijelaskan bahwa:

“Sasaran dari kebijakan ini adalah para keluarga tidak mampu atau kurang mampu atau yatim piatu dalam hal perekonomian terutama dalam memenuhi kebutuhan sekolah, dalam program indonesia pintar ini terdapat kriteria tertentu untuk siswa agar biasa mendapat bantuan PIP untuk kebutuhan sekolah, bantuan ini diberikan sebagai penunjang siswa yang kurang mampu atau anak yatim piatu agar tak putus sekolah.” (Hasil wawancara dengan SH, tanggal 17 Januari 2022)

Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa pada dasarnya kebijakan Program Indonesia Pintar (PIP) ini lebih berfokus pada masyarakat yang tidak mampu atau kurang mampu dan yatim piatu agar bisa melanjutkan pendidikan dan bisa meringankan biaya sekolah dan membantu membiayai anak yang putus sekolah sebagaimana yang telah dirancang pemerintah yakni wajib belajar 12 Tahun.

Lanjut hasil wawancara dengan YK selaku kepala UPT SMA Negeri 2 Barru mengatakan bahwa:

“Terkait dengan sasaran kebijakan PIP kami dari pihak sekolah ini lebih mengutamakan siswa yang tidak mampu atau kurang mampu agar bisa

memenuhi kebutuhan sekolah, agar tidak ada siswa yang putus sekolah atau tidak bersekolah, sehingga bisa melanjutkan pendidikannya, agar mereka tetap bisa bersekolah dengan layak dan tidak kekurangan dalam biaya pendidikannya.” (Hasil wawancara dengan YK, tanggal 24 Januari 2022)

Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa kebijakan ini lebih berfokus pada masyarakat yang tidak mampu atau kurang mampu dalam biaya sekolah dan anak yang putus sekolah agar bisa melanjutkan pendidikan pada jenjang selanjutnya dengan layak dan tidak kekurangan dalam biayapendidikan.

Selanjutnya dari hasil wawancara dengan NS orang tua siswa, mengatakan bahwa:

“kalau saya lihat sasarannya ini di tujukan untuk siswa yang kurang mampu, agar tetap bersekolah dan melanjutkan pendidikannya, kartu indonesia pintar ini membantu para siswa untuk membeli peralatan sekolah, membayar transportasi dan uang saku. Kartu ini juga mengurangi sedikit beban orang tua siswa.” (Hasil wawancara dengan NS, tanggal 26 Januari 2022)

Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa melalui kartu Indonesia Pintar maupun bantuan pendidikan lainnya diberikan dengan tujuan untuk meringankan biaya bagi orang tua yang berasal dari status ekonomi bawah.

Bantuan ini dapat digunakan untuk biaya transportasi, serta uang saku mereka ke sekolah.

Selanjutnya dari hasil wawancara dengan SB selaku siswa, mengatakan bahwa:

“sasaran dari kebijakan ini yaitu siswa miskin dilihat dari siswa yang orang tuanya kurang mampu dengan mempunyai kartu PKH atau keluarga sejahtera.” (Hasil wawancara dengan SB, tanggal 20 Juli 2022)

Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa sasaran dari kebijakan program Indonesia Pintar (PIP) ini yaitu siswa miskin atau kurang mampu dimana orang tuanya mempunyai kartu PKH atau keluarga sejahtera.

Berdasarkan beberapa kutipan wawancara dari beberapa informan di atas, dapat disimpulkan bahwa standar dan sasaran kebijakan Program Indonesia Pintar (PIP) di tujukan untuk siswa yang kurang mampu dan yatim piatu yang kesulitan dalam biaya pendidikan sehingga harus putus sekolah, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh tim manajemen PIP Provinsi Sulawesi Selatan dan petugas SMA Negeri 2 Barru mengenai Program Indonesia Pintar (PIP) sudah sesuai dengan aturan kebijakan dimana Sasaran dari kebijakan ini adalah para keluarga tidak mampu atau kurang mampu dalam hal perekonomian terutama dalam memenuhi kebutuhan sekolah.

Adapun berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti ditemukan bahwa dalam standard dan sasaran kebijakan Program Indonesia Pintar (PIP) yaitu keluarga yang kurang mampu atau tidak mampu, namun ada pula siswa yang tergolong mampu namun menerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP), sehingga standard dan sasaran kebijakan belaum tepat sasaran.

b) Sumber daya

Sumber daya menjadi salah satu faktor penting dalam implementasi kebijakan publik. Sumber daya meliputi sumber daya manusia, sumber daya anggaran, dan sumber daya fasilitas. Sumber daya menusia berkenaan dengan kecakapan pelaksana kebijakan publik untuk mengimplementasikan kebijakan secara efektif.

Terkait dengan sumber daya tentu di Program Indonesia Pintar pemerintah menyediakan sumber daya manusia, dana, dan fasilitas untuk mendukung pembiayaan pendidikan.

Berdasarkan hasil wawancara SH selaku tim manajemen PIP Provinsi Sulawesi Selatan dalam hal ini dijelaskan bahwa:

“Kesiapan dari Tim kami dalam menginformasikan terkait PIP ini sudah di laksanakan semaksimal mungkin, kita telah melakukan sosialisasi semua sekolah sebelum covid-19 yang di selenggarakan oleh KEMENDIKBUD, kami juga memaksimalkan terkait mekanisme pencairan, jadwal pencairan dan lain sebagainya, masalah sumber daya, ya jika pemerintah mengeluarkan sebuah kebijakan atau program tentu ada yang namanya dana untuk menjalankan program tersebut, seperti halnya PIP ini pemerintah membuat sebuah aturan yang menjelaskan mengenai aturan yang akan dilakukan, kemudian terkait dengan besaran dana sesuai dengan aturan yaitu untuk paket A itu 450.000 paket B 750.000 dan C 1.000.000.” (Hasil wawancara dengan SH, tanggal 17 Januari 2022)

Dari ungkapan itu penulis dapat mengetahui bahwa pelaksana Program Indonesia Pintar (PIP) telah melaksanakan semaksimal mungkin baik terkait jadwal pencairan, penyampaian informasi dan langkah selanjutnya. dalam mensosialisasikan Program Indonesia Pintar (PIP) telah disediakan anggaran dari KEMENDIKBUD, dengan adanya covid-19 informasi ke setiap sekolah hanya melalui surat edaran, sehingga terjadi informasi dan anggaran pendukung dalam mensosialisasikan Program Indonesia Pintar (PIP) terjadi keterlambatan. adapun sumber daya dana yang ada di program ini dibagi sesuai dengan jenjang pendidikan penerima KIP. Sesuai dengan peraturan yang tertulis pada Permendikbud Nomor 10 Tahun 2020. Selain adanya sumberdaya dana ada pula sumber daya manusia dan sumber daya fasilitas untuk menunjang berjalannya

proses implementasi Program Indonesia Pintar ini bisa sesuai dengan apa yang telah direncanakan.

Hal itu juga dikatakan YK selaku kepala UPT SMA Negeri 2 Barru bahwa:

“Dalam mengeluarkan suatu kebijakan sudah pasti ada dananya, kalau dari sumber daya dana yang dimiliki Alhamdulillah kita cukup dengan adanya anggaran tersendiri yang telah dialokasikan dalam mengurus Program Indonesia Pintar ini, namun tidak hanya di sumber dana. Melihat Sumber daya manusia yang kita miliki belum bisa dikatakan cukup memadai dalam hal ini, kita masih kewalahan karna kurangnya sumber daya manusia namun sumber daya manusia kita terdapat beberapa orang yang bisa mengurus PIP ini, serta dari sumber daya fasilitas juga tersedia dengan cukup memadai, dalam pembagian tugas agar berjalan lebih efektif, kami adakan sosialisasi kepada wali murid dan siswa”.(Hasil wawancara dengan YK, tanggal 24 januari 2022)

Dari hasil wawancara diatas penulis dapat mengetahui bahwa setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah tentu ada yang namanya sumber daya manusia yang akan menjalankannya selain itu dari sumber daya dalam kebijakan ini seperti sumber dana yang akan diberikan kepada para siswa penerima juga ada sumber daya fasilitas, petugas sekolah juga membagi tugas agar informasi terkait program indonesia pintar (PIP) dapat dilaksanakan semkasimal mungkin, serta mengadakan sosialisasi yang guna menjalakan kebijakan ini agar nantinya sesuai dengan yang direncanakan oleh pemerintah.

Selanjutnya dari hasil wawancara dengan NS orang tua siswa, mengatakan bahwa :

“Untuk orang yang melakukan sosialisasi secara lansung ke masyarakat saya belum pernah dengar, karna biasanya disampaikan di sekolah nanti anak-anak yang sampaikan di rumah, kalau uang yang di terima ada 1.000.000 tapi dua kali dikasi.” (Hasil wawancara dengan NS, tanggal 26 Januari 2022)

Dari hasil wawancara diatas dapat dikemukakan bahwa orang tua siswa mengatakan bahwa sosialisasi PIP dilakukan di sekolah dan disampaikan oleh siswa,dan menerima dana PIP secara bertahap senilai 1.000.000.

Lanjut hasil wawancara yang dilakukan dengan SA orang tua siswa yang lain, mengatakan bahwa :

“saya biasanya di panggil, diberitahu tentang persyaratan penerima KIP, begitupun setelah dananya di terima saya di panggil lagi untuk tanda tangan.” (Hasil wawancara dengan SA, tanggal 26 Januari 2022)

Dari hasil wawancara diatas dapat dikemukakan bahwa setelah di sampaikan informasi kepada siswa untuk diberitahukan kepada orangtuanya mereka dipanggil ke sekolah untuk bertandatangan sebagai tanda bukti sudah menerima dananya.

Lanjut hasil wawancara yang dilakukan dengan NM orang tua siswa yang lain, mengatakan bahwa :

“Iya saya bersyukur sekali adanya bantuan untuk anak sekolah dan tidak susah jie mengurus karna guru yang daftar kie disuruh saja anak-anak bawa kartu keluarga sama kartu tidak mampu nanti kalau keluar mi uangnya disuruh meki datang disekolah tanda tangan.” (Hasil wawancara dengan AN, tanggal 26 Januari 2022)

Dari hasil wawancara di atas dapat dikemukakan bahwa orang tua siswa yang melihat dari sumber daya, orang tua siswa merasa terbantu dengan adanya program PIP ini, serta tersedianya pihak sekolah membantu mendaftarkan siswa- siswa yang tidak mampu atau kurang mampu yang persyaratan dalam pendaftaran yang cukup mudah bagi orang tua siswa.

Berdasarkan beberapa kutipan wawancara di atas, dapat disimpulkan bahwa sumber daya yang dimiliki oleh sekolah SMA Negeri 2 Barru, baik sumber

daya manusia, sumber daya dana, maupun sumber daya fasilitas sudah cukup memadai.

Terlihat bahwa sumber daya manusia yang bekerja sudah berkompeten dengan untuk melakukan pekerjaannya. Sumber daya finansial juga cukup baik dengan adanya anggaran Program Indonesia Pintar (PIP) dari pemerintah pusat, serta sumber daya fasilitas atau pendukung dalam hal sarana dan prasana oleh pihak sekolah juga cukup memadai.

Adapun berdasarkan hasil penelitian oleh peneliti ditemukan bahwa dalam sumber daya yang dimiliki oleh sekolah SMA Negeri 2 Barru sudah cukup memadai. Dilihat dari ketersediaan jumlah pegawai di sekolah SMA Negeri 2 Barru yang melakukan pelayanan langsung kepada masyarakat sesuai dengan kompeten dan tugas pokok dan fungsi masing-masing dalam melakukan proses pelayanan sudah cukup baik dan memadai.

Adapun struktur penanggung jawab Program Indonesia pintar (PIP) sebagai berikut :

Tabel 4.9. Struktural Penanggung Jawab Program Indonesia Pintar di SMA Negeri 2 Barru

Nama Jabatan Pangkat

Yakub, S.Pd., M.Pd. Kepala sekolah / guru Mapel

PNS

Drs. Muhammad Irpan Kordinator BK PNS

Drs. Firman Humas / guru Mapel PNS

Taufik, S.Pd. Kordinator kesiswaan / guru Mapel

PNS

Armin, SE. Operator sekolah / guru Mapel

PNS

Sember: data SMA Negeri 2 Barru

Berdasarkan Tabel 4.8. Struktural Penanggung Jawab Program Indonesia Pintar di SMA Negeri 2 Barru diantaranya: Yakub selaku kepala sekolah sekaligus guru, Muhammad Irpan selaku kordinator BK, Taufik selaku kordinator kesiswaan sekaligus guru, dan Armin selaku operator sekolah sekaligus guru.

c) Komunikasi antar organisasi dan penguatan aktivitas

Sedangkan pengertian komunikasi itu sendiri merupakan proses penyampaian informasi dari komunikasi kepada komunikan. Komunikasi sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan dari implementasi kebijakan publik.

Selain itu, kebijakan yang dikomunikasikan pun harus tepat, akurat dan konsisten.

Komunikasi merupakan salah satu elemen penting yang mempengaruhi implementasi kebijakan publik. Keberhasilan sebuah kebijakan dapat dilihat dari komunikasi yang ada. Kebijakan harus disampaikan kepada pihak-pihak yang terkait, sehingga informasi yang disampaikan harus akurat.

Apabila penyampaian tujun dan sasaran suatu kebijakan tidak jelas, tidak memberikan pemahaman atau bahkan tujuan dan sasaran kebijakan tidak diketahui sama sekali oleh kelompok sasaran, maka kemungkinan akan terjadi suatu penolakan atau resistensi dari kelompok sasaran yang bersangkutan.

Oleh karena itu diperlukannya tiga hal, yaitu penyaluran (transmisi) yang baik akan mengahsilkan implementasi yang baik pula, adanya kejelasan yang diterima oleh pelaksana kebijakan sehingga tidak membingungkan dalam pelaksanaannya, dan adanya konsistensi yang diberikan pelaksanaan kebijakan.

Bedasarkan hasil wawancara dengan SH selaku tim manajemen PIP Provinsi Sulawesi Selatan mengungkapkan bahwa :

“Komunikasi yang kita lakukan adalah melakukan sosialisasi di setiap sekolah-sekolah, guna memberikan penjelasan kepada guru dan siswa tentang Program Indonesia pintar ini, nantinya guru-guru yang memberikan penjelasan lebih pada siswa yang belum paham, ya dimana proses pelaksanaannya akan dilaksanakan di sekolah masing-masing, selain sosialisasi di sekolah kita juga melakukan sosialisasi melalui media sosial karena kita ketahui sekarang juga telah ada pada era digital, jadi harus dimaksimalkan juga media sosial.” (Hasil wawancara dengan SH, tanggal 17 Januari 2022)

Dari hasil wawancara di atas mengemukakan bahwa oleh tim manajemen PIP Provinsi Sulawesi Selatan telah melakukan sosialisasi Program Indonesia Pintar (PIP) di sekolah-sekolah dengan memberikan pemahaman kepada Guru dan Siswa. Proses pelaksanaanya dilaksanakan di setiap sekolah masing-masing.

Selain sosialisasi langsung di sekolah-sekolah, juga melakukan sosialisasi melalui media sosial sebagai bentuk perkembangan zaman dimana sekarang telah berada pada era digital, sehingga penggunaan media sosial menjadi penting juga dilakukan.

Senada Hasil wawancara yang dilakukan YK selaku kepala UPT SMA Negeri 2 Barru, mengatakan bahwa :

“ya kita sebagai petugas di sekolah ini Sudah di informasikan mengenai Program Indonesia pintar (PIP) dari dinas pendidikan dan kemudian kita disini memberikan penjelasan ke siswa-siwa untuk disampaikan ke orang

tua masing-masing dengan persyaratan yang sudah ditentukan dalam Program ini.” (Hasil wawancara dengan YK, tanggal 24 Januari 2022) Dari hasil wawancara di atas dapat dikemukakan bahwa petuga sekolah telah melakukan komunikasi dengan melakukan sosialisasi ke siswa untuk disampaikan ke orang tua masing-masing dengan persyaratan yang telah di tentukan dalam Program Indonesia Pintar (PIP).

Hasil wawancara dengan Ibu SY sebagai orang tua siswa, mengatakan bahwa :

“iya memang kita sampaikan sekolah lewat siswanya kalau ada bantuan pemerintah untuk anak-anak miskin disuruh mi bawa kartu PKH itu disuruh anak-anak bawa sama foto copy KK.” (Hasil wawancara dengan SY, tanggal 26 Januari 2022)

Dari hasil wawancara di atas dapat dikemukakan bahwa orang tua siswa telah mendapatkan informasi mengenai Program Indonesia Pintar (PIP) dan membawa beberapa persyaratan untuk menerima bantuan Program tersebut.

Senada dengan hasil wawancara dengan MN orang tua siswa lain, mengatakan bahwa :

“Iya sudah. Sebelumnya anak-anak sudah di informasikan oleh gurunya bahwa ada bantuan untuk anak tidak mampu, dan waktu itu wali kelasnya ngasih tau kalau ada bantuan dari pemerintah untuk keperluan sekolah, di suruh bawa surat tidak mampu atau PKH sama KK.” (Hasil wawancara dengan MN, tanggal 26 Januari 2022)

Dari hasil wawancara di atas dapat dikemukakan bahwa orang tua siswa sudah mendapatkan informasi mengenai Program Indonesia Pintar (PIP) dengan persyaratan yang harus dibawah yaitu PKH dan KK.

Berbeda dengan hasil wawancara yang dilakukan dengan MD salah satu orang tua siswa, mengatakan bahwa :

“Kalau informasi itu biasanya kita dari mulut ke mulutji, mungkin sudah disampaikan ke siswa tapi nalupa kasi tau saya, dari tetangga yang sudah mengurus dia menyampaikan ke orang lain.” (Hasil wawancara dengan AN, tanggal 26 Januari 2022)

Dari hasil wawancara di atas dapat dikemukakan bahwa orang tua siswa dalam komunikasi dengan sosialisasi tidak didapatkan langsung dari dan sekolah, melainkan informasi yang didapatkan melalui mulut ke mulut dari orang tua siswa yang telah mengurus Program Indonesia Pintar (PIP).

Berdasarkan hasil wawancara dengan RR selaku siswa, mengatakan bahwa:

“wali kelas bilang sampaikan ini info ke orang tua, karena nanti mau di berikan pengarahan tentang program indonesia pintar ini disitu kita dijelaskan persyaratan-persyaratan KIP ”.(hasil wawancara RR pada tanggal 20 juli 2022)

Berdasarkan pernyatan di atas bahwa, informasi yang diberikan oleh petugas sekolah disampaikan dengan baik kepada siswa, dalam pernyataan tersebut pihak sekolah melibatkanguru dan siswa dalam pemberian pemahaman mengenai program indonesia pintar (PIP).

Berdasarkan beberapa hasil wawancara di atas, dapat disimpulkan bahwa komunikasi yang dilakukan oleh pihak sekolah SMA Negeri 2 Barru mengenai Program Indonesia Pintar sudah baik. Komunikasi dilakukan dengan sosialisasi langsung dan tidak langsung.

Adapun sosialisasi langsung yang dilakukan adalah melakukan sosialisasi di sekolah sebagai untuk penerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP), serta memberikan informasi mengenai syarat-syarat yang dibutuhkan untuk menerima bantuan PIP. Sementara sosialisasi tidak langsung dilakukan melalui komunikasi

media sosial sebagai media kedua di jaman sekarang, dimana telah masuk pada era digital yang menjadikan media sosial menjadi penting juga.

Adapun berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti ditemukan bahwa dalam komunikasi dilakukan dua cara yaitu, dalam bentuk sosialisasi langsung dan tidak langsung yang dilakukan oleh Dinas pendidikan dan pihak sekolah SMA Negeri 2 Barru sudah baik. Salah satu hasil dari komunikasi yang dilakukan oleh D inas Pendidikan dengan adanya sosialisasi lansung ke sekolah- sekolah tentang program Indonesia Pintar (PIP).

d) karakteristik agen pelaksana

Mencakup aturan birokrasi, asas atau norma, dan bentuk-bentuk hubungan yang terjadi di dalam birokrasi yang akan mempengaruhi jalannya sebuah kebijakan yang telah dirumuskan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan SH selaku tim manajemen PIP Provinsi Sulawesi Selatan mengatakan bahwa :

“kebijakan ini sudah dilaksanakan dengan SOP yang ada, kalau Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat kalau di kami itu mengkoordinir. Jadi pkbmnya menerbitkan surat bahwa anak itu bersekolah disitu kemudian membawa ktp dan KK kmudian petugas membawa ke kantor Dinas.”

(Hasil wawancara dengan SH, tanggal 17 Januari 2022)

Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa kebijakan telah dilaksanakan sesuai SOP yang ada, hubungan dalam birokrasi dapat secara langsung maupun tidak langsung bisa mempengaruhi dan menjadi salah satu faktor yang mendukung berjalannya sebuah kebijakan yang telah dibuat.

Adapun hasil wawancara dengan YK selaku kepala UPT SMA Negeri 2 Barru mengatakan bahwa:

“Pelaksana kebijakan ini terbilang sangat kurang, jadi pekerjaan setiap petugas juga bertambah, ada yang sebagai operator dan juga sebagai pelaksananya namun semuanya bisa diatasi dan tetap dilaksanakan sebagaimana mestinya.” (Hasil wawancara dengan YK, tanggal 24 Januari 2022)

Berdasarkan hasil wawancara yang di lakukan dapat di simpulkan bahwa pelaksana kebijakan Program Indonesia Pintar (PIP) masih terbilang kurang sehingga petugas sekolah yang bertindak sebagai pelaksana kebijakan kewalahan dalam pekerjaannya namun hal tersebut tetap dijalankan sebagaimana mestinya.

Adapun hasil wawancara dengan SA selaku orang tua siswa mengatakan bahwa:

“petugas sekolah kalau kita ada orang tua siswa yang belum paham tentang program indonesia pintar bisa datang datang kesekolah bertanya, petugas sekolah melayani kita dengan baik”. (Hasil wawancara dengan SA, tanggal 26 Januari 2022)

Berdasarkan hasil wawancara yang di lakukan dapat di simpulkan bahwa petugas sekolah telah memberikan pelayanan yang baik bagi orang tua siswa yang belum paham mengenai Program Indonesia Pintar (PIP).

Adapun hasil wawancara dengan SB selaku siswa mengatakan bahwa:

“petugas sekolah yang bertugas dalam PIP terbagi ada sebagai operator, ada yang bertugas terjun lansung ke masyarakat melihat siswa yang pantas menerima bantuan”. (Hasil wawancara dengan SB, tanggal 20 Juni 2022) Berdasarkan beberapa kutipan wawancara di atas, dapat disimpulkan bahwa karakteristik agen pelaksanaan yang dilakukan oleh Dinas pendidikan Provinsi dan sekolah SMA Negeri 2 Barru, peneliti menyimpulkan bahwa hubungan dalam birokrasi dapat menjadi salah satu faktor yang mendukung berjalannya sebuah kebijakan yang telah dibuat dalam Program ini pelaksana kebijakan Program Indonesia Pintar (PIP) masih terbilang belum memadai.

Adapun berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti ditemukan bahwa dalam karakteristik agen pelaksanaan dalam Program Indonesia Pintar (PIP) di SMA Negeri 2 Barru terbilang sangat kurang sehingga pelaksana kebijakan kewalahan dalam mengurus dan menjalankan Program Indonesia Pintar (PIP). Hal ini bisa dikatakan bahwa karakteristik agen pelaksana belum sesuai atau belum terpenuhi sebagaimana mestinya.

e) Kondisi lingkungan

Kemudian sumber daya ekonomi lingkungan yang bisa mendukung keberhasilan dari implementasi sebuah kebijakan yang telah dirumuskan;

bagaimana sifat dan opini masyarakat yang ada di lingkungan tempat sasaran dari kebijakan tersebut, karakteristik para partisipan, apakah mendukung ataupun menolak; serta apakah para elite politik yang ada dilingkungan tersebut bisa mendukung dari implementasi sebuah kebijakan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan SH selaku tim manajemen PIP Provinsi Sulawesi Selatan mengatakan bahwa:

“Sasaran paling penting dari program ini kan untuk membantu keluarga yang tidak mampu atau kurang mampu yang tentunya diyakini tidak bisa memenuhi kebutuhan sekolah siswa seperti kekurangan biaya sekolah, untuk transpor, beli buku, dan yang lainnya. Pada keluarga yang semacam itu. Selain itu kondisi lingkungan sasaran kebijakan yang kurang mendukung juga dapat mempengaruhi Program Indonesia Pintar (PIP) ini.” (Hasil wawancara dengan SH, tanggal 17 Januari 2022)

Dari hasil wawancara diatas Analisis terkait kondisi ekonomi, sosial, dan politik ada bebarapa hal yang kemudian dijelaskan oleh pihak terkait, contohnya saja oleh pihak Dinas Pendidikan, dikatakan pula bahwa sasaran yang paling

Dokumen terkait