• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1) Penelitian Siti Umaroh (2018), tentang “ Membangun Karakter Anak Usia Dini Melalui Budaya Usia 5-6 Tahun Di TK RaudhatulAthfal Nurul Huda Suban Lampung Selatan”. Dalam penelitian tersebut menjelaskanhasil penelitian yang menunjukkan bahwa membangun karakter anak di sekolah harus dengan pembiasaan, keteladanan guru dan semua pihak

sekolah maupun orang tua dirumah. Dalam melaksanakan pembelajaran dalam mengembangkan membangun karakter anak melalui budaya sekolah dengan menggunakan pembiasaan dan keteladanan di sekolah sebagai berikut: 1) mengajarkan perbuatan jujur, 2) mengajarkan anak tentang sikap tanggung jawab, 3) mengajarkan anak tentang perbuatan disiplin, 4) bekerja sama dengan temannya. Hasil membangun karakter anak di kelas B Raudhatulathfal Nurul Huda Suban, menunjukan perkembangan sebagai berikut: anak yang masuk dalam kategori BB berjumlah 7 anak, dalam kategori MB berjumlah 6 anak sedangkan dalam kategori BSH dan BSB belum ada. Berdasarkan hasil penelitian di atas maka dapat disimpulkan persamaannya dengan penelitian yang sekarang adalah terletak pada yang ingin dikembangkan dimana sama-sama ingin meningkatkan karakter anak usia dini sedangkan perbedaannya yaitu faktor yang akan menunjang peningkatan karakter dimana dalam penelitian ini menggunakan budaya sebagai penunjang yang akan meningkatan karakter anak usia dini.

2) Penelitian LuznaSilviyani (2016) tentang “ Penanaman Karakter Religius Dan Disiplin Di TK Negeri Pembina Kota Semarang”. Dalam penelitian tersebut menjelaskan bahwa penanaman karakter yang dilakukan di TK Negeri Pembina Semarang dilakukan dengan memberikan pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral yang dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari (kontekstual). Penanaman karakter religious di TK Negeri Pembina Kota Semarang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran (intrakulikuler), ekstrakulikuler, dan kultur sekolah dilakukan melalui cara

yang sama yaitu pengetahuan (knowing), perasaan (feeling) dan pelaksanaan (acting), dan kebiasaan (habit). Berdasarkan hasil penelitian di atas maka dapat disimpulkan bahwa persamaannya dengan penelitian yang sekarang yaitu hal yang akan dikembangkan yaitu penanaman karakter anak sedangkan perbedaannya yaitu faktor yang akan menunjang peningkatan karakter yang dimana dalam penelitian ini lebih merujuk pada Religius dan Disiplin anak.

C. Kerangka Pikir

Penggabungan antara perencanaan dengan program yang telah dibuat berdasarkan nilai-nilai penerapan pembiasaan etika budaya untuk menstimulasi karakter anak usia dini yang dilakukan setiap hari melalui kegiatan secara langsung. Menurut Muclis penerapan pendidikan karakter dapat dilakukan dengan berbagai strategi pengintegrasian. Strategi yang dapat dilakukan adalah pengintergrasian dalam kegiatan sehari-hari dengan “memberikan keteladanan atau contoh kegiatan spontan, teguran, pengkondisian lingkungan, kegiatan rutin dan pengintegrasian dalam kegiatan yang di programkan dengan membuat perencanaan atas nilai-nilai yang akan diintegrasikan dalam kegiatan” (Mansur 2011: 175-176).

Pembiasaan yang dilakukan di sekolah akan membentuk karakter-karakter anak, sesuai dengan penerapan pembiasaan etika budaya yang diterapakan.

Menurut James J. Spillane SJ (2006: 4) “etika adalah mempertimbangkan atau memperhatikan tingkah laku manusia dalam mengambil suatu keputusan yang berkaitan dengan moral”. Sedangkan menurut Soekanto Soerjono (2004: 166)

“pengertian budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta yaitu, buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia”. Dengan pembiasaan etika budaya anak akan menjadi tertanam untuk disiplin, hormat kepada orang yang lebih tua, sopan serta memahami segala bentuk peraturan yang berlaku di lingkungannya.

Penerapan pembiasaan etika budaya untuk menstimulasi karakter anak usia dini di TK Darmawanita Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba dilakukan dengan memberikan pembiasaan-pembiasaan yang dilakukan oleh guru terhadap anak didik, kemudian guru memberikan pemahaman yang harus dibiasakan oleh anak usia dini, guru sebagai teladan yang dicontoh, guru memberikan nasihat-nasihat kepada anak didik. Pembiasaan-pembiasaan ini harus dilakukan secara terus menerus agar didik dapat konstisten dalam hal pembiasaan etika budaya agar dapat menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-harinya.

Karakter anak diharapkan akan terbentuk dengan seringnya diberikan pembiasaan etika budaya untuk menstimulasi karakternya. Seperti anak hormat terhadap orang yang lebih tua, sopan kepada orang tua seta disiplin datang tepat waktu.

Berdasarkan uraian diatas yang telah dipaparkan pada latar belakang dan kajian pustaka, maka disusunlah kerangka konseptual sebagai berikut:

Taman Kanak-Kanak Pembiasaan Etika Budaya

Gambar 2.1. Bagan Kerangka Pikir Aspek Yang Diamati

1. Beretika yang baik (terbiasa mengucapkan Tabe, Iye) 2. Malu ketika mengambil barang milik orang lain

3. Memberikan bantuan atau pertolongan kepada orang yang membutuhkan

4. Menghormati guru

5. Malu ketika tidak berkata jujur

Anak

Pembiasaan Etika Budaya Di Taman Kanak-Kanak 1. Budaya Iye

2. Budaya Tabe 3. Budaya Siri (Malu)

Hasil Penelitian Guru

32 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Menurut John W. Cresswell yang dikutip oleh Hamid Patilima (2010: 61), “penelitian kualitatif adalah sebuah proses penyelidikan untuk memahami masalah sosial berdasarkan pada penciptaan gambar holistik yang dibentuk dengan kata-kata, melaporkan pandangan informan secara terperinci dan disusun dalam sebuah latar ilmiah”. Selanjutnya, Bogdan dan Taylor (Moleong 2013: 4) “mendefinisikan penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan pelaku yang diamati”.

Adapun landasan pemikiran yang digunakan dalam penelitian kualitatif karena masalah yang diteliti memerlukan suatu pengungkapan yang bersifat deskriptif, menggambarkan bagaimana pembiasaan etika budaya dapat meningkatkan kemampuan karakter anak di TK Darmawanita Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba. Karena permasalahan penelitian tersebut data yang dicari lebih tepat jika diungkapkan dalam bentuk kata-kata (deskriptif-kualitatif).

B. Tempat dan Waktu Penelitian a. Tempat

Penelitian ini dilaksanakan di kelompok B TK Darmawanita Desa Tambangan Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba

b. Waktu

Waktu penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 10 November semester ganjil tahun ajaran 2021/2022, yang dilakukan dalam kurun waktu 2 minggu peneliti melaksanakan tugasnya untuk menganalisis dan mengamati terkait kegiatan anak di sekolah terkhusus penerapan pembiasaan etika budaya.

C. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah anak didik pada kelompok B TK Darmawanita Desa Tambangan, Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba D. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrument atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri, oleh karena itu peneliti sebagai instrument juga harus di validasi seberapa jauh peneliti siap untuk melakukan penelitian yang selanjutnya akan terjun secara langsung ke lapangan. Adapun instrument penelitian yang digunakan yaitu berupa pedoman wawancara, lembar observasi dan dokumentasi.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Wawancara

Wawancara adalah alat yang digunakan dalam melakukan wawancara yang dijadikan dasar untuk memperoleh informasi dari informan yang berupa daftar pertanyaan yang merupakan pengumpulan data yang jalan atau cara berdialog langsung dengan para responden secara lisan berdasarkan hasil pengamatan di kelas selama proses belajar mengajar berlangsung untuk

memperoleh informasi tentang berbagai hal yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran.

Data wawancara diperoleh dengan cara melakukan tanya jawab dengan guru tentang kemampuan karakter anak usia dini melalui pembiasaan etika budaya. Peneliti melakukan wawancara ini dilakukan untuk memperoleh data tentang respon/tanggapan guru setelah proses pembelajaran melalui pembiasaan etika budaya.

b. Observasi

Observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan cara pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti dalam kurun waktu tertentu, dan mengadakan pencatatan terhadap beberapa aspek yang diamati. Observasi juga berisi hal-hal tentang kegiatan yang akan diamati peneliti pada saat melakukan pengamatan langsung di lapangan.

c. Dokumentasi

Dokumentasi adalah data pendukung yang dikumpulkan sebagai penguatan data observasi dan wawancara yang berupa gambar, data sesuai dengan kebutuhan penelitian. Dokumentasi dilakukan untuk mendapatkan data yang lengkap. Data dokumentasi diperoleh dari hasil foto pada setiap kegiatan, seperti dokumentasi tentang kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan yang berhubungan dengan meningkatkan kemampuan karakter anakusia dini untuk mendukung kelengkapan dari data penelitian. Dokumentasi ini berupa foto anak didik dan peneliti/guru pada saat proses kegiatan pembelajaran berlangsung dengan menggunakan pembiasaan etika budaya dan foto yang

diperoleh dapat menjadi kelengkapan data guna menyempurnakan penelitian yang dilakukan.

F. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif, untuk memperoleh data dan keterangan dalam penelitian maka penulis menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1. Pengumpulan data

Teknik analisis data yang dilakukan adalah dengan mengelolah semua data penelitian yang dilakukan dari pengumpulan data dari observasi, wawancara, studi kepustakaan dan studi dokumen yang didapat dari sekolah, lalu di deskripsikan oleh peneliti.

2. Reduksi data

Mereduksi data berarti membuat rangkuman, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal penting, mencari pola dan tema dan membuang hal dianggap tidak penting. Dengan demikian peneliti menyajikan data secara lebih spesifik dan terarah pada topik penelitian.

3. Display data

Penyajian (display) data diarahkan agar data hasil reduksi terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan sehingga makin mudah dipahami.Penyajian data dapt dilakukan dalm uraian naratif, bagan, hubungan antara kategori, diagram alur (flow chart) dan lain sejenisnya. Penyajian dalam bentuk tersebut akan memudahkan penelitian memahami yang terjadi dan merencanakn kerja peneliti selanjutnya.

4. Verifikasi data (Conclusing Drawing)

Langkah selanjutnya dalam proses analisis data kualitatif adalah penarikan kesimpulan berdasarkan temuan dan melakukan verifikasi data.

Kesimpulan awal dapat dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah bila ditemukan bukti-bukti kuat mendukung tahap pengumpulan data berikutnya. Proses mendapatkan bukti-bukti inilah yang disebut sebagai verifikasi data. Apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang kuat dalam arti konsisten dengan kondisi yang ditemukan saat penelitian kembali ke lapangan maka kesimpulan yang diperoleh adalah kesimpulan kredibel.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian 1. Gambaran Umum

Data penelitian diperoleh melalui wawancara dan observasi yang dilakukan pada saat penelitian pada tanggal 10 November 2021 di TK Darmawanita Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba yaitu dimulai pada saat melakukan observasi bahwa untuk mendapatkan data diperoleh dengan cara memberikan sejumlah pertanyaan yang telah tersusun dengan butir-butir pertanyaan yang sesuai dengan permasalahan yang ada. Jawaban yang diberikan terhadap sejumlah pertanyaan yang diajukan dicatat.

Hasil observasi menggunakan lembar penilaian observasi yang telah disediakan untuk melihat indikator pada anak yang sudah dapat dinilai berkembang dan belum berkembang.

Jawaban-jawaban yang telah terkumpul dan hasil observasi kemudian dianalisis berdasarkan analisis deskriptif kualitatif dan disimpulkan dengan metode kualitatif.

Penganalisisan ini dilakukan terhadap butir-butir pertanyaan untuk informan dan hasil dari lembar observasi yang telah diperoleh dari hasil penelitian akan dianalisis secara deskriptif dan sistematis, kemudian data tersebut dideskripsikan dan ditafsirkan untuk diambil kesimpulan dan jawabannya terhadap pertanyaan penelitian dan hasil wawancara peneliti pada saat observasi yaitu kelompok B berjumlah 15 orang 5 anak laki-laki dan 10 anak perempuan.

2. Penerapan Pembiasaan Etika Budaya di TK Darmawanita Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba

a. Pembiasaan Budaya Tabe

1) Beretika yang baik (Terbiasa mengucapkan Tabe)

kelas B1 anak datang ke sekolah dengan diantar oleh orang tua, kakak ataupun keluarga yang lain dengan mengggunakan sepeda motor, mobil maupun dengan berjalan kaki. Anak terlihat sudah mampu beretika budaya yang baik dilihat saat anak salaman kepada orang tua dan guru sebelum masuk kelas dan anak terlihat menundukkan badan dengan mengucapkan tabe saat lewat didepan orang yang lebih tua. Indikator beretika yang baik (terbiasa mengucapkan Tabe) dan hasil observasi terlihat 5 anak mulai berkembang, 7 anak berkembang sesuai harapan, dan 3 anak berkembang sangat baik

Hasil wawancara dilakukan pada tanggal 15 November 2021 dengan walikelas B1 TK Darmawanita Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba atas nama M yaitu:

“Saat di dalam kelas maupun diluar kelas biasanya saya senantiasa mengingatkan kepada anak untuk selalu beretika yang baik kepada orang yang lebih tua, seperti mengingatkan kepada anak untuk selalu bersikap baik serta mengenalkan budaya tabe dan bagaimana cara memberikan tabe kepada orang yang ada disekitar kita. Kemudian saya juga melakukan komunikasi dengan orang tua atau keluarga si anak untuk selalu mengajarkan anak atau membiasakan anak untuk beretika budaya tabe. Ini dilakukan agar apa yang telah diajarkan di sekolah dapat berjalan dengan baik sehigga mencapai tujuan yang diinginkan yaitu dapat terbiasa beretika yang baik”.

Dari hasil observasi dan hasil wawancara yang telah dilakukan terdapat adanya kesesuaian antara hasil observasi dan wawancara dapat disimpulkan bahwa dengan selalu mengingatkan atau membiasakan beretika yang baik serta komunikasi yang baik dengan orangtua murid dapat membuat terjalinnya kerjasama sehingga tujuan membuat anak untuk memiliki etika yang baik ( terbiasa mengucapkan tabe) dapat terealisasikan.

2) Menghormati guru

kelas B1 terlihat orang tua sedang mengantar anak untuk datang ke sekolah.

Sebelum memasuki kelas anak menjabat tangan orang tua dan guru serta terlihat juga ada beberapa anak yang sedang membungkukkan badan sembari mengucapkan tabe di depan guru hal tersebut memperlihatkan bahwa anak di TK Darmawanita Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba sudah mampu menghormati guru.

Indikator menghormati guru dari hasil observasi terlihat 6 anak mulai berkembang, 5 anak berkembang sesuai harapan dan 4 anak berkembang sangat baik.

Hasil wawancara yang dilakukan pada tanggal 15 November 2021 dengan wali kelas B1 TK Darmawanita Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba atas nama M yaitu:

“Sebelum anak memasuki atau keluar kelas terlebih dahulu anak menjabat tangan guru ini dilakukan agar anak terbiasa menghormati guru maupun orang tua dirumah dan guru juga mengajarkan anak untuk selalu menghormati orang yang lebih tua seperti tidak memotong pembicaraan orang lain, selalu beretika tabe ketika lewat didepan guru”.

Dari hasil observasi dan hasil wawancara yang telah dilakukan terdapat adanya kesesuaian antara hasil observasi dan wawancara dapat disimpulkan bahwa dalam hal mengajarkan anak untuk selalu menghormati guru dan orang yang lebih tua sudah cukup baik.

b. Pembiasaan Budaya Iye

1) Beretika yang baik (terbiasa mengucapkan Iye)

Dari hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 18 November 2021 di kelas B1 terlihat saat guru memberikan pembelajaran anak belum terlalu terbiasa untuk memulai mengucapkan kata iye ketika dipanggil maupun disebut namanya saat absen. Indikator beretika yang baik (terbiasa mengucapkan iye) dan hasil observasi terlihat 14 anak mulai berkembang dan 1 anak berkembang sesuai harapan.

walikelas B1 TK Darmawanita Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba atas nama M yaitu:

“Kondisi didalam maupun diluar kelas saat guru memanggil anak belum terbiasa memulai perkataan dengan kata Iye, hal ini perlu untuk selalu mengingatkan anak untuk mengucapkan kata iye sebelum memulai perkataan agar anak terbiasa”.

Dari hasil observasi dan hasil wawancara yang telah dilakukan terdapat adanya kesesuaian antara hasil observasi dan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa dalam beretika yang baik (terbiasa mengucapkan iye) tergantung pada tingkat pembiasaan serta dampingan kepada anak agar selalu mengingat mengucapkan kata iye sebelum mengucapkan sesuatu atau mengiakan perkataan orang lain.

2) Memberikan bantuan atau pertolongan kepada orang yang membutuhkan Dari hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 20 November 2021 di kelas B1 guru membiasakan anak didik untuk memberikan bantuan atau pertolongan kepada orang yang membutuhkan. Terlihat saat guru memintah atau teman sebaya anak meminta bantuan anak langsung membantu serta anak juga selalu menawarkan bantuan kepada guru, contoh bantuan yang dilakukan anak didik yaitu membantu membereskan lembar kerja serta merapikan mainan yang telah digunakan. Indikator memberikan bantuan atau pertolongan kepada orang yang membutuhkan terlihat 15 anak sudah mampu berkembang sesuai harapan.

Hasil wawancara yang dilakukan pada tanggal 15 November 2021 dengan walikelas B1 TK Darmawanita Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba atas nama M yaitu:

menawarkan bantuan kepada orang yang membutuhkanseperti merapikan mainan yang telah digunakan, menaruh tas dan sepatu pada tempatnya, tidak membuang sampah sembarangan. Hal tersebut secara tidak langsung telah membantu guru dengan beberapa contoh yang dilakukan diatas dan tidak lupa pula guru memberikan nasehat-nasehat pentingnya menolong orang lain atau orang yang membutuhkan”.

Dari hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan terdapat adanya kesesuaian antara hasil observasi dan hasil wawancara yang dapat disimpulkan bahwa pembiasaan-pembiasaan yang telah diajarkan guru kepada anak didik seperti memberikan bantuan atau pertolongan kepada orang lain yang membutuhkan adalah suatu perbuatan yang mulia dan pembiasaan tersebut jika selalu di ingatkan atau di nasehati lama kelamaan anak akan terbiasa memberi bantuan tanpa perlu di minta.

c. Pembiasaan Budaya siri (Malu)

1) Malu ketika mengambil barang milik orang lain

Dari hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 22 November 2021 di kelas B1 terlihat guru memberikan pembiasaan kepada anak seperti membiasakan anak untuk mengembalikan barang temannya ketika dipinjam serta membiasakan anak didik untuk memiliki rasa malu ketika mengambil barang milik orang lain.

Indikator malu ketika mengambil barang milik orang lain dibiasakan ini terlihat dari hasil observasi dimana terlihat 4 anak mulai berkembang dan 11 anak berkembang sesuai harapan.

Hasil wawancara yang telah dilakukan pada tanggal 15 November 2021 dengan walikelas B1 TK Darmawanita Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba atas nama M yaitu:

“Kami selalu mengingatkan kepada anak didik ketika selesai bermain baramg milik orang lain dikembalikan serta mainan lainnyayang telah digunakan kemudian dikembalikan ketempat semula, dengan pembiasaan seperti ini anak memiliki rasa tanggung jawab untuk menjaga mainan yang

milik orang lain”.

Dari hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan terdapat adanya kesesuaian antara hasil observasi dan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa dengan membiasakan anak untuk mengambil dan mengembalikan barang atau benda yang telah digunakan dapat dikembalikan pada tempatnya dengan cara mengingatkan setiap sebelum dan sesudah anak bermain.

2) Malu ketika tidak berkata jujur

Dari hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 23 November 2021 di kelas B1 terlihat guru memberikan pembiasaan atau nasehat-nasehat kepada anak untuk senangtiasa bersifat jujur, memiliki rasa malu, contoh kegiatan yaitu saat baris berbaris dilakukan guru biasanya menanyakan aktivitas-aktivitas apa saja yang telah anak lakukan dan yang belum anak lakukan, ini bertujuan agar anak memilki sifat berkata jujur. Indikator malu ketika tidak berkata jujur dan dari hasil observasi terlihat 15 anak berkembang sesuai harapan.

Hasil wawancara yang dilakukan pada tanggal 15 November 2021 dengan walikelas B1 TK Darmawanita Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba atas nama M yaitu:

“Untuk membuat anak memiliki rasa malu ketika tidak berkata jujur, biasanya pada kegiatan baris berbaris anak dibiasakan atau diberi nasehat-nasehat bahwa berkata jujur itu sangat baik dan dengan cara seperti ini anak dapat mengerti bahwa berkata jujur itu sangatlah bagus dengan adanya nasehat- nasehat tersebut anak tidak lagi malumalu mengakui kesalahannya”.

Dari hasil observasi dan hasil wawancara yang telah digunakan terdapat adanya kesesuaian antara hasil observasi dan hasil wawancara dengan demikian dapat disimpulkan bahwa guru menanamkan pembiasaan sifat jujur dan memiliki rasa malu ketika tidak mengakui kesalahan yang telah dilakukan sehingga rasa malu tidak berkata jujur itu muncul dalam diri anak didik.

Dokumen terkait