• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian

Dalam dokumen JURUSAN PENDIDIKAN SOSIOLOGI (Halaman 66-86)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, yaitu dalam pengambilan data di lapangan dengan apa adanya tanpa ada manipulasi. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi serta partisipatif. Berikut ini akan peneliti kemukakan hal-hal yang berkaitan dengan deskripsi lokasi penelitian, yaitu mengenai Balap Liar(Studi Perilaku Menyimpang Masyarakat Maniangpajo Kabupaten Wajo) tersebut disajikan dengan tujuan untuk memberikan gambaran jelas mengenai kondisi lokasi penelitian mencakup.

1. Deskripsi Wilayah

Kabupaten Wajo merupakan salah satu kabupaten yang berada dalam ruang lingkup daerah Provinsi Sulawesi Selatan, dengan ibu kotanya Sengkang, dibentuk sesuai dengan Undang-undang No. 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan daerah-daerah tingkat dua di Sulawesi Selatan. Kabupaten Wajo terletak antara 3039” lintang selatan dan 119053” - 120027” bujur timur. Luas Wilayah Kabupaten Wajo ± 2.506,19 km2 (250.619 Ha) atau 4,01 % dari luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, dengan wilayah yang berbatasan dengan :

Sebelah Utara : Kab. Luwu dan Kab. Sidenreng Rappang Sebelah Timur : Teluk Bone

51

Sebelah Selatan : Kab. Soppeng dan Kab. Bone Sebelah Barat : Kab. Soppeng dan Kab. Sidrap

Gambar 2

PETA WILAYAH KABUPATEN WAJO

Dalam hal pembagian wilayah administratif, pada tahun 2007 Kabupaten Wajo terbagi menjadi 14 Kecamatan, yang di dalamnya terbentuk wilayah- wilayah yang lebih kecil, yang dapat dilihat dalam tabel berikut :

Tabel 1

Luas Daerah Kabupaten Wajo Menurut Kecamatan

No Kecamatan Luas (Km2)

% Terhadap Luas Kabupaten

1 Sabbangparu 137.75 5.3

2 Tempe 38.27 1.53

3 Pammana 162.1 66.47

4 Bola 220.13 8.78

5 Takkalalla 179.76 7.17

6 Sajoanging 167.01 6.66

7 Penrang 154.9 6.18

8 Majauleng 225.92 9.01

9 Tanasitolo 154.6 6.17

10 Belawa 172.3 6.88

11 Maniangpajo 175.96 7.02

12 Gilireng 147 5.87

13 Keera 368.36 14.7

14 Pitumpanua 207.13 8.26

Kabupaten Wajo 2.506.19 100

Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Wajo

Secara keseluruhan terbentuk 48 wilayah yang berstatus kelurahan dan 128 wilayah yang berstatus desa. Kecamatan Kera merupakan kecamatan terluas dengan luas wilayah 368.36 km2 , sedangkan Kecamatan Tempe merupakan kecamatan terkecil dengan luas wilayah 38.27 km2.

Sebagaimana lazimnya yang terjadi di sebagian besar daerah-daerah di Sulawesi Selatan yang tak luput dari perkembangan segala aspek, termasuk dalam perkembangan dalam wilayah kabupaten, bahwa penggunaan lahan untuk pekarangan atau lahan bangunan dan halaman sekitarnya selalu mengalami perluasan. Hal ini juga berlaku di Kabupaten Wajo yang pada saat ini luas lahan bangunan yang sudah mencapai 12,036 Hektar atau 15 % dari luas wilayah keseluruhan Kabupaten Wajo.

Fenomena ini terkait dengan potensi daerah serta didukung oleh letak geografisnya yang strategis di Sulawesi Selatan dan juga terkenal dengan julukan Kota Dagang yang secara jelas akan menentukan terhadap meluasnya penggunaan lahan untuk pemukiman.

2. Deskripsi Penduduk a. Jumlah Penduduk

Sebagai salah satu Kabupaten di Sulawesi Selatan, Kabupaten Wajo terbilang cukup padat penduduknya, sebab Kabupaten Wajo yang terkenal dengan arus perdagangan dan dunia usaha yang cukup berkompetisi terutama di bidang perdagangan dan industry kerajinan yang berbahan dasar sutera sehingga mampu menyedot perhatian masyarakat luar untuk berdomisili atau berinvestasi dan mengadu keberuntungan di daerah ini.

Keadaan penduduk Kabupaten Wajo berdasarkan data tahun 2014 dari Kantor Sekretariat Daerah Bagian Pemerintahan Umum berjumlah 383.504 orang.

Penduduk yang paling padat terletak di Kecamatan Tempe yang merupakan tempat ibu kota kabupaten dengan jumlah 62.038 jiwa dan daerah yang jumlah penduduknya dengan jumlah yang sedikit dibandingkan daerah lain terdapat di Kecamatan Gilireng dengan jumlah 11.074 jiwa. Tidak meratanya pertumbuhan penduduk pada setiap kecamatan dan masyarakat lebih terpusat pada ibukota disebabkan antara lain kawasan kota dalam hal ini di Kecamatan Tempe masih tersedia lahan yang cukup luas untuk menjadi daerah hunian masyarakat, disatu sisi kawasan ini dilengkapi prasarana yang cukup berkembang sehingga mendorong sebahagian penduduk terutama yang berpenghasilan menengah ke bawah utnuk bertempat tinggal di kawasan ini. Kecepatan perkembangan kehidupan di ibukota mampu membantu perbaikan hidup dibandingkan dengan perkebangan di desa, sehingga banyak masyarakat luar kota dating ke ibukota kabupaten untuk mencoba memperbaiki tingkat pendidikan dan kehidupannya di ibukota kabupaten tepatnya di Kecamatan Tempe.

b. Mata Pencaharian

Sebagian besar penduduk di daerah Manianngpajo Memiliki mata pencaharian sebagai petani. Hanya sebagian kecil dari penduduk yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil, yaitu sebagai ABRI dan guru. Pengangguran di daerah maniangpajo juga termasuk tinggi, karena hanya berkerja sebagai buruh tani sehingga hanya bekerja saat musim tanam dan masa panen, sehingga banyak menimbulkan

pengangguran dalam waktu-waktu tertentu dan akan kembali bekerja dalam waktu tertentu pula.

c. Pendidikan

Sebagian besar masyarakat Maniangpajo telah menempuh pendidikan minimal SMA, namun pada orang-orang tua masih banyak yang menempuh pendidikan hanya sampai SD terutama yang telah berumur 60 tahun ke atas, masih banyak orang-orang yang menggap pendidikan itu tidak berarti, sehingga memilih menikahkan anak meraka yang masih dibawah umur Walapun sudah terbebas dari buta huruf, daerah ini masih tergolang memilki tingkat pendidikan yang rendah.

Hal tersebut terjadi dikarenakan tingkat ekonomi penduduk yang juga masih rendah.

d. Kondisi Sosial Ekonomi

Kondisi sosial ekonomi masyarakat Maniangpajo termasuk dalam tingkat ekonomi menengah ke bawah. Mayoritas penduduknya hanya bekerja sebagai petani.

3. Deskripsi Hasil Penelitian

a. Latar Belakang Ramaja Melakukan Aksi Balapan Liar

Penelitian ini juga mendeskripsikan tentang remaja-remaja yang mengikuti balap liar di depan pertamina callaccu. Mereka dipilih sebagai responden karena mereka sebagai joki atau pembalap bagi kelompoknya. Dalam setiap kelompok ada 5 – 10 anggota dan dari satu kelompok hanya memiliki satu sampai dua pembalap andalan mereka.

Berikut ini adalah latar belakang dari remaja yang menjadi informan dalam penelitian ini.

a) Midunk adalah salah salah satu remaja yang mengikuti balap liar. Dia berasal dari Anabanua. Pelajar salah satu SMA negeri di Maniangpajo dan masih berada di kelas 2. Memiliki motor yang disegani di arena balap liar.

Yamaha F1z R miliknya jarang sudah terkenal di arena balap liar..

motornya sering dibawah oleh temannya sendiri yang bernama gocenk b) Gocenk adalah remaja yang menuntut ilmu di salah satu SMA negeri di

Maniangpajo, dia berumur 17 tahun dan duduk di kelas 2. Gocenk adalah pembalap muda yang berbakat dan namanya sudah cukup terkenal dimana-mana karena Gocenk biasa ikut dalam balap resmi

c) Ajenk berumur 16 tahun dan masih duduk di bangku SMA. Dia tercatat sebagai salah satu siswa SMA negeri di Maniangpajo. Ajenk terkenal dengan Yamaha Vega hitam yang terakhir ini dipersiapkan untuk even resmi dan balap liar.

d) Jagoe adalah pelajar salah satu SMA Negeri di Maniangpajo. Umur Jagoe 16 tahun, pada saat SMP dia menggunakan Yamaha Jupiter Z dan sekarang menggunakan Yamaha Jupiter MX.

Berikut ini adalah pendapat dari para remaja pembalap liar di depan pertamina Callaccu kecamtan Maniangpajo tentang balap liar yang mereka lakukan :

Menurut Jagoe mengatakan bahwa:

“ko mafe’ki ma’bala’ wodding toni maccue ma’bala’ resmi, nasaba fura ilati memeng ni maddiolo”

(Bagus, banyak yang ikut balap liar dapat berprestasi dalam event drag bike resmi karena sudah terlatih dijalan).

(wawancara tanggal 9 Juli 2015) Hal serupa di ungkapkan oleh Gocenk

“dengan melakukan balapan liar dapat menyalurkan bakat terpendam yang ada dalam diri kita”, apalagi saya ini laki-laki, saya merasa bangga dengan diri saya ketika saya melakukan balapan liar dengan orang-orang yang menantang saya,

(wawancara tanggal 9 Juli 2015) Demikian juga Ajenk mengutarakan bahwa:

“Bagus, dapat menghasilkan uang untuk perbaiki motor dan beli baju baru serta menambah-nambah uang jajan jika menang taruhan, hehehehe”, dan saya mengikuti balap liar untuk mengisi waktu saya yang kosong pada malam hari, dari pada sya tinggal di rumah mending saya pergi nongkrong sama teman-teman saya, kalau ada yang mengajak balapan itu tidak bisa di tolak karena gengsi.

(wawancara tanggal 9 Juli 2015)

Dari pendapat di atas dapat kita lihat bahwa balap liar dapat memenuhi kegemaran dan bakat mereka. Para remaja pembalap liar di area pertamina beranggapan balap liar sebagai sarana mereka dalam menyalurkan hobby, mengembangkan bakat dan bersosialisasi dengan teman sebayanya serta mereka beranggapan hanya untuk mengisi waktu luang dimalam hari, sehingga banyak teman-teman mereka yang mengajak balapan dan mereka pun malu ketika menolak ajakan mereka karena adanya anggapan mereka kalau balapan merupakan hobi laki-laki yang maco.

Sebagai mana yang diungkapkan oleh Midunk:

“Asyik, top. Memacu adrenalin sangat sesuai dengan hobby saya sejak dulu, saya sangat menyukai tantangan, nah, balapan liar inilah merupakan suatu tantangan yang baik menurut saya”

(wawancara agustus 2015)

Anggapan ini terbentuk karena adanya stimulus yang diterima oleh alat indera atau disebut penginderaan. Dalam hal ini remaja menerima stimulus berupa terpacunya adrenalin ketika menaiki sepeda motor dengan kecepatan tinggi, indera pengelihatan dapat merasakan adanya kecepatan, ketika mengendarai motor dengan kecepatan tinggi secara langsung indera pengelihatan menerima stimulus dan dilanjutkan ke saraf-saraf yang lain sehingga tercipta sensasi tersendiri ketika melakukan balap liar. Perasaan puas, senang dan bangga saat balap liar membuat para remaja kembali melakukan balap liar. Suara motor yang meraung-raung menambah kenikmatan saat berpacu di arena balap liar. Stimulus yang diterima indera pendengaran melengkapi stimulus yang diterima indera pengelihatan sehingga tercipta suatu perasaan yang sesuai dengan jiwa mereka yaitu penuh semangat. Perasaan senang saat balap motor sulit didapat dengan sarana yang lain.

b. Persepsi Masyarakat Terhadap Balap Liar di Kecamatan Maniangpajo Persepsi masyarakat adalah tanggapan dalam suatu masyarakat oleh suatu objek tertentu dan didahului proses penginderaan. Definisi diatas menunjukkan bahwa masyarakat dapat melakukan penilaian terhadap suatu peristiwa ketika lengkapnya faktor-faktor yang membentuk persepsi karena memang semuanya merupakan kesatuan dan tidak dapat dipisahkan. Dalam kehidupan sosial, seorang individu harus menyadari bahwa perilaku dan perbuatan yang dilakukan berkaitan dengan situasi sosialnya. Perilaku seseorang dan interaksi yang terjadi akan dinilai dan dipersepsikan oleh orang lain menurut kesadaran masing-masing, bahkan seorang individu dapat mempersepsikan suatu tingkah laku yang terjadi. Persepsi

masyarakat Daerah Maniangpajo kabupaten Wajo, terhadap balap liar di kalangan remaja yang dilakukan di depan pertamina kecamatan Maniangpajo adalah menganggap bahwa balap liar meresahkan masyarakat dan remaja yang mengikuti balap liar adalah remaja nakal.

Berikut ini adalah perssepsi masyarakat terhadap balap liar:

Menurut Bapak A. Arief :

“Mereka tergolong remaja yang berkelakuan tidak baik karena memiliki etika yang kurang, kurang memiliki tenggang rasa”, dan hal ini harus ditanggulangi dengan cepat oleh pihak pemerintah setempat karena dapat merusak generasi penerus bangsa dan menggangu ketentraman masyarakat,

(wawancara tanggal 8 agustus 2015) Hal serupa dikatakan oleh bapak Dahing:

ko ma’bala’ i biasa too boto i pake dui, mega to anana sija’guru akki pertamina ko ma’bala’ i”.

(Balapan itu kadang-kadang taruhan menggunakan uang, sering terjadi perkelahian di pertamina ketika sedang ada balap liar).

(wawancara tanggal 12 Juli 2015)

Sama halnya Dahing, saudara Akbar juga mengutarakan:

“maka konja sifa’na, mega reppa kaca botolo minumang ko pertamina”

(Nakal, kadang ada pecahan botol-botol minuman keras di area pertamiana),

Balap liar itu dapat memberikan keresahan atau ketidak nyamanan bagi kehidupan masyarakat, makanya balapan liar itu harus mendapat perhatian dari aparat keamanan agar kedepannya balapan-balapan liar bisa di minimalisir sehingga membuat masyarakat menjadi tentram lagi.

(wawancara tanggal 1 agustus 2015)

Persepsi ini terjadi sebagai tanggapan dalam suatu masyarakat oleh suatu objek tertentu dan didahului proses penginderaan. Seperti yang dialami bapak A. Arief

yang sehari-hari tidak bisa beribadah dengan nyaman karena polusi suara dari kendaraan. Indera pendengaran mendengarkan suara yang berisik, hal yang sama juga dialami oleh bapak Dahing yang setiap sore mendengar suara berisik dari kendaraan para remaja yang balap liar. Menurut bapak A. Arief mereka (para remaja pembalap liar) mempunyai etika yang kurang dan tingkat tenggang rasa yang rendah karena tidak bisa menghormati warga masyarakat yang ingin menjalankan ibadah dengan khusuk. Ketidak nyamanan saat karena adanya polusi suara dari kegiatan balap liar juga dirasakan olah sebagian besar warga daerah sekitaran pertamina callaccu. Seperti yang dialami Saudara Akbar, Ibu Atija dan Bapak Dahing Mereka mengaku setiap berada di sekitar daerah mereka dan ada balap liar suaranya pasti akan terdengar keras. Di saat seharusnya mereka dapat beristirahat dengan nyaman setelah beraktifitas seharian, mereka harus mendengarkan polusi suara yang mengganggu waktu istirahat mereka. Saudara Akbar mempunyai pandangan sendiri mengapa dia tidak menyukai kegiatan balap liar dan menganggap remaja pembalap liar nakal. Rumahnya dekat dengan pertamina callaccu dan dia sering jalan-jalan di sekitar pertamina. Dia sering melihat pecahan botol minuman keras yang pastinya berasal dari sebagian pembalap liar. Indera pengelihatannya melihat pecahan botol minuman keras yang menurut agama dan undang-undang tidak boleh diminum apalagi diminum saat mengendarai kendaraan bermotor dengan kecepatan tinggi. Oleh sebab itu maka saudara Akbar mempunyai persepsi bahwa remaja yang balap liar di sekitar pertamina callaccu kecamatan maniangpajo termasuk dalam kategori remaja nakal.

Dalam hal ini teori yang sejalan dengan pendapat diatas adalah teori labeling karena para warga masyarakat memberikan suatu cap atau label kepada remaja bahwa remaja tersebut adalah remaja nakal dan akibatnya para remaja semakin menambah-nambah penyimpangan yang akan merugikan dirinya sendiri maupun orang lain karena mereka menganggap dirinya sudah dicap sebagai remaja yang tidak berkelakuan baik atau tidak memiliki etika atau dengan kata lain mereka sudah menganggap dirinya sebagai remaja yang nakal.

c. Dampak Balap Liar Bagi Masyarakat Maniangpajo

Semua fenomena pasti mempunyai dampak bagi masyarakat sekitarnya, demikian juga dengan fenomena balap liar. Banyak dampak buruk yang diterima semenjak adanya balap liar, namun tetap ada dampakbaik yang diterima masyarakat daerah Maniangpajo. Berikut adalah beberapaketerangan dari warga Maniangpajo :

1. Dampak Negatif

Balap liar di area pertamina calla’cu mengganggu aktivitas warga masyarakat Calla’cu. Masyarakat merasa terganggu terutama masalah polusi suara yang ditimbulkan dari akativitas balap liar tersebut, hal ini sesuai dengan pernyataan dari Ibu Hj. Hasnah

“Ma’ganggu ladde anak mudae maka rukka suara motoro’na pada komelo reppa doccilie mangkalingai”

(Para remaja sangat Mengganggu karena suara motornya yang keras kayak gendang telingga mau pecah,), (wawancara tanggal 12Juli 2015)

Pernyataan Ibu Hj. Hasnah senada dengan pernyataan warga masyarakat lainnya yang juga merasakan dampak dari adanya balap liar yang dilakukan oleh para remaja. Masyarakat merasa adanya balap liar membawa dampak buruk bagi kehidupan mereka, berikut ini adalah hasil wawancara dengan warga masyarakat sekitar tempat balapan berlangsung:

Menurut bapak Dahing:

“maega anana buang pole motorona ko ma’bala’i, masori-sori maneng watakkalena, uwitatai bawang mi kobuang i, niga suroi tuli ma’bala’’.

(banyak anak-anak yang jatuh dari motornya kalau sedang melakukan aksi balapan liar, sampai badannya mengalami luka serius, saya Cuma meliat- liat mereka kalau jatuh karena saya kesal dengan aksi balapan liarnya), (wawancara tanggal 12 Juli 2015)

Selain balap liar memiliki dampak yang tidak baik bagi masyarakat juga memiliki dampak tersendiri pada pelaku balapan liar itu, karena ada banyak kecelakaan ketika anak-anak remaja melakukan balapan liar, sehingga mereka mengalami luka serius, hal ini juga berdampak pada sekolah mereka karena mereka tidak mengikuti pelajaran seperti biasanya.

Menurut Ibu Atija:

‘marukka bammi ko arawiingngi yangkalinga ko ma’bala’ i, pada bawang komeloi reppa doccilie”.

(Cuma suara bising setiap sore ada balapan,kayak gendang telinga mau pecah)

(wawancara tanggal 12 Juli 2015) Hal serupa dikatakan Ibu Mukarramah:

“iye ualami tuli marukka meneng ero suara motoro’na anak muda ma’bala’ e”

(Yang saya alami ya suara berisik dari kendaraan para remaja yang balapan).

(wawancara tanggal 12 Juli 2015)

Hal yang sama pula dikatakan oleh saudara Akbar:

“mappammla tuli ma’bala’ naganggui masyaraka’e saba’ marukka i suara motoro’na,nasaba’ knalpot resiing maneng napake, iyanaro tuli marukka yangkalinga, purato engka anana sija’guru nullei ikali kapang na sija’guru’’

(Ya sejak adanya balap liar masyarakat terganggu terutama dengan suara bising dari motor karena mereka menggunakan knalpot racing sehingga suara yang di timbulkan sangat keras dan kadang juga ada remaja yang berkelahi),

(wawancara tanggal 1 Agustus 2015)

Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa balap liar di kawasan pertamina membawa dampak negatif bagi sebagian besar warga masyarakat daerah sekitaran pertamina. Dampak negatif akibat balap liar tersebut diantaranya adalah polusi suara yang dihasilkan dari kendaran yang dipakai balapan oleh para remaja, sering adanya perkelahian antara remaja yang melakukan balap liar sehingga masyarakat merasa tidak nyaman dengan adanya perkelahian di sekitar kampung mereka, yang terakhir adalah seringnya terjadi kecelakaan di area pertamina callaccu. Dampak yang dirasakan oleh warga masyarakat Daerah Maniangpajo sesuai dengan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti. Suara kendaraan dari para pembalap liar memang terdengar di seluruh penjuru daerah sekitar pertamina sehingga menimbulkan keresahan bagi warga masyrakat yang tinggal di sekitaran pertamina. Polusi suara ini mengganggu warga disaat warga sedang beristirahat setelah seharian beraktivitas mereka harus terganggu oleh bisingnya suara kendaraan balap. Hal ini disebabkan oleh pemakaian knalpot sepeda motor yang tidak sesuai dengan standar pabrik yang menyebabkan kebisingan atau adanya polusi suara. Para remaja pembalap liar menggunakan

knalpot tipe racing yang dikhususkan untuk balap. Suara dari knalpot ini memang terdengar sangat keras sehingga ada sebagian penonton balap liar yang harus menutup kupingnya karena tidak kuat mendengar kerasnya suara dari motor tersebut. Knalpot racing digunakan oleh para pembalap agar motor yang dipacunya dapat memcapai kecepatan maksimal. Balap liar di sekitar pertamina kecamatan maniangpajo berlangsung pada jam 16.30 sampai adzan Magrib dan pada jam 05:00 subuh. Sebelum adzan magari memang balapannya paling ramai karena ada pembalap yang baru datang sekitar jam 17.15 sehingga pembalap yang dari awal sudah balapan tertantang lagi untuk melawan para pembalap yang baru saja datang. Di saat yang sama warga masyarakat juga ingin mendapatkan ketenangan saat beribadah sesuai dengan kepercayaan mereka, adanya balap liar yang mengeluarkan polusi suara jelas mengganggu ibadah para warga masyarakat daerah sekitar pertamina

.

2. Dampak Positif

Di sisi lain maraknya balap liar juga mambawa dampak positif bagi sebagian kecil penduduknya, seperti yang dialami oleh bapak Ambo Dai’ yang sehari- harinya berprofesi sebagai tukang tambal ban di sekitar pertamina. Beliau tinggal di sisi utara jalan , tepatnya sebelah selatan pertamina.

Ambo Dai’menuturkan :

“ya lumayang engkamua penghasilan, siddi dua motoro mabettu banna lo ma’tambal”

(Ya lumayan, setiap sore ada satu atau dua motor yang tambal ban), (wawancara tanggal 1 Agustus 2015)

Hal serupa dikatakan ibu Atija:

“tapi engkamua untungna pattambala bang e, tomanontong-nontong tona pa’bala”

(Tapi ada untungnya juga terutama bagi pedagang dan tambal ban, selain itu kita juga ada hiburan nonton balap),

(wawancara tanggal 1 Agustus 2015) Hal yang sama dikatakan oleh Ibu Mukarramah:

mega mua penghasilanna pattambal bang e koti ma’bala’ i anana e, nasaba mega mua uwita mabbettu bang motorona”.

(lumayan adalah pengghasilan untuk tukang tambal ban kalau remaja sering melakukan balapan liar, karena banyak saya lihat ban motor mereka bocor kalau balapan).

(wawancara tanggal 1 Agustus 2015)

Walaupun balap liar mempunyai banyak dampak negatif bagi warga masyarakat daerah pertamina yaitu menimbulkan keresehan bagi masyarakat karena adanya polusi suara yaitu suara bising knalpot motor para remaja yang melakukan balap liar di area sekitaran pertamina, namun maraknya balap liar di depan pertamina membawa berkah tersendiri bagi sebagian kecil warga masyarakat di daerah tersebut. Mereka yang bekerja sebagai tukang tambal ban dan para pedagang yang berdagang di sekitar pertamina adalah yang mendapat dampak positif dari

fenomena balap liar tersebut. Mereka mendapatkan penghasilan lebih dari pada sebelum adanya balap liar, seperti yang dialami oleh bapak Ambo Dai’ beliau mengaku setiap harinya ada saja ban motor para pelaku balap liar yang bocor hal ini menambah penghasilan tersendiri bagi tukang tambal ban, hal yang sama di sampaikan oleh ibu Mukarramah yang sering melihat adanya ban motor para

pelaku balapan liar yang bocor yang menguntungkan tukang tambal ban sekitaran pertamina, ada satu atau dua ban motor dari pelaku balap liar yang bocor.

Tabel 2

Tabel Data Hasil Penelitian

No Informan Pernyataan Interpretasi Teori yang Relevan

1 Drs. H. A.

M. Arief, M.H

Mereka tergolong remaja berkelakuan tidak baik karena memiliki etika yang kurang, kurang memiliki tenggang rasa, dan hal ini harus

ditanggulangi oleh pihak pemerintah setempat karena dapat merusak generasi penerus bangsa dan menggangu

ketentraman masyarakat

Para remaja harus memiliki perhatian khusus karena melalui aksi-aksi mereka itu dapat menimbulkan keresahan bagi masyarakat yang nantinya masyarakat dapat memberikan pandangan buruk bagi para remaja

Pemberian cap atau memberikan label kepada remaja sebagai remaja yang

berkelakuan tidak baik atau tidak memiliki etika merupakan suatu teori labelling.

(teori labelling)

2 Dahing Banyak remaja yang jatuh dari motor ketika melakukan balap liar yang menimbulkan luka yang cukup parah, dan kadang-kadang balapan yang dilakukan oleh remaja seeringkali adanya perjudian dan perkelahian.

Dalam hal ini remaja bukan hanya

melakukan dibalik balapan itu seringkali adanya suatu taruhan atau judi antar para pelaku balapan liar balapan liar tetapi

Dalam teori labelling pemberian cap atau label pada remaja sebagai remaja yang tidak mengerti etika dan tatakrama yang baik merupakan suatu hal yang dapat

membuat remaja semakin melakukan tindakan

penyimpangan bukan hanya blapan liar tetapi penyimpangan lainnya.

(teori labelling) 3 Atija Cuma suara bising setiap

sore didengar karena adanya balapan.

Warga masyarakat menadi resah karena adanya polusi suara

Dalam dokumen JURUSAN PENDIDIKAN SOSIOLOGI (Halaman 66-86)

Dokumen terkait