• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

2. Sekeras dan secemerlangnya karier perempuan masih tidak dianggap ‘pas’

dan ideal apabila menjadi sosok pemimpin dalam birokrasi. Stereotype gender menempatkan perempuan seolah tidak memiliki karakter yang kuat dan mempuni sebagai pemimpin. Perempuan hanya ideal sebagai pelengkap yang mengurusi persoalan administrasi.

3. Perempuan terhambat persoalan ‘biologis’ dan definisi seksualitasnya karena kontruksi sosial menyebabkan waktu mereka sering tersita oleh masalah domestik. Hal tersebut menjadi kendala meraih jenjang karier bagi seorang perempuan.

Seiring dengan perkembangan zaman, maka tuntutan peran yang harus di jalankan seorang perempuan mengalami perubahan pula. Dahulu perempuan sulit untuk mengaktualisasi dirinya karena adanya ikatan budaya yang ketat, maka budaya itupun berubah sejalan dengan terjadinya perubahan sosial pada masyarakat di Indonesia. Untuk melihat penerapan prinsip impersonalitas birokrasi pemerintahan pada Dinas Perhubungan Kota Makassar yaitu menggunakan Teori Max Weber (Hardianti, 2018) sebagai berikut:

1. Keadilan

Keadilan yang dimaksudkan dalam menduduki jabatan struktural pada Dinas Perhubungan Kota Makassar tidak memandang jenis kelamin, suku, ras, dan agama, tetapi kenyataanya yang mendominasi adalah pengawai laki-laki.

Adapun wawancara bersama Kepala Seksi Monitoring dan Pengelolaan Data, yaitu:

“Bagian monitoring dan pengelolaan data di sini yang dominan pegawai laki-laki yang berjumlah 7 orang sedangkan pegawai perempuannya

berjumlah 3 orang. Karena tugasnya di sini lebih membutuhkan tenaga laki-laki yang kodratnya lebih kuat, bisa memimpin, karena tugasnya lebih banyak terjun langsung di lapangan”. (Wawancara FS, 30 Agustus 2021)

Hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa seorang laki-laki memang sudah sejak lahir memiliki sifat untuk menjadi pemimpin, memiliki fisik yang kuat, tegas tidak sama halnya dengan perempuan yang selalu dianggap lemah, tidak mampu memimpin. Dan biasanya perempuan hanya diberikan pekerjaan yang sederhana dan tidak membutuhkan tenaga yang lebih. Kemudian dipertegas dalam masalah trasportasi publik yang lebih dominan dalam menjalankan tugas yaitu pegawai laki-laki sesuai dengan wawancara dengan kepala seksinya, yaitu:

“Masalah trasportasi publik memang di bawahi oleh banyak pegawai laki-laki yaitu dalam pengendalian operasional trasportasi seperti angkutan darat dan angkutan laut. Karena tugasnya di sini memerlukan fisik yang kuat dan bisa bekerja dalam waktu apapun berbeda dengan perempuan yang ada batas waktunya karena harus juga mengurusi pekerjaan rumah dan keluarganya”. (Wawancara RA, 8 September 2021) Hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam pengedalian operasioal transportasi banyak dilakukan pengawai laki-laki karna tugasnya kebanyakan di luar kantor dan lebih banyak di jalanan. Keberadaan laki-laki di sini memungkinkan untuk dapat berkerja dengan kondisi apapun berbeda dengan perempuan. Karena biasanya pegawai perempuan terbatas oleh tenaga dan waktu karena mengurusi pekerjaan rumah tangga juga. Hal ini dipertegas dalam wawancara dengan kepala seksi pengoperasian sarana & prasarana perhubungan, yaitu:

“Di seksi pengoperasian ini memang yang lebih dominan pengawai laki- laki karena tugasnya di jalanan untuk mengangkat motor yang parkir liar

di jalanan dan operasi penggembokkan yang memerlukan tenaga untuk mengangakat gembok yang lumayan berat yang tidak mungkin di angkat perempuan makanya pengawai laki-laki yang diturunkan untuk mengurusi hal itu”. (Wawancara EY, 16 September 2021)

Hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam operasi jalanan lebih banyak pengawai laki-laki yang di turunkan karena mengingat bahwa tugas di jalanan lebih membutuhkan tenaga yang lebih. Bukan karna memandang perempuan lemah tetapi mengingkat banyaknya pegawai laki-laki yang mempunih dan memenuhi syarat untuk melakukan tugasnya makanya lebih dominan laki-laki yang bekerja pada seksi itu.

Dari semua hasil wawancara di atas maka dapat disimpulkan bahwa keadilan dalam birokrasi di Dinas Perhubungan Kota Makassar masih menganut unsur patriarki yang dimana penempatan pegawai laki-laki lebih dominan daripada perempuan. Selain itu, berdasarkan hasil observasi peneliti bahwa dalam keadilan disini tidak terlaksana dengan baik karena yang mendominasi jabatan structural di Dinas Perhubungan Kota Makassar adalah pengawai laki-laki dengan jumlah 16 orang dan pengawai perempuan berjumlah 6 orang. Hal tersebut dapat terlihat pada struktur organisasinya.

2. Persamaan

Persamaan yang dimaksudkan baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak dan kewajiban dalam memperoleh pekerjaan pada Dinas Perhubungan Kota Makassar tanpa memandang kodratnya laki-laki sebagai tulang punggung keluarga dan perempuan sebagai ibu rumah tangga. Dalam wawancara dengan kepala sub bagian perencanaan dan pelaporan, yaitu:

“Perempuan sekarang sudah mulai berani untuk memasuki dunia birokrasi. Tidak semata-mata hanya meminta uang dari suami tetapi juga ikut bekerja dan menghasilkan uang sendiri untuk menghidupi keluarga dan membantu suaminya. Banyak juga perempuan sekarang lebih mementingkan kariernya daripada berumah tangga” (Wawancara FI, 30 Agustus 2021)

Hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa masalah tingkah laku manusia sekarang baik laki-laki maupun perempuan sudah tidak lagi memandang jenis kelamin dalam mencari nafkah. Bahkan sekarang ini lebih banyak perempuan yang mementingkan kariernya daripada berumah tangga.

Kemudian dipertegas dalam wawancara dengan kepala seksi monitoring dan pengelolaan data, yaitu:

“Dalam hal mencari nafkah sekarang tidak lagi mementingkan jenis kelamin tetapi yang dibutuhkan seseorang yang mau bekerja keras, bertanggungjawab, dan loyalitas terhadap pekerjaannya. Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa perempuan juga memiliki kepentingan sebagai ibu rumah tangga yang harus mampu membagi waktu dan tugasnya untuk mencapai jenjang karier yang cemerlang tanpa mengorbankan keluarganya” (Wawancara, FS, 30 Agustus 2021)

Hasil wawancara tersebut disimpulkan bahwa perempuan juga bisa dalam mencari nafkah asalkan mau bekerja keras, bertanggung jawab dan loyalitas dalam menjalankan pekerjaannya. Pada dasarnya memang perempuan dihadapkan pada pekerjaan rumah saja tidak untuk mencari nafkah tetapi dengan sering perkembangan jaman sekarang perempuan juga mampu mengejar kariernya. Tetapi diimbangi dengan pembagian waktu yang tepat sehingga tidak ada kewajiabannya yang terbengkalai. Kemudian dipertegas wawancara dengan kepala seksi trasportasi publik, yaitu:

“Dalam pekerjaan di seksi transportasi publik ini tidak hanya dilakukan pengawai laki-laki saja tapi pengawai perempuan juga dapat menjalankan tugasnya seperti ikut turun dalam pengawasan lalu lintas

baik di darat maupun di laut. Hal ini membuktikan bahwa perempuan juga mampu menjalankan pekerjaanya sebagai pencari nafkah keluarga dan bukan hanya melakukan pekerjaan rumah tangga” (Wawancara RA, 8 September 2021)

Hasil wawancara tersebut disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan tugas di Dinas Perhubungan Kota Makassar ini tidak memandang laki-laki maupun perempuan, apapun tugasnya tetap dilaksanakan baik itu di laut maupun di darat. Semua dapat dikerjakan asalkan sesuai dengan prosedur yang ada.

Perempuan di sini memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam menjalankan tugasnya dan tidak hanya dianggap sebagai pekerja domestik saja atau yang hanya mampu mengurus pekerjaan rumah, mengurus anak dan suami.

Kemudian dipertegas dalam wawancara dengan kepala seksi pengoperasian sarana dan prasanara perhubungan, yaitu:

“Perempuan di seksi ini memang hanya 2 orang saja tetapi dalam menjalankan tugas di jalanan tidak memandang jenis kelamin dan semua berhak untuk kerja di lapangan sesuai dengan tugasnya baik itu tugas di darat maupun di laut. Tetapi perempuan di sini hanya untuk mengawasi bukan turun langsung dalam masalah pengembokkan atau hal yang berat yang memerlukan kekuatan karena itu merupakan tugas dari laki-laki”

(Wawancara EY, 16 September 2021)

Hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa perempuan dimana pun dia ditempatkan tetap harus menjalankan tugasnya dengan baik dan tidak semua perempuan menepatkan dirinya hanya sebagai ibu rumah tangga tetapi juga bisa menjadi perempuan yang mandiri mencari nafkah juga. Sesuai dengan wawancara dengan kepala seksi pemaduan moda transportasi dan teknologi perhubungan, yaitu:

“Hakikatnya memang perempuan di rumah tetapi tidak bisa juga dipungkiri perempuan juga mampu untuk ikut berkarier dalam dunia birokrasi. Pada seksi ini semua pegawainya perempuan yang juga

merupakan seorang ibu tetapi mampu membagi waktunya untuk bekerja dan mengurusi pekerjaan rumahnya. Perempuan di sini berkerja juga untuk membantu ekonomi keluarganya” (Wawancara AC, 8 September 2021)

Hasil wawancara tersebut disimpulkan bahwa perempuan mampu untuk berkarier dalam dunia birokrasi sekarang ini sesuai dengan jabatannya serta tugas-tugasnya. Itulah keistimewahan seorang perempuan walaupun dia seorang ibu rumah tangga tetapi dia mampu juga menjadi wanita karier yang memiliki keahlian khusus dalam menjalankan tugas sesuai dengan jabatannya.

Berbeda dengan laki-laki yang hanya bekerja mencari nafkah tidak memiliki kewajiban untuk mengurusi pekerjaan rumah dan anak. Sama halnya dalam wawancara dengan kepala seksi promosi dan edukasi keselamatan berlalu- litas, yaitu:

“Dalam mengedukasi masyarakat memang sangat diperlukan keahlihan khusus yaitu harus tau penggunaan kata dan tindakan apa yang sesuai dengan masalah yang terjadi saat berlalu lintas. Hal ini mampu dilakukan seorang perempuan karena pada seksi ini pengawai perempuan lebih banyak dikerahkan dalam membantu mengedukasi masyarakat berlalu lintas di jalanan ”

Hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa pekerjaan apapun memerlukan keahlian baik itu untuk laki-laki maupun perempuan dari keahlian itulah yang dapat membawa siapapun pun bisa ikut berkarier dalam dunia birokrasi sekarang ini dan sekarang perempuan tidak dianggap lagi sebagai pekerja domestik saja atau yang melakukan pekerjaan rumah tangga tetapi juga mampu menjadi tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah.

Dari semua wawancara di atas maka dapat disimpulkan persamaan dalam mencari pekerjaan pada Dinas Perhubungan Kota Makassar, perempuan

ditempatkan untuk pekerjaan rumah tangga saja (domestic service) atau laki- laki sebagai pencari nafkah (breadwinner) tidak sesuai karena siapapun yang memiliki kemampuan, kemauan untuk terus berkembang dan berani untuk ikut dalam birokrasi pemerintahan dapat juga mencari nafkah dan ikut dalam mencapai jenjang karier yang cemerlang. Kemudian, hasil observasi peneliti juga melihat bahwa walaupun lebih banyak pengawai laki-laki daripada pengawai perempuan pada Dinas Perhubungan Kota Makassar, tetapi tidak dipungkiri juga keberadaan perempuan di sini berperan ganda karena meski perempuan yang menduduki jabatan, tugas rumah tangga tidak bisa dikesampingkan, begitupula tanggungjawabnya di kantor.

3. Konsistensi

Konsistensi yang dimaksudkan sikap pegawai laki-laki maupun pegawai perempuan dalam menjalankan sesuai dengan jabatan yang ditetapkan pada Dinas Perhubungan Kota Makassar. Dalam wawancara dengan kepala sub bagian perencanaan dan pelaporan, yaitu:

“Perempuan itu juga bisa menjadi seorang pemimpin bukan hanya laki- laki dari segi wawasan dia juga bisa lebih daripada laki-laki. Tapi memang dalam penentuan untuk menduduki jabatan itu berdasarkan penilaian dari atasan kita sebagai pegawai hanya perlu berusaha menjalankan tugas dengan baik dan mau belajar dan bekerja keras sehingga dapat dinilai dan ditempatkan sesuai dengan skill yang kita miliki” (Wawancara, FI 30 Agustus 2021)

Hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa perempuan juga mampu menjadi seorang pemimpin bukan hanya seorang laki-laki. Seorang pemimpin sangat diperlukan yang memiliki wawasan, pengalaman, dan tanggung jawab. Tidak dapat dipungkuri bahwa perempuan juga mampu untuk

memimpin sesuai dengan wawancara dengan kepala seksi monitoring dan pengelolaan data, yaitu:

“Sebagai perempuan tidak perlu merasa rendah diri untuk menjadi seorang pemimpin yang akan menempati jabatan tetapi kita harus berkerja keras, mandiri, dan mampu bertanggung jawab. Tetapi memang perempuan di sini masih statusya lebih banyak sebagai seorang staff daripada laki-laki yang menjadi kepala dinas dan kepala bidang”

(Wawancara FS, 30 Agustus 2021)

Hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa siapunpun bisa menempati jabatan tanpa memandang jenis kelamin tetapi harus mampu bekerja keras, mandiri, dan bertanggung jawab atas pekerjaannya. Namun memang masih banyak perempuan yang statusnya masih lebih rendah daripada laki-laki yang pada dasarnya yang menduduki jabatan tertinggi masih seorang laki-laki. Hal ini juga dipertegas dalam wawancara dengan kepala seksi trasportasi publik, yaitu:

“Perempuan di sini memang statusnya hanya sebagai pembatu dalam melaksanakan tugas dari seorang pemimpin yang pada hakikatnya perempuan juga sangat diperlukan dalam lingkup birokrasi. Dan kriteria yang dibutukan yaitu harus memilki loyalitas, etos kerja, mau belajar sehingga mampu bersaing sehat sehingga mampu menduduki jabatan”

(wawancara RA, 8 September 2021)

Hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa apapun pekerjaan yang diberikan pimpinan kita harus mampu mengerjakannya dan mau berusaha untuk bisa. Perempuan yang memiliki loyalitas, etos kerja, dan mau bertanggung jawab atas pekerjaan memiliki potensi untuk menduduki jabatan dalam birokrasi. Untuk menduduki jabatan memang yang dipilih sesuai dengan kemampuannya dan berdasarkan penilian pemimpin paling atas.

Wawancara dengan kepala seksi pengoperasian sarana dan prasarana perhubungan, yaitu:

“Dalam melaksanakan pekerjaan kita tidak boleh merasa rendah diri, tidak yakin, dan tidak mampu karena apapun pekerjaan yang telah diberikan pasti kita dapat menyelesaikannya asalkan mau berusaha.

Banyak yang bilang kalau perempuan hanya mampu melakukan pekerjaan rumah tetapi di sini banyak pegawai perempuan yang mampu bekerja sesuai dengan tugas yang diberikan.” (Wawancara EY, 16 September 2021)

Hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa setiap pekerjaan itu ada masalah dan kendala yang harus dihadapi maka dari itu kita harus mampu mengatasi masalah itu tanpa merasa rendah diri asalkan mau berusaha dan mau belajar. Dengan begitu kita sebagai seorang perempuan dapat mematahkan presepsi masyarakat yang hanya menggap perempuan tidak mampu bekerja dibidang birokrasi. Kemudian wawancara dengan kepala seksi pemaduan moda dan teknologi transportasi, yaitu:

“Status politis perempuan memang dianggap inferior saja berbeda dengan seorang laki-laki yang dianggap superior yang mampu mengerjakan tugasnya dengan baik tetapi perempuan juga sebenarnya mampu menjalankan tugasnya bahkan lebih baik daripada seorang laki- laki. Perempuan mampu membagi waktunya dari pekerjaan dan waktu dengan keluarganya itu menjadi kelebihannya daripada seorang laki-laki.

” (Wawancara, 8 September 2021)

Hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa pentingnya jengjang karier dan latar belakang pendidikan serta keahlian sehingga dapat menduduki jabatan tanpa adanya pemikiran bahwa perempuan itu tidak mampu menduduki jabatan dan memiliki rasa rendah diri (inferior). Kemudian dipertegas dalam wawancara dengan kepala seksi promosi dan edukasi berlalu lintas, yaitu:

“Dalam seksi ini sangat dibutuhkan sosok seorang perempuan untuk mengedukasi seseorang, perempuan lebih mampu karena dilihat dari sisi keibuan yang mampu membimbing seorang anaknya serta memahami anak dan keluarganya. Keahlian inilah yang merupakan point lebih yang dimiliki seorang perempuan daripada laki-laki” (Wawancara EE, 16 September 2021)

Hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa perempuan tidak selamanya harus merasa rendah diri atau tidak mampu untuk masuk ke dunia birokrasi. Bahkan banyak tempat khusus yang diduduki seorang perempuan karena memiliki keahlian khusus yang tidak dimiliki seorang laki-laki.

keahlian ini dibarengi dengan kerja keras, usaha, dan skill untuk mampu bekerja dalam dunia birokrasi.

Dari semua hasil wawancara di atas maka dapat disimpulkan bahwa konsistensi perempuan dalam dunia birokrasi tidak lagi dianggap status politisnya sebagai inferior tetapi juga mampu menjadi pemimpin (superior) karena dengan berbagai kualifikasi keahlian yang dimilikinya dianggap mampu untuk masuk ke dunia birokrasi dan mampu memimpin anggota di bawahnya. Kualifikasi keahlian ini juga diimbangi dengan jenjang karier yang telah ia tempuh. Kemudian dari hasil observasi peneliti juga melihat bahwa dalam konsitensinya melaksakan tugas dan kewajiban sebagai birokrat baik perempuan maupun laki-laki memiliki hak yang sama dalam menjadi seorang pemimpin dalam organisasinya.

Dokumen terkait