• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

Kerajaan Sidenreng, Suppa, dan Bulukumba.Sehingga, Sultan Alauddin diabadikan namanya sebagai Universitas yakni Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.

b. Keadaan umum jalan sultan alauddin kota Makassar

Jalan Sultan Alauddin adalah salah satu tempat paling terkenal di Makassar. Jalan sultan alauddin kota Makassar termasuk jalan yang dikenal dengan arus lalu lintas yang cukup ramai. Berdasarkan hasil pemantauan pada hari selasa tanggal 24 januari 2017, terlihat bahwa arus lalu lintas cukup ramai. Selain karena dipadati mahasiswa Universitas Muhammiyah Makassar juga dipadati oleh pengguna kendaraan dan sejumlah Pedagang Kaki Lima.

Terlihat jelas bahwa sebagian besar kemacetan terjadi di Jalan Sultan Alauddin Makassar, disebabkan karena banyaknya Pedagang Kaki Lima yang menggunakan bahu jalan untuk berdagang. selain karena PKL, jalan Sultan Alauddin Makassar sering dikenal dengan nama tempat yang sering dijadikan unjuk rasa oleh para mahasiswa.

Oleh karenanya, jika terjadi unjuk rasa yang dilakukan oleh para mahasiswa menyebabkan sebagian besar Jalan Sultan Alauddin diblokir, sehingga para pengguna Jalan termasuk angkutan kota Makassar harus mengalihkan kendaraan untuk mencari jalan pintas.

bentuk privatisasi ruang terhadap pengguna jalan sultan alauddin oleh pedagang kaki lima, dampak privatisasi ruang terhadap pengguna jalan sultan alauddin oleh pedagang kaki lima, yang dilaksanakan di jalan sultan alauddin Makassar seputar wilayah kecamatan rappocini kelurahan gunung sari, dengan hasil :

1. Kontruksi sosial jalan sultan alauddin mendorong terjadinya privatisasi ruang oleh pedagang kaki lima

Ruang publik adalah suatu tempat yang dapat menunjukkan perletakan sebuah objek. Tempat ini dapat diakses secara fisik maupun visual oleh masyarakat umum. Menurut Jan Gehl (dalam Hariyono:2007;136), ruang publik memiliki tiga fungsi, yaitu sebagai tempat bertemu, berdagang dan lalu lintas. Dengan demikian, ruang publik dapat berupa jalan, trotoar, taman kota, lapangan, dan lain-lain.

Dalam penelitian ini ruang publik yang dijadikan obyek penelitian adalah ruang publik berupa badan jalan, selasar pertokoan, trotoar dan taman yang dijadikan tempat beraktivitas oleh pedagang kaki lima di sepanjang Jalan Sultan Alauddin Makassar.

Tahap eksternalisasi dan objektivasi merupakan pembentukan masyarakat yang disebut sebagai sosialisasi primer, yaitu momen dimana seseorang berusaha mendapatkan dan membangun tempatnya dalam masyarakat. Dalam kedua tahap ini (eksternalisasi dan objektivasi) seseorang memandang masyarakat sebagai realitas objektif (man in

pranata sosial (social order), dan agar pranata itu dapat dipertahankan dan dilanjutkan, maka haruslah ada pembenaran terhadap pranata tersebut, tetapi pembenaran itu dibuat juga oleh manusia sendiri melalui proses legitimasi yang disebut objektivasi sekunder.

Pranata sosial merupakan hal yang objektif, independen dan tak tertolak yang dimiliki oleh individu secara subjektif. Ketiga momen dialektik itu mengandung fenomena-fenomena sosial yang saling bersintesa dan memunculkan suatu konstruksi sosial atau realitas sosial, yang dilihat dari asal mulanya merupakan hasil kreasi dan interaksi subjektif. Seperti yang dikatakan riska 25 tahun bahwa :

“Ruang terbuka seperti bahu jalan memiliki daya tarik tersendiri bagi pembeli. Saya memilih jalan sultan alauddin selain karena padatnya kendaraan, juga dipadati mahasiswa karena berdekatan dengan kampus Universitas Muhammadiyah Makassar yang mahasiswanya begitu banyak.”

Ani, 22 tahun juga mengatakan bahwa :

“Jalan Sultan Alauddin merupakan jalur yang sering dijumpai kemacetan. Disamping itu juga ramai dikunjungi oleh mahasiswa karena dekatnya sarana perkuliahan sehingga banyak pejalan kaki di jalanSultan Alauddin khususnya para mahasiswa dan mahasiswi Unoversitas Muhammadiyah Makassar”.

Permasalahan kota dan ruang publiknya tak lepas dari masalah pedagang kaki lima yang suka mangkal berjualan di sekitaran atau bahkan di dalam ruang publik itu sendiri. Ruang publik yang "hanya sekedar jadi"

dan kemudian ditinggalkan hingga kumuh merupakan cerminan bahwa banyak sekali masalah mengenai ruang publik di kota.

Upaya penertiban dengan mengajak dan menghimbau agar PKl menempati kios yang memang di sediakan untuk menampung para PKL ini juga sudah pernah dilakukan tapi sepertinya tidak efektif, karena setelah ditertibkan beberapa waktu kemudian pedagang kembali lagi berjualan di speanjang bahu jalan. Bahkan ada PKL yang secara terang- terangan menolak ditertibkan dan tetap akan bertahan berjualan di luar pasar. Sebagaimana hasil wawancara oleh peneliti dengan salah satu pedagang kaki lima di jalan sultan alauddin Makassar yang bernama Riska 25 tahun dalam suatu kesempatan. Ia menyatakan bahwa :

“Saya memilih bertahan ditempat ini karena pembeli lebih senang bertransaksi di emperan karena lebih leluasa. Biasanya pembeli malas berjalan ke pasar pasar karena jarak yang begitu jauh.”

Disisi lain banyaknya pedagang di sepanjang bahu jalan sultan alauddin juga banyak dikeluhkan masyarakat. Masyarakat menginginkan tidak ada kemacetan dan kekumuhan. Pedagang kaki lima (PKL) yang pesat disamping dapat menggiatkan perekonomian tapi juga dapat menimbulkan banyak permasalahan.

Banyaknya pedagang kaki lima di sekitar jalan Sultan Alauddin kota Makassar, sehingga berbagai pendapat yang terlihat bahwa berapa lama mereka telah berjualan disepanjang jalan tersebut.

Seperti yang dikemukakan oleh Ridwan 27 tahun, ia mengatakan bahwa:

“Saya berjualan pakaian di bahu jalan sultan alauddin kota Makassar sekitar 6 bulan.

Sedangkan mihra usia 26 tahun mengatakan bahwa :

“Saya berjualan disepanjang jalan sultan alauddin kota Makassar sekitar 1 tahun, karena banyaknya peminat pakaian sehingga tetap bertahan untuk berdagang.”

Munculnya berbagai pendapat dari beberapa responden sehingga membuat peneliti merangkum bahwa beberapa responden baru memulai usaha berdagang disepanjang bahu jalan sultan alauddin kota Makassar, selain itu juga terdapat beberapa responden yang telah lama melakukan aktivitas tersebut. Salah satunya yang dikatakan oleh mihra 26 tahun yang bertahan menjual pakaian dengan alasan banyaknya banyaknya peminat untuk membeli pakaian. Alasan lain yang dikemukakan oleh salah responden ika, 24 tahun mengatakan bahwa :

“Berjualan pakaian merupakan salah satu dagangan yang banyak diminati orang termasuk mahasiswi universitas muahmmadiyah Makassar yng dominan kebanyakan perempuan sehingga saya berfikiruntuk berjualan pakaian khusus perempuan saja dengan harga mulai dari yang termurah.”

2. Bentuk privatisasi ruang terhadap pengguna jalan sultan alauddin oleh pedagang kaki lima

Pedagang Kaki Lima (PKL) beraglomerasi pada simpul-simpul pada jalur pejalan yang lebar dan tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh orang dalam jumlah besar yang dekat dengan pasar public, terminal dan daerah komersial. Pola berdagang PKL dalam berdagang menyesuaikan irama dan cirri kehidupan masyarakat sehari-hari.

Modal dan omset pedagang kaki lima pada umumnya kecil dan tidak semua modal adalah milik sendiri tapi ada yang berupa barang konsinyasi (barang titipan). Sebagian besar pedagang kaki lima berasal dari luar daerah, mayoritas pedagang kaki lima berasal dari pendidikan yang rendah. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap riska, 25 tahun mengatakan bahwa :

“Dengan berjualan dibahu jalan itu tidak membutuhkan modal yang besar, justru saya memulai bisnis berjualan pakaian dari modal kecil. Sehingga seiring berjalannya waktu, bisnis saya berkembang seperti ini.”

Ani, 22 tahun mengatakan bahwa :

:Modal yang diperoleh dari hasil pinjaman dari orang lain”

Wawancara lain yang dilakukan kepada responden Ridwan 27tahun mengatakan bahwa :

“modal yang di gunakan berdagangan adalah modal sendiri”

yang dilakukakan oleh peneliti kepada responden Ika 25 tahun juga menyatakan bahwa:

“Saya mulai bisnis berjualan baju dari barang titipan. Siring waktu berjalan sampai saat ini saya sudah mampu menjalankan bisnis sendiri meskipun darimodal kecil.”

Dalam dunia yang semakin maju sulitlah bagi usaha-usaha perorangan untuk dapat berkembang atau untuk dapat menghindarkan diri dari kegagalan-kegagalan apabila tidak menjalin hubungan kerjasama dengan pengusaha-pengusaha lain.

Harapan pedagang menjadi sesuatu harapan yang harus terwujud dalam kegiatan usaha, salah satu harapan yang diinginkan pedagang yaitu harapan untuk hidup sejahtera dan mendapatkan modal usaha yang besar untuk melebarkan usahanya ketempat yang lebih layak agar tidak berjualan di bahu jalan lagi.

Seperti yang di katakana riska 25 tahun, salah satu responden mengatakan bahwa :

“Saya memilih bahu jalan berdagang untuk mengurangi pengeluaran biaya untuk distribusi bahan baku. Adapun jenis dagangan yag saya jual adalah pakaian wanita dengan harga murah”.

Sedangkan ridwan 27 tahun mengatakan bahwa :

“selain karena dekat dengan tempat tinggal, penghasilan yang dapat diperoleh yaitu Rp.150.000-Rp.500.000/hari”

Pengaruh tempat membuat pedagang kaki lima lebih memilih tempat yang ramai dikunjungi oleh konsumen kebanyakan dari mahasiswa, dan anak sekolah yang bertempat tinggal disekitar jalan sultan alauddin, dari hal tersebut membentuk salah satu prinsip yakni pedagang kaki lima dalam usahanya sangat membutuhkan adanya jumlah konsumen atau pelanggan yang sangat banyak, karena jumlah konsumen atau pelanggan yang memiliki jumlah yang sangat banyak keuntungan berupa uang untuk memenuhi setiap kebutuhan manusia akan terasa mencukupi, apabila dalam satu hari berdagang tidak mendapatkan berbagai bentuk macam kerugian yang dialami oleh pedagang kaki lima.

Maka pedagang kaki lima akan mendapatkan keuntungan dari berjualan di sepanjang jalan Sultan Alauddin yang kondisi lapangan daerahnya rata-rata adalah mahasiswa yang berkuliah di Kabupaten Jember. Alasan yang lainnya yaitu mengurangi pengeluaran biaya untuk distribusi bahan baku serta pedagang kaki lima yang berjualan alasannya dekat dengan tempat tinggalnya. Karena dengan banyaknya konsumen atau pelanggan maka uang yang mengalir akan lancar.

Dalam peristiwa tersebut menimbulkan berbagai macam dampak positif yakni termasuk konsumen atau pelanggan tidak perlu jauh-jauh untuk membeli pakaian, tempat untuk berdagang yang strategis dalam mencari uang yang halal, dengan banyaknya pedagang kaki lima disepanjang jalan Sultan Alauddin dapat menjadi dan membentuk

mengikat tali persaudaraan antar pedagang kaki lima yang berjualan di jalan sultan alauddin sehingga tingkat persaingan antar pedagang kaki lima yang memicu terjadi perkelahian antar pedagang kaki lima dapat teratasi akibat dari komunikasi dan kerjasama antar pedagang kaki lima yang bersifat positif.

3. Dampak privatisasi ruang terhadap pengguna jalan sultan alauddin oleh pedagang kaki lima

Ruang public merupakan ruang untuk mempromosikan sekaligus menghargai hak untuk berrbeda. Ekpresi perbedaan, spontanitas, dan kreativitas adalah bagian dari kehidupan sehari-hari pada ruang public.

Ruang public harus bebas biaya, bebas dari rasa takut, terbuka untuk berbagai kalangan termasuk orang miskin, dan bebas dari hambatan fisik.

Gambar 4.3. Kemacetan jalan sultan alauddin

Seperti yang dikemukakan pada gambar diatas menunjukkan bahwa sebagian besar PKL di jalan Sultan Alauddin memilih menggunakan trotoar dan bahu jalan untuk berdagang. Beberapa PKL

sangat kurang. Hal ini menjadikan jalan sultan alauddin menjadi macet.

Jalan tersebut yang sebenarnya bisa dilalui kendaraan roda empat dari dua arah dengan leluasa. Tetapi dengan kondisi banyaknya pedagang di bahu jalan kendaraan tidak bisa leluasa melewatinya, jangankan dua kendaraan satu kendaraan roda empat pun harus berjalan perlahan-lahan karena harus berbagi dengan pedagang kaki yang mengalah.

Alasan para pedagang bermacam-macam, sebagian besar beralasan belum memiliki modal yang cukup untuk menyewa kios atau ada juga yang beralasan berdagang di kios dalam pasar kurang laku karena pembelinya sedikit.

Dari dampak yang positif tidak sepenuhnya memiliki dampak yang positif akan tetapi menimbulkan dampak yang negatif pula antara lain yakni membuat lalu lintas disepanjang jalan jawa semakin padat karena banyaknya kendaraan yang sedang melewatu di jalan jawa serta adanya kendaraan yang terparkir disepanjang jalan sultan alauddin karena membeli suatu kebutuhan yang membuat jalan sultan alauddin semakin menjadi tersendat dan ditambah lagi pada jam pulang skuliah banyak sekali orang-orang yang menyeberang jalan di jalan sultan alauddin yang mengakibatkan kendaraan berhenti sejanak.

Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti oleh responden Mohammad (pengguna jalan) 27 tahun mengatakan bahwa :

“banyaknya pedagang kaki lima dipanjang jalan sultan alauddin

juga mengakibatkan kemacetan karena tidak terarahnya jallur lalu lintas dengan baik.”

Sedangkan aliyah 25 tahun mengatakan bahwa :

“Pedagang kaki lima di bahu jalan Menimbulkan sampah yang berserakan”

Kondisi jalan yang tidak terlalu luas merupakan salah satu masalah di jalan sultan alauddin dengan ditambahkannya lagi pedagang kaki lima yang berjualan disepanjang jalan sultan alauddin mengakibatkan jalan tidak mampu menampung banyaknya kendaraan ditambah lagi dengan angkuatan kota yang lewat di jalan sultan alauddin. Hak-hak pejalan kaki tidak terpenuhi karena sepanjang trotoar juga dimanfaatkan oleh pedagang kaki lima untuk mencari uang sehingga memaksa pejalan kaki untuk berjalan dibahu jalan sultan alauddin sehingga membahayakan keselamatan pejalan kaki.

apabila tersenggol oleh kendaraan yang sedang berjalan di jalan sultan alauddin, selain itu dapat menimbulkan berbagai macam pencemaran yakni debu dan polusi yang berada dimana-mana karena banyaknya kendaraan bermotor yang melewati jalan sultan sultan alauddin.

Selain menimbulkan polusi dan permasalahan lain, adanya pedagang kaki lima disepanjang jalan sultan alauddin kota makassar juga menimbulkan dampak positif bagi pengguna jalan tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh salah satu responden (pengguna jalan) Mohammad

dengan adanya penjual pakaian dibahu jalan sultan alauddin kota makassar memudahkan saya untuk berbelanja tanpa harus jauh-jauh ke sentral dengan mengeluarkan biaya mahal.”

Selain intan, Tika 23 tahun juga mengatakan bahwa :

“dengan adanya pedagang pakaian di bahu jalan sultan alauddin kota makassar membuat saya berminat untuk berbelanja pakaian tersebut karena harganya sama murah yang ada di sentral

Selain karena patokan harga yang hampir sama di toko-toko, kualitas barang juga tidak diragukan. Banyak pembeli yang lebih memilih berbelanja dibahu jalan sultan alauddin kota makassar karena berbagai alasan yang ditemukan oleh penelti. Selain keuntungan juga diperoleh kerugian dari adanya pedagang kaki lima di bahu jalan sultan alauddin kota makassar. Seperti yang dikemukakan oleh tika (pengguna jalan) 253 tahun mengatakan bahwa “

“sebagai pengguna jalan, saya merasa dirugikan karena banyaknya pedagang kaki lima diseputar bahu jalan sultan alauddin kota makassar mengakibatkan kemacetan. Sehingga saya biasa terlambat masuk kuliah disebabkan karena kemacetan tersebut.

Selain. Tika. Responden aliyah 25 tahun juga mengatakan :

“Karena adanya pedagang kaki lima membuat kemacetan”

Banyaknya alasan-alasan yang ditemukan dari responden menggambarkan banyak permasalahan yang muncul disebabkan karena

Dokumen terkait