• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

Jika konstruksi sosial adalah konsep, kesadaran umum dan wacana publik, maka menurut Gramsci, negara melalui alat pemaksa, seperti birokrasi, administrasi, maupun militer ataupun melalui supremasi terhadap masyarakat dengan mendominasi kepemimpinan moral dan intelektual secara kontektual. Kondisi dominasi ini kemudian berkembang menjadi hegemoni kesadaran individu pada setiap warga masyarakat sehingga wacana yang diciptakan oleh negara dapat diterima oleh masyarakat sebagai akibat dari hegemoni itu.

Tahap objektivasi produk sosial terjadi dalam dunia intersubyektif masyarakat yang dilembagakan. Pada tahap ini sebuah produk sosial berada pada proses institusionalisasi, sedangkan individu oleh Berger dan Luckman mengatakan, memanifestasikan diri dalam produk-produk kegiatan manusia yang tersedia, baik bagi produsen-produsennya maupun bagi orang lain sebagai unsur dari dunia bersama. Objektivasi ini bertahan lama sampai melampaui batas tatap muka dimana merka dapat dipahami secara langsung.

Dengan demikian individu melakukan objektivitas terhadap produk sosial, baik penciptanya maupun individu lain. Kondisi ini kondisi ini berlangsung tanpa harus mereka saling bertemu. Artinya, objectivasi itu bisa terjadi tanpa melalui penyebaran opini sebuah produk sosial yang bekembang di masyarkat melalui diskursus opini masyarakat tentang produk sosial, tanpa harus terjadi tatap muka antara individ dan pencipta

Pedagang kaki lima telah mampu berkembang dengan baik dengan mampu bertahan menghadapi persaingan usaha. Hal tersebut dapat dilihat dari perkembangan jumlah pedagang kaki lima yang mengalami peningkatan cukup signifikan dari tahun ketahun. Kemampuan berkembang dan bertahan menghadapi persaingan usaha pedagang kakilima, selain di dorong faktor keterampilan dan semangat kerja yang tinggi juga di dorong dengan person modal sosil diantara para pedagang kaki lima. (Bimo, 2015)

Ruang terbuka publik mempunyai hubungan yang erat dengan masyarakat kota. Ruang kota ini mudah dijangkau oleh umum, baik secara visual maupun secara fisik. Penilaian aspek visual suatu kawasan terhadap bentuk kota merupakan hasil interaksi antara masyarakat dengan lingkungan kota, yaitu persepsi manusia mengenai karakter ruang yang berkaitan dengan aspek alami (natural) dan budaya (cultural). Persepsi tersebut timbul akibat adanya interaksi antara pengamat dengan obyek amatan yang dipengaruhi oleh jarak amatan dalam ruang (Garnham, 1985).

Ruang publik di pusat kota merupakan kawasan yang sangat menonjol dalam pertumbuhannya, hal ini didorong oleh berbagai macam aktifitas diantaranya : perdagangan, hiburan/rekreasi, budaya dan pemerintahan. Oleh karena itu ruang publik di kawasan pusat kota memiliki makna penting bagi masyarakat dalam konteks kegunaan, budaya, sejarah dan politik yang selanjutnya akan memberi makna tertentu bagi ruang tersebut (Beisi, 1997).

Pada kondisi sekarang, ruang publik di kawasan Simpang Lima semakin jauh dari gambaran sebagai tempat berinteraksi yang nyaman, memadai dan aman. Kalau tidak kotor dan semrawut oleh aktifitas pedagang kaki-lima dan parkir on-street, ruang publik tersebut rawan terhadap tindak kriminal, bahkan ada pula yang sulit diakses publik secara bebas akibat munculnya berbagai macam bangunan jasa dan komersial yang lebih “selektif” terhadap masyarakat yang memanfaatkannya.

Kecenderungan pasar bebas dengan privatisasi mengubah ruang publik menjadi ruang-ruang privat. Gangguan, pembatasan maupun larangan untuk meng-akses ruang publik oleh masyarakat di kawasan ini sudah mengarah kepada upaya privatisasi baik secara formal maupun nonformal. Masyarakat berharap bahwa ruang publik di kawasan ini sebaiknya dapat mempertimbangkan berbagai kelas dan status kebutuhan masyarakat yang mencerminkan pemenuhan kebutuhan seluruh lapisan masyarakat baik kelas atas sampai bawah, dari yang normal sampai difabel, dari anak-anak sampai dewasa dan pria atau wanita. Walaupun secara umum, ruang ini bisa diakses semua lapisan masyarakat, namun harus tetap mengikuti norma untuk tidak merugikan kepentingan umum di dalamnya.

2. Bentuk privatisasi ruang terhadap pengguna jalan sultan alauddin oleh pedagang kaki lima

Ruang terbuka kota yang bersifat publik adalah ruang kota yang

komunikasi masyarakat, ruang publik akan mewadahi kegiatan-kegiatan masyarakat baik formal maupun informal. Sebagai tempat kegiatan pedagang kaki lima, ruang publik menampung aktivitas pedagang kaki lima yang menjajakan makanan dan minuman, pakaian, souvenir, dan jasa seperti tukang service jam, tukang sol sepatu, dan sebagainya terutama dimalam hari.

Kebutuhan ekonomi memaksa setiap manusia untuk dapat memenuhi kebutuhan tersebut yakni termasuk dalam berdagang. Berdagang merupakan salah satu bentuk upaya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dalam mensejahterakan kehidupan sosialnya. Setiap manusia yang menjadi pedagang pasti memerlukan tempat yang sesuai dengan kondisi wilayah dan suasana yang ada di lapangan.

Dalam setiap kehidupan manusia tidak akan lepas dengan adanya modal. Pengertian modal usaha adalah sesuatu yang digunakan untuk mendirikan atau menjalankan suatu usaha. Modal ini bisa berupa uang dan tenaga (keahlian). Hal ini setiap manusia harus produktif dan menghasilkan keuntungan yakni dengan melakukan segala usaha agar persyaratan tersebut dapat terpenuhi untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Salah satu usaha dalam memenuhi setiap kebutuhan manusia yakni berdagang salah satu kebutuhan beberapa setiap manusia agar mendapatkan suatu keuntungan berupa uang.

Pedagang kaki lima merupakan orang yang berdagang untuk menjualkan berbagai macam hasil produksinya seperti pada umumnya

pakaian yang dilakukan secara komersial diatas milik jalan dan diatas trotoar yang seharusnya untuk pengguna kendaraan dan pejalan kaki.

Alasan pedagang memilih tempat layanan berdagang yaitu dari segi modal, jika pedagang yang tidak memiliki modal akan memilih berdagang dibahu jalan. Sedangkan dari segi kenyamanan yang dirasakan pedagang untuk pedagang semi menetap lebih nyaman dengan berpindah pindah berjualan di bahu jalan karena dapat mendatangi pembeli atau konsumen.

Modal dan omset pedagang kaki lima pada umumnya kecil dan tidak semua modal adalah milik sendiri tapi ada yang berupa barang konsinyasi (barang titipan). Sebagian besar pedagang kaki lima berasal dari luar daerah, mayoritas pedagang kaki lima berasal dari pendidikan yang rendah.

Harapan pedagang menjadi sesuatu harapan yang harus terwujud dalam kegiatan usaha, salah satu harapan yang diinginkan pedagang yaitu harapan untuk hidup sejahtera dan mendapatkan modal usaha yang besar untuk melebarkan usahanya ketempat yang lebih layak agar tidak berjualan di bahu jalan lagi.

3. Dampak privatisasi ruang terhadap pengguna jalan sultan alauddin oleh pedagang kaki lima

Dampak perkembangan kawasan Simpang Lima yang sangat pesat mengakibatkan pula perkembangan pada sektor-sektor lain, misalnya jumlah pedagang kaki lima yang semakin banyak, kepadatan lalu-lintas

billboard, spanduk. Meskipun kawasan Simpang Lima masih menjadi tujuan utama masyarakat yang memanfaatkannya, namun implikasi dari dampak perkembangan tersebut adalah menurunnya kualitas ruang kota terutama keberadaan ruang publik yang nyaman dan aman yang selama ini menjadi harapan masyarakat.

Namun hadirnya peran swasta dalam keberadaan ruang terbuka publik juga menimbulkan masalah, yaitu ketika ranah publik seperti masuk dalam wilayah pribadi, khususnya dalam isu tradisi profit oriented dari sektor swasta. Drama konflik antara pembangunan pusat aktivitas komersil dan pelayanan dimulai disini. Disatu sisi pemerintah dibantu dengan adanya investor disisi lain kegiatan komersil yang bersifat privat berimbas pada area yang seharusnya milik publik.

Fenomena privatisasi bukan hal yang baru karena sudah terjadi di berbagai sektor termasuk ruang publik. Dalam kasus ruang terbuka publik, privatisasi tentu membawa dampak dalam pemanfaatan ruang dan tingkat kualitas yang berpengaruh pada kenyamanan pembeli.

Privatisasi membawa pengaruh positif yaitu peningkatan kualitas fasilitass dan pengelolaan dan juga pengaruh negatif seperti pembatasan akses dan kesenjangan sosial (Melik, 2009 & Kohn, 2004).

Banyaknya pedagang kaki lima seringkali menjadikan kesemrawutan pada ruang-ruang kota. Jika pedagang kaki lima menjajakan dagangannya secara sembarangan di pinggir jalan, maka yang terjadi adalah kemacetan, pemandangan yang tidak baik dan juga seringkali menyebabkan kerusakan

lingkungan dengan sampahnya yang sembarangan. Pedagang kaki lima juga seringkali mengganggu pejalan kaki karena menutupi jalan yang seharusnya dipakai oleh pejalan kaki (Winarso dan Gede Budi:2008).

Dalam peristiwa tersebut merupakan penyebab dari perencanaan tata kota yang belum berhasil untuk mengatasi kepadatan pedagang kaki lima hingga berjualan diatas trotoar yang menyebabkan hak bagi pejalan kaki diabaikan. Dalam hal tersebut pemerintah perlu membuat kebijakan untuk mengatasi masalah tersebut agar tidak terulang kembali dengan menyusun perencanaan dan kebijakan sosial yang efektif dalam mengatasi masalah yang terjadi di jalan sultan alauddin sehingga kenyamanan, kebersihan, dan keindahan tetap terjaga disekitar jalan sultan alauddin.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Dari hasil analisa dari pembahasan pada bab-bab sebelumnya yang dilakukan dalam penelitian, maka dapat diperoleh kesimpul sebagai berikut :

1. Kontruksi sosial jalan sultan alauddin mendorong terjadinya privatisasi ruang oleh pedagang kaki lima

Ruang publik adalah suatu tempat yang dapat menunjukkan perletakan sebuah objek. Tempat ini dapat diakses secara fisik maupun visual oleh masyarakat umum. Menurut Jan Gehl (dalam Hariyono:2007;136), ruang publik memiliki tiga fungsi, yaitu sebagai tempat bertemu, berdagang dan lalu lintas. Dengan demikian, ruang publik dapat berupa jalan, trotoar, taman kota, lapangan, dan lain-lain.

Dalam penelitian ini ruang publik yang dijadikan obyek penelitian adalah ruang publik berupa badan jalan, yang dijadikan tempat beraktivitas oleh pedagang kaki lima di sepanjang Jalan Sultan Alauddin Makassar.

Banyaknya pedagang di sepanjang bahu jalan sultan alauddin juga banyak dikeluhkan masyarakat. Masyarakat menginginkan tidak ada kemacetan dan kekumuhan. Pedagang kaki lima (PKL) yang pesat disamping dapat menggiatkan perekonomian tapi juga dapat menimbulkan banyak permasalahan.

2. Bentuk privatisasi ruang terhadap pengguna jalan sultan alauddin oleh pedagang kaki lima

Modal dan omset pedagang kaki lima pada umumnya kecil dan tidak semua modal adalah milik sendiri tapi ada yang berupa barang konsinyasi (barang titipan). Sebagian besar pedagang kaki lima berasal dari luar daerah, mayoritas pedagang kaki lima berasal dari pendidikan yang rendah.

3. Dampak privatisasi ruang terhadap pengguna jalan sultan alauddin oleh pedagang kaki lima

Beberapa PKL menggunakan bahu jalan sampai menyebabkan volume jalan menjadi sangat kurang. Hal ini menjadikan jalan sultan alauddin menjadi macet. Jalan tersebut yang sebenarnya bisa dilalui kendaraan roda empat dari dua arah dengan leluasa. Tetapi dengan kondisi banyaknya pedagang di bahu jalan kendaraan tidak bisa leluasa melewatinya, jangankan dua kendaraan satu kendaraan roda empat pun harus berjalan perlahan-lahan karena harus berbagi dengan pedagang kaki yang mengalah.

B. Saran

Dari kesimpulan di atas, peneliti memberikan saran sebagai berikut : 1. Kepada Pemerintah Daerah Kota Makassar, yaitu pembangunan dan

pemberian rest area atau tempat-tempat khusus bagi pedagang kaki lima untuk segera direalisasikan sehingga keberadaan pedagang kaki lima di

nyaman, dan Pedagang Kaki lima (PKL) tidak lagi mengganggu ketenteraman, ketertiban dan keamanan masyarakat.

2. Untuk pedagang kaki lima di Kota Makassar segera membuat surat izin usaha agar tidak lagi mendapatkan penertiban dan gusuran dari Satpol PP Kota Makassar sehingga keberadaannya dapat tertata dengan rapi

DAFTAR PUSTAKA

Marcel, 2009. Privatisasi Ruang Publik Di Masyarakat Perkotaan.

http://land8.com/profiles/blogs/privatisasi-ruang-publik

Purwanto, Edi. 2014.Jurnal Privatisasi Ruang Publik Dari Civic Centre Menjadi Central Business District (Belajar Dari Kasus Kawasan Simpang Lima Semarang) Privatization Of Public Space From Civic Centre To Central Business District (A Case Study Of Simpang Lima Area Semarang) Volume 16 Nomor 3, Agustus 2014, 153-167

Nawir, M. (2014) STRUKTUR RUANG KOTA DAN KOEKSISTENSI MODA PRODUKSI (STUDI PADA KAWASAN PASAR GROSIR DAYA KOTA MAKASSAR). JKIP,1(2), 115-129.

Gita, Aldora. 2012. Kebutuhan Primer MerupakanKebutuhanPokok Yang HarusDipenuhiSetiapIndividu.http://www.academia.edu/6092216/Kebutu han primer merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi setiap individu

Marlia, Husnul. 2014. Mari Berbagi Dunia, Laporan Hasil Penelitian :Pedagang/Penjual Pakaian Kios-Kios Kecil Di Kota Banda Aceh.

Http://Mariberbagidunia.Blogspot.Co.Id/2013/06/Laporan-Hasil- Penelitian.Html

Rouf, Muamar. 2012. Pengertian privatisasi. Http:// majasari31.blogspot.co.id /2012/06/pengertian-privatisasi. html diakses tanggal 17 juli 2016.

Rusyda, Fazaa. 2015. Makalah Swastanisasi BUMN.

https://www.academia.edu/13093817/swastanisasi_bumn diakses tanggal 17 juli 2016

Bastian, I. (2002) Privatisasi Di Indonesia Teori dan Implementasi, Salemba Empat, Jakarta.

Yudhi Dzulfadli Baihaqi. 2011. Apa Itu Ruang Publik.

https://hwikarta.wordpress.com/2011/06/08/apa-itu-ruang- publik/diaksestanggal 17 Juli 2016

Deasaskia Prihutami, 2008. Jurnal “RuangPublik Kota Yang Berhasil Successful Urban Public Paces” FT UI halaman 7.

Zulhadi, 2016. Ruang Publik (Public Space).https://syulhadi.wordpress.com/my-

Intan, Lestari. 2013. Adakah Lapak Untuk Pedangan Kaki lima.

http://intantarita.blogspot.co.id/2013/04/pedagang-kaki- lima.htmldiaksestanggal 17 Juli 2016

Atom, 2013. Pedagang Kaki Lima Dan Permasalahannya http://eprints.undip.ac.iddiaksestanggal 17 Juli 2016

Andre Vetronius. 2013. Manampuang Aspirasi Masyarakat :Dampak Positif Dan Negatife Keberadaan PKL Studi Kasus : PKL Di Kota Padang”

http://andrevetronius-hmjsejarah.blogspot.co.id/2013/10/dampak-positif- dan-negatif-keberadaan_23.html Diaksestanggal 17 Juli 2016

Kid, 2011.Pedagang Kaki Lima. http://kid161.blogspot.co.id/2011/07/pedagang- kaki-lima.html Diakses Tanggal 17 Juli 2016

Bimo Hariyo Utomo, 2014. Jurnal Peran Modal Sosial Terhadap Perkembagan Pedagang Kaki Lima Asal Daerah Padang Di Sandratex Rempoac Ciputat

Arismunandar, Satrio. 2008. Jurgen Habermas serta Pemikirannya tentang Ranah Publik (Public Sphere) http:// satrio aris munandar. multiply.com /journal/item/13/Jurgen-Habermas-serta-Pemikirannya-tentang-Ranah- Publik-Public-Sphere diakses tanggal 4 agustus 2016

Ritzer, Goerge. 2012. Cetakan ke-8 . Teori Sosiologi “Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern”. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Lefebvre, Henri. (1974). The Production of Space. UK: Blackwell.

Damsar, Sosiologi Ekonomi, Jakarta: Rajawali Pers, 1997.

Weber, Max. 2000. Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, diterjemahkan oleh Yusup Priyasudiarja. Surabaya: Pustaka Promethea.

Berger, L peter. 1990. Tafsir Sosial Atas Kenyataan/ Jakarta: Lembaga penelitian, pendidikan, dan penerangan ekonomi dan sosial hal 1

KUESIONER

PRIVATISASI RUANG PUBLIK (STUDI KASUS PENJUAL PAKAIAN) DIBAHU JALAN SULTAN ALAUDDIN KOTA MAKASSAR IDENTITAS RESPONDEN

1. Nama :

2. Umur :

3. Jenis Kelamin :

4. Pendidikan :

5. Asal :

6. Status Tempat Tinggal :

PEDOMAN WAWANCARA PERNYATAAN RESPONDEN (PENJUAL)

1. Bagaimana pandangan bapak/ibu mengenai kondisi jalan sultan alauddin kota Makassar?

2. Berapa lama bapak/ibu berdagang pakaian di jalan sultan alauddin Makassar?

3. Mengapa bapak/ibu memilih profesi ini?

4. Mengapa bapak/ibu memilih jalan sultan alauddin untuk berjualan pakaian?

5. Darimana modal yang bapak/ibu peroleh?

6. Apakah bentuk kepemilikan usaha bapak/ibu?

7. Jenis pakaian apa yang bapak/ibu jual?

PERNYATAAN RESPONDEN (PENGGUNA JALAN)

1. Bagaimana pandangan anda tehadap pedagang kaki lima yang ada di bahu jalan sultan alauddin Makassar?

2. Apa keuntungan yang dapat anda peroleh dengan adanya pedagang pakaian di bahu jalan sultan alauddin Makassar?

3. Apakah anda merasa dirugikan dengan adanya pedagang pakaian di bahu jalan tersebut? Jelaskan alasan anda!

RIWAYAT HIDUP

JUMARDI, lahir di Jambi, pada tanggal 22 Maret 1991.

Anak pertama dari dua bersaudara dan merupakan buah kasih sayang dari pasangan Asri dan Zainab Jalani. Penulis menempuh pendidikan Sekolah Dasar di SD 165 Asanae mulai tahun 2000 sampai tahun 2006. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 2 Marioriwawo dan tamat pada tahun 2008. Kemudian pada tahun 2009 penulis melanjutkan pendidikan di SMK Muhammadiyah Watansoppeng dan tamat tahun 2012.

Kemudian pada tahun 2012 penulis berhasil lulus pada jurusan pendidikan Sosiologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar Program Strata 1 (S1) kependidikan, dan menyelesaikan studi pada tahun 2017 dengan gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

TABEL MATRIKS

PEDAGANG PAKAIAN DIBAHU JALAN SULTAN ALAUDDIN KOTA MAKASSAR

N

o Informan Rumusan Masalah I Rumusan Masalah 2

Pertanyaan 1 Pertanyaan 2 Pertanyaan 3 Pertanyaan 4 Pertanyaan 1 Pertanyaan 2 Pertanyaan 3 Pertanyaan 4 1 Riska,

25

Ruang terbuka seperti bahu jalan memiliki daya tarik tersendiri bagi pembeli

Saya berjualan pakaian sekitar 6 bulan.

pakaian

merupakan salah satu dagangan yang banyak diminati orang

Saya memilih bertahan ditempat ini karena pembeli lebih senang bertransaksi di emperan

Dengan berjualan dibahu jalan itu tidak membutuhkan modal yang besar

Saya mulai bisnis berjualan baju dari barang titipan

Jenis dagangan yang saya jual adalah pakaian wanita dengan harga murah

Penghasilan yang dapat diperoleh yaitu Rp.150.000- Rp.500.000/ha ri

2 Ani, 22

Jalan Sultan Alauddin merupakan jalur yang sering dijumpai kemacetan.

Saya berjualan sekitar 1 tahun

Sekarang pakaian banyak yang harga murah

Banyak

mahasiswa yang lewat

Modal dari hasil pinjaman dari orang lain

Dagangan sendiri Jilbab Biasa dapat Rp.150.000- Rp.350/hari

3 Ridwan 27

Jalan alauddin adalah jalan yang ramai

Sekitar 8 bulan

Karena banyak peminat termasuk mahasiswa unismuh

Karena banyak pejalan kaki yang melintas

Modal sendiri Dagangan sendiri Baju dan celana Sekitar Rp.150.000- Rp.500.000 4 Mihra

26

Jalan alauddin cukup padat

Sekitar 1 tahun

Karena banyak yang minat

Karena alauddin jalan yang begitu ramai dikunjungi mahasiswa

Modal pinjaman

Daggangan titipan orang lain

Baju Sekitar

Rp.100.000- Rp.400.000 5 Ika

24

Alauddin sering macet

Sekitar 6 bulan

Kebanyakan peminat adalah perempuan

Karena alauddin banyak pejalan kaki

Modal pinjaman

Dagangan titipan orang

Baju Rp.100.000-

Rp.450.000

TABEL MATRIKS

BAGI PENGGUNA JALAN SULTAN ALAUDDIN KOTA MAKASSAR

No Informan Rumusan Masalah 3

Pertanyaan 1 Pertanyaan 2 Pertanyaan 3

1. Mohammad, 27 Tahun

pedagang kaki lima

mengakibatkan lingkungan menjadi kotor

memudahkan saya untuk berbelanja tanpa harus jauh-jauh ke sentral

Mengakibatkan kemacetan

2. Tika

23 Tahun

Membuat lingkungan kotor, dan berbau

karena harganya sama murah yang ada di sentral

Karena macet biasa saya terlambat kekampus

3. Aliyah

25 Tahun

Menimbulkan sampah yang berserakan

Tidak membutuhkan uang yang banyak cukup Rp.18.000 saya sudah dapat baju/lembar

Karena adanya pedagang kaki lima membuat kemacetan

Daftar Nama Kecamatan dan Kelurahan Kota Makassar

No Nama Kecamatan Nama Kelurahan

1. Kecamatan Mariso

Kampung Buyang Tamarunang Bontorannu Mattoanging Mariso Lette

Panambungan Kunjungmae Mario

2. Tamalate

Bongaya Balang Baru Barombong Jongaya Mangasa Mannuruki Maccini Sombala Tanjung Merdeka Pa'baeng-Baeng Parang Tambung

3. Bontoala

Bontoala Bontoala Tua Bontoala Parang Baraya

Bunga Ejaya Gaddong Layang

Malimongan Baru Parang Layang Timungan Lompoa Tompo Balang Wajo Baru

4. Rappocini

Buakana

Banta-Bantaeng Balla Parang Bonto Makkio Gunung Sari

Kassi-Kassi Mappala Rappocini Tidung

5. Makassar

Bara-Baraya Barana

Bara-Baraya Utara Bara-Baraya Selatan Bara-Baraya Timur Lariangbangi Maccini

Maccini Gusung Maccini Parang Maricaya Maricaya Baru Maradekaya Maradekaya Utara Maradekaya Selatan

6. Ujung Tanah

Barrang Caddi Barrang Lompo Cambaya Camba Berua Gusung Kodingareng Tabaringan Tamalabba Totaka Ujung Tanah Pattingalloang Pattingalloang Baru

7. Tallo

Buloa

Bunga Ejaya Beru Kaluku Bodoa Kalukuang Lembo Lakkang La'latang Pannampu Rappojawa

Tallo Tammua

Ujung Pandang Baru Wala-Walaya

8. Ujung Pandang

Baru Bulogading Lajangiru Lae-Lae Losari Mangkura Maloku Pisang Utara Pisang Selatan Sawerigading

9. Mamajang

Bonto Biraeng Baji Mappakasunggu Bonto Lebang

Karang Anyar Labuang Baji Mamajang Dalam Mamajang Luar Maricaya Selatan Mandala

Parang Pa'batang Sambung Jawa Tamparang Keke

10. Tamalanrea

Bira Kapasa Parang Loe Tamalanrea Tamalanrea Indah Tamalanrea Jaya

11. Panakkukang

Karampuang Karuwisi Karuwisi Utara Masale

Pampang Panaikang Pandang

Paropo Sinrijala Tamamaung Tello Baru

12. Manggala

Antang Batua Borong Bangkala Manggala Tamangapa

13. Wajo

Butung Ende

Malimongan Malimongan Tua Mampu

Melayu Melayu Baru Pattunuang

14. Biringkanaya

Bulurokeng Daya Pai

Paccerakkang Sudiang Sudiang Raya Untia

Dokumen terkait