• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Analisis Kuantitatif

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar membaca pemahaman pada pelajaranbahasa Indonesia melalui penerapan model pembelajaran cooperative type script untuk memperoleh data mengenai apakah hasil belajar membaca pemahaman pada pelajaranbahasa Indonesia dapat meningkat, maka diambil sampel murid kelas V SDN 82 Pattene Kecamatan Marusu Kabupaten Maros.

Sebelum mengadakan tindakan kelas dalam rangka penerapan model pembelajaran cooperative type script, terlebih dahulu disiapkan rencana pembelajaran yang disusun sesuai dengan materi yang dipelajari oleh murid pada saat itu serta sesuai dengan kurikulum, lembar observasi, tes untuk siklus I dan siklus II serta lembar kerja murid.Maka hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut :

a. Deskriptif Hasil Tes Siklus I

Deskriptif secara kuantitatif hasil belajar murid berdasarkan hasil tes pada siklus I dapat dilihat dalam tabel di bawah ini :

Tabel 4.1. Distribusi Nilai Statistik

Statistik Nilai Statistik

Subjek Skor ideal Skor terendah Skor tertinggi Skor rata-rata KKM

32 100

48 92 66,43

65 Sumber : Diambil berdasarkan pada lampiran

29

30

0

34,37

18,75

28,12

18,75

0 5 10 15 20 25 30 35 40

sangat rendah rendah sedang tinggi sangat tinggi

persentase

Apabila skor hasil belajar dikelompokkan ke dalam lima kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase skor pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.2 Distribusi frekuensi dan persentase kategori hasil belajar murid siklus I.

No Skor Kategori Frekuensi Persentase

1.

2.

3.

4.

5.

0 – 45 46 – 59 60– 64 65 – 84 85 – 100

Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi

0 11

6 9 6

0,00 34,37 18,75 28,12 82,75

Jumlah 32 100

Sumber : Diambil berdasarkan pada lampiran

Gambar 4.1.Grafik distribusi frekuensi dan persentase kategori hasil belajar murid siklus I.

Berdasarkan tabel di atas maka dapat ditemukan bahwa hasil belajar murid telah dilakukan penerapan model cooperative type script pada siklus I berada dalam kategori rendah dengan skor rata-rata 66,43 dan KKM 65 dengan skor ideal 100.

Apabila hasil belajar murid pada siklus I dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar dapat dilihat pada tabel berikut:

31

17 15

53,12%

46,88%

0 10 20 30 40 50 60

tidak tuntas tuntas

frekuensi persentase

Tabel 4.3. Deskripsi Ketuntasan Belajar Murid pada Siklus 1

Skor Kategori Frekuensi Persentase

0 - 64 65 - 100

Tidak tuntas Tuntas

17 15

53,12 46,88

Jumlah 32 100

Sumber : Diambil berdasarkan pada lampiran

Gambar 4.2. Grafik Deskripsi Ketuntasan Belajar Murid pada Siklus 1 Tabel di atas menunjukkan bahwa pada siklus I, murid yang tuntas belajar hanya 15 murid dan yang tidak tuntas sebanyak 17 murid dari 32 murid, artinya masih banyak murid yang memerlukan perbaikan, dalam hal ini akan diusahakan pada pembelajaran siklus II.

b. Deskripsi Hasil Tes Siklus II

Deskriptif secara kuantitatif hasil belajar murid berdasarkan hasil tes pada siklus II dapat dilihat dalam tabel di bawah ini :

32

0 0

12,5

40,62

59,37

0 10 20 30 40 50 60 70

sangat rendahrendah sedang tinggi sangat tingggi

persentase

Tabel 4.4. Distribusi Nilai Statistik Siklus II

Statistik Nilai Statistik

Subjek Skor ideal Skor terendah Skor tertinggi Skor rata-rata KKM

32 100

61 100 78,34

65 Sumber : Diambil berdasarkan pada lampiran

Apabila skor hasil belajar dikelompokkan ke dalam lima kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase skor pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.5.Distribusi Frekuensi dan Persentase Kategori Hasil Belajar Murid Siklus II.

Sumber : Hasil penelitian 2015

Gambar 4.3.Grafik Distribusi Frekuensi dan Persentase Kategori Hasil Belajar Murid Siklus II.

No Skor Kategori Frekuensi Persentase

1.

2.

3.

4.

5.

0 – 45 46 - 59 60 - 64 65 - 84 85 – 100

Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi

0 0 4 13 19

0,00 0,00 12,50 40,62 59,37

Jumlah 32 100

33

4

28 12,5%

87,5%

0 20 40 60 80 100

tidak tuntas tuntas

frekuensi persentase

Berdasarkan tabel di atas maka dapat ditemukan bahwa hasil belajar murid telah dilakukan penerapan model cooperative type script pada siklus II berada dalam kategori tinggi dengan skor rata-rata 78,34dan KKM 65 dengan skor ideal 100.

Apabila hasil belajar murid pada siklus II dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.6. Deskripsi Ketuntasan Belajar Murid pada Siklus II

Skor Kategori Frekuensi Persentase 0 - 64

65 – 100

Tidak tuntas Tuntas

4 28

12,50 87,50

Jumlah 32 100

Sumber : Diambil berdasarkan pada lampiran

Gambar 4.4. Grafik Deskripsi Ketuntasan Belajar Murid pada Siklus II Tabel di atas menunjukkan bahwa pada siklus II, murid yang tuntas belajar semakin meningkat yaitu sebanyak 28 murid sedangkan yang tidak tuntas tinggal 4 dari 32 murid.

Untuk melihat hasil belajar murid dalam setiap siklus tercatat pada tabel berikut:

34

53,12

12,5 46,88

87,5 66,43

78,34

0 20 40 60 80 100

siklus I siklus II

tidak tuntas tuntas rata-rata

Tabel 4.7. Peningkatan Hasil Belajar Murid Pada Setiap Siklus

Siklus

Skor Perolehan Murid Tuntas Tidak Tuntas Rendah Tinggi Rata-rata Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase Siklus 1

Siklus 2

48 61

92 100

66,43 78,34

15 28

46,88 87,50

17 4

53,12 12,50 Sumber : Diambil berdasarkan pada lampiran

Gambar 4.5. Grafik Peningkatan Hasil Belajar Murid Pada Setiap Siklus

Berdasarkan tabel di atas dapat dikemukakan bahwa terjadi peningkatan skor rata-rata hasil belajar membaca pemahaman murid setelah diterapkan model pembelajaran cooperative type script.Dari kategori rendah pada siklus I dengan skor rata-rata66,43 dan KKM 65 dengan skor ideal 100. Pada siklus II dalam tabel juga menunjukkan bahwa pada siklus ini ketuntasan dalam kegiatan belajar mengajar tercapai. Hal ini ditandai dengan jumlah murid yang mencapai ketuntasan belajar yang meningkat, yaitu dari 15 murid pada siklus I meningkat menjadi 28 murid pada siklus II.

Ketuntasan tersebut pada siklus ke II lebih banyak dari siklus I memberikan indikasi bahwa hasil belajar membaca pemahaman murid mengalami peningkatan setelah penerapan model pembelajaran cooperative type script.

35

Untuk mengetahui tingkat keberhasilan secara individu dapat dilihat pada lampiran.

2. Analisis Kualitatif a. Aktivitas Murid

Di samping terjadinya peningkatan hasil belajar membaca pemahaman, selama penelitian pada siklus I dan siklus II tercatat sejumlah perubahan yang terjadi pada sikap murid terhadap pembelajaran membaca pemahaman, perubahan tersebut merupakan data kualitatif yang diperoleh dari lembar observasi, pada setiap pertemuan siklus I dan siklus II dan catatan guru harus mengetahui perubahan sikap selama proses belajar mengajar di kelas.

Perubahahan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Murid memperhatikan dan termotivasi pada saat awal pembelajaran baik itu pada siklus I maupun siklus II, meskipun ada satu atau dua orang yang tidak memperhatikan.

2. Murid mampu menggabungkan kata menjadi kalimat sederhana dengan baik.

3. Murid mampu memperhatikan tanda baca dengan benar.

4. Kemampuan murid memahami isi bacaan semakin meningkat.

5. Kemampuan murid mengenali ide pokok semakin meningkat.

6. Kemampuan murid menyimpulkan isi bacaan semakin meningkat.

7. Sikap dan aktifitas murid dalam proses pembelajaran semakin baik.

36

a. Data Aktivitas Murid Siklus I

Tabel 4.8. Distribusi Frekuensi Aktivitas Murid pada Siklus I

Sumber : Hasil penelitian 2015

Berdasarkan Tabel 4.8. di atas diperoleh bahwa dari 32 murid kelas V SDN 82 Pattene Kecamatan Marusu Kabupaten Maros, Murid yang memperhatikan dan termotivasi pada saat awal pembelajaran 60,9%, Murid yang mampu menggabungkan kata menjadi kalimat sederhana 82,8%.Murid yang mampu memperhatikan tanda baca 46,8%.Murid yang mampu memahami isi

No Kegiatan Murid

Frekuensi Persentase ( % )

1 2 3

1. Murid yang memperhatikan dan

termotivasi pada saat awal pembelajaran

17 22

T E S

60,9

2. Murid yang mampu menggabungkan kata menjadi kalimat sederhana.

25 28 82,8

3. Murid yang mampu memperhatikan tanda baca.

12 82 46,8

4. Murid yang mampu memahami isi bacaan.

15 20 54,6

5. Murid yang mampu mengenali ide pokok.

12 19 48,4

6. Murid yang mampu menyimpulkan isi bacaan.

20 23 67,1

7. Murid yang sikap dan aktifitasnya dalam proses belajar mengajar bagus.

15 82 51,5

37

bacaan 54,6%.Murid yang mampu mengenali ide pokok 48,4%.Murid yang mampu menyimpulkan isi bacaan 67,1%.Murid yang sikap dan aktifitasnya dalam proses belajar mengajar bagus 51,5%.

b. Data Aktivitas Murid Siklus II

Tabel 4.9. Distribusi Frekuensi Aktivitas Murid pada Siklus II

Sumber : Diambil berdasarkan pada lampiran

No Kegiatan Murid

Frekuensi Persentase ( % ) 1 2 3

1. Murid yang memperhatikan dan

termotivasi pada saat awal pembelajaran

30 30

T E S

93,7

2. Murid yang mampu menggabungkan kata menjadi kalimat sederhana.

32 32 100

3. Murid yang mampu memperhatikan tanda baca.

26 28 84,3

4. Murid yang mampu memahami isi bacaan.

26 30 87,5

5. Murid yang mampu mengenali ide pokok.

25 30 85,9

6. Murid yang mampu menyimpulkan isi bacaan.

27 29 87,5

7. Murid yang sikap dan aktifitasnya dalam proses belajar mengajar bagus.

28 30 90,6

38

Berdasarkan Tabel 4.9 di atas diperoleh bahwa dari 32 murid kelas V SDN 82 Pattene Kecamatan Marusu Kabupaten Maros, Murid yang memperhatikan dan termotivasi pada saat awal pembelajaran 93,7%, Murid yang mampu menggabungkan kata menjadi kalimat sederhana 100%.Murid yang mampu memperhatikan tanda baca 84,3%.Murid yang mampu memahami isi bacaan 87,5%.Murid yang mampu mengenali ide pokok 85,9%. Murid yang mampu menyimpulkan isi bacaan 87,5%.Murid yang sikap dan aktifitasnya dalam proses belajar mengajar bagus 90,6%

a. Refleksi Terhadap Pelaksanaan Tindakan dalam Proses pembelajaran 1. Refleksi Siklus I

Pada awal pelaksanaan siklus I, murid masih menunjukkan kurang antusias dalam mengikuti pelajaran terutama dalam merespon materi yang disajikan.

Apabila diajukan pertanyaan ada kecenderungan murid untuk menjawab pertanyaan secara serempak, dan pada saat pembahasan contoh latihan, murid yang aktif dan menanggapi pertanyaan hanya terbatas pada murid yang pintar saja, tapi pada saat pembahasan latihan kelompok yang akan dikerjakan, sebagian besar murid mulai aktif untuk mengikuti pelajaran, hal ini menunjukkan perubahan sikap murid kearah positif.

Perubahan ini terjadi ketika guru mulai bertindak terhadap murid yang melakukan kegiatan lain pada saat proses pembelajaran berlangsung dengan cara menegur atau memberikan soal untuk dikerjakan di papan tulis.

Adapun kendala yang dihadapi dalam proses belajar mengajar pada siklus I yaitu masih banyaknya murid yang hasil belajarnya rendah, banyaknya murid yang enggan dan malu bertanya langsung pada guru jika ada materi yang belum

39

dimengerti dan motivasi serta minat belajar murid yang masih kurang. Oleh karena itu perlu upaya selanjutnya untuk memperbaikinya.

Hasil refleksi tersebut menjadi dasar acuan dilanjutkannya pelaksanaan tindakan ke siklus II dengan mengupayakan perbaikan melalui penerapan model pembelajaran cooperative type script. Adapun upaya yang dilakukan, yaitu mengatur kelompok dengan menggabungkan murid yang kurang, sedang, dan pintar secara merata. Kemudian murid-murid tersebut kembali diberikan tindakan yaitu memberikan kesempatan mengerjakan soal di papan tulis, memberikan bimbingan khusus di kelas, membagi tugas dalam kelompok belajar agar semua murid dalam kelompok dapat aktif, memberikan tugas yang lebih banyak, serta membahas soal-soal latihan.

2. Refleksi Siklus II

Pada siklus II terlihat peningkatan dalam proses belajar mengajar. Hal ini dapat dilihat dari motivasi murid pada awal pembelajaran yang hampir mencapai 100% dan kemampuan murid memperhatikan tanda baca semakin baik serta kemampuan memahami isi bacaan dan mengenali ide pokok semakin meningkat.

Keberanian murid untuk menyimpulkan isi bacaan dan mengajukan pertanyaan terhadap hal-hal yang kurang dimengerti sudah merata bukan hanya pada golongan murid yang mempunyai hasil belajar yang baik, tetapi juga murid yang selama ini diam, memperlihatkan sikap dan aktifitas murid dalam proses pembelajaran baik, bahkan maju mengerjakan soal-soal di papan tulis. Begitu pula murid yang diberikan tindakan, nampak antusias dalam mengerjakan soal kelompok dan di papan tulis, serta tugas dan PR yang diberikan mereka kerjakan dengan baik.

40

Kemampuan murid dalam menerima materi pelajaran semakin meningkat.Hal ini dapat dilihat dari semakin berkurangnya murid atau kelompok murid yang meminta penjelasan ulang suatu konsep yang sudah diberikan.Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kualitas belajar mengajar pada siklus II ini semakin baik.

B. Pembahasan

1. Hasil Belajar Murid

Hasil belajar membaca pemahaman murid kelas V SDN 82 Pattenesebelum melakukan penelitian yaitu kategori kurang di bawah Kriteria Ketuntasan Mengajar.Pada tindakan siklus I tingkat hasil belajar murid meningkat dan berada pada kategori sedang. Diperoleh data ada 6 murid yang mendapatkan nilai “sangat tinggi” (82,75%), ada 9 murid yang mendapatkan nilai “tinggi”

(28,12%), ada 6 murid yang mendapatkan nilai “sedang” (82,75%), dan 11 murid yang mendapatkan nilai “rendah” (34,37%).

Setelah tindakan siklus I selesai, hasil belajar murid belum mencapai target yang diinginkan, maka akan dilanjutkan dengan tindakan siklus II. Pada tindakan siklus II diperoleh data, ada 19 murid yang mendapatkan nilai “sangat tinggi” (59,37%), ada 13 murid yang mendapatkan nilai “tinggi” (40,62%), ada 4 murid yang mendapatkan nilai “sedang” (12,50%), sedangkan tidak ada murid yang mendapatkan nilai rendah dan sangat rendah.

Dari hasil analisis deskriptif di atas menunjukkan bahwa setelah pemberian tindakan selama dua siklus rata-rata yang dicapai pada siklus I yaitu 66,43% yang bila dikategorisasikan berada pada kategori sedang, dan pada siklus II yaitu 78,34% yang bila dikategorisasikan berada pada kategori tinggi. Hal ini

41

berarti terjadi peningkatan kemampuan membaca pemahaman murid dengan peningkatan rata-rata hasil belajar murid yaitu 66,43%siklus I meningkat 78,34%

siklus II setelah menerapkan model pembelajaran cooperative type script.

Keberhasilan tindakan tersebut dikarenakan guru dapat melaksanakan rancangan pembelajaran dengan baik sesuai dengan model pembelajaran yang digunakan yaitu model pembelajaran cooperative type script dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman murid. Tujuan pembelajaran yang telah diterapkan telah tercapai dengan baik, murid juga sudah mampu mengenal ide pokok dalam naskah kemudian meringkasnya dengan menggunakan tanda baca serta ejaan yang baik dan benar.

42

BAB V PENUTUP A. Simpulan

Dari hasil belajar murid menunjukkan bahwa setelah pemberian tindakan selama dua siklus rata-rata yang dicapai pada siklus I yaitu 66,43% yang bila dikategorisasikan berada pada kategori sedang, dan pada siklus II yaitu 78,34%

yang bila dikategorisasikan berada pada kategori tinggi. Hal ini berarti terjadi peningkatan kemampuan membaca pemahaman murid dengan peningkatan rata- rata hasil belajar murid yaitu 66,34% siklus I meningkat 78,34% siklus II setelah menerapkan model pembelajaran cooperative tipe script. Sehingga Penerapan model pembelajaran cooperative type script dapat meningkatkan hasil belajar membaca pemahaman murid dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia dan mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 65,00. Peningkatan aktivitas belajar murid pada kemampuan membaca pemahaman dalam mata pelajaran bahasa Indonesia dapat memberikan perubahan terhadap sikap murid dalam proses belajar mengajar yang ditandai dengan adanya peningkatan frekuensi motivasi murid, keaktifan murid dalam setiap kelompok pada saat proses belajar semakin meningkat, semakin banyaknya murid yang memperhatiakan penjelasan guru. Karena terjadi peningkatan kualitas hasil dan kualitas proses maka penerapan model pembelajaran cooperativetypescript pada murid kelas V SDN 82 Pattene sangat efektif.

B. Saran

Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, maka beberapa hal yang disarankan adalah sebagai berikut :

42

43

1. Kepada para pengajar khususnya guru bidang studi bahasa Indonesia utamanya kemampuan membaca pemahaman agar dapat menerapkan model pembelajaran cooperative type script untuk meningkatkan kualitas pembelajaran baik kualitas hasil maupun kualitas proses.

2. Murid yang hasil belajarnya tergolong rendah hendaknya diberikan perlakuan tindakan khusus berupa bimbingan, memberikan kesempatan mengerjakan soal-soal di papan tulis dan memberikan pekerjaan rumah yang lebih banyak sehingga murid tersebut mampu menyelesaikan soal dengan baik.

3. Hendaknya guru membahas soal-soal latihan dan tugas yang diberikan kepada murid terutama soal-soal yang dianggap sulit sehingga murid mengetahui kesalahannya dan dapat mengukur kemampuannya dalam penguasaan materi pelajaran yang telah dipelajari.

Dokumen terkait