PENDAHULUAN
Latar Belakang
Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik lisan maupun tulisan. Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kompetensi minimal bagi peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa dan sikap positif terhadap bahasa Indonesia. Standar kompetensi bahasa dan sastra Indonesia yang merupakan kualifikasi keterampilan minimal peserta didik dengan menggunakan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia.
Permasalah Penelitian
Peneliti menetapkan bahwa model kooperatif skrip dianggap paling tepat untuk mengatasi rendahnya kemampuan pemahaman membaca siswa, karena model kooperatif skrip dapat meningkatkan keterampilan kooperatif dalam memecahkan masalah (proses kelompok), mengembangkan secara penuh pengetahuan, kemampuan dan keterampilan dalam suatu lingkungan belajar yang terbuka dan demokratis. Berdasarkan uraian di atas, peneliti mendapat inspirasi untuk belajar melalui penelitian tindakan kelas dengan judul “Upaya meningkatkan pemahaman membaca melalui penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe script pada siswa kelas VSDN 82 Pattene Kecamatan Marusu Kabupaten Maros.” Berdasarkan identifikasi masalah di atas maka dapat dirumuskan masalah: Bagaimana cara meningkatkan hasil belajar membaca pemahaman melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe script pada siswa kelas V SDN 82 Pattene Kecamatan Marusu Kabupaten Maros.
Model pemecahan masalah yang akan digunakan dalam penelitian adalah model pembelajaran kooperatif tipe script. Model pembelajaran kooperatif tipe script merupakan pilihan yang tepat bagi guru sekolah dasar untuk merangsang minat dan semangat siswa dalam belajar bahasa Indonesia.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Selain itu diharapkan dapat menjadi bahan referensi bagi peneliti untuk melakukan penelitian terkait penerapan model pembelajaran kolaboratif tipe script yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan siswa. Bagi siswa: Proses belajar mengajar bahasa Indonesia di kelas V SDN 82 Pattene menjadi menarik dan menyenangkan, serta hasil belajar bahasa Indonesia meningkat. Bagi peneliti : Sebagai bahan referensi untuk penelitian selanjutnya yang mengkaji permasalahan yang relevan dengan penelitian ini.
KAJIAN PUSTAKA
Kajian Pustaka
Membaca merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa Dalam kegiatan membaca, kegiatan tersebut lebih menitikberatkan pada keterampilan membaca dibandingkan dengan teori-teori membaca sendiri Hidayat (dalam Rahim 2007: 11) mengartikan bahwa membaca adalah melihat dan memahami tulisan, baik secara lisan maupun hanya dalam hati. . Setiawan (dalam Rahim 2007:10) kemampuan membaca yang baik merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam pendidikan. Membaca sudah menjadi aktivitas siswa yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan akademik di kelas. Jenis membaca yang dilakukan siswa di kelas adalah membaca pemahaman. . . Bahkan ada sebagian penulis yang berpendapat bahwa membaca adalah kesediaan untuk melihat simbol-simbol tertulis dan mengubahnya menjadi bacaan lisan melalui metode pengajaran membaca seperti phonics (ucapan, ejaan berdasarkan interpretasi fonetik dari ejaan biasa).
Mengenai manfaat membaca, menurut Burns (dalam Rahim 2007:1), kemampuan membaca merupakan sesuatu yang vital dalam masyarakat terpelajar. Dia menyarankan bahwa strategi pengenalan kata sangat penting sebagai bagian dari aspek asosiasi dalam proses membaca. Kemampuan membaca siswa sekolah dasar tidak diperoleh secara alami, melainkan melalui proses pembelajaran, Farida (2007:3) mengatakan bahwa membaca bersifat interaktif, yaitu keterlibatan pembaca dalam teks.
Dikutip dari Kiranawati (2007) Kerjasama adalah melakukan sesuatu secara bersama-sama dengan cara saling membantu dalam suatu kelompok atau tim. Aksara kooperatif berasal dari kata kooperatif yang berarti kita melakukan sesuatu secara bersama-sama dengan cara saling membantu dalam suatu kelompok atau tim. Pembelajaran kolaboratif tipe skrip merupakan model yang menitikberatkan pada kegiatan kolaboratif antar siswa dalam bentuk kelompok yang dibagikan dalam bentuk naskah atau cerita.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kolaboratif tipe script adalah model pembelajaran dimana siswa bekerja berpasangan/berkolaborasi kemudian secara bergiliran merangkum secara lisan bagian-bagian materi yang dipelajari. Model skrip tipe kooperatif dapat melatih keterampilan siswa, baik keterampilan mental maupun sosial, seperti keterampilan mengemukakan pendapat, menerima saran dan masukan dari orang lain. Dalam skenario tipe kooperatif, siswa belajar bersama dalam kelompok kecil yang saling membantu.
Kerangka Pikir
Hal ini berguna untuk mengajarkan siswa menerima perbedaan dan bekerja sama dengan teman yang berbeda latar belakang. D. Pemahaman membaca meningkat apabila pembelajaran membaca dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe script. Melalui model pembelajaran kooperatif script, siswa akan menjadi lebih percaya diri dan lebih memahami informasi dirinya, menghubungkan topik yang dipelajarinya dengan topik yang akan dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari, serta dapat berkomunikasi secara aktif antara siswa dengan guru atau guru dan siswa atau siswa dan siswa.
Hipotesis
METODE PENELITIAN
- Jenis Penelitian
- Lokasi dan Subjek penelitian
- Fokus Penelitian
- Instrumen Penelitian
- Prosedur Penelitian
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
- Indikator Keberhasilan
Pada tahap refleksi ini, peneliti meninjau kembali hal-hal yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya serta hasil yang diperoleh siswa dengan membandingkan proses dan hasil belajar siswa pada Siklus I dengan Siklus II. Hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi siklus I dan siklus II dianalisis untuk menarik kesimpulan. Hasil belajar deskriptif kuantitatif siswa berdasarkan hasil tes pada siklus I dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang menerapkan model kooperatif tipe script pada siklus I berada pada kategori rendah dengan rata-rata 66,43 dan KKM 65 dengan nilai ideal 100. Deskriptor Siswa Kuantitatif Hasil belajar berdasarkan hasil tes siklus II dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang telah menerapkan model kolaboratif tipe script pada siklus II berada pada kategori tinggi dengan rata-rata 78,34 dan KKM 65 dengan nilai ideal 100.
Jika hasil belajar siswa pada siklus II dianalisis maka persentase ketuntasan belajar dapat dilihat pada tabel berikut. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar yaitu dari 15 siswa pada siklus I meningkat menjadi 28 siswa pada siklus II. Ketuntasan pada siklus II yang lebih besar dibandingkan siklus I memberikan indikasi bahwa hasil belajar pemahaman membaca siswa mengalami peningkatan setelah penerapan model pembelajaran kooperatif scripted.
87,5% siswa yang mampu merangkum isi bacaan, dan 90,6% siswa yang sikap dan aktivitasnya dalam proses belajar mengajar baik.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Berdasarkan tabel 4.9 di atas diketahui bahwa dari 32 siswa Kelas V SDN 82 Pattene Kecamatan Marusu Kabupaten Maros, 93,7% siswanya penuh perhatian dan termotivasi pada awal pembelajaran, dan 100% siswanya penuh perhatian dan termotivasi pada awal pembelajaran, dan 100% siswanya memperhatikan dan termotivasi pada awal pembelajaran. mampu menyusun kata menjadi kalimat sederhana siswa yang dapat memperhatikan tanda baca 84,3% siswa yang dapat memahami isi teks 87,5% siswa yang dapat mengenali gagasan utama 85,9% Ketika ada pertanyaan, siswa cenderung menjawab pertanyaan tersebut secara serentak dan pada saat mendiskusikan contoh latihan, siswa aktif dan menjawab pertanyaan hanya sebatas pada siswa yang cerdas, namun pada saat mendiskusikan latihan kelompok. Ketika sebagian besar siswa mulai berpartisipasi aktif di kelas, hal ini menunjukkan adanya perubahan sikap siswa ke arah yang positif. Perubahan ini terjadi ketika guru mulai bersikap terhadap siswa yang melakukan aktivitas lain selama proses pembelajaran, dengan menegur atau mengajukan pertanyaan untuk dikerjakan di papan tulis.
Kendala yang ditemui dalam proses belajar mengajar pada siklus I adalah masih banyak siswa yang hasil belajarnya rendah, banyak siswa yang enggan dan malu untuk bertanya langsung kepada guru jika tidak mempunyai materi. Upaya dilakukan untuk mengorganisir kelompok dengan menggabungkan siswa miskin, sedang dan cerdas secara merata. Keberanian siswa merangkum isi bacaan dan bertanya tentang hal-hal yang belum dipahaminya terdistribusi secara merata tidak hanya pada siswa yang mempunyai hasil belajar baik, namun juga pada siswa yang selama ini diam, menunjukkan sikap dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. bagus, bahkan mahir, ajukan pertanyaan di papan tulis.
Begitu pula siswa yang diberi tindakan tampak antusias mengerjakan soal kelompok dan di papan tulis, serta mengerjakan tugas dan pekerjaan rumah yang diberikan dengan baik. Kemampuan siswa dalam menerima materi pembelajaran meningkat. Hal ini terlihat dari semakin berkurangnya jumlah siswa atau kelompok siswa yang meminta penjelasan ulang terhadap suatu konsep yang diberikan. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa kualitas pembelajaran pada siklus II semakin baik. Data yang diperoleh yaitu terdapat 6 siswa yang memperoleh nilai “sangat tinggi”, terdapat 9 siswa yang memperoleh nilai “tinggi”.
Pada tindakan siklus II dilakukan pengumpulan data, terdapat 19 siswa yang memperoleh nilai “sangat tinggi”, terdapat 13 siswa yang memperoleh nilai “tinggi”, terdapat 4 siswa yang memperoleh nilai “sedang”, sedangkan tidak ada siswa yang memperoleh nilai “sedang”. mendapat skor rendah dan sangat rendah. Peningkatan aktivitas belajar siswa pada keterampilan membaca pemahaman pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dapat membawa perubahan sikap siswa dalam proses belajar mengajar, yang ditandai dengan peningkatan frekuensi motivasi siswa, aktivitas siswa pada setiap kelompok selama proses pembelajaran. meningkat, siswa semakin memperhatikan penjelasan Guru. Siswa yang hasil belajarnya tergolong rendah hendaknya diberikan perlakuan khusus berupa bimbingan belajar yang memungkinkan mereka mengerjakan soal-soal di papan tulis dan memberikan pekerjaan rumah yang lebih banyak agar siswa tersebut mampu menyelesaikan soal dengan baik.
Pembahahasan
PENUTUP
Simpulan
Dari hasil belajar siswa menunjukkan bahwa setelah dilakukan tindakan selama dua siklus rata-rata yang dicapai pada siklus I sebesar 66,43% yang jika dikategorikan dalam kategori sedang, dan pada siklus II sebesar 78,34%. Artinya terdapat peningkatan keterampilan membaca pemahaman siswa dengan peningkatan rata-rata hasil belajar siswa yaitu sebesar 66,34% pada siklus I, meningkat sebesar 78,34% pada siklus II setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe script. Sehingga penerapan model pembelajaran kooperatif tipe script dapat meningkatkan hasil belajar membaca pemahaman siswa pada mata pelajaran bahasa Indonesia dan mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (MCC) yang ditetapkan sekolah yaitu 65,00.
Karena adanya peningkatan kualitas hasil dan kualitas proses, maka penerapan model pembelajaran kooperatif TypeScript pada siswa kelas V SDN 82 Pattene sangat efektif.
Saran
Bagi para guru khususnya guru bidang studi bahasa Indonesia khususnya keterampilan membaca pemahaman agar dapat menerapkan model pembelajaran tipe kooperatif tipe menulis untuk meningkatkan mutu pembelajaran baik kualitas hasil maupun kualitas proses. Guru hendaknya mendiskusikan soal-soal latihan dan tugas-tugas yang diberikan kepada siswa, terutama soal-soal yang dianggap sulit agar siswa mengetahui kesalahannya dan mengukur kemampuannya dalam menguasai mata pelajaran yang dipelajarinya.