BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
4.1 Hasil Penelitian
Hasil penelitian yang akan disajikan meliputi karakteristik subjek penelitian, persentase mean error (ME) masing-masing rumus berdasarkan kategori panjang aksial bola mata, perbandingan ketepatan prediksi hasil refraksi pasca operasi katarak menggunakan rumus Barrett Universal II dan rumus SRK/T pada pasien miopia gravior, dan hubungan antara ME kedua rumus dengan axial length (AL).
Tabel 4.1 menjelaskan perbandingan antara pemeriksaan karakteristik sampel pada kelompok AL 26-28 mm dan AL >28 mm. Pada kelompok AL 26-28 mm , variabel usia memiliki median sebesar 60.50 yang terdiri dari pasien laki-laki sebanyak 9 orang (47.4%) dan perempuan sebanyak 10 orang (52.6%). Pada
36
kelompok AL >28 mm, variabel usia memiliki median sebesar 52.0 yang terdiri dari pasien laki-laki sebanyak 14 orang (66.7%) dan perempuan sebanyak 7 orang (33.3%). Pada penelitian ini seluruh pasien berasal dari ras Melayu muda sebanyak 41 orang (100%).
Analisis data Numerik diuji dengan menggunakan uji Mann Whitney pada data tidak berdistribusi normal yaitu usia. Tidak terdapat perbedaan rerata yang signifikan secara statistik antara variabel usia pada kelompok AL 26-28 mm dan AL 26-28 mm.
Analisis data kategorik diuji dengan menggunakan uji Chi Square yaitu jenis kelamin. Tidak terdapat perbedaan rerata yang signifikan secara statistik antara variabel jenis kelamin pada kelompok AL 26-28 mm dan AL >28 mm.
Pada kelompok AL 26-28 mm, rerata AL sebesar 26.81±0.382, rerata K sebesar 44.09±1.918, rerata ACD sebesar 3.56±0.420, dan rerata nilai kekuatan LIO sebesar 10.56±2.823. Pada kelompok AL >28 mm, rerata AL sebesar 30.37±1.852, rerata K sebesar 43.91±1.662, rerata ACD sebesar 3.66±0.264, dan rerata nilai kekuatan LIO sebesar 2.75±5.175.
Analisis data Numerik diuji dengan menggunakan uji t tidak berpasangan pada data berdistribusi normal yaitu K, ACD dan LIO serta alternatif uji Mann Whitney pada data tidak berdistribusi normal yaitu AL. Tidak terdapat perbedaan rerata yang signifikan secara statistik antara variabel K dan ACD pada kelompok AL 26-28 mm dan AL >28 mm.
Tabel 4.1 Perbandingan Karakteristik Sampel pada Kelompok AL 26-28 mm dan AL >28 mm
Variabel
Kelompok
Nilai p AL 26-28 mm AL >28 mm
Usia (N=41)
Median 60.50 52.00 0.473
Range (min-max) 20.00-69.00 25.00-83.00
Jenis kelamin (N=41)
Laki-laki 9(47.4%) 14(66.7%) 0.279
Perempuan 10(52.6%) 7(33.3%)
AL (N=52)
Median 26.85 29.99 0.0001*
Range (min-max) (26.11-27.41) (28.12)-(35.02) K (N=52)
Mean±Std 44.09±1.918 43.91±1.662 0.717
ACD (N=52)
Mean±Std 3.56±0.420 3.66±0.264 0.327
LIO (N=52)
Mean±Std 10.56±2.823 2.75±5.175 0.0001*
Keterangan : Untuk data numerik nilai p diuji dengan uji T tidak berpasangan apabila data berdsitribusi normal dengan alternatif uji Mann Whitney apabila data tidak berdistribusi normal. Nilai kemaknaan berdasarkan nilai p<0,05 .Tanda* menunjukkan nilai p<0,05 artinya signifkan atau bermakna secara statistik AL : Axial length
K : Keratometri
ACD : Anterior chamber depth LIO : Lensa intraokular
Tabel 4.2 menjelaskan perbandingan antara ME pada kelompok AL 26-28 mm dan AL >28 mm. Pada kelompok AL 26-28 mm, ME rumus Barrett Universal II memiliki rerata sebesar -0.24±0.378, sedangkan ME rumus SRK/T memiliki rerata sebesar -0.23±0.409. Pada kelompok AL >28, ME rumus Barrett Universal II memiliki rerata sebesar -0.15±0.511, sedangkan ME rumus SRK/T memiliki rerata sebesar 0.50±0.683.
Analisis data Numerik ini diuji dengan menggunakan uji t tidak berpasangan pada data berdistribusi normal yaitu ME Barrett Universal II dan ME SRK/T. Hasil uji statistik diperoleh tidak terdapat perbedaan rerata yang signifikan secara statistik antara variabel ME Barrett Universal II pada kedua kelompok AL. Hasil uji
38
statistik pada variabel ME SRK/T didapat perbedaan rerata yang signifikan secara statistik antara variabel ME SRK/T pada kedua kelompok AL.
Tabel 4.2 Perbandingan ME pada kelompok AL 26-28 mm dan AL >28 mm Variabel
Kelompok
Nilai p AL 26-28 mm AL >28 mm
N=26 N=26
ME BU II
Mean±Std -0.24±0.378 -0.15±0.511 0.476
ME SRK/T
Mean±Std -0.23±0.409 0.50±0.683 0.0001*
Keterangan : Untuk data numerik nilai p diuji dengan uji T Tidak berpasangan apabila data berdsitribusi normal dengan alternatif uji Mann Whitney apabila data tidak berdistribusi normal. Nilai kemaknaan berdasarkan nilai p<0,05 .Tanda* menunjukkan nilai p<0,05 artinya signifkan atau bermakna secara statistik.
ME : Mean error BU II : Barrett Universal II
Tabel 4.3 menjelaskan perbandingan one sample t test antara ME Barrett Universal II dan ME SRK/T pada kelompok AL 26-28 mm dan kelompok AL>28 mm. Analisis data numerik ini diuji dengan menggunakan uji one sample t test yaitu ME Barrett Universal II dan ME SRK/T yang dibandingkan dengan nilai 0 sebagai standar akurasi ME.
Hasil uji statistik pada kelompok AL 26-28 mm didapat perbedaan rerata yang signifikan secara statistik antara variabel ME Barrett Universal II dan ME SRK/T dengan nilai 0 pada kelompok AL 26-28 mm.
Hasil uji statistik pada kelompok AL >28 mm didapat perbedaan rerata yang signifikan secara statistik antara variabel ME SRK/T dengan nilai 0 pada kelompok AL >28 mm, dan tidak terdapat perbedaan rerata yang signifikan secara statistik antara variabel ME Barrett Universal II dengan nilai 0 pada kelompok AL>28 mm.
Tabel 4.3 Perbandingan antara ME Barrett Universal II dan ME SRK/T terhadap Nilai 0 (one sample t test)
Variabel N Nilai p CI 95%(Lower-Upper)
AL26-28 mm ME BUII (N=26)
Mean±Std -0.24±0.378 0.004* -0.39-(-0.08)
ME SRK/T (N=26)
Mean±Std -0.23±0.409 0.007* -0.40-(-0.07)
AL>28 mm ME BUII (N=26)
Mean±Std -0.15±0.511 0.154 -0.35-(0.06)
ME SRK/T (N=26)
Mean±Std 0.50±0.683 0.001* 0.23-(0.78)
Keterangan : Untuk data numerik nilai p diuji dengan uji one sample t test. Nilai kemaknaan berdasarkan nilai p<0,05. Tanda* menunjukkan nilai p<0,05 artinya signifkan atau bermakna secara statistik.
ME : Mean error BU II : Barrett Universal II
Gambar 4.1 menyajikan nilai absolut ME rumus Barrett Universal II dan rumus SRK/T. Nilai ME absolut adalah nilai ME yang dikonversi ke nilai positif. Nilai ME absolut dibagi dalam 5 kategori, yaitu kategori nilai ME <0.25 D, 0.25-0.50 D,
>0.50-1.00 D, >1.00 D-2.00 D, dan kategori >2.00 D. Persentase terbanyak terdapat pada kategori ME <0.25 D dan persentase paling sedikit terdapat pada kategori ME 1.00-2.00 D. Tidak terdapat pasien dengan nilai ME absolut >2.00 D.
40
Gambar 4.1 Nilai ME absolut
Gambar 4.2 menyajikan hasil regresi linier AL terhadap ME Barrett Universal II.
Perhitungan regresi linier AL terhadap ME Barrett Universal II menghasilkan nilai signifikansi 0.868, maka artinya hasil pengujiannya tidak signifikan yang berarti secara keseluruhan variabel AL tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ME Barrett Universal II.
Gambar 4.2 Regresi linier AL terhadap ME Barrett Universal II
42,3 34,6
61,5
34,6
34,6 38,5
11,5
19,2
19,2 23,1 23,1
19,2
3,8 3,8 3,8
26,9
0 20 40 60 80 100 120
ME BU II (AL 26-28
mm) ME SRK/T (AL 26-28
mm) ME BU II (AL >28 mm) ME SRK/T (AL >28mm)
Persentase Mean Error
Nilai Mean Error
<0.25 D 0.25-0.50 D 0.50-1.00 D >1.00-2.00 D
-2 -1,5 -1 -0,5 0 0,5 1
0 10 20 30 40
ME BUII
AL
ME BUII Linear (ME BUII) Y = -0,308 + 0,004
Gambar 4.3 menyajikan hasil regresi linier AL terhadap ME SRK/T. Perhitungan regresi linier AL terhadap ME SRK/T menghasilkan nilai signifikansi 0.00, maka artinya hasil pengujiannya signifikan yang berarti secara keseluruhan variabel AL berpengaruh secara signifikan terhadap ME SRK/T. Perhitungan regresi linier AL terhadap ME SRK/T juga menghasilkan koefisien regresi yang positif sebesar 0,155 menunjukan bahwa apabila AL tinggi maka ME SRK/T akan tinggi begitupun sebaliknya
Gambar 4.3 Regresi linier AL terhadap ME SRK/T