• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

4.3 Pembahasan

Tujuan operasi katarak adalah mencapai hasil refraksi pasca operasi yang optimal. Hal tersebut diusahakan dengan pengukuran biometri yang akurat, teknik fakoemulsifikasi insisi kecil dan pemilihan kekuatan lensa intraokular yang tepat.

Untuk dapat menentukan kekuatan LIO yang tepat maka kita harus menggunakan rumus perhitungan LIO yang tepat pula.

Pemeriksaan refraksi pada penelitian ini dilakukan 1 bulan pasca operasi fakoemulsifikasi dengan implantasi LIO. Hal ini sesuai dengan penelitian Wang dkk yang menyebutkan bahwa refraksi telah stabil 3 minggu atau lebih pasca operasi fakoemulsifikasi dengan implantasi LIO. 9

Usia rerata pasien pada penelitian ini 52.93±13.958 tahun. Hal ini dapat dijelaskan bahwa kebanyakan partisipan merupakan penderita katarak senilis.

Penyebab utama dari katarak senilis adalah proses degeneratif. Jenis kelamin pasien lebih banyak laki-laki sebanyak 58.5% dan perempuan sebanyak 41.5%. Menurut Larasati dkk, ras di Indonesia terdiri dari 5 macam ras, dengan etnis sunda termasuk

ras melayu muda. Pasien pada penelitian ini seluruhnya berasal dari ras melayu muda. Hal ini disebabkan penelitian dilaksanakan di Pusat Mata Nasional RS Mata Cicendo yang berada di Jawa Barat. Hoffer dkk menyatakan bahwa usia, jenis kelamin dan etnis pasien harus dijelaskan karena dapat berpengaruh pada parameter biometri pasien. 54,55

Jenis kelamin pasien pada penelitian ini sesuai dengan penelitian Zhu dkk dimana jumlah laki laki dan perempuan hampir seimbang, yaitu laki-laki 50 orang (51.02%) dan perempuan 48 orang (48.98%). 56

Rentang AL pada penelitian ini mirip dengan hasil penelitian Chen dkk dengan rentang AL 26.01-35.93 mm dan rerata 29.03 ± 2.05 mm. Rerata nilai K pada penelitian ini sesuai dengan penelitian Zhang dkk dengan rerata 43.85±1.62 D.

Rerata nilai ACD pada penelitian ini sesuai dengan penelitian Zhang dkk dengan rerata 3.51±0.39 mm. Perbandingan variabel usia, jenis kelamin, K dan ACD pada kelompok AL 26-28 mm dan kelompok AL >28 mm tidak berbeda secara statistik sehingga data kedua kelompok sama atau homogen. 20,57

Penilaian ME pada beberapa penelitian menggunakan ME yang tidak absolut dan ME yang absolut. Penilaian ME pada penelitian ini menggunakan nilai ME yang tidak absolut. Hal ini karena menurut Zhang dkk nilai ME yang tidak absolut dapat menunjukkan myopic shift ataupun hyperopic shift. 20

Pada kategori AL 26-28 mm di penelitian ini, ketepatan prediksi rumus Barrett Universal II sama dengan rumus SRK/T. Sedangkan pada kategori panjang aksial

>28 mm, ketepatan prediksi rumus Barrett Universal II lebih baik dari rumus SRK/T. Hal ini sesuai dengan penelitian Zhou dkk yang menunjukkan bahwa

44

panjang aksial 24.5-27 mm menghasilkan ME rumus Barrett Universal II 0.07±0.33 dan ME rumus SRK/T 0.06±0.50, panjang aksial 27-30 mm menghasilkan ME rumus Barrett Universal II 0.14±0.32 dan ME rumus SRK/T 0.04±0.55 serta panjang aksial >30 mm menghasilkan ME rumus Barrett Universal II -0.15±0.70 dan ME rumus SRK/T 0.27±0.78. 6

Hal ini juga sesuai dengan Chong dkk yang menyebutkan bahwa rumus SRK/T dan rumus Barrett Universal II sama akurat pada pasien miopia gravior dan kekuatan LIO >6 D. Namun pada pasien miopia gravior dan kekuatan LIO <6 D rumus Barrett Universal II lebih akurat dari rumus SRK/T. Chong dkk juga menyebutkan bahwa rumus SRK/T akurat pada AL 27-29 mm, namun kurang akurat pada AL >29 mm. 46

Standar dari National Health Service of United Kingdom menentukan bahwa 85% pasien harus mencapai hasil refraksi dalam ±1.00 D dari nilai prediksi dan 55% pasien harus mencapai ±0.50 D dari nilai prediksi. Pada penelitian ini rumus Barrett Universal II berhasil mencapai standar. Pada AL 26-28 mm, persentase ME

±1.00 D sebanyak 96.2% dan ME ±0.50 D sebanyak 77%. Pada AL >28 mm, persentase ME ±1.00 D sebanyak 96.2% dan ME ±0.50 D sebanyak 73.1%. Rumus SRK/T pada AL 26-28 mm berhasil mencapai standar dengan persentase ME ±1.00 D sebanyak 96.2% dan ME ±0.50 D sebanyak 73.1%. Namun rumus SRK/T pada AL >28 mm tidak berhasil mencapai standar dengan persentase ME ±1.00 D sebanyak 73.1% dan ME ±0.50 D sebanyak 54.9%. Hal ini sesuai dengan penelitian Zhou dkk dimana rumus Barrett Universal II berhasil mencapai standar pada semua kategori AL. Penilaian rumus SRK/T pada AL 24.5-27 mm, nilai ME ±1.00 D

sebanyak 92.9% dan ME ±0.50 D sebanyak 75%. Pada AL 27-30 mm, nilai ME

±1.00 D sebanyak 93.7% dan ME ±0.50 D sebanyak 61.8%. Pada AL >30 mm, nilai ME ±1.00 D sebanyak 86.9% dan ME ±0.50 D sebanyak 47.48%. 6,47

Hasil analisis pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa rumus SRK/T menghasilkan perbedaan ME yang signifikan pada kedua kelompok AL sedangkan rumus Barrett Universal II tidak menghasilkan perbedaan ME yang signifikan pada kedua kelompok AL. Hal ini sesuai dengan analisis regresi linier yang menyebutkan bahwa variabel AL tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ME Barrett Universal II, namun berpengaruh secara signifikan terhadap ME SRK/T. Hal ini juga sesuai dengan penelitian Melles dkk dan Kim dkk yang menyebutkan bahwa ME pada rumus Barrett Universal II tidak dipengaruhi oleh AL sedangkan ME rumus SRK/T dipengaruhi oleh AL. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai ME rumus SRK/T pada kelompok AL 26-28 mm menghasilkan nilai negatif (- 0.23±0.409), sedangkan nilai ME rumus SRK/T pada kelompok AL >28 mm menunjukkan nilai positif (0.50±0.683). Hal ini sesuai dengan penelitian El-Nafees dkk dan Zhang dkk yang menyebutkan bahwa dengan semakin bertambahnya AL maka ME rumus SRK/T semakin hiperopia.. 12,20,44,57

Nilai ME pada penelitian ini cukup baik karena tidak terdapat nilai ME yang melebihi ±2 D. Hal ini kemungkinan disebabkan penggunaan biometri yang lebih modern dan penggunaan rumus intraokuler yang tepat. Biometri yang digunakan adalah IOLMaster 700 yang merupakan biometri generasi terbaru. Rumus yang digunakan adalah rumus Barrett Universal II dan rumus SRK/T yang dianjurkan untuk digunakan pada pasien dengan miopia gravior. Kane dkk menyebutkan

46

bahwa IOLMaster 700 memiliki kemampuan yang lebih baik dibandingkan dengan Lenstar 900 dan IOLMaster 500 pada katarak yang tebal. Hal ini memungkinkan penggunaan biometri optik pada katarak yang cukup tebal sehingga mengurangi kemungkinan kesalahan penghitungan nilai AL pada miopia gravior karena penggunaan biometri aplanasi kontak. Pada penelitian Abulafia dkk yang menggunakan IOLMaster versi 5, masih terdapat nilai ME melebihi ±2 D pada pasien yang menggunakan rumus SRK/T dan LIO <6D. Pada penelitian Zhang dkk yang menggunakan IOLMaster versi 5, masih terdapat nilai ME yang melebihi ±2 D pada pasien menggunakan rumus Barrett Universal II dan LIO <0 D. Pada penelitian Chen dkk yang menggunakan IOLMaster 500, terdapat nilai ME yang melebihi ±2 D sebanyak 23.65% pasien yang menggunakan rumus SRK/T. 20,43,52,58

Nilai ME absolut rumus SRK/T yang lebih dari ±1 D pada penelitian ini paling banyak terdapat pada AL >28 mm, yaitu sebanyak 26.9% (7 mata), dimana 71.4%

(5 mata) memiliki AL >30 mm. Nilai ME absolut rumus SRK/T yang lebih dari ±1 D pada AL 26-28 mm sebanyak 3.8%. Hal ini sesuai dengan penelitian Yokoi dkk, dimana ME absolut rumus SRK/T yang lebih dari ±1 D dengan AL 26.5-28.99 mm sebanyak 25%, AL 29-30.99 mm sebanyak 25.9% dan AL >31 mm sebanyak 69.2%. Hal ini juga sesuai dengan penelitian Zhou dkk dimana ME absolut rumus SRK/T yang lebih dari ±1 D dengan AL 24.5-27 mm sebanyak 7.1%, AL 27-30 mm sebanyak 6.4% dan AL >30 mm sebanyak 13%. Menurut Chong dkk, hal ini dapat disebabkan rumus SRK/T tidak memperhitungkan variabel lens factor, dimana pasien dengan AL >28 mm umumnya menggunakan LIO dengan kekuatan dioptri positif rendah atau kekuatan negatif. Lensa intraokuler dengan kekuatan

dioptri positif berbentuk bikonveks sedangkan LIO dengan kekuatan dioptri positif rendah dan kekuatan negatif berbentuk meniskus. Perubahan bentuk LIO ini menyebabkan perubahan principal plane dari LIO. Perubahan principal plane atau lens factor ini diperhitungkan dalam rumus Barrett Universal II namun tidak diperhitungkan dalam rumus SRK/T. 6,46,59

Menurut Norrby, perbaikan dalam penentuan kekuatan LIO harus memperhatikan 3 hal, yaitu penentuan posisi LIO pasca operasi, penentuan target refraksi pasca operasi, dan pengukuran AL yang baik. Rumus Barrett Universal II dan SRK/T sudah memperhitungkan posisi LIO pasca operasi, namun rumus Barrett Universal II menggunakan 6 variabel sedangkan rumus SRK/T hanya menggunakan 2 variabel untuk menentukan posisi LIO pasca operasi. Hal ini sesuai dengan penelitian ini, dimana rumus Barrett Universal II dan SRK/T memiliki akurasi yang sama pada AL 26-28 mm, namun rumus Barrett memiliki akurasi yang lebih baik pada AL >28 mm. Pada penelitian ini, didapatkan pertimbangan penentuan target refraksi yang berbeda antara AL 26-28 mm dan AL >28 mm.

Target emmetropia dapat dipertimbangkan pada AL 26-28 mm, namun target miopia dipertimbangkan pada rumus SRK/T dan AL >28 mm. Pengukuran AL yang baik dapat dihasilkan dari penggunaan biometri optik IOLMaster 700. 60

Pembagian kelompok AL pada penelitian ini dibagi menjadi kelompok AL 26- 28 mm dan >28 mm. Peneliti awalnya berusaha membagi kelompok yang terdiri dari AL 26-30 mm dan AL >30 mm. Hal ini karena menurut Roessler dkk ketepatan prediksi refraksi menurun pada AL >30 mm. Menurut Ghanem dkk, stafiloma posterior sering ditemukan pada pasien dengan AL >30 mm. Namun setelah

48

pengambilan data selesai dilakukan, didapatkan jumlah pasien dengan AL >30 mm tidak memenuhi jumlah minimal sampel sehingga pembagian kelompok dibagi menjadi AL 26-28 mm dan >28 mm. 14,61

Variabel perancu dalam penelitian ini adalah banyaknya jumlah operator dan adanya surgical induced astigmatism yang disebabkan oleh variasi dalam teknik operasi. Variabel jumlah operator dapat diminimalisir dengan cara retriksi dari jumlah operator, namun retriksi tidak dilakukan karena terbatasnya jumlah sampel.

Hal ini karena pelaksanaan operasi katarak dengan menggunakan biometri IOLMaster 700 di Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo baru dimulai pada Desember 2019 dan pengambilan data berakhir pada pasien yang dioperasi bulan Februari 2021. Variabel surgical induced astigmatism diminimalisir dengan penggunaan teknik fakoemulsifikasi dengan lebar insisi 2,75 mm dan penggunaan satu jenis LIO.

Keterbatasan penelitian ini adalah pengambilan data yang bersifat retrospektif dari rekam medis sehingga dapat menyebabkan bias seleksi. Pembagian AL tidak menggunakan cut off AL >30 mm dan masih ada sampel yang berasal dari kedua mata pasien. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan jumlah sampel.

49 BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

1. Rumus Barrett Universal II sama tepat dengan rumus SRK/T dalam memprediksi hasil refraksi pasca operasi katarak pada pasien miopia gravior dengan AL 26-28 mm.

2. Rumus Barrett Universal II lebih tepat dibandingkan rumus SRK/T dalam memprediksi hasil refraksi pasca operasi katarak pada pasien miopia gravior dengan AL >28 mm.

5.2 Saran

1. Perlu dilakukan penelitian prospektif untuk mengurangi kemungkinan bias seleksi.

2. Diperlukan penelitian lanjutan yang membagi kelompok AL menjadi AL 26-30 mm dan AL >30 mm.

3. Diperlukan penelitian lanjutan dengan pengambilan sampel yang berasal dari satu mata tiap pasiennya.

50

DAFTAR PUSTAKA

1. Williams K, Hammond C. High myopia and its risk. Community eye health journal. 2019; 32: 5-6

2. The Impact Of Myopia And High Myopia: Report of the Joint World Health Organization–Brien Holden Vision Institute Global Scientific Meeting on Myopia. Switzerland: World Health Organization; 2017. Hlm 5-7.

3. Spaide RF, Ohno-Matsui K, Yannuzzi LA. Pathologic Myopia: Myopia. New York: Springer; 2014. Hlm 313-4

4. Pan C-W, Boey PY, Cheng C-Y, et al. Myopia, axial length, and age- related cataract: the Singapore Malay Eye Study. Invest Ophthalmol Vis Sci. 2013; 54:

4498–502

5. Chu R, Dai J. Intraocular Lens Power Calculations for High Myopia. Mastering the Techniques of Intraocular Lens Power Calculations. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers; 2008. Hlm 153-8

6. Zhou D, Sun Z, Deng G. Accuracy of the refractive prediction determined by intraocular lens power calculation formulas in high myopia. Indian J Ophthalmol 2019;67:484-9

7. Hoffer KJ. Clinical results using the Holladay 2 intraocular lens power formula. J Cataract Refract Surg 2000; 26: Hlm 1233–1237.

8. Wang Q, Zhu Y, Jiang W. Accuracy of Intraocular Lens Power Calculation Formulas in Long Eyes : A Systematic Review and Meta-Analysis. Clinical and Experimental Ophthalmology. 2018 Feb; Hlm 1-12

9. Wang JK, Hu CY, Chang SW. Intraocular Lens Power Calculation Using The IOLMaster And Various Formulas In Eyes With Long Axial Length. J Cataract Refract Surg. 2008 Feb;34(2):262-7

10. Tsang CS, Chong GS, Yiu EP, Ho CK. Intraocular Lens Power Calculation Formulas In Chinese Eyes With High Axial Myopia. J Cataract Refract Surg. 2003 Jul;29(7):1358-64.

11. Wang L, Shirayama M, Ma XJ, Kohnen T, Koch DD. Optimizing Intraocular Lens Power Calculations In Eyes With Axial Lengths Above 25.0 Mm. J Cataract Refract Surg. 2011 Nov;37(11):2018-27.

12. El-Nafees R, Moawad A, Kishk H, Gaafar W. Intraocular Lens Power Calculation In Patients With High Axial Myopia Before Cataract Surgery. Saudi Journal of Ophthalmology. 2010;24; Hlm 77-80.

13. Behunin N, Pantanelli SM, Fekrat S, Scott IU. Intraocular Lens Power Selection in High Axial Myopia. Ophthalmic Pearl Cataract; 2015. Hlm 37-8.

14. Roessler GF, Dietlein TS, Plange N, Roepke A-K, Dinslage S, Walter P, Mazinani BAE. Accuracy of intraocular lens power calculation using partial coherence interferometry in patients with high myopia. Ophthalmic Physiol Opt. 2012; 32.

Hlm228–33.

15. Lee AC, Qazi MA, Pepose JS. Biometry and Intraocular Lens Power Calculation.

Current Opinion in Ophthalmology. Wolter Kluwer Health. Lippincott Williams

& Wilkins; 2008. Hlm 13-7.

16. Hitzenberger CK, Drexler W, Dolezal C, et al. Measurement Of The Axial Length Of Cataract Eyes By Laser Doppler Interferometry. Invest Ophthalmol Vis Sci 1993; 34:1886–1893.

17. Kiss B, Findl O, Menapace R, et al. Refractive Outcome Of Cataract Surgery Using Partial Coherence Interferometry And Ultrasound Biometry: Clinical Feasibility Study Of A Commercial Prototype II. J Cataract Refract Surg 2002;

28:230–234.

18. Haigis W, Lege B, Miller N, et al. Comparison Of Immersion Ultrasound Biometry And Partial Coherence Interferometry For Intraocular Lens Calculation According To Haigis. Graefes Arch Clin Exp Ophthalmol 2000; 238:765– 773.

19. Olsen T. Improved Accuracy Of Intraocular Lens Power Calculation With The Zeiss IOL Master. Acta Ophthalmol Scand 2007; 85:84 – 87.

20. Zhang Y,Liang XY,Liu S, Lee JWY,Bhaskar S,Lam DSC. Accuracy of Intraocular Lens Power Calculation Formulas for Highly Myopic Eyes. Hindawi Publishing Corporation. Journal of Ophthalmology. 2016. Hlm. 1-7.

21. Freeman G, Pesudovs K. The impact of cataract severity on measurement acquisition with IOL Master. Acta Ophthalmol Scand 2005; 83:439–442.

22. Nazm N, Chakrabarti A. Update on optical biometry and intraocular lens power calculation. TNOA J Ophthalmic Sci Res 2017;55:196‐210.

23. Hoffer KJ, Shammas HJ, Savini G. Comparison of 2 laser instruments for measuring axial length. J Cataract Refract Surg 2010;36:644-8.

24. Akman A, Asena L, Güngör SG. Evaluation and comparison of the new swept source OCT-based IOLMaster 700 with the IOLMaster 500. Br J Ophthalmol 2016;100:1201-5.

25. Srivannaboon S, Chirapapaisan C, Chonpimai P, Loket S. Clinical comparison of a new swept-source optical coherence tomography-based optical biometer and a time-domain optical coherence tomography-based optical biometer. J Cataract Refract Surg 2015;41:2224-32.

26. Rohrer K, Frueh BE, Wälti R, Clemetson IA, Tappeiner C, Goldblum D, et al.

Comparison and evaluation of ocular biometry using a new noncontact optical low‐coherence reflectometer. Ophthalmology 2009;116:2087‐92.

27. Holzer MP, Mamusa M, Auffarth GU. Accuracy of a new partial coherence interferometry analyser for biometric measurements. Br J Ophthalmol 2009;93:807-10.

28. Shammas HJ, Ortiz S, Shammas MC, Kim SH, Chong C. Biometry measurements using a new large-coherence-length swept-source optical coherence tomographer.

J Cataract Refract Surg 2016;42:50-61.

29. Hoffer KJ. IOL Position : ACD and ELP. IOL Power. Slack Incorporated. 2011.

Hlm 119-122.

30. Olsen T. Prediction of the effective postoperative (intraocular lens) anterior chamber depth. J Cataract Refract Surg. 2006; 32:419–424

31. Hoffer KJ. Formulas and Programs: Regression and Theoretic Formulas.

Mastering the Techniques of IOL Power Calculations. Jaypee Brothers Medical Publishers (P) Ltd. New Delhi. 2008;2. Hlm 143-8

52

32. Sanders D, Retzlaff J, Kraff M, et al. Comparison of the accuracy of the Binkhorst, Colenbrander, and SRK implant power prediction formulas. J Am Intraocul Implant Soc. 1981;7(4):337-340.

33. Sanders DR, Retzlaff J, Kraff MC. Comparison of empirically derived and theoretical aphakic refraction formulas. Arch Ophthalmol. 1983;101(6):965-967.

34. Dang MS, Raj PP. SRK II formula in the calculation of intraocular lens power. Br J Ophthalmol. 1989.

35. Retzlaff JA, Sanders DR, Kraff MC. Development of the SRK/T intraocular lens implant power calculation formula. J Cataract Refract Surg. 1990.

36. Xia T, Martinez CE, Tsai LM. Update on Intraocular Lens Formulas and Calculations. Asia Pac J Ophthalmol (Phila) 2020;9:186–193

37. Garg A, Adenwala A. Intraocular Lens Power Calculations in Phaco and Microphaco. Mastering the Techniques of Intraocular Lens Power Calculations.

New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers; 2008. Hlm 146-52.

38. Haigis W. Intraocular lens calculation after refractive surgery for myopia: Haigis- L formula. J Cataract Refract Surg. 2008;34:1658–1663.

39. Melles RB, Holladay JT, Chang WJ. Accuracy of intraocular lens calculation formulas. Ophthalmology. 2018;125:169–178.

40. Bang S, Edell E, Yu Q, Pratzer K, Stark W. Accuracy of Intraocular Lens Calculations Using the IOLMaster in Eyes with Long Axial Length and a Comparison of Various Formulas. Ophthalmology. American Academy of Ophthalmology. 2011;118(3). Hlm 503-506

41. Barrett GD. An improved universal theoretical formula for intraocular lens power prediction. J Cataract Refract Surg. 1993;19:713–720.

42. Cooke DL, Cooke TL. Comparison of 9 intraocular lens power calculation formulas. J Cataract Refract Surg. 2016;42:1157–1164.

43. Kane JX, Van Heerden A, Atik A, Petsoglou C. Intraocular lens power formula accuracy: comparison of 7 formulas. J Cataract Refract Surg. 2016;42:1490 – 1500.

44. Melles RB, Kane JX, Olsen T, Chang WJ. Update on intraocular lens calculation formulas. Ophthalmology. 2019;126:1334–1335.

45. Haigis W. Intraocular Lens Calculation after Refractive Surgery for Myopia : Haigis L Formula. J Cataract Refract Surg 2008; 34:1658–1663

46. Chong EW, Mehta JS. High Myopia and Cataract Surgery. Curr Opin Ophthalmol 2016, 27:45 – 50.

47. Wan KH, Lam TCH, Yu MCY, Chan TCY. Accuracy and Precision of Intraocular Lens Calculation Using The New Hill-RBF Version in Eyes with High Axial Myopia. American Journal of Ophthalmology. Elsevier. 2019; 206. Hlm 66-73.

48. Barrett GD. An Improved Universal Theoretical Formula for Intraocular Lens Power Prediction. Journal of Cataract and Refractive Surgery. 1993; 19. Hlm 713- 20.

49. Reiblat O, Levy A, Kleinmann G, Lerman TT, Assia EI. Intraocular Lens Power Calculation for Eyes with High and Low Keratometry readings : Comparison Between Formulas. J Cataract Refract Surg. 2017; 43:1149–1156

50. Rong X, He W, Zhu Q, Qian D, Lu Y, Zhu X. Intraocular lens power calculation in eyes with extreme myopia: Comparison of Barrett Universal II, Haigis, and Olsen formulas. Journal of Cataract and Refractive Surgery. 2019. Hlm 1-6.

51. Kuthirummal N, Vanathi M, Mukhija R, Gupta N, Meel R, Saxena R, dkk.

Evaluation of Barrett universal II formula for intraocular lens power calculation in Asian Indian population. Indian J Ophthalmol 2020;68:59-64.

52. Abulafia A, Barrett GD, Rotenberg M, Kleinmann G, Levy A, Reitblat O, et al.

Intraocular lens power calculation for eyes with an axial length greater than 26.0 mm: Comparison of formulas and methods. J Cataract Refract Surg. 2015;41:548‐

56.

53. Dahlan MS. Besar Sampel Dan Cara Pengambilan Sampel. Dalam Penelitian Kedokteran Dan Kesehatan. Edisi ke-2. Salemba Medika. 2015

54. Hoffer KJ, Aramberri J, Haigis W, Olsen T, Savini G, Shammas HJ dkk. Protocol for Studies of Intraocular lens Formula Accuracy. American Journal of Ophthalmology. 2015; 160: 403-5.

55. Larasati AH, Koesbardiati T, Yudianto A. Estimasi Tinggi Badan Berdasarkan Ukuran Kepala pada Ras Mongoloid di Pandean, Surabaya. Jurnal Biosains Pascasarjana Universitas Airlangga. Vol. 20 (2018). Hal 107-20.

56. Zhu x, He W, Sun X, Dai J, Lu Y. Fixation Stability and Refractive Error after Cataract Surgery in Highly Myopic Eyes. American Journal of Ophthalmology.

2016; 169: 89-94.

57. Kim SY, Lee SH, Kim NR, Chin HS, Jung JW (2020) Accuracy of intraocular lens power calculation formulas using a swept-source optical biometer. PLoS ONE 15(1). Hlm 1-10.

58. Chen C, Xu X, Miao Y, Zheng G, Sun Y. Accuracy of Intraocular Lens Power Formulas Involving 148 Eyes with Long Axial Lengths: A Retrospective Chart- Review Study. Journal of ophthalmology. 2015; 1-7.

59. Yokoi T, Moriyama M, Hayashi K, Shimada N, Ohno-Matsui K. Evaluation of Refractive Error after Cataract Surgery in Highly Myopic Eyes. Int Ophthalmol (2013) 33:343–348.

60. Norrby S. Source of Error in Intraocular Lens Calculation. J Cataract Refract Surg 2008; 34:368–376.

61. Ghanem AA, El-Sayed HM. Accuracy of intraocular lens power calculation in high myopia . Oman Journal of Ophthalmology, 2010; 3(3):126-130.

54

LAMPIRAN 1

LEMBAR PERSETUJUAN ETIK

LAMPIRAN 2

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Wioma Surya darma,dr.

Tempat, Tgl Lahir : Pekanbaru, 03 Mei 1983 Alamat : Jl. Seminai Pematang Reba Nama Orang Tua : Ir. Asdi Abbas

Assa'adah, S.Pd Nama Istri : Nilam Sari, SP Pendidikan Formal

1. TK Bhayangkari Pekanbaru (1987-1988) 2. SD Negeri 020 Sail Pekanbaru (1988-1990) 3. SD Negeri 003 Sail Pekanbaru (1990-1994) 4. SLTP Negeri 13 Pekanbaru (1994-1997) 5. SMU Negeri 8 Pekanbaru (1997-2000)

6. Program Studi Sarjana Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung (2000-2005)

7. Program Studi Profesi Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung (2005-2007)

8. Program Pendidikan Dokter Spesialis I, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, RS Mata Cicendo Bandung (2017-sekarang)

56

Riwayat Pekerjaan

1. Dokter Puskesmas Air Molek, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau (2009-2011) 2. Dokter Puskesmas Lirik, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau (2011-2017)

3. Tenaga Kesehatan Haji Daerah, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau (2010)

Penelitian

1. Karakteristik dan Penanganan Penderita Sindrom Rubela Kongenital di Pusat Mata Nasional rumah Sakit Mata Cicendo (2019)

Seminar/Kongres/Pertemuan Ilmiah Nasional/Internasional

2018 Peserta 6th INOIIS Scientific Meeting in Conjunction with INARVOS, Palembang

2019 Peserta 5th INASCRS Biennial Meeting, Jakarta

2019 Peserta 1st Cicendo International Ophthalmology Meeting, Bandung 2020 Peserta Perdami Visual Scientific Meeting, Jakarta

LAMPIRAN 3

TABEL PERHITUNGAN REGRESI LINIER

Tabel Regresi linier AL terhadap ME Barrett Universal II

ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1

Regression .006 1 .006 .028 .868b

Residual 10.197 50 .204

Total 10.203 51

a. Dependent Variable: ME BUII b. Predictors: (Constant), AL

Tabel Regresi Linier AL terhadap ME SRK/T

ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1

Regression 8.567 1 8.567 29.871 .000b

Residual 14.341 50 .287

Total 22.908 51

a. Dependent Variable: ME SRK/T b. Predictors: (Constant), AL

Tabel Hasil Uji Analisis Regresi Linear AL terhadap ME SRK/T

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients

T Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) -4.364 .826 -5.281 .000

AL .155 .028 .612 5.465 .000

a. Dependent Variable: ME SRK/T

Dokumen terkait