• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Hasil Penelitian yang Relevan

Berdasarkan penelusuran pustaka, peneliti menemukan beberapa literatur tentang hal-hal yang berhubungan dengan tema penelitian ini, sehingga dapat dijadikan perbandingan untuk menggarap skripsi ini, di antaranya :

Faiqoh (2013), dalam penelitiannya tentang gaya berbusana mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Alumni Pondok Pesantren. Bahwa mahasiswa Syariah dan hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Alumni Pondok Pesantren menganggap trend mode yang ada saat ini memang banyak mengalami perkembangan sehingga mahasiswa telah mengalami perubahan dalam berbusana yang terlihat modis dan gaul mengikuti perkembangan sesuai dengan model-model yang lagi marak di masyarakat.

Sementara dalam penelitiannya Wijaya (2012) yang berjudul “etika berbusana mahasiswa STAIN Samarinda (Studi Kasus Terhadap Penerapan Keputusan Ketua STAIN Samarinda nomor: 19 tahun 2002 tentang Etika Pergaulan dan Berbusana Mahasiswa STAIN Samarinda). Berdasarkan analisis dan pembahasan hasil penelitian menyimpulkan bahwa: Pertama, pemahaman keagamaan. Dalam berbusana sebagian berpegang teguh pada ajaran Islam bahwa menutup aurat rapat-rapat, tidak memakai busana transparan atau ketat merupakan perintah dalam al-Qur’an maupun hadîts. Di samping itu, sebagai tuntutan moral

11

Islam, yang akan membawa pemakainya akan lebih hati-hati terhadap perbuatan- perbuatan yang dilarang agama. Kedua, perwujudan identitas diri. Busana muslimah yang longgar, ataupun jilbab, juga sebagai identitas wanita muslimah.

Seorang muslimah dianjurkan untuk menampakkan identitas sebagai wanita yang shalihah, salah satunya dengan pola berbusana. Dengan berbusana yang menutup rapat aurat, berjilbab lebar disertai kehati-hatian dalam berperilaku, jelas akan menjadi suri tauladan perempuan. Secara psikologi pun, busana akan mempengaruhi perilaku seseorang. Begitu pula bagi mahasiswi yang lebih suka berbusana ketat atau transparan, bagi mereka yang terpenting bagaimana bisa tampil trendi, dan tidak dikatakan ketinggalan zaman, sehingga dapat menepis anggapan bahwa mahasiswi STAIN adalah mahasiswi yang kolot, kumuh dan ketinggalan zaman. Ketiga, faktor kebiasaan. Kebiasaan terkait dengan lingkungan seperti kost, latar belakang pendidikan sebelumnya dan keluarga.

Mahasiswi yang terbiasa dengan pola berbusana ketat, maka akan merasa kerepotan jika harus beradaptasi dengan berganti model busananya. Keempat, faktor budaya konsumerisme. Inilah yang tampaknya merambah mahasiswi termasuk mahasiswi STAIN Samarinda yang berbusana ketat atau transparan dengan prinsip mengikuti mode. Karena budaya konsumerisme banyak mahasiswi STAIN yang tanpa pikir panjang langsung mengikuti mode terbaru dan modern atau bahkan busana-busana artis. Kelima, tidak adanya sanksi pelanggaran busana di STAIN Samarinda . Memang berbagai aturan dengan menerbitkan SK aturan berbusana melalui Keputusan Ketua STAIN Samarinda nomor : 19 tahun 2002 tentang etika pergaulan dan berbusana mahasiswa STAIN Samarinda.

Perbedaan penelitian yang penulis lakukan dengan penelitian yang dilakukan Wijaya bahwa studi yang penulis kaji lebih fokus pada mahasiswa yang berpakaian ketat dan transparan, sedangkan yang dibahas oleh Wijaya itu lebih meluas atau secara keseluruhan tentang etika berpakaian mahasiswa, baik yang berpakaian ketat maupun yang berpakaian syar`i.

B. Etika

1. Pengertian Etika

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1998), merumuskan pengertian etika dalam tiga arti yaitu ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk, tentang hak dan kewajiban moral, kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak dan nilai mengenai benar dan salah yang dianut masyarakat.

Sunoto dalam Zuikarnain, dkk (2014:1-2), etika secara etimologi berasal dari kata Yunani yakni ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat. Secara terminology, etika adalah cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik buruk. Yang dapat dinilai baik buruk adalah sikap manusia, yaitu yang menyangkut perbuatan, tingkah laku, gerakan, kata-kata dan sebagainya.

Sedangkan menurut Ki. Hajar Dewantara dalam Ruslan (2002:30), bahwa etika adalah ilmu yang mempelajari segala soal kebaikan dan keburukan di dalam hidup manusia semuanya, teristimewa yang mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang dapat merupakan pertimbangan dan perasaan, sampai mengenai tujuan yang dapat merupakan perbuatan.

2. Macam-macam Etika

Ruslan (2002:37-38), etika dapat dibagi menjadi dua yaitu etika deskriptif dan etika normatif. Etika deskriptif hanya melukiskan, menggambarkan dan menceritakan apa adanya, tidak memberikan penilaian, tidak memilih mana yang baik dan mana yang buruk, tidak mengajarkan bagaimana sebaiknya berbuat.

Etika normatif memberikan penilaian mana yang baik mana yang buruk, mana yang harus dikerjakan mana yang tidak. Etika normatif dapat dibagi menjadi dua, yaitu etika umum dan etika khusus. Etika umum membicarakan prinsip-prinsip umum, apa itu nilai, motivasi suatu perbuatan suara hati dan sebagainya. Etika khusus adalah pelaksanaan daripada prinsip-prinsip umum seperti etika pergaulan, etika pekerjaan, dan sebagainya. Dan masih ada pembagian etika yang lain seperti etika individu dan etika sosial. Etika individu membicarakan perbuatan atau tingkah laku manusia sebagai individu, misalnya tujuan hidup manusia.

Sedangkan etika sosial membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan orang lain misalnya baik buruk dalam keluarga, masyarakat, dan negara.

Istilah lain yang berdekatan etika yaitu moral, dan akhlak yang sama-sama menentukan nilai baik dan buruk sikap dan perbuatan manusia, bahkan terkadang ketiganya berjalan seiring.

Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa etika adalah sesuatu yang berbicara tentang perilaku manusia mulai dari baik buruk, benar salah, tanggung jawab dan di dalam etika terdapat norma-norma.

C. Pakaian

1. Pengertian Pakaian

Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia pakaian adalah segala sesuatu yang menempel pada tubuh dari ujung rambut sampai ujung kaki. Menurut istilah, busana adalah pakaian yang kita kenakan setiap hari dari ujung rambut sampai ujung kaki beserta segala perlengkapannya, seperti tas, sepatu, dan semacam perhiasan yang melekat padanya.

Pakaian atau sandang adalah salah satu kebutuhan pokok manusia di samping makanan (pangan) dan tempat tinggal (papan). Selain berfungsi menutup tubuh, pakaian juga dapat merupakan pernyataan lambang status seseorang dalam masyarakat. Sebab berpakaian ternyata merupakan perwujudan dari sifat dan prilaku dasar manusia yang mempunyai rasa malu sehingga selalu menutupi tubuhnya.

2. Fungsi Pakaian

Muhksin (2011), pada awalnya pakaian berfungsi hanya untuk melindungi tubuh baik dari sinar matahari, cuaca ataupun dari gigitan serangga. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka hal tersebut juga mempengaruhi fungsi dari pakaian itu sendiri. Fungsi pakaian dapat ditinjau dari beberapa aspek antara lain aspek biologis, psikologis dan sosial. Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut :

a) Ditinjau dari aspek biologis:

1) Untuk melindungi tubuh dari cuaca, sinar matahari, debu serta gangguan binatang, dan melindungi tubuh dari benda-benda lain yang membahayakan

kulit. Seperti orang yang berada di daerah kutup memerlukan pakaian untuk melindungi tubuhnya dari udara dingin. Begitu juga orang yang tinggal di daerah yang beriklim panas, pakaian digunakan untuk melindungi tubuh dari udara panas yang mungkin dapat merusak kulit.

2) Untuk menutupi atau menyamarkan kekurangan dari sipemakai. Manusia tidak ada yang sempurna, setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Untuk menutupi kekurangan dan menonjolkan kelebihannya juga dapat dilakukan dengan memakai pakaian yang tepat. Seperti seseorang yang bertubuh kurus pendek, hindari memakai kerah dengan ukuran lebar, memakai rok yang terlalu pendek (rok mini), dan rok span karena hal ini akan memberikan kesan lebih kurus dan lebih pendek.

Pilihlah model rok pias, model kerah yang dapat menutup tulang leher.

Dapat menggunakan sepatu yang berhak tinggi dan memakai perhiasan yang berukuran kecil atau sedang, serta memakai pakaian yang tidak menonjolkan bentuk tubuh yang kurus dan pendek tersebut, begitu juga sebaliknya.

b) Ditinjau dari aspek psikologis:

1) Dapat menambah keyakinan dan rasa percaya diri. Dengan pakaian yang serasi memberikan keyakinan atau rasa percaya diri yang tinggi bagi sipemakai, sehingga menimbulkan sikap dan tingkah laku yang wajar.

Seperti seseorang yang pakaiannya tidak sesuai dengan acara yang sedang dihadirinya, akan membuat dia risih atau salah tingkah.

2) Dapat memberi rasa nyaman. Sebagai contoh pakaian yang tidak terlalu sempit atau terlalu longgar dapat memberi rasa nyaman saat memakainya.

Begitu juga dengan pakaian yang modelnya sesuai dengan sipemakai akan membuat dia nyaman dalam melaksanakan segala aktifitas yang dilakukannya.

c) Ditinjau dari aspek sosial:

Dalam kehidupan bermasyarakat terdapat norma-norma yang mengatur pola perilaku di masyarakat. Norma-norma tersebut antara lain norma kesopanan, norma kesusilaan, norma agama, norma adat dan norma hukum. Sebagai masyarakat Timur, norma-norma ini harus dipatuhi oleh masyarakat. Tatanan tersebut di antaranya juga mengatur tentang bagaimana berpakaian. Dilihat dari aspek sosial pakaian berfungsi :

1) Untuk menutupi aurat atau memenuhi syarat kesusilaan. Seperti terlihat pada masyarakat yang beragama Islam, diwajibkan menutupi auratnya, di mana wanita harus menutupi seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan muka. Di tempat umum hendaklah memakai pakaian yang sopan.

2) Untuk media informasi bagi suatu instansi atau lembaga. Seperti seseorang yang berasal dari korps kepolisian menggunakan seragam tertentu yang berbeda dengan yang lain, seorang siswa atau pelajar menggunakan seragam sekolah mereka dan lain sebagainya. Memakai jilbab serta pakaian yang sopan bagi mahasiswa terlebih bagi mahasiswa yang berkuliah di kampus islami.

3) Media komunikasi non verbal. Pakaian yang kita kenakan dapat menyampaikan misi atau pesan kepada orang lain, pesan itu akan terpancar dari kepribadian kita, dari mana anda berasal, berapa usia yang akan anda tampilkan, jenis kelamin apa yang ingin anda akui, jabatan atau sebagai apa keberadaan anda di masyarakat, dan sebagainya, inilah yang ingin digarisbawahi melalui penampilan pakaian kita.

3. Motif Berpakaian

Berpekaian dalam kehidupan sehari-hari ada beberapa motif dalam berpakaian di antaranya :

a) Motif religi

Manusia sebagai makhluk yang mempunyai keyakinan dalam memeluk agama manapun cenderung mempunyai motif berpakaian yang tidak melanggar sopan santun, tata susila, tidak memberi peluang kepada orang berbuat sesuatu yang asusila. Motif religi ini akan mendorong orang memilih busana yang sesuai dengan aturan-aturan yang dibolehkan atau dipersyaratkan dalam agamanya.

Berbusana dengan motif religi seyogianya akan menyesuaikan dengan aturan dan persyaratan, seperti dalam agama Islam untuk busana laki-laki minimal dari pusat sampai lutut, sedangkan untuk perempuan seperti telah dikemukakan di atas yaitu untuk perempuan yang sudah akil balig harus menutupi seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.

b) Motif budaya

Pakaian cenderung tidak dapat dilepaskan dari budaya masyarakat, karena dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan, adat istiadat yang ada pada masyarakat.

Dikemukakan oleh Kluckhohn dalam Soekanto (2012:154), bahwa tujuh unsur kebudayaan sebagai cultural universal yang bisa didapatkan pada semua bangsa di dunia, yaitu salah satunya peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi, transportasi, dan sebagainya). Salah satu unsur kebudayaan yang dikemukakan Kluckhohn tersebut, jelas bahwa pakaian termasuk dalam unsur kebudayaan.

Berbedanya pakaian daerah antara daerah yang satu dan daerah lainnya, karena kebudayaan manusia di setiap daerah cenderung berbeda, yang dipengaruhi oleh alam sekitar. Perbedaan busana daerah masing-masing ini, karena setiap daerah mempunyai adat istiadat, kebiasaan, cara hidup yang bisa berbeda di antara yang satu dan yang lainnya, dan lingkungan sosial budaya yang berbeda. Jadi, motif budaya ini dapat dimanifestasikan pada pakaian, baik dengan adanya pakaian daerah yang ada di kepulauan di wilayah Republik Indonesia, maupun dengan masuknya budaya barat yang dianggap oleh orang pada umumnya lebih praktis. Kenyataan kepraktisan ini memberi inspirasi untuk membuat pakaian daerah lebih praktis dalam pemakaiannya tanpa menghilangkan ciri khasnya.

c) Motif kebersamaan

Manusia sebagai makhluk sosial ingin selalu hidup berteman, sebagai teman ngobrol, diskusi, mencurahkan isi hati, dan ingin diterima di lingkungan di mana ia berada. Motif kebersamaan ini dapat dilihat dari kebersamaan dalam pekerjaan, dalam organisasi, sosial, politik, profesi, kegemaran (hobby), sekolah, kampus (studi). Motif kebersamaan ini dapat diimplementasikan pada

kekompakan melaksanakan tugas dan tanggungjawab, disiplin kerja, dan aturan atau cara berpakaian. Salah satunya motif kebersamaan dapat disalurkan melalui pakaian.

Motif kebersamaan melalui pakaian dapat dimanifestasikan dengan menyepakati pakaian yang seragam, baik untuk pakaian seragam pekerjaan atau kantor tertentu, seperti seragam pegawai Pemerintah Daerah (Pemda), Pajak, Tentara Nasional Indonesia atau TNI (darat, laut, udara), Polisi Republik Indonesia (Polri), pramugari, seragam organisasi partai politik maupun seragam sekolah dari Sekolah Dasar (SD) sampai dengan seragam Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), dan seragam yang berupa jas atau jaket mahasiswa.

d) Motif mode

Dalam pemilihan pakaian antara lain akan dipengaruhi oleh motif mode, karena kecenderungan setiap orang ingin mengikuti mode yang sedang digemari masyarakat atau mode yang paling mutakhir. Motif mode yang umumnya ada pada setiap orang, inipun dapat dijadikan dasar untuk memproduki pakaian pada perusahaan-perusahaan industri pakaian. Usaha-usaha industri pakaian akan berkembang pesat apabila pengelola usaha tersebut cukup jeli melihat dan memahami model-model mana yang digemari masyarakat, sehingga menjadi mode yang trend di masyarakat tertentu.

Model merupakan topik yang memberikan kegairahan kepada manusia terutama pada wanita. Mode sering berubah dari waktu ke waktu, lebih-lebih di negara yang mempunyai empat musim (musim panas, musim gugur, musim dingin dan musim semi). Perubahan musim ini akan mendorong para desainer

untuk menciptakan model-model pakaian yang diprediksikan akan dapat digemari masyarakat dan berkembang di masyarakat pada musim-musim tertentu. Dari model pakaian yang diciptakan para desainer itu dapat menjadi mode yang digemari masyarakat. Selanjutnya, pemilihan model pakaian pada orang-orang yang peduli dan perhatian terhadap mode yang sedang trend, menjadi motif untuk memilih pakaian.

e) Motif urusan

Motif urusan yaitu motif yang berkaitan dengan urusan pribadi (privacy), urusan dalam kaitan status dan urusan dalam suatu profesi. Berkaitan dengan motif urusan, di antaranya memerlukan pakaian yang sesuai dengan motif urusan tersebut terutama bagi orang-orang yang peduli, perhatian pada hal berpakaian atau orang-orang yang berada di perkotaan yang sibuk dengan berbagai kegiatan.

Motif urusan yang berkaitan dengan pakaian ini akan memberikan arahan kepada seseorang untuk mempergunakan pakaian pada kesempatan tertentu sesuai dengan urusannya masing-masing. Pakaian sebagai salah satu kebutuhan primer ekonomi (di samping pangan dan papan) dalam situasi tertentu dapat menjadi urusan politik dan hukum nasional suatu negara.

D. Mahasiswa

1. Pengertian Mahasiswa

Kata mahasiswa dibentuk dari dua kata dasar yaitu “maha” dan “siswa”.

Maha berarti besar atau agung, dan siswa berarti orang yang sedang belajar.

Kombinasi dua kata ini menunjuk pada suatu kelebihan tertentu bagi

penyandangnya. Di dalam PP No. 30 tentang Pendidikan Tinggi disebutkan bahwa mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar pada perguruan tinggi tertentu (Bab I pasal 1 ), yaitu lembaga pendidikan yang bertujuan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan atau kesenian.

Santoso (2012), mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi, baik di universitas, institut atau akademi. Mereka yang terdaftar sebagai murid di perguruan tinggi dapat disebut sebagai mahasiswa. Tetapi pada dasarnya makna mahasiswa tidak sesempit itu. Terdaftar sebagai mahasiswa di sebuah perguruan tinggi hanyalah syarat administratif menjadi mahasiswa, tetapi menjadi mahasiswa mengandung pengertian yang lebih luas dari sekedar masalah administratif itu sendiri.

Menyandang gelar mahasiswa merupakan suatu kebanggaan sekaligus tantangan. Betapa tidak, ekspektasi dan tanggung jawab yang diemban oleh mahasiswa begitu besar. Pengertian mahasiswa tidak bisa diartikan kata per kata, Mahasiswa adalah seorang agen pembawa perubahan. Menjadi seorang yang dapat memberikan solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh suatu masyarakat bangsa di berbagai belahan dunia.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa adalah setiap peserta didik baik laki-laki maupun perempuan yang terdaftar secara sah di perguruan tinggi swasta maupun negeri. Mahasiswa dianggap memiliki

intelek yang cukup bagus dan cara berpikir yang lebih matang, mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, dengan begitu diharapkan mereka dapat memberi perubahan yang lebih baik di masyarakat.

2. Peran dan Fungsi Mahasiswa

Santoso (2012), sebagai mahasiswa berbagai macam lebelpun disandang, ada beberapa macam label yang melekat pada diri mahasiswa, misalnya:

a) Agent of change ( generasi perubahan )

Mahasiswa sebagai agen dari suatu perubahan. Artinya jika ada sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitar dan itu salah, mahasiswa dituntut untuk merubahnya sesuai dengan harapan sesungguhnya. Dengan harapan bahwa suatu hari mahasiswa dapat menggunakan disiplin ilmunya dalam membantu pembangunan Indonesia untuk menjadi lebih baik ke depannya.

Mahasiswa adalah salah satu harapan suatu bangsa agar bisa berubah ke arah lebih baik, hal ini dikarenakan mahasiswa dianggap memiliki intelek yang cukup bagus dan cara berpikir yang lebih matang, sehingga diharapkan mereka dapat menjadi jembatan antara rakyat dengan pemerintah.

b) Iron stock ( generasi penerus )

Sebagai tulang punggung bangsa di masa depan, mahasiswa diharapkan menjadi manusia-manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia yang nantinya dapat menggantikan generasi-generasi sebelumnya di pemerintahan kelak. Intinya mahasiswa itu merupakan aset, cadangan, harapan bangsa untuk masa depan bangsa Indonesia. Tak dapat dipungkiri bahwa seluruh organisasi yang ada akan bersifat mengalir, yaitu ditandai dengan pergantian kekuasaan dari

golongan tua ke golongan muda, oleh karena itu kaderisasi harus dilakukan terus- menerus. Dunia kampus dan kemahasiswaannya merupakan momentum kaderisasi yang sangat sayang bila tidak dimanfaatkan bagi mereka yang memiliki kesempatan.

Dalam hal ini mahasiswa diartikan sebagai cadangan masa depan. Pada saat menjadi mahasiswa kita diberikan banyak pelajaran, pengalaman yang suatu saat nanti akan kita pergunakan untuk membangun bangsa ini.

c) Moral force ( gerakan moral )

Mahasiswa sebagai penjaga stabilitas lingkungan masyarakat, diwajibkan untuk menjaga moral-moral yang ada. Bila di lingkungan sekitar terjadi hal-hal yang menyimpamg dari norma yang ada, maka mahasiswa dituntut untuk merubah dan meluruskan kembali sesuai dengan apa yang diharapkan. Mahasiswa sendiripun harus punya moral yang baik agar bisa menjadi contoh bagi masyarakat dan juga harus bisa merubah ke arah yang lebih baik jika moral bangsa sudah sangat buruk, baik melalui kritik secara diplomatis ataupun aksi.

d) Social control ( generasi pengontrol )

Sebagai generasi pengontorol mahasiswa diharapkan mampu mengendalikan keadaan sosial yang ada di lingkungan sekitar. Jadi, selain pintar dalam bidang akademis, mahasiswa juga harus pintar dalam bersosialisasi dan memiliki kepekaan dengan lingkungan. Mahasiswa diupayakan agar mampu mengkritik, memberi saran dan memberi solusi jika keadaan sosial bangsa sudah tidak sesuai dengan cita-cita dan tujuan bangsa, memiliki kepekaan, kepedulian, dan kontribusi nyata terhadap masyarakat sekitar tentang kondisi yang teraktual.

Asumsi yang kita harapkan dengan perubahan kondisi sosial masyarakat tentu akan berimbas pada perubahan bangsa. Intinya mahasiswa diharapkan memiliki sense of belonging yang tinggi sehingga mampu melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat. Tugas inilah yang dapat menjadikan dirinya sebagai harapan bangsa, yaitu menjadi orang yang senantiasa mencarikan solusi berbagai problem yang sedang menyelimuti mereka.

Namun secara garis besar, setidaknya ada 3 peran dan fungsi yang sangat penting bagi mahasiwa, yaitu :

1) Peranan moral, dunia kampus merupakan dunia di mana setiap mahasiswa dengan bebas memilih kehidupan yang mereka mau. Di sinilah dituntut suatu tanggungjawab moral terhadap diri masing-masing sebagai individu untuk dapat menjalankan kehidupan yang bertanggung jawab dan sesuai dengan moral yang hidup dalam masyarakat.

2) Peranan sosial. Selain tanggung jawab individu, mahasiswa juga memiliki peranan sosial, yaitu bahwa keberadaan dan segala perbuatannya tidak hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri tetapi juga harus membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

3) Peranan intelektual. Mahasiswa sebagai orang yang disebut-sebut sebagai insan intelek haruslah dapat mewujudkan status tersebut dalam ranah kehidupan nyata. Dalam arti menyadari betul bahwa fungsi dasar mahasiswa adalah bergelut dengan ilmu pengetahuan dan memberikan perubahan yang lebih baik dengan intelektualitas yang ia miliki selama menjalani pendidikan.

3. Tipologi Mahasiswa

Menurut Ansaruddin (2015:23), bahwa ada beberapa tipe mahasiswa di Unismuh Makassar. Adapun tipe-tipe mahasiswa sebagai berikut:

a) Mahasiswa akademis

Aktifitas utama: concern mengurusi kuliah saja. Kelebihan mahasiswa tipe akademisi adalah mereka menonjol dalam hal perkuliahan. Mereka rajin masuk, bahkan tak pernah terlambat, rajin ke perpustakaan, rajin baca buku, dan tak pernah ketinggalan tugas. Mereka biasanya juga lebih dekat dengan aparatur kampus terutama para dosennya. Namun sisi kekurangannya mereka kurang progresif dan kurang peka terhadap fenomena sosial, kurang peduli terhadap orang lain (individualistis), dan miskin relasi. Target mereka kuliah cepat selesai, predikat cumlaude, dan cepat dapat kerja.

b) Mahasiswa aktivis/ organisatoris

Aktifitas utama: kuliah dan berorganisasi. Kelebihan mahasiswa aktifis mereka relatif terlatih dalam hal kepemimpinan (leadership), pandai mengorganisasikan sesuatu (skill managerial), pandai menyusun planning (perencanaan), mempunyai kepekaan sosial, tanggap realitas, dan lebih peduli terhadap sesama. Hal ini disebabkan oleh aktifitas keseharian mereka yang hampir seluruhnya dihadapkan dengan dunia praksis. Tugas-tugas kepengurusan dan kepanitiaan serta beberapa tugas organisasi yang dibebankan membuat mereka terlatih untuk menghadapi berbagai problematika hidup.

Intensitas pertemuan mereka dengan orang lain membuat mereka mawas diri dan belajar banyak hal dari berbagai watak manusia yang berbeda-beda

Dokumen terkait