Setelah melakukan observasi pada patung Arung Palakka di kota Watampone kabupaten Bone pada tanggal 17 Desember 2016, dan wawancara dengan narasumber yaitu : DR. H. Andi Muh. Yushand Tenritappu, MFA (mantan Ketua Kebudayaan Bone), H. A. Muhammad Faisal, SE,. M.Si (Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata dan Pemasaran) Penelitian ini telah menemukan gambaran akan makna simbolik pada struktur patung Arung Palakka di kota Watampone Kabupaten Bone.
1. Struktur bentuk patung Arung Palakka di kota Watampone Kabupaten Bone
Patung monumen Arung Palakka didirikan berdasarkan gagasan Andi Syamsu Alam (Bupati Bone ke XII) yang menginginkan adanya monumen di kota Bone, keinginan tersebut kemudian mendapat persetujuan dari anggota DPRD dan dianggarkan melalui APBD Kabupaten Bone. Setelah melalui beberapa tahapan maka dibuatlah patung monumen Arung Palakka sebagai simbol kebesaran Bone, dimana pada masa keemasan Bone atau ‟‟tepu ketenna Bone’’ Arung Palakka lah yang memerintah, beliaulah yang berhasil memerdekakan kerajaan Bone dari penjajahan kerajaan Gowa.
Adapun struktur dari patung ini memiliki bentuk simbolik yang mengandung sebuah makna, berikut penjabaran hasil penelitian tentang makna simbolik pada struktur patung Arung Palakka :
a. Wujud atau rupa patung Arung Palakka
Wujud atau rupa menyangkut bentuk (unsur yang mendasar) dan susunan atau struktur patung Arung Palakka,
1. Bentuk dan Struktur Patung
Berdasarkan dari hasil wawancara pada tanggal 17 Desember 2016 dengan DR. H. Andi Muh. Yushand Tenritappu, MFA selaku pemilik referensi patung Arung Palakka yang dibuat oleh bapak Dicky Chandra, mengatakan bahwa karakteristik bentuk anatomi patung Arung Palakka sudah sesuai dengan karakter Latenri Tatta Arung Palakka, struktur patung sudah memiliki proporsi yang ideal karena referensi patung ini sendiri berdasarkan foto yang diabadikan kodak oleh Spelman, dan berdasarkan dengan sumber sejarah serta riwayat Arung Palakka.
Patung monumen ini dibuat dengan skala yang lebih besar dengan tinggi badan dan tinggi tombaknya sama yaitu berkisar 7 meter. Patung ini berdiri diatas bustek dengan diameter tingginya adalah sekitar 8,10 meter. Patung Arung Palakka sendiri dibuat menghadap ke barat menjenjang ke tempat pusaka peninggalannya disimpan yaitu rumah jabatan Bone.
Adapun struktur dari patung Arung Palakka terdiri dari bagian kepala yaitu, bentuk sigara‟ dan rambut, pada bagian badan yaitu pernak perrnik yang melekat pada tubuhnya antara lain bentuk keris, rantai emas, dan tombak, dibagian kaki yaitu bentuk celana, dan terakhir adalah bustek patung. Pada saat dilakukan
revitalisasi pada taman bunga watampone, patung Arung Palakka juga diberi sedikit perubahan pada bentuk bustek, dengan tetap mempertahankan tingginya.
Gambar 14
Patung Arung Palakka Tampak Menghadap ke Barat Dengan tinggi struktur tubuh dan tombak pada patung sama
yaitu 7 m, dengan tinggi bustek patung sekitar 8,10 m.
(dokumentasi : Andi Qul Anshar) 2016.
7 m
8,10 m
7 m
Gambar 15. Struktur patung Arung Palakka (dokumentasi : Andi Qul Anshar) 2016 tombak
keris
Rantai emas
Sigara’
rambut
Celana balocci
Gambar 16. Bentuk bustek patung Arung Palakka dulu dan sekarang (sumber : www.google.com/patung Arung Palakka)
Bobot atau isi patung
2. Bobot menyangkut bukan apa yang sekedar dilihat semata namun dirasakan sebagai makna dari wujud patung Arung Palakka.
Gambar 17
Patung Arung Palakka
(dokumentasi : Andi Qul Anshar) 2016.
Adapun yang ditunjukan pada patung Arung Palakka adalah bentuk Sigara‟
atau topi kebesaran raja di Bone,bentuk rambut yang terurai panjang, bentuk tombak, bentuk keris, bentuk rantai, dan bentuk dari celana pada patung Arung Palakka di kota Watampone kabupaten Bone, yang kesemuanya itu merupakan sebuah simbol yang mengandung makna tertentu.
3. Makna yang terkandung dari bentuk simbolik yang ada pada struktur patung Arung Palakka di Watampone Kabupaten Bone
Setelah melakukan observasi pada patung Arung Palakka maka ada beberapa bentuk pada patung yang merupakan sebuah simbol, adapun bentuk- bentuk pada patung tersebut dijabarkan sebagai berikut :
a. Bentuk sigara‟ pada patung Arung Palakka
Gambar 18
Bentuk sigara‟ pada patung Arung Palakka (dokumentasi : Andi Qul Anshar) 2016.
Tanda kebesaran/ pakaian ciri khas seorang raja
b. Bentuk sumpit mahkota pada patung Arung Palakka
Gambar. 19
bentuk sumpit mahkota dengan ujung berbentuk segitiga sebanyak tujuh buah pada patung Arung Palakka
(dokumentasi : Andi Qul Anshar) 2016.
Lambang kearifan dankekuasaan yang sakral/ keramat. Tanda kehebatan pemimpin yang mampu membawa attujung atau kebaikan
c. Bentuk rambut pada patung Arung Palakka
Gambar 20
Bentuk rambut pada patung Arung Palakka (Dokumentasi : Andi Qul Anshar) 2016.
Tanda kesetiaan akan sumpah janji setia Arung Palakka kepada rakyat Bone
d. Bentuk tombak pada patung Arung Palakka
Gambar 21
Bentuk tombak pada Patung Arung Palakka (dokumentasi Andi Qul Anshar) 2016.
Gambar 22.
Mata tombak secara umum dan mata tombak Arung Palakka Sumber : (www.geocits.com/tombak)
Lambang kehadiran raja
e. Bentuk keris pada patung Arung Palakka
Gambar 23.
Bentuk keris pada patung Arung Palakka (dokumentasi : Andi Qul Anshar) 2016.
Tanda perjuangan, ciri khas seorang laki-laki, menunjukkan watak yang keras.
Gambar 24
Bentuk keris La Makkawa (keris Arung Palakka)
(Summber : www.google.com/keris lamakkawa arung palakka)
Gagang keris La Makkawa Gagang keris jawa Gagang keris bugis Gambar 25
(Sumber : www.geocities.com/keris)
Gambar 26
Bentuk keris Arung Palakka dan ciri khas keris bugis (http:/google.com/ keris bugis)
Pangulu/Gagang keris
Wanua/ sarung tempat badik Pendok/pembungkus wanua
Gambar 27
Bentuk-bentuk keris diberbagai daerah(a. Sulawesi, b. Madura, c. Surakarta, d.
Palembang, e. Bali, f. Minangkabau (sumber : www.geocities.com/keris)
f. Bentuk rantai emas dengan dua koin emas pada patung Arung Palakka
Gambar 28
Bentuk rantai dengan dua medali emas pada patung Arung Palakka (dokumentasi : Andi Qul Anshar) 2016.
Melambangkan kebersamaan dan persatuan
Koin/medali emas bertuliskan bahasa Belanda sebagai tanda penghormatan
g. Bentuk celana pada patung Arung Palakka
Gambar 29
Bentuk celana pada patung Arung Palakka (dokumentasi : Andi Qul Anshar ) 2016.