• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Pengukuran Kepadatan dan Berat Volume Tanah

1 KAJIAN ANALISIS DAMPAK INTEGRASI SAWIT SAPI TERHADAP KESUBURAN LAHAN

B. Pengukuran sifat kimia tanah

5. Hasil Pengukuran Kepadatan dan Berat Volume Tanah

5.a. Hasil pengukuran kepadatan dan berat volume tanah musim hujan PT.

BKB

Hasil pengukuran kepadatan tanah pada musim hujan menunjukan tidak ada perbedaan yang nyata antara area grazing dan ungrazing untuk semua kedalaman.

Kemungkinan karena grazing masih pada rotasi ke-11 sehingga belum terlihat pengaruh yang nyata dari adanya kegiatan grazing pada kebun sawit. Selain itu, pada musim hijan dimana pada saat kandungan air tanah tinggi, perbedaan resistensi tanah (penetration resistance) antara tanah yang mengalami pemadatan dan tidak mengalami pemadatan adalah rendah dan lebih kecil dari ambang batas penetration resistance untuk pertumbuhan akar (>2 MPa). Masalah utama pada tanah-tanah yang mengalami pemadatan adalah aerasi tanah yang buruk pada saat basah dan tingginya penetration resistance untuk pertumbuhan akar pada saat kering (Hamza dan Anderson, 2005).

Pemadatan tanah dapat menurunkan ukuran akar, menghambat penetrasi akar dan kedalaman perakaran lebih dangkal, menurunkan ketersediaan nutrisi tanaman dan uptake akar serta mengakibatkan stress pada tanaman, dimana hal tersebut merupakan faktor utama yang dapat menurunkan produksi dan produktivitas tanaman.

32

Tabel 19 Hasil analisis anova kepadatan tanah musim hujan PT. BKB

Grazing 3" 6" 9"

0 134.30a 174.78a 214.37a

10 133.28a 180.94a 211.22a

11 131.28a 184.06a 219.83a

Keterangan: angka pada baris yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada α=5%

Gambar 12 Grafik hasil analisis kepadatan tanah musim hujan PT. BKB Tabel 20 Hasil analisis anova berat volum tanah musim hujan PT. BKB

Grazing 3" 6" 9"

Ungrazing 1.66a 1.65a 1.71a

Rotasi 10 1.72a 1.73a 1.72a

Rotasi 11 1.72a 1.73a 1.70a

Keterangan: angka pada baris yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada α=5%

Gambar 13 Grafik hasil analisis berat volum tanah musim hujan PT. BKB

0 50 100 150 200 250

3" 6" 9"

Kepadatan Tanah (psi)

Kedalaman (inchi)

Kepadatan tanah musim hujan PT. BKB

Ungrazing Rotasi 10 Rotasi 11

-0.50 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00

3" 6" 9"

Berat Volume (g/cm3)

Kedalaman

Berat Volume Musim Hujan

Ungrazing Rotasi 10 Rotasi 11

33 5.b. Hasil pengukuran kepadatan dan berat volume tanah musim kemarau PT.

BKB

Hasil pengukuran kepadatan pada musim penghujan menunjukan hal yang berlawanan dengan hasil-hasil sebelumnya yaitu bahwa pada pengukuran musim kemarau kepadatan tanah pada area ungrazing lebih tinggi dibandingkan area grazing rotasi ke-11 untuk semua kedalaman pengukuran. Namun seperti disampaikan sebelumnya bahwa pemadatan banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan lainnya selain grazing, sehingga perlu dikaji lebih teliti variabel lainnya yang lebih dominan mempengaruhi perbedaan hasil pengukuran tersebut. Hasil pengukuran kepadatan ini juga sejalan dengan hasil pengukuran berat volume tanah, berat volume tanah pada area ungrazing juga lebih tinggi dibandingkan area grazing rotasi 11. Hal ini kemungkinan disebabkan karena kadar air tanah pada musim kemarau rendah dan tekstur tanah area ungrazing adalah loam sehingga lebih mudah mengalami pemadatan. Kepadatan tanah sangat dipengaruhi oleh tekstur tanah, dan kadar air tanah pada saat dilakukan aktivitas budidaya tanaman. Pada kadar air tanah 70-90%

tergantung jenis tanahnya maka pemadatan relatif tidak terjadi, diatas nilai tersebut maka pemadatan akan semakin meningkat hingga mencapai nilai kadar air kapasitas lapang (Reintam et al., 2009).

Tabel 21 Hasil analisis anova kepadatan tanah musim kemarau PT. BKB

Grazing 3" 6" 9"

Ungrazing 300.00a 300.00a 300.00a Grazing Rotasi 11 282.78b 294.17b 297.22a

Keterangan: angka pada baris yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada α=5%

Gambar 14 Grafik hasil analisis kepadatan tanah musim kemarau PT. BKB

260 270 280 290 300 310

3" 6" 9"

Kepadatan Tanah (psi)

Kedalaman

Kepadatan Tanah Musim Kemarau

Ungrazing Rotasi 11

34

Tabel 22 Hasil analisis anova berat volum tanah musim kemarau PT. BKB

Grazing 3" 6" 9"

Rotasi 11 1.30a 1.34a 1.35b

Non-Grazing 1.31a 1.48a 1.50a

Keterangan: angka pada baris yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada α=5%

Gambar 15 Grafik hasil analisis berat volum tanah musim kemarau PT. BKB

6. Hasil Pengukuran Kelimpahan Mikroba Tanah Sampel PT.BKB

6.a. Hasil pengukuran kelimpahan mikroba tanah pada musim hujan PT.BKB Hasil analisis mikrobiologi pada sampel tanah grazing dan ungrazing musim kemarau yang berbeda nyata adalah respirasi tanah dan total populasi bakteri nitrifikasi. Respirasi tanah terukur pada area ungrazing lebih tinggi dibanding area grazing rotasi 10 dan 11. Respirasi tanah atau (CO2 efflux) merupakan salah satu faktor penting dalam siklus C di dalam tanah. Respirasi tanah merupakan respirasi dari akar tanaman dan mikroba tanah. Pada umumnya respirasi tanah beragam untuk waktu dan tempat berbeda, kadar air dan temperatur tanah yang merupakan faktor kunci yang menentukan perbedaan hasil pengukuran respirasi tanah (Adachi et al., 2006).

Sebaliknya hasil analisis total enumerasi bakteri nitrifikasi, dimana total bakteri nitrifikasi pada area ungrazing lebih rendah dibanding area grazing rotasi 10 dan 11. Kelimpahan bakteri tanah yang berperan dalam penambat N2 dipengaruhi oleh jenis tanah, pH dan ketersediaan NH4+. Nitrifikasi dipengaruhi oleh beberapa faktor

1.20 1.25 1.30 1.35 1.40 1.45 1.50 1.55

3" 6" 9"

Berat Volume (g/cm3)

Kedalaman (inchi)

Berat Volume Musim Kemarau

Rotasi 11 Non-Grazing

35 lingkungan antara lain ketersediaan amonium, kandungan bahan organik, aerasi, dan pH tanah yang mempengaruhi keberadaan dari bakteri serta laju nitrifikasi (De Boer dan Kowalchuk, 2001).

Tabel 23 Hasil analisis anova variabel mikrobiologi sampel tanah PT. BKB musim hujan

Keterangan: angka pada baris yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada α=5%

Gambar 16 Hasil pengukuran respirasi tanah sampel PT. BKB musim hujan

0.00 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00 1.20 1.40 1.60

0 10 11

Respirasi (mg CO2/hari/100 g tanah)

Jumlah Rotasi Grazing

Respirasi Tanah

Total populasi mikroba Ungrazing Grazing rotasi 10 Grazing rotasi 11 Respirasi (mg CO2/hari/100 g tanah) 1.17a 0.50ab 1.03b

Aktinomicetes (104) 1.68a 1.05a 2.40a

Cendawan (104) 2.84b 5.77ab 8.57a

Bakteri (106) 35.34a 11.33a 28.60a

Bakteri Pelarut Fosfat (104) 1.27a 0.73a 0.69a

Bakteri Penambat N2 186.07a 187.16a 187.43a

Bakteri Denitrifikasi 61.42a 60.41a 97.76a

Bakteri Nitrifikasi 0.15b 22.04a 29.68a

36

Gambar 17 Hasil enumerasi total populasi bakteri nitrifikasi sampel tanah PT. BKB musim hujan

6.b. Hasil pengukuran kelimpahan mikroba tanah pada musim kemarau PT.BKB

Hasil analisis mikrobiologi musim kemarau menunjukan tidak ada perbedaan antara area grazing (rotasi 11) dan ungrazing, kecuali pada total populasi bakteri pelarut fosfat, yaitu pada area ungrazing lebih tinggi, namun hasil analisis kimia tanah menunjukan bahwa kandungan P2O5 potensial pada area grazing lebing tinggi.

Bakteri pelarut fosfat mempunyai kemampuan untuk melarutkan P organik menjadi bentuk fosfat terlarut yang tersedia bagi tanaman. Efek pelarutan umumnya disebabkan oleh adanya produksi asam organik seperti asam asetat, asam format, asam laktat, asam oksalat, asam malat dan asam sitrat yang dihasilkan oleh mikroba tersebut.

Mikroba tersebut juga memproduksi asam amino, vitamin dan zat pemacu tumbuh tanaman seperti IAA dan asam giberelin yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Ponmurugan dan Gopi, 2006).

Hasil enumerasi total bakteri denitrifikasi baik pada area grazing maupun ungrazing populasinya paling tinggi dibandingkan mikroba lainnya yang diamati. Hal ini kemungkinan disebabkan karena aerasi yang buruk sehingga oksigen didalam tanah terbatas. Menurut Meneer et al. (2006), pada area grazing pada umumnya kehilangan N melalui proses denitrifikasi lebih besar. Meningkatnya denitrifikasi pada area grazing dikarenakan meningkatnya NO3- -N dalam tanah, meningkanya kadar C dalam tanah, menurunnya aerasi tanah dan meningkatnya pemadatan tanah.

0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00

0 10 11

Total populasi bakteri nitrifikasi

Jumlah Rotasi Grazing

Enumerasi Total Bakteri Nitrifikasi

37 Tabel 24 Hasil analisis anova variabel mikrobiologi sampel tanah PT. BKB musim

kemarau

Grazing Ungrazing Grazing rotasi 11

Respirasi (mg CO2/hari/100 g tanah) 1.32a 0.88a

Aktinomicetes (104) 0.57a 1.91a

Cendawan (104) 12.34a 4.22a

Bakteri (106) 2.84a 3.19a

Bakteri Pelarut Fosfat (104) 0.63a 0.24b

Bakteri Penambat N2 0.29a 0.16a

Bakteri Denitrifikasi 45.17a 79.44a

Bakteri Nitrifikasi 4.64a 9.52a

Keterangan: angka pada baris yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada α=5%

Gambar 18 Hasil pengukuran enumerasi total populasi bakteri pearut fosfat PT. BKB musim kemarau

KESIMPULAN

1. Pengaruh integrasi sawit-sapi terhadap kesuburan dan kepadatan tanah bervariasi antara jenis tanah, tekstur tanah, grazing dan kondisi tanaman kelapa sawit sebelum dilakukan kegiatan integrasi sawit-sapi, karena banyaknya interaksi faktor lain yang mempengaruhinya.

2. Analisis dampak integrasi sawit-sapi dilakukan pada kondisi yang tidak ideal untuk menganalisa dampak integrasi sapi sawit terhadap kesuburan tanah, dikarenakan kondisi dan karakteristik lahan sebelum dan sesudah dilakukan grazing pada integrasi sapi-sawit sangat beragam dan faktor-faktor lainnya selain grazing tidak terkontrol dengan baik

0.00 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00

0 11

Total bakteri pelarut fosfat

Jumlah Rotasi Grazing

Bakteri Pelarut Fosfat

38

3. Semakin banyak jumlah rotasi grazing ada kecenderungan terjadi peningkatan nilai kepadatan tanah terutama pada jumlah rotasi grazing lebih dari 26, namun hasil pengukuran masih dibawah batas maksimal (300 psi), demikian juga dengan pengukuran berat volume tanah

4. Semakin banyak jumlah rotasi grazing ada kecenderungan terjadi peningkatan kadar bahan organik (C-organik)

39

2 DAMPAK INTEGRASI SAWIT SAPI TERHADAP

Dokumen terkait