ANALISIS DAMPAK INTEGRASI SAWIT SAPI
TERHADAP KESUBURAN LAHAN DAN PRODUKTIVITAS TANAMAN KELAPA SAWIT
Periode Februari 2019-Februari 2020
LAPORAN kegiatan
Tim Kegiatan Analisis Dampak Integrasi Sapi-Sawit
PUSAT TEKNOLOGI PRODUKSI PERTANIAN TAB-BPPT
PUSA T TEKNOLOGI PRODUKSI PERT ANIAN T AB-BPPT
LAPORAN KEGIATAN
(
PERIODE FEBRUARI 2019-FEBRUARI 2020)ANALISIS DAMPAK INTEGRASI SAWIT SAPI
TERHADAP KESUBURAN LAHAN DAN PRODUKTIVITAS TANAMAN KELAPA SAWIT
Oleh :
Tim Kegiatan Dampak Integrasi Sawit Sapi
PUSAT TEKNOLOGI PRODUKSI PERTANIAN
DEPUTI BIDANG TEKNOLOGI AGROINDUSTRI DAN BIOTEKNOLOGI BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI
2020
i
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas penyelesaian laporan kegiatan tahun ke-2 pengkajian dampak integrasi sawit-sapi terhadap kesuburan lahan dan produktivitas tanaman kelapa sawit. Kegiatan sampling tanah dan pengumpulan data produktivitas tanaman kelapa sawit dilakukan di perkebunan kelapa sawit PT. Buana Karya Bhakti (BKB), Kalimantan Selatan dan PT. Kalteng Andinipalma Lestari dan PT Ciptatani Kumai Sejahtera (KAL), Kalimantan Tengah.
Salah satu manajemen integrasi sawit-sapi yang diterapkan di PT. KAL dan PT.
BKB adalah penggembalaan secara rotasi. Pada sistem penggembalaan secara rotasi, sapi-sapi digembalakan secara bergiliran dari blok tertentu ke blok lainnya dengan jangka waktu tertentu sehingga meminimalisasi dampak negatif yang mungkin ditimbulkan. Kegiatan tahun ini merupakan kelanjutan kegiatan tahun sebelumnya untuk mengkaji dampak integrasi sapi-sawit terhadap kesuburan tanah dan produktivitas tanaman kelapa sawit dalam sistem manajemen penggembalaan secara rotasi.
Pada kesempatan ini tim penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dalam hal pendanaan, perencanaan, dan pelaksanaan kegiatan ini. Semoga laporan kegiatan ini dapat memberikan informasi dalam penerapan dan pengembangan integrasi sapi-sawit di Indonesia, dan tujuan dari penerapan integrasi sapi sawit yaitu mendukung peningkatan populasi sapi potong di Indonesia, serta meningkatkan produktivitas usaha perkebunan kelapa sawit dapat terwujud.
Jakarta, Maret 2020
Tim Penulis
ii
UCAPAN TERIMAKASIH
Ucapan terimakasih disampaikan kepada “Indonesia-Australia Commercial Cattle Breeding (IACCB)” yang telah membiayai seluruh rangkaian kegiatan
“Analisis Dampak Integrasi Sawit Sapi terhadap Kesuburan Lahan dan Produktivitas Tanaman Kelapa Sawit” ini.
Ucapan terimakasih juga disampaikan kepada:
1. PT. Buana Karya Bhakti (PT. BKB), Kalimantan Selatan, yang telah memberikan dukungan data, informasi dan fasilitas yang diperlukan selama pelaksanaan kegiatan penelitian.
2. PT. Kalimantan Andini Lestari (PT. KAL), Kalimantan Tengah, yang telah memberikan dukungan data, informasi dan fasilitas yang diperlukan selama pelaksanaan kegiatan penelitian.
3. Pusat Teknologi Produksi Pertanian (PTPP), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), yang telah memberikan dukungan dan fasilitas laboratorium untuk kegiatan analisis sampel tanah.
4. Semua pihak yang telah memberikan dukungannya selama proses kegiatan penelitian.
iii
DAFTAR ISI
PENGANTAR ... i
UCAPAN TERIMAKASIH………...ii
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR GAMBAR ... v
DAFTAR TABEL ... vi
1 KAJIAN ANALISIS DAMPAK INTEGRASI SAWIT SAPI TERHADAP KESUBURAN LAHAN ... 1
PENDAHULUAN ... 1
Latar Belakang ... 1
Tujuan ... 3
METODE ... 3
Waktu dan lokasi pengambilan contoh tanah ... 3
Pengambilan contoh tanah ... 4
Analisis kesuburan tanah dengan indikator sifat fisika dan kimia tanah ... 5
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 15
Hasil Analisis Sampel Tanah PT. KAL, Kalimantan Tengah ... 15
Hasil Analisis Sampel Tanah PT. BKB, Kalimantan Selatan ... 28
KESIMPULAN ... 37
2 DAMPAK INTEGRASI SAWIT SAPI TERHADAP PRODUKTIVITAS TANAMAN KELAPA SAWIT ... 39
PENDAHULUAN ... 39
Latar Belakang ... 39
Tujuan ... 40
METODOLOGI ... 40
Analisis Produktivitas Kelapa Sawit PT. BKB, Kalimantan Selatan ... 40
Analisis Produktivitas Kelapa Sawit PT. KAL, Kalimantan Tengah ... 41
HASIL ... 42
Analisis Produktivitas Kelapa Sawit PT. BKB, Kalimantan Selatan ... 42
Analisis Produktivitas Kelapa Sawit PT. KAL, Kalimantan Tengah ... 48
Analisis Faktor Penentu Produktivitas ... 48
PEMBAHASAN ... 54
Umur Tanaman ... 54
Grazing ... 54
Kerapatan Tanaman ... 55
iv
Curah Hujan ... 56
Jenis Bibit ... 57
Tekstur Tanah ... 57
Faktor Lainnya ... 57
KESIMPULAN ... 57
DAFTAR PUSTAKA ... 58
LAMPIRAN ... 63
v
DAFTAR GAMBAR
1 Titik pengambilan anak contoh untuk contoh komposit dengan pola zigzag
(Diambil dari Husen, 2007). ... 4
2 Pengambilan contoh tanah meliputi 4 area untuk setiap titik pengambilan contoh tanah ... 4
3 DICKEY-john soil compaction tester ... 14
4 Deskripsi kunci sifat fisika tanah yang terkait dengan pengolahan dan pengelolaan tanah (diambil dari Delgado dan Go´mez, 2016) ... 15
5 Grafik hasil analisis kepadatan tanah musim hujan PT. KAL ... 22
6 Grafik hasil analisis berat volume tanah musim hujan PT. KAL ... 23
7 Grafik hasil analisis kepadatan tanah musim kemarau PT. KAL ... 24
8 Grafik hasil analisis berat volum tanah musim kemarau PT. KAL ... 24
9 Hasil analisis enumerasi total populasi bakteri diazotropik sampel PT. KAL musim hujan... 26
10 Hasil analisis enumerasi total populasi bakteri denitrifikasi sampel PT. KAL musim hujan... 26
11 Hasil pengukuran respirasi tanah sampel PT. KAL musim hujan ... 27
12 Grafik hasil analisis kepadatan tanah musim hujan PT. BKB ... 32
13 Grafik hasil analisis berat volum tanah musim hujan PT. BKB ... 32
14 Grafik hasil analisis kepadatan tanah musim kemarau PT. BKB ... 33
15 Grafik hasil analisis berat volum tanah musim kemarau PT. BKB ... 34
16 Hasil pengukuran respirasi tanah sampel PT. BKB musim hujan ... 35
17 Hasil enumerasi total populasi bakteri nitrifikasi sampel tanah PT. BKB musim hujan ... 36
18 Hasil pengukuran enumerasi total populasi bakteri pearut fosfat PT. BKB musim kemarau... 37
19 Pengaruh umur tanaman terhadap produktivitas kelapa sawit di PT BKB ... 44
20 Pengaruh total frekuensi grazing terhadap produktivitas tanaman kelapa sawit di PT BKB ... 45
21 Curah hujan bulanan dan produktivitas kelapa sawit di PT BKB ... 45
22 Curah hujan 1 bulan sebelum panen dan produktivitas kelapa sawit di PT BKB ... 46
23 Pengaruh kumulatif curah hujan 1 bulan sebelum panen dan lokasi rayon terhadap produktivitas kelapa sawit per tahun di PT BKB ... 46
24 Pengaruh jenis bibit terhadap produktivitas kelapa sawit di PT BKB... 47
25 Pengaruh lokasi rayon terhadap produktivitas kelapa sawit di PT BKB ... 47
26 Pengaruh umur tanaman terhadap produktivitas kelapa sawit di PT KAL ... 50
27 Pengaruh total frekuensi grazing terhadap produktivitas kelapa sawit di PT KAL ... 51
vi
28 Pengaruh curah hujan 4 bulan sebelum panen terhadap produktivitas kelapa sawit
di PT KAL ... 52
29 Pengaruh curah hujan 15 bulan sebelum panen terhadap produktivitas kelapa sawit di PT KAL ... 52
30 Pengaruh curah hujan 24 bulan sebelum panen terhadap produktivitas kelapa sawit di PT KAL ... 53
31 Pengaruh tekstur tanah terhadap produktivitas kelapa sawit di PT KAL ... 53
32 Perkembangan hasil panen kelapa sawit (Ng 1983; Goh et al. 1984; Fairhurst dan Griffifths 2014) ... 54
DAFTAR TABEL
1 Hasil pengukuran parameter sifat kimia tanah sampel tanah musim hujan PT. KAL ... 162 Hasil analisis tekstur tanah sampel tanah asal PT. KAL musim hujan ... 17
3 Hasil analisis anova sifat fisika dan kimia tanah Sampal tanah PT. KAL musim hujan ... 17
4 Hasil pengukuran parameter sifat kimia tanah sampel tanah musim kemarau PT. ... 19
5 Hasil analisis tekstur tanah sampel tanah asal PT. KAL musim kemarau ... 20
6 Hasil analisis anova sifat fisika dan kimia tanah Sampal tanah PT. KAL musim kemarau ... 20
7 Hasil analisis anova kepadatan tanah musim hujan PT. KAL... 22
8 Hasil analisis anova berat volume tanah musim hujan PT. KAL ... 22
9 Hasil analisis anova kepadatan tanah musim hujan PT. KAL... 23
10 Hasil analisis anova berat volum tanah musim hujan PT. KAL... 24
11 Hasil analisis anova variabel mikrobiologi sampel tanah PT. KAL musim hujan ... 26
12 Hasil analisis anova variabel mikrobiologi sampel tanah PT. KAL musim kemarau ... 27
13 Hasil pengukuran parameter sifat kimia tanah sampel tanah musim hujan PT. BKB ... 28
14 Hasil analisis tekstur tanah sampel tanah asal PT. BKB musim hujan ... 29
15 Hasil analisis anova sifat fisika dan kimia tanah Sampal tanah PT. BKB musim hujan ... 29
16 Hasil pengukuran parameter sifat kimia tanah sampel tanah musim kemarau PT. BKB ... 30
17 Hasil analisis tekstur tanah sampel tanah asal PT. BKB musim kemarau ... 30
18 Hasil analisis anova sifat fisika dan kimia tanah Sampal tanah PT. BKB musim kemarau ... 31
19 Hasil analisis anova kepadatan tanah musim hujan PT. BKB... 32
vii
20 Hasil analisis anova berat volum tanah musim hujan PT. BKB ... 32 21 Hasil analisis anova kepadatan tanah musim kemarau PT. BKB ... 33 22 Hasil analisis anova berat volum tanah musim kemarau PT. BKB ... 34 23 Hasil analisis anova variabel mikrobiologi sampel tanah PT. BKB musim hujan ... 35 24 Hasil analisis anova variabel mikrobiologi sampel tanah PT. BKB musim kemarau ... 37 25 Persamaan regresi linear berganda pada produktivitas kelapa sawit di PT BKB 42 26 Hasil pendugaan faktor penentu produktivitas kelapa sawit (Model 1) ... 42 27 Hasil pendugaan faktor penentu produktivitas kelapa sawit (Model 2/Reduksi) 43 28 Persamaan regresi linear berganda pada produktivitas kelapa sawit di PT KAL 48 29 Hasil pendugaan faktor penentu produktivitas kelapa sawit model 1 ... 48 30 Hasil pendugaan faktor penentu produktivitas kelapa sawit model 2 (reduksi) . 49
DAFTAR LAMPIRAN
1 Daftar Blok PT BKB yang Dianalisis ... 63 2 Hasil Analisis Model Regresi Linear Berganda Data Produktivitas PT BKB dengan
Alat Bantu Rstudio ... 65 3 Daftar Blok PT KAL yang Dianalisis ... 67 4 Hasil Analisis Model Regresi Linear Berganda Data Produktivitas PT KAL dengan
Alat Bantu Rstudio ... 68
1
1 KAJIAN ANALISIS DAMPAK INTEGRASI SAWIT SAPI TERHADAP KESUBURAN LAHAN
PENDAHULUAN Latar Belakang
Perubahan pengelolaan dan penggunaan lahan akan mengakibatkan perubahan sifat-sifat tanah yang merupakan komponen penting dalam agroekosistem. Oleh karena itu dalam pengelolaan dan pemanfaatan lahan perlu memperhatikan pemeliharaan kualitas tanah agar tercapai sistem budidaya pertanian yang berkelanjutan. Perubahan sifat-sifat tanah akibat pengelolaan dan pemanfaatan lahan akan mempengaruhi kualitas tanah yang meliputi kualitas tanah baik secara fisik, kimia dan biologi.
Sistem integrasi sawit-sapi yang yang dikelola dengan management yang baik akan dapat memberikan banyak keuntungan diantaranya adalah memberikan keuntungan bagi lahan dan lingkungan dengan memberikan sumbangan bahan organik dan nutrisi bagi tanah sehingga pada akhirnya akan dapat meningkatkan produktivitas tanaman kelapa sawit. Sumber bahan organik yang berlimpah dalam sistem integrasi sawit-sapi dapat berupa kotoran ternak (padat, cair dan sludge biogas), limbah tanaman sawit (pelepah, daun sawit) dan limbah industri sawit (TBS, DDS, POME, fly ash).
Bahan organik tersebut sangat bermanfaat untuk memperbaiki kualitas tanah baik secara fisik, kimia dan biologi (Husnain dan Nursyamsi, 2015).
Kotoran sapi yang sudah matang akan menjadi bahan pembenah tanah yang dapat memperbaiki struktur tanah melalui pengaruhnya terhadap aktivitas mikroorganisme tanah, kemampuan tanah menahan air dan merupakan sumber hara nitrogen, fosfor, dan kalium yang amat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Syarif, 1986; Kurniadinata, 2007). Apabila dikelola dengan baik, integrasi sapi sawit dapat meningkatkan kesuburan lahan karena dapat memperbaiki kondisi fisik, biologi dan kimia tanah sehingga tanah menjadi lebih subur dan selanjutnya akan dapat meningkatkan produktivitas tanaman kelapa sawit. Pada dasarnya ada 3 kategori indikator kualitas dan kesuburan tanah yaitu fisika, kimia dan biologi tanah. Indikator fisika tanah berkaitan dengan fungsi daya dukung, ketersediaan air (daya mengikat air) dan habitat. Indikator sifat kimia terkait dengan fungsi ketersediaan air (daya
2
mengikat air), siklus hara dan buffering. Sedangkan indikator biologi terkait fungsi siklus hara, biodiversitas dan filtering. Indikator kimia memberikan informasi mengenai keseimbangan larutan tanah (air dan nutrisi/hara tanaman) dan kapasitas pertukarannya yaitu partikel liat dan bahan organik; kesehatan tanaman, kebutuhan nutrisi tanaman dan kapasitas daya dukungnya bagi tanaman dan hewan diatasnya serta tingkat degradasi/kontaminasi tanah. Indikator fisika tanah akan memeberikan informasi karakteristik hidrolik, seperti infiltrasi dan retensi air yang akan mempengaruhi ketersediaannya bagi tanaman. Beberapa indikator terkait ketersediaan hara, volume perakaran dan status aerasi tanah terkait dengan sifat fisika tanah juga dapat menggambarkan status degradasi tanah seperti tingkat erosi.
Indikator biologi dalam hal ini diantaranya adalah mikroorganisme tanah.
Mikroorganisme tanah merupakan faktor penting dalam ekosistem tanah, karena berpengaruh terhadap siklus dan ketersediaan hara tanaman serta stabilitas struktur tanah. Mikroorganisme tanah berperan dalam berbagai proses biokimia dan memegang peranan penting dalam menjaga kesuburan tanah dan prokduktivitas tanaman. Keragaman mikroorganisme rizosfir sangat bermanfaat bagi kesehatan tanah dan berperan dalam interaksi trofik dalam rizosfir yang mempengaruhi komunitas tanaman diatas permukaan tanah (WeiZhou et al., 2014). Keragaman mikroba didalam tanah secara langsung mempengaruhi produktivitas tanaman yaitu mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman, kompetisi antar tanaman, serapan hara dan air. Oleh karena itu keragaman mikroba tanah perlu dipertimbangkan dalam menganalisis kualitas tanah (Kennedy 1999).
Biomassa mikroorganisme tanah mewakili sebagian kecil fraksi total karbon dan nitrogen tanah, tetapi secara relatif mudah berubah, sehingga jumlah, aktifitas, dan kualitas biomassa mikroorganisme merupakan fakor kunci dalam mengendalikan jumlah C dan N yang dimineralisasi (Paul dan Clark 1989; Hassink 1994). Menurut Lavahun (1995) biomassa mikroorganisme tanah merupakan sumber bervariasi hara- hara tanaman dan juga sebagai agen pembentukan hara-hara tersebut. Selain itu merupakan agen perombak dari semua bahan organik yang masuk ke dalam tanah, mengubahnya ke dalam bentuk senyawa anorganik sederhana, sehingga tanaman dapat menggunakannya lagi. Biomassa mikroorganisme ini memegang peranan penting
3 dalam memelihara kesuburan tanah dan dalam siklus karbon, nitrogen, fosfor dan sulfur.
Biomassa mikroorganisme merupakan indeks kesuburan tanah. Tanah yang banyak mengandung berbagai macam mikroorganisme, secara umum dapat dikatakan bahwa tanah tersebut adalah tanah yang baik sifat fisik dan kimianya. Tingginya populasi mikroorganisme dan beragamnya mikroorganisme hanya mungkin ditemukan pada tanah yang memiliki sifat yang memungkinkan mikroorganisme tanah tersebut untuk berkembang dan aktif. Tersedianya unsur hara yang cukup, pH tanah yang sesuai, aerasi dan drainase yang baik, air yang cukup dan sumber energi (bahan organik) yang cukup adalah beberapa faktor yang harus dipenuhi agar mikroorganisme tanah dapat tumbuh dan berkembang (Iswandi et al. 1995). Tingkat kesuburan tanah berkorelasi positif terhadap produksi tanaman yang tumbuh diatasnya.
Tujuan
a) Menganalisis dampak integrasi sapi sawit terhadap sifat fisika, kimia dan biologi tanah
b) Menganalisis dampak integrasi sapi sawit terhadap pemadatan tanah
c) Menganalisis dampak integrasi sapi sawit terhadap produktivitas tanaman kelapa sawit
METODE Waktu dan lokasi pengambilan contoh tanah
Pengambilan contoh tanah, data primer dan data sekunder dilakukan pada 2 tempat yaitu:
1. Pengambilan sampel tanah pada PT. Kalimantan Andini Lestari (KAL) dilakukan pada musim penghujan yaitu blok G21 (grazing rotasi ke-26), blok G22 (grazing rotasi ke-33), blok L21 (ungrazing), blok L23 (ungrazing) dan pada musim kemarau: blok F21 (grazing rotasi ke-27), blok F22 (grazing rotasi ke-29), blok G28 (ungrazing), blok F25 (ungrazing)
2. Pengambilan sampel tanah pada PT. Buana Karya Bhakti dilakukan pada musim penghujan: blok G21 (grazing rotasi ke-11); blok G22 (grazing rotasi ke-10), blok F10 (ungrazing), blok F31 (ungrazing), dan musim kemarau: blok G17 (grazing rotasi ke-11), blok F30 (ungrazing)
4
3. Analisis fisika, kimia dan biologi tanah dilakukan di Laboratorium Pusat Teknologi Produksi Pertanian, LABTIAP-BPPT, Serpong, Tangerang Selatan.
Pengambilan contoh tanah
Pengambilan contoh tanah dilakukan di 2 tempat yaitu pada perkebunan kelapa sawit PT. Buana Karya Bhakti (PT. BKB), Kalimantan Selatan dilakukan pada lokasi perkebunan BKB dan pada perkebunan kelapa sawit PT. Kalteng Andinipalma Lestari, Kalimantan Tengah (PT KAL). Sampling dilakukan pada musim hujan dan musim kemarau. Metode yang digunakan dalam pengambilan contoh tanah pada perkebunan kelapa sawit adalah metode komposit yang dilakukan secara sistematik yaitu menggunakan sistem diagonal atau zig- zag (Gambar 1). Pada luasan 30 ha diambil sebanyak 20-30 contoh tanah komposit. Pada setiap titik pengambilan contoh tanah tersebut dilakukan pengambilan pada area piringan, jalur mati, jalur angkong. Untuk maing-masing area tersebut pada satu titik pengambilan contoh diambil sebanyak 1-5 contoh tanah secara acak dan dilakukan komposit hingga diperoleh sebanyak 20-30 contoh tanah komposit untuk masing-masing contoh tanah pada piringan, jalur angkong, jalur mati.
Gambar 1 Titik pengambilan anak contoh untuk contoh komposit dengan pola zigzag (Diambil dari Husen, 2007).
Gambar 2 Pengambilan contoh tanah meliputi 4 area untuk setiap titik pengambilan contoh tanah
5 Adapun pengambilan contoh tanah tanah komposit tersebut dilakukan sebagai berikut:
Rumput-rumput, gulma, batu batuan atau kerikil, sisa tanaman atau bahan organik segar/serasah yang terdapat dipermukaan tanah di bersihkan.
Contoh tanah non rizosfir individu diambil menggunakan bor tanah. Contoh tanah individu diambil pada titik pengambilan yang telah ditentukan sebanyak satu titik untuk masing-masing area piringan, jalur angkong, jalur mati dan feeding area, yaitu sedalam +20 cm atau sedalam lapisan olah.
Contoh- contoh tanah individu tersebut dicampur dan diaduk merata dalam ember plastik, lalu bersihkan dari sisa tanaman atau akar. Setelah bersih dan teraduk rata, diambil contoh seberat kira-kira 1 kg dan dimasukkan kedalam kantong plastik (contoh tanah komposit). Pada luasan 10 ha diambil sebanyak 10 contoh tanah komposit. Pemberian label luar dan dalam. Label dalam dibungkus dengan plastik dan dimasukkan diantara plastik pembungkus supaya tulisan tidak kotor atau basah, sehingga label tersebut dapat dibaca sesampainya dilaboratorium.
Analisis kesuburan tanah dengan indikator sifat fisika dan kimia tanah
Sifat fisik tanah yang mempengaruhi kesuburan tanah adalah : solum, tekstur, struktur, kadar air tanah, drainase dan porisitas tanah. Sedangkan sifat kimia tanah meliputi : kadar unsur hara tanah, reaksi tanah (pH), kapasitas tukar kation tanah (KTK), kejenuhan basa (KB), kemasaman dapat dipertukarkan (Al dan H), dan lain- lain (Yuwono, 2007).
Tanaman membutuhkan 16 unsur hara esensial untuk pertumbuhannya. Tiga diantaranya C, H dan O disuplai dari udara dan air, sementara 13 lainya dikelompokan menjadi dua, yaitu 6 unsur hara makro dan 7 unsur hara mikro. Kelompok unsur hara makro terdiri dari N, P, K, Ca, Mg dan S, sedangkan hara mikro meliputi B, Mn, Zn, Fe,Cu, Mo, dan Cl. Unsur hara makro adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar dan unsur hara mikro dibutuhkan tanaman dalam jumlah kecil.
Kadar unsur hara tanah yang diperoleh dari data analisis tanah bila dibandingkan dengan kebutuhan unsur hara bagi masing-masing jenis tanaman, maka dapat diketahui apakah status/kadar unsur hara dalam tanah tersebut sangat rendah (kurang), rendah, sedang, cukup ataukah tinggi, sesuai kriteria tertentu (Yuwono 2007;
6
Hardjowigeno 1995). Analisis sifat fisika dan kimia tanah akan dilakukan di laboratorium mengikuti metode baku yang telah ditetapkan sebagai berikut:
A. Pengukuran sifat fisika tanah
Pengukuran variabel fisika tanah mengikuti metode yang dilakukan oleh Balai BesarLitbang Sumberdaya Lahan Pertanian (2006) sebagai berikut:
Tekstur tanah
Tanah diameter 2 mm ditimbang seberat 40 g dan dimasukkan ke dalam gelas piala 600 ml, tambahkan 2 ml 30% H2O2 dan tutup dengan kaca penutup. Diamkan 10 menit kemudian letakkan di atas tungku pemanas dan jaga suhu sekitar 90°C. Bila busa masih banyak, tambahkan 2 ml H2O2 dan tunggu 10 menit (lakukan penambahan H2O2
ini 2-3 kali dengan selang waktu 10 menit). Setelah penambahan H2O2 terakhir, biarkan di atas pemanas 30 menit. Selanjutnya, tambahkan 50 ml (NaPO3)6 dan tambahkan aquades hingga volume 500 ml. Biarkan reaksi selama 10 menit. Salin suspense tanah ke dalam cangkir dispersi. Gunakan botol semprot untuk penyempurnaan penyalinan. Kocok suspense dengan mesin pendispersi tanah selama 5 menit. Tuang suspensi tanah ke dalam silinder sedimentasi volume 1000 ml. gunakan botol pembilas untuk menyempurnakan penuangan. Tambah aquades sehingga volume akhir 1000 ml. Biarkan suhu suspense turun hingga mencapai suhu kamar. Masukkan pengaduk ke dalam silinder lalu kocok suspensi dengan sempurna. Catat waktu (detik) sewaktu pengaduk dikeluarkan. Bila masih ada busa di permukaan suspensi, teteskan 1-2 tetes aseton. Celupkan hydrometer ke dalam suspensi dengan hati-hati dan catat pembacaan (R) pada skala hydrometer tepat 30 dan 60 detik sesudah pengadukan.
Catat suhu suspensi sewaktu analisis.
B. Pengukuran sifat kimia tanah
Pengukuran variabel sifat kimia tanah mengikuti metode yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanah (2009) sebagai berikut:
7 pH tanah:
Timbang 10 g contoh tanah sebanyak dua kali, masing-masing dimasukkan ke dalam botol kocok, ditambah 50 ml air bebas ion ke botol yang satu (pH H2O) dan 50 ml KCl 1 M ke dalam botol lainnya (pH KCl). Kocok dengan mesin pengocok selama 30 menit. Suspensi tanah diukur dengan pH meter yang telah dikalibrasi menggunakan larutan sangga pH 7,0 dan pH 4,0.
Kemasaman dapat ditukar:
Ditimbang sebanyak 5 gram tanah diameter 2 mm ke dalam botol kocok 100 ml, ditambah 50 ml KCl 1 M. Campuran dikocok dengan mesin kocok selama 30 menit kemudian disaring. Ekstrak jernih dipipet 10 ml ke dalam Erlenmeyer, dibubuhi penunjuk PP kemudian dititrasi dengan larutan NaOH baku sampai warna merah jambu. Tambahkan sedikit larutan baku HCl agar warna merah jambu tepat hilang.
Tambah 2 ml NaF 4% (warna ekstra akan merah kembali). Kemudian dititrasi dengan larutan baku HCl sampai warna merah tepat hilang. Kerjakan analisis blanko.
P tersedia metode Olsen:
Timbang 1 gram contoh tanah diameter 2 mm, dimasukkan ke dalam botol kocok, ditambah 20 ml pengekstrak olsen, kemudian dikocok selama 30 menit.
Disaring dan bila larutan keruh, kembalikan lagi ke atas saringan semula. Ekstrak dipipet 2 ml ke dalam tabung reaksi dan selanjutnya bersama deret standar ditambahkan 10 ml pereaksi pewarna fosfat, kocok hingga homogen dan biarkan 30 menit. Absorbansi larutan diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 889 nm.
C organik:
Ditimbang 0,5 gram contoh tanah ukuran 0,5 mm, dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml. ditambahkan 5 ml K2Cr2O7 1 N, lalu dikocok. Ditambahkan 7,5 ml H2SO4
pekat, dikocok lalu diamkan selama 30 menit. Diencerkan dengan air bebas ion, biarkan dingin dan diimpitkan. Keesokan harinya diukur absorbansi larutan jernih dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 561 nm. Sebagai pembanding
8
dibuat standar 0 dan 250 ppm, dengan memipet 0 dan 5 ml larutan standar 5000 ppm ke dalam labu ukur 100 ml dengan perlakuan yang sama dengan pengerjaan contoh.
N total tanah:
Ditimbang 0,5 g contoh tanah ukuran diameter 0,5 m, dimasukkan ke dalam tabung digest. Ditambahkan 1 g campuran selen dan 3 ml asam sulfat pekat, didestruksi hingga suhu 350°C (3-4 jam). Destruksi selesai bila keluar uap putih dan didapat ekstrak jernih (sekitar 4 jam). Tabung diangkat, dinginkan dan kemudian ekstrak diencerkan dengan air bebas ion hingga tepat 50 ml. Kocok sampai homogen, biarkan semalam agar partikel mengendap. Pindahkan secara kualitatif seluruh ekstrak contoh ke dalam labu didih. Tambahkan sedikit serbuk batu didih dan aquades hingga setengah volume labu. Disiapkan penampung untuk NH3 yang dibebaskan yaitu Erlenmeyer yang berisi 10 ml asam borat 1% yang ditambah tiga tetes indikator Conway dan dihubungkan dengan alat destilasi. Dengan gelas ukur, tambahkan NaOH 40% sebanyak 10 ml ke dalam labu didih yang berisi contoh dan secepatnya ditutup.
Didestilasi hingga volume penampung mencapai 50-75 ml (berwarna hijau). Destilat dititrasi dengan H2SO4 0,05 N hingga merah muda. Catat volume titar contoh dan blanko. Pipet ke dalam tabung reaksi masing-masing 2 ml ekstrak dan deret standar.
Tambahkan berturut-turut larutan sangga Tartrat dan Na-fenat masing-masing sebanyak 4 ml, kocok dan biarkan 10 menit. Tambahkan 4 ml NaOCl 5%, kocok dan diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 636 nm setelah 10 menit sejak pemberian pereaksi ini.
Kation-kation basa dan KTK:
Ditimbang 2,5 gram tanah ukuran 2 mm, lalu dicampur dengan lebih kurang 5 gram pasir kuarsa. Dimasukkan ke dalam tabung perkolasi yang telah dilapisi berturut- turut dengan filter pulp dan pasir terlebih dahulu dan lapisan atas ditutup dengan penambahan 2,5 gram pasir. Ketebalah setiap lapisan pada sekeliling tabung diupayakan supaya sama. Siapkan pula blanko dengan pengerjaan seperti contoh tapi tanpa contoh tanah. Kemudian diperkolasi dengan ammonium acetat pH 7,0 sebanyak 2 x 25 ml dengan selang waktu 30 menit. Filtrat ditampung dalam labu ukur 50 ml, diimpitkan dengan ammonium acetat pH 7,0 untuk pengukuran kationdd: Ca, Mg, K
9 dan Na. tabung perkolasi yang masih berisi contoh diperkolasi dengan 100 ml etanol 96% untuk menghilangkan kelebihan ammonium dan perkolat ini dibuang. Sisa etanol dalam tabung perkolasi dibuang dengan pompa isap dari bawah tabung perkolasi atau pompa tekan dari atas tabung perkolasi. Selanjutnya diperkolasi dengan NaCl 10%
sebanyak 50 ml, filtrat ditampung dalam labu ukur 50 ml dan diimpitkan dengan larutan NaCl 10%. Filtrat ini digunakan untuk pengukuran KTK dengan cara destilasi seperti penetapan N tanah. Pengukuran kationdd (Ca, Mg, K dan Na) dilakukan dengan perkolat NH4-Ac dan deret standar K, Na, Ca dan Mg masing-masing dipipet 1 ml ke dalam tabung reaksi, kemudian titambah 9 ml larutan La 0,25% dan dikocok hingga homogen. Diukur dengan AAS cara absorbansi (untuk Ca dan Mg) dan cara emisi (untuk K dan Na) menggunakan deret standar sebagai pembanding.
Analisis kesuburan tanah dengan indikator sifat biologi tanah Pengukuran respirasi tanah:
Metode pengukuran respirasi tanah yang akan dilakukan mengikuti metode dari Van de Werf dan Verstraete (1987):
Masukkan 100 g contoh tanah ke dalam tabung kaca 1 L dan dua buah botol film yang masing-masing berisi 5 mL KOH 0,2 N dan 10 ml H2O.
Tabung kaca ditutup rapat kemudian diinkubasikan di tempat gelap pada suhu kamar selama satu minggu.
Pada akhir inkubasi, diambil botol film yang berisi KOH kemudian ditetesi dua tetes fenoptalin dan dititrasi dengan HCl 0,1 N sampai warna merah muda menjadi bening.
Kemudian ditetesi dengan dua tetes metil orange dan dititrasi dengan HCl 0,1 N hingga warna kuning berubah menjadi merah muda.
Lakukan juga untuk blanko
Perhitungan: 𝑟 = (𝑎−𝑏)×𝑡×1,2×100 𝑛
Keterangan:
r = jumlah CO2 yang dihasilkan a = ml HCl titrasi untuk contoh tanah b = ml HCl titrasi blanko
t = normalitas HCl n = jumlah hari inkubasi
10
100 = 100 g contoh tanah
1,2 = diperoleh dari perhitungan sebagai berikut 1 ml HCl 0,1 N = 1 x 0,1 = 0,1 me HCl 0,1 me HCl setara 0,1 me CO2
0,1 x 44 mg CO2 = 4,4 mg CO2 (berat molekul CO2 = 44) C / CO2 = (12/44) x 4,4 mg = 1,2 mg CO2-C
Enumerasi total bakteri, aktinomiset dan cendawan
Enumerasi total populasi bakteri, cendawan dan aktinomiset pada rizosfer tanaman kelapa sawit dilakukan dengan metode total plate count (TPC) atau metode agar cawan sesuai yang disampaikan oleh Hastuti dan Ginting (2007). Metode agar cawan biasa disebut juga cawan pengenceran (dilution-plate atau dilution-count).
Prinsip dasar metode cawan pengenceran adalah tiap sel mikroba yang hidup dalam suspensi tanah akan berkembang dan membentuk suatu koloni dalam kondisi lingkungan yang sesuai. Hitungan total yang diperoleh menunjukkan jumlah sel yang berkembang pada medium yang dipakai pada kondisi inkubasi tertentu. Untuk menumbuhkan mikroba hasil pengenceran di dalam cawan Petri dapat dilakukan dengan metode sebar (spread plate count) atau metode tuang (pour plate count).
Metode tuang dilakukan dengan cara menuang 20 ml medium steril dengan suhu kira- kira 45-50oC di atas 1 ml larutan pengenceran yang sudah dimasukkan ke dalam cawan Petri steril. Selanjutnya cawan Petri tersebut digoyang berputar dengan tangan di atas permukaan meja, lalu didinginkan biar agar menjadi beku.
Metode sebar dilakukan dengan cara menuang 20 ml medium steril terlebih dahulu ke dalam cawan Petri dan dibiarkan menjadi dingin, kemudian suspensi pengenceran 100 µL disebar merata dipermukaan agar menggunakan batang penebar.
Jumlah mikrob yang tumbuh pada permukaan media dihitung sebagai colony forming units (CFU) atau satuan bentuk koloni per gram tanah (Hastuti dan Ginting, 2007).
Pembuatan seri pengenceran contoh tanah dilakuan dengan menggunakan larutan garam fisiologis (85% NaCl) sebagai berikut: ditimbang 10 g tanah dan dimasukkan ke dalam botol tertutup yang berisi 95 ml larutan NaCl 0.85 % dan satu tetes tween 80 steril (Beberapa buku manual menggunakan 90 ml larutan pengencer).
Beberapa metode pengenceran menggunakan 0,1 % pepton sebagai pengencer. Catat berat tanah. Kocok selama 2 menit, beri label pada botol pengenceran 10-1. Setelah dikocok, pindahkan 1 ml larutan tanah ke tabung reaksi yang berisi 9 ml larutan NaCl
11 steril. Kocok dengan vortex, dan beri label pengenceran 10-2. Gunakan pipet yang baru pada setiap pemindahan 1 ml larutan. Pengenceran dilakukan sampai pada pengenceran 10-7.
Media yang akan digunakan untuk enumerasi total bakteri adalah media nutrien agar (NA). Media untuk cendawan adalah menggunakan potato dextrose agar (PDA) dengan penambahan chloramphenicol 0.1 mg/L dan untuk aktinomisetes adalah Rose bengal-malt extract agar: timbang 20 g malt ekstrak; 0,5 g K2HPO4; 1 ppm masing – masing Fe, Mn, Cu, Zn, Mo, B, Co (penambahan sebagai garam – garam terlarut, bukan sebagai nitrat), rose bengal (1 per 15000); 20 g agar dan masukkan ke dalam 1 L akuades pH 6,0 – 6,2. Semua media disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 121oC dan tekanan 0,1 Mpa selama 15 menit. Setelah suhu media menjadi 40-60oC selanjutnya dituang ke cawan Petri.
Penyebaran (plating) mikroba dilakukan dengan memipet sebanyak 0,1 ml larutan tanah pada pengenceran serial 10-4-10-7 (bakteri), 10-2-10-5 (cendawan), dan 10-3-10-6 (aktinomisetes) dan teteskan di bagian tengah cawan Petri pada permukaan agar. Setiap pengenceran diulang dua kali (duplo). Pemindahan dimulai dari pengenceran 10-7. Selanjutnya sebar dengan batang penyebar steril (celupkan batang penyebar dalam etanol dan bakar, setelah diperkirakan dingin baru digunakan). Beri label di bagian pinggir tiap cawan Petri (gunakan kode singkatan pengenceran).
Inkubasi cawan Petri pada posisi terbalik selama 3-4 hari (bakteri), 5-7 hari (cendawan), dan 10-12 hari (aktinomisetes) pada suhu 25oC. Lakukan semua proses pengenceran dan penyebaran secara aseptis.
Penghitungan koloni mikrob dilakukan sebagai berikut: total populasi bakteri dihitung hanya dari cawan Petri yang mempunyai 30-300 koloni, cendawan 10-100 koloni, dan aktinomisetes 30-300 koloni.
Perhitungan:
Total populasi (CFU) g-1 tanah kering = (Jumlah Koloni) x (fp) bk tanah
Keterangan:
fp = faktor pengenceran pada cawan petri yang koloninya dihitung bk = berat kering contoh tanah (g) = berat basah x (1 – kadar air)
12
Enumerasi total bakteri denitrifikasi
Kelimpahan bakteri denitrifikasi dihitung dengan mengunakan metode MPN (Most Probable Number) 3 tabung dengan 3 seri pengenceran yang dilakukan pada media cair.
Enumerasi bakteri denitrifikasi dilakukan dengan mengikuti metode Trolldenier (1995): sebanyak 1 mL dari seri pengenceran larutan tanah, diinokulasikan ke dalam tabung berisi 9 mL media NB (nutrient broth) yang mengandung nitrat (KNO3).
Setelah diinkubasi, tabung yang menghasilkan gas (dalam tabung durham) dihitung sebagai tabung positif untuk perhitungan MPN 3 tabung per seri pengenceran.
Pembuatan media yang digunakan adalah sebagai berikut: larutkan 8 g nutrient broth dan 1.5 g dalam 1 Liter air demin. Masukan sebanyak 9 ml dalam tabung reaksi dan masukan tabung durham secara terbalik, hilangkan gelembung dalam tabung durham dengan divorteks dan disterilisasi 20 menit 121oC t. Inokulasikan sebanyak 1 mL dari masing-masing seri pengenceran sesuai perhitungan tabel MPN 3 tabung. Inkubasi tabung selama 72 jam pada suhu 25oC. Terbentuknya gas yang terlihat pada tabung durham menunjukan positif denitrifikasi.
Enumerasi total bakteri nitrifikasi
Kelimpahan bakteri nitrifikasi dihitung menggunakan metode MPN seperti pada enumerasi total denitrifikasi yaitu dengan MPN 3 tabung per seri pengenceran.
sebanyak 1 ml dari seri pengenceran larutan tanah diinokulasikan ke dalam 9 ml tabung reaksi berisi mineral nutrient media yang mengandung ammonium atau nitrite. Setelah diinkubasi selama 4 minggu diamati perubahan warna media.
Perubahan warna media pada tabung menjadi kuning (asam) menujukan tabung positif untuk kemudian dihitung menggunakan tabel MPN. Pembuatan seri pengenceran larutan tanah menggunakan garam fisiologis (0.85% NaCl) seperti pada metode enumerasi total mikrob.
Media yang digunakan yaitu sebanyak 1 ml dari seri pengenceran larutan tanah diinokulasikan ke dalam 9 ml tabung reaksi berisi mineral nutrient media yang mengandung ammonium atau nitrite. Setelah diinkubasi selama 4 minggu diamati perubahan warna media. Perubahan warna media pada tabung menjadi kuning (asam)
13 menujukan tabung positif untuk bakteri nitrifikasi pengoksidasi ammonium (ammonium oxidizers). Untuk bakteri nitrifikasi pengoksidasi nitrit (nitrite oxidizers) dilakukan tes pada media yang mengandung nitrit mengikuti metode (Keeney and Nelson 1982. Tidak ditemukannnya nitrit menunjukan tabung positi untuk selanjutnya dihitung menggunakan Tabel MPN 3 tabung.
Enumerasi total bakteri penambat N2 hidup bebas
Kelimpahan bakteri penambat N2 hidup bebas dihitung menggunakan metode MPN seperti dijelaskan di atas, media yang digunakan adalah media selektif yang digunakan untuk perhitungan total bakteri penambat nitrogen hidup bebas adalah NFb (Nitrogen free bromthymol) dengan komposisi per liter: asam malat 5.0 g, K2HPO4
0.5 g, MgSO4.7H2O 0.2 g, NaCl 0.1 g, CaCl2.2H2O 0.02 g. larutan unsur mikro 2 ml (CuSO4.5H2O 0.4 g, ZnSO4.7H2O 0.12 g, H3BO3 1,13 g, Na2MoO4 1,0 g, MnSO4.H2O 1.5 g per liter air suling), larutan bromthymol blue 0.5% dalam 2 N KOH 2 ml, FeEDTA 1.64% 4 ml, vitamin 1 ml (Biotin 10 mg dan Pyriodoxol-HCl 20 mg ditera menjadi 100 ml dengan pelarut air suling) dan agar 1.75 g. pH larutan diatur hingga 6.8 dengan pemberian KOH. 1 ml larutan suspensi tanah dari seri pengenceran tertentu ditambahkan ke media NFb dan diinkubasi selama 1 minggu. Penambatan Nitrogen oleh bakteri akan menyebabkan kenaikan pH media karena membentuk NH4+, sehingga akan terjadi perubahan warna dari hijau menjadi biru dan akan membentuk pelikel putih di bawah permukaan yang menunjukan tabung positif untuk perhitungan pada tabel MPN 3 tabung.
Enumerasi total bakteri pelarut fosfat
Kelimpahan bakteri pelarut fosfat dihitung menggunakan metode plate count agar (metode cawan tuang) seperti dijelaskan di atas. Media yang digunakan adalah media Pikovskaya, dengan komposisi sebagai berikut: Glukosa 10 g Ca3PO4 2,84 g, (NH4)2SO4 0,5g, NaCl 2g, KCl 0,2 g, MgSO4. 7H2O 0,1 g, Yeast Extract 0,5g, MnSO4.2H2O 0,002g, FeSO4. 7H2O 0,002g, Aquades 500 ml. Sebanyak 100 µl suspensi tanah dari seri pengenceran tertentu disebar pada media agar cawan Pikovskaya. Selanjutnya diinkubasi pada suhu kamar selama 3-5 hari pada suhu 25- 280 C di dalam inkubator. Koloni yang dikelilingi zona bening merupakan koloni yang
14
memiliki kemampuan melarutkan fosfat sukar larut, selanjutnya dihitung kelimpahannya dalam CFU/gram tanah.
Pengukuran kepadatan tanah
Pengukuran kepadatan tanah dilakukan menggunakan Dickey John Soil Compaction Tester (Gambar 3). Pengukuran dilakukan pada kedalaman 3 inch; 6 inch dan 9 inch pada masih-masing titik. Titik-titik pengukuran yang dilakukan sama dengan titik-titik pengambilan contoh tanah yaitu pada setiap titik pengambilan anak contoh dilakukan 5 kali pengukuran untuk setiap titik pada area piringan, jalur mati, jalur angjkong dan feeding area, sehingga pada luasan 30 ha akan dilakukan 30 titik pengukuran.
Gambar 3 DICKEY-john soil compaction tester
Analisis produktivitas tanaman kelapa sawit
Metode yang digunakan dalam analisis produktivitas tanaman kelapa sawit adalah metode survei untuk memperoleh data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari manajemen perusahaan kelapa sawit melalui teknik wawancara. Data skunder diperoleh dari berbagai sumber dan instansi-instansi terkait. Observasi dilakukan dengan mengamati kondisi yang sebenarnya di lapang. Studi pustaka dilakukan juga dalam rangka untuk memperoleh informasi akurat terkait kajian produktivitas kelapa sawit pada sistem integrasi sawit-sapi.
15 HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Analisis Sampel Tanah PT. KAL, Kalimantan Tengah 1. Hasil Analisis Fisika dan Kimia Tanah
1.a. Hasil analisis fifika-kimia tanah musim hujan
Sifat fisika tanah menentukan berbagai proses-proses penting yang terjadi di dalam tanah (Gambar 4) dan potensi agronomi dari tanah. Tekstur tanah merupakan ukuran distribusi partikel dari mineral penyusun tanah yang terdiri dari fraksi padat (dari liat
<2 μm hingga partikel kwarsa >2000 μm) yang mungkin merupakan faktor terpenting karena menentukan sifat fisik tanah lainnya seperti kecepatan infiltrasi dan juga sifat kimia tanah seperti kapasitas tukar kation (KTK). Struktur tanah menggambarkan susunan partikel mineral dan bahan organik di dalam tanah dan terutama menggambarkan susunan pori antar partikel dan juga stabilitas agregat dari daya gerus luar seperti tetesan air hujan. Tidak seperti tekstur tanah, struktur tanah dapat diatur melalui pengelolaan tanah. Distribusi ruang pori dan tekstur tanah menentukan sifat retensi air tanah yang mencirikan hubungan antar kadar air dalam tanah (Delgado dan Go´mez, 2016).
Gambar 4 Deskripsi kunci sifat fisika tanah yang terkait dengan pengolahan dan pengelolaan tanah (diambil dari Delgado dan Go´mez, 2016)
Sampling tanah yang dilakukan pada musim penghujan dilakukan pada blok G21 (grazing rotasi ke-26), blok G22 (grazing rotasi ke-33), blok L21 (ungrazing), blok L23 (ungrazing). Berdasarkan informasi awal data dari PT. Kalimantan Andini Lestari (KAL), tesktur tanah pada blok-blok tersebut adalah liat berlempung (clay loam).
16
Topografi blok G21 dan G22 datar, Blok L21 sedikit bergelombang dan Blok L23 bergelombang. Hasil pengukuran variabel fisika tanah area ungrazing dan grazing sampel tanah komposit Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel 1. Hasil tersebut menunjukan bahwa tekstur tanah antar area grazing dan ungrazing berbeda. Tekstur tanah pada area grazing adalah liat berlempung (clay loam) sedangkan pada area ungrazing adalah lempung liat berpasir (sandyclay loam) dan lempung (loam).
Tabel 1 Hasil pengukuran parameter sifat kimia tanah sampel tanah musim hujan PT. KAL
No Parameter Satuan
Jalur Angkong Jalur Mati Piringan
Ungrazing 1 ( L21)
Grazing rotasi 26 (G21)
Ungrazing 1 ( L21)
Grazing rotasi 26 (G21)
Ungrazing 1 ( L21)
Grazing rotasi 26 (G21)
1 C-Organik % 1.20(r) 2.05(s) 1.69(r) 2.06(s) 1.76(r) 2.34(s)
2 N-Total % 0.08 (sr) 0.15(r) 0.09(sr) 0.14(r) 0.10(r) 0.14(r)
3 C/N Ratio - 13(s) 13(s) 17(t) 14(s) 18(t) 16(t)
4 P2O5 Tersedia ppm 4.11(sr) 3.60(sr) 5.37(r) 3.07(sr) 5.61(r) 5.03(r) 5 P2O5 Potensial mg/100g 6.55(sr) 14.6(sr) 5.40(sr) 2.00(sr) 13.65(r) 29.35(s) 6 K2O Potensial mg/100g 2.06 (sr) 8.39(sr) 2.24(sr) 4.94(sr) 1.70(sr) 6.39(sr) 7 K-dd cmol(+)/kg 0.05(sr) 0.06(sr) 0.04(sr) 0.05(sr) 0.04(sr) 0.08(sr) 8 Na-dd cmol(+)/kg 0.00(sr) 0.12(r) 0.03(sr) 0.00(sr) 0.07(sr) 0.11(r) 9 Ca-dd cmol(+)/kg 0.38(sr) 0.27(sr) 0.35(sr) 0.16(sr) 0.88(sr) 0.87(sr) 10 Mg-dd cmol(+)/kg 0.03(sr) 0.08(sr) 0.06(r) 0.04(sr) 0.30(sr) 0.30(sr)
11 Al-dd cmol(+)/kg 1.16 3.85 1.06 3.80 0.54 2.41
12 H-dd cmol(+)/kg 0.26 0.85 0.33 0.94 0.45 0.69
13 KTK cmol(+)/kg 4.84(sr) 8.35(r) 4.30(sr) 6.50(r) 4.44(r) 7.87(r)
14 KB % 10.45 6.22 11.23 3.97 27.14 17.30
16 pH H2O - 5.73(am) 5.09(m) 5.75(am) 5.01(m) 6.01(am) 5.28(m)
17 pH KCl - 4.19(m) 3.82(am) 4.18(r) 3.81(m) 4.46(am) 3.95(m)
No Parameter Satuan
Jalur Angkong Jalur Mati Piringan
Ungrazing 2 (L23)
Grazing rotasi 33
(G22)
Ungrazing 2 (L23)
Grazing rotasi 33
(G22)
Ungrazing 2 (L23)
Grazing rotasi 33
(G22)
1 C-Organik % 1.20(r) 2.05(s) 1.69(r) 2.06(s) 1.76(r) 2.34(s)
2 N-Total % 0.08 (sr) 0.15(r) 0.09(sr) 0.14(r) 0.10(r) 0.14(r)
3 C/N Ratio - 13(s) 13(s) 17(t) 14(s) 18(t) 16(t)
4 P2O5 Tersedia ppm 4.11(sr) 3.60(sr) 5.37(r) 3.07(sr) 5.61(r) 5.03(r) 5 P2O5 Potensial mg/100g 6.55(sr) 14.6(sr) 5.40(sr) 2.00(sr) 13.65(r) 29.35(s) 6 K2O Potensial mg/100g 2.06 (sr) 8.39(sr) 2.24(sr) 4.94(sr) 1.70(sr) 6.39(sr) 7 K-dd cmol(+)/kg 0.05(sr) 0.06(sr) 0.04(sr) 0.05(sr) 0.04(sr) 0.08(sr) 8 Na-dd cmol(+)/kg 0.00(sr) 0.12(r) 0.03(sr) 0.00(sr) 0.07(sr) 0.11(r) 9 Ca-dd cmol(+)/kg 0.38(sr) 0.27(sr) 0.35(sr) 0.16(sr) 0.88(sr) 0.87(sr) 10 Mg-dd cmol(+)/kg 0.03(sr) 0.08(sr) 0.06(r) 0.04(sr) 0.30(sr) 0.30(sr)
11 Al-dd cmol(+)/kg 1.16 3.85 1.06 3.80 0.54 2.41
12 H-dd cmol(+)/kg 0.26 0.85 0.33 0.94 0.45 0.69
13 KTK cmol(+)/kg 4.84(sr) 8.35(r) 4.30(sr) 6.50(r) 4.44(r) 7.87(r)
14 KB % 10.45 6.22 11.23 3.97 27.14 17.30
16 pH H2O - 5.73(am) 5.09(m) 5.75(am) 5.01(m) 6.01(am) 5.28(m)
17 pH KCl - 4.19(m) 3.82(am) 4.18(r) 3.81(m) 4.46(am) 3.95(m)
Keterangan: sr=sangat rendah; r=rendah; s=sedang; t=tinggi; st: sangat tinggi; sm=sangat masam; m=masam
17 Tabel 2 Hasil analisis tekstur tanah sampel tanah asal PT. KAL musim hujan
Lokasi Sampling Pasir
%
Debu
%
Klei
%
Kadar
air (%) Tekstur
Jalur Angkong
Ungrazing 1 ( L21) 66 8 26 24 Sandy Clay loam Ungrazing 2 (L23) 37 40 23 33 Loam
Grazing rotasi 26 (G21) 21 42 37 29 Clay loam Grazing(rotasi 33 (G22) 34 33 33 28 Clay loam
Jalur Mati
Ungrazing 1 ( L21) 68 8 24 28 Sandy Clay loam Ungrazing 2 (L23) 36 41 23 35 Loam
Grazing rotasi 26 (G21) 21 41 38 34 Clay loam Grazing(rotasi 33 (G22) 36 33 31 35 Clay Loam
Piringan
Ungrazing 1 ( L21) 66 9 25 26 Sandy Clay loam Ungrazing 2 (L23) 32 46 22 32 Loam
Grazing rotasi 26 (G21) 21 44 35 31 Clay loam Grazing(rotasi 33 (G22) 35 33 32 33 Clay loam
Tabel 3 Hasil analisis anova sifat fisika dan kimia tanah Sampal tanah PT. KAL musim hujan
Keterangan: angka pada baris yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada α=5%
Hasil analisis sampel tanah PT. KAL yang diambil pada musim penghujan menunjukan bahwa nilai KTK secara nyata lebih tinggi pada area grazing dibandingkan ungrazing, demikian juga dengan kadar P2O5 dan K2O. Pada area grazing (rotasi 26 dan rotasi 33) memiliki tekstur clay, sedangkan area non grazing
Variabel Ungrazing Rotasi 26 Rotasi 33
pHH20 5.3983a 5.1189b 5.1922ab
pHKCl 4.01944a 3.88667b 3.85556ab
C-Organik 1.9489a 2.1533a 1.9478a
N total 0.115b 0.14667a 0.13111ab
C/N ratio 16.611a 14.667a 14.889a
P205 total 4.63b 3.9711b 6.4389ab
P205Pot 9.767b 18.642a 22.264a
K20 potensial 3.59b 5.6189a 5.8944a
K+ 0.05889a 0.06333a 0.06444a
Na+ 0.03722b 0.08b 0.27667a
Ca+ 0.3844a 0.4422a 0.4789a
Mg+ 0.06833a 0.14a 0.11667a
KTK 5.6317b 7.6889a 7.8367a
KBasa 10.888a 9.189a 11.338a
Al3+ 2.1378a 3.3733b 2.8444c
H+ 0.59111b 0.81889a 0.75444ab
Pasir 50.833a 21.333c 35.111b
Debu 25.389c 42a 32.889b
Klei 23.778c 36.444a 31.778b
18
(Blok L21 dan L23) memiliki tekstur sandy clay loam. Tanah terdiri dari pasir, debu, liat dan bahan organik. Tanah dengan kandungan pasir yang tinggi memiliki daya ikat yang rendah terhadap kation. KTK tanah berpasir berkisar antara 1-5 meq/100g dan KTK tanah liat berkisar 25-100meq/100g. Sehingga perbedaan nilai KTK yang terjadi kemungkinan bukan karena pengaruh grazing melainkan lebih dikarenakan perbedaan kandungan liat. Kadar C-organik pada area grazing cenderung lebih tinggi dibandingkan area ungrazing walaupun tidak secara nyata, selain karena tektur tanah kemungkinan juga ada pengaruh grazing terhadap kandungan bahan organik tanah, mengingat bahwa faktor lainnya seperti iklim, pengelolaan tanah, penggunaan lahan dan faktor lingkungan lainnya relatif sama.
Kadar nitrogen total pada area grazing secara nyata lebih tinggi dibandingkan area ungrazing. Hal yang sama juga dengan kadar P2O5 dan K2O potensial. Hal ini menunjukan bahwa ada pengaruh grazing terhadap peningkatan kadar C-organik, N- total, P2O5 dan K2O potensial. Kandungan liat dan bahan organik dalam tanah mempengaruhi kesuburan tanah secara langsung. Semakin tinggi kandungan liat dan bahan organik tanah maka tanah semakin subur.
1.b. Hasil analisis fisika-kimia tanah musim kemarau
Sampling pada musim kemarau dilakukan pada blok grazing dan ungrazing yang berbeda dikarenakan kendala teknis pada saat sampling yang tidak memungkinkan sampling dilakukan pada blok yang sama. Tujuan dilakukan pengambilan sampling pada musim yang berbeda adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh perbedaan musim berdampak pada pengaruh grazing dan ungrazing terhadap kesuburan tanah baik sifat fisik, kimia maupun biologi tanah. Sampling tanah pada musim kemarau dilakukan pada blok F21 (grazing rotasi ke-27), blok F22 (grazing rotasi ke-29), blok F28 (ungrazing), blok F25 (ungrazing). Berdasarkan informasi awal data dari PT. Kalimantan Andini Lestari (KAL), tesktur tanah pada blok-blok tersebut adalah liat berlempung (clay loam). Topografi blok F21, F22 dan G28 sedikit bergelombang, sedangkan Blok F25 curam. Hasil analisis tekstur tanah menunjukan bahwa pada area grazing adalah liat berlempung (clay loam) sedangkan pada area ungrazing adalah liat (clay).
19 Hasil analisis kimia tanah pada musim kemarau menunjukan bahwa kadar C- organik dan N-total pada area ungrazing lebih tinggi dari area grazing, namun tidak ada perbedaan yang nyata untuk variabel kimia tanah yang lainnya. Sifat KTK dan Kejenuhan basa yang berbeda kemungkinan lebih dikarenakan perbedaan tekstur tanah. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa perbedaan sifat kimia tanah area grazing dan ungrazing lebih dikarenakan pengaruh kompleksitas faktor-faktor lain dibandingkan pengaruh dari faktor grazing.
Tabel 4 Hasil pengukuran parameter sifat kimia tanah sampel tanah musim kemarau PT. KAL
No Parameter Satuan
Jalur Angkong Jalur Mati Piringan
Ungrazing (G28)
Grazing rotasi 27 (F21)
Ungrazing (G28)
Grazing rotasi 27 (F21)
Ungrazing (G28)
Grazing rotasi 27 (F21)
1 C-Organik % 3.74 (t) 1.80 (r) 4.50 (t) 2.33 (s) 4.62 (t) 2.25 (s)
2 N-Total % 0.20 (r) 0.12 (r) 0.26 (s) 0.15 (r) 0.26 (s) 0.14 (r)
3 C/N Ratio - 19 (t) 15 (s) 18 (t) 16 (t) 17 (t) 16 (t)
4 P2O5 Tersedia ppm 3.88 (sr) 2.81 (sr) 3.33 (sr) 1.38 (sr) 5.29 (r) 4.07 (sr) 5 P2O5 Potensial mg/100g 12.10 (sr) 18.17 (r) 10.28 (sr) 13.95 (sr) 117.73 (st) 33.56 (s) 6 K2O Potensial mg/100g 29.36 (sr) 8.62 (sr) 14.53 (r) 10.35 (r) 31.86 (sr) 11.75 (r) 7 K-dd cmol(+)/kg 0.08 (sr) 0.23 (r) 0.11 (r) 0.08 (sr) 0.12 (r) 0.07 (sr) 8 Na-dd cmol(+)/kg 0.05 (sr) 0.08 (sr) 0.08 (sr) 0.10 (r) 0.19 (r) 0.06 (sr) 9 Ca-dd cmol(+)/kg 0.35 (sr) 0.17 (sr) 0.38 (sr) 0.50 (sr) 1.46 (sr) 1.08 (sr) 10 Mg-dd cmol(+)/kg 0.06 (sr) 0.18 (sr) 0.05 (sr) 0.20 (sr) 0.62 (r) 0.69 (r)
11 Al-dd cmol(+)/kg 2.42 2.69 2.62 2.40 1.50 1.51
12 H-dd cmol(+)/kg 1.21 1.19 1.30 1.44 0.79 1.30
13 KTK cmol(+)/kg 12.05 (r) 8.15 (r) 13.71 (r) 9.14 (r) 13.91 (r) 8.47 (r)
14 KB % 4.34 (sr) 6.11 (sr) 4.39 (sr) 9.89 (sr) 16.32 (sr) 21.74 (r)
16 pH H2O - 5.57 (am) 5.04 (m) 5.26 (m) 5.01 (m) 5.52 (am) 5.39 (m)
17 pH KCl - 4.02 3.84 4.00 3.85 4.13 3.97
No Parameter Satuan
JalurAngkong JalurMati Piringan
Ungrazing 2 (F25)
Grazing 29 rotasi (F22)
Ungrazing 2 (F25)
Grazing 29 rotasi (F22)
Ungrazing 2 (F25)
Grazing 29 rotasi (F22)
1 C-Organik % 3.72 (t) 2.60 (s) 4.97 (t) 2.66 (s) 4.75 (t) 2.62 (s)
2 N-Total % 0.22 (s) 0.16 (r) 0.25 (s) 0.17 (r) 0.26 (s) 0.11 (r)
3 C/N Ratio - 17 (t) 16 (t) 20 (t) 16 (t) 18 (t) 36 (t)
4 P2O5 Tersedia ppm 1.74 (sr) 1.94 (sr) 2.47 (sr) 1.63 (sr) 2.07 (sr) 2.65 (sr) 5 P2O5 Potensial mg/100g 9.50 (sr) 13.09 (sr) 11.29 (sr) 16.97 (r) 11.65 (sr) 31.39 (s) 6 K2O Potensial mg/100g 13.88 (r) 11.04 (r) 14.62 (r) 8.36 (sr) 15.50 (r) 9.32 (sr) 7 K-dd cmol(+)/kg 0.05 (sr) 0.05 (sr) 0.07 (sr) 0.03 (sr) 0.09 (sr) 0.04 (sr) 8 Na-dd cmol(+)/kg 0.24 (r) 0.16 (r) 0.07 (sr) 0.07 (sr) 0.27 (r) 0.07 (sr) 9 Ca-dd cmol(+)/kg 0.18 (sr) 0.44 (sr) 0.27 (sr) 0.55 (sr) 0.55 (sr) 0.90 (sr) 10 Mg-dd cmol(+)/kg 0.11 (sr) 0.20 (sr) 0.09 (sr) 0.26 (sr) 0.43 (r) 0.33 (sr)
11 Al-dd cmol(+)/kg 3.84 2.52 4.26 2.12 3.19 2.01
12 H-dd cmol(+)/kg 1.75 1.03 1.42 1.59 1.29 1.30
13 KTK cmol(+)/kg 13.43 (r) 9.64 (r) 15.71 (r) 9.09 (sr) 15.18 (r) 9.56 (r)
14 KB % 2.81 (sr) 8.64 (sr) 3.15 (sr) 9.90 (r) 7.38 (sr) 14.11 (sr)
16 pH H2O - 5.07 (m) 5.30 (m) 5.07 (m) 5.20 (m) 5.31 (m) 5.36 (m)
17 pH KCl - 3.93 3.94 3.91 3.91 3.99 3.94
Keterangan: sr=sangat rendah; r=rendah; s=sedang; t=tinggi; st: sangat tinggi; sm=sangat masam; m=masam
20
Tabel 5 Hasil analisis tekstur tanah sampel tanah asal PT. KAL musim kemarau
Lokasi Sampling Pasir
%
Debu
%
Klei
%
Kadar
air (%) Tekstur
Jalur Angkong
Ungrazing (G28) 12 10 78 34.68 Clay Ungrazing (F25) 15 14 71 30.96 Clay Grazing rotasi 27 (F21) 27 46 27 14.02 Clay loam Grazing rotasi 29 (F25) 28 37 35 18.55 Clay loam
Jalur Mati
Ungrazing (G28) 17 3 80 38.57 Clay Ungrazing (F25) 17 15 68 41.59 Clay Grazing rotasi 27 (F21) 26 46 29 17.15 Clay loam Grazing rotasi 29 (F25) 30 37 33 18.32 Clay loam
Piringan
Ungrazing (G28) 14 4 82 34.24 Clay Ungrazing (F25) 15 15 71 36.10 Clay Grazing rotasi 27 (F21) 26 47 27 15.34 Clay loam Grazing rotasi 29 (F25) 28 36 36 18.76 Clay loam
Tabel 6 Hasil analisis anova sifat fisika dan kimia tanah Sampal tanah PT. KAL musim kemarau
Variabel Ungrazing Rotasi 27 (F21) Rotasi 29 (F25)
pHH20 5.221a 5.150a 5.284a
pHKCl 3.997a 3.887b 3.929ab
C-Organik 4.382a 2.124b 2.628b
N 0.242a 0.136b 0.144b
C/N ratio 18.111a 15.667a 22.667a
P205 total 3.131a 2.754a 2.074a
P205Pot 28.757a 21.893a 20.483a
K20 Pot 19.960a 10.240a 9.573a
K+ 0.085a 0.126a 0.040a
Na+ 0.152a 0.079a 0.099a
Ca+ 0.531a 0.586a 0.632a
Mg+ 0.226a 0.356a 0.263a
KTK 13.999a 8.584b 9.431b
KBasa 6.401b 12.578a 10.883a
Al3+ 2.971a 2.200b 2.217b
H+ 1.293a 1.308a 1.304a
Pasir 12.267a 26.333a 28.667a
Debu 9.733 46.222 36.778
Klei 71.533 27.444 34.556
Keterangan: angka pada baris yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada α=5%