BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.4 Hasil Uji Hipotesis
3. Agreement (X2) terhadap Motivasi Belajar (Y2)
Variabel agreement merupakan variabel yang memiliki nilai koefisien terbesar yang memberikan pengaruh terhadap motivasi belajar (Y2) pada penelitian ini yaitu dengan nilai koefisien sebesar 0,872. Nilai koefisien agreement untuk variabel X2 sebesar 0,872 ini menunjukkan bahwa agreement mempunyai hubungan yang juga searah dengan motivasi belajar. Nilai koefisien agreement untuk variabel X2 sebesar 0,872. Hal ini menunjukkan bahwa agreement mempunyai hubungan yang searah dengan motivasi belajar. Hal ini mengandung arti bahwa setiap kenaikan agreement satu satuan maka variabel motivasi belajar (Y2) akan naik sebesar 0,872 dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain dari model regresi adalah tetap. Para dosen dan elemen-elemen yang berada di FEB UHAMKA harus merumuskan ukuran mengajar yang baik dan ditetapkan, sehingga hal tersebut bisa menjadi indikator dan kesepakatan bersama bahwa dengan standar mengajar yang seperti ini bisa meningkatkan motivasi belajar para mahasiswa FEB UHAMKA ke depan.
4. Realism (X3) terhadap Motivasi Belajar (Y2)
Nilai koefisien realism untuk variabel X3 sebesar 0,719. Hal ini menunjukkan bahwa realism mempunyai hubungan yang juga searah dengan motivasi belajar. Hal ini mengandung arti bahwa setiap kenaikan realism satu satuan maka variabel motivasi belajar (Y2) akan naik sebesar 0,719 dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain dari model regresi adalah tetap.
5. Objectivity (X4) terhadap Motivasi Belajar (Y2)
Nilai koefisien objectivity untuk variabel X4 sebesar 0,643. Hal ini menunjukkan bahwa objectivity mempunyai hubungan yang juga searah dengan motivasi belajar. Hal ini mengandung arti bahwa setiap kenaikan objectivity satu satuan maka variabel motivasi belajar (Y2) akan naik sebesar 0,643 dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain dari model regresi adalah tetap.
Bentuk hipotesisnya :
Jika t-hitung < t-tabel, maka Ho diterima bila sig > α = 0,05 Jika t-hitung > t-tabel, maka Ho ditolak bila sig < α = 0,05 Artinya :
Ha : Variabel independent memiliki pengaruh signifikan secara parsial terhadap variabel dependent
H0 : Variabel independent tidak memiliki pengaruh signifikan secara parsial terhadap variabel dependent
Hasil Uji-t Model 1
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized
Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1
(Constant) 7,881 4,762 1,654 ,769
Validity ,782 ,384 ,338 3,612 ,002
Agreement ,626 ,522 ,302 5,970 ,039
Realism ,650 ,166 ,267 4,425 ,001
Objectivity ,836 ,268 ,352 5,763 ,000
a. Dependent Variable: Efektivitas Belajar
Berdasarkan tabel hasil penelitian uji-t model 1 di atas, pada kolom signifikan dapat diartikan sebagai berikut :
1. Validity (X1) terhadap Efektivitas Belajar (Y1)
Terlihat pada kolom coefficients model 1 terdapat nilai sig 0,002. Nilai sig lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 (0,002 < 0,05), maka Ha diterima dan H0 ditolak.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa variabel X1 memiliki kontribusi terhadap Y1. Nilai t positif menunjukkan bahwa variabel X1 mempunyai hubungan yang searah dengan Y1. Jadi dapat disimpulkan validity memiliki pengaruh signifikan terhadap efektivitas belajar.
2. Agreement (X2) terhadap Efektivitas Belajar (Y1)
Terlihat pada kolom coefficients model 1 terdapat nilai sig 0,039. Nilai sig lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 (0,039 < 0,05), maka Ha diterima dan H0 ditolak.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa variabel X2 memiliki kontribusi terhadap Y1. Nilai t positif menunjukkan bahwa variabel X2 mempunyai hubungan yang
searah dengan Y1. Jadi dapat disimpulkan agreement memiliki pengaruh signifikan terhadap efektivitas belajar.
3. Realism (X3) terhadap Efektivitas Belajar (Y1)
Terlihat pada kolom coefficients model 1 terdapat nilai sig 0,001. Nilai sig lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 (0,001 < 0,05), maka Ha diterima dan H0 ditolak.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa variabel X3 memiliki kontribusi terhadap Y1. Nilai t positif menunjukkan bahwa variabel X3 mempunyai hubungan yang searah dengan Y1. Jadi dapat disimpulkan realism memiliki pengaruh signifikan terhadap efektivitas belajar.
4. Objectivity (X4) terhadap Efektivitas Belajar (Y1)
Terlihat pada kolom coefficients model 1 terdapat nilai sig 0,000. Nilai sig lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 (0,000 < 0,05), maka Ha diterima dan H0 ditolak.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa variabel X4 memiliki kontribusi terhadap Y1. Nilai t positif menunjukkan bahwa variabel X4 mempunyai hubungan yang searah dengan Y1. Jadi dapat disimpulkan objectivity memiliki pengaruh signifikan terhadap efektivitas belajar.
Hasil Uji-t Model 2
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized
Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
2
(Constant) 5,098 3,942 2,663 ,769
Validity ,864 ,413 ,211 5,972 ,001
Agreement ,872 ,284 ,371 4,851 ,000
Realism ,719 ,228 ,118 5,750 ,037
Objectivity ,643 ,379 ,337 4,431 ,018
a. Dependent Variable: Motivasi Belajar
Berdasarkan tabel hasil penelitian uji-t model 2 di atas, pada kolom signifikan dapat diartikan sebagai berikut :
1. Validity (X1) terhadap Motivasi Belajar (Y2)
Terlihat pada kolom coefficients model 2 terdapat nilai sig 0,001. Nilai sig lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 (0,001 < 0,05), maka Ha diterima dan H0 ditolak.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa variabel X1 memiliki kontribusi terhadap Y2.
Nilai t positif menunjukkan bahwa variabel X1 mempunyai hubungan yang searah dengan Y2. Jadi dapat disimpulkan validity memiliki pengaruh signifikan terhadap motivasi belajar.
2. Agreement (X2) terhadap Motivasi Belajar (Y2)
Terlihat pada kolom coefficients model 2 terdapat nilai sig 0,000. Nilai sig lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 (0,000 < 0,05), maka Ha diterima dan H0 ditolak.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa variabel X2 memiliki kontribusi terhadap Y2. Nilai t positif menunjukkan bahwa variabel X2 mempunyai hubungan yang searah dengan Y2. Jadi dapat disimpulkan agreement memiliki pengaruh signifikan terhadap motivasi belajar.
3. Realism (X3) terhadap Motivasi Belajar (Y2)
Terlihat pada kolom coefficients model 2 terdapat nilai sig 0,037. Nilai sig lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 (0,037 < 0,05), maka Ha diterima dan H0 ditolak.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa variabel X3 memiliki kontribusi terhadap Y2. Nilai t positif menunjukkan bahwa variabel X3 mempunyai hubungan yang searah dengan Y2. Jadi dapat disimpulkan realism memiliki pengaruh signifikan terhadap motivasi belajar.
4. Objectivity (X4) terhadap Motivasi Belajar (Y2)
Terlihat pada kolom coefficients model 2 terdapat nilai sig 0,018. Nilai sig lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 (0,018 < 0,05), maka Ha diterima dan H0 ditolak.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa variabel X4 memiliki kontribusi terhadap Y2. Nilai t positif menunjukkan bahwa variabel X4 mempunyai hubungan yang searah dengan Y2. Jadi dapat disimpulkan objectivity memiliki pengaruh signifikan terhadap motivasi belajar.
4.4.2 Hasil Uji-f (Uji Simultan)
Uji-F (Uji Simultan), digunakan untuk mengetahui apakah variabel-variabel independen secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
Derajat kepercayaan yang digunakan adalah 0,05. Apabila nilai F hasil perhitungan lebih besar daripada nilai F menurut tabel maka hipotesis alternatif, yang menyatakan bahwa semua variabel independen secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
Bentuk hipotesisnya :
Jika F-hitung < F-tabel, maka Ho diterima bila sig > α = 0,05 Jika F-hitung > F-tabel, maka Ho ditolak bila sig < α = 0,05
Artinya : Ha : Variabel independent memiliki pengaruh signifikan secara simultan terhadap variabel dependent
H0 : Variabel independent tidak memiliki pengaruh signifikan secara Simultan terhadap variabel dependent
Hasil Uji-f Model 1
ANOVAb
Model
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression Residual Total
21.193 38.685 59.878
4 43 47
5.298 .900
5.889 .001a
a. Predictors: (Constant), Validity, Agreement, Realism, Objectivity b. Dependent Variable: Efektivitas Belajar
Pengujian secara simultan X1, X2, X3 dan X4 terhadap Y1 dari tabel di atas diperoleh nilai F-hitung sebesar 5,889 dengan nilai probabilitas (sig) = 0,001. Nilai sig. lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 atau nilai 0,001 < 0,05; maka Ha diterima dan H0
ditolak, berarti secara bersama-sama (simultan) validity, agreement, realism dan objectivity berpengaruh signifikan terhadap efektifitas belajar.
Hasil Uji-f Model 2
ANOVAb
Model
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression Residual Total
19.894 41.763 55.981
3 51 39
6.763 .874
4.730 .014a
a. Predictors: (Constant), Validity, Agreement, Realism, Objectivity b. Dependent Variable: Motivasi Belajar
Pengujian secara simultan X1, X2, X3 dan X4 terhadap Y1 dari tabel di atas diperoleh nilai F-hitung sebesar 4,730 dengan nilai probabilitas (sig) = 0,014. Nilai sig. lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 atau nilai 0,014 < 0,05; maka Ha diterima dan H0
ditolak, berarti secara bersama-sama (simultan) validity, agreement, realism dan objectivity berpengaruh signifikan terhadap motivasi belajar.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian kuantitatif dengan metode observasi dan kualitatif dengan menggunakan metode spss (kuesioner) yang telah dilaksanakan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA tentang Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Efektifitas Belajar dan Motivasi Belajar Mahasiswa Diukur dengan Tendensi Kapasitas Dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA dapat diambil beberapa kesimpulan. Kesimpulan tersebut dapat dipaparkan sebagai berikut :
1. Sesuai dengan data yang telah peneliti peroleh, validity, agreement, realism, objectivity, merupakan kapasitas Sumber Daya Manusia Dosen yang sangat berpengaruh signifikan terhadap efektifitas belajar mahasiswa di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA baik secara parsial maupun secara simultan. Hasil penelitian mengemukakan bahwa realism memiliki nilai koefisien paling rendah jika dibandingkan dengan ketiga variabel yang lain. Ini artinya, untuk mencapai keefektifan dalam belajar, para dosen perlu membuat standard penilaian yang jauh lebih realistis dan terukur dalam melaksanakan proses transformasi belajar di dalam kelas, sehingga materi dan model pembelajaran, materi pembelajaran, media belajar, evaluasi pembelajaran, dan gaya belajar yang sudah diterapkan dapat bersifat implementatif dan tidak sia-sia setiap semesternya.
2. Sesuai dengan data yang telah peneliti peroleh, validity, agreement, realism, objectivity, merupakan kapasitas Sumber Daya Manusia Dosen yang sangat berpengaruh signifikan terhadap motivasi belajar mahasiswa di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA baik secara parsial maupun secara simultan. Hasil penelitian mengemukakan bahwa objectivity memiliki nilai koefisien paling rendah jika dibandingkan dengan ketiga variabel yang lain. Ini artinya, untuk bisa lebih memotivasi para mahasiswa dalam belajar, para dosen perlu bertindak lebih adil baik dalam bersikap maupun dalam menerapkan penilaian terhadap para mahasiswanya, sehingga kedua faktor motivasi belajar yang penulis jadikan sebagai urgensi penting yang dapat melemahkan motivasi belajar para mahasiswa tersebut dapat teratasi dengan optimal dan relevan.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan beberapa permasalahan yang belum dapat teratasi hingga saat ini, sehingga peneliti mengajukan beberapa saran. Saran tersebut antara lain sebagai berikut :
1. Untuk mengatasi persoalan realism yang terjadi pada penelitian ini, peneliti dapat menyarankan beberapa hal sebagai berikut :
a) Penetapan Indikator Pencapaian Kompetensi
Indikator merupakan ukuran, karakteristik, ciri-ciri, pembuatan atau proses yang berkontribusi/menunjukkan ketercapaian suatu kompetensi dasar. Indikator dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur, seperti: mengidentifikasi, menghitung, membedakan, menyimpulkan, menceritakan kembali, mempraktekkan, mendemonstrasikan, dan mendeskripsikan.
Indikator pencapaian hasil belajar dapat dikembangkan oleh dosen dengan memperhatikan perkembangan dan kemampuan setiap para mahasiswanya, keluasan dan kedalaman kompetensi dasar, dan daya dukung fakultas itu sendiri. Setiap kompetensi dasar dapat dikembangkan menjadi beberapa indikator pencapaian hasil belajar. Indikator-indikator pencapaian hasil belajar dari setiap kompetensi dasar merupakan acuan yang digunakan untuk melakukan penilaian.
b) Pemetaan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan Indikator Penetapan Teknik Penilaian
Setelah menjabarkan kompetensi dasar menjadi beberapa indikator, maka langkah selanjutnya adalah menetapkan kriteria ketuntasan setiap indikator, rentang persentase kriteria ketuntasan setiap indikator adalah antara 0% – 100%. Kriteria ketuntasan ideal untuk masing-masing indikator adalah 75%. Namun para dosesn dapat menetapkan kriteria atau tingkat pencapaian indikator, apakah 50%, 60% atau 70%. Sudut pandang yang diguanakan dalam penetapan adalah tingkat kemampuan akademis mahasiswa, kompleksitas indikator dan daya dukung dosen serta ketersediaan sarana dan prasarana.
c) Penetapan Teknik Penilaian
Beragam teknik dapat dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar para mahasiswa, baik dalam proses maupun hasil belajar. Penilaian kompetensi dasar dilakukan berdasarkan indikator pencapaian kompetensi yang memuat satu ranah atau lebih.
Berdasarkan indikator-indikator ini dapat ditentukan cara penilaian yang sesuai, apakah dengan tes tertulis, observasi, tes praktek, dan penugasan individu maupun kelompok. Untuk itu ada tujuh teknik penilaian yang dapat digunakan, yaitu penilaian untuk kerja, penilaian
sikap, penilaian tertulis, penilaian proyek, penilaian produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.
2. Untuk mengatasi persoalan objectivity yang terjadi pada penelitian ini, peneliti dapat menyarankan beberapa hal sebagai berikut :
Agar diperoleh hasil belajar yang objektif dalam pengertian menggambarkan prestasi dan kemampuan mahasiswa sebagaimana adanya, penilaian harus menggunakan berbagai alat penilaian dan sifatnya komprehensif. Dengan sifat komprehensif dimaksudkan segi atau abilitas yang dinilainya tidak hanya aspek kognitif, tetapi juga aspek afektif.
Domain afektif kaitannya dengan penguasaan suatu disiplin ilmu yang sedang dipelajari dikemukakan oleh Krathwohl, Bloom, dan Masia sebagai 5 klasifikasi kemampuan afektif. Tiap klasifikasi dibagi menjadi bagian-bagian yang lebih khusus, meliputi: 1) Menerima (ingin menerima, sadar akan adanya sesuatu), 2) Merespon (aktif berpartisipasi), 3) Menghargai (menerima nilai-nilai, setia kepada nilai-nilai tertentu), 4) Mengorganisasi (menghubung- hubungkan nilai-nilai yang dipercayainya), 5) Bertindak/Pengamalan (menjadikan nilai-nilai sebagai bagian dari pola hidupnya)
a) Menerima: Kemampuan ini berkaitan dengan keinginan individu untuk terbuka atau peka pada perangsang atau pesan-pesan yang berasal dari lingkungannya. Pada tingkat ini muncul keinginan untuk menerima perangsang, atau paling tidak menyadari bahwa perangsang itu ada.
b) Merespon: Pada tingkat ini muncul keinginan untuk melakukan tindakan sebagai respon pada perangsang tersebut. Tindakan-tindakan dapat disertai dengan perasaan puas dan nikmat.
c) Menghargai: Penyertaan rasa puas dan nikmat ketika melakukan respon pada perangsang menyebabkan individu ingin secara konsisten menampilkan tindakan itu dalam situasi yang serupa. Pada tahap ini individu dikatakan menerima suatu nilai dan mengembangkannya, serta ingin terlibat lebih jauh ke dalam nilai tersebut.
d) Mengorganisasi: Individu yang sudah secara konsisten dan berhasil menampilkan suatu nilai, pada suatu saat akan menghadapi situasi dimana lebih dari satu nilai yang bisa ditampilkan. Bila ini terjadi, maka individu akan mulai ingin menata nilai-nilai itu ke dalam suatu sistem nilai, melihat keterkaitan antar nilai dan menetapkan nilai mana yang paling dominan baginya.
e) Pengamalan: Bertindak konsisten sesuai dengan nilai yang dimilikinya. Ini adalah tingkatan tertinggi dari aspek afektif, di mana individu akan berlaku konsisten berdasarkan nilai yang dijunjungnya.
Klasifikasi aspek-aspek afektif ini didasarkan pada asumsi bahwa perilaku tingkat yang lebih rendah merupakan prasyarat bagi perilaku tingkat yang lebih tinggi.Itulah sebabnya, ranah ini diurutkan ke dalam suatu garis kontinum dalam bentuk hierarkis dan pencapaiannya bersifat komulatif. Mulai dari tahap pertama yaitu menerima suatu nilai, keinginan untuk merespon, kepuasan yang didapat ketika merespon akan memunculkan penghargaan pada nilai itu, selanjutnya mengorganisasi nilai-nilai ke suatu sistem nilai yang sifatnya amat pribadi, dan akhirnya berperilaku secara konsisten berdasarkan nilai yang dimiliki dan dipercayainya.
Selain domain afektif sebagaimana diuraikan di atas, aspek-aspek afektif dalam bentuk soft skills seperti kemampuan mengembangkan kreativitas, produktivitas, berpikir kritis, bertanggungjawab, memiliki kemandirian, berjiwa kepemimpinan serta kemampuan berkolaborasi, perlu dimiliki oleh para mahasiswa. Penghargaan terhadap keragaman, memiliki kesadaran akan nilai-nilai kesatuan dalam kemajemukan yang didasarkan pada nilai-nilai moral, kemanusiaan, dan religi, amat perlu dikembangkan.
Memang, dalam perkembangannya manusia tidak bisa dipisah-pisahkan ke dalam berbagai fungsi atau daya. Manusia merupakan suatu kesatuan totalitas, di mana berbagai fungsi atau daya dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Dalam diri manusia akal budi terintegrasi dengan seluruh kepribadiannya. Di bidang moral, kewajiban moral berhubungan dengan pribadi manusia sebagai keseluruhan atau totalitas, sedangkan nilai-nilai lainnya, (seperti nilai ekonomi, nilai estetis, dan nilai-nilai lainnya), berhubungan dengan salah satu aspek saja dalam diri manusia.
Menurut Martin dan Briggs (1986), perkembangan kepribadian manusia (self-development) sebagai tujuan pendidikan merupakan komponen afektif paling inklusif yang mencakup nilai, moral dan etika, motivasi dan kompetensi sosial. Nilai lebih inklusif dari pada sikap (attitudes) dan berbeda dengan moral dan etika. Nilai berkenaan dengan penilaian terhadap sesuatu yang berharga atau bernilai, sedangkan moral dan etika berkenaan dengan penilaian tentang benar-salah. Di dalam bukunya yang berjudul “The Affective and Cognitive Domains: Integration for Instruction and Research”, Martin dan Briggs menggambarkan adanya hubungan langsung antara sikap dan nilai serta sikap dengan moral dan etika.
Mereka berpendapat bahwa perkembangan nilai, moral dan etika, berhubungan langsung dengan sikap seseorang. Sedangkan sikap tidak berhubungan secara langsung dengan motivasi dan kompetensi sosial, namun sikap berpengaruh terhadap pilihan seseorang, motivasi, dan juga perilaku sosialnya. Sikap bukanlah inti dari motivasi dan kompetensi sosial seseorang sebagaimana pada nilai serta moral dan etika.
Martin dan Briggs juga menempatkan kompetensi sosial, motivasi, nilai, serta moral dan etika, dalam satu garis lurus sebagai persyaratan bagi perkembangan pribadi seseorang (self- development). Sedangkan interest merupakan prerequisit bagi motivasi seseorang. Suatu perbuatan dinilai baik atau buruk, benar atau salah dengan cara menunjukkan alasan-alasan rasionalnya saja tidaklah cukup. Penilaian kognitif juga berhubungan dengan perasaan.
Martin dan Briggs menggambarkan bahwa emosi seseorang mendasari perkembangan sikap, interes, kompetensi sosial, serta aspek-aspek afektif lainnya. Sedangkan perasaan berkaitan dengan emosi. Atribusi ditempatkan sebagai komponen afektif yang paling akhir.
Atribusi berhubungan langsung dengan perkembangan pribadi (self development). Untuk menggambarkan hubungan sikap dan atribusi hanya dibatasi pada sub kategori sikap, yaitu sikap tentang diri sendiri. Kompetensi sosial berhubungan langsung dengan atribusi, sebab penilaian terhadap seseorang banyak dilakukan melalui interaksi sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Agung, Anak dan Yuniar, Irna. 2014. Desain Indikator dan Implementasi Penilaian Kinerja Dosen Pada Sistem Informasi. Seminar Nasional Sistem Informasi Indonesia.
Alberta Learning Catalogue. 2004. Focus on Inquiry : A Teacher’s Guide to Implementing Inquiry- Based Learning. Canada: Alberta Learning
Anggaran Dasar & Rumah Tangga Muhammadiyah, Hasil Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-45 Malang Jawa Timur (3-8 Juli 2005).
Asian Brain, 2008, Motivasi Belajar Sistem, www.anneahira. com/motivasi/ index.htm. diakses 15 April 2017, jam 10.35. wib.
Ferdinand, Agusty. 2006. Metode Penelitian Manajemen. Edisi kedua. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang.
Fu’ad Mas’ud. 2004. Survei Diagnosis Organisasional (Konsep dan Aplikasi). Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang
Ghozali, Imam. 2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Greer, Charles R. 2005. Strategy and Human Resources: A General Managerial Perspective. New Jersey: Prentice Hall.
Hamzah B. Uno, Dr. M.Pd. 2006, Teori motivasi dan Pengukurannya : Analisa di Bidang Pendidikan, Jakarta, PT. Bumi Aksara
Martin, B. L. & Briggs, L. J. 1986. The Affective and Cognitive Domains: Integration for
Instruction and Research. New Jersey: Educational Technology Publication, Englewood Cliffs.
M. Armstrong, Armstrong's. 2010. Essential Human Resource Management Practice: A Guide To People Management, Kogan Page.
M. Ngalim Purwanto, Drs, MP, 2007, Psikologi Pendidikan, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya Mundiarti. 2007. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Dosen dalam Melaksanakan Proses
Belajar Mengajar di Prodi Kebidanan Magelang Politeknik Kesehatan Semarang Tahun Ajaran 2005/2006. Semarang : Universitas Diponegoro.
Nana Syaodih Sukarmadinata. 2006., Metode Penelitian Pendidikan, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya
P. R. Indonesia, Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Sekretaris Negara Republik Indonesia, 2003
P. R. Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Jakarta: Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, 2005 P. R. Indonesia, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2009 tentang Dosen,
Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia, 2009
Ridwan, dan Sunarto. 2007. Pengantar Statistik Untuk Penelitian Pendidikan, Sosial, Ekonomi, Komunikasi, dan Bisnis. Bandung : Alfabeta.
Sadiman A.M,. 2007. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada Sarwono, Jonathan. 2005. Teori dan Praktik Riset Pemasaran dengan SPSS. Yogyakarta: CV. Andi
Offset.
Sugiyono. 2009, Memahami Penelitian Kualitatif : Dasar Teori dan Terapannya dalam Penelitian, Surakarta, Universitas Sebelas Maret.
Wlodkowski, Raymond J. dan Jaynes, Judith H,. 2004. Motivasi Belajar, Jakarta: Cerdas Pustaka